Monthly Archives: Agustus 2010

Hardware (Perangkat Keras)


Hardware yaitu peralatan dalam bentuk fisik yang menjalankan sistem komputer. Hardware digunakan sebagai media untuk menjalankan software. Perangkat keras terdiri dari:

a.Input device

Alat yang digunakan untuk memasukkan data atau instruksi ke dalam computer. Input device sesuai dengan namanya hanya digunakan untuk memasukkan data atau instruksi ke dalam CPU.

Contoh: keyboard, mouse, dll

b.Process device

Alat yang digunakan untuk melaksanakan kumpulan-kumpulan instruksi yang akan ditujukan untuk menghasilkan suatu hasil tertentu yang dikehendaki. Process device dapat melakukan tugasnya jika ada masukan dari input device baik berupa data atau instruksi.

Alat pada proses ini disebut CPU (Central processing Device)

c.Output device

Alat yang digunakan digunakan untuk menampilkan laporan hasil pengolahan dari input baik ditampilkan pada layar monitor ataupun cetak pada media lain.

Contoh: monitor, printer, dll

PERIODISASI SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM


Periodisasi Sejarah Pendidikan Islam

Ditulis oleh:

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq

A. Pendahuluan

Pendidikan secara etimologis, menurut para ahli merupakan kata yang dimodifikasi dari kata bahasa Yunani, yaitu Paedagogie yang berarti “Pendidikan”.[1] Sementara menurut tinjauan terminologis, pendidikan oleh para pakar sering didefinisikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.[2]

Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu pada term al-Tarbiyah, al-Ta’lim dan al-Ta’dib.[3] Dari ketika term tersebut yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah term al-Tarbiyah.[4]

Kata al-Tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu: Pertama, rabba-yarbu yang berarti tertambah, tumbuh dan berkembang. Rabiya-yarba berarti menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun dan memelihara.[5]

Pendidikan dalam konteks Islam ini, banyak kalangan pakar memberikan definisi. Seperti yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas bahwa “Pendidikan Islam ialah usaha yang dilakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan”.[6]

Pendapat senada dengan yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas tersebut juga dikemukakan oleh beberapa pakar pendidikan lainnya, seperti Drs. Ahmad D. Marimba,[7] Drs. Birlian Somad[8] dan Musthafa al-Ghulayaini.[9]

Dalam tinjauan historik, sejarah pendidikan Islam dimulai bersamaan dengan awal berkembangnya sejarah Islam, yaitu sejak masa Rasulullah Saw. Dalam perjalanan panjang sejarah Islam, pendidikan Islam juga mengalami berbagai dinamika pluktuatif seiring dengan pluktuasi sejarah Islam sendiri.

Dinamika sejarah Islam tersebut telah banyak diperiodisasikan ole para pakar, diantaranya Prof. Dr. Harun Nasuton yang membagi sejarah Isme dalam tiga periode, yaitu periode klask, pertengahan dan modern. Namun demikian, para pakar sejarah Islam tidak banyak yang melakukan periodisasi terhadap sejarah pendidikan Islam. Dengan demikian, maka lahirlah satu pertanyaan, apakah dinamika sejarah pendidikan Islam berjalan seiring dengan dinamika sejarah perkembangan peradaban Islam.

Dalam makalah ini, akan disajikan kajian sejarah Islam dalam rangka menemukan jawaban terhadap ada tidaknya hubungan antara sejarah pendidikan Ilam dengan Sejarah perkembangan peadaban Islam.

B. Periodisasi Sejarah Peradaban Islam

Sejarah peradaban Islam telah dibagi oleh Prof. Dr. harun Nasution dalam tiga periode, yaitu periode klasik, periode pertengahan dan periode modern.[10]

  1. Periode Klasik
    Periode klasik (650 M-1250 M) merupakan zaman kemajuan dan dibagi dalam dua fase, yaitu:

    1. Fase Ekspansi, Integrasi dan Puncak kemajuan (650 M-1000 M).
      Pada fase inilah dunia Islam meluas melalui Afrika Utara sampai ke Spanyol di Barat dan melalui Persia sampai ke India di Timur. Daerah-daerah tersebut tunduk kepada keluasaan khalifah yang pada mulanya berkedudukan di Madinah, kemudian di Damsyik dan terakhir di Baghdad. Di masa ini pulalah berkembang dan memuncaknya ilmu pengetahuan, baik dalam bidang agama maupun non-agama, an kebudayaan Islam.
      Zaman inilah yang menghasilkan ulama-ulama besar seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ibn Hambal dalam bidang hukum, Imam Asy’ari, Imam al-Maturidi, pemuka-pemuka Mu’tazilah seperti Wasil Ibn ‘Ata’, Abu al-Huzail, al-Nazzam dan al-Zubair dalam bidang teologi, zunnun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami dan al-Hajjaj dalam mistisisme atau al-Tasawwuf, al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Miskawaih dalam filsafat, dan Ibn Hasyam, Ibn Hayyan, al-Khawarijmi, al-Mas’udi dan al-Razi dalam bidang ilmu pengetahuan
    2. Fase Disintegrasi (1000 M-1250 M)
      Di masa ini, keutuhan umat Islam dalam bidang politik mulai pecah, keuasaan khalifah menurun dan akhirnya Baghdad dapat dirampas dan dihancurka oleh Hulagu pada tahun 1258 M. Khalifah, sebagai lambang kesatuan politik umat Islam, hilang.
  2. Perode Pertengahan (1250 M-1800 M)
    Periode pertengahan ini juga dibgi oleh Prof. Dr. Harun Nasution ke dalam dua fase, yaitu fase kemunduran dan fase tiga kerajaan besar.

    1. Fase Kemunduran (1250 M-1500 M)
      Dalam fase ini, disentralisasi dan disintegrasi meningkat. Perbedam antara Sunni dan Syi’ah dan demikian juga antara Arab an Persia semakin nyata terlihat. Dunia Islam terbagi dua, yaitu bagian Arab dan bagian Persia.
      Bagian Arab yang terdiri atas Arabia, Irak, Suria, Palestina Mesir dan Afrika Utara, dengan Mesir sebagai pusat,
      Bagian Persia yang terdiri atas Balkan, Asia kecil, Persia dan Asia Tengah, dengan Iran Sebagai Pusat.
      Kebudayaan Persia mengambil bntuk Internasional dan dengan demikan mendesak lapangan kebudayaan kebudayan Arab. Pendapat bahwa pintu ijtihad tertutup makin meluas di kalangan umat Islam. Demikian juga tarekat dengan pengaruh negatifnya, perhatian terhadap ilmu pengetahuan menjadi sangat kurang. Umat Islam di Spanyol dipaksa masuk Kristen atau keluar dari daerah trsebut.
    2. Fase Tiga Kerajaan Besar (1500 M-1800 M)
      Tiga kerajaan besar yang dimaksud dalam fase ini ialah Kerajaan Utsmani (Ottoman Empire) di Turki, Kerajaan Safawi di Persia dan Kerajaan Mughal di India.
      Fase tiga kerajaan besar ini, oleh Prof. Dr. Harun Nasution dibagi kembali dalam dua periode lagi, yaitu dimulai dengan aman kemajuan (1500 M-1700 M) dan zaman kemunduran (1700 M-1800 M).
      Di masa kemajuan, ketiga kerajan besar ini mempunyai kejayaan masing-masing teruama dalam bentuk literatur dan arsitek. Mesjid-mesjid dan gedung-gedung indah yang didirikan di zaman ini masih dapat dilihat di Istambul, Tibriz, Isfahan serta kota-kota lian di Iran dan di Delhi. Kemajuan umat Islam di zaman ini lebih banyak merupakan kemajuan di periode klasik. Prhatian terhadap ilmu pengetahuan masih kurang sekali.
      Di masa kemunduran, Kerajaan Utsmani terpukul oleh Eropa. Kerajaan Safawi dihancurkan oleh serangn-serangan suku bangsa Afghan, sedangkan daerah kekuasaan Kerajaan Mughal diperkecil oleh pukulan-pukulan raja-ra India. Kekuatan militer dan kekuatan politik umat Islam menurun. Umat Islam dalam keadaan mundur dan statis. Dalam pada itu, Eropda dengan kekayaan-kekayaannya yang diangkut dari Amerika dam Timur Jauh, bertambah kay dan maju. Penetrasi Barat yang kekuaannya meningkat ke dunia Islam yang kekuatanya menurun, kian mendalam dan kian meluas. Akhirnya Napoleon pada ahun 1798 M menduduki Mesir, sebagai salah satu pusat Islam yang terpenting.
  3. Periode Modern ( sejak 1800 M)
    Periode modern ialah zama kebangkitan kembali umat Islam. Jatunya Mesir ke tangan Barat menyadarkan dunia Islam akan kelemahannya dan menyadarkan umat Islam bahwa Barat telah mempunyai peradaban baru yang lebih tnggi dan merpakn ancaman bagi Islam. Raja-raja dan pemuka-pemuka Islam mulai memikikan bagaimana meninkatkan mutu dan kekuatan umat Islam kembali. Pada periode modern inilah timbul ide-ide pembaharuan dalam Islam.[11]

C. Dinamika Sejarah Pendidikan Islam Secara Kronologis

Dinamika pendidikan Islam dalam sejarah tidak bisa begitu dikatakan seiring dengan periodisasi sejarah peradaban Islam, tanpa menyelami sejarah pendidikan Islam tersebut secara kronologis. Dalam hal ini, sebelum penulis dapat menyatakan kesesuaian antara periodisasi peradaban Islam dengan dinamika sejarah pendidikan Islam, maka berikut ini akan penulis kemukakan beberapa bentuk dan usaha pendidikan Islam dalam dinamika sejarah Islam secara kronologis dari awal perkembangan Islam itu sendiri.

  1. Bentuk dan Usaha Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah Saw. (610 M-632 M) [12]
    1. Pelaksanaan Pendidikan di Mekakah.
      Bentuk dan usaha Pendidikan Islam pada masa Mekkah ini meliputi:

      1. Pendidikan Tauhid
        Pendidikan keagamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan memepersekutukan-Nya dengan berhala, karena Tuhan itu Maha Besar dan Maha Pemurah, sebab itu hendaklah dienyahkan berhala sejauh-jauhnya.
        Pendidikan akliyah dan ilmiyah, yaitu mempejari kejadian manusia sari segumpal darah dan kejadian alam semesta. Allah akan mengajarkan yang demikian itu kepada orang-orang yang mau menyelidiki dan membahasnya, sedangkan mereka dahulu mereka belum mengetahuinya. Untuk mengetahui hal itu haruslah dengan membaca dan menyelidiki serta memakai pena untuk mencatat.
        Pendidikan akhlak dan budi pekerti, Nabi Muhammad Saw mengajar sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid.
      2. Pendidikan jasmani, yaitu mementingkan kebersihan dan pakaian, badan dan tempat kediaman.[13]
      3. Pengajaran Al-Qur’an
        Pada masa permulaan turunnya al-Qur’an, Nabi Muhammad Saw mengajarka Islam secara sembunyi-sembunyi, para sahabat mempelajari al-Qur’an di suatu rumah (rumah Arqam bin Abi al Arqam). Mereka berkumpul membaca al-Qur’an, memahami kandungan setiap ayat yang diturunkan Allah dengan jalan bermudarasah dan bertadarus.[14] Setelah Umar bin Khattab memeluk agama Islam mereka dengan bebas membaca dan mempelajari al-Qur’an. Nabi Muhammad selalu menganjurkan kepada para sahabatnya supaya al-Qur’an dihapal dan selalu dibaca, dan diwaiibkan membacanya dari ayat-ayat dalam shalat, sehingga kebiasaan membca al-Qur’an tersebut merupakan bagian dari kehidupan mereka sehari-hari, menggantikan kebiasaan membacakan syair-syair indah pada masa sebelum Islam. Untuk menjaga ayat al-Qur’an tidak tercampur dengan hal-hal lain maka Nabi Muhammad Saw memberikan perintah agar hanya al-Qur’an sajaah yang dituliskan.[15]
    2. Pelaksanaan Pendidikan di Madinah
      Pendidikan di Madinah ini dilakukan setelah Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah. Pendidikan Islam pada masa ini dapat dikatakan sebagai pendidikan sosial dan politik (dalam arti yang luas). Pendidikan ini merupakan kelanjutan dari pendidikan tauhid di Mekkah, yaitu pembinaan di bidang pendidikan sosial dan politik agar dijiwai oleh ajaran tauhid, sehingga akhirnya tingkah laku sosial politik merupakan cermin dan pantulan sinar tauhid tersebut.[16]
      Kegiatan pertama yang pertama-tama yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad Saw bersama dengan kaum muslimin adalah membangun mesjid.[17] Salah satu ruangan dari Mesjid itu beliau pergunakan secara khusus untuk mengajar para sahabat. Ruangan itu sikenal dengan al-Shuffah yang juga berfungsi sebagai tempat penampungan para siswa yang miskin.[18]
  2. Bentuk dan Usaha Pendidikan Islam Pada Masa Khulafa’ al-Rasyidin (632-661 M)
    Pemberontakan orang-orang murtad, nabi-nabi palsu dan orang-orang yang enggan membayar zakat, memberikan pengalaman bagi orang Islam untuk memperteguh ajaran-ajaran Islam kaum muslimin sehingga dapat dihindari kejadian serupa. Pengalaman ini  memperteguh pendidikan Islam untuk memperkokoh nilai-nilai Islam di kalangan kaum muslimin. Akan tetapi, pelakanaan pendidikan Islam di masa Khalifah Abu Bakar masih seperti di masa Nabi, baik materi maupun lembaga pendidikannya.[19]
    Selain mengirimkan tentara untuk menumpas pemberontakan, Abu Bakar juga memusatkan perhatiannya untuk mengirimkan pasukannya dalam rangka ekspansi wilayah Islam ke Syiria dan berhasil menaklukkan Syiria. Akibat ekspansi, membuat umat Islam kurang memberikan perhatian terhadap pendidikan Islam.[20]
    Pada masa khalifah Umar bin Khattab, kondisi politik dalam keadaan stabil. Ekspansipun  mencapai hasil yang gemilang yang melipauti Semananjung Arabia, Palestina, Syiria, Irak, Persia, dan Mesir. Karena daerah-daerah tersebut memiliki dat istiadat dan kebudayaan yang bebeda dengan Islam, maka Umar bin Khattab memerintahkan panglima-panglima apabila berhasil menguasai suatu kota, hendaknya mereka mendirikan mesjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan.[21] Berkaitan dengan pendidikan itu, khlaifah Umar menunjuk dan mengangkat guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkan, yang bertugas mengajarkan isi al-Qur’an dan ajaran Islam kepada penduduk yang baru masuk Islam.[22]
    Meluasnya kekuasaan Islam, pada masa Umar ini, mendorong kegiatan Islam bertambah besar karena mereka yang baru saja memeluk agama Islam ingin menimba ilmu pengetahuan dari para sahabat yang menerima langsung dari Nabi Saw, khususnya mengenai hadis Rasul sebagai salah satu sumber agama (yang belum terbukukan dan masih dalam ingatan para sahabat) dan sebagai alat bantu untuk menafsirkan al-Qur’an. Gairah menuntut ilmu agama Islam tersebut di belakang hari mendorong lahirnya sejumlah pembidangan disiplin ilmu keagamaan, seperti tafsir, hadis, fikih dan sebagainya.
    Orang-orang yang baru masuk Islam dari daerah-daerah yang ditaklukkan, harus belajar Bahasa Arab jika mereka ingin belajar dan mendalami pengetahuan Islam. Oleh karena itu, masa ini sudah terdapat pengajaran Bahasa Arab.[23]
    Pada masa khalifah Utsman, pelaksanaan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada. Usaha kongkrit di bidang pendidikan Islam belum dikembangkan oleh khalifah Utsman. Namun begitu, satu usaha cemerlang yang terjadi di masa ini, yang berpengaruh luar biasa bagi pendidikan Islam. Melanjutkan usuluan Umar bin Khattab kepada  khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan tulisan-tulisan ayat al-qur’an, khalifah Utsman memerintahkan agar mushaf yang dikumpulan pada masa khalifah Abu Bakar, disalin oleh Zaid bin Tsabit bersama Abdullah bin Zubair, Zaid bin ‘Ash, dan Adurrahman bin Harits.[24]
    Mengganti Utsman, naiklah Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Sejak awal kekuasaannya, khlaifah ali selalu diselimuti pemberontakan hingga berakhir tragis dengan terbunuhnya khlaifah. Saat kericuhan politik di masa Ali ini hampir dapat dipastikan bahwa kegiatan pendidikan Islam mendapat hamabatan dan gangguan walaupun tidak terhenti sama sekali. Khalifah Ali saat itu tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan, karena seluruh perhatiannya terkonsentrsi pada masalah keamanan dan kedamaian bagi masyrkat Islam.[25]
    Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam pada zaman Khalifah al-Rasyidin secara keseluruhan belum berkembang seperti masa-masa sesudahnya. Pelaksanaan tidak jauh dengan masa Nabi, yang menekankan pada pengajaran baca tulis dan ajaran-ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan Hadis Nabi.
  3. Bentuk dan Usaha Pendidikan Islam Pada Masa Dinasti Umaiyah (661 M-705 M)
    1. Semenjak berpindahnya pusat kerajaan Islam ke Damaskus, penerjemahan berbagai buku Yunani ke dalam bahasa Arab mulai digalakkan, meskipun dengan demikian justru melahirkan berbagai masalah baru dalam dunia Islam[26]
    2. Pada zaman ini, diaturkan berbagai kursus (halaqah) di dalam mesjid.[27]
    3. Berkembangnya berbagai mazhab dan aliran dalam Islam pada zaman ini, menambah minat bagi para ulama untuk membahas dan memperdalam berbagai masalah agama Islam.[28]
    4. Mengirim para ulama bersama angkatan perang untuk menegakkan prinsip-prinsip Islam dan menyiarkan dakwah Islam.[29]
    5. Mementingkan penulisan sebagai alat perhubungan yang dahulunya tidak begitu dipentingkan.
    6. Membuka lebar-lebar pintu untuk mempelajari bahasa-bahasa asing. Hal ini didorong oleh keperluan terhadap bertambah luasnya kawasan Islam.
    7. Pusat pendidikan bergantung pada surau (Kuttab) dan mesjid.[30]
  4. Bentuk dan Usaha Pendidikan Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah (750 M-1258 M)
    1. Pada masa Dinasti Abbasiyah, tidak dijumpai seorang ahli pun kecuali dari orang-orang muslim.[31]
    2. Pada masa Dinasti abbasiyah ini pula, pertam kali didirikan institusi pendidikan baru,yaitu sekolah (Madrasah).
    3. Hospital dan pabrik peluru yang pertama kali dikenal dalam sejarah dunia didirikan pada zaman ini.[32]
    4. Pada masa ini pulalah lahir ulama-ulama besar dalam berbagai disiplin ilmu.[33]
    5. Pada zaman khalifah al-Makmun, berdiri dar al-Hikmah, yang walaupun semula merupakan pusat kegiatan pustaka dan penterjemahan namun dalam perkembangannnya berubah menjadi peguruan tinggi[34]
    6. Zaman pemerintahan al-Makmun menyaksikn sumber perkembangan ilmiah dan penterjemahan buku-buku lama dari berbagai bahasa ke bahasa Arab. Di antaranya adalah kitab-kitab Plato dan Aristoteles.[35]
    7. Aktivits pengislaman filsafat Yunani ini mungkin bertujuan baik, tetapi dampaknya negatifnya juga tidak sedikit,[36] sehingga tidak mengherankan apabila dengan itu kemudian, lahir dan berkembang pula pemikiran dari sementara ulama yang berusah membela kelebihan dan keutamaan Islam dibanding karya-karya Yunani.[37]
  5. Bentuk dan usaha Pendidikan Pada Masa Dinasti Umaiyah Spanyol (711 M-1492 M)
    Masa kerajaan Islam di Barat (Maghrib), yaitu Dinasti Umaiyah di Spanyol (Andalusia) lahir hampir bersamaan waktunya dengan Dinasti Abbasiyah di Timur (Baghdad).[38]Pada masa kekuasaan Dinasti Umaiyah Spanyol ini, ada beberapa catatan sejarah sebagai bukti adanya bentuk dan usaha pendidikan Islam yang dilaksanakan dalam masa kekuasaannnya. Di antaranya sebagai berikut:

    1. Peradaban di Spanyol banyak melahirnya nama-nama ulama dan filosof Islam terkenal, seperti Ibnu Bajah, Ibnu Hazm, Ibnu Thufail, Ibnu Arabi dan Ibnu Rusyd, kemudian belakangan sekali lahir nama besar lain, yaitu Ibnu Khaldun.[39]
    2. Golongan Almuhadiah di Marakusy yang menaklukan Cordova pada tahun 543 H/ 1148 M., dipimpin oleh Abd al-Mu’min, Abu Ya’kub dan Abu Yusuf yang terkenal karena semangat berilmu dan berfilsafat mereka.[40]
    3. Sebagaimana halnya dalam kekuasaan Dinasti Abbasiyah, kemajuan pada Dinasti Umaiyah di Spanyol juga ditandai dengan munculnya lembaga pendidikan untuk pertama kali dalam sejarah yang msih hingga sekarang, yaitu Madrasah.[41]
    4. Awal Perkembangan Perguruan tinggi di Eropa adalah dari Islam Spanyol.[42]
    5. Cordova (Spanyol) merupakan pusat studi-studi filsafat.[43]
  6. Bentuk dan Usaha Pendidikan Pasca Runtuhnya Dinasti Abbasiyah (1258 M hingga sekarang)
    Setelah pudarnya kekuasaan Abbasiyah di Baghdad, maka pusat kekuasaan Islam bergeser ke tangan bangsa Turki, dengan Istambul sebagai ibu kotanya. Dinasti ini mencatat prestasi yang menakjibkan dalam bidang militer, karena pernah memasuki jantung Eropa dalam gerakan penaklukannya, akan tetapi dalam bidang pendidikan justru mengalami kemunduran.
    Faktor penyebab kemunduran pendidikan pada masa pasca runtuhnya kejayaan Dinasti Abbasiyah ini antara lain disebabkan oleh beberapa faktor. Drs. Imam Bawawi, MA dalam bukunya Tradisionalisme Dalam pendidikan Islam mengemukakan bahwa faktor yang menyebabkan statisnya sistem pendidikan pada masa ini antara lain adalah:

    1. Kebekuan Pemikiran Islam
    2. Kecenderungan untuk kembali mengutamakan ilmu-ilmu naqliah
    3. Kebekuan institusi pendidikan yang ada
    4. Terlalu menonjolnya budaya Turki
    5. Diberikannya keistimewaan bagi golongan minoritas non-muslim untuk mengembangkan pola kehidupannya sendiri.
    6. Masuknya pengaruh Pendidikan Barat dalam dunia Islam.

Kemunduran-kemunduran di bidang pendidikan yang tampak dalam dunia Islam tersebut, juga telah diungkapkan oleh Hanun Asrohah, M.Ag. dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam, yaitu bahwa Gejala Kemunduran pendidikan Islam mulai tampak setelah abad XIII yang ditandai dengan terus melemahnya pemikiran Islam sampai Abad XVIII.[44]

Namun demikian, dia juga mengemukakan bahwa bahwa secara kuantitas, pendidikan Islam menunjukkan perkembangan yang baik. Hal ini terlihat dari beberapa catatan sejarah dalam bidang pendidikan Islam sebagai berikut:

  1. Madrasah telah diperkenalkan dan didirikan di beberapa wilayah Islam.
  2. Keterlibtan langsung penguasa terhadap pendidikan
  3. Memacu makin berkembangnya lenbaga-lembaga pendidikan.
  4. Penguasa dinasti Ayyubiyah, Mamluk, Utsmani dan sebagainya terus memperbanyak bangunan-bangunan Madrasah.
  5. Kontrol negara yang kuat terhadap sistem Madrasah membuat masyarakat Islam mengarahkan kegiatan pendidikan formal di madrasah-madrasah.
  6. Bahkan dari segi pengorganisasian, sistem madrasah mencapai puncak perkembangannya pada masa kerajaan Utsmani.[45]

Kemunduran pendidikan Islam pada masa-masa ini terletak pada beberapa aspek, yaitu:

  1. Merosotnya mutu pendidikan dan pengajaran di lembaga-lembaga pendidikan Islam.
  2. Materi yang diajarkan hanyalah materi-ateri dan ilmu-ilmu keagamaan.
  3. Lembaga pendidikan tidak lagi tidak lagi mengajarkan ilmi-ilmu filsafat termasuk ilmu pengetahuan.
  4. Rasionalisme pun kehilangan peranannya, dalam arti semakin dijauhi.
  5. Daya nalar umat Islam mengalami kebekuan, sehingga pemikiran kritis, penelitian dan ijtihad tidak lagi dikembangkan.

Sebagai akibatnya, sejarah Islam pada masa-masa ini tidak didengar ada nama-nama ulama yang menghasilkan karya-karya intelektualsme yang mengaguman.[46]

Keadaan sistem pendidikan yang statis ini terus berlangsung hingga terjadi persentuhan dengan dunia Barat. Hanun Asrohah, M.Ag. dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam menyebutkan bahwa kebangkitan intelektual di Eropa telah memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan Eropa. Semangat Rasionalisme menyusul melimpahnya kekayaan yang dibawa dari Amerika dan Timur Jauh membuat negara-negara Eropa menjadi kuat baik militer, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan dan teknologi.[47]

Dalam beberapa sumber literatur, proses persentuhan dunia Islam dengan Barat untuk pertama kali terjadi sekitar abad XVIII, yaitu ketika Ekspansi Napoleon berhasil menguasai Mesir sebagai salah satu pusat Islam yang terpenting.[48] Sementara menurut Prof. Dr. Harun Nasution, persentuhan dunia Islam dengan Barat juga telah terjadi pada periode pertengahan (1250 M-1800 M),[49] yaitu terutama pada kerajaan Utsmani sekitar abad XVII.[50]

Hanun Asrorah, M.Ag. menyebutkan dalam bukunya Sejarah pendidikan Islam bahwa menurut sebagian tokoh-tokoh pembaharu Islam, salah satu penyebab kemunduran umat Islam adalah melemah dan merosotnya kualitas pendidikan Islam.[51]

Pembaharuan pendidikan Islam pertama kali dimulai di kerajaan Utsmani. Adapun bentuk dan usaha pendidikan Islam yag dilakukan oleh pemerintah kerajaan Utsmani pada masa ini, antara lain:

  1. Turki mengembangkan kemajuan ilmu pengetahuan yang selama ini dilupakan sebagai konsekwensi logis dari pembangunan.

  2. Mendirikan lembaga terjemah pada tahun 1717 M yang bertugas menterjemahkan buku-buku dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Turki
  3. Mendirikan percetakan di Istambul pada tahun 1727 M sebagai usaha untuk mempermudah akses buku-buku pengetahuan.
  4. Mendirikan sekolah teknik militer, yang menerapkan sistem baru yang dapat menjadi contoh bagi lembaga pendidikan yang menganut sistem pendidikan tradisional.
  5. Membenahi kurikulum di Madrasah-Madrasah dengan juga memasukkan ilmu-ilmu pengetahuan umum.
  6. Sultan Mahmud II mendirikan sekolah-sekolah Model Barat.[52]

  7. Sultan Mahmud II juga mengirim + 159 pelajar ke luar negeri, seperti ke Inggris, Perancis, Rusia dan Austria.[53]

Seperti halnya di Turki, usaha pembaharuan pendidikan di Mesir juga diawali setelah adanya kontak dengan peradaban modern Barat. Bentuk dan usaha pendidikan Islam yang dilaksanakan pada saat itu antara lain:

  1. Setelah Muhammad Ali naik tahta menjadi penguasa Mesir, ia memberikan perhatian khusus pada bidang militer dan ekonomi.[54] Untuk memajukan kedua bidang tersebut dibutuhkan ilmu-ilmu modern, oleh karena itulah ia juga mencurahkan perhatiannya terhadap bidang pendidikan.
  2. Selain meniru corak dan model pendidikan barat, Muhammad Ali juga mempercayakan pengawasan sekolah-sekolah kepada orang-orang Barat, bahkan guru-gurunya juga didatangkan dari Barat (Eropa).

  3. Mendatangkan tenaga ahli dari Eropa
  4. Mengirimkan siswa-siswa untuk belajar ke Italia, Perancis, Inggris dan Austria.[55]

D. Korelasi Antara Periodisasi Sejarah Peradaban Islam dengan Dinamika Sejarah Pendidikan Islam

Dalam beberapa sub-bab pembahasan di atas telah dikemukakan beberapa bentuk dan usaha pendidikan Islam yang tercatat dalam sejarah Islam, yang telah penulis kemukakan secara kronologis.
Dalam menyikapi pertanyaan tentang ada tidaknya korelasi antara periodisasi sejarah peradaban Islam dengan sejarah pendidikan Islam, Dra. Zuhairini, MA. mengemukakan bahwa sejarah pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan hubungannya dengan sejarah Islam sendiri, karena sejarah pendidikan Islam memang berada dalam sejarah Islam itu sendiri.[56] Dia sendiri membagi sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam ke dalam lima periode, yaitu sebagai berikut:

  1. Periode pembinan pendidikan Islam yang berlangsung pada zaman Nabi Muhammad Saw.
  2. Periode pertumbuhan pendidikan Islam, yang berlangsung sejah Nabi Muhammad Saw wafat sampai masa akhir Bani Umayyah, yang diwarnai dengan berkembangnya ilmu-ilmu naqliyah.
  3. Periode kejayaan (puncak perkembangan) pendidikan Islam, yang berlangsung sejak permulaan daulah Abbasiyah sampai dengan jatuhnya Baghdad, yang diwarnai dengan berkembangnya ilmu akliyah dan timbulnya madrasah, serta memuncaknya perkembangan kebudayaan Islam.
  4. Periode kemunduran pendidikan Islam, yaitu sejak jatuhnya Baghdad sampai jatuhnya Mesir ke tangan Napoleon, yang ditandai dengan runtuhnya sendi-sendi kebudayaan Islam dan berpindahnya pusat-pusat pengembangan kebudayaan ke dunia Barat.
  5. Periode pembaharuan pendidikan Islam, yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh Napoleon sampai masa kini, yang ditandai dengan gejala-gejala kebangkitan kembali umat dan kebudayaan Islam.[57]

Sementara Prof. Dr. Hasan Langgulung dalam bukunya Manusia dan Pendidikan menyebutkan ada empat periode dalam sejarah pendidikan Islam. Periodisasi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Zaman Pembinaan Awal
    1. Zaman Rasul dan sahabat-sahabat yaitu antara 571 M dan 661 M
    2. Zaman Kerajaan Umaiyah, yaitu antara 661 M sampai 705 MCiri-ciri utama pendidikan Islam pada zaman awalan ini adalah:
      1. Pendidikan Islam murni berdasarkan Alquran dan Hadis
      2. Bertujuan meneguhkan dasar-dasar agama baru
      3. Pada prinsipnya berdasar pada ilmu-ilmu Alquran/naqliyah
      4. Menggunakan bahan tertulis sebagai alat komunikasi
      5. Membuka peluang untuk mempelajari bahan asing
      6. Menggunakan Kuttab, mesjid dan perpustakaan sebagai pusat pendidikan.
  2. Zaman Keemasan
    1. Di Timur, bermula dengan berdirinya kerajaan Abbasiyah di Baghdad (750 M-1258 M)
    2. Di Barat, bermula pada tahun 711 M, dan berakhir dengan jatuhnya Granada pada tahun 1492 M. Kerajaan Islam terakhir di Spanyol.

Pendidikan Islam di masa itu menampilkan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Zaman Kemerosotan
    Bermula dengan berdirinya kerajaan Usmaniyah pada tahun 1517 M, sampai tahun 1917 M, yaitu kalahnya Turki pada perang dunia pertama dan bebasny negara-negara Arab dari kerajaan Utsmaniyah dengan kerjasama penjajah penjajah Inggris, Perancis dan Misionary Kristen.
  2. Zaman Baru
    Zaman Baru yaitu semenjak permulaan abad kedua puluh sampai sekarang.[58]

E. Analisis

Berdasarkan formulasi periodisasi sejarah peradaban Islam yang dikemukakan oleh para pakar di atas, penulis melihat adanya hubungan yang tidak terpisahkan antara periodisasi sejarah peradaban Islam dengan periodisasi sejarah pendidikan Islam. Sehingga pluktuasi dinamika bentuk dan usaha pendidikan Islam dalam perjalanan sejarah, berjalan mengiringi dinamika sejarah peradaban Islam.

Apa yang dikemukakan oleh Dra. Zuhairini, MA mengenai hubungan pendidikan Islam dengan sejarah Islam di atas,[59] memang ada benarnya, karena kajian terhadap sejarah pendidikan Islam yang selama ini dilakukan dan disajikan dalam berbagai literatur selalu bersandar pada sejarah Islam. Sehingga, ketika dilakukan periodisasi terhadap sejarah Islam, sejarah pendidikan Islam juga ikut terbagi dalam periode-periode sejarah Islam tersebut.

Jika penulis melihat dari sekian rumusan periodisasi sejarah pendidikan Islam yang dikemukakan oleh para pakar, terlihat bahwa landasan awal dan mendasar dalam usaha periodisasi sejarah pendidikan Islam mengacu pada term “Dunia Islam”, kemudian diikuti dengan meneliti karakteristik bentuk pendidikan serta prasasti sejarah yang masih bisa dibaca. Analisis yang penulis kemukakan ini didasari oleh beberapa alasan, antara lain sebagai berikut:

  1. Kajian Sejarah pendidikan Islam secara geografis, hanya mengupas sejarah Islam pada pesilangan tiga benua, yaitu membentang dari kawasan Timur Tengah (Asia), melintasi kawasan Eropa Timur hingga sebagian kawasan benua Afrika. Nama-nama daerah yang disebutkan dalam sejarah Islam, antara lain bermuara di Mekkah (awal masa kenabian Muhammad Saw), Madinah, Damaskus, Baghdad, Spanyol, Turki, Mesir dan India. Nama kawasan lain yang mungkin juga disebutkan, hanyalah sebagai bingkai penghias lukisan sejarah Islam.
    Kenapa hanya kawasan itu saja yang menjadi lokasi penelitian sejarah Islam secara umum? Apakah Islam yang juga tersebar di berbagai kawasan lain di planet Bumi ini tidak mempunyai sejarah pertumbuhan dan perkembangannya? Lokasi sejarah Islam yang hanya berkisar pada kawasan-kawasan tersebut, menurut analisa penulis disebabkan bahwa penelitian sejarah Islam disandarkan pada term “Dunia Islam”.
    Istilah Dunia Islam menurut Dr. Syed Sajjad Husain dan Dr. Syed Ali Asharaf dalam bukunya Crisis Muslim Education mengacu pada wilayah yang penduduknya sebagian besar Muslim. Wilayah ini membentang dari Maroko sampai Nusantara (Indonesia).[60]Karena kawasan dunia Islam dibatasai pada kawasan tersebut, maka penelitian dan kajian sejarah Islam selalu mengambil lokasi pada lingtang kawasan tersebut.
    Melihat aspek sosiologis dari definisi yang dikemukakan Dr. Syed Sajjad Husain dan Dr. Syed Ali Asharaf tersebut, maka India dan beberapa kawasan lainnya tidaklah bisa dimuat dalam kajian sejarah Islam. karena menurut Hanun Asrohah, M.Ag. dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam, menyebutkan bahwa di India tiga kelompok masyarakat besar, yaitu Umat Islam, masyarakat Hindu dan bangsa Inggris sebagai penguasa koloni. Umat Islam di India adalah kelompok masyarakat yang paling terbelakang yang hanya berjumlah seperlima dari Umat Hindu.
    Dari apa yang dikemukakan oleh Hanun Asrohah, M.Ag. tersebut, maka dapat dipahami bahwa masyarakat Islam di India adalah masyarakat minoritas. Jika dibandingkan dengan definisi yang dikemukakan oleh Dr. Syed Sajjad Husain dan Dr. Syed Ali Asharaf di atas, maka India tidak bisa dimasukkan dalam kategori sejarah pendidikan Islam.
    Menurut analisa penulis, pengkajian sejarah Islam tidak begitu tepat, karena lokasi Islam dalam sejarah hanya meliputi beberapa kawasan saja. Bahkan hubungan realitas sejarah dengan definisi dunia Islam juga tidak begitu tepat. Karena itu, penulis menilai bahwa penelitian dan pengkajian terhadap sejara Islam harus didasarkan pada aspek karakteristik dan tidak terikat oleh lokasi.
    Hal ini tentunya juga berlaku dalam penelitian dan pengkajian sejarah pendidikan Islam, karena harus diakui bahwa sejarah pendidikan Islam memang merupakan bagian dalam sejarah Islam.
    Dunia Islam menurut penulis, lebih pantas diterjemahkan dengan masa pemerintahan Islam yang masih bernaung dalam satu struktur pemerintahan Islamiyah. Jadi, ketika mengkaji sejarah Islam dan berbagai aspeknya, hanya pada masa di mana Islam bernaung di bawah satu payung pemerintahan, yaitu khilafah Islamiyah.
  2. Karakteristik pendidikan Islam adalah faktor penting yang harus diperhatikaan dalam melakukan periodisasi sejarah pendidikan Islam. periodisasi yang dikemukakan oleh Dra, zuhairini, MA dan Prof. Dr. Hasan Langgulung, menurut Analisa penulis memang sudah cukup baik. karena sejarah pendidikan Islam yang mereka bagi dalam periode-periode tersebut sudah cukup mempunyai karakteristik masing-masing. Namun di sisi lain, penulis juga melihat adanya faktor kebetulan dalam model periodisasi yang mereka kemukakan, karena periodisasi tersebut terkait dengan aspek kekuasaan dan pemerintahan.
    Menurut analisis penulis, setiap pemerintahan mempunyai karakteristik sendiri, yang dipengaruhi oleh faktor kultural dan struktural masyarakat pada zaman tersebut. Periode-periode sejarah pendidikan Islam dalam plutuasinya yang dikemukakan oleh para pakar terikat dengan politik dan pemerintahan, karena perubahan karakteristik pendidikan Islam, terjadi bersamaan perubahan.
    Berdasarkan beberapa alasan tersebut dan melihat dinamika sejarah pendidikan Islam dalam perjalanan sejarah, maka pola periodisasi pendidikan Islam yang bisa penulis kemukakan di sini terbagi menjadi empat periode:
  1. Periode Awal Daulah Islamiyah
    1. Masa Rasulullah Saw.
    2. Masa Khulafa al-Rasyidin
    3. Masa Bani Umaiyah
  2. Periode pertengahan Daulah Islamiyah
    1. Masa awal Daulah Abbasiyah
    2. Periode akhir Daulah Islamiyah
    3. Masa akhir Daulah Abbasiyah
    4. Periode pasca Kehancuran Daulah Islamiyah
    5. Periode Pasca hancurnya Daulah Abbasiyah
  3. Periode Kebangkitan di berbagai kawasan dunia Islam

Periodisasi sejarah pendidikan Islam yang penulis kemukakan di atas didasarkan pada aspek karakteristik pendidikan Islam. karakteristik pola periodisasi sejarah pendidikan Islam tersebut, dapat penulis gambarkan dalam bentuk skema (Terlampir)

F. Penutup

Kesimpulan

  1. Periodisasi Sejarah Peradaban Islam secara umum terbagi menjadi tiga periode, yait periode klasik, periode pertengahan dan periode modern.
  2. Dinamika sejarah pendidikan Islam mempunyai karakteristik yang berbeda-beda pada setiap periodenya.
  3. Periodisasi sejarah pendidikan Islam yang dikemukakan oleh para pakar terikat dengan periodisasi sejarah peradaban Islam, karena di samping aspek pendidikan merupakan bagian dari peradaban Islam.

G. Catatan Penulis

  • Posting berjudul Periodisasi Sejarah Pendidikan Islam ini, menduduki urutan kedua setelah Rasyid Ridha dan Pemikirannya (10%), dalam hal posting yang paling sering dikunjungi, yaitu 8% dari total kunjungan.
  • Terima kasih ats kunjungan anda di Blog saya. Mudah-mudahan ini memberikan manfaat bagi anda.
  • Jika anda tidak ingin ketinggalan artikel yang kami posting, silahkan untuk berlangganan melalui e-mail.

🙂 😀 😆 😳 😆 😀 🙂

DAFTAR PUSTAKA

Asrohah, Hanun, Sejarah Pendidikan Islam, Logos, Jakarta, 1999

Attas, Syekh Muhammad al-Naquib al-, Konsep pendidikan Dalam Islam, Mizan, Bandung, 1984

Bawani, Imam, Tradisionalisme Dalam pendidikan Islam, Cet. I, Al-Ikhlas, Surabaya, 1993

Fazlurrahman, Islam, Pustaka, Bandung, 1984

Ghulayaini, Musthafa al-, Idhah al-Nashihin, Dar al-Fikr, Beirut, 1984

Heriawan, Adang, et.al., Mengenal manusia dan Pendidikan, Cet. I, Liberty, Yogyakarta, 1988

Ihsan, H. Fuad, Dasar-Dasar Kependidikan, Cet. I, Rineka Cipta, Jakarta, 1997

Marimba, Ahmad D., Filsafat Pendidikan Islam, Alma’arif, Bandung, 1989

Musra, Muhammad Munir, Al-Tarbiyah al-Islamiyah: Ushuluha wa Tathawuruha fi al-Bilad al-Arabiyah, A’lam al-Kutub, t.tp., 1977

Nahlawi, Abdurrahman an-, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, CV. Diponegoro, Bandung, 1992

Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Cet. II, Bulan Bintang, Jakarta, 1982

Purwanto, M. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Cet. VIII, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1995

Qurthubiy, Ibnu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansyary al-, Tafsir al-Qurthubiy, Juz. I, Dar al-Syabiy, Kairo, t.th

Shiddiqy, T.M. Hasbi Ash-, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir Al-Qur’an, Bulan Bintang, Jakarta, 1972

Soekarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Angkasa, Bandung, 1985

Somad, Birlian, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, Alma’arif, Bandung, 1981

Syalabi, Ahmad, Sejarah Pendidikan Islam, Terj.: Muchtar Jahja dan Sanusi Latief, Bulan Bintang, Jakarta, 1978

Syalabi, Ahmad, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, al-Kasyaf, Kairo, 1954

Syarif, M.M., Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1994

Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Asharaf, Crisis Muslim Education, Terj.: Drs. Rahmani Astuti, Cet. V, CV.Gema Risalah Press, Bandung, 1994

Yaqub, Ali Mustafa, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, Pustaka Firdaus, t.tp, 2000

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Cet. 10, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2000

Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Hidakarya Agung, Jakarta, 1989

Zuhairi, et.al., Sejarah pendidikan Islam, Cet. III, Bumi Aksara, Jakarta, 1992

😆 CATATAN AKHIR 😆

(Setiap kali aku browsing nyari makalah dari internet, Makalah yang juga menyediakan Daftar Pustaka dan catatan kaki adalah jenis makalah yang paling aku cari…. 😆 Aku yakin, kamu juga begitu….. 😆 )

Berikan komentarmu tentang tulisan ini….!!!! 😀 Please!

<=== 😳 ===>


[1]Paedagogie berarti “pendidikan” sedangkan paedagoiek artinya “ilmu pendidikan”. H. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Cet. I, h. 1; Paedagogos ialah seorang atau budak pada zaman Yunani kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Juga dirumahnya, anak-anak tersebut selalu dalam pengawasan para Paedagogos. Jadi nyatalah bahwa pendidikan anak pada zaman Yunani kuno sebagian besar diserahkan kepada Paedagogos itu. Lihat: M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), Cet. VIII, h. 3.

[2]Drs. H. Fuad Ihsan, Op.Cit., h. 1-2; Pendidikan merupakan kegiatan dimanis dalam setiap individu yang mempengaruhi perkembangan fisik, mental, emosi sosial dan etikanya, dengan perkataan lain pendidikan merupakan suatu kegiatan yang dinamis yang mempengaruhi setiap aspek kepribadian dan kehidupan individu. Lihat: Drs. Adang Heriawan, et.al., Mengenal manusia dan Pendidikan, (Yogyakarta: Liberty, 1988), Cet. I, h. 2.

[3]Lihat: Muhammad Munir Musra, Al-Tarbiyah al-Islamiyah: Ushuluha wa Tathawuruha fi al-Bilad al-Arabiyah, (t.tp.: A’lam al-Kutub, 1977), h. 17.

[4]Istilah al-Ta’dib dan al-Ta’lim jarang sekali digunakan. Padahal kedua istilah tersebut telah digunakan pada awal pertumbuhan pendidikan Islam. Ahmad Syalabi, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Kairo: al-Kasyaf, 1954), h. 213.

[5]Abdurrahman an-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Diponegoro, 1992), h. 31; Al-Tarbiyah berasal dari kata rabb. kata ini memiliki banyak makna, tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestarian dan eksistensinya. Lihat: Ibnu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansyary al-Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, (Kairo: Dar al-Syabiy, t.th), Juz. I, h. 120.

[6]Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas, Konsep pendidikan Dalam Islam, (Bandung: Mizan, 1984), h. 10.

[7]Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani  berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Drs. Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Alma’arif, 1989), h. 19.

[8]Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri, berkepribadian tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya adalah ajaran Allah yang tercantum dengan lengkap di dalam Al-Qur’an yang pelaksanaannya di dalam praktek hidup sehari-hari sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Birlian Somad, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, (Bandung: Alma’arif, 1981), h. 21.

[9]Pendidikan Islam adalah menanamkan akhlak mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasehat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemapuan (meresap dalam) jiwanya, kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk memanfaatkan tanah air. Musthafa al-Ghulayaini, Idhah al-Nashihin, (Beirut: Dar al-Fikr, 1984), h. 189.

[10]Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), Cet. II, h. 13.

[11]Ibid., h. 13-14.

[12]Berlangsung sejak Rasulullah Saw menerima wahyu pertama pada tanggal 17 Ramadhan 13 tahun sebelum hijrah bertepatan dengan 6 Agustus 610 M–12 Rabiul Awal 11 H, bertepatan dengan 8 Juni 632 M, Zuhairi, et.al., Sejarah pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), Cet. III, h. 14; Sementara Dr. Badri Yatim, MA menyatakan bahwa masa Rasulullah Saw ini dimulai sejak diturunknnya wahyu pertama, yaitu tanggal 17 Ramadhan di tahun 611 M. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000), Cet. 10, h. 18.

[13] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1989), h. 5-6

[14] T.M. Hasbi Ash Shiddiqy, sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir Al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1972), h. 45/46

[15] Zuhairini, et.al, Op.Cit., h. 30

[16] Ibid, h. 33

[17] Ibid. h. 35

[18] Ali Mustafa Yaqub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, (t.tp: Pustaka Firdaus, 2000), h. 134

[19] Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999), h. 16-17

[20] Ibid. h. 17

[21] Ahmad Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, Terjemah: Muchtar Jahja dan Sanusi Latief, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), h. 94

[22] Hanun Asrohah, Op.Cit., h. 17

[23] Ibid.

[24] Ibid., h. 18-19.

[25] Soekarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Angkasa, 1985), h. 68

[26]Masalah-masalah dimaksud adalah persoalan yang sama dengan yang diperdebatkan oleh golongan Asy’ariyah dan Mu’tazilah, yaitu tentang apakah Al-Qur’an itu Hadits atau Qadim. Hasan Langgulung, h. 11.

[27]Sistem pendidikan di dalam mesjid yang diatur dalam bentuk halaqah inilah yang memupuk berkembangnya berbagai mazhab dan aliran-aliran dalam bidang keislaman, sepeti aliran Syi’ah, Khawarij dan Mu’tazilah. Ibid., h. 12.

[28]Di antara masalah-masalah tersbut adalah masalah Qadha, Qadar, Jabar, Ikhtiar, dosa besar dam lain-lain. Ibid., h. 12

[29]Hal ini seperti yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yaitu dengan mengutus sepuluh orang ahli fiqh untuk mengajar penduduk Barbar tentang agma Islam. Ibid.

[30]Pada zaman ini, istilah sekolah (Madrasah) dan perpustakaan belum dikenal. Ibid., h. 13.

[31]Para pakar pada masa Dinasti Abbasiyah tersebut terutama pada disiplin ilmu Geografi, Kimia, Fisika, Matematika, Sastra, Falak, di samping disiplin ilmu-ilmu agama Islam. Ibid, h. 14.

[32]Tepatnya pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid.

[33]Di antara ulama-ulama Islam yang terkenal saat itu adalah Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Di samping itu, sepanjang sejarah kekuasaan dinasti ini juga dikenal nama-nama ulama dan filosof, seperti al-farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali dan lain-lain.

[34]Imam Bawani, Tradisionalisme Dalam pendidikan Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993), Cet. I, h. 75.

[35]Dengan terjemahan kitab-kitan Plato dan Aristoteles ini, maka mulaailah filsaft Yunani menyelinap masuk ke dalam pemikiran umat Islam. Di samping itu juga, buku-buku kedokteran ciptaan Galenus diterjemahkn ke dalam bahasa Arab dan mendapat perhatian besar dari kalangan ulama-ulama Islam, bahkan selanjutnya Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan Ibnu Thufail adalah di antara filosof-filosof muslim yang juga adalah seorang dokter perobatan. Hasan Langgulung, Op.Cit., h. 14.

[36]Proses pengislaman filsafat Yunani tersebut tentu saja dengan tujuan baik, yaitu berusha menyiarkan agama Islam kepada orang-orang yang telah lama menganut filsafat Yunani ini. Tetapi pengaruh yang buruk juga tidak sedikit, yaitu timbulnya usaha golongan kaum muslimin untuk menafsirkan Al-Qur’an dengan kacamata filsafat Yunani, seperti berlaku pada golongan Ikhwanusyifa. Ibid., h. 15.

[37]Di antara Ulama yang paling banyak mengkaji filsafat Yunani barangkali adalah Imam al-Ghazali, tetapi ia juga yang paling lantang mengkritik filsafat dalam bukunya Tahafut al-Falasifah. Ibid.

[38]Lihat: Ibid., h. 13.

[39]Ibid., h. 16.

[40]M.M. Syarif, Para Filosof Muslim, (Bandung: Mizan, 1994), h. 199.

[41]Imam Bawani, Op.Cit., Cet. I, h. 74.

[42]Pada zaman khalifah al-Makmun, berdiri dar al-Hikmah, yang walaupun semula merupakan pusat kegiatan pustaka dan penterjemahan namun dalam perkembangannnya berubah menjadi peguruan tinggi. Dari sinilah bahwa lembaga pendidikan tingkat universitas yang semula lahir dalam pangkuan Islam, akhirnya merembas ke Eropa melalui Andalusia (Spanyol). Ibid.,      h. 75.

[43]MM. Syarif. Loc.Cit.

[44]Hanun Asrohah, Op.Cit., h. 120.

[45]Sistem pendidikan pada zaman kerajaan Utsmani dilembagakan secara sistematis, dipelihara dan ditunjang oleh pejabat “Syaikh al-Islam” dengan kecakapan dan sistem administrasi yang tinggi. Fazlurrahman,Islam, (Bandung: Pustaka, 1984), h. 268.

[46]Para ulama lebih senang mengikuti pemikiran-pemikiran ulama terdahulu daripada berusaha melakukan penemuan-penemuan baru. Keterpesonaan terhadap buah pikiran masa lampau, membuat umat Islam merasa cukup dengan apa yang sudah ada. Hanun Asrorah, Op.Cit., h. 120-121.

[47]Ibid., h. 127.

[48]Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong negara-negara Eropa mengembangkan teknologi industri. Selanjutnya, teknologi industri ini mendorong terjadinya kompetensi di antara negara-negara Eropa untuk mendapatkan peluang bagi kebutuhan bahan mentah dan pemasaran hasil industri mereka. Tuntutan ini mengakibatkan intervensi Barat terhadap negara-negara terbelakang, termasuk daerah-daerah yang pernah dikuasai Islam. Ibid., h. 128.

[49]Harun Nasution membagi sejarah peradaban Islam pada tiga periode, yaitu periode Klasik (650 M-1250 M), periode pertengahan (1250 M-1800 M)dan periode Modern (1800 sampai sekarang). Lihat: Harun Nasution, Op.Cit., h. 12..

[50]Lengkapnya lihat: Ibid., h. 15.

[51]Anggapan inilah yang menyebabkan munculnya kembali gagaran-gagasan tentang pembaruan pendidikan Islam yang diikuti dengan pelaksanaan perubahan penyelenggaraannya. Hanun Asrohah, Op.Cit., h. 129.

[52]Sekolah-sekolah yang didirikan oleh Sultan Mahmud II antara lain; Sekolah Kedokteran (Tilahanie Amire)dan Sekolah Teknik (Muhandisane) pada tahun 1827 M, Sekolah Akadmi Militer pada tahun 1834 M. Ibid., h. 132.

[53]Lihat: Ibid., h. 132-133.

[54]Bidang Militer akan memberikan dukungan untuk mempertahankan dan memperbesar kekuasaannya, sedangkan bidang ekonomi akan sangat diperlukan dalam membiayai masalah kemiliteran. Ibid., h. 133.

[55]Menurut statistik, antara tahun 1823 M dan 1844 M, sekitar 311 pelajar dikirim ke Eropa. Ibid.

[56]Zuhairini, Op.Cit., h.

[57]Ibid., h. 13.

[58]Hasan Langgulung, Op.Cit., h. 10.

[59]Sejarah pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan hubungannya dengan sejarah Islam, karena sejarah pendidikan Islam memang berada dalam sejarah Islam itu sendiri. Lihat: Zuhairini, Op.Cit., h. 13.

[60]Dr. Syed Sajjad Husain dan Dr. Syed Ali Asharaf, Crisis Muslim Education, Terj,: Drs. Rahmani Astuti, (Bandung: CV. Gema Risalah Press, 1994), Cet. V, h. 8.

__________________________________

Tentang Posting ini:

Tulisan ini adalah Tugas Makalah untuk Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam pada waktu penulis Kuliah di Program Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri Antasari Banjarmasin.

Pembebasan Dunia Islam dari Penjajahan Barat


Pembebasan Dunia Islam dari

Penjajahan Barat

Oleh:

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq

 

1st.    Pendahuluan

1.                          Penjajahan Barat Atas Dunia Islam

Kajian masalah pembebasan dunia Islam atas penjajahan Barat tentunya tidak bisa diuraikan tanpa mengetahui gambaran jelas mengenai penjajahan atas dunia Islam itu sendiri.

Berbicara masalah penjajahan atas dunia Islam, dalam beberapa sumber disebutkan bahwa sampai akhir perang dunia II, hampir semua daerah-daerah muslim di dunia berada dalam kekuasaan bangsa Eropa, baik sebagai jajahan, atau setengah jajahan atau apapun istilahnya[1]

Hal senada juga diungkapkan oleh Syekh Taqiyyuddin al-Nabhani. Ia mengatakan bahwa lama sebelum payung dunia Islam, Khilafah Utsmani runtuh pada tahun 1924, bangsa Barat telah melakukan penjajahan militer terhadap dunia Islam. Diantaranya yaitu daerah Aljazair oleh Perancis, Irak, India, Palestina, Yordania, Mesir dan kawasan Teluk dikuasai Inggris dan sebagainya.[2]

Barat menyadari benar potensi umat Islam kalau kaum muslim bersatu. Beberapa potensi umat Islam itu adalah ideologi (aqidah Islam), geopolitik (posisi yang strategis di dunia), sumber alam (menguasai sumber alam yang vital terutama minyak), sumber daya manusia (lebih dari 1,5 milyar), militer dan lainya. Carleton, saat mengomentari peradaban Islam dari tahun 800 M hingga 1600 M, menyatakan:

“Peradaban Islam merupakan peradaban yang terbesar di dunia. Peradaban Islam sanggup menciptakan negara adidaya (Super State) yang terbentang dari satu samudera ke samudera lain; dari iklim Utara hingga tropis dengan ratusan juta orang di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan suku.”[3]

Samuel Huntington, dalam The Clash of Civilitation, menulis, “Problem mendasar bagi Barat bukanlah fundamentalisme, tetapi Islam sebagai peradaban yang penduduknya yakin ketinggian kebudayaannya tapi dihantui rendahnya kekuataan mereka saat ini.”[4]

Pada abad XVIII dan XIX M, misionaris Eropa masuk ke negara-negara Islam dan memulai kegiatannya secara luas. Awalnya, gerakan ini bertujuan untuk menyebarkan pemikiran Kristen dan mengganti agama kaum muslimin. Namun, usaha mereka mengalami kegagalan. Karena itu, mereka mengganti metode penyeberluasan misi mereka. Sebagai ganti pengajaran ajaran Kristen, mereka mempropagandakan kebudayaan Barat dan nasionalisme. Berdasarkan pengakuan sebagian penulis Barat, seperti George Antonius, benih-benih pemikiran pertama Barat seperti penolakan agama, liberalisme, dan sekularisme secara terus-menerus ditanamkan oleh misionaris Kristen di negara Islam. Tujuan mereka adalah untuk memperlemah keyakinan kaum muslimin di kawasan itu tehadap agama Islam dan mempersiapkan kondisi bagi terlaksananya imperialisme di sana. Para misionaris, dengan mendirikan sekolah, pusat keilmuan, dan universitas, menyebarkan dasar-dasar pemikiran Barat dan dengan jalan ini mereka mempromosikan peradaban Barat di dunia Islam.

Konsep negara Islam termasuk dalam perkara–perkara Ijtihadiyah, karena tidak dinyatakan dalam al–Quran atau as–Sunnah. Menurut Muhammad bin Hassan As–Syaibani (ulama terkemuka dari mazhab Hanafi), negara Islam ialah negara yang dikuasai oleh umat Islam dan orang-orang Islam beroleh keamanan di dalamnya. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Syeikh Muhammad Abu Abu Zuhrah, sebagai berikut: “Negara Islam ialah negara yang berada di bawah kuasa pemerintahan Islam, dalam mana kekuatan dan pertahanannya berada di tangan umat Islam.”[5]

2nd.    Pembebasan Dunia Islam atas Penjajahan Barat

Pembebasan dunia Islam atas penjajahan barat diklasfikasi menjadi dua bagian, yaitu penjajahan secara fisik (penjajahan militer) dan penjajahan non-fisik (penjajahan ideologi).

1.                          Pembebasan Dari Penjajahan Fisik

Kebangkian Islam yang lahir pada akhir abad ke-19 merupakan jawaban terhadap pengaruh dunia barat yang yang gencar menyerang kaum muslimin.[6]

Menurut Harun Nasution reaksi pembebasan terhadap pengaruh Eropa timbul pertama kali di Kerajaan Turki Utsmani dan Mesir. Orang-orang Turki Utsmaniyah sejak awal telah mempunyai kontak langsung dengan Eropa, karena kekuasaan Kerajaan Turki Ustmani hingga abad ke-17 Masehi telah mencapai Eropa Timur yang meluas sampai ke gerbang kota Wina. Tetapi sejak abad ke-18, Kerajaan Tukri Ustmani mulai mengalami kekalahan dari kerajaan-kerajaan Eropa. Kekalahan oleh Eropa –yang pada abad-abad sebelumnya masih dalam keadaan mundur– inilah yang menjadi pemicu adanya pembaharuan di Kerajaan Turki.[7]

Sementara kebangkitan Islam di Mesir terjadi sejak terjadinya kontak dengan Eropa yang dimulai dari datangnya ekspedisi Napoleon Bonaparte yang mendarat di Aleksandria pada tahun 1798 M.

Dalam proses kebangkitan Islam pasca persentuhan dengan barat di Mesir, di kenal beberapa orang tokoh yaitu Rifa’i al-Thahthawi (1803-1873 M)[8], Jamaluddin al-Afghani (1839-1877 M)[9], Muhammad Abduh (1849-1905 M)[10] dan Rasyid Ridha (1864-1935 M).

Sementara menurut L. Stoddard, usaha pembebasan dunia Islam atas penjajahan barat secara fisik pertama kali dilakukan di Mesir oleh Muhammad Abdul Wahhab pada awal abad XIX. Dia membawa konsep persatuan umat Islam dengan nama Pan-Islamisme.[11]Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh L. Stoddardsebagai berikut:

Ketika dunia Islam diliputi kegelapan, tiba-tiba bergemalah seruan dari padang pasir yang luas itu –tempat lahir Islam– memanggil mereka kembali kepada jalan yang benar. Yang meneriakkan seruan itu ialah juru islah yang termashur, Muhammad bin Abdul Wahhab. Ia menyalakan api yang membakar sampai ke pelosok-pelosok  dunia Islam. Ia menggerakkan umat Islam untuk memperbaiki jiwa danmembangkitkan kemegahan dan kebesaran yang dahulu. Kebangkitan umat Islam yang perkasa mulailah.[12]

Diterangkannya pula bahwa pada mulanya, kebangkitan umat Islam yang dibawa oleh Muhammad Abdul Wahab di Mesir bukanlah karena takut atau dendam kepada barat, karena pada saat itu Eropa belum menyerang Islam dengan sungguh-sungguh, selain merebut wilayah Turki di Eropa dan kepulauan Nusantara. Dari itu bahaya dari Barat belumlah dirasakan. Keadaan berubah secara radikal pada pertengahan abad XIX dengan adanya ditaklukannya Aljazair oleh Perancis, penguasaan Transkaukasia oleh Rusia dan penaklukan seluruh India oleh Inggris.[13]

Penaklukan Barat itu meyakinkan orang Islam yang berpikir di manapun, bahwa Islam benar-benar dalam bahaya, akan jatuh dibawah dominasi Barat. Pada waktu itulah Pan-Islamisme tampil dengan watak anti-barat.[14]

Konsep pan-Islamisme ini pada periode selanjutnya dikembangkan kembali oleh Jamaluddin al-Afghani (1839-1897) dalam rangka mengobarkan semangat perasaan Islam di dunia timur Islam. Ia juga menolong menimbulkan pemberontakan Arabi di Mesir dan Revolusi di Persia.[15]

Gerakan-gerakan perlawanan terhadap serangan barat pada mulanya timbul disetiap negeri dan tidak dikoordinasi. Perlawanan seperti Abdul Katsir di Aljazair dan Syamil di kaukasus. Kebencian terhadap barat tumbuh hebat dan cepat. Di Aljazair pecah pemberontakan “Al-Kabil” tahun 1871. Sedangkan di Afrika Utara bangunlah wali-wali dan menggerakkan jihad. Yang terbesar di antara semuanya adalah pemberontakan “Al-Mahdi di Sudan Bagian Mesir. Ia melemahkan sendi-sendi kekuatan Inggris, sampai Kitchener merebut kartum menjelang akhir abad XIX.[16] Hal demikian juga terjadi di Afganistan dan India. Keduanya memberikan banyak kesusahan bagi Inggris.

2.                          Pembebasan Dari Penjajahan Non-Fisik

Usaha dalam usaha pembebasan dari penjajahan yang dilakukan barat secara non-fisik atas dunia Islam terlihat rancu dan tidak ter-manage dan tidak sistematis. Terlihat bahwa usaha pembebasan dari penjajahan secara fisik pun ternyata masih membuka kesempatan untuk penjajahan secara non-fisik.[17] Negera-negara Barat tetap berusaha menjajah dengan dengan cara yang baru.

Di bidang ekonomi, penjajahan dilakukan melalui ketergantungan terhadap hutang luar negeri. Dengan dalih membantu negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, mereka meminjamkan uang dalam jumlah besar. Belakangan terbukti hutang tersebut bukan mengentaskan kemiskinan, melainkan malah menambah miskin. Dan yang paling gawat adalah memunculkan ketergantungan ekonomi. Dengan ketergantungan ekonomi yang demikian besar, negara Barat lewat berbagai institusi-institusi yang dibentuknya seperti IMF, World Bank dan sebagainya, dapat memaksakan kemauan politiknya atas suatu negara, baik secara langsung maupun tidak. Maka, negeri-negeri itu menjadi tidak merdeka secara politik. Indonesia mengalami itu. Kini kita tidak lagi bisa secara leluasa mengatur negeri kita sendiri. Semua, bahkan termasuk penyusunan kabinet dan program-progam pemulihan ekonomi, harus dimintakan persetujuannya melalui apa yang disebut letter of inten (L0I). Untuk hal seperti itu saja harus meminta persetujuan mereka, maka jangan berharap mereka akan membiarkan kita, misalnya, menetapkan pemberlakuan hukum syariat Islam seperti yang sekarang sedang diusulkan oleh FPPP di sidang MPR. Penjajahan ekonomi juga dilakukan dengan berbagai aturan yang mereka paksakan, seperti ide pasar bebas dengan WTO-nya atau isue globalisasi, privartisasi dsb. Maka, sekalipun secara fisik merdeka, secara politik dan ekonomi terjajah.[18]

Di bidang kebudayaan, globalisasi informasi yang ditimbulkan oleh kemajuan luar biasa di bidang teknologi informasi bak pisau bermata dua. Satu sisi menguntungkan karena dengan demikian peristiwa-peristiwa dari berbagai belahan dunia dengan cepat dapat kita ketahui, tapi di sisi lain terjadi pula gelombang arus budaya Barat (westernisasi) ke negeri-negeri Islam. Munculnya TV swasta di negeri ini mempercepat berkembangnya budaya Barat. Saban hari keluarga-keluarga muslim dicekoki dengan gaya hidup, perilaku dan cara berfikir Barat. TV telah menjadi agen pembaratan yang tangguh. Tak heran bila kemudian anak-anak muslim lebih mengenal tokoh-tokoh rekaan di TV ketimbang tokoh-tokoh Islam. Maka, sadar atau tidak mereka telah terbaratkan dan kehilangan identitas kepribadian Islamnya. Itu semua sedikit banyak berpengaruh kepada cara berfikir, pemihakan, keprihatinan dan perilaku kaum muslimin. Apa yang dari Barat dinilai baik dan modern, serta apa yang dilakukan juga mesti benar. Inilah penjajahan di bidang budaya.[19]

Di bidang hukum, tak terhitung jumlahnya hukum dan perundang-undangan negeri muslim, termasuk Indonesia, yang masih bersumber dari Barat. Kita bangga terbebas dari penjajahan Barat, tapi mengapa tidak merasa risih menggunakan undang-undang bikinan Belanda? Itu berarti, secara tidak langsung kita menyelesaikan berbagai masalah di negeri yang mayoritas muslim ini dengan cara penjajah. Penjajah telah lama pergi, tapi mereka masih bercokol dalam wajah yang berbeda.[20]

3rd.   Penutup

Berdasarkan uraian berbagai data literatur yang berhasil penulis kemukakan di atas, terlihat bahwa penjajahan secara fisik memang telah berakhir bagi sebagian besar negara-negara Islam. Tetapi penjajahan non-fisik yang dilakukan negara-negara Barat atas dunia Islam masih tetap berlangsung dan tidak akan berhenti kecuali Islam telah hancur dari pemukaan bumi.

 

Sumber pustaka

Abu Zahrah. Syeikh, 164, hal. 377

Ali, Yunasril Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988)

H.A.R. Gibb, Islam Dalam Lintasan Sejarah, (Jakarta: Bhratara, 1964)

Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1998)

L. Stoddard, Dunia baru Islam, (Jakarta: t.pt, 1966), h. 46

Moeslim Abdurrahman, Islam Transpormatif, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995)

Samuel Huntington, The Clash of Civilitation, (London:

Syahrin Harahap, Islam Dinamis :Menggali Nilai-nilai Ajaran Alquran dalam Kehidupan modern di Indonesia, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1997)

Syekh Taqiyyuddin al-Nabhani, Mafahim Siyasiyah, terj.: Bambang Saiful (Bandung: Alma’arif, 1985)

Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988), h. 110.

Yusran Asmuni, Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996)

 


[1]Yusran Asmuni, Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), h. 17.

[2]Syekh Taqiyyuddin al-Nabhani, Mafahim Siyasiyah, terj.: Bambang Saiful (Bandung: Alma’arif, 1985), h. 51.

[3]Ibid, h. 60

[4]Samuel Huntington, The Clash of Civilitation, (London: t.pn, 1979), h. 134.

[5]Ali, Yunasril Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988), h. 377.

[6]Moeslim Abdurrahman, Islam Transpormatif, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995), Cet. I, h. 62.

[7]Sultan-sultan Kerajaan ‘Utsmani pun mengirim duta-duta ke Eropa untuk mengetahui rahasia kekuatan raja-raja Eropa yang pada abad-abad sebelumnya masih berada dalam keadaan yang mundur. Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1998), Cet. VII, h. 147.

[8]Al-Thahthawi seorang ulama lulusan al-Azhar yang melalui gurunya al-Syaikh Hasan al-Aththar, menaruh perhatian pada ilmu pengetahuan yang sedang berkembang di Barat.. Harun Nasution, Ibid., h. 149.

[9]Jamaluddin al-Afghani merupakan pencetus pertama konsep Pan-Islamisme. Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988), h. 110.

[10]Muhammad Abduh merupakan pemikir pembaharu yag mempunyai pengaruh besar di Mesir, yang lebih memperjelas metode berpikir yang secara secara implisit terkandung dalam dalam pemikiran al-Thahthawi dan al-Afghani. Ia menentang jumud, kebekuan dan kestatisan umat Islam. Harun Nasution, Ibid., h. 150.

[11]Pan-Islamisme dalam pengertinnya yang luas ialah rasa solidaritas antara seluruh mukmin. L. Stoddard, Dunia baru Islam, (Jakarta: t.pt, 1966), h. 46

[12]Muhammad bin Abdul Wahhab dilahirkan di Nejed, terletak dijantung padg pasir Arab, sekitar tahun 1700. Ibid., h. 30.

[13]Ibid., h. 50.

[14]Ibid.

[15]Tujuan pertama pan-Islam yang dikembangkan oleh al-Afghani ditujukan untuk menjatuhkan semua bangsa muslimin dalam Khilafah Utsmani. Meskipun ia gagal dalam pergerakan tersebut, namun tujuan dan pengaruhnya yang utama masih hidup, yaitu soidaritas Islam. H.A.R. Gibb, Islam Dalam Lintasan Sejarah, (Jakarta: Bhratara, 1964), h. 145.

[16]L. Stoddard. Loc.Cit.

[17]Syahrin Harahap, Islam Dinamis :Menggali Nilai-nilai Ajaran Alquran dalam Kehidupan modern di Indonesia, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1997), h. 248.

[18]Ibid., h. 252.

[19]Ibid., h. 265.

[20]Ibid., h. 269.

Rasyid Ridha dan Pemikirannya


Rasyid Ridha dan Pemikirannya

Oleh

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr Al-Shiddiq

A. Pendahuluan

Reformasi Islam lahir pada akhir abad ke-19 sebagai jawaban terhadap pengaruh dunia barat yang yang gencar menyerang kaum muslimin.[1] Sedangkan yang menjadi isu sentral mereka adalah upaya agar keyakinan agama sesuai dengan pemikiran modern. Termasuk pula dalam hal ini tentunya, pemahaman umat Islam terhadap Alquran.[2]

Kesadaran akan perlunya diadakan pembaharuan timbul pertama kali di Kerajaan Turki Utsmani dan Mesir. Orang-orang Turki Utsmaniyah sejak awal telah mempunyai kontak langsung dengan Eropa, karena kekuasaan Kerajaan Turki Ustmani hingga abad ke-17 Masehi telah mencapai Eropa Timur yang meluas sampai ke gerbang kota Wina. Tetapi sejak abad ke-18, Kerajaan Tukri Ustmani mulai mengalami kekalahan dari kerajaan-kerajaan Eropa. Kekalahan oleh Eropa –yang pada abad-abad sebelumnya masih dalam keadaan mundur– inilah yang menjadi pemicu adanya pembaharuan di Kerajaan Turki.[3]

Sementara pembaharuan yang terjadi di Mesir terjadi sejak terjadinya kontak dengan Eropa yang dimulai dari datangnya ekspedisi Napoleon Bonaparte yang mendarat di Aleksandria pada tahun 1798 M. Kedatangan Napoleon ini juga membawa banyak oleh-oleh dari Eropa yang berupa ilmu pengetahuan, kebudayaan dan teknologi, hingga ia mampu mendirikan lembaga ilmiah Institut d’Egypte.[4] Di samping itu Napoleon juga mempunyai hubungan baik dengan ulama-ulama Al-Azhar. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu terjadinya pembaharuan dalam Islam di Mesir.[5]

Berbicara tentang proses pembaharuan di Mesir, di kenal beberapa orang tokoh pembaharu yaitu Rifa’i al-Thahthawi (1803-1873 M)[6], Jamaluddin al-Afghani (1839-1877 M)[7], Muhammad Abduh (1849-1905 M)[8] dan Rasyid Ridha (1864-1935 M).

Dalam makalah ini, akan disajikan secara khusus pemikiran-pemikiran pembaruan dari Rasyid Ridha yang secara secara umum akan penulis mulai dengan menggambarkan sisi biografi singkat beliau.

B. Biografi Rasyid Ridha

  1. Kelahiran
    Nama lengkap Muhammad Rasyid Rida adalah al-Sayyid Muhammad Rasyid Rida ibn Ali Rida ibn Muhammad Syamsuddin ibn al-Sayyid Baharuddin ibn al-Sayyid Munla Ali Khalifah al-Baghdadi.[9]beliau dilahirkan di Qalmun, suatu kampung sekitar 4 Km dari Tripoli, Libanon, pada bulan Jumadil ‘Ula 1282 H (1864 M). Dia adalah seorang bangsawan Arab yang mempunyai garis keturunan langsung dari Sayyidina Husain, putra Ali ibn Abi Thalib dan Fatimah putri Rasulullah saw.[10]

    Pada tahun 1898 M. Muhammad Rasyid Rida hijrah ke Mesir untuk menyebarluaskan pembaharuan di Mesir. Dua tahun kemudian ia menerbitkan majalah yang diberi nama “al-Manar” untuk menyebar luaskan  ide-idenya dalam usaha pembaharuan.
  2. Pendidikan
    Setelah melalui masa pengasuhan dalam lingkungan keluarga sendiri, maka pada usianya yang ketujuh tahun, Muhammad Rasyid Rida dimasukkan orang tuanya kesebuah lembaga pendidikan dasar yang disebut Kuttab yang ada di desanya. Disinilah dia mulai membaca Alquran, menulis dan berhitung.[11] Beberapa tahun kemudian, setelah menamatkan pelajarannya di lembaga pendidikan dasar itu. Muhammad Rasyid Rida meneruskan pelajarannya di Madrasah Ibtidaiyah al-Rusdiyah di kota Tripoli. Di madrasah tersebut di ajarkan nahwu, sharaf, berhitung, geografi, akidah dan ibadah. Semua mata pelajaran tersebut disampaikan kepada para siswa dalam bahasa Turki. Hal itu tidak mengherankan karena tujuan pendidikan dan pengajaran pada madrasah itu melahirkan tenaga-tenaga kerja yang menjadi pegawai kerajaan. Dia pun keluar dari madrasah itu setelah kurang lebih satu tahun lamanya belajar disana.[12] Pada tahun 1882, ia meneruskan pelajaran di Madrasah al-Wataniyah al-Islamiyah (Sekolah Nasional Islam)  di Tripoli. Di Madrasah ini, selain dari bahasa Arab diajarkan pula bahasa Turki dan Perancis, dan disamping itu pengetahuan-pengetahuan agama juga pengetahuan-pengetahuan modern.[13] Disamping itu, Muhammad Rasyid Rida memperoleh tambahan ilmu dan semangat keagamaan melalui membaca kitab-kitab yang ditulis al-Gazali, antara lain Ihya’ Ulum al-Din sangat mempengaruhi jiwa dan kehidupannya, terutama sikap patuh pada hukum dan baktinya terhadap agama.[14]
  3. Wafat
    Muhammad Rasyid Rida sebagai ulama yang selalu menambah ilmu pengetahuan dan selalu pula berjuang selama hayatnya, telah menutup lembaran hidupnya pada tanggal 23 Jumadil ‘Ula 1354 H, bertepatan dengan 22 Agustus 1935 M. Muhammad Rasyid Rida wafat dengan wajah yang sangat cerah disertai dengan senyuman.[15]

C. Pemikiran Pembaharuan Rasyid Ridha

Muhammad Rasyid Ridha mulai mencoba menjalankan ide-ide pembaharuannya sejak ia masih berada di Suria[16]. Tetapi usaha-usahanya mendapat tantangan dari dari pihak kerajaan Utsmani.[17] Kemudian ia pindah ke Mesir dan tiba di sana pada bulan januari 1898 M.[18]

Pembaharuan Dalam Bidang Teologi

Masalah aqidah di zaman hidupnya Rasyid Ridha masih belum tercemar unsur-unsur tradisi maupun pemikiran filosof. Dalam masalah teologi, Rasyid Ridha banyak dipengaruhi oleh pemikiran para tokoh gerakan salafiyah.[19] Dalam hal ini, ada beberapa konsep pembaharuan yang dikemukakannya, yaitu masalah akal dan wahyu, sifat Tuhan, perbuatan manusia (af’al al-Ibad) dan konsep iman.

  1. Akal dan Wahyu
    Menurut Rasyid Ridha, dalam masalah ketuhanan menghendaki agar urusan keyakinan mengikuti petunjuk dari wahyu. Sungguhpun demikian, akal tetap diperlukan untuk memberikan penjelasan dan argumentasi terutama kepada mereka yang masih ragu-ragu.[20]
  2. Sifat Tuhan
    Dalam menilai sifat Tuhan, di kalangan pakar teologi Islam terjadi perbedaan pendapat yang sangat signifikan, terutama dari kalangan Mu’tazilah[21] dan Asy’ariyah.[22] Mengenai masalah ini, Rasyid Ridha berpandangan sebagaimana pandangan kaum Salaf, menerima adanya sifat-sifat Tuhan seperti yang dinyatakan oleh nash, tanpa memberikan tafsiran maupun takwil.[23]
  3. Perbuatan Manusia
    Pembahasan teologi tentang perbuatan manusia bertolak dari pertanyaan apakah manusia memiliki kebebasan atas perbuatannya (freewill) atau perbuatan manusia hanyalah diciptakan oleh Tuhan (Predistination).[24] Perbuatan manusia menurut Rasyid Ridha sudah dipolakan oleh suatu hukum yang telah ditetapkan Tuhan yang disebut Sunatullah, yang tidak mengalami perubahan.[25]
  4. Konsep Iman
    Rasyid Ridha mempunyai dasar pemikiran bahwa kemunduran umat Islam disebabkan keyakinan dan amal perbuatan mereka yang telah menyimpang dari ajaran Islam.[26] Oleh karena itu, upaya pembahasan yang dilaksanakannya dititik beratkan kepada usaha untuk mengembalikan keberagamaan ummat kepada ajaran Islam yang sebenarnya.
    Pandangan Rasyid Ridha mengenai keimanan didasarkan atas pembenaran hati (tasdiq) bukan didasarkan atas pembenaran rasional.

Dalam Bidang Pendidikan

Di antara aktivitas beliau dalam bidang pendidikan antara lain membentuk lembaga pendidikan yang bernama “al-Dakwah Wal Irsyad” pada tahun 1912 di Kairo. Mula-mula beliau mendirikan madrasah tersebut di Konstantinopel terutama meminta bantuan pemerintah setempat akan tetapi gagal, karena adanya keluhan-keluhan dari negeri-negeri Islam, di antaranya Indonesia, tentang aktivitas misi Kristen di negeri-negeri mereka. Untuk mengimbangi sekolah tersebut dipandang perlu mengadakan sekolah misi Islam.[27]

  1. Muhammad Rasyid Ridha juga merasa perlu dilaksanakannya ide pembaharuan dalam bidang pendidikan. untuk itu ia melihat perlu ditambahkan ke dalam kurikulum mata-mata pelajaran berikut: teologi, pendidikan moral, sosiologi, ilmu bumi, sejarah, ekonomi, ilmu hitung, ilmu kesehatan, bahasa-bahasa asing dan ilmu mengatur rumah tangga (kesejahteraan keluarga), yaitu disamping fiqh, tafsir, hadits dan lain-lain yang biasa diberikan di Madrasah-madrasah tradisional.[28]

  2. Pandangan Terhadap Ijtihad
    Rasyid Ridha dalam beristimbat terlebih dahulu melihat nash, bial tidak ditemukan di dalam nash di dalam nash, ia mencari pendapat sahabat, bila terdapat pertentangan ia memilih pendapat yang paling dekat dengan dengan Al-Qur’an dan Sunnah dan bila tidak ditemukan, ia berijtihad atas dasar Al-Qur’an dan Sunnah.[29]

    Dalam hal ini, Rasyid Ridha melihat perlu diadakah tafsir modern dari Al-Qur’an yaitu tafsiran yang sesuai dengan ide-ide yang dicetuskan gurunya, Muhammad Abduh. Ia menganjurkan kepada Muhammad Abduh supaya menulis tafsir modern.[30] Kuliah-kuliah tafsir itu dimulai pada tahun 1899 dan keterangan-keterangan yang diberikan oleh Muhammad Abduh dalam kuliahnya inilah yang kemudian dikenal dengan tafsir al-Manar.[31]

Dalam bidang Politik

Dalam bidang politik, Muhammad Rasyid Rida juga tidak ketinggalan, sewaktu beliau masih berada di tanah airnya, ia pernah berkecimpung dalam bidang ini, demikian pula setelah berada di Mesir, akan tetapi gurunya Muhammad ‘Abduh memberikan nasihat agar ia menjauhi lapangan politik. Namun nasihat itu diturutinya hanya ketika Muhammad ‘Abduh masih hidup,  dan setelah ia wafat, Muhammad Rasyid Rida aktif kembali, terutama melalui majalah al-Manar.[32]

D. Penutup

Rasyid Ridha merupakan pembaharu yang mempunyai konsep pemikiran tradisional. Konsep pembaharuan yang dikemukakannya meliputi aspek teologi, pendidikan, syari’at dan politik.

😆 —====***((( Makasih. Berikan Komentar, Please)))***===— 😆

Daftar Pustaka

Abdurrahman, Moeslim, Islam Transpormatif, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995)

Ali, Yunasril Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988)

Asmuni,  Muhammad Yusran, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam, (Surabaya : al-Ikhlas, 1994)

Athaillah, A., Aliran Akidah Tafsîr al-Manar, (Banjarmasin: Balai Penelitian IAIN Antasari, 1990)

Faiz, Fakhruddin, Hermeneutika Qur’ani, Antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi, ( Yogyakarta : Qalam, 2002)

Harahap, Syahrin, Islam Dinamis : Menggali Nilai-nilai Ajaran Alquran dalam Kehidupan modern di Indonesia, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1997)

Muhaimin, Pembaharuan Islam: Repleksi Pemikiran Rasyid Ridha dan Tokoh-Tokoh Muhammadiyah, (Yogyakarta: Pustaka Dinamika, 2000)

Nasution, Harun, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1998)

Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994)

Shiddieqy, Hasbi Ash-, Sejarah Pengantar Ilmu al-Quran / Tafsir, (Jakarta : Bulan Bintang, 1994)

Shihab,  Muhammad Quraish, Studi Kritis Tafsîr al-Manar, (Bandung : Pustaka Hidayah, 1994)


[1]Moeslim Abdurrahman, Islam Transpormatif, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995), Cet. I, h. 62.

[2]Syahrin Harahap, Islam Dinamis : Menggali Nilai-nilai Ajaran Alquran dalam Kehidupan modern di Indonesia, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1997), h. 248.

[3]Sultan-sultan Kerajaan ‘Utsmani pun mengirim duta-duta ke Eropa untuk mengetahui rahasia kekuatan raja-raja Eropa yang pada abad-abad sebelumnya masih berada dalam keadaan yang mundur. Atas dasar laporan dari para duta itu, mulailah diadakan pembaharuan di Kerajaan ‘Utsmani, terutama mulai dari abad ke-19. Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1998), Cet. VII, h. 147.

[4]Di Kairo ia mendirikan lembaga ilmiah institut d’Egypte yang mempunyai empat bagian: ilmu pasti, ilmu alam, ilmu ekonmi politik dan sastra seni. Perpustakaan dari lembaga ini besar sekali dan bukan hanya berisi buku-buku dalam bahasa Eropa, tetapi juga buku-buku ilmiah dalam bahasa Arab, Persia dan Turki. Lembaga ini melakukan penelitian ilmiah di Mesir dan hasilnya diterbitkan dalam majalah La Decade Egyptienne. Napoleon juga membawa percetakan yang disamping berhuruf latin, juga berhuruf Arab. Ia juga membawa serta ahli-ahli ketimuran yang mahir berbahasa Arab. Harun Nasution, Ibid., h. 148.

[5]Di sinilah bertemunya ulama-ulama abad ke-19 dengan ilmuan-ilmuan Barat modern yang menyadarkan mereka bahwa dalam bidang pemikiran dan bidang ilmiah, ulama Islam sudah jauh tertinggal. Persentuhan antara Barat dengan Islam di Mesir ini, hanya melahirkan sedikit ulama Islam pada saat itu yang berpendapat bahwa pemikiran dan ilmu yang berkembang di Barat itu perlu dipelajari dan diambil alih. Harun Nasotiun, Ibid., h. 148.

[6]Al-Thahthawi seorang ulama lulusan al-Azhar yang melalui gurunya al-Syaikh Hasan al-Aththar, menaruh perhatian pada ilmu pengetahuan yang sedang berkembang di Barat. Pendapat baru yang dikemukakannya ialah tentang konsep pendidikan universal dan mengkritik sikaf fatalisme yang ada di zamannya . Harun Nasution, Ibid., h. 149.

[7]Jamaluddin al-Afghani merupakan pencetus pertama konsep Pan-Islamisme. Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988), h. 110; ia juga dengan tegas mengemukakan bahwa pintu ijtihat tidak pernah tertutup dan tidak ada orang yang berhk menutupnya. Harun Nasution, Loc.Cit.

[8]Muhammad Abduh merupakan pemikir pembaharu yag mempunyai pengaruh besar di Mesir. Ia lebih memperjelas metode berpikir yang secara secara implisit terkandung dalam dalam pemikiran al-Thahthawi dan al-Afghani. Ia menentang jumud, kebekuan dan kestatisan umat Islam. Harun Nasution, Ibid., h. 150.

[9]A. Athaillah, Aliran Akidah Tafsîr al-Manar, (Banjarmasin: Balai Penelitian IAIN Antasari, 1990), h. 13; Gelar “Sayyid” pada permulaan namanya adalah gelar yang biasanya diberikan kepada semua yang mempunyai garis keturunan dari Rasulullah saw. Keluarga Muhammad Rasyid Rida dikenal oleh lingkungannya sebagai keluarga yang sangat taat beragama serta mempunyai ilmu-ilmu agama, sehingga mereka juga dikenal dengan sebutan “Syaikh”. Muhammad Quraish Shihab, Studi Kritis Tafsîr al-Manar, (Bandung : Pustaka Hidayah, 1994), cet. ke-1, h. 59.

[10]Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah Pengantar Ilmu al-Quran / Tafsir, (Jakarta : Bulan Bintang, 1994), h. 280.

[11]Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani, Antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi, ( Yogyakarta : Qalam, 2002),  cet. ke-1, h. 64.

[12]Ibid., h. 14.

[13]Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 69; Sekolah ini didirikan dan dipimpin oleh ulam besar Syam ketika itu, yakni Syaikh Husain al-Jirr. Syaikh inilah yang mempunyai andil sangat besar terhadap pemikiran Muhammad Rasyid Rida, karena hubungan antara keduanya tidak terhenti walaupun kemudian sekolah di tutup oleh pemerintah Turki, Syaikh Husain al-Jarr juga memberikan kesempatan kepada Muhammad Rasyid Rida untuk menulis di beberapa surat kabar Tripoli, kesempatan ini kelak mengantarnya memimpin majalah al-Manar. M. Quraish Shihab, op. cit., h. 60-61.

[14]Muhammad Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam, (Surabaya : al-Ikhlas, 1994), h. 83.

[15]M. Quraish Shihab, op. cit., h. 63.

[16]Sewaktu Muhammad Abduh berada dalam pembungan di Beirut, Rasyid Ridha mendapat kesempatan baik untuk berjumpa dan berdialog dengan murid al-Afghani yang terdekat ini. Perjumpaan-perjumpaan dan dialog ini meninggalkan kesan yang baik dalam dirinya. Rasyid Ridha mulai menjalankan ide-ide pembaharuan itu ketika masih berada di Suria. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Op.Cit., h. 70.

[17]Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Ibid., h. 70.

[18]Karena merasa terikat dan tidak bebas dari tekanan Kerajaan, ia memutuskan untuk pindah ke Mesir, dekat dengan Muhammad Abduh. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Ibid., h. 70.

[19]Muhaimin, Pembaharuan Islam: Repleksi Pemikiran Rasyid Ridha dan Tokoh-Tokoh Muhammadiyah, (Yogyakarta: Pustaka Dinamika, 2000), h. 18.

[20]Ibid., h. 23; sungguhpun Rasyid Ridha menghargai daya akal manusia, baik dalam bentuk ilmu zahir maupun filsafat sebagai ikhtiar manusia memahami berbagai penomena disekitarnya, akan tetapi nilai-nilai yang dihasilkan dari akal tersebut tidak dapat disejajarkan dengan wahyu. Ibid., h. 25.

[21]Mu’tazilah beranggapan bahwa Maha melihat dan seterusnya, bukanlah sifat Tuhan tetapi zat Tuhan. Ibid., h. 32.

[22]Asy’ariyah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat. Ibid., h. 33.

[23]Dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah, Rasyid Ridha menghendaki pemahaman secara tekstual dengan mengikuti pendekatan yang dilakukan oleh kaum Salaf. Ia kurang sependapat dengan cara yang dilakukan mutakallimin yang memberikan takwil terhadap sifat-sifat Allah secara dealiktika. Ibid., h. 37.

[24]Dalam menawab pertanyaan tersebut, yang muncul pertama kali adalah aliran kadariyah dan jabariyah. Ibid., h. 38.

[25]Paham Sunatullah dalam pandangan Rasyid Ridha berkait dengan hukum kemasyarakatan yaitu ketentuan-ketentuan yang terpola dalam perbuatan-perbuatan manusia tertentu dengan akibat yang tertentu pula. Dalam membahas persoalan perbuatan manusia ini, Rasyid Ridha cenderung ke Kadariyah yaitu bahwa manusia mempunyai kebebasan berkehendak dan kebebasan dalam berbuat. Ibid, h. 40-43

[26]Masalah iman dan kufur merupakan kontroversi yang muncul dalam pembahasan yang bersifat teologis yang berawal dari persoalam politik yang bergeser menjadi persoalan aqidah. Ibid., h. 43-45.

[27]Muhammad Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam, (Surabaya : al-Ikhlas, 1994), h. 85.

[28]Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Op.Cit., h. 71.

[29]Muhaimin, Op.Cit., h. 58.

[30]Muhammad Abduh tidak sepaham dengannya dalam hal ini. Namun karena selalu didesak, Muhammad Abduh akhirnya setuju, untuk memberikan kuliah tafsir Al-Qur’an di al-Azhar. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Ibid., h. 70.

[31]Keterangan-keterangan yang disampaikan oleh Muhammad Abduh dalam kuliah tafsir itu ia catat dan seterusnya ia susun dalam bentuk karangan teratur. Apa yang ia tulis ia serahkan selanjutnya kepada Muhammad Abduh untuk diperiksa. Setelah mendapat persetujuan, karangan itu ia siarkan dalam al-Manar.

[32]Muhammad Yuseran Asmuni, Ibid., h. 86.

😆 Catatan Penulis:

🙂 Terima kasih telah mengunjungi khairilyulian.wordpress.com. Posting yang berjudul “Rasyid Ridha dan Pemikirannya” ini menduduki Rating Pertama di antara tulisan-tulisan saya yang lain. Terima kasih atas kunjungan anda, dan mudah-mudahan apa yang saya share di sini dapat memberikan manfaat bagi semuanya.

🙂 Tolong juga berikan komentar anda tentang Posting ini…!!! 😀 😀 😀 😀

IBNU SINA: Biografi dan Pemikiran Filsafatnya


  1. A. PENDAHULUAN

Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal unik, sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu – satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad[[1]].

Pengaruh ini terwujud bukan hanya karena ia memiliki sistem, tetapi karena sistem yang ia miliki itu menampakkan keasliannya yang menunjukkan jenis jiwa yang jenius dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam[[2]].

B.    BIOGRAFI

Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada tahun 980 M di Asfshana, suatu tempat dekat Bukhara. Orang tuanya adalah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman[[3]].Di Bukhara ia dibesarkan serta belajar falsafah kedokteran dan ilmu-ilmu agama Islam. Ketika usia sepuluh tahun ia telah banyak mempelajari ilmu agama Islam dan menghafal Al-Qur’an seluruhnya[[4]]. Dari mutafalsir Abu Abdellah Natili, Ibnu Sina mendapat bimbingan mengenai ilmu logika yang elementer untuk mempelajari buku Isagoge dan Porphyry, Eucliddan Al-Magest-Ptolemus. Dan sesudah gurunya pindah ia mendalami ilmu agama dan metafisika, terutama dari ajaran Plato dan Arsitoteles yang murni dengan bantuan komentator-komentator dari pengarang yang otoriter dari Yunani yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Arab.

Dengan ketajaman otaknya Ibnu Sina banyak mempelajari filsafat dan cabang-cabangnya, kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru setelah ia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho-nya Al-Farabi (870-950 M), semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa dia menjadi murid yang setia dari Al-Farabi [[5]]

Sesudah itu ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi. Belum lagi usianya melebihi enam belas tahun, kemahirannya dalam ilmu kedokteran sudah dikenal orang, bahkan banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Ia tidak cukup dengan teori – teori kedokteran, tetapi juga melakukan praktek dan mengobati orang-orang sakit[[6]].Ia tidak pernah bosan atau gelisah dalam membaca buku-buku filsafat dan setiap kali menghadapi kesulitan, maka ia memohon kepada Tuhan untuk diberinya petunjuk, dan ternyata permohonannya itu tidak  pernah dikecewakan. Sering-sering ia tertidur karena kepayahan membaca, maka didalam tidurnya itu dilihatnya pemecahan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapinya[[7]].

Sewaktu berumur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan Istana pernah mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Sejak itu, Ibnu Sina mendapat sambutan baik sekali, dan dapat pula mengunjungi perpustakaan yang penuh dengan buku-buku yang sukar didapat, kemudian dibacanya dengan segala keasyikan. Karena sesuatu hal, perpustakaan tersebut terbakar, maka tuduhan orang ditimpakan kepadanya, bahwa ia sengaja membakarnya, agar orang lain tidak bisa lagi mengambil manfaat dari perpustakaan itu[[8]] .Kemampuan Ibnu Sina dalam bidang filsafat dan kedokteran, kedua duanya sama beratnya. Dalam bidang kedokteran dia mempersembahkan Al-Qanun fit-Thibb-nya, dimana ilmu kedokteran modern mendapat pelajaran, sebab kitab ini selain lengkap, disusunnya secara sistematis.

Dalam bidang Materia Medeica, Ibnu Sina telah banyak menemukan bahan nabati baru Zanthoxyllum budrunga –dimana tumbuh-tumbuhan banayak membantu terhadap bebebrapa penyakit tertentu seperti radang selaput otak (miningitis).

Ibnu Sina pula sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana enam ratus tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Dia pulalah yang pertama kali mengatakan bahwa bayi selama  masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali pusarnya.

Dia jugalah yang mula-mula mempraktekkan pembedahan penyakit-penyakit bengkak yang ganas, dan menjahitnya. Dan last but not list dia juga terkenal sebagai dokter ahli jiwa dengan cara-cara modern yang kini disebut psikoterapi.

Dibidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya dunia Islam menyanjungnya ia memang merupakan satu bintang gemerlapan memancarkan cahaya sendiri, yang bukan pinjaman sehingga Roger Bacon, filosof kenamaan dari Eropa Barat pada Abad Pertengahan menyatakan dalam Regacy of Islam-nya Alfred Gullaume; “Sebagian besar filsafat Aristoteles sedikitpun tak dapat memberi pengaruh di Barat, karena kitabnya tersembunyi entah dimana, dan sekiranya ada, sangat sukar sekali didapatnya dan sangat susah dipahami dan digemari orang karena peperangan – peperangan yang meraja lela di sebeleah Timur, sampai saatnya Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd dan juga pujangga Timur lain membuktikan kembali falsafah Aristoteles disertai dengan penerangan dan keterangan yang luas.”[[9]]

Selain kepandaiannya sebagai flosof dan dokter, iapun penyair. Ilmu – ilmu pengetahuan seperti ilmu jiwa, kedokteran dan kimia ada yang ditulisnya dalam bentuk syair. Begitu pula didapati buku – buku yang dikarangnya untuk ilmu logika dengan syair.

Kebanyakan buku – bukunya telah disalin kedalam bahasa Latin. Ketika orang – orang Eropa diabad tengah, mulai mempergunakan buku – buku itu sebagai textbook, dipelbagai universitas. Oleh karena itu nama Ibnu Sina dalam abad pertengahan di Eropah sangat berpengaruh[[10]].

Dalam dunia Islam kitab – kitab Ibnu Sina terkenal, bukan saja karena kepadatan ilmunya, akan tetapi karena bahasanya yang baik dan caranya menulis sangat terang. Selain menulis dalam bahasa Arab, Ibnu Sina juga menulis dalam bahasa Persia. Buku – bukunya dalam bahasa Persia, telah diterbitkan di Teheran dalam tahun 1954.

Karya – karya Ibnu Sina yang ternama dalam lapangan Filsafat adalah As-Shifa, An-Najat dan Al Isyarat. An-Najat adalah resum dari kitab As-Shifa. Al-Isyarat, dikarangkannya kemudian, untuk ilmu tasawuf. Selain dari pada itu, ia banyak menulis karangan – karangan pendek yang dinamakan Maqallah. Kebanyakan maqallah ini ditulis ketika ia memperoleh inspirasi dalam sesuatu bentuk baru dan segera dikarangnya[[11]].

Sekalipun ia hidup dalam waktu penuh kegoncangan dan sering sibuk dengan soal negara, ia menulis sekitar dua ratus lima puluh karya. Diantaranya karya yang paling masyhur adalah “Qanun”  yang  merupakan ikhtisar pengobatan Islam dan diajarkan hingga kini di Timur. Buku ini dterjemahkan ke baasa Latin dan diajarkan berabad lamanya di Universita Barat. Karya keduanya adalah ensiklopedinya yang monumental “Kitab As-Syifa”. Karya ini merupakan titik puncak filsafat paripatetik dalam Islam. [[12]]

Diantara karangan – karangan Ibnu Sina adalah :

  1. As- Syifa’ ( The Book of Recovery or The Book of Remedy = Buku tentang Penemuan, atau Buku tentang Penyembuhan).

Buku ini dikenal didalam bahasa Latin dengan nama Sanatio, atau Sufficienta. Seluruh buku ini terdiri atas 18 jilid, naskah selengkapnya sekarang ini tersimpan di Oxford University London. Mulai ditulis pada usia 22 tahun (1022 M) dan berakhir pada tahun wafatnya (1037 M). Isinya terbagi atas 4 bagian, yaitu :

  1. Logika (termasuk didalamnya terorika dan syair) meliputi dasar karangan Aristoteles tentang logika dengan dimasukkan segala materi dari penulis – penulis Yunani kemudiannya.
  2. Fisika (termasuk psichologi, pertanian, dan hewan). Bagian – bagian Fisika meliputi kosmologi, meteorologi, udara, waktu, kekosongan dan gambaran).
  3. Matematika. Bagian matematika mengandung pandangan yang berpusat dari elemen – elemen Euclid, garis besar dari Almagest-nya Ptolemy, dan ikhtisar – ikhtisar tentang aritmetika dan ilmu musik.
  4. Metafisika. Bagian falsafah, poko pikiran Ibnu sina menggabungkan pendapat Aristoteles dengan elemen – elemennya Neo Platonic dan menyusun dasar percobaan untuk menyesuaikan ide-ide Yunani dengan kepercayaan – kepercayaan.

Dalam zaman pertengahan Eropa, buku ini menjadi standar pelajaran filsafat di pelbagai sekolah tinggi.

  1. Nafat, buku ini adalah ringkasan dari buku As-Syifa’.
  2. Qanun, buku ini adalah buku lmu kedokteran, dijadikan buku pokok pada Universitas Montpellier (Perancis) dan Universitas Lourain (Belgia).
  3. Sadidiyya. Buku ilmu kedokteran.
  4. Al-Musiqa. Buku tentang musik.
  5. Al-Mantiq, diuntukkan buat Abul Hasan Sahli.
  6. Qamus el Arabi, terdiri atas lima jilid.Danesh Namesh. Buku filsafat.
  7. Danesh Nameh. Buku filsafat.
  8. Uyun-ul Hikmah. Buku filsafat terdiri atas 10 jilid.

10. Mujiz, kabir wa Shaghir. Sebuah buku yang menerangkan tentang dasar – dasar ilmu logika secara lengkap.

11. Hikmah el Masyriqiyyin. Falsafah Timur (Britanica Encyclopedia vol II, hal. 915 menyebutkan kemungkinan besar buku ini telah hilang).

12. Al-Inshaf. Buku tentang Keadilan Sejati.

13. Al-Hudud. Berisikan istilah – istilah dan pengertian – pengertian yang dipakai didalam ilmu filsafat.

14. Al-Isyarat wat Tanbiehat. Buku ini lebih banyak membicarakan dalil – dalil dan peringatan – peringatan yang mengenai prinsip Ketuhanan dan Keagamaan.

15. An-Najah, (buku tentang kebahagiaan Jiwa)

16. dan sebagainya[[13]]

Dari autobiografi dan karangan – kaangannya dapat diketahui data tentang sifat – sifat kepribadianhya, misalnya :

  1. Mengagumi dirinya sendiri

Kekagumannya akan dirinya ini diceritakan oleh temannya sendiri yakni Abu Ubaid al-Jurjani. Antara lain dari ucapan Ibnu Sina sendiri, ketika aku berumur 10 tahun aku telah hafal Al-Qur’an dan sebagian besar kesusateraan hinga aku dikagumi.

  1. Mandiri dalam pemikiran

Sifat ini punya hubungan erat sudah nampak pada Ibnu Sina sejak masa kecil. Terbukti dengan ucapannya “Bapakku dipandang penganut madzhab Syi’ah Ismailiah. Demikian juga saudaraku. Aku dengar mereka menyebtnya tentang jiwa dan akal, mereka mendiskusikan tentang jiwa dan akal menurut pandangan mereka. Aku mendengarkan, memahami diskusi ini, tetapi jiwaku tak dapat menerima pandangan mereka”.

  1. Menghayati agama, tetapi belum ke tingkat zuhud dan wara’.

Kata Ibnu Sina, setiap argumentasi kuperhatikan muqaddimah qiyasiyahnya setepat – tepatnya, juga kuperhatikan kemungkinan kesimpulannya. Kupelihara syarat – syarat muqaddimahnya, sampai aku yakin kebenaran masalah itu. Bilamana aku bingung tidak berhasil kepada kesimpulan pada analogi itu, akupun pergi sembahyang menghadap maha Pencipta, sampai dibukakan-Nya kesulitan dan dimudahkan-Nya kesukaran.

  1. Rajin mencari ilmu, keterangan beliau “saya tenggelam dalam studi ilmu dan membaca selama satu setengah tahun. Aku tekun studi bidang logika dan filsafat, saya tidak tidur satu malam suntuk selama itu. Sedang siang hari saya tidak sibuk dengan hal – hal lainnya”
  2. Pendendam. Dia meredam dendam itu dalam dirinya terhadap orang yang menyinggung perasaannya. Dia hormat bila dihormati.
  3. Cepat melahirkan karangan

Ibnu Sina dengan cepat memusatkan pikirannya dan mendapatkan garis-garis besar dari isi pikirannya serta dia dengan mudah melahirkannya kepada orang lain. Menuangkan isi pikiran dengan memilih kalimat/ kata-kata yang tepat, amat mudah bagi dia. Semua itu berkat pembiasaan, kesungguhan dan latihan dan kedisiplinan yang dilakukannya.[[14]]

Ibnu Sina dikenal di Barat dengan nama Avicena (Spanyol aven Sina) dan kemasyhurannya di dunia Barat sebagai dokter melampaui kemasyhuran sebagai Filosof, sehingga ia mereka beri gelar “the Prince of the Physicians”. Di dunia Islam ia dikenal dengan nama Al-Syaikh- al-Rais. Pemimpin utama (dari filosof – filosof)[[15]].

Meskipun ia di akui sebagai seorang tokoh dalam keimanan, ibadah dan keilmuan, tetapi baginya minum – minuman keras itu boleh, selama tidak untuk memuaskan hawa nafsu. Minum – minuman keras dilarang karena bias menimbulkan permusuhan dan pertikaian, sedangkan apabila ia minum tidak demikian malah menajamkan pikiran.

Didalam al-Muniqdz min al-Dhalal, al-Ghazali bahwa Ibnu Sina pernah berjanji kepada Allah dalam salah satu wasiatnya, antara lain bahwa ia akan menghormati syari’at tidak melalaikan ibadah ruhani maupun jasmani dan tidak akan minum – minuman keras untuk memuaskan nafsu, melainkan demi kesehatan dan obat.

Kehidupan Ibnu Sina penuh dengan aktifitas -aktifitas kerja keras. Waktunya dihabiskan untuk urusan negara dan menulis, sehingga ia mempunyai sakit maag yang tidak dapat terobati. Di usia 58 tahun (428 H / 1037 M) Ibnu Sina meninggal dan dikuburkan di Hamazan.

  1. C. PEMIKIRAN FILSAFAT IBNU SINA
    1. Filsafat Jiwa

Ibnu Sina memberikan perhatiannya yang khusus terhadap pembahasan kejiwaan, sebagaimana yang dapat kita lihat dari buku – buku yang khusus untuk soal – soal kejiwaan ataupun buku – buku yang berisi campuran berbagai persoalan filsafat.

Memang tidak sukar untuk mencari unsur – unsur pikiran yang membentuk teorinya tentang kejiwaan, seperti pikiran – piiran Aristoteles, Galius atau Plotinus, terutama pikiran- pikiran Aristoteles yang banyak dijadikan sumber pikiran-pikirannya. Namun hal ini tidak berarti bahwa Ibnu Sina tidak mempunyai kepribadian sendiri atau pikiran – pikiran yang sebelumnya, baik dalam segi pembahasan fisika maupun segi pembahasan metafisika.

Dalam segi fisika, ia banyak  memakai metode eksperimen dan banyak terpengaruh oleh pembahasan lapangan kedokteran. Dalam segi metafisika terdapat kedalaman dan pembaharuan yang menyebabkan dia mendekati pendapat – pendapat filosof modern[[16]].

Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan, baik pada dunia pikir Arab sejak abad ke sepuluh Masehi sampai akhir abad ke 19 M, terutama pada Gundisallinus, Albert the Great, Thomas Aquinas, Roger Bacon dan Dun Scot[[17]].

Pemikiran terpenting yang dihasilkan Ibnu Sina ialah falsafatnya tentang jiwa. Sebagaimana Al-Farabi, ia juga menganut faham pancaran. Dari Tuhan memancar akal pertama, dan dari akal pertama memancar akal kedua dan langit pertama, demikian seterusnya sehingga tercapai akal ke sepuluh dan bumi. Dari akal ke sepuluh memancar segala apa yang terdapat di bumi yang berada dibawah bulan. Akal pertama adalah malaekat tertinggi dan akal kesepuluh adalah Jibril.

Pemikiran ini berbeda dengan pemikiran kaum sufi dan kaum mu’tazilah. Bagi kaum sufi kemurnian tauhid mengandung arti bahwa hanya Tuhan yang mempunyai wujud. Kalau ada yang lain yang mempunyai wujud hakiki disamping Tuhan, itu mngandung arti bahwa ada banyak wujud, dan dengan demikian merusak tauhid. Oleh karena itu mereka berpendapat : Tiada yang berwujud selain dari Allah swt. Semua yang lainnya pada hakikatnya tidak ada. Wujud yang lain itu adalah wujud bayangan. Kalau dibandingkan dengan pohon dan bayangannya, yang sebenarnya mempunyai wujud adalah pohonnya, sedang bayangannya hanyalah gambar yang seakan – akan tidak ada. Pendapat inilah kemudian yang membawa kepada paham wahdat al-wujud (kesatuan wujud), dalam arti wujud bayangan bergantung pada wujud yang punya bayangan. Karena itu ia pada hakekatnya tidak ada; bayangan tidak ada. Wujud bayangan bersatu dengan wujud yang punya bayangan.

Kalau kaum Mu’tazilah dalam usaha memurnikan tauhid pergi ke peniadaan sifat – sifat Tuhan dan kaum sufi ke peniadaan wujud selain dari wujud Allah swt, maka kaum filosof Islam yang dipelopori al-Farabi, pergi ke faham emanasi atau al-faidh. Lebih dari mu’tazilah dan kaum sufi, al-Farabi berusaha meniadakan adanya arti banyak dalam diri Tuhan. Kalau Tuhan berhubungan langsung dengan alam yang tersusun dari banyak unsur ini, maka dalam pemikiran Tuhan terdapat pemikiran yang banyak. Pemikiran yang banyak membuat faham tauhid tidak murni lagi[[18]].

Menurut al-Farabi, Allah menciptakan alam ini melalui emanasi, dalam arti bahwa wujud Tuhan melimpahkan wujud alam semesta. Emanasi ini terjadi melalui tafakkur (berfikir) Tuhan tentang dzat-Nya yang merupakan prinsip dari peraturan dan kebaikan dalam alam. Dengan kata lain, berpikirnya Allah swt tentang dzat-Nya adalah sebab dari adanya alam ini. Dalam arti bahwa ialah yang memberi wujud kekal dari segala yang ada[[19]]. Berfikirnya Allah tentang dzatnya sebagaimana kata Sayyed Zayid, adalah ilmu Tuhan tentang diri-Nya, dan ilmu itu adalah daya (al-Qudrah) yang menciptakan segalanya, agar sesuatu tercipta, cukup Tuhan mengetahuiNya[[20]]

Ibnu Sina berpendapat bahwa akal pertama mempunyai dua sifat : sifat wajib wujudnya sebagai pancaran dari Allah, dan sifat mungkin wujudnya jika ditinjau dari hakekat dirinya atau necessary by virtual of the necessary being and possible in essence. Dengan demikian ia mempunyai tiga obyek pemikiran : Tuhan, dirinya sebagai wajib wujudnya dan dirinya sebagai mungkin wujudnya[[21]]

Dari pemkiran tentang Tuhan timbul akal  – akal dari pemikiran tentang dirinya sebagai wajib wujudnya timbul jiwa – jiwa dari pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin wujudnya timbul di langit. Jiwa manusia sebagaimana jiwa – jiwa lain dan segala apa yang terdapat di bawah Bulan, memancar dari akal ke sepuluh.

Segi – segi kejiwaan pada Ibnu Sina pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua segi yaitu :

  1. Segi fisika yang membicarakan tentang macam – macamnya jiwa (jiwa tumbuhkan, jiwa hewan dan jiwa manusia). Pembahasan kebaikan – kebaikan, jiwa manusia, indera dan lain – lain dan pembahasan lain yang biasa termasuk dalam pengertian ilmu jiwa yang sebenarnya.
  2. Segi metafisika, yang membicarakan tentang wujud dan hakikat jiwa, pertalian jiwa dengan badan dan keabadian jiwa[[22]].

Ibnu Sina membagi jiwa dalam tiga bahagian:

  1. Jiwa tumbuh – tumbuhan dengan daya-daya :

1)     Makan (nutrition)

2)     Tumbuh (growth)

3)     Berkembang biak (reproduction)

  1. Jiwa binatang dengan daya-daya :

1)     Gerak (locomotion)

2)     Menangkap (perception) dengan dua bagian :

a)     Menagkap dari luar dengan panca indera

b)     Menangkap dari dalam dengan indera – indera dalam.

3)     Indera bersama yang menerima segala apa yang ditangkap oleh panca indera

4)     Representasi yang menyimpan segala apa yang diterima oleh indera bersama

5)     Imaginasi yang dapat menyusun apa yang disimpan dalam representasi

6)     Estimasi yang dapat menangkap hal – hal abstraks yang terlepas dari materi umpamanya keharusan lari bagi kambing dari anjing serigala.

7)     Rekoleksi yang menyimpan hal – hal abstrak yang diterima oleh estimasi.

  1. Jiwa manusia  dengan daya praktis yang hubungannya dengan badanTeoritis yang hubungannya adalah dengan hal – hal abstrak. Daya ini mempunyai tingkatan:

1)     Akal materiil yang semata – mata mempunyai potensi untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikitpun.

2)     Intelectual in habits, yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal – hal abstrak.

3)     Akal actuil, yang telah dapat berfikir tentang hal – hal abstrak.

4)     Akal mustafad yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal – hal abstrak dengan tak perlu pada daya upaya[[23]].

Sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam jiwa tumbuh – tumbuhan, binatang dan manusia yang berpengaruh pada dirinya, maka orang itu dapat menyerupai binatang, tetapi jika jiwa manuisa yang mempunyai pengaruh atas dirinya, maka orang itu dekat menyerupai malaekat dan dekat dengan kesempurnaan.

Menurut Ibnu Sina jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir didunia ini. Sungguh pun jiwa manusia tidak mempunyai fungsi – fungsi fisik, dan dengan demikian tak berhajat pada badan untuk menjalankan tugasnya sebagai daya yang berfikir, jiwa masih berhajat pada badan karena pada permulaan wujudnya badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berfikir[[24]].

Sedangkan menurut al-Ghazali di dalam buku – buku filsafatnya dia menyatakan bahwa manusia mempunyai identitas esensial yang tetap tidak berubah – ubah yaitu al-Nafs­ atau jiwanya[[25]]. Adapun yang dimaksud tentang al-Nafs adalah “substansi yang berdiri sendiri yang tidak bertempat”. Serta merupakan “tempat bersemayam pengetahuan – pengetahuan intelektual (al-ma’qulat) yang berasal dari alam al-malakut atau al-amr. Hal ini menunjukkan bahwa esensi manusia bukan fisiknya dan bukan fungsi fisiknya. Sebab fisik adalah sesuatu yang mempunyai tempat, sedangkan fungsi fisik adalah sesuatu yang tidak berdiri sendiri, karena keberadaannya tergantung kepada fisik. Sementara dalam penjelasannya yang lain, al-Ghazali menegaskan bahwa manusia terdiri atas dua substansi pokok, yakni substansi yang berdimensi dan substansi yang tidak berdimensi, namun mempunyai kemampuan merasa dan bergerak dengan kemauan. Substansi yang pertama dinamakan badan (al-jism) dan substansi yang kedua disebut jiwa (al-nafs).[[26]]

Jiwa (al-Nafs) memiliki daya – daya sebagai derivatnya dan atas dasar tingkatan daya – daya tersebut, pada diri manusia terdapat tiga jiwa (al-nufus al-tsalatsah) :

  1. Pertama jiwa tumbuhan (al-nafs al-nabatiyah) merupakan tingkatan jiwa yang paling rendah dan memiliki tiga daya 1) daya nutrisi (al-ghadiya), 2) daya tumbuh (al-munmiyah) dan 3) daya reproduksi (al-muwallidah), dengan daya ini manusia dapat berpotensi makan, tumbuh dan berkembang biak sebagaimana tumbuh – tumbuhan.
  2. Kedua, jiwa hewani/sensitive (al-nafs al-hayawaniyah) yang memiliki dua daya  1) daya penggerak (al-mukharikah) dan 2) daya persepsi (al-mudrikah). Pada penggerakn (al-mukharikah) terdapat dua daya lagi yaitu 10 daya pendorong (al-baitsah) dan 2) daya berbuat (al-fa’ilah). Hubungan antara daya pertama dengan daya kedua sebagaimana hubungan daya potensi dan aktus, tetapi keduanya bersifat potensial sebelum mencapai aktualisasinya. Yang pertama merupakan kemauan dan yang kedua merupakan kemampuan. Karena itu al-Ghazali menyebut yang pertama iradah dan yang kedua qudrah.
  3. Ketiga, jiwa rasional (al-nafs al-natiqah). Mempunyai dua daya !) daya praktis (al-‘amilah) dan 20 daya teoritis (al-alimah). Yang pertama berfungsi menggerakkan tubuh melalui daya – daya jiwa sensitive / hewani. Sesuai dengan tuntutan pengetahuan yang dicapai oleh akal teorities. Yang dimaksud akal teoritis adalah al-‘alimah, sebab jiwa rasional disebut juga al ‘aql. Al-‘alimah disebut juga akal praktis. Akal praktis merupakan saluran yang menyampaikan gagasan akal teoritis kepada daya penggerak[[27]].

Al-Ghazali didalam Tahafut al-Falasifah menyangkal 20 buah kesalahan para filosof muslim beserta pendahulu – pendahulu mereka yang berpaham teistik di Yunani. Para filosof yang disangkal oleh al-Ghazali ini terbagi kedalam tiga kelompok[[28]] :

  1. Filosof – filosof materialistik (dahriyyun)

Mereka adalah ateis – ateis yang menyangkal adanya Allah dan merumuskan kekekalan alam dan terciptanya alam dengan sendirinya.

  1. Filosof – filosof naturalis atau desitik (thabi’iyyun).

Mereka melaksanakan berbagai riset di dalam alam semesta dan segala sesuatu yang menakjubkan di dalam dunia binatang dan tumbuh – tumbuhan. Melalui riset-riset itu mereka cukup banyak menyaksikan keajaiban – keajaiban di dalam ciptaan  Allah dan mereka menemukan kebijaksanaan-Nya sehingga akhirnya mereka mau tak mau mengakui adanya satu pencipta yang Maha Bijaksana. Walaupun demikian mereka tetap menyangkal adanya hari pengadilan, kebangkitan kembali dan kehidupan akhirat. Mereka tidak mengenal pahala dan dosa, karenanya mereka memuaskan nafsu – nafsu mereka seperti binatang.

  1. Filosof – filosof teis (ilahiyyun).

Mereka adalah filosoh – filosof Yunani seperti Socrates, Plato dan Aristoteles. Aristoteles telah mengkritik filosof – fiosof teis sebelumnya, termasuk Socrates dan Plato. Walaupun begitu, menurut al-Ghazali, Aristoteles masih mempertahankan sisa – sisa kekafiran dan kebid’ahan mereka  yang tak berhasil dilepaskannya.

Filsafat Aristoteles seperti yang disebarluaskan oleh penerjemah – penerjemah dan komentator-komentator karyanya (pengikutnya) khususnya al-Farabi dan Ibnu Sina terbagi ke dalam 3 kelompok :

  1. Filsafat – filsafatnya yang harus dipandang kufur.
  2. Filsafat – filsafatnya yang menurut Islam adalah bid’ah.
  3. Filsafat – filsafatnya yang sama sekali tak perlu disangkal.

Tiga masalah yang menyebabkan kufur tersebut adalah :

  1. Pertama, bahwa Allah hanya mengetahui hal – hal yang besar – besar dan tidak mengetahui hal – hal yang kecil – kecil[[29]].
  2. Kedua,    bahwa alam ini azali atau kekal, tanpa permulaan[[30]].
  3. Ketiga,  bahwa di akhirat kelak yang dihimpun adalah ruh manusia bukan jasadnya[[31]]

Ada empat dalil yang dikemukakan oleh Ibnu Sina untuk membuktikan adanya jiwa yaitu :

  1. Dalil alam – kejiwaan (natural psikologi).
  2. Dalil Aku dan kesatuan gejala – gejala kejiwaan.
  3. Dalil kelangsungan (kontinuitas).
  4. Dalil orang terbang atau orang tergantung di udara[[32]]

Dalil – dalil tersebut apabila diuraikan satu persatu adalah sebagai berikut :

  1. Dalil Alam Kejiwaan

Pada diri kita ada peristiwa yang tidak mungkin di tafsirkan kecuali sesudah mengakui adanya jiwa. Peristiwa – peristiwa tersebut adalah gerak dan pengenalan (idrak, pengetahuan).

Gerak ada dua macam yaitu :

1)     Gerak paksaan (harakah qahriah) yang timbul sebagai akibat dorongan dari luar dan yang menimpa sesuatu benda kemudian menggerakkannya.

2)     Gerak bukan paksaan, dan gerak ini terbagi menjadi dua yaitu :

a)     Gerak sesuai dengan ketentuan hukum alam, seperti jatuhnya batu dari atas ke bawah.

b)     Gerak yang  terjadi dengan melawan hukum alam, seperti manusia yang berjalan di bumi, sdang berat badannya seharusnya menyebabkan ia diam, atau seperti burung yang terbang menjulang di udara, yang seharusnya jatuh (tetap) di sarangnya di atas bumi. Gerak yang berlawanan dengan ketentuan alam tersebut menghendaki adanya penggerak khusus yang melebihi unsur – unsur benda yang bergerak. Penggerak tersebut ialah jiwa.

Pengenalan (pengetahuan) tidak dimiliki oleh semua mahluk, tetapi hanya di miliki oleh sebagiannya. Yang memiliki pengenalan ini menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan lain yang tidak terdapat pada lainnya. Begitulah isi dalil natural-psikologi dari Ibnu Sina yang didasarkan atas buku De Anima (Jiwa) dan Physics, kedua – duanya dari Aristoteles.

Namun dalil Ibnu Sina tersebut banyak berisi kelemahan – kelemahan antara lain bahwa natural (physic) pada dalil tersebut dihalalkan. Dalil tersebut baru mempunyai nilai kalau sekurangnya benda – benda tersebut hanya terdiri dari unsur – unsur yang satu maca, sedang benda – benda tersebut sebenarnya berbeda susunannya (unsur – unsurnya). Oleh karena itu maka tidak ada keberatannya untuk mengatakan bahwa benda – benda yang bergerakmelawan ketentuan alam berjalan sesuai dengan tabiatnya yang khas dan berisi unsur – unsur yang memungkinkan ia bergerak. Sekarang ini banyak alat – alat (mesin ) yang bergerak dengan gerak yyang berlawanan dengan hukum alam, namun seorang pun tidak mengira bahwa alat – alat (mesin – mesin) terseut berisi jiwa atau kekuatan lain yang tidak terlihat dan yang menggerakkannya. Ulama – ulama biologi sendiri sekarang menafsirkan fenomena kehidupan dengan tafsiran mekanis dan dinamis, tanpa mengikut sertakan kekuatan psikologi (kejiwaan).

Nampaknya Ibnu Sina sendiri menyadari kelemahan dalil tersebut. Oleh karena itu dalam kitab – kitab yang dikarang pada masa kematangan ilmunya, seperti al-syifa dan al-Isyarat, dalil tersebut disebutkan sambil lalu saja, dan ia lebih mengutamakan dalil-dalil yang didasarkan atas segi – sehi pikiran dan jiwa, yang merupakan genitalianya Ibnu sina.[[33]]

  1. Dalil Aku dan Kesatuan Gejala Kejiwaan.

Menurut Ibnu Sina apabila seorang sedang membicarakan tentang dirinya atau mengajak bicara kepada orang lain, maka yang dimaksudkan ialah jiwanya, bukan badannya. Jadi ketika kita mengatakan saya keluar atau saya tidur, maka bukan gerak kaki, atau pemejaman mata yang dimaksudkan, tetapi hakikat kita dan seluruh pribadi kita.[[34]]

  1. Dalil Kelangsungan (kontinuitas).

Dalil ini mengatakan bahwa masa kita yang sekarang berisi juga masa lampau dan masa depan. Kehidupan rohani kita pada pagi ini ada hubungannya dengan kehidupan kita yang kemarin, dan hubungan ini tidak terputus oleh tidur kita, bahkan juga ada hubngannya dengan kehidupan kita yang terjadi beberapa tahun yang telah lewat. Kalau kita ini bergerak dalam mengalami perubahan, maka gerakan – gerakan dan perubahan tersebut bertalian satu sama lain dan berangkai – rangkai pula. Pertalian dan perangkaian ini bisa terjadi karena peristiwa – peristiwa jiwa merupakan limphan dari sumber yang satu dan beredar sekitar titik tarik yang tetap.

Ibnu Sina dengan dalil kelangsungan tersebut telah membuka ciri kehidupan pikiran yang paling khas dan mencerminkan penyelidikan dan pembahasannya yang mendalam, bahkan telah mendahului masanya beberapa abad, karena pendapatnya tersebut dipegangi oleh ilmu jiwa modern dan telah mendekati tokoh – tokoh pikir  masa sekarang.[[35]]

  1. Dalil Orang Terbang atau Tergantung di Udara.

Dalil ini adalah yang terindah dari Ibnu Sina dan yang paling jelas menunjukkan daya kreasinya. Meskipun dalil tersebut didasarkan atas perkiraan dan khayalan, namun tidak mengurangi kemampuannya untuk memberikan keyakinan. Dalil tersebut mengatakan sebagai berikut : “Andaikan ada seseorang yang mempunyai kekuatan yang penuh, baik akal maupun jasmani, kemudian ia menutup matanya sehingga tak dapat melihat sama sekali apa yang ada di sekelilingnya kemudian ia diletakkan di udara atau dalam kekosongan, sehingga ia tidak merasakan sesuatu persentuhan atau bentrokan atau perlawanan, dan anggota – anggota badannya diatur sedemikian rupa sehingga tidak sampai saling bersentuhan atau bertemu. Meskipun ini semua terjadi namun orang tersebut tidak akan ragu – ragu bahwa dirinya itu ada, meskipun ia sukar dapat menetapkan wujud salah satu bagian badannya. Bahkan ia boleh jadi tidak mempunyai pikiran sama sekali tentang badan, sedang wujud yang digambarkannya adalah wujud yang tidak mempunyai tempat, atau panjang, lebar dan dalam (tiga dimensi). Kalau   pada saat tersebut ia mengkhayalkan (memperkirakan) ada tangan dan kakinya. Dengan demikian maka penetapan tentang wujud dirinya, tidak timbul dari indera atau melalui badan seluruhnya, melainkan dari sumber lain yang berbeda sama sekali dengan badan yaitu jiwa.

Dalil Ibnu Sina tersebut seperti halnya dengan dalil Descartes, didasarkan atas suatu hipotesa, bahwa pengenalan yang berbeda – beda mengharuskan adanya perkara – perkara yang berbeda – beda pula. Seseorang dapat melepaskan dirinya dari segala sesuatu, kecuali dari jiwanya yang menjadi dasar kepribadian dan dzatnya sendiri. Kalau kebenaran sesuatu dalam alam ini kita ketahui dengan adanya perantara (tidak langsung), maka satu kebenaran saja yang kita ketahui dengan langsung, yaitu jiwa dan kita tidak bisa meragukan tentang wujudnya, meskipun sebentar saja, karena pekerjaan – pekerjaan jiwa selamanya menyaksikan adanya jiwa tersebut.[[36]]

  1. Filsafat Wujud

Bagi Ibnu Sina sifat wujudlah yang terpenting dan yang mempunyai kedudukan diatas segala sifat lain, walaupun essensi sendiri. Essensi, dalam faham Ibnu Sina terdapat dalam akal, sedang wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat tiap essensi yang dalam akal mempunyai kenyataan diluar akal. Tanpa wujud, essensi tidak besar artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari essensi. Tidak mengherankan kalau dikatakan bahwa Ibnu Sina telah terlebih dahulu menimbulkan falsafat wujudiah atau existentialisasi dari filosof – filosof lain.

Kalau dikombinasikan, essensi dan wujud dapat mempunyai kombinasi berikut :

  1. Essensi yang tak dapat mempunyai wujud, dan hal yang serupa ini disebut oleh Ibnu Sina mumtani’ yaitu sesuatu yang mustahil berwujud      (impossible being).
  2. Essensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud. Yang serupa ini disebut mumkin yaitu sesuatu yang mungkin berwujud tetapi mungkin pula tidak berwujud. Contohnya adalah alam ini yang pada mulanya tidak ada kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi tidak ada.
  3. Essensi yang tak boleh tidak mesti mempunyai wujud. Disini essensi tidak bisa dipisahkan dari wujud. Essensi dan wujud adalah sama dan satu. Di sini essensi tidak dimulai oleh tidak berwujud dan kemudian berwujud, sebagaimana halnya dengan essensi dalam kategori kedua, tetapi essensi mesti dan wajib mempunyai wujud selama – lamanya. Yang serupa ini disebut mesti berwujud yaitu Tuhan. Wajib al wujud inilah yang mewujudkan mumkin al wujud[[37]].

Dalam pembagian wujud kepada wajib dan mumkin, tampaknya Ibnu Sina terpengaruh oleh pembagian wujud para mutakallimun kepada : baharu (al-hadits) dan Qadim (al-Qadim). Karena dalil mereka tentang wujud Allah didasarkan pada pembedaan – pembedaan “baharu” dan “qadim” sehingga mengharuskan orang berkata, setiap orang yang ada selain Allah adalah baharu, yakni didahului oleh zaman dimana Allah tidak berbuat apa – apa. Pendirian ini mengakibatkan lumpuhnya kemurahan Allah pada zaman yang mendahului alam mahluk ini, sehingga Allah tidak pemurah pada satu waktu dan Maha Pemurah pada waktu lain. Dengan kata lain perbuatan-Nya tidak Qadim dan tidak mesti wajib[[38]]. Untuk menghindari keadaan Tuhan yang demikian itu, Ibnu Sina menyatakan sejak mula “bahwa sebab kebutuhan kepada al-wajib (Tuhan) adalah mungkin, bukan baharu”. Pernyataan ini akan membawa kepada aktifnya iradah Allah sejak Qadim, sebelum Zaman[[39]].

Dari pendapat tersebut terdapat perbedaan antara pemikiran para mutakallimin dengan pemikiran Ibnu Sina. Dimana para mutakallimin anatar qadim dan baharu lebih sesuai dengan ajaran agama tentang Tuhan yang menjadikan alam menurut kehendak-Nya, sedangkan dalil Ibnu Sina dalam dirinya terkandung pemikiran Yunani bahwa Tuhan yang tunduk dibawah “kemestian”, sehingga perbuatan-Nya telah ada sekaligus sejak qadim.

“Perbuatan Ilahi” dalam pemikiran Ibnu Sina dapat disimpulkan dalam 4 catatan sebagai berikut :

  1. Pertama, perbuatan yang tidak kontinu (ghairi mutajaddid) yaitu perbuatan yang telah selesai sebelum zaman dan tidak ada lagi yang baharu. Dalam kitab An-Najah (hal. 372) Ibnu Sina berkata : “yang wajib wujud (Tuhan) itu adalah wajib (mesti) dari segala segi, sehingga tidak terlambat wujud lain (wujud muntazhar) – dari wuwud-Nya, malah semua yang mungkin menjadi wajib dengan-Nya. Tidak ada bagi-Nya kehendak yang baru, tidak ada tabi’at yang baru, tidak ada ilmu yang baru dan tidak ada suatu sifat dzat-Nya yang baru”. Demikianlah perbuatan Allah telah selesai dan sempurna sejak qadim, tidak ada sesuatu yang baru dalam pemikiran Ibnu Sina, seolah – olah alam ini tidak perlu lagi kepada Allah sesudah diciptakan.
  2. Kedua, perbuatan Ilahi itu tidak ada tujuan apapun. Seakan – akan telah hilang dari perbuatan sifat akal yang dipandang oleh Ibnu Sina sebagai hakekat Tuhan, dan hanya sebagai perbuatan mekanis karena tidak ada tujuan sama sekali.
  3. Ketiga, manakala perbuatan Allah telah selesai dan tidak mengandung sesuatu maksud, keluar dari-Nya berdasarkan “hukum kemestian”, seperti pekerjaan mekanis, bukan dari sesuatu pilihan dan kehendak bebas.

Yang dimaksudkan dalam catatan ketiga ini yaitu Ibnu Sina menisbatkan sifat yang paling rendah kepada Allah karena sejak semula ia menggambarkan “kemestian” pada Allah dari segala sudut. Akibatnya upaya menetapkan iradah Allah sesudah itu menjadi sia – sia, akrena iradah itu tidak lagi bebas sedikitpun dan perbuatan yang keluar dari kehendak itu adalah kemestian dalam arti yang sebenarnya. Jadi tidak ada kebebasan dan kehendak selagi kemestian telah melilit Tuhan sampai pada perbuatan-Nya, lebih – lebih lagi pada dzat-Nya.

Keempat, perbuatan itu hanyalah “memberi wujud” dalam bentuk tertentu. Untuk memberi wujud ini Ibnu Sina menyebutnya dengan beberapa nama, seperti : shudur (keluar), faidh (melimpah), luzum (mesti), wujub anhu (wajib darinya). Nama – nama ini dipakai oleh Ibnu Sina untuk membebaskan diri dari pikiran “Penciptaan Agamawi”, karena ia berada di persimpangan jalan anatara mempergunakan konsep Tuhan sebagai “sebab pembuat” (Illah fa’ilah) seperti ajaran agama dengan konsep Tuhan sebagai sebab tujuan (Illah ghaiyyah) yang berperan sebagai pemberi kepada materi sehingga bergerak ke arahnya secara gradual untuk memperoleh kesempurnaan[[40]].

Dalam empat catatan tersebut para penulis sejarah dan pengkritik Ibnu Sina selalu memahami bahwa Ibnu Sina menggunakan konsep pertama yaitu konsep Tuhan sebagai “sebab pembuat”. Tidak terpikir oleh mereka kemunginan Ibnu Sina menggunakan konsep kedua, yang menyatakan bahwa Tuhan tidak mencipta, tapi hanya sebagai “tujuan” semata. Semua mahluk merindui Tuhan dan bergerak ke arahNya seperti yang terdapat dalam konsepsi Aristoteles tentang keindahan seni dalan hubungan alam dengan Tuhan.

  1. Falsafat Wahyu dan Nabi

Pentingnya gejala kenabian dan wahyu ilahi merupakan sesuatu yang oleh Ibnu Sina telah diusahakan untuk dibangun dalam empat tingkatan : intelektual, “imajinatif”, keajaiban, dan sosio politis. Totalitas keempat tingkatan ini memberi kita petunjuk yang jelas tentang motivasi, watak dan arah pemikiran keagamaan.

Akal manusia terdiri empat macam yaitu akal materil, akal  intelektual, akal aktuil, dan akal mustafad. Dari keempat akal tersebut tingkatan akal yang terendah adalah akal materiil. Ada kalanya Tuhan menganugerahkan kepada manusia akal materiil yang besar lagi kuat, yang Ibnu Sina diberi nama al hads yaitu intuisi. Daya yang ada pada akal materiil semua ini begitu besarnya, sehingga tanpa melalui latihan dengan mudah dapat berhubungan dengan akal aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal serupa ini mempunyai daya suci. Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia dan terdapat hanya pada nabi – nabi[[41]].

Jadi wahyu dalam pengertian teknis inilah yang mendorong manusia untuk beramal dan menjadi orang baik, tidak hanya murni sebagai wawasan intelektual dan ilham belaka. Maka tak ada agama yang hanya berdasarkan akal murni. Namun demikian, wahyu teknis ini, dalam rangka mencapai kualitas potensi yang diperlukan, juga tak pelak lagi menderita karena dalam kenyataannya wahyu tersebut tidak memberikan kebenaran yang sebenarnya, tetapi kebenaran dalam selubung simbol – simbol. Namun sejauh mana wahyu itu mendorong ?. Kecuali kalau nabi dapat menyatakan wawasan moralnya ke dalam tujuan – tujuan dan prinsip – prinsip moral yang memadai, dan sebenarnya ke dalam suatu struktur sosial politik, baik wawasan maupun kekuatan wahyu imajinatifnya tak akan banyak berfaedah. Maka dari itu, nabi perlu menjadi seorang pembuat hukum dan seorang negarawan tertinggi – memang hanya nabilah pembuat hukum dan negarawan yang sebenarnya.[[42]]

  1. D. PENUTUP
    1. Ibnu Sina memiliki pemikiran keagamaan yang mendalam. Pemahamannya mempengaruhi pandangan filsafatnya. Ketajaman pemikirannya dan kedalaman keyakinan keagamaannya secara simultan mewarnai alam pikirannya. Ibnu Rusyd menyebutnya sebagai seorang yang agamis dalam berfilsafat, sementara al-Ghazali menjulukinya sebagai Filsuf yang terlalu banyak berfikir.
    2. Menurut Ibnu Sina bahwa alam ini diciptakan dengan jalan emanasi (memancar dari Tuhan). Tuhan adalah wujud pertama yang immateri dan dariNyalah memancar segala yang ada.
    3. Tuhan adalah wajibul wujud (jika tidak ada menimbulkan mustahil), beda dengan mumkinul wujud (jika tidak ada atau ada menimbulkan tidak mujstahil).
    4. Pemikiran Ibnu Sina tentang kenabian menjelaskan bahwa nabilah manusia yang paling unggul, lebih unggul dari filosof karena nabi memiliki akal aktual yang sempurna tanpa latihan atau studi keras, sedangkan filosof mendapatkannya dengan usaha dan susah payah.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ahwan, Ahmad Fuad, Filsafat Islam, Jakarta, Pustaka Firdaus, 1984

Al-Ghazali Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Ahmad, al-Munqidz min al-Dlalah wa al-Muwassil ila dzi al-Izzah wa al-Jalal, Lebanon, Beirut, 1967

____________, Madarij al-Salikin, Kairo, tsaqofah Islamiyah, 1964

____________, Ma’rij al-Quds fi Madaarij Ma’rofah al-Nafs, Kairo, Maktabah al-Jund, 1968

____________, Tahafut al-Falasifah, Kairo, Mesir, Maktaba’ah al-Qahirah, 1903

Busyairi Madjidi, Konsep Kependidikan Para filosof Muslim, Yogyakarta, Al-Amin Press, 1997

Daudy Ahmad, Dr. MA., Kuliah Filsafat Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1986

_____________, Segi – Segi Falsafi dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1984

Hanafi, Ahmad, MA, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1986

Imam Munawir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, Surabaya, PT. Bina Ilmu, 1985

Nasution, harun, Prof., Dr., Islam ditinjau dari berbagai Aspeknya, Jakarta, Penerbit Universitas Indonesia, 1996

_____________, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1992

Oemar Amin Husein, Dr., Filsafat Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1975

Poerwantana, dkk., Seluk Beluk Filsafat Islam, Bandung, PT remaja Rosdakarya, 1991

Syarif, MM., MA., Para Filosof Muslim, Bandung, Mizan, 1994

Thawil Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, Semarang, Dina Utama Semarang, 1993

Zaenal Abidin Ahmad, Ibnu Sina (Avecenna) sarjana dan Filosof Dunia, Jakarta, Bulan Bintang, 1949


[1]M.M. Syarif, Para Filosof Muslim, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 101; Lihat: Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Firdaus, 1984), hal. 63

[2]Ibid

[3]Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya,(Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia, 1996), hal. 50

[4]Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1986), hal. 60

[5]Zaenal Abidin Ahmad, Ibnu Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1949), hal. 49

[6]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang), 1996, hal. 115, Lihat: Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Firdaus, t.th.), hal. 65

[7]Ibid.

[8]Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hal. 34.

[9]Imam Munawir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985), hal. 332 – 333.

[10]Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hal. 112 – 113

[11]Ibid.

[12]Nasir Masruwah, Taufik Falsafah Al-Islamiyah, hal. 119

[13]Thawil akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, (Semarang: Dina Utama Semarang, 1993), hal. 37 – 39

[14]Busyairi Madjidi, Konsep Pendidikan Para Filosof Muslim, (Yogyakarta : Al-Amin Press. 1997), hal. 47 – 51.

[15]Harun Nasution, Islam di tinjau dari berbagai aspeknya, jilid II, (jakarta : UI, 1986), hal. 51.

[16]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), hal. 125 – 126

[17]Ibid.

[18]Harun Nasution, Islam Rasional, (Jakarta:  Mizan, t.th.), hlm. 44

[19]Al-farabi, Al-Da’awi al-Qalbiyyah, (Haidarabad: Dar al-Ma’arif al-Usmaniyah, 1349 H), hlm. 3-4.

[20]Lihat bukunya, Al-Farabi, (Kairo : Dar al-Ma’arif, 1962) hlm. 41.

[21]Harun Nasution, Falsafat dan Msitisme dalam Islam, Opcit., hal 34-35.

[22]Ibid.

[23]Ibid., h. 36 – 37

[24]Harun Nasution, Falsafat dan Msitisme dalam Islam, Opcit., hal. 37 – 38

[25]Al-Ghazali, Ma’rij al-Quds fi Madarij Ma’rofah al-Nafs, (Kairo: Maktabah Al-Jund, 1968), hlm. 19.

[26]Al-Ghazali, Madarij Al-salikin, (Kairo: Tsaqofa al-Islamiyah, 1964), hlm. 16

[27]Ibid.

[28]Lihat al-Ghazali, al-Munqidz min al-Dhalal, wa al-muwasshil ila dzi al-Izzah wa al-Jalal, di tahqiq oleh Dr. Jamil Shaliba dan Dr. Kamil ‘Iyad, (Beirut: Dar al-Andalus, 1967), cet. VI, hlm. 76 – 77

[29]Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, (Kairo: Matba’ah al-Qahirah, 1903), hlm 6

[30]Ibid., hlm. 53

[31]Ibid., hlm. 81

[32]Ahmad Hanafi, Pengantar …, Opcit., hal. 126

[33]Ibid., hlm. 126 – 127

[34]Ibid., hlm 127

[35]Ibid., hlm. 128 – 129

[36]Ibid., hlm. 129

[37]Harun Nasution, falsafat …, Opcit., hal. 39-40

[38]Ahmad Daudy, Segi – Segi Pemikiran Falsafi dalam Islam, (Jakarta : Bula Bintang), 1984, hal. 42

[39]Ibid.

[40]Ibid, hal. 44 – 46

[41]Harun Nasution, Falsafat…  op. cit. , hlm. 115.

[42]MM. Syarif, op. cit, hlm. 131.

Kecanggihan Komputer


1. IBM Roadrunner

Mimpi tentang superkomputer tercepat memang sulit diwujudkan, tapi akhirnya direalisasikan juga oleh IBM. Lebih besar dari komputer ENIAC tahun 1946, IBM Roadrunner disebut sebagai mesin pertama yang bisa memproses data dalam hitungan petaflop, yakni lebih dari kuadriliun operasi per detiknya. Tapi setelah beberapa dekade, kecepatan ini sama saja dengan sebuah desktop masa kini.

2. Apple Macintosh

Komputer untuk semua kalangan, itulah yang dikenalkan Apple tahun 1984. Dengan tampilan grafis menawan yang bukan sekedar perintah rumus-rumus membosankan ala DOS. Kita mengenalnya kini sebagai Graphical User Interface (GUI)

3. PC IBM

Era 1980-an, komputer personal identik dengan IBM. Sebab memang IBM-lah yang merintis hadirnya standar peranti lunak dan keras di pasaran komputer personal. Akhirnya standar ini diikuti semua vendor komputer sedunia sampai saat ini.

4. Apple II

Diperkenalkan oleh Apple tahun 1977 dan bertahan hingga 15 tahun, Apple II membuktikan bahwa mereka mampu jadi produk massal. Canggih di grafis warna pada era itu dan penggunaan yang cukup mudah bagi orang awam. Metode inilah yang konon ditiru Microsoft.

5. TRS-80

Masih di tahun 1977, Radio Shack meluncurkan mikrokomputer yang laku keras sebanyak 3000 unit. Produk ini disebut sebagai komputer pertama yang paling mudah digunakan oleh siapa saja hingga anak sekolah sekalipun.

6. Xerox PARC Alto

Ini adalah komputer tunggal dengan tampilan grafis beserta jendela dan ikon, sebuah tetikus untuk mengontrol kursor dan hard drive lokal, serta koneksi Ethernet ke jejaring kantor. Semuanya tergabung dalam Alto, mesij eksperimen yang dikembangkan Xerox Palo Alto Research Center (PARC) tahun 1974. Tapi Xerox tidak pernah meluncurkan Alto ke pasaran.

7. Datapoint 2200

Kalau hanya komputer tunggal saja sudah dipasarkan pada 1970 oleh Computer Terminal Corp (CTC). Sampai saat ini pun apikasi Datapoint 2200 masih dipakai paa PC. Pihak CTC menjadi rekanan Intel untuk meringankan bebas prosesor mesin menjadi chip tunggal.

8. IBM System/360

Dengan serangkaian standar periperal dan model-model yang kompatibel, S/360 memenuhikebutuhan komputer bisnis saat IBM merilisnya di tahun 1964. Ini bisa dikatakan sebagai rintisan saat komputer mulai dibutuhkan di dunia bisnis. Juga sebagai tonggak ekonomi industri komputer modern.

9. ENIAC

Inilah “nenek moyang ” komputer masa kini yang menakjubkan. Dikembangkan oleh militer AS, Electronic Numerical Integrator And Computer (ENIAC) menjadi cikal bakal komputer pada tahun 1946. Walau mesin ini menakjubkan di masanya, namun secara ukuran sangat tidak praktis. Mesin ini terdiri dari 17.478 tabung fakum dengan bobot 30 ton dan mengonsumsi 150 kilowat listrik.

10.Mesin Diferensiasi

Charles Babbage tertantang saat pemerintah Inggris minta dibuatkan sebuah mesin yang bisa menghasilkan tabel matematika. Dari sini Babbage mendesain komputer sederhana pertama yang bisa memproses perhitungan matematika secara otomatis. Inilah dasar dari kinerja komputer masa kini.

DOWNLOAD DOCFILE

Link: http://www.docstoc.com/docs/20396207/kecanggihan-komputer

KISAH NABI YAHYA A.S.


Nabi Zakaria, ayahnya Nabi Yahya sedar dan mengetahui bahawa anggota-anggota keluarganya, saudara-saudaranya, sepupu-sepupunya dan anak-anak saudaranya adalah orang-orang jahat Bani Israil yang tidak segan-segan melanggar hukum-hukum agama dan berbuat maksiat, disebabkan iman dan rasa keagamaan mereka belum meresap betul didalam hati mereka, sehingga dengan mudah mereka tergoda dan terjerumus ke dalam lembah kemungkaran dan kemaksiatan. Ia khuatir bila ajalnya tiba dan meninggalkan mereka tanpa seorang waris yang dapat melanjutkan pimpinannya atas kaumnya, bahawa mereka akan makin rusak dan makin berani melakukan kejahatan dan kemaksiatan bahkan ada kemungkinan mereka mengadakan perubahan-perubahan di dalam kitab suci Taurat dan menyalah-gunakan hukum-hukum agama.

Kekhuatiran itu selalu mengganggu fikiran Zakaria disamping rasa sedih hatinya bahawa ia sejak kahwin hingga mencapai usia sembilan puluh tahun, Tuhan belum mengurniakannya dengan seorang anak yang ia idam-idamkan untuk menjadi penggantinya memimpin dan mengimami Bani Isra’il. Ia agak terhibur dari rasa sedih dan kekhuatirannya semasa ia bertugas memelihara dan mengawasi Maryam yang dapat dianggap sebagai anak kandungnya sendiri. Akan tetapi rasa sedihnya dan keinginanya yang kuat untuk memperolhi keturunan tergugah kembali ketika ia menyaksikan mukjizat hidangan makanan dimihrabnya Maryam. Ia berfikir didalam hatinya bahawa tiada sesuatu yang mustahil di dalam kekuasaan Allah. Allah yang telah memberi rezeki kepada Maryam dalam keadaan seorang diri tidak berdaya dan berusaha, Dia pula berkuasa memberinya keturunan bila Dia kehendaki walaupun usianya sudah lanjut dan rambutnya sudah penuh uban.

Pada suatu malam yang sudah larut duduklah Zakaria di mihramnya menghiningkan cipta memusatkan fikiran kepada kebesaran Allah seraya bermunajat dan berdoa dengan khusyuk dan keyakinan yang bulat. Dengan suara yang lemah lembut berucaplah ia dalam doanya: “Ya Tuhanku berikanlah aku seorang putera yang akan mewarisiku dan mewarisi sebahagian dari keluarga Ya’qub, yang akan meneruskan pimpinan dan tuntunanku kepada Bani Isra’il. Aku khuatir bahawa sepeninggalanku nanti anggota-anggota keluargaku akan rusak kembali aqidah dan imannya bila aku tinggalkan mati tanpa seorang pemimpin yang akan menggantikan aku. Ya Tuhanku, tulangku telah menjadi lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban sedang isteriku adalah seorang perempuan yang mandul namun kekuasaan-Mu adalah diatas segala kekuasaan dan aku tidak jemu-jemunya berdoa kepadamu memohon rahmat-Mu mengurniai kau seorang putera yang soleh yang engkau redhai.”

Allah berfirman memperkenankan permohonan Zakaria: “Hai Zakaria Kami memberi khabar gembira kepadamu, kamu akan memperoleh seorang putera bernama Yahya yang soleh yang membenarkan kitab-kitab Allah menjadi pemimpin yang diikuti bertahan diri dari hawa nafsu dan godaan syaitan serta akan menjadi seorang nabi.”
Berkata Zakaria: “Ya Tuhanku bagaimana aku akan memperolehi anak sedangkan isteri adalah seorang perempuan yang mandul dan aku sendiri sudah lanjut usianya.”

Allah menjawab dengan firman-Nya: “Demikian itu adalah suatu hal yang mudah bagi-Ku. Tidakkah aku telah ciptakan engkau padahal engkau di waktu itu belum ada sama sekali?”
Berkata Zakaria: “Ya Tuhanku, berilah aku akan suatu tanda bahawa isteri aku telah mengandung.” Allah berfirman: “Tandanya bagimu bahawa engkau tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari berturut-turut kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah nama-Ku sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah diwaktu petang dan pagi hari.”

Nabi Yahya bin Zakaria a.s. tidak banyak dikisahkan oleh Al-Quran kecuali bahawa ia diberi ilmu dan hikmah selagi ia masih kanak-kanak dan bahawa ia seorang putera yang berbakti kepada kedua ora ng tuanya dan bukanlah orang yang sombong durhaka. Ia terkenal cerdik pandai, berfikiran tajam sejak ia berusia muda, sangat tekun beribadah yang dilakukan siang dan malam sehingga berpengaruh kepada kesihatan badannya dan menjadikannya kurus kering, wajahnya pucat dan matanya cekung.

Ia dikenal oleh kaumnya sebagai orang alim menguasai soal-soal keagamaan, hafal kitab Taurat, sehingga ia menjadi tempat bertanya tentang hukum-hukum agama. Ia memiliki keberanian dalam mengambil sesuatu keputusan, tidak takut dicerca orang dan tidak pula menghiraukan ancaman pihak penguasa dalam usahanya menegakkan kebenaran dan melawan kebathilan.
Ia selalu menganjurkan orang-orang yang telah berdosa agar bertaubat dari dosanya. Dan sebagai tanda taubatnya mereka dipermandikan { dibaptiskan } di sungai Jordan, kebiasaan mana hingga kini berlaku di kalangan orang-orang Kristian dan kerana Nabi Yahya adalah orang pertama yang mengadakan upacara itu, maka ia dijuluki “Yahya Pembaptis”.

Dikisahkan bahawa Hirodus Penguasa Palestin pada waktu itu mencintai anak saudaranya sendiri bernama Hirodia, seorang gadis yang cantik, ayu, bertubuh lampai dan ramping dan berhasrat ingin mengahwininya. Sang gadis berserta ibunya dan seluruh anggota keluarga menyentujui rencan perkahwinan itu, namun Nabi Yahya menentangnya dan mengeluarkan fakwa bahawa perkahwinan itu tidak boleh dilaksanakan kerana bertentangan dengan syariat Musa yang mengharamkan seorang mengahwini anak saudaranya sendiri.

Berita rencana perkahwinan Hirodus dan Hirodia serta fatwa Nabi Yahya yang melarangnya tersiar di seluruh pelosok kota dan menjadi pembicaraan orang di segala tempat di mana orang berkumpul. Herodia si gadis cantik calon isteri itu merasa sedih bercampur marah terhadap Nabi Yahya yang telah mengeluarkan fatwa mengharamkan perkahwinannya dengan bapa saudaranya sendiri, fatwa mana telah membawa reaksi dan pendapat dikalangan masyarakat yang luas. Ia khuatir bahawa bapa saudaranya Herodus calon suami dapat terpengaruh oleh fatwa Nabi Yahya itu dan terpaksa membatalkan perkahwinan yang sudah dinanti-nanti dan diidam-idamkan, bahkan bahkan sudah menyiapkan segala sesuatu berupa pakaian mahupun peralatan yang perlu untuk pesta perkahwinan yang telah disepakati itu.

Menghadapi fatwa Nabi Yahya dan reaksi masyarakat itu, Herodia tidak tinggal diam. Ia berusaha dengan bersenjatakan kecantikkan dan parasnya yang ayu itu mempengaruhi bapa saudaranya calon suaminya agar rencana perkahwinan dilaksanakan menurut rencana. Dengan merias diri dan berpakaian yang merangsang, ia pergi mengunjungi bapa saudaranya Herodus yang sedang dilanda mabuk asmara. Bertanya Herodus kepada anak saudaranya calon isterinya yang nampak lebih cantik daripada biasa : “Hai manisku, apakah yang dapat aku berbuat untukmu. Katakanlah aku akan patuhi segala permintaanmu, kedatanganmu kemari pada saat ini tentu didorong oleh sesuatu hajat yang mendesak yang ingin engkau sampaikan kepadaku. Sampaikanlah kepadaku tanpa ragu-ragu, hai sayangku, aku sedia melayani segala keperluan dan keinginanmu.”

Herodia menjawab: “Bila Tuan Raja berkenan, maka aku hanya mempunyai satu permintaan yang mendorongku datang mengunjungi Tuanku pada saat ini. Permintaanku yang tunggal itu ialah kepala Yahya bin Zakaria orang yang telah mengacau rencana kita dan mencemarkan nama baik Tuan Raja dan namaku sekeluarga di segala tempat dan penjuru. Supaya dia dipenggal kepalanya. Alangkah puasnya hatiku dan besarnya terima kasihku, bila Tuanku berkenan meluluskan permintaanku ini”.
Herodus yang sudah tergila-gila dan tertawan hatinya oleh kecantikan dan keelokan Herodia tidak berkulik menghadapi permintaan calon isterinya itu dan tidak dapat berbuat selain tunduk kepada kehendaknya dengan mengabaikan suara hati nuraninya dan panggilan akal sihatnya. Demikianlah maka tiada berapa lama dibawalah kepala Yahya bin Zakaria berlumuran darah dan diletakkannya di depan kesayangannya Herodia yang tersenyum tanda gembira dan puas hati bahawa hasratnya membalas dendam terhadap Yahya telah terpenuhi dan rintangan utama yang akan menghalangi rencana perkahwinannta telah tersingkirkan, walaupun perbuatannya itu menurunkan laknat Tuhan atas dirinya, diri rajanya dan Bani Isra’il seluruhnya.

Cerita tentang Zakaria dan Yahya terurai di atas dikisahkan oleh Al-Quran, surah Maryam ayat 2 sehingga ayat 15, surah Ali Imran ayat 38 senhingga ayat 41 dan surah Al-Anbiya’ ayat 89 sehingga ayat 90.

KISAH NABI ZAKARIA A.S.


Nabi Zakaria adalah ayah dari Nabi Yahya putera tunggalnya yang lahir setelah ia mencapai usia sembilan puluh tahun. Sejak beristeri Hanna, ibu saudaranya Maryam, Zakaria mendambakan mendapat anak yang akan menjadi pewarisnya. Siang dan malam tiada henti-hentinya ia memanjatkan doanya dan permohonan kepada Allah agar dikurniai seorang putera yang akan dapat meneruskan tugasnya memimpin Bani Israil. Ia khuatir bahawa bila ia mati tanpa meninggalkan seorang pengganti, kaumnya akan kehilangan pemimpin dan akan kembali kepada cara-cara hidup mereka yang penuh dengan mungkar dan kemaksiatan dan bahkan mungkin mereka akan mengubah syariat Musa dengan menambah atau mengurangi isi kitab Taurat sekehendak hati mereka. Selain itu, ia sebagai manusia, ingin pula agar keturunannya tidak terputus dan terus bersambung dari generasi sepanjang Allah mengizinkannya dan memperkenankan.

Nabi Zakaria tiap hari sebagai tugas rutin pergi ke mihrab besar melakukan sembahyang serta menjenguk Maryam anak iparnya yang diserahkan kepada mihrab oleh ibunya sesuai dengan nadzarnya sewaktu ia masih dalam kandungan. Dan memang Zakarialah yang ditugaskan oleh para pengurus mihrab untuk mengawasi Maryam sejak ia diserahkan oleh ibunya. Tugas pengawasan atas diri Maryam diterima oleh Zakaria melalui undian yang dilakukan oleh para pengurus mihrab di kala menerima bayi Maryam yang diserahkan pengawasannya kepadanya itu adalah anak saudara isterinya sendiri yang hingga saat itu belum dikurniai seorang anak pun oleh Tuhan.

Suatu peristiwa yang sangat menakjubkan dan menghairankan Zakaria telah terjadi pada suatu hari ketika ia datang ke mihrab sebagaimana biasa. Ia melihat Maryam disalah satu sudut mihrab sedang tenggelam dalam sembahyangnya sehingga tidak menghiraukan bapa saudaranya yang datang menjenguknya. Di depan Maryam yang sedang asyik bersembahyang itu terlihat oleh Zakaria berbagai jenis buah-buahan musim panas. Bertanya-tanya Nabi Zakaria dalam hatinya, dari mana datangnya buah-buahan musim panas ini, padahal mereka masih berada dalam musim dingin. Ia tidak sabar menanti anak saudaranya selesai sembahyang, ia lalu mendekatinya dan menegur bertanya kepadanya: “Wahai Maryam, dari manakah engkau dapat ini semua?”

Maryam menjawab: “Ini adalah pemberian Allah yang aku dapat tanpa kucari dan aku minta. Diwaktu pagi dikala matahari terbit aku mendapatkan rezekiku ini sudah berada didepan mataku, demikian pula bila matahari terbenam di waktu senja. Mengapa bapa saudaranya merasa hairan dan takjub? Bukankah Allah berkuasa memberikan rezekinya kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan?”

Maryam binti Imran
Maryam yang disebut-sebut dalam kisah Zakaria adalah anak tunggal dari Imran seorang daripada pemuka-pemuka dam ulama Bani Isra’il. Ibunya saudara ipar dari Nabi Zakaria adalah seorang perempuan yang mandul yang sejak bersuamikan Imran belum merasa berbahagia jika belum memperoleh anak. Ia merasa hidup tanpa anak adalah sunyi dan membosankan. Ia sangat mendambakan keturunan untuk menjadi pengikat yang kuat dalam kehidupan bersuami-isteri, penglipur duka dan pembawa suka di dalam kehidupan keluarga. Ia sangat akan keturunan sehingga bila ia melihat seorang ibu menggandung bayinya atau burung memberi makan kepada anaknya, ia merasa iri hati dan terus menjadikan kenangan yang tak kunjung lepas dari ingatannya.

Tahun demi tahun berlalu, usia makin hari makin lanjut, namun keinginan tetap tinggal keinginan dan idam-idaman tetap tidak menjelma menjadi kenyataan. Berbagai cara dicubanya dan berbagai nasihat dan petunjuk orang diterapkannya, namun belum juga membawa hasil. Dan setelah segala daya upaya yang bersumber dari kepandaian dan kekuasaan manusia tidak membawa buah yang diharapkan, sedarlah isteri Imran bahawa hanya Allah tempat satu-satunya yang berkuasa memenuhi keinginannya dan sanggup mengurniainya dengan seorang anak yang didambakan walaupun rambutnya sudah beruban dan usianya sudah lanjut. Maka ia bertekad membulatkan harapannya hanya kepada Allah bersujud siang dan malam dengan penuh khusyuk dan kerendahan hati bernadzar dan berjanji kepada Allah bila permohonannya dikalbulkan, akan menyerahkan dan menghibahkan anaknya ke Baitul Maqdis untuk menjadi pelayan, penjaga dan memelihara rumah suci itu dan sesekali tidak akan mengambil manfaat dari anaknya untuk kepentingan dirinya atau kepentingan keluarganya.

Harapan isteri Imran yang dibulatkan kepada Allah tidak tersia-sia. Allah telah menerima permohonannya dan mempersembahkan doanya sesuai dengan apa yang telah disuratkan dalam takdir-Nya bahwa dari suami isteri Imran akan diturunkan seorang nabi besar. Maka tanda-tanda permulaan kehamilan yang dirasakan oleh setiap perempuan yang mengandung tampak pada isteri Imran yang lama kelamaan merasa gerakan janin di dalam perutnya yang makin membesar. Alangkah bahagia si isteri yang sedang hamil itu, bahawa idam-idamannya itu akan menjadi kenyataan dan kesunyian rumah tangganya akan terpecahlah bila bayi yang dikandungkan itu lahir. Ia bersama suami mulai merancang apa yang akan diberikan kepada bayi yang akan datang itu. Jika mereka sedang duduk berduaan tidak ada yang diperbincangkan selain soal bayi yang akan dilahirkan. Suasana suram sedih yang selalu meliputi rumah tangga Imran berbalik menjadi riang gembira, wajah sepasang suami isteri Imaran menjadi berseri-seri tanda suka cita dan bahagia dan rasa putus asa yang mencekam hati mereka berdua berbalik menjadi rasa penuh harapan akan hari kemudian yang baik dan cemerlang.

Akan tetapi sangat benarlah kata mutiara yang berbunyi: “Manusia merancang, Tuhan menentukan. Imran yang sangat dicintai dan sayangi oleh isterinya dan diharapkan akan menerima putera pertamanya serta mendampinginya dikala ia melahirkan , tiba-tiba direnggut nyawanya oleh Izra’il dan meninggallah isterinya seorang diri dalam keadaan hamil tua, pada saat mana biasanya rasa cinta kasih sayang antara suami isteri menjadi makin mesra.
Rasa sedih yang ditinggalkan oleh suami yang disayangi bercampur dengan rasa sakit dan letih yang didahului kelahiran si bayi, menimpa isteri Imran di saat-saat dekatnya masa melahirkan. Maka setelah segala persiapan untuk menyambut kedatangan bayi telah dilakukan dengan sempurna lahirlah ia dari kandungan ibunya yang malang menghirup udara bebas. Agak kecewalah si ibu janda Imran setelah mengetahui bahawa bayi yang lahir itu adalah seorang puteri sedangkan ia menanti seorang putera yang telah dijanjikan dan bernadzar untuk dihibahkan kepada Baitulmaqdis. Dengan nada kecewa dan suara sedih berucaplah ia seraya menghadapkan wajahnya ke atas: “Wahai Tuhanku, aku telah melahirkan seorang puteri, sedangkan aku bernadzar akan menyerahkan seorang putera yang lebih layak menjadi pelayan dan pengurus Baitulmaqdis. Allah akan mendidik puterinya itu dengan pendidikan yang baik dan akan menjadikan Zakaria, iparnya dan bapa saudara Maryam sebagai pengawas dan pemeliharanya.

Demikianlah maka tatkala Maryam diserahkan oleh ibunya kepada pengurus Baitulmaqdis, para rahib berebutan masing-masing ingin ditunjuk sebagai wali yang bertanggungjawab atas pengawasan dan pemeliharaan Maryam. Dan kerana tidak ada yang mahu mengalah, maka terpaksalah diundi diantara mereka yang akhirnya undian jatuh kepada Zakaria sebagaimana dijanjikan oleh Allah kepada ibunya.
Tindakan pertama yang diambil oleh Zakaria sebagai petugas yang diwajibkan menjaga keselamatan Maryam ialah menjauhkannya dari keramaian sekeliling dan dari jangkauan para pengunjung yang tiada henti-hentinya berdatangan ingin melihat dan menjenguknya. Ia ditempatkan oleh Zakaria di sebuah kamar diatas loteng Baitulmaqdis yang tinggi yang tidak dapat dicapai melainkan dengan menggunakan sebuah tangga.Zakarian merasa bangga dan bahagia beruntung memenangkan undian memperolehi tugas mengawasi dan memelihara Maryam secara sah adalah anak saudaranya sendiri. Ia mencurahkan cinta dan kasih sayangnya sepenuhnya kepada Maryam untuk menggantikan anak kandungnya yang tidak kunjung datang. Tiap ada kesempatan ia datang menjenguknya, melihat keadaannya, mengurus keperluannya dan menyediakan segala sesuatu yang membawa ketenangan dan kegembiraan baginya. Tidak satu hari pun Zakaria pernah meninggalkan tugasnya menjenguk Maryam.

Rasa cinta dan kasih sayang Zakaria terhadap Maryam sebagai anak saudra isterinya yang ditinggalkan ayahnya meningkat menjadi rasa hormat dan takzim tatkala terjadi suatu peristiwa yang menandakan bahawa Maryam bukanlah gadis biasa sebagaimana gadis-gadis yang lain, tetapi ia adalah wanita pilihan Allah untuk suatu kedudukan dan peranan besar di kemudian hari.
Pada suatu hari tatkala Zakaria datang sebagaimana biasa, mengunjungi Maryam, ia mendapatinya lagi berada di mihrabnya tenggelam dalam ibadah berzikir dan bersujud kepada Allah. Ia terperanjat ketika pandangan matanya menangkap hidangan makanan berupa buah-buahan musim panas terletak di depan Maryam yang lagi bersujud. Ia lalu bertanya dalam hatinya, dari manakah gerangan buah-buahan itu datang, padahal mereka masih lagi berada pada musim dingin dan setahu Zakaria tidak seorang pun selain dari dirinya yang datang mengunjungi Maryam. Maka ditegurlah Maryam tatkala setelah selesai ia bersujud dan mengangkat kepala: “Wahai Maryam, dari manakah engkau memperolehi rezeki ini, padahal tidak seorang pun mengunjungimu dan tidak pula engkau pernah meninggalkan mihrabmu? Selain itu buah-buahan ini adalah buah-buahan musim panas yang tidak dapat dibeli di pasar dalam musim dingin ini.”

Maryam menjawab: “Inilah peberian Allah kepadaku tanpa aku berusaha atau minta. Dan mengapa engkau merasa hairan dan takjub? Bukankah Allah Yang Maha Berkuasa memberikan rezekinya kepada sesiapa yang Dia kehendaki dalam bilangan yang tidak ternilai besarnya?”
Demikianlah Allah telah memberikan tanda pertamanya sebagai mukjizat bagi Maryam, gadis suci, yang dipersiapkan oleh-Nya untuk melahirkan seorang nabi besar yang bernama Isa Almasih a.s.
Kisah lahirnya Maryam dan pemeliharaan Zakaria kepadanya dapat dibaca dalam Al-Quran surah Ali Imran ayat 35 hingga 37 dan 42 hingga 44.

KISAH NABI YUNUS A.S.


Tidak banyak yang dikisahkan oleh Al-Quran tentang Nabi Yunus sebagaimana yang telah dikisahkan tentang nabi-nabi Musa, Yusuf dan lain-lain. Dan sepanjang yang dapat dicatat dan diceritakan oleh para sejarawan dan ahli tafsir tentang Nabi Yunus ialah bahawa beliau bernama Yunus bin Matta. Ia telah diutuskan oleh Allah untuk berdakwah kepada penduduk di sebuah tempat bernama “Ninawa” yang bukan kaumnya dan tidak pula ada ikatan darah dengan mereka. Ia merupakan seorang asing mendatang di tengah-tengah penduduk Ninawa itu. Ia menemui mereka berada di dalam kegelapan, kebodohan dan kekafiran, mereka menyembah berhala menyekutukan kepada Allah.

Yunus membawa ajaran tauhid dan iman kepada mereka, mengajak mereka agak menyembah kepada Allah yang telah menciptakan mereka dan menciptakan alam semesta, meninggalkan persembahan mereka kepada berhala-berhala yang mereka buat sendiri dari batu dan berhala-berhala yang tidak dapat membawanya manfaaat atau mudarat bagi mereka. Ia memperingatkan mereka bahawa mereka sebagai manusia makhluk Allah yang utama yang memperoleh kelebihan di atas makhluk-makhluk yang lain tidak sepatutnya merendahkan diri dengan menundukkan dahi dan wajah mereka menyembah batu-batu mati yang mereka pertuhankan, padahal itu semua buatan mereka sendiri yang kadang-kadang dan dapat dihancurkan dan diubah bentuk dan memodelnya. Ia mengajak mereka berfikir memperhatikan ciptaan Allah di dalam diri mereka sendiri, di dalam alam sekitar untuk menyedarkan mereka bahawa Tuhan pencipta itulah yang patut disembah dan bukannya benda-benda ciptaannya.

Ajaran-ajaran Nabi Yunus itu bagi para penduduk Ninawa merupakan hal yang baru yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Kerananya mereka tidak dapat menerimanya untuk menggantikan ajaran dan kepercayaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka yang sudah menjadi adat kebiasaaan mereka turun temurun. Apalagi pembawa agama itu adalah seorang asing tidak seketurunan dengan mereka.
Mereka berkata kepada Nabi Yunus: “Apakah kata-kata yang engkau ucapkan itu dan kedustaan apakah yang engkau anjurkan kepada kami tentang agama barumu itu? Inilah tuhan-tuhan kami yang sejati yang kami sembah dan disembahkan oleh nenek moyamg kami sejak dahulu. Alasan apakah yang membenarkan kami meninggalkan agama kami yang diwariskan oleh nenek moyang kami dan menggantikannya dengan agama barumu? Engkau adalah seorang yang ditengah-tengah kami yang datang untuk merusakkan adat istiadat kami dan mengubah agama kami dan apakah kelebihan kamu diatas kami yang memberimu alasan untuk mengurui dan mengajar kami. Hentikanlah aksimu dan ajak-ajakanmu di daerah kami ini. Percayalah bahawa engkau tidak akan dapat pengikut diantara kami dan bahawa ajaranmu tidak akan mendapat pasaran di antara rakyat Ninawa yang sangat teguh mempertahankan tradisi dan adat istiadat orang-orang tua kami.”

Barkata Nabi Yunus menjawab: “Aku hanya mengajak kamu beriman dan bertauhid menurut agama yang aku bawa sebagai amanat Allah yang wajib ku sampaikan kepadamu. Aku hanya seorang pesuruh yang ditugaskan oleh Allah untuk mengangkat kamu dari lembah kesesatan dan kegelapan menuntun kamu ke jalan yang benar dan lurus menyampaikan kepada kamu agama yang suci bersih dari benih-benih kufur dan syirik yang merendahkan martabat manusia yang semata-mata untuk kebaikan kamu sendiri dan kebaikan anak cucumu kelak. Aku sesekali tidak mengharapkan sesuatu upah atau balas jasa daripadamu dan tidak pula menginginkan pangkat atau kedudukan. Aku tidak dapat memaksamu untuk mengikutiku dan melaksanakan ajaran-ajaranku. Aku hanya mengingatkan kepadamu bahawa bila kamu tetap membangkang dan tidak menghiraukan ajakanku , tetap menolak agama Allah yang aku bawa, tetap mempertahankan akidahmu dan agamamu yang bathil dan sesat itu, nescaya Allah kelak akan menunjukkan kepadamu tanda-tanda kebenaran risalahku dengan menurunkan azab seksa-Nya di atas kamu sebagaimana telah dialami oleh kaum terdahulu iaitu kaum Nuh, Aad dan Tsamud sebelum kamu.

Mereka menjawab peringatan Nabi Yunus dengan tentangan seraya mengatakan: “Kami tetap menolak ajakanmu dan tidak akan tunduk pada perintahmu atau mengikut kemahuanmu dan sesekali kami tidak akan takut akan segala ancamanmu. Cubalah datangkan apa yang engkau ancamkan itu kepada kami jika engkau memang benar dalam kata-katamu dan tidak mendustai kami.”
Nabi Yunus tidak tahan tinggal dengan lebih lama di tengah-tengah kaum Ninawa yang berkeras kepala dan bersikap buta-tuli menghadapi ajaran dan dakwahnya. Ia lalu meninggalkan Ninawa dengan rasa jengkel dan marah seraya memohon kepada Allah untuk menjatuhkan hukumannya atas orang-orang yang membangkang dan berkeras kepala itu.

Sepeninggalan Nabi Yunus penduduk Ninawa mulai melihat tanda-tanda yang mencemaskan seakan-akan ancaman Nabi Yunus kepada mereka akan menjadi kenyataan dan hukuman Allah akan benar-benar jatuh di atas mereka membawa kehancuran dan kebinasaan sebagaimana yang telah dialami oleh kaum musyrikin penyembah berhala sebelum mereka. Mereka melihat keadaan udara disekeliling Ninawa makin menggelap, binatang-binatang peliharaan mereka nampak tidak tenang dan gelisah, wajah-wajah mereka tanpa disadari menjadi pucat tidak berdarah dan angin dari segala penjuru bertiup dengan kecangnya membawa suara gemuruh yang menakutkan.

Dalam keadaan panik dan ketakutan , sedarlah mereka bahawa Yunus tidak berdusta dalam kata-katanya dan bahawa apa yang diancamkan kepada mereka bukanlah ancaman kosong buatannya sendiri, tetapi ancaman dari Tuhan. Segeralah mereka menyatakan taubat dan memohon ampun atas segala perbuatan mereka, menyatakan beriman dan percaya kepada kebenaran dakwah Nabi Yunus seraya berasa menyesal atas perlakuan dan sikap kasar mereka yang menjadikan beliau marah dan meninggalkan daerah itu.

Untuk menebus dosa, mereka keluar dari kota dan beramai-ramai pergi ke bukit-bukit dan padang pasir, seraya menangis memohon ampun dan rahmat Allah agar dihindarkan dari bencana azab dan seksaan-Nya. Ibu binatang-binatang peliharaan mereka dipisahkan dari anak-anaknya sehingga terdengar suara teriakan binatang-binatang yang terpisah dari ibunya seolah-olah turut memohon keselamatan dari bencana yang sedang mengancam akan tiba menimpa mereka.
Allah yang Maha Mengetahui bahawa hamba-hamba-Nya itu jujur dalam taubatnya dan rasa sesalannya dan bahawa mereka memang benar-benar dan hatinya sudah kembali beriman dan dari hatinya pula memohon dihindarkan dari azab seksa-Nya, berkenan menurunkan rahmat-Nya dan mengurniakan maghfirat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang dengan tulus ikhlas menyatakan bertaubat dan memohon ampun atas segala dosanya. Udara gelap yang meliputi Ninawa menjadi terang, wajah-wajah yang pucat kembali merah dan ebrseri-seri dan binatang-binatang yang gelisah menjadi tenang, kemudian kembalilah orang-orang itu ke kota dan kerumah masing-masing dengan penuh rasa gembira dan syukur kepada Allah yang telah berkenan menerima doa dan permohonan mereka.

Berkatalah mereka didalam hati masing-masing setelah merasa tenang, tenteram dan aman dari malapetaka yang nyaris melanda mereka: “Di manakah gerangan Yunus sekarang berada? Mengapa kami telah tunduk kepada bisikan syaitan dan mengikuti hawa nafsu, menjadikan dia meninggalkan kami dengan rasa marah dan jengkel kerana sikap kami yang menentang dan memusuhinya. Alangkah bahagianya kami andaikan ia masih berada di tengah-tengah kami menuntun dan mengajari kami hal-hal yang membawa kebahagiaan kami di dunia dan di akhirat. Ia adalah benar-benar rasul dan nabi Allah yang telah kami sia-siakan. Semoga Allah mengampuni dosa kami.”

Adapun tentang keadaan Nabi Yunus yang telah meninggalkan kota Ninawa secara mendadak, maka ia berjalan kaki mengembara naik gunung turun gunung tanpa tujuan. Tanpa disadari ia tiba-tiba berada disebuah pantai melihat sekelompok orang yang lagi bergegas-gegas hendak menumpang sebuah kapal. Ia minta dari pemilik kapal agar diperbolehkan ikut serta bersama lain-lain penumpang. Kapal segera melepaskan sauhnya dan meluncur dengan lajunya ke tengah laut yang tenang. Ketenangan laut itu tidak dapat bertahan lama, kerana sekonyong-konyong tergoncang dan terayunlah kapal itu oleh gelombang besar yang datang mendadak diikuti oleh tiupan angin taufan yang kencang, sehingga menjadikan juru mudi kapal berserta seluruh penumpangnya berada dalan keadaan panik ketakutan melihat keadaan kapal yang sudah tidak dapat dikuasai keseimbangannya.

Para penumpang dan juru mudi melihat tidak ada jalan untuk menyelamatkan keadaan jika keadaan cuaca tetap mengganas dan tidak mereda, kecuali dengan jalan meringankan beban berat muatan dengan mengorbankan salah seorang daripada para penumpang. Undian lalu dilaksanakan untuk menentukan siapakah di antara penumpang yang harus dikorbankan. Pada tarik pertama keluarlah nama Yunus, seorang penumpang yang mereka paling hormati dan cintai, sehingga mereka semua merasa berat untuk melemparkannya ke laut menjadi mangsa ikan.

Kemudian diadakanlah undian bagi kali kedua dengan masing-masing penumpang mengharapkan jangan sampai keluar lagi nama Yunus yang mereka sayangi itu, namun melesetlah harapan mereka dan keluarlah nama Yunus kembali pada undian yang kedua itu. Demikianlah bagi undian bagi kali yang ketiganya yang disepakati sebagai yang terakhir dan yang menentukan nama Yunuslah yang muncul yang harus dikorbankan untuk menyelamatkan kapal dan para penumpang yang lain.
Nabi Yunus yang dengan telitinya memperhatikan sewaktu undian dibuat merasa bahawa keputusan undian itu adalah kehendak Allah yang tidak dapat ditolaknya yang mungkin didalamnya terselit hikmah yang ia belum dapat menyelaminya. Yunus sedar pula pada saat itu bahawa ia telah melakukan dosa dengan meninggalkan Ninawa sebelum memperoleh perkenan Allah, sehingga mungkin keputusan undian itu adalah sebagai penebusan dosa yang ia lakukan itu. Kemudian ia beristikharah menghenimgkan cipta sejenak dan tanpa ragu segera melemparkan dirinya ke laut yang segera diterima oleh lipatan gelombang yang sedang mengamuk dengan dahsyatnya di bawah langit yang kelam-pekat.

Selagi Nabi Yunus berjuang melawan gelombang yang mengayun-ayunkannya, Allag mewahyukan kepada seekor ikan paus untuk menelannya bulat-bulat dan menyimpangnya di dalam perut sebagai amanat Tuhan yang harus dikembalikannya utuh tidak tercedera kelak bila saatnya tiba.
Nabi Yunus yang berada di dalam perut ikan paus yang membawanya memecah gelombang timbul dan tenggelam ke dasar laut merasa sesak dada dan bersedih hati seraya memohon ampun kepada Allah atas dosa dan tindakan yang salah yang dilakukannya tergesa-gesa. Ia berseru didalam kegelapan perut ikan paus itu: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tiada Tuhan selain Engkau, Maha sucilah Engkau dan sesungguhnya aku telah berdosa dan menjadi salah seorang dari mereka yang zalim.”

Setelah selesai menjalani hukuman Allah , selama beberapa waktu yang telah ditentukan, ditumpahkanlah Nabi Yunus oleh ikan paus itu yang mengandungnya dan dilemparkannya ke darat . Ia terlempar dari mulut ikan ke pantai dalam keadaan kurus lemah dan sakit. Akan tetapi Allah dengan rahmat-Nya menumbuhkan di tempat ia terdampar sebuah pohon labu yang dapat menaungi Yunus dengan daun-daunnya dan menikmati buahnya.
Nabi Yunus setelah sembuh dan menjadi segar kembali diperintahkan oleh Allah agar pergi kembali mengunjungi Ninawa di mana seratus ribu lebih penduduknya mendamba-dambakan kedatangannya untuk memimpin mereka dan memberi tuntunan lebih lanjut untuk menyempurnakan iman dan aqidah mereka. Dan alangkah terkejutnya Nabi Yunus tatkala masuk Ninawa dan tidak melihat satu pun patung berhala berdiri. Sebaliknya ia menemui orang-orang yang dahulunya berkeras kepala menentangnya dan menolak ajarannya dan kini sudah menjadi orang-orang mukmin, soleh dan beribadah memuja-muji Allah s.w.t.

Pokok cerita tentang Yunus terurai di atas dikisahkan oleh Al-Quran dalam surah Yunus ayat 98, surah Al-Anbiaa’ ayat 87, 88 dan surah Ash-Shaffaat ayat 139 sehingga ayat 148.

Pengajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Yunus.
Bahawasannya seorang yang bertugas sebagai da’i – juru dakwah harus memiliki kesabaran dan tidak boleh cepat-cepat marah dan berputus asa bila dakwahnya tidak dapat sambutan yang selayaknya atau tidak segera diterima oleh orang-orang yang didakwahinya. Dalam keadaan demikian ia harus bersabar mengawal emosinya serta tetap meneruskan dakwahnya dengan bersikap bijaksana dan lemah lembut, sebagaimana firman Allah dalam surah An-Nahl ayat 125 yang bermaksud : “Serulah, berdakwahlah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik { sopan dan lemah lembut } .”

Di dalam diri Nabi Yunus Allah telah memberi contoh betapa ia telah disesalkan atas tindakannya yang tergesa-gesa kerana kehilangan kesabaran, meninggalkan kaum Ninawa, padahal mereka masih dapat disedarkan untuk menerima ajakannya andaikan ia tidak terburu-buru marah dan meninggalkan mereka tanpa berunding lebih dahulu dengan Allah yang telah mengutusnya.
Atas pelanggaran yang telah dilakukan tanpa sedar Allah telah memberi hukuman kepada Nabi Yunus berupa kurungan dalam perut ikan paus sebagai peringatan dan pengajaran agar tidak terulang lagi setelah ia diberi ampun dan disuruh kembali ke Ninawa melanjutkan dakwahnya.

KISAH NABI AYYUB A.S.


Berkata salah seorang malaikat kepada kawan-kawannya yang lagi berkumpul berbincang-bincang tentang tingkah-laku makhluk Allah, jenis manusia di atas bumi : “Aku tidak melihat seorang manusia yang hidup di atas bumi Allah yang lebih baik dari hamba Allah Ayyub”. Ia adalah seorang mukmin sejati ahli ibadah yang tekun. Dari rezeki yang luas dan harta kekayaan yang diberikan oleh Allah kepadanya, ia mengenepikan sebahagian untuk menolong orang-orang yang memerlukan para fakir miskin. Hari-harinya terisi penuh dengan ibadah, sujud kepada Allah dan bersyukur atas segala nikmat dan kurnia yang diberikan kepadanya.”

Para kawanan malaikat yang mendengarkan kata-kata pujian dan sanjungan untuk diri Ayyub mengakui kebenaran itu bahkan masing-masing menambahkan lagi dengan menyebut beberapa sifat dan tabiat yang lain yang ada pada diri Ayyub.
Percakapan para malaikat yang memuji-muji Ayyub itu didengar oleh Iblis yang sedang berada tidak jauh dari tempat mereka berkumpul. Iblis merasa panas hati dan jengkel mendengar kata-kata pujian bagi seseorang dari keturunan Adam yang ia telah bersumpah akan disesatkan ketika ia dikeluarkan dari syurga kerananya. Ia tidak rela melihat seorang dari anak cucu anak Nabi Adam menjadi seorang mukmin yang baik, ahli ibadah yang tekun dan melakukan amal soleh sesuai dengan perintah dan petunjuk Allah.

Pergilah Iblis mendatangi Ayyub untuk menyatakan sendiri sampai sejauh mana kebenaran kata-kata pujian para malaikat itu kepada diri Ayyub. Ternyata memang benar Ayyub patut mendapat segala pujian itu. Ia mendatangi Ayyub bergelimpangan dalam kenikmatan duniawi, tenggelam dalam kekayaan yang tidak ternilai besarnya, mengepalai keluarga yang besar yang hidup rukun, damai dan bakti. Ia mendapati Ayyub tidak tersilau matanya oleh kekayaan yang ia miliki dan tidak tergoyahkan imannya oleh kenikmatan duniawinya. Siang dan malam ia sentiasa menemui Ayyub berada di mihrabnya melakukan solat, sujud dan tasyakur kepada Allah atas segala pemberian-Nya. Mulutnya tidak berhenti menyebut nama Allah berzikir, bertasbih dan bertahmid. Ayyub ditemuinya sebagai seorang yang penuh kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah yang lemah, yang lapar diberinya makan, yang telanjang diberinya pakaian, yang bodoh diajar dan dipimpin dan yang salah ditegur.

Iblis gagal dalam usahanya memujuk Ayyub. Telinga Ayyub pekak terhadap segala bisikannya dan fitnahannya dan hatinya yang sudah penuh dengan iman dan takwa tidak ada tempat lagi bagi bibit-bibit kesesatan yang ditaburkan oleh Iblis. Cinta dan taatnya kepada Allah merupakan benteng yang ampuh terhadap serangan Iblis dengan peluru kebohongan dan pemutar-balikan kebenaran yang semuanya mental tidak mendapatkan sasaran pada diri Ayyub.
Akan tetapi Iblis bukanlah Iblis jika ia berputus asa dan kegagalannya memujuk Ayyub secara langsung. Ia pergi menghadapi kepada Allah untuk menghasut. Ia berkata : ” Wahai Tuhan, sesungguhnya Ayyub yang menyembah dan memuji-muji-Mu, bertasbih dan bertahmid menyebut nama-Mu, ia tidak berbuat demikian seikhlas dan setulus hatinya kerana cinta dan taat pada-Mu. Ia melakukan itu semua dan berlaku sebagai hamba yang soleh tekun beribadah kepada-Mu hanya kerana takut akan kehilangan semua kenikmatan duniawi yang telah Engkau kurniakan kepadanya. Ia takut, jika ia tidak berbuat demikian , bahawa engkau akan mencabut daripadanya segala nikmat yang telah ia perolehnya berupa puluhan ribu haiwan ternakan, beribu-ribu hektar tanah ladang, berpuluh-puluh hamba sahaya dan pembantu serta keluarga dan putera-puteri yang soleh dan bakti. Tidakkah semuanya itu patut disyukuri untuk tidak terlepas dari pemilikannya dan habis terkena musibah? Di samping itu Ayyub masih mengharapkan agar kekayaannya bertambah menjadi berlipat ganda. Untuk tujuan dan maksud itulah Ayyub mendekatkan diri kepada-Mu dengan ibadah dan amal-amal solehnya dan andai kata ia terkena musibah dan kehilangan semua yang ia miliki, nescaya ia akan mengubah sikapnya dan akan melalaikan kewajibannya beribadah kepada-Mu.”

Allah berfirman kepada Iblis : ” Sesungguhnya Ayyub adalah seorang hamba-Ku yang sangat taat kepada-Ku, ia seorang mukmin sejati, apa yang ia lakukan untuk mendekati dirinya kepada-Ku adalah semata-mata didorong oleh iman yang teguh dan taat yang bulat kepada-Ku. Iman dan takwa yang telah meresap di dalam lubuk hatinya serta menguasai seluruh jiwa raganya tidak akan tergoyah oleh perubahan keadaan duniawinya. Cintanya kepada-Ku yang telah menjiwai amal ibadah dan kebajikannya tidak akan menurun dan menjadi kurang, musibah apa pun yang akan melanda dalam dirinya dan harta kekayaannya. Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa apa yang ia miliki adalah pemberian-Ku yang sewaktu-waktu dapat Aku cabut daripadanya atau menjadikannya bertambah berlipat ganda. Ia bersih dari semua tuduhan dan prasangkamu. Engkau memang tidak rela melihathamba-hamba-Ku anak cucu Adan berada di atas jalan yang benar, lurus dan tidak tersesat. Dan untuk menguji keteguhan hati Ayyub dan kebulatan imannya kepada-Ku dan kepada takdir-Ku, Aku izinkan engkau untuk mencuba menggodanya serta memalingkannya daripada-Ku. Kerahkanlah pembantu-pembantumu menggoda Ayyub melalui harta kekayaannya dan keluarganya. Cuba binasakanlah harta kekayaannya dan cerai-beraikanlah keluarganya yang rukun dan bahagia itu dan lihatlah sampai di mana kebolehanmu menyesatkan dan merusakkan iman hamba-Ku Ayyub itu.”

Dikumpulkanlah oleh Iblis syaitan-syaitan, pembantunya, diberitahukan bahawa ia telah mendapatkan izin dari Tuhan untuk mengganyang ayyub, merusak aqidah dan imannya dan memalingkannya dari Tuhannya yang ia sembah dengan sepenuh hati dan keyakinan. Jalannya ialah dengan memusnahkan harta kekayaannya sehingga ia menjadi seorang yang papa dan miskin, mencerai-beraikan keluarganya sehingga ia menjadi sebatang kara tidak berkeluarga, Iblis berseru kepada pembantu-pembantunya itu agar melaksanakan tugas penyesatan Ayyub sebaik-baiknya dengan segala daya dan siasat apa saja yang mereka dapat lakukan.

Dengan berbagai cara gangguan, akhirnya berhasillah kawanan syaitan itu menghancurkan-luluhkan kekayaan Ayyub, yang dimulai dengan haiwan-haiwan ternakannya yang bergelimpangan mati satu persatu sehingga habis sama sekali, kemudian disusul ladang-ladang dan kebun-kebun tanamannya yang rusak menjadi kering dan gedung-gedungnya yang terbakar habis dimakan api, sehingga dalam waktu yang sangat singkat sekali Ayyub yang kaya-raya tiba-tiba menjadi seorang papa miskin tidak memiliki selain hatinya yang penuh iman dan takwa serta jiwanya yang besar.

Setelah berhasil menghabiskan kekayaan dan harta milik Ayyub datanglah Iblis kepadanya menyerupai sebagai seorang tua yang tampak bijaksana dan berpengalaman dan berkata: “Sesungguhnya musibah yang menimpa dirimu sangat dahsyat sekali sehingga dalam waktu yang begitu sempit telah habis semua kekayaanmu dan hilang semua harta kekayaan milikmu. Kawan-kawanmu merasa sedih ssedang musuh-musuhmu bersenang hati dan gembira melihat penderitaan yang engkau alami akibat musibah yang susul-menyusul melanda kekayaan dan harta milikmu. Mereka bertanya-tanya, gerangan apakah yang menyebabkan Ayyub tertimpa musibah yang hebat itu yang menjadikannya dalam sekelip mata kehilangan semua harta miliknya. Sementara orang dari mereka berkata bahawa mungkin kerana Ayyub tidak ikhlas dalam ibadah dan semua amal kebajikannya dan ada yang berkata bahawa andaikan Allah, Tuhan Ayyub, benar-benar berkuasa, nescaya Dia dapat menyelamatkan Ayyub dari malapetaka, mengingat bahawa ia telah menggunakan seluruh waktunya beribadah dan berzikir, tidak pernah melanggar perintah-Nya . Seorang lain menggunjing dengan mengatakan bahawa mungkin amal ibadah Ayyub tidak diterima oleh Tuhan, kerana ia tidak melakukan itu dari hati yang bersih dan sifat ria dan ingin dipuji dan banyak lagi cerita-cerita orang tentang kejadian yang sangat menyedihkan itu. Akupun menaruh simpati kepadamu, hai Ayyub dan turut bersedih hati dan berdukacita atas nasib yang buruk yang engkau telah alami.”

Iblis yang menyerupai sebagai orang tua itu – mengakhiri kata-kata hasutannya seraya memperhatikan wajah Ayyub yang tetap tenang berseri-seri tidak menampakkan tanda-tanda kesedihan atau sesalan yang ingin ditimbulkan oleh Iblis dengan kata-kata racunnya itu. Ayyub berkata kepadanya : “Ketahuilah bahawa apa yang aku telah miliki berupa harta benda, gedung-gedung, tanah ladang dan haiwan ternakan serta lain-lainnya semuanya itu adalah barangan titipan Allah yang diminta-Nya kembali setelah aku cukup menikmatinya dan memanfaatkannya sepanjang masa atau ibarat barang pinjaman yang diminta kembali oleh tuannya jika saatnya telah tiba. Maka segala syukur dan ouji bagi Allah yang telah memberikan kurniaan-Nya kepadaku dan mencabutnya kembali pula dari siapa yang Dia kehendaki dan mencabutnya pula dari siapa saja yang Dia suka. Dia adalah yang Maha Kuasa mengangkat darjat seseorang atau menurunkannya menurut kehendak-Nya. kami sebagai hamba-hamba makhluk-Nya yang lemah patut berserah diri kepada-Nya dan menerima segala qadha’ dan takdir-Nya yang kadang kala kami belum dapat mengerti dan menangkap hikmah yang terkandung dalam qadha’ dan takdir-Nya itu.”

Selesai mengucapkan kata-kata jawabnya kepada Iblis yang sedang duduk tercenggang di depannya, menyungkurlah Ayyub bersujud kepada Allah memohon ampun atas segala dosa dan keteguhan iman serta kesabaran atas segala cubaan dan ujian-Nya.
Iblis segera meninggalkan rumah Ayyub dengan rasa kecewa bahawa racun hasutannya tidak termakan oleh hati hamba Allah yang bernama Ayyub itu. Akan tetapi Iblis tidak akan pernah berputus asa melaksanakan sumpah yang ia telah nyatakan di hadapan Allah dan malaikat-Nya bahawa ia akan berusaha menyesatkan Bani Adam di mana saja mereka berada. Ia merencanakan melanjutkan usaha gangguan dan godaannya kepada Ayyub lewat penghancuran keluarganya yang sedang hidup rukun, damai dan saling hidup cinta mencintai dan harga menghargai. Iblis datang lagi menghadap kepada Tuhan dan meminta izin meneruskan usahanya mencuba Ayyub. Berkata ia kepada Tuhan: “Wahai Tuhan, Ayyub tidak termakan oleh hasutanku dan sedikit pun tidak goyah iman dan aqidahnya kepada-Mu meski pun ia sudah kehilangan semua kekayaannya dan kembali hidup papa dan miskin kerana ia masih mempunyai putera-putera yang cekap yang dapat ia andalkan untuk mengembalikan semua yang hilang itu dan menjadi sandaran serta tumpuan hidupnya di hari tuanya. Menurut perkiraanku, Ayyub tidak akan bertahan jika musibah yang mengenai harta kekayaannya mengenai keluarganya pula, apa lagi bila ia sangat sayang dan mencintai, maka izinkanlah aku mencuba kesabarannya dan keteguhannya kali ini melalui godaan yang akan aku lakukan terhadap keluarganya dan putera-puteranya yang ia sangat sayang dan cintai itu.”

Allah meluluskan permintaan Iblis itu dan berfirman: “Aku mengizinkan engkau mencuba sekali lagi menggoyahkan hati Ayyub yang penuh iman, tawakkal dan kesabaran tiu dengan caramu yang lain, namun ketahuilah bahawa engkau tidak akan berhasil mencapai tujuanmu melemahkan iman Ayyub dan menipiskan kepercayaannya kepada-Ku.”
Iblis lalu pergi bersama pembantu-pembantunya menuju tempat tinggal putera-putera Ayyub di suatu gedung yang penuh dengan sarana-sarana kemewahan dan kemegahan, lalu digoyangkanlah gedung itu hingga roboh berantakan menjatuhi dan menimbuni seluruh penghuninya. Kemudian cepat-cepatlah pergi Iblis mengunjungi Ayyub di rumahnya, menyerupai sebagai seorang dari kawan-kawan Ayyub, yang datang menyampaikan takziah dan menyatakan turut berdukacita atas musibah yang menimpa puteranya. Ia berkata kepada Ayyub dalam takziahnya: “Hai Ayyub, sudahkah engkau melihat putera-puteramu yang mati tertimbun di bawah runtuhan gedung yang roboh akibat gempa bumi? Kiranya, wahai Ayyub, Tuhan tidak menerima ibadahmu selama ini dan tidak melindungimu sebagai imbalan bagi amal solehmu dan sujud rukukmu siang dan malam.”

Mendengar kata-kata Iblis itu, menangislah Ayyub tersedu-sedu seraya berucap: “Allahlah yang memberi dan Dia pulalah yang mengambil kembali. Segala puji bagi-Nya, Tuhan yang Maha Pemberi dan Maha Pencabut.”

Iblis keluar meninggalkan Ayyub dalam keadaan bersujud munajat dengan rasa jengkel dan marah kepada dirinya sendiri kerana telah gagal untuk kedua kalinya memujuk dan menghasut Ayyub. Ia pergi menghadap Tuhan dan berkata: “Wahai Tuhan, Ayyub sudah kehilangan semua harta benda dan seluruh kekayaannya dan hari ini ia ditinggalkan oleh putera-puteranya yang mati terbunuh di bawah runtuhan gedung yang telah kami hancurkan , namun ia masih tetap dalam keadaan mentalnya yang kuat dan sihat. Ia hanya menangis tersedu-sedu namun batinnya, jiwanya, iman dan kepercayaannya kepada-Mu tidak tergoyah sama sekali. Izinkan aku mencubanya kali ini mengganggu kesihatan bandanya dan kekuatan fizikalnya, kerana jika ia sudah jatuh sakit dan kekuatannya menjadi lumpuh, nescaya ia akan mulai malas melakukan ibadah dan lama-kelamaan akan melalaikan kewajibannya kepada-Mu dan menjadi lunturlah iman dan akidahnya.”

Allah tetap menentang Iblis bahawa ia tidak akan berhasil dalam usahanya menggoda Ayyub walau bagaimana pun besarnya musibah yang ditimpakan kepadanya dan bagaimana pun beratnya cubaan yang dialaminya. Kerana Allah telah menetapkan dia menjadi teladan kesabaran, keteguhan iman dan ketekunan beribadah bagi hamba-hamba-Nya. Allah berfirman kepada Iblis: “Bolehlah engkau mencuba lagi usahamu mengganggu kesihatan badan dan kekuatan fizikal Ayyub. Aku akan lihat sejauh mana kepandaianmu mengganggu dan menghamba pilihan-Ku ini.”

Iblis lalu memerintahkan kepada anak buahnya agar menaburkan benih-benih baksil penyakit ke dalam tubuh Ayyub. Baksil-baksil ysng ditaburkan itu segera mengganyang kesihatan Ayyub yang menjadikan ia menderita berbagai-bagai penyakit, deman panas, batuk dan lain-lain lagi sehingga menyebabkan badannya makin lama makin kurus, tenaganya makin lemah dan wajahnya menjadi pucat tidak berdarah dan kulitnya menjadi berbintik-bintik . Ianya akhir dijauhi oleh orang-orang sekampungnya dan oleh kawan-kawan dekatnya, kerana penyakit Ayyub dapat menular dengan cepatnya kepada orang-orang yang menyentuhnya atau mendekatinya. Ia menjadi terasing daripada pergaulan orang di tempatnya dan hanya isterinyalah yang tetap mendampinginya, merawatnya dengan penuh kesabaran dan rasa kasih sayang, melayani segala keperluannya tanpa mengeluh atau menunjukkan tanda kesal hati dari penyakit suaminya yang tidak kunjung sembuh itu.

Iblis memperhatikan Ayyub dalam keadaan yang sudah amat parah itu tidak meninggalkan adat kebiasaannya, ibadahnya, zikirnya, ia tidak mengeluh, tidak bergaduh, ia hanya menyebut nama Allah memohon ampun dan lindungan-Nya bila ia merasakan sakit. Iblis merasa kesal hati dan jengkel melihat ketabahan hati Ayyub menanggung derita dan kesabarannya menerima berbagai musibah dan ujian. Iblis kehabisan akal, tidak tahu apa usaha lagi yang harus diterapkan bagi mencapai tujuannya merusakkan aqidah dan iman Ayyub. Ia lalu meminta bantuan fikiran dari para kawan-kawan pembantunya, apa yang harus dilakukan lagi untuk menyesatkan Ayyub setelah segala usahanya gagal tidak mencapai sasarannya.

Bertanya mereka kepadanya: “Di manakah kepandaianmu dan tipu dayamu yang ampuh serta kelincinanmu menyebar benih was-was dan ragu ke dalam hati manusia yang biasanya tidak pernah sia-sia?” Seorang pembantu lain berkata: “Engkau telah berhasil mengeluarkan Adam dari syurga, bagaimanakah engkau lakukan itu semuanya sampai berhasilnya tujuanmu itu?”
“Dengan memujuk isterinya”, jawab Iblis. “Jika demikian” berkata syaitan itu kembali, “Laksanakanlah siasat itu dan terapkanlah terhadap Ayyub, hembuskanlah racunmu ke telinga isterinya yang tampak sudah agak kesal merawatnya, namun masih tetap patuh dan setia.”

“Benarlah dan tepat fikiranmu itu,” kata Iblis, “Hanya tinggal itulah satu-satu jalan yang belum aku cuba. Pasti kali ini dengan cara menghasut isterinya aku akan berhasil melaksanakan akan maksudku selama ini.”
Dengan rencana barunya pergilah Iblis mendatangi isteri Ayyub, menyamar sebagai seorang kawan lelaki yang rapat dengan suaminya. Ia berkata kepada isteri Ayyub: “Apa khabar dan bagaimana keadaan suamimu di ketika ini?”
Seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah suaminya, berkata isteri Ayyub kepada Iblis itu, tamunya: “Itulah dia terbaring menderita kesakitan, namun mulutnya tidak henti-hentinya berzikir menyebut nama Allah. Ia masih berada dalam keadaan parah, mati tidak hidup pun tidak.”

Kata-kata isteri Ayyub itu menimbulkan harapan bagi Iblis bahawa ia kali ini akan berhasil maka diingatkanlah isteri Ayyub akan masa mudanya di mana ia hidup dengan suaminya dalam keadaan sihat, bahagia dan makmur dan dibawakannyalah kenang-kenangan dan kemesraan. Kemudian keluarlah Iblis dari rumah Ayyub meninggalkan isteri Ayyub duduk termenung seorang diri, mengenangkan masa lampaunya, masa kejayaan suaminya dan kesejahteraan hidupnya, membanding-bandingkannya dengan masa di mana berbagai penderitaan dan musibah dialaminya, yang dimulai dengan musnahnya kekayaan dan harta-benda, disusul dengan kematian puteranya, dan kemudian yang terakhirnya diikuti oleh penyakit suaminya yang parah yang sangat menjemukan itu. Isteri Ayyub merasa kesepian berada di rumah sendirian bersama suaminya yang terbaring sakit, tiada sahabat tiada kerabat, tiada handai, tiada taulan, semua menjauhi mereka kerana khuatir kejangkitan penyakit kulit Ayyub yang menular dan menjijikkan itu.

Seraya menarik nafas panjang datanglah isteri Ayyub mendekati suaminya yang sedang menderita kesakitan dan berbisik-bisik kepadanya berkata: “Wahai sayangku, sampai bilakah engkau terseksa oleh Tuhanmu ini? Di manakah kekayaanmu, putera-puteramu, sahabat-sahabatmu dan kawan-kawan terdekatmu? Oh, alangkah syahdunya masa lampau kami, usia muda, badan sihat, sarana kebahagiaan dan kesejahteraan hidup tersedia dikelilingi oleh keluarga dan terulang kembali masa yang manis itu? Mohonlah wahai Ayyub dari Tuhanmu, agar kami dibebaskan dari segala penderitaan dan musibah yang berpanjangan ini.”

Berkata Ayyub menjawab keluhan isterinya: “Wahai isteriku yang kusayangi, engkau menangisi kebahagiaan dan kesejahteraan masa yang lalu, menangisi anak-anak kita yang telah mati diambil oleh Allah dan engkau minta aku memohon kepada Allah agar kami dibebaskan dari kesengsaraan dan penderitaan yang kami alami masa kini. Aku hendak bertanya kepadamu, berapa lama kami tidak menikmati masa hidup yang mewah, makmur dan sejahtera itu?” “Lapan puluh tahun”, jawab isteri Ayyub. “Lalu berapa lama kami telah hidup dalam penderitaan ini?” tanya lagi Ayyub. “Tujuh tahun”, jawab si isteri.

“Aku malu”, Ayyub melanjutkan jawabannya,” memohon dari Allah membebaskan kami dari sengsaraan dan penderitaan yang telah kami alami belum sepanjang masa kejayaan yang telah Allah kurniakan kepada kami. Kiranya engkau telah termakan hasutan dan bujukan syaitan, sehingga mulai menipis imanmu dan berkesal hati menerima taqdir dan hukum Allah. Tunggulah ganjaranmu kelak jika aku telah sembuh dari penyakitku dan kekuatan badanku pulih kembali. Aku akan mencambukmu seratus kali. Dan sejak detik ini aku haramkan diriku makan dan minum dari tanganmu atau menyuruh engkau melakukan sesuatu untukku. Tinggalkanlah aku seorang diri di tempat ini sampai Allah menentukan taqdir-Nya.”

Setelah ditinggalkan oleh isterinya yang diusir, maka Nabi Ayyub tinggal seorang diri di rumah, tiada sanak saudara, tiada anak dan tiada isteri. Ia bermunajat kepada Allah dengan sepenuh hati memohon rahmat dan kasih sayang-Nya. Ia berdoa: “Wahai Tuhanku, aku telah diganggu oleh syaitan dengan kepayahan dan kesusahan serta seksaan dan Engkaulah wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”
Allah menerima doa Nabi Ayyub yang telah mencapai puncak kesabaran dan keteguhan iman serta berhasil memenangkan perjuangannya melawan hasutan dan bujukan Iblis. Allah mewahyukan firman kepadanya: “Hantamkanlah kakimu ke tanah. Dari situ air akan memancur dan dengan air itu engkau akan sembuh dari semua penyakitmu dan akan pulih kembali kesihatan dan kekuatan badanmu jika engkau gunakannya untuk minum dan mandimu.”

Dengan izin Allah setelah dilaksanakan petunjuk Illahi itu, sembuhlah segera Nabi Ayyub dari penyakitnya, semua luka-luka kulitnya menjadi kering dan segala rasa pedih hilang, seolah-olah tidak pernah terasa olehnya. Ia bahkan kembali menampakkan lebih sihat dan lebih kuat daripada sebelum ia menderita.
Dalam pada itu isterinya yang telah diusir dan meninggalkan dia seorang diri di tempat tinggalnya yang terasing, jauh dari jiran, jauh dari keramaian kota, merasa tidak sampai hati lebih lama berada jauh dari suaminya, namun ia hampir tidak mengenalnya kembali, kerana bukanlah Ayyub yang ditinggalkan sakit itu yang berada didepannya, tetapi Ayyub yang muda belia, segar bugar, sihat afiat seakan-akan tidak pernah sakit dan menderita. Ia segera memeluk suaminya seraya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan rahmat dan kurnia-Nya mengembalikan kesihatan suaminya bahkan lebih baik daripada keadaan asalnya.

Nabi Ayyub telah bersumpah sewaktu ia mengusir isterinya akan mencambuknya seratus kali bila ia sudah sembuh. Ia merasa wajib melaksanakan sumpahnya itu, namun merasa kasihan kepada isterinya yang sudah menunjukkan kesetiaannya dan menyekutuinya di dalam segala duka dan deritanya. Ia bingung, hatinya terumbang-ambingkan oleh dua perasaan, ia merasa berwajiban melaksanakan sumpahnya, tetapi isterinya yang setia dan bakti itu tidak patut, kata hatinya, menjalani hukuman yang seberat itu. Akhirnya Allah memberi jalan keluar baginya dengan firman-Nya: “Hai Ayyub, ambillah dengan tanganmu seikat rumput dan cambuklah isterimu dengan rumput itu seratus kali sesuai dengan sesuai dengan sumpahmu, sehingga dengan demikian tertebuslah sumpahmu.”

Nabi Ayyub dipilih oleh Allah sebagai nabi dan teladan yang baik bagi hamba-hamba_Nya dalam hal kesabaran dan keteguhan iman sehingga kini nama Ayyub disebut orang sebagai simbul kesabaran. Orang menyatakan , si Fulan memiliki kesabaran Ayyub dan sebagainya. Dan Allah telah membalas kesabaran dan keteguhan iman Ayyub bukan saja dengan memulihkan kembali kesihatan badannya dan kekuatan fizikalnya kepada keadaan seperti masa mudanya, bahkan dikembalikan pula kebesaran duniawinya dan kekayaan harta-bendanya dengan berlipat gandanya. Juga kepadanya dikurniakan lagi putera-putera sebanyak yang telah hilang dan mati dalam musibah yang ia telah alami. Demikianlah rahmat Tuhan dan kurnia-Nya kepada Nabi Ayyub yang telah berhasil melalui masa ujian yang berat dengan penuh sabar, tawakkal dan beriman kepada Allah.

Kisah Ayyub di atas dapat dibaca dalam Al-Quran surah Shaad ayat 41 sehingga ayat 44 dan surah Al-Anbiaa’ ayat 83 dan 84

%d blogger menyukai ini: