Tips Menghindari Perkelahian


Suatu hari, saat aku sedang makan di sebuah warung makan di pinggir jalan. Ada sebuah mobil mewah berhenti di depan warung makan tersebut. Setelah pintu mobil terbuka, ku lihat seorang laki-laki dengan kacamata hitam dan berperawakan tinggi dan berpenampilan rapi keluar dari mobil mewah itu. dari pintu sebelahnya keluar seorang wanita muda yang lumayan cantik.

Mereka berdua kemudian kemudian memesan makanan pada sang pemilik warung. Si cowok duduk tepat di sampingku, sedangkan si cewek duduk di sebelahnya, karena memang kebetulan bangku di sampingku masih kosong dan muat untuk dua orang.

Seperti kebiasaan, aku memang bukan orang yang senang buru-buru jika sudah duduk di warung. Merokok sambil berceloteh panjang lebar dengan orang-orang yang ada di warung sudah jadi kebiasaan, sementara menghabiskan sisa teh es yang ku pesan.

Tidak seberapa lama, cowok yang berada di sampingku terlihat bingung, sambil melemparkan pandangannya ke beberapa sisi di bawah bangku tempat dia duduk. Sambil berbisik dengan wanita yg ada di samping, dia berdiri meraba saku-saku yang ada di baju dan celananya. kemudian lelaki itu berdiri dan berjalan menuju mobilnya. entahlah, mungkin ada yang tertinggal di mobilnya.

tak lama kemudian, dia keluar dari mobilnya dan kembali ke arahku, tetapi ternyata dia tidak kembali duduk di sampingku, melainkan memegang pundakku dan bertanya padaku:

“Maaf, Mas!” katanya. Aku sontak terkejut dan memalingkan wajahku padanya, kemudian dengan sedikit memoleskan senyum di balik keningku berkerut, aku menjawab:

“Iya! Ada apa?”

“Orang yg ada di samping saya hanya anda…” kata lelaki itu sambil duduk kembali di bangku tempat pertama dia duduk tadi, namun kali ini dengan arah yg berlawanan dengan posisi duduknya pertama. Sementara itu aku hanya mendengarkan pembicaraannya sambil mengerutkan keningku untuk memberikan kesan bahwa aku sedang menjadi pendengar yang baik.

“….dan saat saya duduk di sini, saya kehilangan dompet saya, Mas!” keningku semakin berkerut mendengar lanjutan perkataannya itu pertanda bahwa aku masih belum menemukan maksud dari perkataannya.

“Maaf! Apakah anda mengambil dompet saya?”

“Maksud Mas?” tanyaku seolah-olah aku tidak mendengar jelas kata-katanya. Dengan sedikit mengangkat bahunya, lelaki itu berkata lagi:

“Yaa, saya hanya sekedar tahu saja. Kalau memang Mas ada mengambil dompet saya, sebaiknya dikembalikan saja, Mas!” kata lelaki itu padaku.

Karena merasa tidak pernah melakukan apa yang dituduhkannya kepadaku, jelaslah aku tidak terima dengan tuduhan itu. Dengan sedikit kesal ku katakan padanya:

“Hmm! Dengar ya, Mas! dari tadi saya di sini, dan saya tidak tahu di mana dompet Mas!”

“Tapi saya yakin, dompet saya hilangnya di sini.!”

“Mas menuduh saya?”

“Bukan menuduh… tapi siapa lagi yang ada di samping saya selain Mas ini.! Cewek saya nggk mungkin, Mas! Dia itu……” belum selesai lelaki itu bicara, aku harus memotong kalimatnya, karena aku sudah tahu pasti maksud pembicaraannya.

“Mas jangan sembarangan menuduh..!!! Saya….” belum sempat saya menyelesaikan kalimat saya, dia balas memotong:

“Siapa lagi kalau bukan, Mas!”

“Enak saja menuduh saya! kalau Mas tidak percaya, Mas boleh geledah tubuh saya!” Jawab ku sambil merubah posisiku yang sejak tadi hanya duduk, sekarang aku harus berdiri sambil mengangkat tanganku untuk mempersilahkan lelaki itu memeriksa setiap sisi dari tubuhku.

“Yah, bisa saja kan anda bekerja sama dengan teman anda itu…” sambil kepalanya mengarah kepada orang duduk di sampingku, “….dan memberikan dompet saya kepadanya, untuk di simpan sampai saya pergi dari sini.”

Benar-benar tidak tahu diri orang ini, celoteh kesalku dalam hati.

“Begini saja, Mas! Saya tidak merasa mengambil dompet…..” belum selesai saya menyampaikan maksudku, dia telah lebih dulu memotong pembicaraanku.

“Siapa lagi kalau……..”

“Saya belum selesai bicara..!!!” Potongku dengan nada sedikit keras. Mungkin karena emosi sudah menguasai cara bicaraku. Dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali, ku ulangi sedikit kata-kataku yang tadi sempat terpotong.

“Begini..!” Aku kembali menarik nafas dan menghembuskannya untuk meredam emosiku.

“Saya tidak merasa mengambil dompet Mas. Sekarang, Mas boleh periksa semua orang yang ada di warung ini, kalau memang Mas yakin bahwa dompet Mas memang hilang di sini. Oke, silahkan…! Mau periksa saya dulu? Boleh..!!!” Jawabku dengan yakin.

“Ah! Saya tidak percaya!! Kalian semua pasti sudah sekongkol…!!!” Kata lelaki itu dengan nada sombongnya.

Mendengar itu, laki-laki di sampingku yang dari tadi menjadi teman ngobrolku sontak marah. Sambil melangkah mendekati lelaki yang menuduhnya itu, seraya berkata:

“Jangan sembarangan kamu bicara! Belum pernah merasakan ini ya? Heh.!!!” Dia mengangkat telapak tangannya yang terlihat telah menggumpal jadi sebuah genggaman yg siap dipukulkan. Untunglah aku dan beberapa orang yang ada di dekatnya mencegahnya terlalu dekat dengan lelaki yang menuduhnya itu, sehingga dia tidak sempat mendaratkan genggamannya.

Dalam keadaan yang semakin panas, cewek teman lelaki itu berbisik padanya:

“Sudahlah, Mas!”

“Sudah apa! Kalau dia tidak mengembaikan dompetku, kita tidak bisa bayar, Syg..!!” kata lelaki itu sambil memegang kedua bahu si cewek dan sedikit mengguncang tubuhnya. Lelaki itu berbalik padaku dan berkata:

“Kamu mau mengembalikan dompetku atau tidak?” Ancamnya sambil mengacungkan genggamannya ke arahku, siap untuk dilayangkan ke tubuhku. Karena merasa tidak bersalah, dengan yakin aku jawab saja:

“Mas mau memukul saya? Silahkan! mau memukul dimana? di muka? di dada? di perut? atau…..” belum selesai aku memberikan pilihan terakhir kepadanya, dia berteriak:

“Eeeeeerrrkkh..!!!” genggamannya melayang ke arah wajahku…. genggaman tangan kanannya yang terlihat sangat kuat itu melejit begitu cepat menuju pipi kiriku….
semakin dekat….
semakin dekat….
semakin dekat….
sudah sangat dekaaaaaat…..
tiba-tiba……………………………

…………….

…………………

……………………..

…………………………

…………………………….

Tiba-tiba aku terbangun dari mimpiku.

_________________________________________________

PERTANYAAN ESSAY:

Jadi, Tips menghindari perkelahian adalah?

JAWABAN:

Bangun dari tidurmu secepatnya…… Hehehehee…….

LINK KE FACEBOOK

About Khairil Yulian

Khairil Yulian Ibn Ruslan Abd al-Ghani Ibn Abd al-Syukr al-Siddiq

Posted on 23 Desember 2010, in Lucu, Tips & Trick and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: