Nasakh dan Mansukh


NASAKH DAN MANSUKH DALAM AL-QUR’AN

Oleh: Khairil Yulian

A. Pendahuluan

Al-Qur’an adalah Firman Allah yang berfungsi sebagai mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw yang tertulis di dalam mushaf-mushaf, diriwayatkan dengan jalan mutawatir dan dipandang ibadah membacanya[1]. Al-Qur’an berfungsi sebagai Mukjizat[2], sumber hukum dan sebagai penguat/pengukuh kebenaran Kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur’an dan para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad Saw.[3]

Dari Al-Qur’an ini lahirlah berbagai cabang ilmu yang umum disebut dengan istilah Ulumul Qur’an (ilmu-ilmu Al-Qur’an). Secara terminologis, Ulumul Qur’an adalah pembahasan-pembahasan masalah yang berhubungan dengan Al-Qur’an dari segi turunnya, urutan-urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, mu’jizatnya, nasikh dan mansukhnya, dan penolakan/bantahan terhadap hal-hal yang menimbulkan comfused (keragu-raguan) terhadap Al-Qur’an dan sebagainya.[4]

Pada masa Rasulullah Saw, Khalifah Abu Bakar dan Umar r.a., ilmu ini belum dibukukan, karena pada umumnya para sahabat memahami Al-Qur’an sebab dalam bahasa mereka.[5] Pembukuan ilmu-ilmu Al-Qur’an ini terjadi sejak masa khalifah Ustman bin Affan r.a. dengan dilakukannya penyeragaman bacaan Al-Qur’an karena adanya perselisihan di kalangan umat Islam dalam hal bacaannya.[6]

Dalam perkembangannya, ilmu Al-Qur’an bukan lagi hanya terbatas pada aspek pemeliharaan bacaan, namun berkembang pada pembahasan aspek-aspek lain dari Al-Qur’an, seperti ilmu Tafsir, ilmu ayat-ayat hukum, ilmu I’jaz Al-Qur’an, ilmu Makiyyah dan Madaniyyah, ilmu Asbabun Nuzul, ilmu Nasikh dan Mansukh, ilmu Muhkam dan Mutasyabih, ilmu I’rab dan Balaghah, ilmu penulisan Al-Qur’an dan ilmu Qira’at.[7]

Sesuai dengan materi yang diberikan kepada penulis, maka dalam makalah ini, penulis mencoba mengupas sekilas tentang salah satu ilmu Al-Qur’an sebagaimana digambarkan di atas, yaitu tentang ilmu Nasikh dan Mansukh.

B. Pengertian Nasakh dan Mansukh

Secara etimologis, Nasakh merupakan bentuk  Isim Masdar dari Fi’il “Nasakha-Yansakhu. Nasakh mempunyai beberapa pengertian. Muhammad Abdul Adzim Al-Zarqani dalam kitabnya Manahil Al-‘Irfan fi Ulum Al-Qur’an menyebutkan ada dua pengertian Nasakh secara bahasa, yaitu Izalah (menghapuskan) dan Naqlu Asy-Syai’i (memindahkan sesuatu).[8] Zainal Abidin S. menyebutkan bahwa selain kedua kata tersebut, Nasakh juga berarti Tabdil (mengganti) dan Tahwil (mengalihkan/mengubah).[9] Kamaluddin Marzuki menambahkan bahwa pengertian Nasakh secara bahasa juga bisa berarti Al-Ibthal (membatalkan).[10]

Sedangkan kata Mansukh secara bahasa merupakan bentuk Isim Maf’ul dari Fi’il ”Nasakha-Yansakhu, sehingga ia bisa diartikan dengan sesuatu yang dihapus, sesuatu yang dipindahkan, sesuatu yang diganti atau sesuatu yang diubah, sesuatu yang dibatalkan. Mengenai pengertian etimologis dari kata Mansukh ini, Kahar Masyhur menyebutnya dengan istilah Al-Hukmu Al-Murtafa’ atau hukum yang diangkat.[11]

Secara terminologis, Nasakh berarti Mengangkat hukum syara’ dengan Khitab (perintah) syara’ yang datang kemudian daripadanya.[12] Dengan demikian Mansukh dapat diartikan sebagai hukum syara’ yang diangkat oleh perintah syara’ yang datang kemudian tersebut. Allamah M.T. Thabathaba’i, sebagaimana juga diuangkapkan oleh Prof. Dr. T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy memberikan gambaran secara singkat bahwa Ayat-ayat yang diturunkan terdahulu yang dinasakhkan, disebut “Mansukh” dan ayat-ayat yang diturunkan kemudian yang menjadi penasakhnya, disebut “Nasikh”.[13]

C. Masalah-Masalah dalam Nasakh dan Mansukh

1. Pembagian Nasakh dan Mansukh

Muhammad Abdul Adzim Al-Zarqani dalam kitabnya Manahilu Al-‘Irfan fi Ulum Al-Qur’an menyebutkan bahwa Nasakh yang terdapat dalam Al-Qur’an terbagi menjadi 3, yaitu:

a. Nasakh terhadap tilawah (bacaan) dan hukumnya sekaligus.

b. Nasakh terhadap hukum, tetapi tidak terhadap tilawahnya, dan

c. Nasakh terhadap tilawah, tetapi tidak terhadap hukumnya.[14]

Kamaluddin Marzuki menyebutkan bahwa ayat yang bacaan dan tilawahnya dinasakh (Mansukh) tidak dibenarkan dibaca dan tidak dibenarkan diamalkan.[15] Dia mengatakan bahwa dalam hal ini, Dr. Amir Abdul Aziz mengambil misal sebuah riwayat Al-Bukhari dam Muslim. Yaitu dari ‘Aisyah r.a.[16] yang mengatakan:

كَانَ  فِيْمَا اُ نْزِلَ من الفرآن: عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُوْمَاتٍ يُحْرَمْنَ ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُوْمَاتٍ, فَتُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ.

Artinya: “Dahulu termasuk yang diturunkan dalam Ayat Al-Qur’an: Sepuluh Radha’at (Isapan Menyusu) yang diketahui menjadi muhrim. Kemudian dinasakh dengan lima isapan menyusu yang diketahui. Maka Rasulullah Saw. Wafat.[17]

Ketika masa Rasulullah Saw. Nash (sepuluh isapan) tersebut termasuk apa yang dibaca dari Al-Qur’an.[18] Ayat tentang sepuluh atau lima isapan dalam menyusu kepada seorang ibu ini sekarang tidak termaktub di dalam mushaf karena baik bacaan maupun hukumnya telah dinasakh (mansukh).[19]

Mengenai jenis Nasakh yang kedua (Nasakh terhadap hukum, tetapi tidak terhadap tilawahnya) ini banyak dibahas oleh para ulama di dalam berbagai kitabnya.[20] Dalam hal ini, dicontohkan bahwa di dalam    Al-Qur’an disebutkan bahwa pada mulanya, jika seorang suami meninggal, sang istri setelah berakhirnya masa iddah, maka ia menanti selama satu tahun penuh tanpa mendapatkan warisan apa-apa.[21] Tetapi ketetapan ini dinasakh oleh firman Allah yang artinya:

Orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggakan istri-istri, (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.”[22]

Jenis Nasakh yang terakhir yang disebutkan sebelumnya, yaitu Nasakh terhadap tilawah, tetapi tidak terhadap hukumnya. Maksudnya adalah bahwa bacaannya dinasakh (tidak lagi terdapat dalam Al-Qur’an), tetapi hukum yang dimaksud dari bacaan tersebut masih tetap berlaku.[23] Mengenai hal ini, disebutkan dalam sebuah riwayat dari Ubai bin Ka’af yang merupakan bacaan yang mansukh, tetapi hukum dari bacaan tersebut masih tetap berlaku. Riwayat tersebut berbunyi:

وَالشَيْخُ وَالشَيْخَةُ إِذَا ذَنِياَ فَارْجُمُوْهُمَا الْبَتَّةُ نَكَالاً مِنَ اللهِ وَ اللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ.

Artinya: “Orang tua laki-laki dan orang tua perempuan bila berbuat zina, maka rajamlah keduanya, sebagai imbalan dari Allah. Allah Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana.”[24]

2. Ayat-ayat Mansukh

Mengenai ayat-ayat yang Mansukh ini diterangkan bahwa Surah-surah Al-Qur’an dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu:

–       Surah yang didalamnya tidak terdapat ayat-ayat nasikh dan tidak terdapat mansukh, Jumlahnya sebanyak 43 surah.

–       Surah yang didalamnya terdapat ayat-ayat nasikh, tetapi tidak terdapat ayat-ayat mansukh, Jumlahnya hanya 6 surah.

–       Surah yang didalamnya tidak terdapat ayat-ayat nasikh, tetapi terdapat ayat-ayat mansukh, Jumlahnya sebanyak 40 surah.

–       Surah yang didalamnya terdapat ayat-ayat nasikh dan mansukh, Jumlahnya sebanyak 25 surah.[25]

Al-Sayuthi membatasi soal nasakh hanya pada 21 ayat, di luar itu tidak ada lagi. Muhammad Abdul Azhim Al-Zarqani juga menyebutkan didalam kitabnya, Manahil Al-‘Irfan fi ‘Ulum Al-Qur’an bahwa ayat-ayat yang mansukh yang terdapat dalam Al-Qur’an berjumlah 22 ayat. Dari sekian ayat tersebut yang disepakati di kalangan ulama berjumlah 21 buah[26]

D. Nasakh Dalam Al-Qur’an Menurut Pandangan Ulama

Permasalah Nasakh dan Mansukh ini sebenarnya bukan merupakan masalah disepakati oleh kalangan Ulama. Dalam hal ini, terdapat dua kubu kontropersial dalam memandang masalah Nasakh dalam Al-Qur’an.

1. Nasakh dalam Al-Qur’an Menurut Ulama yang Membenarkannya

Kamaluddin Marzuki mengutip perkataan Syekh al-Islam Jalaluddin Abd Al-Rahman al-Suyuthi bahwa ia pernah mengatakan: tidak dibenarkan bagi seseorang menafsirkan Kitabullah Kecuali setelah ia mengetahui Nasikh Mansukh.[27] Seseorang yang bergelar Qadhi yang agaknya telah menafsirkan Al-Qur’an, pernah ditanya oleh Imam Ali r.a., “Apakah anda mengetahui nasikh dan mansukh?” Qadhi itu menjawab, “Tidak!” Ali r.a. lalu mengatakan, “Kau telah celaka dan telah mencelakakan!”[28] Dalil yang dipakai oleh kalangan ini dalam membenarkan adanya Nasakh dan Mansukh dalam Al-Qur’an adalah:

مَا نَنْسَخُ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهاَ…

Artinya: “Apa saja ayat yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik dari padanya, atau yang sebanding dengannya….”[29]

Pembahasan ayat-ayat nasakh ini dianggap begitu penting oleh para ulama pendukungnya. Menurut mereka, Nasakh berarti mencabut berlakunya hukum syara’ dengan dalil syara’ yang datang belakangan.[30] Hal ini dipandang sangat mungkin dan logis, dengan pertimbangan kemaslahatan. Mereka menganalogikan bahwa ayat Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan kasus yang terjadi, sesuai dengan realitas yang berkembang dan memperhatikan kesanggupan manusia yang mukallaf.[31] Di mata pendukungnya, Nasakh bukanlah aib bagi Allah yang Maha Sempurna. Mereka memandang bahwa Nasakh tidak lain adalah sebagai satu jenis pendekatan dalam pengangsuran hukum syara’ dan Nasakh dipandang sebagai kebijakan Allah dalam mendidik manusia.[32]

Dalam hal Nasakh ini, As-Suyuthi menyatakan bahwa Dalam mengetahui Nasakh, tidak boleh bersandar kepada para Mufassirin dan ijtihad para mujtahid tanpa didasarkan kepada Nash yang shahih. Sebab Nasakh itu berarti mencabut suatu hukum dan menetapkan hukum yang lain yang telah ditetapkan di zaman Rasulullah Saw. Karena itu ia harus berdasarkan kepada riwayat dan sejarah yang shahih, tidak boleh bersandarkan kepada pendapat dan ijtihad.[33]

2. Nasakh dalam Al-Qur’an Menurut Ulama yang Mengingkarinya

Pada mulanya, Jumhur Ulama tanpa ragu membolehkan menetapkan sendiri ayat-ayat mana yang nasikh dan yang mana mansukh. Bahkan ketika itu, tanpa kenal jerih payah mereka berupaya membuktikan sebanyak-banyaknya mana ayat yang mansukh dan bahkan ada pula yang berlebihan.[34] Lalu Abu Muslim Al-Ashfani (322 H) muncul dengan menyatakan bahwa Nasikh sama sekali tidak membatalkan (menghapuskan) ayat-ayat Al-Qur’an, baik secara garis besar maupun rinciannya.[35]

Dalam hal ini dia bersandar pada firman Allah yang menyatakan bahwa tiada kebathilan apapun di dalam Al-Qur’an, baik yang datang dari depan, maupun yang datang dari belakang.[36] Abu Muslim Al-Ashfani mengatakan bahwa jika dihukumkan ada ayat dalam Al-Qur’an yang telah dimansukhkan berarti membatalkan sebagian isinya. Membatalkan itu berarti menetapkan bahwa di dalam Al-Qur’an ada yang bathal (yang salah).[37] Atas dasar itu ia lebih suka menyebut kata nasakh dengan istilah lain, yaitu Takhshish (pengkhususan) untuk menghindari pengertian adanya pembatalan hukum dalam Al-Qur’an yang diturunkan Allah.[38]

Pendapat yang dikemukakan oleh Abu Muslim ini di masa-masa akhir dikuatkan oleh beberapa ahli ilmu yang terkenal, di antaranya Al-Ustadz Imam Asy-Syaikh Muhammad Abduh (1325 H), muris besarnya Al-Saiyid Rasyid Ridha (1354 H), Dr. Taufiq Shidqi dan Al-Ustadzul Khudhary. Mufassir besar al-Fakhrur Razy, diterangkan juga condong kepada pendapat Abu Muslim ini.[39]

E. Kesimpulan

Nasakh berarti Mengangkat hukum syara’ dengan Khitab (perintah) syara’ yang datang kemudian daripadanya. Dengan demikian, ayat-ayat yang diturunkan terdahulu yang dinasakhkan, disebut “Mansukh” dan ayat-ayat yang diturunkan kemudian yang menjadi penasakhnya, disebut “Nasikh”.

Nasakh dalam Al-Qur’an diklasifikasi dari surah-surahnya terbagi menjadi 4 kelompok, namun secara umum Nasakh yang terdapat dalam Al-Qur’an terbagi menjadi 3, yaitu Nasakh terhadap tilawah (bacaan) dan hukumnya sekaligus, Nasakh terhadap hukum, tetapi tidak terhadap tilawahnya dan Nasakh terhadap tilawah, tetapi tidak terhadap hukumnya. Dari sekian ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an, yang disepakati di kalangan ulama merupakan ayat Nasakh berjumlah 21 ayat. Dalam menetapkan Nasakh dalam Al-Qur’an, harus berdasarkan kepada riwayat dan sejarah yang shahih, tidak boleh bersandarkan kepada pendapat dan ijtihad.

Khairil Yulian Ibn Ruslan Abd al-Gani

Sumber Bacaan

Abidin S., Zainal, Seluk Beluk Al-Qur’an, Cet. I, Rineka Cipta, Jakarta, 1992.

Aththar, Dawud Al-, Mujaz ‘Ulum Al-Qur’an, terj. Afif Muhammad dan Ahsin Muhammad, Perspektif Baru Ilmu Al-Qur’an, Cet. I, Pustaka Hidayah, Bandung, 1994.

Juhdi, Masjfuk, Pengantar Ulumul Qur’an, Bina Ilmu, Surabaya, 1993.

Marzuki, Kamaluddin, Ulum Al-Qur’an, Cet. II, Remaja Roesdakarya, Bandung 1994.

Masyhur, Kahar, Pokok-Pokok Ulumul Qur’an, Cet. I, Rineka Cipta, Jakarta, 1992.

Qathan, Manna’u Khalil Al-, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an, Al-Ma’had Al-‘Ali, Riyadh, Tth.

Shiddieqy, T. M. Hasbi Ash-, Sejarah dan pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir,      Cet. XIV, Bulan Bintang, Jakarta 1992.

Subhi As-Shalih, Mabahits fi Ulumil Qur’an, terj. Tim Pustaka Firdaus, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Cet. VII, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1999

Suyuthi, Syekh al-Islam Jalaluddin Abd Al-Rahman al-, Aunur Mukhtashar al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an li Al-Suyuthi, Terj. Rafiq Shalih Tamhid, Apa itu Al-Qur’an?, Cet. X, Gema Insani Press, Jakarta, 1998.

Thabathaba’i, Allamah M.T., mengungkap Rahasia Al-Qur’an, Mizan, Bandung 1990.

Zarqani, Muhammad Abdul Adzim Al-, Manahil Al-‘Irfan fi Ulum Al-Qur’an, Jilid. II, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut, 1409 H/1988 M.


[1] Masjfuk Juhdi, Pengantar Ulumul Qur’an, (Surabaya: Bina Ilmu, 1993), h. 3. Lihat: Manna’u Khalil Al-Qathan, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an, (Riyadh: Al-Ma’had Al-‘Ali. Tth.), h. 21; Zainal Abidin S., Seluk Beluk Al-Qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), cet. 1, h. 1; Dawud Al-Aththar, Mujaz ‘Ulum Al-Qur’an, terj. Afif Muhammad dan ahsin Muhammad, Perspektif Baru Ilmu Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), Cet. 1, h. 20.

[2]Lihat: Kahar Masyhur, Pokok-Pokok Ulumul Qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992) Cet. 1, h. 11-13. Kemukjizatan Al-Qur’an ini juga ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah/2: 23-24.

[3]Lihat: Masjfuk Juhdi, Op.Cit., h. 22-23.

[4] Ibid, h. 25.

[5] Kahar Masyhur, Op.Cit., h. 31.

[6] Masjfuk Juhdi, Op.Cit., h. 26.

[7] Lihat: Dawud Al-Aththar, Op.Cit., h. 23-28.

[8] Muhammad Abdul Adzim Al-Zarqani, Manahil Al-‘Irfan fi Ulum Al-Qur’an, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1409 H/1988 M), Jilid. II. h. 190. Lihat: Manna’u Khalil Al-Qathan, Op.Cit., h. 232; Dawud Al-Aththar, Op.Cit. h. 25.

[9] Zanal Abidin S. Op.Cit., h. 122. Lihat: Subhi As-Shalih, Mabahits fi Ulumil Qur’an, terj. Tim Pustaka Firdaus, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), Cet. VII. h. 337-338.

[10] Kamaluddin Marzuki, Ulum Al-Qur’an, (Bandung: Remaja Roesdakarya, 1994), Cet. II, h. 133.

[11] Kahar Masykur, Op.Cit., h. 131.

[12] Mana’u Khalil Al-Qaththan, Loc.Cit. Lihat: Ibid; Subhi Al-Shalih, Op.Cit. h. 339; Kamaluddin Marzuki, Op.Cit., h. 136; Muhammad Abdul Adzim Al-Zarqani, Op.Cit., h. 191.

[13] Allamah M.T. Thabathaba’i, mengungkap Rahasia Al-Qur’an, (Bnadung: Mizan, 1990), h. 60; Lihat: T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), Cet. XIV, h. 108.

[14] Muhammad Abdul Adzim Al-Zarqani, Op.Cit., h. 231. Lihat: Mana’u Khalil Al-Qaththan, Op.Cit., h. 238-239; Kahar Masyhur, Loc.Cit; Subhi Al-Shalih, Op.Cit., h. 345; Zainal Abidin S. Op.Cit., h. 124-125; Kamaluddin Marzuki, Op.Cit., h. 136-138

[15] Kamaluddin Marzuki, Op.Cit., h. 136.

[16] Ibid., h. 137. Lihat: Zainal Abidin, Op.Cit., h. 124; Kahar Masyhur, Op.Cit., h. 138.

[17] Muhammad Abdul Adzim Al-Zarqani, Op.Cit., h. 231. Maksudnya, mula-mula ditetapkan, dua orang anak yang berlainan ibu sudah dianggap bersaudara apabila salah seorang diantara keduanya menyusu kepada ibu salah seorang dari pada mereka sebanyak sepulus isapan. Ketetapan sepuluh isapan ini kemudian dinasakh menjadi lima isapan. Kamaluddin Marzuki, Ibid.

[18] Zainal Abidin S., Op.Cit., h. 124.

[19] Kamaliddin Marzuki, Loc.Cit.

[20] Zainal Abidin S., Op.Cit., h. 125.

[21] Lihat: QS. Al-Baqarah/2: 240.

[22] Kamaluddin Marzuki, Op.Cit., 138. Lihat: QS. Al-Baqarah/2: 234.

[23] Ibid., h. 137

[24] Hadits dalam kitab Al-lu’lu wal Marjan: 1101. Kahar Masyhur, Op.Cit., h. 138. Lihat: Kamaluddin Marzuki, Op.Cit. h. 138.

[25] Lihat: Kamaluddin Marzuki, Op.Cit., h. 142-146; Subhi Al-Shalih, Op.Cit., h. 358.

[26] Subhi Al-Shalih, Op.Cit., h. 359.

[27] Kamaluddin Marzuki, Op.Cit., h. 132. Lihat: Zainal Abidin., Op.Cit., h. 122;

[28] Zainal Abidin S., Op.Cit., h. 122; Lihat: Ibid.; Dawud Al-Aththar, Loc.Cit.;

[29]Kamaluddin Marzuki, Loc.Cit. Lihat: QS. Al-Baqarah/2: 106; Bandingkan dengan: QS. An-Nahl: 101; QS. Al-Hajj: 52.

[30] Kamaluddin Marzuki, Op.Cit., h. 136. Lihat: Allamah M. T. Thabathaba’i, Op.Cit., h. 61.

[31] Ibid. Lihat: Allamah M. T. Thabathaba’i, Op.Cit. h. 61.

[32] Ibid.

[33] Syekh al-Islam Jalaluddin Abd Al-Rahman al-Suyuthi, Aunur Mukhtashar al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an li Al-Suyuthi, terj. Rafiq Shalih Tamhid, Apa itu Al-Qur’an?, (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), Cet. X, h. 107. Lihat: Zainal abidin S., Op.Cit., h. 125.

[34] Subhi Al-Shalih, Op.Cit., h. 341. Berlebihan dalam pengertian di sini adalah bahwa dikalangan ulama terus menerus meneliti ayat-ayat Al-Qur’an untuk mencari-cari ayat-ayat yang Mansukh. Dalam hal ini, apa yang mereka lakukan bertentangan dengan apa yang telah disampaikan oleh Al-Suyuthi. (Lihat: Footnote 33). Sehingga yang terjadi pada mulanya ayat-ayat Nasakh berjumlah lebih dari seratus ayat.  Lihat: T. M. Hasbi Ash-Shiddieqi, Op.Cit. h. 109.

[35] Ibid.

[36] T. M. Hasbi Ash-Shiddieqi, Op.Cit., h. 109. Lihat: Ibid.; Bandingkan dengan: QS. Al-An’am: 38; QS. As Sajadah: 42.

[37] Ibid. Lihat: kamaluddin Marzuki, Op.Cit., h. 134.

[38] Subhi Al-Shalih, Loc.Cit.

[39] T. M. Hasbi Ash-Shiddieqi, Op.Cit., h. 108.

About Khairil Yulian

Khairil Yulian Ibn Ruslan Abd al-Ghani Ibn Abd al-Syukr al-Siddiq

Posted on 16 Agustus 2010, in Islam, Opini and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: