Apa pentingnya memilih kata dalam berkata?


Jawaban atas pertanyaan yang saya tulis sebagai judul di atas, tidak akan anda temukan dalam posting ini. Saya hanya akan mencoba memberikan gambaran yang mungkin bisa anda olah kembali sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut. Dalam kata lain, jawabannya ada pada cara anda memahami essensi cerita yang akan saya sajikan berikut.

🙂 Selamat membaca..!!!🙂

Pada suatu ketika, hiduplah seorang raja yang berkuasa atas sebuah negeri yang cukup luas. Bahkan konon kekuasaannya sampai melewati batas lautan. Sang Raja adalah orang yang sangat sayang pada seluruh keluarganya, Maharani, Permaisuri, Putri, dan Pangeran yang tinggal di Istana diberikan kenyamanan dengan semua fasilitas yang ada di Istana.

Pada suatu malam, Sang Raja bermimpi bahwa seluruh intan berlian dan permata yang bertahta di Mahkotanya terlepas dari bingkainya, kecuali sebuah permata merah yang terbingkai di bagian depan mahkotanya. Keesokan harinya, ia memerintahkan kepada segenap pegawai Istana untuk mencari seseorang yang bisa mentakwilkan mimpinya tersebut, dengan menawarkan hadiah yang sangat menggiurkan, yaitu Raja menjanjikan kekuasaan atas salah satu negeri yang berada di bawah pengaruh kerajaannya.

Berita tersebut cepat sekali tersebar ke seluruh penjuru negeri. Imbalan yang teramat besar yang dijanjikan raja atas sebuah pekerjaan yang begitu ringan, jelas membuat banyak sekali orang yang merasa mampu mentakwilkan mimpi datang untuk mencoba mentakwilkan mimpi sang raja.

Singkat cerita, di depan istana telah berkumpul para pentakwil mimpi yang datang dari segenap penjuru negeri untuk mencoba mengadukan keberuntungannya menerjemahkan mimpi sang Raja demi janji imbalan yang cukup besar. Satu persatu mereka dipanggil sesuai dengan nomor urut (mungkin pas di pintu gerbang istana, ada loketnya untuk mengambil nomor urut…:lol:🙂 ! ah nggak penting banget ya..!). mereka yang menunggu giliran di muka istana, berharap pentakwil yang dipanggil masuk tidak mampu mentakwilkan mimpi Sang Raja, jadi mereka berkesempatan untuk menunjukkan kemampuan takwil mimpinya kepada Sang Raja pemimpin mereka, — disamping iming-iming kekuasaan tentunya.

Tidak seberapa lama setelah pentakwil pertama dipanggil masuk ke dalam istana, seorang pengawal istana kembali keluar memanggil pentakwil berikutnya. Hal ini jelas menjadi kabar gembira bagi mereka yang memiliki nomor urut berikutnya. Tidak lama berselang setelah pentakwil kedua dipersilahkan masuk, pengawal istana itu kembali keluar menemui kerumunan para pentakwil mimpi yang masih setia menunggu gilirannya. Akhirnya, pentakwil mimpi selanjutnya dipanggil masuk ke dalam Istana untuk menemui sang Raja. Begitu seterusnya, setiap kali pengawal Istana keluar dari dalam istana dan melangkah mendekati mereka, sorak kegembiraan hadir di raut wajah mereka, dan ketika seorang pentakwil dipanggil masuk ke Istana, mereka berharap agar pentakwil tersebut tidak bisa mentakwilkan mimpi sang Raja.

Disebutkan dalam kisah, ada seorang ulama yang hidup mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk berdakwah sekaligus menuntut ilmu dari tempat-tempat yang ia kunjungi. Pada saat ia tiba di kota kerajaan tersebut, ia melihat kerumunan massa yang cukup besar sedang berkumpul di muka istana. Ulama itu kemudian bertanya kepada salah seorang penduduk yang juga sedang asyik menyaksikan suasana di muka istana.

“Ada apa gerangan ini, Kawan?” tanya sang Ulama kepada salah seorang penduduk yang asyik menyaksikan suasana pentakwilan mimpi sang Raja.

“Mereka yang berkumpul di depan istana itu adalah para pentakwil mimpi. Ada sayembara dari Raja, barangsiapa mampu mentakwilkan mimpi sang Raja, maka ia akan dijanjikan satu wilayah kerajaan ini menjadi kekuasaannya.” begitu jawaban orang itu.

“Apakah belum ada yang bisa mentakwilkan mimpi Raja?”

“Sepertinya belum ada. Sebab dari tadi pengawal istana itu bolak balik memanggil seorang pentakwil berikutnya.” Mendengar jawaban itu, Ulama itu bertanya lagi.

“Apakah saya boleh ikut sayembara itu?”

“Apakah anda bisa mentakwil mimpi? Jika kemampuan anda masih sedikit, lebih baik tidak usah. Karena mereka yang ada di sana adalah para pentakwil mimpi terbaik di negerinya masing-masing.”

“Terima kasih atas nasehat Bapak! Saya akan mengikuti sayembara ini dengan bermodal kebutaan saya dalam mentakwilkan mimpi.” Demikian jawaban sang Ulama seraya meninggalkan orang tersebut, dan melangkah menuju kerumunan para pentakwil. Sementara penduduk yang diajaknya bicara tadi keheranan dengan pola tingkah sang Ulama tersebut. “Dasar orang bodoh!” gerutunya dalam hati…

Pada saat sang Ulama telah berada di depan istana bersama para peserta sayembara takwil mimpi Raja yang lain, ia mencoba bertanya pada salah seorang pentakwil yang masih ada di sana.

“Wahai Kawan! Sudah adakah yang bisa mentakwilkan mimpi Raja?”

“Kita lihat saja! Jika penjaga itu keluar lagi, itu artinya belum ada satu orang pun dari peserta sebelumnya yang bisa mentakwilkan Raja…”

“Apakah anda berharap mereka tidak bisa mentakwilkan mimpi Raja?” tanya sang Ulama

“Tentu saja! Jika mereka berhasil, maka saya akan kehilangan kesempatan mendapatkan hadiah besar yang ditawarkan Raja.”

“Hmmm…” Sang Ulama hanya tersenyum mendengar jawaban orang itu. Melihat gelagat itu, pentakwil yang diajak bicara oleh sang Ulama tersebut balik bertanya.

“Apakah tuan ini juga seorang pentakwil mimpi?”

“Bukan!” jawab sang Ulama.

“Mengapa anda ada di sini? Mereka yang ada di sini, semuanya adalah para pentakwil mimpi.”

“Saya memang bukan pentakwil mimpi, tetapi saya juga peserta sayembara ini.” jawab sang Ulama. Pria itu tertawa seraya berkata:

“Lihatlah! Sekian banyak pentakwil yang datang mengikuti sayembara ini, belum satu pun yang bisa mentakwilkan mimpi Raja. Jika anda bukan pentakwil mimpi, bagaimana mungkin anda bisa ikut memenangkan sayembara ini. Lebih baik anda mundur saja!”

“Saya peserta terakhir dalam Sayembara ini. dan Saya berharap peserta sebelum saya ada yang bisa mentakwilkan mimpi Raja.” Demikian jawaban terakhir Sang Ulama pada orang tersebut, bersamaan dengan keluarnya pengawal Istana dari pintu istana pertanda pentakwil sebelumnya juga belum berhasil mentakwilkan mimpi Raja.

Ulama itu duduk di bawah sebuah pohon di dekat kumpulan para pentakwil yang tinggal beberapa orang saja. Ia melihat ada hal yang ganjil dalam sayembara ini. Tugas yang diberikan hanyalah mentakwilkan mimpi, tetapi hadiah yang dijanjikan teramat besar. Selain itu, ia tidak menemukan para pentakwil yang tidak berhasil mentakwilkan mimpi Raja kembali keluar dari pintu yang sama saat ia masuk.

Ringkas cerita, Pentakwil yang tersisa hanya tinggal 1 orang selain Ulama tersebut. Sang Ulama pun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri orang tersebut.

“Apakah anda seorang pentakwil mimpi terkenal?” Tanya sang Ulama kepada orang tersebut.

“Aku adalah pentakwil terbaik di daerahku.” Jawab pentakwil terakhir tersebut.

“Jika anda yang terbaik di daerah anda, mengapa anda harus mengikuti sayembara ini?” Tanya Sang Ulama

“Apakah tuan tidak mengetahui? Raja menjanjikan satu wilayah kekuasaannya akan diberikan kepada siapa yang bisa mentakwilkan mimpinya!” Jawab orang tersebut.

“Bukankah anda telah memiliki satu wilayah yang menjadi kekuasaan anda? Jika anda yang terbaik di daerah anda, maka itulah daerah kekuasaan anda.”

“Bukan wilayah seperti itu yang yang dijanjikan Raja, Tuan! Ini adalah wilayah kekuasaan! Saya akan berkuasa di satu wilayah, jika saya memenangkan sayembara ini.” Jawab orang tersebut, karena terlihat kesal mendengar pertanyaan sang Ulama.

“Apakah anda tidak memperhatikan? Pengawal istana itu masuk dengan membawa seorang pentakwil, dan keluar tanpa siapapun bersamanya.” Demikian akhir percakapan mereka yang harus dihentikan oleh keluarnya pengawal tanpa siapapun bersamanya, seperti kata sang Ulama. Pentakwil itu menatap sang Ulama dengan wajah penuh ketakutan. Ia berkata dengan setengah berbisik kepada sang Ulama.

“Kenapa aku tidak memikirkan hal itu? Apa yang terjadi pada pentakwil sebelumku? Apa pula yang akan terjadi padaku?” gemetar ia mengucapkan kata-kata itu karena Pengawal telah siap untuk membawanya masuk.

“Semoga engkau bisa keluar dari pintu yang sama saat engkau masuk, Kawan! karena jika tidak, maka aku juga akan masuk dari pintu itu, sepertimu…” Begitulah perkataan sang ulama, saat melepaskan pentakwil terakhir melangkah ke pintu masuk istana.

🙂 Ceritanya belum selesai jadi jangan tidur dulu🙂

Akhirnya, kembali pengawal itu keluar tanpa siapapun bersamanya. Kini giliran sang Ulama dipanggil masuk untuk bertemu Raja dan mentakwilkan mimpinya. Masuklah sang ulama melalui sebuah pintu yang telah dilalui oleh puluhan pentakwil yang mengikuti Sayembara itu. Sesampainya di depan Sang Raja, Pengawal itu berkata kepada Rajanya.

“Ampun Tuanku! ini adalah peserta sayembara yang terakhir.”

“Ya! Baiklah!” Mendengar jawaban Raja tersebut, Pengawal itu mundur dari hadapan Raja, dan Tinggal sang Ulama itu yang ada di hadapan Raja. Sang Raja bertanya pada Sang Ulama:

“Baiklah, Tuan Pentakwil..!! Beberapa waktu yang lalu, aku bermimpi Semua permata, intan dan berlian yang bertahta di mahkotaku, semuanya terlepas dari bingkainya, kecuali permata merah ini” Kata sang Raja sambil menunjuk sebuah batu perhiasan besar yang terbinkai indah di bagian depan Mahkotanya.

“Tolong jelaskan kepadaku apa arti dari mimpiku itu?

“Ampun Baginda Raja! Saya ingin menyampaikan sesuatu sebelumnya.”

“Silahkan!”

“Ampun Baginda Raja! Saya mengikuti sayembara ini, bukan untuk mendapatkan hadiah yang Baginda Janjikan.”

“Jadi? Apa yang kau inginkan?”

“Ampun Baginda Raja! Saya tidak menginginkan apapun dari kerajaan ini. Saya hanya ingin mengajukan 2 pertanyaan, dan 2 permintaan.”

“Baiklah..!! jika hanya itu yang kau inginkan. Katakan saja padaku!”

“Ampun Baginda Raja! Saya akan mengajukan pertanyaan saya yang pertama.”

“Silahkan!”

“Ampun saya atas pertanyaan saya ini, Baginda! Saya hanya ingin bertanya, Mengapa para pentakwil mimpi yang mengikuti sayembara ini tidak keluar dari pintu di mana ia masuk?”

“Jelas mereka tidak akan keluar dari pintu dimana mereka masuk, karena jawaban mereka semua telah membuat saya sangat marah. Jadi mereka semua saya masukkan ke dalam penjara istana. Apa pertanyaanmu selanjutnya?”

“Ampun Baginda! Pertanyaan saya yang kedua ini berhubungan dengan pertanyaan saya yang pertama. Takwil seperti apa yang telah mereka sampaikan kepada Baginda, sehingga membuat Baginda begitu marah kepada mereka dan memasukkan mereka ke penjara?”

“Takwilan mereka semua sangat mengada-ada! Mereka mengatakan bahwa seluruh keluarga istana akan mati kecuali aku! Bukan kah itu sangat mengada-ada? Sekarang sebutkan 2 permintaanmu, Tuan Pentakwil..!!”

“Baginda Raja yang saya hormati..!! Kedua permintaan saya ini hanya berlaku untuk takwil mimpi yang baik atas mimpi Tuanku Baginda Raja.! Jika takwil saya juga membuat Tuanku Baginda Raja Marah, maka saya akan berjalan sendiri ke pintu penjara.”

“Baiklah! Sebutkan dua permintaanmu itu..!!”

“Ampun Baginda! Permintaan hamba yang pertama, Jika takwil saya memuaskan Raja, maka saya memohon izin keluar dari pintu di mana saya masuk bersama dengan semua pentakwil mimpi yang telah Baginda masukkan ke penjara.”

“Baiklah! Saya akan mengabulkan perintaan itu, jika takwilmu bagus! Apa permintaanmu yang kedua?”

“Terima kasih Tuanku Baginda! permintaan saya yang kedua, Jika takwil mimpi yang saya sampaikan bisa memuaskan Baginda, maka saya izin untuk mengajak Tuanku Baginda dan seluruh penduduk kerajaan ini untuk memeluk ajaran Agama Islam yang saya bawa.”

“Hmmm…. Bagaimana jika saya tidak setuju dengan perintaanmu itu?”

“Ampun Baginda! Jika Tuanku Baginda tidak setuju, maka saya minta izin keluar sendiri dari pintu di mana saya masuk, tanpa permintaan apa-apa.”

“Bagaimana dengan Takwil atas mimpiku.!?”

“Ampun Baginda! 2 permintaan yang saya ajukan adalah untuk takwil mimpi yang akan saya sampaikan. Jika Baginda tidak berkenan dengan permintaan saya, izinkan saya meneruskan perjalanan saya.”

“Baiklah! kedua permintaan yang kau ajukan akan aku kabulkan, tentunya jika takwilmu tidak mengada-ada. Tetapi jika takwil mimpi yang kau sampaikan sama saja dengan para pentakwil sebelumnya, kamu juga akan memasuki pintu yang sama dengan mereka.”

“Terima kasih Tuanku Baginda! Begini Baginda Raja yang saya hormati…. Mimpi lepasnya intan, berlian dan permata yang menghiasi mahkota kecuali permata merah, itu adalah pertanda baik bagi Baginda..!! Inti dari mimpi Baginda tersebut adalah pada permata Merah itu, Tuanku Baginda! Itu melambangkan Tuanku Baginda akan selalu berjaya, panjang umur dalam memimpin negeri ini untuk waktu yang lebih lama dari yang mungkin Tuanku Baginda Bayangkan…”

🙂 Bagaimana respon Sang Raja mendengar takwil itu?”

Raja merasa itulah Takwil yang paling pas untuk mimpinya. Sehingga kedua permintaan yang disampaikan oleh ulama itu dikabulkan oleh sang Raja. Para pentakwil mimpi yang sebelumnya dijebloskan ke dalam penjara, akhirnya di bebaskan dan mereka keluar bersama sang Ulama melalui pintu di mana mereka masuk.

Hingga mereka semua berada di luar istana, bahkan hingga seluruh keluarga istana meninggal dunia, kecuali Sang Raja, –seperti yang yang diramalkan oleh para peserta sayembara–, Raja masih belum menyadari bahwa inti dari Takwil mimpi yang disampaikan oleh Sang Ulama tersebut, pada dasarnya sama saja dengan takwil mimpi yang dikemukakan oleh para pentakwil mimpi peserta sayembara yang lain. Hanya saja, sang Ulama bisa memilih kata yang lebih tepat yang bisa memuaskan Raja.

🙂 Oh iya! Raja lupa menanyakan nama Ulama tersebut.🙂

Jadi bagi anda yang penasaran dengan siapa gerangan nama Ulama yang berhasil membebaskan para pentakwil mimpi dan berhasil mengajak Raja dan seluruh penduduk Kerajaan dalam kisah tersebut, maka di akhir cerita ini saya akan mengatakan bahwa nama ulama tersebut adalah:

🙂 Khairil Yulian ibn Ruslan Abdul Ghani Ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq🙂

Hahahahahaha……………😀😀😀😀😀😀😀

About Khairil Yulian

Khairil Yulian Ibn Ruslan Abd al-Ghani Ibn Abd al-Syukr al-Siddiq

Posted on 12 Maret 2011, in Hikmah and tagged , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: