Monthly Archives: Desember 2010

Tips Menghindari Perkelahian


Suatu hari, saat aku sedang makan di sebuah warung makan di pinggir jalan. Ada sebuah mobil mewah berhenti di depan warung makan tersebut. Setelah pintu mobil terbuka, ku lihat seorang laki-laki dengan kacamata hitam dan berperawakan tinggi dan berpenampilan rapi keluar dari mobil mewah itu. dari pintu sebelahnya keluar seorang wanita muda yang lumayan cantik.

Mereka berdua kemudian kemudian memesan makanan pada sang pemilik warung. Si cowok duduk tepat di sampingku, sedangkan si cewek duduk di sebelahnya, karena memang kebetulan bangku di sampingku masih kosong dan muat untuk dua orang.

Seperti kebiasaan, aku memang bukan orang yang senang buru-buru jika sudah duduk di warung. Merokok sambil berceloteh panjang lebar dengan orang-orang yang ada di warung sudah jadi kebiasaan, sementara menghabiskan sisa teh es yang ku pesan.

Tidak seberapa lama, cowok yang berada di sampingku terlihat bingung, sambil melemparkan pandangannya ke beberapa sisi di bawah bangku tempat dia duduk. Sambil berbisik dengan wanita yg ada di samping, dia berdiri meraba saku-saku yang ada di baju dan celananya. kemudian lelaki itu berdiri dan berjalan menuju mobilnya. entahlah, mungkin ada yang tertinggal di mobilnya.

tak lama kemudian, dia keluar dari mobilnya dan kembali ke arahku, tetapi ternyata dia tidak kembali duduk di sampingku, melainkan memegang pundakku dan bertanya padaku:

“Maaf, Mas!” katanya. Aku sontak terkejut dan memalingkan wajahku padanya, kemudian dengan sedikit memoleskan senyum di balik keningku berkerut, aku menjawab:

“Iya! Ada apa?”

“Orang yg ada di samping saya hanya anda…” kata lelaki itu sambil duduk kembali di bangku tempat pertama dia duduk tadi, namun kali ini dengan arah yg berlawanan dengan posisi duduknya pertama. Sementara itu aku hanya mendengarkan pembicaraannya sambil mengerutkan keningku untuk memberikan kesan bahwa aku sedang menjadi pendengar yang baik.

“….dan saat saya duduk di sini, saya kehilangan dompet saya, Mas!” keningku semakin berkerut mendengar lanjutan perkataannya itu pertanda bahwa aku masih belum menemukan maksud dari perkataannya.

“Maaf! Apakah anda mengambil dompet saya?”

“Maksud Mas?” tanyaku seolah-olah aku tidak mendengar jelas kata-katanya. Dengan sedikit mengangkat bahunya, lelaki itu berkata lagi:

“Yaa, saya hanya sekedar tahu saja. Kalau memang Mas ada mengambil dompet saya, sebaiknya dikembalikan saja, Mas!” kata lelaki itu padaku.

Karena merasa tidak pernah melakukan apa yang dituduhkannya kepadaku, jelaslah aku tidak terima dengan tuduhan itu. Dengan sedikit kesal ku katakan padanya:

“Hmm! Dengar ya, Mas! dari tadi saya di sini, dan saya tidak tahu di mana dompet Mas!”

“Tapi saya yakin, dompet saya hilangnya di sini.!”

“Mas menuduh saya?”

“Bukan menuduh… tapi siapa lagi yang ada di samping saya selain Mas ini.! Cewek saya nggk mungkin, Mas! Dia itu……” belum selesai lelaki itu bicara, aku harus memotong kalimatnya, karena aku sudah tahu pasti maksud pembicaraannya.

“Mas jangan sembarangan menuduh..!!! Saya….” belum sempat saya menyelesaikan kalimat saya, dia balas memotong:

“Siapa lagi kalau bukan, Mas!”

“Enak saja menuduh saya! kalau Mas tidak percaya, Mas boleh geledah tubuh saya!” Jawab ku sambil merubah posisiku yang sejak tadi hanya duduk, sekarang aku harus berdiri sambil mengangkat tanganku untuk mempersilahkan lelaki itu memeriksa setiap sisi dari tubuhku.

“Yah, bisa saja kan anda bekerja sama dengan teman anda itu…” sambil kepalanya mengarah kepada orang duduk di sampingku, “….dan memberikan dompet saya kepadanya, untuk di simpan sampai saya pergi dari sini.”

Benar-benar tidak tahu diri orang ini, celoteh kesalku dalam hati.

“Begini saja, Mas! Saya tidak merasa mengambil dompet…..” belum selesai saya menyampaikan maksudku, dia telah lebih dulu memotong pembicaraanku.

“Siapa lagi kalau……..”

“Saya belum selesai bicara..!!!” Potongku dengan nada sedikit keras. Mungkin karena emosi sudah menguasai cara bicaraku. Dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali, ku ulangi sedikit kata-kataku yang tadi sempat terpotong.

“Begini..!” Aku kembali menarik nafas dan menghembuskannya untuk meredam emosiku.

“Saya tidak merasa mengambil dompet Mas. Sekarang, Mas boleh periksa semua orang yang ada di warung ini, kalau memang Mas yakin bahwa dompet Mas memang hilang di sini. Oke, silahkan…! Mau periksa saya dulu? Boleh..!!!” Jawabku dengan yakin.

“Ah! Saya tidak percaya!! Kalian semua pasti sudah sekongkol…!!!” Kata lelaki itu dengan nada sombongnya.

Mendengar itu, laki-laki di sampingku yang dari tadi menjadi teman ngobrolku sontak marah. Sambil melangkah mendekati lelaki yang menuduhnya itu, seraya berkata:

“Jangan sembarangan kamu bicara! Belum pernah merasakan ini ya? Heh.!!!” Dia mengangkat telapak tangannya yang terlihat telah menggumpal jadi sebuah genggaman yg siap dipukulkan. Untunglah aku dan beberapa orang yang ada di dekatnya mencegahnya terlalu dekat dengan lelaki yang menuduhnya itu, sehingga dia tidak sempat mendaratkan genggamannya.

Dalam keadaan yang semakin panas, cewek teman lelaki itu berbisik padanya:

“Sudahlah, Mas!”

“Sudah apa! Kalau dia tidak mengembaikan dompetku, kita tidak bisa bayar, Syg..!!” kata lelaki itu sambil memegang kedua bahu si cewek dan sedikit mengguncang tubuhnya. Lelaki itu berbalik padaku dan berkata:

“Kamu mau mengembalikan dompetku atau tidak?” Ancamnya sambil mengacungkan genggamannya ke arahku, siap untuk dilayangkan ke tubuhku. Karena merasa tidak bersalah, dengan yakin aku jawab saja:

“Mas mau memukul saya? Silahkan! mau memukul dimana? di muka? di dada? di perut? atau…..” belum selesai aku memberikan pilihan terakhir kepadanya, dia berteriak:

“Eeeeeerrrkkh..!!!” genggamannya melayang ke arah wajahku…. genggaman tangan kanannya yang terlihat sangat kuat itu melejit begitu cepat menuju pipi kiriku….
semakin dekat….
semakin dekat….
semakin dekat….
sudah sangat dekaaaaaat…..
tiba-tiba……………………………

…………….

…………………

……………………..

…………………………

…………………………….

Tiba-tiba aku terbangun dari mimpiku.

_________________________________________________

PERTANYAAN ESSAY:

Jadi, Tips menghindari perkelahian adalah?

JAWABAN:

Bangun dari tidurmu secepatnya…… Hehehehee…….

LINK KE FACEBOOK

Iklan

Kode Smiley untuk Blog WordPress


Buat yg suka senyum-senyum (smile-smile)…. šŸ™‚ šŸ˜€ kamu bisa copy kode smile ini ke dalam tulisan di Blog kamu. Mungkin dengan begitu, kamu dapat menambah ekspresi kejiwaan pada apa yang kamu tulis.

*****

Bagi yangĀ  suka silahkan copy….

Bagi yang nggk suka jangan benci…

Saya hanya sekedar berbagi…

Dari hati ke hati….

PrikitiwwW… (ujer Sule) šŸ˜†

KODE SMILEY UNTUK BLOG WORDPRESS

icon text text full text icon full text
smile : ) : – ) : smile : lol : lol :
biggrin : D : – D : grin : redface : oops :
sad : ( : – ( : sad : cry : cry :
surprised : o : – o : eek : evil : evil :
eek 8 O 8 – O : shock : twisted : twisted :
confused : ? : – ? : ??? : rolleyes : roll :
cool 8 ) 8 – ) : cool : exclaim : ! :
mad : x : – x : mad : question : ? :
razz : P : – P : razz : idea : idea :
neutral : | : – | : neutral : arrow : arrow :
wink ; ) ; – ) : wink : mrgreen : mrgreen :

Sumber: WordPress

Artikel lain tentang Blogging:

Memasukkan Status YM di Blog WordPress.com


Pengguna yang membuka blog anda boleh jadi mempunyai pertanyaan tentang tulisan atau halaman yang anda muat di Blog. Mereka bisa saja menuliskan pertanyaannya melalui komentar, namun akan lebih akurat kiranya jika mereka bisa melakukan obrolan (Chatting) langsung dengan anda sebagai pemilik Blog.

Berikut ini cara memasukkan Status Yahoo Mesenger anda ke Blog WordPress.com

  1. Masuk ke Appearance
  2. Pilih Widgets
  3. Tambahkan Widgets Text pada sidebar anda
  4. Salin link berikut ini ke Widget Text:
    <a href=”//edit.yahoo.com/config/send_webmesg?.target=khairilyulian&amp;.src=pgā€”><img border=”ā€0ā€³” src=”//opi.yahoo.com/online?u=khairilyulian&amp;m=g&amp;t=2&amp;l=usā€”></a>
  5. Berikan judul sesuai dengan keinginan anda di judul Widgets Text, misalkan: Chatting yu…!! atau Chat with me! atau apa saja terserah anda.
  6. Simpan dan Tutup

CATATAN:

  • Ingat sebelum anda save/simpan ganti tulisan khairilyulian (text berwarna merah) menjadi nama ID Yahoo Messenger kalian.
  • Angka 2 (warna biru) pada link di atas adalah untuk jenis tampilannya. anda bisa menggantinya dengan angka 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, atau 10.
    Adapun tampilan yang ditunjukkan dari masing-masing angka tersebut adalah sebagai berikut:

Jika anda tidak memiliki Yahoo Mesenger yang terinstall di Komputer anda, anda harus menginstallnya dulu, atau anda bisa mendownloadnya di Link dibawah ini.

Yahoo Messenger 11

Semoga bermanfaat.. šŸ™‚ šŸ™‚ šŸ™‚ šŸ™‚ šŸ™‚

Rating Pengunjung Blog tanggal 21 Desember 2010 meningkat tajam


Pengunjung Blogku (http://khairilyulian.wordpress.com) meningkat tajam, karena aku mengUpload pengumuman kelulusan seleksi CPNS Kalimantan Selatan tahun 2010. Hal ini merupakan indikasi bahwa pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan yang paling dicari saat ini. Hal ini juga mengindikasikan bahwa jiwa enterpreneur (wirausaha) masih belum melembaga dalam budaya lulusan Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi kita.

Dalam hubungannya dengan permasalahan ini, ada sebuah riwayat yang menarik untuk kita simak.

Seorang Perempuan datang menemui Abu Hanifah. la ingin menjual kainnya. Sebagaimana dicatat sejarah, Abu Hanifah merupakan seorang ulama generasi thabiin yang susah dibedakan apakah dia ulama yang saudagar atau saudagar yang ulama.

“Berapa kamu jual kain ini?” tanya Abu Hanifah.
“Seratus dirham!” jawab perempuan itu. Ternyata kain yang dibawa perempuan itu sangat bagus, bermutu, dan mahal. Namun perempuan tersebut tidak tahu harga kain itu sebenarnya. Entah dari mana dulunya ia memperoleh kain itu, ia lupa. Adapun Abu Hanifah, seorang saudagar yang begitu menguasai dunia pasar, langsung mengetahui kualitas kain tersebut. Namun hal itu tak menjadikan sang Imam punya niat buruk untuk memanfaatkan kesempatan apalagi berlaku curang. Maka, dialog pun berlanjut.

“Harga kainmu ini jauh lebih mahal daripada seratus dirham. Coba kamu tawarkan dengan harga yang lebih tinggi,” ujar Abu Hanifah.
“Bagaimana kalau dua ratus dirham?” tanya perempuan itu.
“Kainmu masih lebih bagus daripada dua ratus dirham!” sahut Abu Hanifah.
“Tiga ratus dirham!”
“Kainmu masih lebih mahal dari harga itu!” “Kalau begitu, belilah dengan harga empat ratus dirham.”
“Kainmu sebenarnya masih lebih mahal dari empat ratus dirham, tapi aku akan membelinya dengan harga itu!” kata Abu Hanifah. Transaksi pun berlangsung. Keduanya pun sepakat dengan harga itu.

Kini dialog tersebut sepertinya tak mungkin terjadi dalam dunia nyata. Mungkin hanya akan kita dapatkan pada dunia cerita, drama atau hikayat. Kini, sepertinya mustahil ada seorang pedagang yang menawar harga barang melebihi harga yang diinginkan penjual. Kini, tak mungkin kita temukan pedagang minta agar harga belinya dinaikkan. Namun tidak demikian dengan kisah perempuan dan Abu Hanifah di atas. Kisah yang diriwayatkan oleh al-Maqdisi itu benar-benar ada, betul-betul terjadi.
Selain jiwa suci dan kejujuran, banyak petikan hikmah yang bisa kita tuai dari sosok Abu Hanifah. Tokoh thabiin yang hanya sempat bertemu dengan tujuh sahabat Nabi ini merupakan ulama peletak dasar mazhab Hanafi. Selain dikenal sebagai ulama, ia juga adalah seorang saudagar sukses.

****

Bagi kaum Muslimin, jiwa entrepreneur atau wirausaha ini menarik untuk dilirik. Apalagi ketika tingkat kebutuhan tenaga kerja semakin tidak bisa mengimbangi kecepatan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang tersedia. Tenaga kerja yang ada jauh lebih banyak daripada kebutuhan. Angka kebutuhan penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) tak mampu menampung jebolan Sekolah Menengah Atas atau Perguruan Tinggi. Instansi swasta pun demikian. Yang terjadi justru sebaliknya.
Di tengah lilitan kebutuhan ekonomi sekarang, ribuan pabrik dan perusahaan swasta justru banyak yang mem-PHK karyawannya. Akibatnya, angka pengangguran membengkak. Ratusan ribu lulusan perguruan tinggi menganggur. Bangsa ini kelebihan tenaga kerja. Ujungnya, kita dipaksa “menjual” para tenaga kerja itu ke luar negeri dengan segala penderitaannya.

Di sisi lain, seharusnya fenomena ini membuat anak negeri ini merenung. Selain terbatasnya lahan penerimaan PNS atau karyawan swasta, bangsa ini juga membutuhkan sosok-sosok entrepreneur. Kekayaan alam yang berlimpah, SDM yang membludak dan kebutuhan ekonomi yang kian membengkak, menghajatkan kita untuk belajar bekerja mandiri. Masyarakat bangsa ini mulai harus mengubah paradigma berpikirnya dari harus menjadi PNS menjadi -mengutip judul buku karangan Valentino Densi- Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian.

Saatnya para karyawan merenung. Fakta menyebutkan, tingkat kenaikan gaji para karyawan, baik PNS maupun swasta, tak mampu mengejar tingkat pertambahan kebutuhan sehari-hari. Belum lagi. kalau ia harus mengubah nasib dengan mempunyai kendaraan atau rumah besar, misalnya.

Kita renungkan, berapa lama waktu yang diperlukan seorang karyawan yang menerima gaji Rp.2.000.000,- per bulan, agar bisa memiliki rumah seharga 200 juta rupiah? la harus menabung selama 100 bulan atau delapan tahun lebih. Itu pun kalau ia menyimpan seluruh penghasilannya sebanyak Rp.2.000.000,- tersebut setiap bulan tanpa dipotong untuk kebutuhan makan, tempat tinggal, sekolah anak dan lainnya.

Dengan kondisi demikian, mungkinkah ia berharap bisa memiliki kendaraan roda empat? Kalau saja ia berharap mendapatkan kendaraan atau rumah seharga Rp.2.000.000.000,- maka orang yang berpenghasilan Rp.2.000.000,- per bulan tadi harus menabung-tanpa makan dan minum-selama 1000 bulan.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin mereka yang selama ini duduk sebagai PNS tapi bisa memiliki semua kemewahan itu?

Dalam analisanya yang ia tulis di bukunya Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian, Valentino Dinsi menyebutkan, PNS atau mereka yang bekerja sebagai karyawan swasta level menengah ke bawah, hanya bisa kaya dengan lima cara. Yaitu:

  1. menikah dengan orang kaya
  2. mendapatkan warisan
  3. menang undian
  4. bekerja sampingan, dan
  5. korupsi.

Tanpa pertu menuduh, kita bisa buktikan mana di antara lima hal itu yang paling banyak dilakukan.

Merenungkan hal tersebut, selayaknya penghuni negeri ini mengubah paradigma berpikirnya. Paradigma sebagian masyarakat kita masih banyak yang ngotot memaksakan anaknya harus diterima di PNS dengan berbagai cara termasuk suap-menyuap dan nepotisme. Paradigma ini harus diubah dengan paradigma baru. Yaitu, mendidik generasi muda dengan jiwa wirausaha.
Dengan demikian, begitu lulus dari SMA atau perguruan tinggi, generasi kita tak lagi belajar bagaimana menulis lamaran pekerjaan, tapi belajar cara membuat proposal bisnis. Mereka tak lagi berbondong-bondong menenteng map melamar jadi pegawai, tapi beramai-ramai membuka usaha baru.

Jika jiwa wirausaha ini bisa kita tumbuhkan sejak dini, kita berharap negeri ini akan bangkit dari keterpurukan. Kekayaan alam yang melimpah ruah ini bisa kita kelola sendiri tanpa harus mengundang orang asing. Syaratnya satu, kita mau berubah. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’d: 11).

Link ke Facebook

Artikel lain tentang Blogging:

Pengumuman Kelulusan CPNS 2010 Kalimantan Selatan


Pengumuman Kelulusan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kalimantan Selatan 2010

Preview Pengumuman yang saya tampilkan pada Blog ini berbentuk file Image dengan tipe file PNG, Hal ini menyembabkan tulisan tidak bisa dibaca dengan jelas. Untuk itu kami mohon maaf…. šŸ˜¦ Namun anda bisa melihat kutipan asli (Original) dengan mendownload Link dibawah ini:

DOWNLOAD ORIGINAL PENGUMUMAN CPNS KALSEL 2010

DOWNLOAD ORIGINAL: Pengumuman CPNS (Format WinRAR)

SUMBER: Banjarmasin Post

Tips Sukses: Belajar dari Budaya Bangsa Jepang


Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi.

kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh.

1. KERJA KERAS

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun).

Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan agak memalukan di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk yang tidak dibutuhkan oleh perusahaan.

Fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.

2. MALU

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena mengundurkan diri bagi para pejabat (menteri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas.

Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. HIDUP HEMAT

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di Jepang, orang mungkin akan terheran-heran dengan banyaknya warga Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian.

Pemanas ruangan menggunakan minyak tanah yang merepotkan masih digandrungi di Jepang, padahal sudah cukup dengan AC yang ada mode dingin dan panas. Alasannya ternyata satu, minyak tanah lebih murah daripada listrik.

Professor Jepang juga terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng dengan mahasiswa-mahasiswanya.

4. LOYALITAS

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

Kota Hofu mungkin sebuah contoh nyata. Hofu dulunya adalah kota industri yang sangat tertinggal dengan penduduk yang terlalu padat. Loyalitas penduduk untuk tetap bertahan (tidak pergi ke luar kota) dan punya komitmen bersama untuk bekerja keras siang dan malam akhirnya mengubah Hofu menjadi kota makmur dan modern. Bahkan saat ini kota industri terbaik dengan produksi kendaraan mencapai 160.000 per tahun.

5. INOVASI

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk.

Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah. Mobil yang dihasilkan juga relatif lebih murah, ringan, mudah dikendarai, mudah dirawat dan lebih hemat bahan bakar.

Perusahaan Matsushita Electric yang dulu terkenal dengan sebutan maneshita (peniru) punya legenda sendiri dengan mesin pembuat rotinya. Inovasi dan ide dari seorang engineernya bernama Ikuko Tanaka yang berinisiatif untuk meniru teknik pembuatan roti dari sheef di Osaka International Hotel, menghasilkan karya mesin pembuat roti (home bakery) bermerk Matsushita yang terkenal itu.

6. PANTANG MENYERAH

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun di bawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner.

Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita šŸ™‚

Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen).

Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).

7. BUDAYA BACA

Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat manga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi.

Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa Inggris, Perancis, Jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. KERJASAMA KELOMPOK

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa 1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok. Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan rin-gi adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam rin-gi.

9. MANDIRI

Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Saat anak masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar anak-anak tidak meminta biaya kepada orang tua.

Sebagian Mahasiswa di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka meminjam uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. JAGA TRADISI

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki, maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang.

Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Mungkin seperti itu resep sukses yang bisa diambil dari bangsa Jepang. Bangsa Indonesia punya hampir semua resep orang Jepang di atas, hanya mungkin kita belum mengasahnya dengan baik. Di Jepang, mahasiswa Indonesia termasuk yang unggul dan bahkan mengalahkan mahasiswa Jepang. Orang Indonesia juga memenangkan berbagai award berlevel internasional. Sepertinya, ada faktor non-teknis yang membuat Indonesia agak terpuruk dalam teknologi dan ekonomi. Mari kita bersama mencari solusi untuk berbagai permasalahan republik ini. Dan terakhir kita harus tetap mau belajar dan menerima kebaikan dari siapapun juga.

Link ke Facebook

Sumber: 1 2

Pertanyaan tentang Iman yang Universal


Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini tidak perlu dikemukakan, cukup dijawab di hati saja. Hal ini ditakutkan akan menjadi sumber permasalahan hancurnya sendi-sendi keimanan yang telah tertanam dan melembaga dalam diri dan hati kawan-kawan…

Jika sepakat dengan ketentuan di atas, silahkan untuk membaca tulisan ini lebih lanjut…

  • Pertanyaan Level I (Identifikasi)
  1. Apa agamamu?
  2. Apa agama orang tua dan lingkungan keluargamu?
  3. Apa agama lingkungan pergaulanmu?
  4. Apa pendidikan agama yang diajarkan kepadamu?
  5. Apakah kamu hidup di lingkungan yang homogen atau heterogen?
  • Pertanyaan Level II (Alternatif)
  1. Apakah agama yang kau peluk sama dengan agama yang dipeluk orang tuamu?
  2. Apakah agamaĀ yang kau peluk sama dengan agama yang dipeluk oleh mayoritas lingkunganmu?
  3. Apakah pendidikan agama yang diajarkan kepadamu hanya ajaran agama yang kamu peluk sekarang?
  4. Apakah kamu yakin bahwa agama yang kamu peluk adalah ajaran agama yang benar?
  5. Apakah kamu pernah melakukan perbandingan antara ajaran agama yang kamu peluk dengan ajaran agama lain?
  • Pertanyaan Level III (Deskriptif)
  1. Sejak kapan kamu memeluk agama yang kamu yakini saat ini?
  2. Apa dasar keyakinanmu sehingga kamu memeluk agama yang kamu yakini saat ini?
  3. Bagaimana sikapmu terhadap ajaran agama lain dan para pemeluknya?
  4. Bagaimana status pemeluk ajaran agama lain menurut pemikiranmu?
  5. Apakah panatisme terhadap suatuĀ ajaranĀ agama itu juga berarti membenarkan ajaran agama yang dipeluk, dan menyalahkan ajaran agama lain? Bagaimana menurutmu?
  • Pertanyaan Level IV (Cross)
  1. Mengapa setiap setiap pemeluk agama menganggap agamanya yang paling benar?
  2. Mengapa kita menyalahkan suatu ajaran agama yang tidak pernah diajarkan kepada kita?
  3. Mengapa kita takut akan berubah keyakinan saat mempelajari ajaran agama lain?
  4. Mengapa kita takut dihadapkan pada beberapa pilihan agama?
  5. Bagaimana mungkin dapat memilih yang terbaik, jika kita tidak dihadapkan pada beberapa pilihan?
  • Pertanyaan Level V (Idea)
  1. Bayangkan..!!! jika kamu lahir di dalam suatu keluarga yg memeluk suatu ajaran agama tertentu, dibesarkan juga dalam lingkungan agama tersebut, selanjutnya dimasukkan dalam lembaga pendidikan yang juga mengajarkan ajaran agama tersebut. Mungkinkah kamu akan meyakini suatu ajaran agama selain yang diperkenalkan kepadamu tersebut?
  2. Jika kamu tidak pernah memiliki pilihan, bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan bahwa agamamu itulah yang paling benar?
  3. Hal yg ingin saya tanyakah adalah: Seperti apa bentuk keyakinanmu?

Link to Facebook

%d blogger menyukai ini: