AL-JARH WA AL-TA’DIL


Al-Jarh wa Al-Ta’dil

Oleh:

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani

ibn Abd Asy-Syukr Ash-Shiddiq

  1. A. Pendahuluan

Pada abad pertama Hijriyah, permasalahan al-Jarh wa al-Ta’dil tidak begitu tampak, karena para Shahabat dikenal sebagai orang yang ‘adil, sementara sebagian besar tabi’in juga dari kalangan ‘adil.[1] Meski demikian, pada zaman ini juga dikenal adanya kritikus dari kalangan shahabat, yaitu Ubaidah bin al-Tsamit wafat tahun 93 H. Dari kalangan tabi’in juga dikenal ‘Amir bin Syarahi yang dikenal dengan Al-Sya’bi yang wafat tahun 109 H dan Imam Muhammad bin Sirin yang wafat tahun 110 H.[2]

Pada abad kedua Hijriyah, banyak dari kalangan tabi’in kecil dan tabi’it tabi’in yang memiliki kelemahan daya hapal dan kurangnya kecermatan[3], sehingga muncullah pemikiran dari beberapa tokoh kalangan tabi’it tabi’in untuk mengantisipasi permasalahan itu, dengan membuat aturan-aturan yang digunakan untuk memisahkan antara yang kuat dan yang lemah hapalannya dan antara perawi yang diterima dan yang ditolak haditsnya.[4] Penelitian mengenai persyaratan Rawi yang berkaitan dengan istilah-istilah para kritikus hadits tersebut berlangsung sampai akhir abad ketiga hijriyah.[5]

Ilmu Al-Jarh wa Al-Ta’dil adalah “timbangan” bagi para rawi hadits.[6] Oleh karena itu para ulama hadits memperhatikan ilmu ini dengan penuh perhatian dan mencurahkan segala pikirannya untuk menguasainya. Merekapun ber-ijma’ atas validitasnya, bahkan kewajibannya karena kebutuhan yang mendesak atas ilmu ini. Hal ini diterangkan dalam beberapa riwayat dari Ulama para kritikus Hadits, seperti Abdullah bin al-Mubarrak[7], Ahmad bin Hambal[8] dan Yahya bin Sa’id.[9]

Seandainya para ulama kritikus rawi itu tidak mencurahkan segala perhatiannya dalam masalah ini dengan meneliti keadilan para rawi, menguji hapalan dan kekuatan ingatannya, hingga untuk itu mereka tempuh Rihlah yang panjang, menanggung kesulitan yang besar, mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap para rawi yang pendusta, yang lemah dan kacau hapalannya, seandainya bukan usaha mereka, niscaya akan menjadi kacau balaulah urusan Islam; orang-orang Zindiq akan berkuasa, dan para Dajjal akan bermunculan.[10]

  1. B. Pengertian Al-Jarhu dan Al-Ta’dil

Secara bahasa, Al-Jarh adalah bentuk masdhar dari fi’il Jaraha Yajruhu. Yang artinya melukai atau luka. Jika terjadi pada tubuh, maka berarti luka yang bisa mengalirkan darah.[11] Al-’Adl adalah apa yang ada pada jiwa yang menunjukkan dia lurus. ‘Adl merupakan lawan kata al-Jaur (aniaya). Lelaki yang ‘adil diterima kesaksiannya. Peng’adilan seseorang berarti penyuciannya.[12]

Secara istilah, Al-Jarh adalah tampaknya sifat pada rawi yang menutup ke’adilannya atau menghilangkan hafalannya dan kecermatannya.[13] Jarh menurut muhaddisin adalah menunjukkan sifat-sifat cela rawi, sehingga mengangkat atau mencacatkan ‘adalah atau kedhabithannya.[14] Al-‘Adl adalah orang yang belum tampak cacat pada masalah dunianya dan muru’ahnya Sedangkan al-Ta’dil adalah menyifati rawi dengan sifat-sifat Tazkiyah (pembersihan terhadap diri orang lain) yang menampakkan ke’adilannya untuk diterimanya periwayatan mereka.[15] Ta’dil adalah kebalikan dari Jarh, yaitu menilai bersih terhadap seorang rawi dan menghukumnya bahwa ia adil atau dhabith.[16]

Dengan demikian ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil adalah ilmu yang membahas hal ikhwal periwayatan hadits dari diterima atau ditolaknya periwayatannya.[17]

  1. C. Masalah-Masalah Dalam Ilmu Al-Jarh dan Al-Ta’dil
    1. Syarat Ulama al-Jarih wa al-Mu’addil.

–       Berilmu[18], bertaqwa, wara’ dan jujur.[19]

–       Mengetahui sebab-sebab al-Jarh dan al-Ta’dil.[20]

–       Ia dikenal sebagai orang yang bijak[21] dan bukan termasuk orang fanatik terhadap suku (etnis), jenis, qabilah atau mazhab.[22]

–       Ia mengetahui penggunaan kalimat-kalimat bahasa Arab.[23]

–       Ia dikenal sebagai orang yang baik hapalannya ataupun kedhabitannya dan mempunyai kesadaran (komitmen).[24]

–       Hendaknya ia mempunyai tujuan untuk memurnikan Sunnah Rasulullah saw.[25]

  1. Beberapa Hal Yang Tidak Disyaratkan Bagi Ulama al-Jarih wa al-Mu’addil

–       Tidak disyaratkan bagi ulama al-Jarih wa al-Mu’addil harus laki-laki.[26]

–       Tidak disyaratkan bagi ulama al-Jarih wa al-Mu’addil harus merdeka.

–       Tidak disyaratkan bagi ulama al-Jarih wa al-Mu’addil harus harus dua orang.[27]

  1. Tata Tertib al-Jarh wa al-Ta’dil

–       Bersikap objektif dalam Tazkiyah[28]

–       Tidak boleh Jarh melebihi kebutuhan.[29]

–       Tidak boleh hanya mengutip jarh saja, sehubungan dengan yang dinilai jarh oleh sebagian kritikus, tetapi dinilai ‘adil oleh sebagian lainya.[30]

–       Tidak boleh jarh terhadap rawi yang tidak perlu dijarh, karena hukum disyariatkannya lantaran darurat.[31]

  1. Syarat Rawi Hadits

–       Islam[32]

–       Berakal sehat

–       Jujur

–       Bukan Mudallis (pemalsu Hadits).[33]

–       ‘Adil[34]

–       Hafizh dan Dhabit[35]

–       Normal pendengarannya, tidak tuli, tidak gila dan amoral.[36]

  1. Syarat diterimanya al-Jarh wa al-Ta’dil

–       Al-Jarh wa al-Ta’dil diucapkan oleh ulama yang telah memenuhi segala syarat sebagai ulama al-Jarh wa al-Ta’dil.[37]

–       Jarh tidak dapat diterima, kecuali dijelaskan sebab-sebabnya.[38] Adapun ta’dil tidak disyaratkan harus disertai penjelasan sebab-sebabnya.[39]

–       Dapat diterima jarh yang sederhana tanpa dijelaskan sebab-sebabnya terhadap seorang rawi yang sama sekali tidak ada yang menta’dilnya.[40]

–       Jarh harus terlepas dari berbagai hal yang menghalanginya diterimanya jarh tersebut. Maka bila ada hal-hal yang menghalanginya, jarh tidak dapat diterima.[41]

  1. Pertentangan Antara al-Jarh dan al-Ta’dil

Bila terjadi pertentangan antara jarh dan ta’dil terhadap seorang rawi, maka jarh didahulukan atas ta’dil, meskipun yang menta’dil itu lebih banyak.[42] Kaidah ini tidak berlaku mutlak, tetapi dibatasai oleh syarat-syarat sebagai berikut:

–       Jarh harus dijelaskan dan memenuhi syarat-syaratnya.[43]

–       Orang yang menjarh tidak sentimen atas orang yang dijarh atau terlalu mempersulit dalam menjarh.[44]

–       Penta’dil tidak menyebutkan sebab-sebab jarh bagi rawi yang dijarhnya.[45]

  1. Hal-Hal Yang Menetapkan Jarh dan Ta’dil Bagi Seorang Rawi

–       Dua orang ahli ilmu menyatakan penta’dilannya atau penjarahannya.

–       Telah masyhur di kalangan ahli riwayat bahwa ia (rawi) adalah seorang periwayat yang tsiqat.[46]

–       Ta’dil oleh seorang.[47]

–       Ta’dil bagi orang yang dikenal sebagai pengemban ilmu.[48]

  1. Tingkatan Lafazh-Lafazh al-Jarh wa al-Ta’dil

Tulisan yang pertama kali tentang klasifikasi status para rawi ini adalah karya tokoh kritikus Islam al-Imam bin al-Imam Abdurrahman bin Abi Hatim al-Razi (w. 327 H) dalam kitab besarnya Al-Jarh wa al-Ta’dil. Ia menyusun martabat Jarh dan Ta’dil masing-masing terdiri atas empat martabat Ta’dil[49] dan empat martabat Jarh.[50] Klasifikasi ini diikuti oleh Ibnu ash-Shalah dan al-Nawawi tanpa ada perubahan sedikitpun.[51]

Al-Dzahabi dalam kitabnya Mizam al-I’tidal juga mengklasifikasikan martabat ta’dil menjadi empat martabat, tetapi ia menyatukan martabat ke-3 dan ke-4 –dari martabat-martabat yang dibuat oleh al-Razi– menjadi satu martabat saja, lalu menambahkan satu perincian lagi di atasnya[52]. Dengan demikian,        al-Dzahabi menambahkan satu lagi martabat yang lebih tinggi dari pada yang diuraikan oleh al-Razi. Dalam martabat jarh pun al-Dzahabi juga menambahkan satu martabat.[53] Pendapat al-Dzahabi ini diikuti oleh al-Iraqi, hanya saja ia lebih merinci dan menjelaskannya dengan mencantumkan kata-kata “Martabat Pertama”, “Martabat Kedua” dan seterusnya sebagai ganti kata “tsumma” (=kemudian). Disamping itu, beliau juga menyebutkan lebih banyak lafazh-lafazh julukan pada setiap martabat, serta menjelaskan hukum masing-masing martabat.[54]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitabnya al-Nukhbah menambahkan satu martabat lagi pada martabat-martabat ta’dil yang dikemukakan oleh al-Dzahabi dan al-Iraqi[55], sehingga martabat Ta’dil menjadi lima tingkatan. Kemudian dalam kitab Tahdzib al-Tahdzib dan Taqrib al-Tahdzib, Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani menambahkan satu martabat lagi yang lebih tinggi, yaitu martabat Shahabat. Dengan demikian martabat ta’dil menjadi enam.[56] Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani juga menambahkan satu martabat Jarh[57] di antara martabat-martabat Jarh, sehingga baik Ta’dil maupun Jarh, kedua-duanya memiliki enam martabat.

–       Klasifikasi Lafazh al-Ta’dil

1)     Martabat pertama atau tertinggi, yaitu Martabat Shahabat r.a.[58]

2)     Martabat kedua; Martabat tertinggi menurut penilaian ulama dalam tazkiyah dan seleksinya.[59]

3)     Martabat ketiga; Martabat dengan lafazh-lafazh ta’dil yang diulang-ulang[60], baik pengulangan maknawi,[61] maupun lafzhi.[62]

4)     Martabat keempat; Martabat dengan lafazh ta’dil tunggal.[63]

5)     Martabat kelima; Martabat dengan lafazh yang hanya menunjukkan kebaikan keadaan rawi atau tanpa penekanan.[64]

6)     Martabat keenam; Martabat dengan lafazh-lafazh yang memberikan kesan lebih dekat dengan martabat jarh.[65]

–       Klasifikasi lafazh al-Jarh

1)     Martabat pertama, atau martabat jarh yang paling ringan, yaitu yang apabila diucapkan lafazh-lafazh jarh martabat ini kepada seorang rawi, maka rawi tersebut tidak berarti gugur, tetapi haditsnya jatuh pada i’tibar. Ia hanya mengalami jarh karena suatu hal, tetapi tidak menggugurkan keadilannya.[66]

2)     Martabat dengan lafazh jarh yang tidak menggugurkan rawi, tetapi ia dapat dipakai i’tibar, yaitu dengan meneliti sejumlah riwayat lain yang dapat memperkuatnya sehingga hadits tersebut dapat dipakai hujjah.[67]

3)     Martabat jarh terendah, yaitu apabila lafazh-lafazh dalam martabat ini diucapkan kepada seorang rawi, maka haditsnya ditolak.[68]

4)     Martabat jarh dengan lafazh-lafazh yang lebih berat dari martabat ketiga.[69]

5)     Martabat jarh dengan lafazh yang lebih keras.[70]

6)     Martabat jarh dengan lafazh yang paling berat dan keras dengan lafazh jarh yang berlebihan.[71]

  1. D. Kesimpulan

Berdasarkan uraian singkat tentang al-Jarh wa al-Ta’dil yang telah penulis kemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa al-Jarh wa al-Ta’dil adalah salah satu cabang ilmu Hadits yang sangat berperan dalam menentukan status sebuah hadits dengan berorientasi pada aspek periwayatan, yaitu meneliti rawi (orang yang meriwayatkan hadits dari masa Rasulullah saw. hingga masa pembukuan Hadits) dengan memberikan penilaian baik (ta’dil) dan penilaian buruk (jarh), yang dengan hasil dari penilaian tersebut akan dapat ditentukan status sebuah hadits akan diterima atau ditolak.

Dalam ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil ini, ada beberapa kajian yang terkait erat dengan usaha menetapkan status hadits diterima atau ditolak, yaitu dari menetapkan hal-hal yang disyaratkan bagi Ulama al-Jarh wa al-Ta’dil, hal-hal yang berkenaan dengan diterima atau ditolaknya al-Jarh wa al-Ta’dil, hingga merumuskan dan mengklasifikasi lafazh-lafazh jarh atau ta’dil dalam derajat-derajat tertentu yang akan menentukan bagaimana status suatu hadits. Wallahu a’lam.

Khairil Yulian

Daftar Pustaka

Ahmad Umar Hasyim, Qawa’id Ushul al-Hadits, Dar al-Fikr, Beirut, t.th.

Mahmud Ali Fayyad, Manhaj al-Muhadditsin fi Dhabth al-Sunnah,   Terj: Drs. A. Zarkasyi Chumaidy, Cet. I, CV. Pustaka Setia, Bandung, 1998.

Muhammad Ijaj al-Khatib, Ushul al-Hadits Ulumuhu wa Musthalahuhu, Darul Fikr, Beirut, 1989.

Musthafa al-Saba’i, Al-Sunnah wa makanatuhu fi al-Tasyri’ al-Islami, Terj.: Dr. Nurchalish Madjid, Sunah dan Peranannya Dalam penetapan Hukum Islam: Sebuah pembelaan Kaum Sunni, Cet. III, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1995.

Nuruddin ITR., Manhaj An-Naqd fii Ulumi Al-Hadits, Terj: Drs. H. Endang Soetari AD. dan Drs. Mujiyo, Ulumul Qur’an, PT. Remaja Roesdakarya, Bandung, t.th.

Subhi Ash-shalih, Ulum al-Hadits wa Musthalahuhu, Terj. Tim Pustaka Firdaus, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits, Cet. III, Pustaka Firdaus, Jakarta: 2000.

Yusuf Qardhawy, Al-Madhal li Dirasat al-Sunnah al-Nabawiyyah, Terj: A. Najiyullah dan Hidayatullah Nawawi, Kajian Kritis Pemahaman Hadits, Cet. I, Islamuna Press, Jakarta, 1994.


[1]Telah diketahui bahwa Shahabat itu ‘adil karena tidak ada yang melakukan Jarh dan Ta’dil. begitu juga para tabi’in adalah orang yang baik-baik. Sebagian besar mereka adalah baik dan sebagian kecil lainnya tergolong tidak baik. Oleh sebab itu, orang yang dikritik dari kalangan mereka sedikit sekali, karena nilai ketaqwaan menjadi corak dan warna (ciri khas) zamannya, dalam segi mental dan etikanya. Lihat: Dr. Mahmud Ali Fayyad, Manhaj al-Muhadditsin fi Dhabth al-Sunnah, terj: Drs. A. Zarkasyi Chumaidy, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998), Cet. I., h. 91.

[2]Ibid.; Imam Muhammad bin Sirin berkata, “mereka pada mulanya tidak menanyakan tentang Isnad, setelah terjadi fitnah, barulah mereka berkata; “Sebutkanlah nama-nama perawimu untuk kami!” maka dilihatlah orang-orang dari ahl al-sunnah untuk kemudian diambil haditsnya. Dan ditiliklah ahl al-Bid’ah untuk kemudian ditinggalkan riwayat-riwayatnya.” Dr. Yusuf Qardhawy, Al-Madhal li Dirasat al-Sunnah al-Nabawiyyah, Terj: A. Najiyullah dan Hidayatullah Nawawi, Kajian Kritis pemahaman hadits, (Jakarta: Islamuna press, 1994), Cet. I, h. 96.

[3]Hal yang menjadi corak zaman ini adalah sebagian dari mereka membuat kesalahan atau tadlis (mengganti nama perawi sanad), mengganti nama gurunya (Tadlis Syuyukh), melakukan hal-hal yang menimbulkan penolakan hadits, banyaknya kelemahan dan sedikitnya kecermatannya dan berkembang menjadi pembicaraan-pembicaraan yang terjadi pada masa Rasul dan pada masa shahabat. Dr. Mahmud Ali fayyad, Loc.Cit.

[4]Ibid., h. 91; Sikap yang cenderung ketat dan selektif tersebut lahir dari perasaan para kritikus hadits akan nilai hadits yang diriwayatkan. Bagaimanapun hadits bukanlah ucapan manusia biasa, atau bait-bait syair atau bahkan pidato atau cerita. Hadits adalah peraturan-peraturan yang hanya boleh dikutip dari sumber yang benar dan sepenuhnya dapat dipercaya. Dr. Subhi al-Shalih, Ulum al-Hadits wa Musthalahuhu, Terj.: Tim Pustaka Firdaus, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), Cet. III, h. 121.

[5]Dr. Subhi Ash-shalih, Op.Cit., h. 124.

[6] Rawi yang berat timbangannya diterima riwayatnya, dan rawi yang ringan timbangannya ditolak riwayatnya. Dr. Nuruddin ITR., Manhaj An-Naqd fii Ulumi Al-Hadits, Terj: Drs. H. Endang Soetari AD. dan Drs. Mujiyo, Ulumul Qur’an, (Bandung: PT. Remaja Roesdakarya, t.th.), h. 78.

[7]Abdullah al-Mubarrak (wafat 181 H) adalah seorang kritikus hadits abad kedua Hijriyah. Nama lengkapnya Abdullah al-Mubarrak al-Handzali. Lihat: Ibid., h. 92; Sebagian Ulama tasawuf bertanya kepada Abdullah bin Al-Mubarrak, “Apakah engkau berbuat Ghibah menggunjing orang lain?” Abdullah menjawab, “Diamlah! Kalau tidak demikian kita tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengetahui kebenaran dan kebathilan.” Lihat: Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 78.

[8]Imam Ahmad bin Hambal, Imam mujtahid muhaddits kritikus hadits wafat tahun 214 H.;  Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 94; Abu Thurab al-Nakhsyubi al-Zahid berkata kepada Ahmad bin Hambal, ”Ya, Syaikh! Janganlah mengghibah para Ulama!” Imam Ahmad menjawab, “Celaka kamu! Ini adalah nasehat. Ini bukan ghibah.” Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 78.

[9]Yahya bin Sa’id al-Qathan yang terkenal di seluruh lapisan penjuru dunia, seorang hafizh hujjah yang banyak pengetahuannya tentang rawi-rawi. Wafat tahun 198 H. Lihat: Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 93; Abu Bakar bin Khalld berkata kepada Yahya bin Sa’id, “Apakah engkau tidak khawatir kalau orang yang kau tinggalkan haditsnya itu menjadi musuhmu dihadapan Allah nanti?” Yahya menjawab, “Sungguh saya lebih senang mereka menjadi musuhku daripada yang menjadi musuhku adalah Rasulullah saw. di mana beliau berkata, “mengapa engkau tidak tumpas kedustaan dari haditsku?” Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 78-79.

[10]Ibid., h. 79.

[11]Lihat: Dr. Muhammad Ijaj al-Khatib, Ushul al-Hadits Ulumuhu wa Musthalahuhu, (Beirut: Darul Fikr, 1989), h. 260; Lihat pula: Dr. Ahmad Umar Hasyim, Qawa’id Ushul al-Hadits, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h. 190.

[12]Lihat: Dr. Ahmad Umar Hasyim, Loc.Cit. Lihat pula: Dr. Muhammad Ijaj al-Khatib, Loc.Cit.

[13]Ibid.

[14]Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 77-78.

[15]Lihat: Dr. Muhammad Ijaj al-Khatib, Op.Cit., h. 261; Lihat pula: Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 66.

[16]Dr. Nuruddin ITR., Loc,Cit.

[17]Lihat: Dr. Muhammad Ijaj al-Khatib, Loc.Cit.

[18]Mengetahui kaidah-kaidah ilmu Hadits. Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 71.

[19]Seorang ulama al-Jarh wa al-Ta’dil hendaknya dikenal sebagai orang yang berilmu, jujur, taqwa dan wara’ (shalih). Lihat: Ibid.; Apabila Ulama Hadits tidak memiliki sifat-sifat ini, maka bagaimana ia dapat menghukum seseorang dengan al-Jarh wa al-Ta’dil yang senantiasa membutuhkan ke’adilannya. Al-Hafizh berkata, “Seyogyanyalah al-Jarh wa al-Ta’dil tidak diterima, kecuali dari orang yang adil dan kuat ingatannya, yakni orang yang mampu mengungkapkan hadits dan kuat ingatannya, sehingga menjadikannya berhati-hati dan ingat dengan tepat terhadap terhadap hadits yang diucapkannya. Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 79.

[20]Mengetahui rawi yang diterima dan tidak diterima menurut Muhadditsin, mengetahui rijal (rawi-rawi) beserta keadaan mereka. Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 71-72; Tazkiyah (pembersihan terhadap diri orang lain) dapat diterima bila dilakukan oleh orang yang mengetahui sebab-sebabnya, agar ia tidak hanya memberikan Tazkiyah dengan apa yang kelihatan olehnya secara sepintas tanpa mendalami dan memeriksanya. Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 79-80. Lihat: Dr. Muhammad Ijaj al-Khatib, Op.Cit., h. 268.

[21]Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 71.

[22]Ibid., h. 72.

[23]Dengan mengetahui penggunaan kalimat-kalimat bahasa Arab, maka suatu lafazh yang digunakan tidak dipakai untuk selain maknanya, dalam konteknya dengan Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil, seorang Ulama al-Jarh wa al-Ta’dil tidak akan menjarh dengan lafazh yang tidak sesuai untuk menjarhnya. Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 80.

[24]Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 72

[25]Memurnikan dari unsur-unsur ahli bid’ah dan kebohongan dari para pendusta, serta bermaksud mencari keridhaan Allah swt dan kemaslahatan agama. Ibid.

[26]Dalam al-Jarh wa al-Ta’dil, kaum laki-laki dan perempuan, merdeka dan hamba sahaya dinilai sama. Oleh karena itu, pembicaraan (kritik) mereka itu diterima hanyalah dari pendapat yang adil atau terpercaya dari manapun sumbernya. Ibid., h. 77.

[27]Dr. Nuruddin ITR., Loc,Cit.

[28]Tazkiyah yaitu pembersihan terhadap diri orang lain. Ibid., h. 79.

[29]Tidak bolehnya Jarh melebihi kebutuhan dikarenakan jarh itu disyari’atkan lantaran darurat; sementara darurat itu ada batasnya. Ibid., h. 80.

[30]Sikap demikian berarti telah merampas hak rawi yang bersangkutan. Ibid., h. 81.

[31]Lihat: Footnote no. 13

[32]Islam adalah adalah syarat yang paling utama, maka periwayatan orang kafir ditolak secara tegas oleh Al-Qur’an, sunnah dan Ijma’. Mahmud Ali Fayyad, Op.Cit., h. 67. Lihat: Subhi Ash-Shalih, Op.Cit., h. 114.

[33]Abu Said al-Ala’i menyebutkan nma-nama orang yang dikenal tadlis (pemalsu Hadits) dalam Kitab Jami’ al-Thahshil li Ahkam al-Marasil, kemudian ia mengatakan, “mereka tidak berasal dari dalam satu peringkat saja. Di antara mereka ada yang disifati dengan tadlis ringan, sehingga tidak dianggap Mudallis (pemalsu), namun ada juga di antara mereka yang dimungkinkan tadlis oleh para Ulama. Mahmud Ali Fayyad, Op.Cit., h. 69.

[34]Definisi Perawi ‘Adil menurut Al-Khatib al-Baghdadi adalah: “Yang tahu melaksanakan kewajibannya dan segala yang diperintahkan kepadanya, dapat menjaga diri dari larangan-larangan, menjauhi dari kejahatan, mengutamakan kebenaran dan kewajiban dalam segala tindakan dan pergaulannya, serta menjaga perkataan yang bisa merugikan agama dan merusak kepribadian. Barangsiapa dapat mempertahankan sifat-sifat tersebut, ia bisa disebut bersikap ‘adil terhadap agamanya, dan hadits-haditsnya diakui kejujurannya. Ibid., h. 117; di antara bukti yang menunjukkan keadilan ialah ia tidak pernah berbuat dosa besar dan tidak terus menerus mengerjakan dosa kecil. Lebih dari itu, mereka mensyaratkan di samping taqwa juga harus mempunyai muru’ah (sifat kemanusiaan yang baik). Dalam kata lain, sang perawi tidak cukup hanya meninggalkan perbuatan yang dilarang oleh al-Din, tapi juga harus meninggalkan hal-hal yang dianggap tidak baik oleh adat sopan santun. Lihat: Dr. Yusuf Qardhawy, Op.Cit., h. 98.

[35]Dhabt (Cermat), yaitu dia mendengarkan riwayat sebagaimana mestinya, mampu memahaminya dengan cermat dan seksama, menghafalnya dengan sempurna hingga tidak menimbulkan keragu-raguan, mempertahankan semuanya secara utuh mulai saat mendengar sampai waktu menyampaikannya. Ibid., h. 116; Lihat: Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 70; Perawi harus dhabt dalam hapalan maupun tulisan. Dr. Yusuf Qardhawy, Op.Cit., h. 99.

[36]Lihat: Ibid., h. 67-71; Lihat pula: Dr. Musthafa al-Saba’i, Al-Sunnah wa makanatuhu fi al-Tasyri’ al-Islami, Terj.: Dr. Nurchalish Madjid, Sunah dan Peranannya Dalam penetapan Hukum Islam: Sebuah pembelaan Kaum Sunni, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995), Cet. III, h. 227.

[37]Lihat: Point 1. Syarat Ulama al-Jarh wa al-Ta’dil. h. 3 Lihat pula: Footnote no: 18 – 23.

[38]Jika faktor penyebabnya itu tidak kuat menurut ahli kritik, maka tidak diterima. Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 73; Hal ini karena dalam menentukan sebab-sebab jarh setiap orang berbeda dengan lainnya, sehingga seseorang bisa dinilai jarh menurut persepsinya, sementara pada hakekatnya itu bukanlah sebab jarh. Oleh karena itu, jarh harus dijelaskan sebabnya, agar dapat dilihat apakah benar jarhnya atau tidak. Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 84.

[39]Ibnu as-Shalah berkata, “Menurut pendapat yang benar dan masyhur, ta’dil dapat diterima tanpa menjelaskan sebab-sebabnya. Ini karena sebab-sebabnya sangat banyak dan untuk menyebutkannya seorang penta’dil harus berkata seperti: “Rawi fulan itu tidak melakukan hal ini, tidak melanggar peraturan ini, sehingga ia juga harus menyebutkan semua perbuatan rawi tersebut yang menyebabkan kefasikan jika dikerjakan atau ditinggalkannya. Hal ini adalah suatu hal yang amat berat”. Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 84.

[40]Al-Hafizh ibnu Hajar berkata, “Apabila periwayat yang dijarh itu, sama sekali tidak ada yang menta’dilnya, maka baginya berlaku jarh yang sederhana tanpa dijelaskan sebab-sebabnya bila hal itu diucapkan oleh seorang yang bijak”. Ibid., h. 86.

[41]Ibid., h. 86.

[42]Al-Khathib al-Baghdadi mengutip dari Jumhur Ulama dan dishahihkan oleh Ibnu al-Shalah dan Muhadditsin yang lain serta sebagian Ulama Ushul, mengatakan bahwa jarh didahulukan atas ta’dil meskipun yang menta’dil itu lebih banyak, karena orang yang menta’dil hanya memberikan karakteristik yang tampak baginya, sedangkan orang yang menjarh memberitakan karakteristik yang tidak tampak dan samar bagi orang yang menta’dil. Ibid., h. 86.

[43]Lihat Point: Syarat diterimanya al-Jarh wa al-Ta’dil, h. 4-5.

[44]Diterangkan bahwa tidak diterima jarh al-Nasa’i kepada Ahmad bin Shahih al-Mashri, karena keduanya saling membenci. Ibid., h. 86.

[45]Ibid., h. 87.

[46]Barangsiapa yang masyhur sifat adilnya di kalangan ahli riwayat atau ahli ilmu yang lain, dan telah banyak pujian tentang ke-tsiqat-annya, maka tidak diperlukan saksi yang menyatakan ke’adilannya dengan kata-kata. Contohnya seperti Imam Malik, Syu’bah, Sufyan al-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Al-Laits bin sa’d, Abdullah bin Al-Mubarrak serta orang-orang yang seperti mereka dalam ketajaman ingatan dan istiqamahnya. Al-Khatib al-Baghdadi menyatakan, “Mereka dan orang-orang seumpamanya tidak perlu ditanya tentang ke’adilannya. Ibid., h. 88.

[47]Al-Khatib al-Baghdadi, Ibnu Shalah dan mayoritas ahli peneliti berpendapat bahwa Ta’dil dapat diakui walaupun dengan penyataan satu orang. Ibid.

[48]Ibnu Abd al-Bar berkata, “Setiap pengemban ilmu yang dikenal loyalitasnya terhadap ilmu adalah ‘adil, kecuali terbukti cacat dalam hidupnya atau banyak salahnya. Ibid., h. 89.

[49]Martabat ta’dil menurut al-Razi adalah: 1).Bila dikatakan bagi seseorang bahwa ia, “Tsiqat, Mutqin atau Tsabtun”, maka ia adalah orang yang haditsnya dapat dipakai hujjah. 2).Bila dikatakan baginya, “Shaduq, Mahalluhu ash-Shidq, la ba’sa bih”, maka ia adalah orang yang haditsnya dapat ditulis dan diperhatikan.. 3) Bila dikatakan baginya, “Syaikh”, maka haditsnya dapat ditulis dan diperhatikan, namun di bawah tingkatan kedua. 4).Bila para ulama mengatakan, “Shalih al-Hadits”, maka haditsnya dapat ditulis untuk i’tibar (serangkaian kegiatan meneliti personalia sanad-sanad suatu hadits tertentu yang salah satu sanadnya telah ditemukan). Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 92.

[50]Martabat jarh menurut al-Razi adalah: 1).Bila dikatakan baginya, “Layyin al-Hadits”, maka haditsnya dapat ditulis dan diperhatikan untuk i’tibar (Lihat: Footnote sebelumnya!). 2). Bila dikatakan baginya, “Laisa bin qawiyyin”, maka haditsnya dapat ditulis dan diperhatikan untuk i’tibar, tetapi berada di bawah tingkatan pertama, 3).Bila dikatakan baginya, “Dha’if al-Hadits”, maka maka haditsnya tidak boleh ditolak melainkan untuk i’tibar. 4).Bila dikatakan baginya, “Dzahib al-Hadits” atau “Kadzdzab”, maka haditsnya gugur dan tidak boleh ditulis. PC Al-Bayan, Sakhr, 1996; Lihat: Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 92.

[51]Ibid., h. 93.

[52]Martabat Ta’dil menurut al-Dzahabi adalah: 1). Tingkatan yang paling tinggi adalah mereka yang mendapat julukan Tsabtun Hujjatun, Tsabtun Hafizhun, Tsaqitun Mutqinun, atau Tsaqitun Hujjatun. 2). Kemudian yang diberi julukan Tsiqatun Tsiqat. 3). Kemudian yang diberi julukan Shaduq, La ba’sa bih, dan Laisa bihi Ba’sun. 4). Kemudian yang diberi julukan Mahalluhu ash-Shidq, Jayyid al-Hadits, Syaikh Wasath, Syaikh Hasan al-Hadits, Shaduq Insya Allah, Shuwailih, dan sebagainya. Lihat: Ibid.,     h. 93.

[53]Martabat Jarh menurut al-Dzahabi adalah: 1). Julukan terendah untuk Jarh adalah Dajjal, Wadhdha, Yadha’ al-Hadits. 2). Kemudian Julukan Mattaham bi al-Kadzib, Muttafaq ‘ala Tarkih. 3). Kemudian julukan Matruk, laisa bi al-Tsiqat dan sakatu ‘anhu. 4) kemudian julukan Wahin bi Marrah, Laisa bi Syain, Dha’if Jiddan, Dha’afuhu. 5). Kemudian julukan Yadh’afu, fihi dhu’fun, qad Dha’ufa, laisa bi al-Qawiyy, Sayyi al-Hifzhi, dan sebagainya. Lihat: Ibid.

[54]Ibid., h. 94.

[55]Martabat Ta’dil yang ditambahkan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitabnya             Al-Nukhbah adalah tingkatan yang dijuluki dengan bentuk kata “af’al al-Tafdhil”, seperti Autsaq al-Nas. Lihat: Ibid.

[56]Tingkatan Jarh dan Ta’dil satu sama lainnya berbeda. Tingkatan nilai ta’dil disusun dengan susunan urutan ke bawah, sedangkan tingkatan nilai Jarh disusun dengan susunan urutan ke atas.               Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 81; Lihat: Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 94.

[57]Martabat Jarh yang ditambahkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani adalah martabat yang melebih-lebihkan Jarh, seperti julukan Akdzab al-Nas. Lihat: Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 94.

[58]Dalam kitab Tahdzib al-Tahdzib dan Taqrib al-Tahdzib, Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani menambahkan satu martabat lagi yang lebih tinggi,  yaitu martabat Shahabat. Tindakan al-Hafizh menyebutkan martabat Shahabat sebagai martabat tersendiri itu sangat rasional, karena kredibilitas mereka dijelaskan oleh nash Al-Qur’an maupun Hadits, dan ta’dil keduanya itu lebih tinggi daripada ta’dil oleh manusia. Dr. Nuruddin ITR., Loc,Cit., h. 94; Penyifatan rawi yang menunjukkan bentuk keta’dilan dan kedhabitan tertinggi (bentuk Muballaghah). Lihat: Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 82; Ke’adilan para shahabat telah dijamin oleh Allah swt dan periwayatannya pun dipandang bersih. Ibid.,     h. 70; Para shahabat semuanya adil dan tsiqah sesuai dengan penyataan Allah di banyak ayat terakhir surah al-Fath dan khususnya shahabat Muhajirin dan Anshar serta yang ikut Bai’at Ridhwan mendapat pujian Allah. Dr. Yusuf Qardhawy, Op.Cit., h. 94. Lihat: QS. At-Taubah: 100.

[59]Tingkatan kedua, yaitu penyifatan rawi yang menunjukkan kemashuran dalam menta’dil dan kecermatan (al-Tatsabut). Lihat: Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 82; Lafazh ta’dil yang digunakan ialah Lafazh-lafazh ta’dil yang menunjukkan ketinggian mereka atau dengan menggunakan bentuk “Af’al al’Tafdhil”, seperti Autsaq al-Nas, Atsbat al-Nas, Adhbath al-Nas, ilaihi al-Muntaha fi al-Tatsabbut. Demikian pula ata-kata la a’rifu lahu Nazhiran fi al-Dunya, la ahada tsbau munhu, man mitslu fulan atau fulanun la yus’alu anhu. Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 95.

[60]Yaitu penyifatan rawi yang menunjukkan kecermatan (tasabut) dan memperkuat sifat-sifat rawi dengan pengulangan sifat yang sama atau yang sepadan. Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 82.

[61]Lafazh ta’dil yang berupa pengulangan maknawi, seperti Tsabtun Hujjatun, tsabtun hafizhun, tsiqatun Tsabtun, dan Tsiqatun mutqinun. Lihat: Dr. Nuruddin ITR., Loc,Cit.

[62]Lafazh ta’dil yang berupa pengulangan lafzhi, seperti Tsiqatun tsiqat, juga seringkali ditemukan ucapan ibnu Uyainah, “Haddatsana Amr bin Dinar wa kana Tsigatan, Tsiqatan, tsiqatan…” (diulang sampai sembilan kali). Lihat: Ibid.; Lihat pula: Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 83.

[63]Yaitu menunjukkan kepercayaan tanpa pengulangan Lihat: Dr. Mahmud Ali Fayyad Loc.Cit.; Lafazh ta’dil yang digunakan ialah Tsiqatun, Tsabtun, Mutqinun, Ka’annahu Mushhafun, hujjatun, Imaamun, dan Adlun Dhabitun. Diterangkan bahwa Julukan Hujjatun lebih kuat dari tsiqatun. Lihat: Dr. Nuruddin ITR., Loc.Cit.

[64]Lihat: Dr. Mahmud Ali Fayyad Loc.Cit.; Lafazh ta’dil yang digunakan ialah laisa bihi ba’sun, la ba’sa bih, shaduq, ma’munun, khiyar al-Khalqi, ma A’lamu bihi ba’sun atau mahalluhu al-Shidqu. Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 95.

[65]Lafazh ta’dil yang digunakan ialah laisa bi ba’id min al-Shawaab, Syaikhun, Yurwa haditsuhu, Yu’tabaru bih, Syaikhun Wasath, Ruwiya ‘anhu, Shalih al-Hadits, Yuktabu Haditsuhu, Muqarrib al-hadits, ma aqraba haditsahu, Shuwailih, Shaduq Insya Allah, Arju ‘an la ba’sa bih, Jayyid al-Hadits, Hasan al-Hadits, Wasath, Maqbul, Shaduq Taghayara bi akhratin, shaduq sayyi al-Hifzhi, shaduq lahu auham, shaduq mubtadi’ atau Shaduq yahim. Lihat: Dr. Nuruddin ITR., Loc.Cit.

[66]Lafazh jarh yang digunakan ialah fihi maqal, Adna maqal, Dha’if, Yunkaru marratan wa yu’rafu ukhra, laisa bihi dzaka, laisa bihi qawiyyi, laisa bi al-Matin, laisa bi Hujjatin, laisa bi Umdah, laisa bi ma’mun, laisa bi al-Mardiyy, laisa yahmadunahu, laisa bi al-Hafizh, Ghairuhu autsaqu minhu, fihi syai’un, fihi jahaalah, la adri ma huwa, fihi dha’fun, layyin al-hadits, sayyi’ al-Hifzhi, Dhu’ifa, li al-Dha’fi ma huwa, atau fihi layyin. Lihat: Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 96; Lihat pula: Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 84.

[67]Lafazh jarh yang digunakan ialah Fulanun la yuhtajju bih, Dha’afuhu, Mudhtharib al-Hadits, lahu ma yunkar, Haditsuhu munkar, lahu manakir, dha’if atau munkar. Lihat: Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 97; Lihat pula: Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 84.

[68]Lafazh jarh yang digunakan ialah Fulanun Rudda haditsuhu, mardud al-Hadits, Dha’if jiddan, laisa bi tsiqah, Wahin bi Marrah, Tharahuhu, Mathruh al-hadits, Mathruh, Irma bih, La yuktabu haditsuhu, la Tahillu ktabatu haditsihi, la tahillu riwayatu ‘anhu, laisa bi syai’in, la yusawi syai’an, la yustasyhadu bi haditsihi atau la syai’a. Lihat: Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 97; Lihat pula: Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 85.

[69]Lafazh jarh yang digunakan ialah Fulanun Yasriq al-Hadits, Fulanun Muttahamun bi al-Kadzibi au bi al-Wadh’i, Saqith, Matruk, Dzahib al-Hadits, tarakuhu, la yu’tabaru bih, la yu’tabaru bi haditsihi, laisa bi al-Tsiqah, ghair tsiqah, mujma’ ‘ala tarkihi, mudin. Lihat: Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 97. Lihat pula: Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 85.

[70]Lafazh jarh yang digunakan ialah al-Dajjal, al-Kadzab, al-Wadhdha’, Yadha’u, Yakdzibu dan Wadha’a Haditsan. Lihat: Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 97; Lihat pula: Dr. Mahmud Ali Fayyad, Loc.Cit.

[71]Lafazh jarh yang digunakan ialah Akdzab al-Nas, ilaihi al-Muntaha fi al-Kidzbi, Huwa ruknu al-Kidzbi, manba’ al-Kidzbi, ma’dan al-Kidzbi. Lihat: Dr. Nuruddin ITR., Op,Cit., h. 97. Lihat pula: Dr. Mahmud Ali Fayyad Op.Cit., h. 86; Lihat: Dr. subhi Ash-Shalih, Op.Cit., h. 123-124.

About Khairil Yulian

Khairil Yulian Ibn Ruslan Abd al-Ghani Ibn Abd al-Syukr al-Siddiq

Posted on 16 Agustus 2010, in Islam, Opini and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: