Rasyid Ridha dan Pemikirannya


Rasyid Ridha dan Pemikirannya

Oleh

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr Al-Shiddiq

A. Pendahuluan

Reformasi Islam lahir pada akhir abad ke-19 sebagai jawaban terhadap pengaruh dunia barat yang yang gencar menyerang kaum muslimin.[1] Sedangkan yang menjadi isu sentral mereka adalah upaya agar keyakinan agama sesuai dengan pemikiran modern. Termasuk pula dalam hal ini tentunya, pemahaman umat Islam terhadap Alquran.[2]

Kesadaran akan perlunya diadakan pembaharuan timbul pertama kali di Kerajaan Turki Utsmani dan Mesir. Orang-orang Turki Utsmaniyah sejak awal telah mempunyai kontak langsung dengan Eropa, karena kekuasaan Kerajaan Turki Ustmani hingga abad ke-17 Masehi telah mencapai Eropa Timur yang meluas sampai ke gerbang kota Wina. Tetapi sejak abad ke-18, Kerajaan Tukri Ustmani mulai mengalami kekalahan dari kerajaan-kerajaan Eropa. Kekalahan oleh Eropa –yang pada abad-abad sebelumnya masih dalam keadaan mundur– inilah yang menjadi pemicu adanya pembaharuan di Kerajaan Turki.[3]

Sementara pembaharuan yang terjadi di Mesir terjadi sejak terjadinya kontak dengan Eropa yang dimulai dari datangnya ekspedisi Napoleon Bonaparte yang mendarat di Aleksandria pada tahun 1798 M. Kedatangan Napoleon ini juga membawa banyak oleh-oleh dari Eropa yang berupa ilmu pengetahuan, kebudayaan dan teknologi, hingga ia mampu mendirikan lembaga ilmiah Institut d’Egypte.[4] Di samping itu Napoleon juga mempunyai hubungan baik dengan ulama-ulama Al-Azhar. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu terjadinya pembaharuan dalam Islam di Mesir.[5]

Berbicara tentang proses pembaharuan di Mesir, di kenal beberapa orang tokoh pembaharu yaitu Rifa’i al-Thahthawi (1803-1873 M)[6], Jamaluddin al-Afghani (1839-1877 M)[7], Muhammad Abduh (1849-1905 M)[8] dan Rasyid Ridha (1864-1935 M).

Dalam makalah ini, akan disajikan secara khusus pemikiran-pemikiran pembaruan dari Rasyid Ridha yang secara secara umum akan penulis mulai dengan menggambarkan sisi biografi singkat beliau.

B. Biografi Rasyid Ridha

  1. Kelahiran
    Nama lengkap Muhammad Rasyid Rida adalah al-Sayyid Muhammad Rasyid Rida ibn Ali Rida ibn Muhammad Syamsuddin ibn al-Sayyid Baharuddin ibn al-Sayyid Munla Ali Khalifah al-Baghdadi.[9]beliau dilahirkan di Qalmun, suatu kampung sekitar 4 Km dari Tripoli, Libanon, pada bulan Jumadil ‘Ula 1282 H (1864 M). Dia adalah seorang bangsawan Arab yang mempunyai garis keturunan langsung dari Sayyidina Husain, putra Ali ibn Abi Thalib dan Fatimah putri Rasulullah saw.[10]

    Pada tahun 1898 M. Muhammad Rasyid Rida hijrah ke Mesir untuk menyebarluaskan pembaharuan di Mesir. Dua tahun kemudian ia menerbitkan majalah yang diberi nama “al-Manar” untuk menyebar luaskan  ide-idenya dalam usaha pembaharuan.
  2. Pendidikan
    Setelah melalui masa pengasuhan dalam lingkungan keluarga sendiri, maka pada usianya yang ketujuh tahun, Muhammad Rasyid Rida dimasukkan orang tuanya kesebuah lembaga pendidikan dasar yang disebut Kuttab yang ada di desanya. Disinilah dia mulai membaca Alquran, menulis dan berhitung.[11] Beberapa tahun kemudian, setelah menamatkan pelajarannya di lembaga pendidikan dasar itu. Muhammad Rasyid Rida meneruskan pelajarannya di Madrasah Ibtidaiyah al-Rusdiyah di kota Tripoli. Di madrasah tersebut di ajarkan nahwu, sharaf, berhitung, geografi, akidah dan ibadah. Semua mata pelajaran tersebut disampaikan kepada para siswa dalam bahasa Turki. Hal itu tidak mengherankan karena tujuan pendidikan dan pengajaran pada madrasah itu melahirkan tenaga-tenaga kerja yang menjadi pegawai kerajaan. Dia pun keluar dari madrasah itu setelah kurang lebih satu tahun lamanya belajar disana.[12] Pada tahun 1882, ia meneruskan pelajaran di Madrasah al-Wataniyah al-Islamiyah (Sekolah Nasional Islam)  di Tripoli. Di Madrasah ini, selain dari bahasa Arab diajarkan pula bahasa Turki dan Perancis, dan disamping itu pengetahuan-pengetahuan agama juga pengetahuan-pengetahuan modern.[13] Disamping itu, Muhammad Rasyid Rida memperoleh tambahan ilmu dan semangat keagamaan melalui membaca kitab-kitab yang ditulis al-Gazali, antara lain Ihya’ Ulum al-Din sangat mempengaruhi jiwa dan kehidupannya, terutama sikap patuh pada hukum dan baktinya terhadap agama.[14]
  3. Wafat
    Muhammad Rasyid Rida sebagai ulama yang selalu menambah ilmu pengetahuan dan selalu pula berjuang selama hayatnya, telah menutup lembaran hidupnya pada tanggal 23 Jumadil ‘Ula 1354 H, bertepatan dengan 22 Agustus 1935 M. Muhammad Rasyid Rida wafat dengan wajah yang sangat cerah disertai dengan senyuman.[15]

C. Pemikiran Pembaharuan Rasyid Ridha

Muhammad Rasyid Ridha mulai mencoba menjalankan ide-ide pembaharuannya sejak ia masih berada di Suria[16]. Tetapi usaha-usahanya mendapat tantangan dari dari pihak kerajaan Utsmani.[17] Kemudian ia pindah ke Mesir dan tiba di sana pada bulan januari 1898 M.[18]

Pembaharuan Dalam Bidang Teologi

Masalah aqidah di zaman hidupnya Rasyid Ridha masih belum tercemar unsur-unsur tradisi maupun pemikiran filosof. Dalam masalah teologi, Rasyid Ridha banyak dipengaruhi oleh pemikiran para tokoh gerakan salafiyah.[19] Dalam hal ini, ada beberapa konsep pembaharuan yang dikemukakannya, yaitu masalah akal dan wahyu, sifat Tuhan, perbuatan manusia (af’al al-Ibad) dan konsep iman.

  1. Akal dan Wahyu
    Menurut Rasyid Ridha, dalam masalah ketuhanan menghendaki agar urusan keyakinan mengikuti petunjuk dari wahyu. Sungguhpun demikian, akal tetap diperlukan untuk memberikan penjelasan dan argumentasi terutama kepada mereka yang masih ragu-ragu.[20]
  2. Sifat Tuhan
    Dalam menilai sifat Tuhan, di kalangan pakar teologi Islam terjadi perbedaan pendapat yang sangat signifikan, terutama dari kalangan Mu’tazilah[21] dan Asy’ariyah.[22] Mengenai masalah ini, Rasyid Ridha berpandangan sebagaimana pandangan kaum Salaf, menerima adanya sifat-sifat Tuhan seperti yang dinyatakan oleh nash, tanpa memberikan tafsiran maupun takwil.[23]
  3. Perbuatan Manusia
    Pembahasan teologi tentang perbuatan manusia bertolak dari pertanyaan apakah manusia memiliki kebebasan atas perbuatannya (freewill) atau perbuatan manusia hanyalah diciptakan oleh Tuhan (Predistination).[24] Perbuatan manusia menurut Rasyid Ridha sudah dipolakan oleh suatu hukum yang telah ditetapkan Tuhan yang disebut Sunatullah, yang tidak mengalami perubahan.[25]
  4. Konsep Iman
    Rasyid Ridha mempunyai dasar pemikiran bahwa kemunduran umat Islam disebabkan keyakinan dan amal perbuatan mereka yang telah menyimpang dari ajaran Islam.[26] Oleh karena itu, upaya pembahasan yang dilaksanakannya dititik beratkan kepada usaha untuk mengembalikan keberagamaan ummat kepada ajaran Islam yang sebenarnya.
    Pandangan Rasyid Ridha mengenai keimanan didasarkan atas pembenaran hati (tasdiq) bukan didasarkan atas pembenaran rasional.

Dalam Bidang Pendidikan

Di antara aktivitas beliau dalam bidang pendidikan antara lain membentuk lembaga pendidikan yang bernama “al-Dakwah Wal Irsyad” pada tahun 1912 di Kairo. Mula-mula beliau mendirikan madrasah tersebut di Konstantinopel terutama meminta bantuan pemerintah setempat akan tetapi gagal, karena adanya keluhan-keluhan dari negeri-negeri Islam, di antaranya Indonesia, tentang aktivitas misi Kristen di negeri-negeri mereka. Untuk mengimbangi sekolah tersebut dipandang perlu mengadakan sekolah misi Islam.[27]

  1. Muhammad Rasyid Ridha juga merasa perlu dilaksanakannya ide pembaharuan dalam bidang pendidikan. untuk itu ia melihat perlu ditambahkan ke dalam kurikulum mata-mata pelajaran berikut: teologi, pendidikan moral, sosiologi, ilmu bumi, sejarah, ekonomi, ilmu hitung, ilmu kesehatan, bahasa-bahasa asing dan ilmu mengatur rumah tangga (kesejahteraan keluarga), yaitu disamping fiqh, tafsir, hadits dan lain-lain yang biasa diberikan di Madrasah-madrasah tradisional.[28]

  2. Pandangan Terhadap Ijtihad
    Rasyid Ridha dalam beristimbat terlebih dahulu melihat nash, bial tidak ditemukan di dalam nash di dalam nash, ia mencari pendapat sahabat, bila terdapat pertentangan ia memilih pendapat yang paling dekat dengan dengan Al-Qur’an dan Sunnah dan bila tidak ditemukan, ia berijtihad atas dasar Al-Qur’an dan Sunnah.[29]

    Dalam hal ini, Rasyid Ridha melihat perlu diadakah tafsir modern dari Al-Qur’an yaitu tafsiran yang sesuai dengan ide-ide yang dicetuskan gurunya, Muhammad Abduh. Ia menganjurkan kepada Muhammad Abduh supaya menulis tafsir modern.[30] Kuliah-kuliah tafsir itu dimulai pada tahun 1899 dan keterangan-keterangan yang diberikan oleh Muhammad Abduh dalam kuliahnya inilah yang kemudian dikenal dengan tafsir al-Manar.[31]

Dalam bidang Politik

Dalam bidang politik, Muhammad Rasyid Rida juga tidak ketinggalan, sewaktu beliau masih berada di tanah airnya, ia pernah berkecimpung dalam bidang ini, demikian pula setelah berada di Mesir, akan tetapi gurunya Muhammad ‘Abduh memberikan nasihat agar ia menjauhi lapangan politik. Namun nasihat itu diturutinya hanya ketika Muhammad ‘Abduh masih hidup,  dan setelah ia wafat, Muhammad Rasyid Rida aktif kembali, terutama melalui majalah al-Manar.[32]

D. Penutup

Rasyid Ridha merupakan pembaharu yang mempunyai konsep pemikiran tradisional. Konsep pembaharuan yang dikemukakannya meliputi aspek teologi, pendidikan, syari’at dan politik.

:lol: —====***((( Makasih. Berikan Komentar, Please)))***===— :lol:

Daftar Pustaka

Abdurrahman, Moeslim, Islam Transpormatif, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995)

Ali, Yunasril Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988)

Asmuni,  Muhammad Yusran, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam, (Surabaya : al-Ikhlas, 1994)

Athaillah, A., Aliran Akidah Tafsîr al-Manar, (Banjarmasin: Balai Penelitian IAIN Antasari, 1990)

Faiz, Fakhruddin, Hermeneutika Qur’ani, Antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi, ( Yogyakarta : Qalam, 2002)

Harahap, Syahrin, Islam Dinamis : Menggali Nilai-nilai Ajaran Alquran dalam Kehidupan modern di Indonesia, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1997)

Muhaimin, Pembaharuan Islam: Repleksi Pemikiran Rasyid Ridha dan Tokoh-Tokoh Muhammadiyah, (Yogyakarta: Pustaka Dinamika, 2000)

Nasution, Harun, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1998)

Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994)

Shiddieqy, Hasbi Ash-, Sejarah Pengantar Ilmu al-Quran / Tafsir, (Jakarta : Bulan Bintang, 1994)

Shihab,  Muhammad Quraish, Studi Kritis Tafsîr al-Manar, (Bandung : Pustaka Hidayah, 1994)


[1]Moeslim Abdurrahman, Islam Transpormatif, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995), Cet. I, h. 62.

[2]Syahrin Harahap, Islam Dinamis : Menggali Nilai-nilai Ajaran Alquran dalam Kehidupan modern di Indonesia, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1997), h. 248.

[3]Sultan-sultan Kerajaan ‘Utsmani pun mengirim duta-duta ke Eropa untuk mengetahui rahasia kekuatan raja-raja Eropa yang pada abad-abad sebelumnya masih berada dalam keadaan yang mundur. Atas dasar laporan dari para duta itu, mulailah diadakan pembaharuan di Kerajaan ‘Utsmani, terutama mulai dari abad ke-19. Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1998), Cet. VII, h. 147.

[4]Di Kairo ia mendirikan lembaga ilmiah institut d’Egypte yang mempunyai empat bagian: ilmu pasti, ilmu alam, ilmu ekonmi politik dan sastra seni. Perpustakaan dari lembaga ini besar sekali dan bukan hanya berisi buku-buku dalam bahasa Eropa, tetapi juga buku-buku ilmiah dalam bahasa Arab, Persia dan Turki. Lembaga ini melakukan penelitian ilmiah di Mesir dan hasilnya diterbitkan dalam majalah La Decade Egyptienne. Napoleon juga membawa percetakan yang disamping berhuruf latin, juga berhuruf Arab. Ia juga membawa serta ahli-ahli ketimuran yang mahir berbahasa Arab. Harun Nasution, Ibid., h. 148.

[5]Di sinilah bertemunya ulama-ulama abad ke-19 dengan ilmuan-ilmuan Barat modern yang menyadarkan mereka bahwa dalam bidang pemikiran dan bidang ilmiah, ulama Islam sudah jauh tertinggal. Persentuhan antara Barat dengan Islam di Mesir ini, hanya melahirkan sedikit ulama Islam pada saat itu yang berpendapat bahwa pemikiran dan ilmu yang berkembang di Barat itu perlu dipelajari dan diambil alih. Harun Nasotiun, Ibid., h. 148.

[6]Al-Thahthawi seorang ulama lulusan al-Azhar yang melalui gurunya al-Syaikh Hasan al-Aththar, menaruh perhatian pada ilmu pengetahuan yang sedang berkembang di Barat. Pendapat baru yang dikemukakannya ialah tentang konsep pendidikan universal dan mengkritik sikaf fatalisme yang ada di zamannya . Harun Nasution, Ibid., h. 149.

[7]Jamaluddin al-Afghani merupakan pencetus pertama konsep Pan-Islamisme. Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988), h. 110; ia juga dengan tegas mengemukakan bahwa pintu ijtihat tidak pernah tertutup dan tidak ada orang yang berhk menutupnya. Harun Nasution, Loc.Cit.

[8]Muhammad Abduh merupakan pemikir pembaharu yag mempunyai pengaruh besar di Mesir. Ia lebih memperjelas metode berpikir yang secara secara implisit terkandung dalam dalam pemikiran al-Thahthawi dan al-Afghani. Ia menentang jumud, kebekuan dan kestatisan umat Islam. Harun Nasution, Ibid., h. 150.

[9]A. Athaillah, Aliran Akidah Tafsîr al-Manar, (Banjarmasin: Balai Penelitian IAIN Antasari, 1990), h. 13; Gelar “Sayyid” pada permulaan namanya adalah gelar yang biasanya diberikan kepada semua yang mempunyai garis keturunan dari Rasulullah saw. Keluarga Muhammad Rasyid Rida dikenal oleh lingkungannya sebagai keluarga yang sangat taat beragama serta mempunyai ilmu-ilmu agama, sehingga mereka juga dikenal dengan sebutan “Syaikh”. Muhammad Quraish Shihab, Studi Kritis Tafsîr al-Manar, (Bandung : Pustaka Hidayah, 1994), cet. ke-1, h. 59.

[10]Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah Pengantar Ilmu al-Quran / Tafsir, (Jakarta : Bulan Bintang, 1994), h. 280.

[11]Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani, Antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi, ( Yogyakarta : Qalam, 2002),  cet. ke-1, h. 64.

[12]Ibid., h. 14.

[13]Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 69; Sekolah ini didirikan dan dipimpin oleh ulam besar Syam ketika itu, yakni Syaikh Husain al-Jirr. Syaikh inilah yang mempunyai andil sangat besar terhadap pemikiran Muhammad Rasyid Rida, karena hubungan antara keduanya tidak terhenti walaupun kemudian sekolah di tutup oleh pemerintah Turki, Syaikh Husain al-Jarr juga memberikan kesempatan kepada Muhammad Rasyid Rida untuk menulis di beberapa surat kabar Tripoli, kesempatan ini kelak mengantarnya memimpin majalah al-Manar. M. Quraish Shihab, op. cit., h. 60-61.

[14]Muhammad Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam, (Surabaya : al-Ikhlas, 1994), h. 83.

[15]M. Quraish Shihab, op. cit., h. 63.

[16]Sewaktu Muhammad Abduh berada dalam pembungan di Beirut, Rasyid Ridha mendapat kesempatan baik untuk berjumpa dan berdialog dengan murid al-Afghani yang terdekat ini. Perjumpaan-perjumpaan dan dialog ini meninggalkan kesan yang baik dalam dirinya. Rasyid Ridha mulai menjalankan ide-ide pembaharuan itu ketika masih berada di Suria. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Op.Cit., h. 70.

[17]Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Ibid., h. 70.

[18]Karena merasa terikat dan tidak bebas dari tekanan Kerajaan, ia memutuskan untuk pindah ke Mesir, dekat dengan Muhammad Abduh. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Ibid., h. 70.

[19]Muhaimin, Pembaharuan Islam: Repleksi Pemikiran Rasyid Ridha dan Tokoh-Tokoh Muhammadiyah, (Yogyakarta: Pustaka Dinamika, 2000), h. 18.

[20]Ibid., h. 23; sungguhpun Rasyid Ridha menghargai daya akal manusia, baik dalam bentuk ilmu zahir maupun filsafat sebagai ikhtiar manusia memahami berbagai penomena disekitarnya, akan tetapi nilai-nilai yang dihasilkan dari akal tersebut tidak dapat disejajarkan dengan wahyu. Ibid., h. 25.

[21]Mu’tazilah beranggapan bahwa Maha melihat dan seterusnya, bukanlah sifat Tuhan tetapi zat Tuhan. Ibid., h. 32.

[22]Asy’ariyah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat. Ibid., h. 33.

[23]Dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah, Rasyid Ridha menghendaki pemahaman secara tekstual dengan mengikuti pendekatan yang dilakukan oleh kaum Salaf. Ia kurang sependapat dengan cara yang dilakukan mutakallimin yang memberikan takwil terhadap sifat-sifat Allah secara dealiktika. Ibid., h. 37.

[24]Dalam menawab pertanyaan tersebut, yang muncul pertama kali adalah aliran kadariyah dan jabariyah. Ibid., h. 38.

[25]Paham Sunatullah dalam pandangan Rasyid Ridha berkait dengan hukum kemasyarakatan yaitu ketentuan-ketentuan yang terpola dalam perbuatan-perbuatan manusia tertentu dengan akibat yang tertentu pula. Dalam membahas persoalan perbuatan manusia ini, Rasyid Ridha cenderung ke Kadariyah yaitu bahwa manusia mempunyai kebebasan berkehendak dan kebebasan dalam berbuat. Ibid, h. 40-43

[26]Masalah iman dan kufur merupakan kontroversi yang muncul dalam pembahasan yang bersifat teologis yang berawal dari persoalam politik yang bergeser menjadi persoalan aqidah. Ibid., h. 43-45.

[27]Muhammad Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam, (Surabaya : al-Ikhlas, 1994), h. 85.

[28]Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Op.Cit., h. 71.

[29]Muhaimin, Op.Cit., h. 58.

[30]Muhammad Abduh tidak sepaham dengannya dalam hal ini. Namun karena selalu didesak, Muhammad Abduh akhirnya setuju, untuk memberikan kuliah tafsir Al-Qur’an di al-Azhar. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Ibid., h. 70.

[31]Keterangan-keterangan yang disampaikan oleh Muhammad Abduh dalam kuliah tafsir itu ia catat dan seterusnya ia susun dalam bentuk karangan teratur. Apa yang ia tulis ia serahkan selanjutnya kepada Muhammad Abduh untuk diperiksa. Setelah mendapat persetujuan, karangan itu ia siarkan dalam al-Manar.

[32]Muhammad Yuseran Asmuni, Ibid., h. 86.

:lol: Catatan Penulis:

:) Terima kasih telah mengunjungi khairilyulian.wordpress.com. Posting yang berjudul “Rasyid Ridha dan Pemikirannya” ini menduduki Rating Pertama di antara tulisan-tulisan saya yang lain. Terima kasih atas kunjungan anda, dan mudah-mudahan apa yang saya share di sini dapat memberikan manfaat bagi semuanya.

:) Tolong juga berikan komentar anda tentang Posting ini…!!! :D :D :D :D

About Khairil Yulian

Khairil Yulian Ibn Ruslan Abd al-Ghani Ibn Abd al-Syukr al-Siddiq

Posted on 26 Agustus 2010, in Islam, Opini, Pendidikan, Sejarah and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. ad G’ tulisannya mengenai sains dan wahyu dari pemikirannya rasyid ridha

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 63 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: