Pembebasan Dunia Islam dari Penjajahan Barat


Pembebasan Dunia Islam dari

Penjajahan Barat

Oleh:

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq

 

1st.    Pendahuluan

1.                          Penjajahan Barat Atas Dunia Islam

Kajian masalah pembebasan dunia Islam atas penjajahan Barat tentunya tidak bisa diuraikan tanpa mengetahui gambaran jelas mengenai penjajahan atas dunia Islam itu sendiri.

Berbicara masalah penjajahan atas dunia Islam, dalam beberapa sumber disebutkan bahwa sampai akhir perang dunia II, hampir semua daerah-daerah muslim di dunia berada dalam kekuasaan bangsa Eropa, baik sebagai jajahan, atau setengah jajahan atau apapun istilahnya[1]

Hal senada juga diungkapkan oleh Syekh Taqiyyuddin al-Nabhani. Ia mengatakan bahwa lama sebelum payung dunia Islam, Khilafah Utsmani runtuh pada tahun 1924, bangsa Barat telah melakukan penjajahan militer terhadap dunia Islam. Diantaranya yaitu daerah Aljazair oleh Perancis, Irak, India, Palestina, Yordania, Mesir dan kawasan Teluk dikuasai Inggris dan sebagainya.[2]

Barat menyadari benar potensi umat Islam kalau kaum muslim bersatu. Beberapa potensi umat Islam itu adalah ideologi (aqidah Islam), geopolitik (posisi yang strategis di dunia), sumber alam (menguasai sumber alam yang vital terutama minyak), sumber daya manusia (lebih dari 1,5 milyar), militer dan lainya. Carleton, saat mengomentari peradaban Islam dari tahun 800 M hingga 1600 M, menyatakan:

“Peradaban Islam merupakan peradaban yang terbesar di dunia. Peradaban Islam sanggup menciptakan negara adidaya (Super State) yang terbentang dari satu samudera ke samudera lain; dari iklim Utara hingga tropis dengan ratusan juta orang di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan suku.”[3]

Samuel Huntington, dalam The Clash of Civilitation, menulis, “Problem mendasar bagi Barat bukanlah fundamentalisme, tetapi Islam sebagai peradaban yang penduduknya yakin ketinggian kebudayaannya tapi dihantui rendahnya kekuataan mereka saat ini.”[4]

Pada abad XVIII dan XIX M, misionaris Eropa masuk ke negara-negara Islam dan memulai kegiatannya secara luas. Awalnya, gerakan ini bertujuan untuk menyebarkan pemikiran Kristen dan mengganti agama kaum muslimin. Namun, usaha mereka mengalami kegagalan. Karena itu, mereka mengganti metode penyeberluasan misi mereka. Sebagai ganti pengajaran ajaran Kristen, mereka mempropagandakan kebudayaan Barat dan nasionalisme. Berdasarkan pengakuan sebagian penulis Barat, seperti George Antonius, benih-benih pemikiran pertama Barat seperti penolakan agama, liberalisme, dan sekularisme secara terus-menerus ditanamkan oleh misionaris Kristen di negara Islam. Tujuan mereka adalah untuk memperlemah keyakinan kaum muslimin di kawasan itu tehadap agama Islam dan mempersiapkan kondisi bagi terlaksananya imperialisme di sana. Para misionaris, dengan mendirikan sekolah, pusat keilmuan, dan universitas, menyebarkan dasar-dasar pemikiran Barat dan dengan jalan ini mereka mempromosikan peradaban Barat di dunia Islam.

Konsep negara Islam termasuk dalam perkara–perkara Ijtihadiyah, karena tidak dinyatakan dalam al–Quran atau as–Sunnah. Menurut Muhammad bin Hassan As–Syaibani (ulama terkemuka dari mazhab Hanafi), negara Islam ialah negara yang dikuasai oleh umat Islam dan orang-orang Islam beroleh keamanan di dalamnya. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Syeikh Muhammad Abu Abu Zuhrah, sebagai berikut: “Negara Islam ialah negara yang berada di bawah kuasa pemerintahan Islam, dalam mana kekuatan dan pertahanannya berada di tangan umat Islam.”[5]

2nd.    Pembebasan Dunia Islam atas Penjajahan Barat

Pembebasan dunia Islam atas penjajahan barat diklasfikasi menjadi dua bagian, yaitu penjajahan secara fisik (penjajahan militer) dan penjajahan non-fisik (penjajahan ideologi).

1.                          Pembebasan Dari Penjajahan Fisik

Kebangkian Islam yang lahir pada akhir abad ke-19 merupakan jawaban terhadap pengaruh dunia barat yang yang gencar menyerang kaum muslimin.[6]

Menurut Harun Nasution reaksi pembebasan terhadap pengaruh Eropa timbul pertama kali di Kerajaan Turki Utsmani dan Mesir. Orang-orang Turki Utsmaniyah sejak awal telah mempunyai kontak langsung dengan Eropa, karena kekuasaan Kerajaan Turki Ustmani hingga abad ke-17 Masehi telah mencapai Eropa Timur yang meluas sampai ke gerbang kota Wina. Tetapi sejak abad ke-18, Kerajaan Tukri Ustmani mulai mengalami kekalahan dari kerajaan-kerajaan Eropa. Kekalahan oleh Eropa –yang pada abad-abad sebelumnya masih dalam keadaan mundur– inilah yang menjadi pemicu adanya pembaharuan di Kerajaan Turki.[7]

Sementara kebangkitan Islam di Mesir terjadi sejak terjadinya kontak dengan Eropa yang dimulai dari datangnya ekspedisi Napoleon Bonaparte yang mendarat di Aleksandria pada tahun 1798 M.

Dalam proses kebangkitan Islam pasca persentuhan dengan barat di Mesir, di kenal beberapa orang tokoh yaitu Rifa’i al-Thahthawi (1803-1873 M)[8], Jamaluddin al-Afghani (1839-1877 M)[9], Muhammad Abduh (1849-1905 M)[10] dan Rasyid Ridha (1864-1935 M).

Sementara menurut L. Stoddard, usaha pembebasan dunia Islam atas penjajahan barat secara fisik pertama kali dilakukan di Mesir oleh Muhammad Abdul Wahhab pada awal abad XIX. Dia membawa konsep persatuan umat Islam dengan nama Pan-Islamisme.[11]Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh L. Stoddardsebagai berikut:

Ketika dunia Islam diliputi kegelapan, tiba-tiba bergemalah seruan dari padang pasir yang luas itu –tempat lahir Islam– memanggil mereka kembali kepada jalan yang benar. Yang meneriakkan seruan itu ialah juru islah yang termashur, Muhammad bin Abdul Wahhab. Ia menyalakan api yang membakar sampai ke pelosok-pelosok  dunia Islam. Ia menggerakkan umat Islam untuk memperbaiki jiwa danmembangkitkan kemegahan dan kebesaran yang dahulu. Kebangkitan umat Islam yang perkasa mulailah.[12]

Diterangkannya pula bahwa pada mulanya, kebangkitan umat Islam yang dibawa oleh Muhammad Abdul Wahab di Mesir bukanlah karena takut atau dendam kepada barat, karena pada saat itu Eropa belum menyerang Islam dengan sungguh-sungguh, selain merebut wilayah Turki di Eropa dan kepulauan Nusantara. Dari itu bahaya dari Barat belumlah dirasakan. Keadaan berubah secara radikal pada pertengahan abad XIX dengan adanya ditaklukannya Aljazair oleh Perancis, penguasaan Transkaukasia oleh Rusia dan penaklukan seluruh India oleh Inggris.[13]

Penaklukan Barat itu meyakinkan orang Islam yang berpikir di manapun, bahwa Islam benar-benar dalam bahaya, akan jatuh dibawah dominasi Barat. Pada waktu itulah Pan-Islamisme tampil dengan watak anti-barat.[14]

Konsep pan-Islamisme ini pada periode selanjutnya dikembangkan kembali oleh Jamaluddin al-Afghani (1839-1897) dalam rangka mengobarkan semangat perasaan Islam di dunia timur Islam. Ia juga menolong menimbulkan pemberontakan Arabi di Mesir dan Revolusi di Persia.[15]

Gerakan-gerakan perlawanan terhadap serangan barat pada mulanya timbul disetiap negeri dan tidak dikoordinasi. Perlawanan seperti Abdul Katsir di Aljazair dan Syamil di kaukasus. Kebencian terhadap barat tumbuh hebat dan cepat. Di Aljazair pecah pemberontakan “Al-Kabil” tahun 1871. Sedangkan di Afrika Utara bangunlah wali-wali dan menggerakkan jihad. Yang terbesar di antara semuanya adalah pemberontakan “Al-Mahdi di Sudan Bagian Mesir. Ia melemahkan sendi-sendi kekuatan Inggris, sampai Kitchener merebut kartum menjelang akhir abad XIX.[16] Hal demikian juga terjadi di Afganistan dan India. Keduanya memberikan banyak kesusahan bagi Inggris.

2.                          Pembebasan Dari Penjajahan Non-Fisik

Usaha dalam usaha pembebasan dari penjajahan yang dilakukan barat secara non-fisik atas dunia Islam terlihat rancu dan tidak ter-manage dan tidak sistematis. Terlihat bahwa usaha pembebasan dari penjajahan secara fisik pun ternyata masih membuka kesempatan untuk penjajahan secara non-fisik.[17] Negera-negara Barat tetap berusaha menjajah dengan dengan cara yang baru.

Di bidang ekonomi, penjajahan dilakukan melalui ketergantungan terhadap hutang luar negeri. Dengan dalih membantu negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, mereka meminjamkan uang dalam jumlah besar. Belakangan terbukti hutang tersebut bukan mengentaskan kemiskinan, melainkan malah menambah miskin. Dan yang paling gawat adalah memunculkan ketergantungan ekonomi. Dengan ketergantungan ekonomi yang demikian besar, negara Barat lewat berbagai institusi-institusi yang dibentuknya seperti IMF, World Bank dan sebagainya, dapat memaksakan kemauan politiknya atas suatu negara, baik secara langsung maupun tidak. Maka, negeri-negeri itu menjadi tidak merdeka secara politik. Indonesia mengalami itu. Kini kita tidak lagi bisa secara leluasa mengatur negeri kita sendiri. Semua, bahkan termasuk penyusunan kabinet dan program-progam pemulihan ekonomi, harus dimintakan persetujuannya melalui apa yang disebut letter of inten (L0I). Untuk hal seperti itu saja harus meminta persetujuan mereka, maka jangan berharap mereka akan membiarkan kita, misalnya, menetapkan pemberlakuan hukum syariat Islam seperti yang sekarang sedang diusulkan oleh FPPP di sidang MPR. Penjajahan ekonomi juga dilakukan dengan berbagai aturan yang mereka paksakan, seperti ide pasar bebas dengan WTO-nya atau isue globalisasi, privartisasi dsb. Maka, sekalipun secara fisik merdeka, secara politik dan ekonomi terjajah.[18]

Di bidang kebudayaan, globalisasi informasi yang ditimbulkan oleh kemajuan luar biasa di bidang teknologi informasi bak pisau bermata dua. Satu sisi menguntungkan karena dengan demikian peristiwa-peristiwa dari berbagai belahan dunia dengan cepat dapat kita ketahui, tapi di sisi lain terjadi pula gelombang arus budaya Barat (westernisasi) ke negeri-negeri Islam. Munculnya TV swasta di negeri ini mempercepat berkembangnya budaya Barat. Saban hari keluarga-keluarga muslim dicekoki dengan gaya hidup, perilaku dan cara berfikir Barat. TV telah menjadi agen pembaratan yang tangguh. Tak heran bila kemudian anak-anak muslim lebih mengenal tokoh-tokoh rekaan di TV ketimbang tokoh-tokoh Islam. Maka, sadar atau tidak mereka telah terbaratkan dan kehilangan identitas kepribadian Islamnya. Itu semua sedikit banyak berpengaruh kepada cara berfikir, pemihakan, keprihatinan dan perilaku kaum muslimin. Apa yang dari Barat dinilai baik dan modern, serta apa yang dilakukan juga mesti benar. Inilah penjajahan di bidang budaya.[19]

Di bidang hukum, tak terhitung jumlahnya hukum dan perundang-undangan negeri muslim, termasuk Indonesia, yang masih bersumber dari Barat. Kita bangga terbebas dari penjajahan Barat, tapi mengapa tidak merasa risih menggunakan undang-undang bikinan Belanda? Itu berarti, secara tidak langsung kita menyelesaikan berbagai masalah di negeri yang mayoritas muslim ini dengan cara penjajah. Penjajah telah lama pergi, tapi mereka masih bercokol dalam wajah yang berbeda.[20]

3rd.   Penutup

Berdasarkan uraian berbagai data literatur yang berhasil penulis kemukakan di atas, terlihat bahwa penjajahan secara fisik memang telah berakhir bagi sebagian besar negara-negara Islam. Tetapi penjajahan non-fisik yang dilakukan negara-negara Barat atas dunia Islam masih tetap berlangsung dan tidak akan berhenti kecuali Islam telah hancur dari pemukaan bumi.

 

Sumber pustaka

Abu Zahrah. Syeikh, 164, hal. 377

Ali, Yunasril Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988)

H.A.R. Gibb, Islam Dalam Lintasan Sejarah, (Jakarta: Bhratara, 1964)

Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1998)

L. Stoddard, Dunia baru Islam, (Jakarta: t.pt, 1966), h. 46

Moeslim Abdurrahman, Islam Transpormatif, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995)

Samuel Huntington, The Clash of Civilitation, (London:

Syahrin Harahap, Islam Dinamis :Menggali Nilai-nilai Ajaran Alquran dalam Kehidupan modern di Indonesia, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1997)

Syekh Taqiyyuddin al-Nabhani, Mafahim Siyasiyah, terj.: Bambang Saiful (Bandung: Alma’arif, 1985)

Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988), h. 110.

Yusran Asmuni, Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996)

 


[1]Yusran Asmuni, Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), h. 17.

[2]Syekh Taqiyyuddin al-Nabhani, Mafahim Siyasiyah, terj.: Bambang Saiful (Bandung: Alma’arif, 1985), h. 51.

[3]Ibid, h. 60

[4]Samuel Huntington, The Clash of Civilitation, (London: t.pn, 1979), h. 134.

[5]Ali, Yunasril Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988), h. 377.

[6]Moeslim Abdurrahman, Islam Transpormatif, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995), Cet. I, h. 62.

[7]Sultan-sultan Kerajaan ‘Utsmani pun mengirim duta-duta ke Eropa untuk mengetahui rahasia kekuatan raja-raja Eropa yang pada abad-abad sebelumnya masih berada dalam keadaan yang mundur. Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1998), Cet. VII, h. 147.

[8]Al-Thahthawi seorang ulama lulusan al-Azhar yang melalui gurunya al-Syaikh Hasan al-Aththar, menaruh perhatian pada ilmu pengetahuan yang sedang berkembang di Barat.. Harun Nasution, Ibid., h. 149.

[9]Jamaluddin al-Afghani merupakan pencetus pertama konsep Pan-Islamisme. Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988), h. 110.

[10]Muhammad Abduh merupakan pemikir pembaharu yag mempunyai pengaruh besar di Mesir, yang lebih memperjelas metode berpikir yang secara secara implisit terkandung dalam dalam pemikiran al-Thahthawi dan al-Afghani. Ia menentang jumud, kebekuan dan kestatisan umat Islam. Harun Nasution, Ibid., h. 150.

[11]Pan-Islamisme dalam pengertinnya yang luas ialah rasa solidaritas antara seluruh mukmin. L. Stoddard, Dunia baru Islam, (Jakarta: t.pt, 1966), h. 46

[12]Muhammad bin Abdul Wahhab dilahirkan di Nejed, terletak dijantung padg pasir Arab, sekitar tahun 1700. Ibid., h. 30.

[13]Ibid., h. 50.

[14]Ibid.

[15]Tujuan pertama pan-Islam yang dikembangkan oleh al-Afghani ditujukan untuk menjatuhkan semua bangsa muslimin dalam Khilafah Utsmani. Meskipun ia gagal dalam pergerakan tersebut, namun tujuan dan pengaruhnya yang utama masih hidup, yaitu soidaritas Islam. H.A.R. Gibb, Islam Dalam Lintasan Sejarah, (Jakarta: Bhratara, 1964), h. 145.

[16]L. Stoddard. Loc.Cit.

[17]Syahrin Harahap, Islam Dinamis :Menggali Nilai-nilai Ajaran Alquran dalam Kehidupan modern di Indonesia, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1997), h. 248.

[18]Ibid., h. 252.

[19]Ibid., h. 265.

[20]Ibid., h. 269.

About Khairil Yulian

Khairil Yulian Ibn Ruslan Abd al-Ghani Ibn Abd al-Syukr al-Siddiq

Posted on 26 Agustus 2010, in Islam, Opini, Pendidikan, Sejarah and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 63 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: