Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan


Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan

Oleh:

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq

A. Pendahuluan

Menoleh jauh ke zaman pra sejarah, masyarakat di kawasan Nusantara (Indonesia) merupakan imigran dari berbagai kawasan. Menurut Buku Sejarah yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, terjadi empat periode imigrasi besar ke kawasan Nusantara, yaitu:

  1. 3.000 tahun yang lalu (1000 SM) sejumlah besar suku Mongol berimigrasi ke Kepulauan Indonesia.[1]
  2. Imigrasi kedua terjadi pada 2.000 tahun yang lampau, sekitar abad ke-1, termasuk sejumlah suku Yun Nan yang berimigrasi ke Selatan.[2]
  3. Imigrasi besar ketiga berasal dari India, pada abad VIII[3]
  4. Imigrasi besar keempat adalah penganut agama Islam dari Arabia, di Timur Tengah. Kebanyakan di antaranya yang kini menjadi orang-orang Pakistan. Terjadi pada abad XII.[4]

Dari sini diketahui bahwa periodisasi masuknya Islam ke Indonesia, tergolong dalam empat imigrasi besar yang membentuk ekosistem sosial budaya masyarakat Indonesia, termasuk dalam periode tersebut penyebaran Islam di Kalimantan Selatan. Setelah empat periode imigrasi besar tersebut, barulah masuk bangsa kolonial Eropa yang di mulai dari bangsa Portugis,[5] Spanyol,[6] Belanda[7] dan terakhir Jepang.[8]

Dalam perjalanan sejarah Indonesia tersebut, sejarah penyebaran Islam di Indonesia mempunyai bagian penting dalam tatanan sejarah Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan sebagai bagian dalam kawasan Indonesia. Dalam konteks ini, penulis menemukan beberapa catatan sejarah mengenai pendidikan Islam. Sesuai dengan lingkup kajian mengenai sejarah pendidikan Islam, maka dalam makalah ini akan penulis sajikan pembahasan pada lingkup sejarah pendidikan Islam di Kalimantan Selatan yang akan penulis awali dengan mengupas dari sejarah awal masuknya Islam di Kalimantan Selatan.

B. Selintas Sejarah Masuknya Islam Ke Kalimantan Selatan

Menurut Helius Syamsuddin dalam bukunya Islam and Resistence in South and Centre kalimantan in The Nineteenth and Early Twentieth Centuries menerangkan bahwa Islam masuk Kalimantan Selatan dari Jawa pada abad ke XVI, ketika Sultan Demak membantu Pangeran Banjar, Pangeran Samudera, untuk menghadapi Pangeran Temenggung dalam peperangan merebut tahta kerajaan, sebagai imbalannya, Pangeran samudera bersedia untuk memeluk Islam. Dia menjadi Sultan pertama Kesultanan Banjarmasin dengan gelar Sultan Suriansyah. Konversinya itu perlahan-lahan diikuti oleh diikuti oleh para pengikutnya dan orang-orang Banjar kecuali masyarakat Dayak di daerah pedalaman.[9]

Diterangkannya pula bahwa setelah konversi Sultan Suriansyah pada Abad XVI tersebut, tidak banyak lagi diketahui mengenai proses islamisasi sesudahnya, dalam arti intensitas pengajaran Islam pada masyarakat Banjar atan secara khusus, penyebaran Islam di kalangan masyarakat Dayak padalaman pada abad-abad selanjutnya. Barulah pada abad XIX ada bukti mengenai proses ini yang berasal dari ulasan-ulasan Schwaner dan Meijer dalam bukunya Borneo. Pada awalnya islamisasi terhadap masyarakat Daway di mulai di kalangan orang Bakumpai [sub-kelompok Dayak Ngaju]. Bakumpai Marabahan yang tinggal 57 km dari Banjarmasin, sering melakukan interaksi dengan masyarakat masyarakat Banjar, terutama dalam bidang perdagangan, yang diikuti dengan perkawinan antara orang Banjar dengan orang Bakumpai, yang menyebabkan mereka masuk Islam. Setelah konversi ini, mereka menyebut diri mereka sebagai “Orang Melayu”.[10]

Encyclopedia Britannica yang diterbitkan pada tahun 1963 mencatatkan bahwa bahasa Melayu menjadi bahasa bagi penduduk asli di semenanjung Tanah Melayu, di pantai timur Sumatera, di seluruh pantai Borneo (Kalimantan), di kepulauan Riau, di Bangka, di Belitung, dan di Natuna Besar.[11] D.J. Prentice berpendapat bahawa daerah penutur asli bahasa Melayu ialah di kawasan Tanah Melayu sehingga selatan Thailand (Pattani), di sepanjang pantai timur Sumatera, di kepulauan Riau, di sepanjang pesisir Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur, di Brunei, di pantai barat Sabah, di Sarawak, di Singapura, di Jakarta, di Larantuka, di Kupang, di Makasar, di Menado, di Ternate, di Banda, dan di Ambon. Selain wilayah Melayu, ternyata bahwa bahasa Melayu pun dapat ditemukan di Sri Lanka dan di Afrika Selatan.[12]

C. Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan

Tidak banyak catatan yang memberikan deskripsi sehubungan dengan sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan ini. Dari sekian literatur yang penulis temukan mengenai sejarah pendidikan di Kalimantan Selatan, pada umumnya merujuk pada tokoh Besar Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Hal ini menurut penulis cukup beralasan, karena sebagaimana diungkapkan Gubernur Kalsel Drs HM Sjahriel Darham bahwa Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari memiliki pemikiran-pemikiran yang sangat luar biasa pada kurun waktu 1710 sampai 1821 M, sampai mendapatkan gelar “Matahari Islam dari Kalimantan” dari Menteri Agama Republik Indonesia periode 1962-1967.

Hal ini menyangkut karyanya yang sangat monumental pada kitab Sabillah Muhtadin perlu terus diteladani, mengingat pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari mampu mendorong fenomena religius yang memberikan arti terhadap pengisian khazanah perkembangan agama Islam.[13]

Dalam beberapa sumber yang penulis dapatkan, usaha pendidikan Islam yang diupayakan oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dapat diklasifikasi menjadi tiga, yaitu pengakderan ulama, pengajaran terhadap masyarakat dan pendirian madrasah.

  1. Mengkader Ulama

Saat menunggu musim haji Syekh Arsyad kembali menemukan malam penuh berkah Lailatul Qadr. Saat itu beliau memohon kepada Tuhan, agar diberikan ilmu yang akan berlanjut sampai ke anak cucu tujuh turunan, bahkan turun temurun. Permohonan itu dikabulkan Tuhan. Banyak anak cucu dan zuriat beliau sampai sekarang dikenal sebagai tokoh panutan, menjadi orang alim atau ulama besar. Ada pula yang menjabat mufti semasa kerajaan Banjar dan masa pemerintahan Belanda.

Buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya perumpamaan itu berlaku pula pada diri Syekh Arsyad. Banyak anak cucu keturunan beliau menjadi orang yang ternama, terutama di bidang agama yang namanya tetap dikenang sampai sekarang, beberapa diantaranya adalah:

  1. Mufti H. Muhammad As’ad[14]
  2. Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis[15]
  3. Mufti H. Muhammad Arsyad bin H. M. As’ad[16]
  4. H. Abdul Rahman Siddiq bin Shafura.[17]
  5. H. Sa’duddin bin Mufti H. Muhammad As’ad.[18]
  6. Kadi H. Abu Su’ud bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.[19]
  7. H. M. Syarwani Abdan bin H. M. Yusuf.[20]
  8. H. Muhammad Khatib bin Mufti H. Ahmad.[21]
  9. Mufti H. Jamaludin.[22]
  10. Guru H. Zainal Ilmi bin H. Abdus Samad.[23]
  11. H. Zaini Abd. Ghani bin Abd. Ghani.[24]

Di antara kadernya yang lain, bukan keturunannya adalah:

  1. Syekh Muhammad Saleh bin Murid Ar-Rawa, penyusun kitab Fathul Mubin, suatu sarah dan terjemahan hadits Arba’in Imam Nawawi yang kedua kali dalam bahasa Melayu. Syekh Muhammad Saleh adalah penganut Khalwatiyah-Sammaniyah dan Tarikat Sariliyah.
  2. H. Abd. Ghoni yakni seorang yang menyebarkan Islam di Pontianak di Kalimantan Barat.[25]
  3. Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidillah yang mendapat didikan khusus dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, sehingga menjadi raja yang tinggi cita-citanya, cerdas pandai, berbicara dengan petah (ramah dan lembut), mempunyai pikiran yang bersih dan ilmu pengetahuan yang dalam.[26]

Banyak lagi murid-murid yang lain, yang tersebar di berbagai daerah Kalimantan Selatan atau Kalimantan secara keseluruhan bahkan menyebar ke seluruh Nusantara.

  1. Mendidik Masyarakat

Syekh Arsyad memahami betul bahwa mendidik masyarakat akan sangat efektif jika dimulai dengan berintegrasi dengan kekuasaan, Syekh Arsyad sebagai ulama yang telah berhasil menyatukan sultan sebagai elit penguasa dengan rakyatnya atas dasar ikatan ajaran Islam, sehingga tidak adanya jarak memisah, baik antara sultan dengan rakyat maupun antara umara dengan ulama. Hal ini bisa dicapai karena sistem pendekatan yang beliau lakukan beranjak dari bawah, baru setelah itu kepada penguasa atau sultan. Di samping itu memang sejak awalnya hubungan antara sultan dengan Syekh Muhammad Arsyad terjalin dengan baik.

Sebagai contoh, hukum waris dan pernikahan yang semula tidak berdasarkan kepada hukum Islam, secara perlahan dapat dirubah ketentuan-ketentuan hukum Islam yang memakai pedoman kitab Sabilal Muhtadin. Kalau sebelumnya sebahagian sultan sangat terkenal memelihara berpuluh-puluh gundik di dalam istana, maka atas nasehat Syekh Muhammad Arsyad, sultan menikah menurut ketentuan hukum Islam.

Di dalam kerajaan Banjar, hukum Had sempat pula diperlakukan kepada orang lain yang membunuh, murtad dan berziarah sebagai realisasi dari pada penerapan hukum Islam.

Misalnya hukum Had yang telah dijatuhkan kepada Haji Abdul Hamid yang telah mengajarkan Ilmu tasawuf kearah ajaran Wihdatul Wujud yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam. Haji Abdul Hamid mengajarkan bahwa.”Tiada maujud melainkan Dia, tiada wujud yang lainnya, tiada aku melainkan Dia, Dialah aku adalah Dia.” Dia juga mengatakan bahwa pelajaran syariat yang diajarkan selama ini hanyalah kulit saja belum sampai pada hakekat.[27]

Mendengar ajaran dan keterangan yang demikian, timbullah perselisihan faham di dalam masyarakat, untuk menjernihkan suasana, maka dipanggillah Haji Abdul Hamid ke istana untuk menghadap sultan. Namun dijawab oleh Haji Abdul hamid bahwa: “Tuhan tidak ada, yang ada hanya Abdul Hamid.” Akhirnya sultan menyerahkan permasalahan itu kepada Syekh Muhammad Arsyad unutk menyelesaikannya. Setelah meneliti persoalan itu secara cermat, barulah beliau mengambil kesimpulan bahwa ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh Haji Abdul Hamid dapat menyesatkan orang awam dan membawa kepada syirik. Melenyapkan seseorang untuk menyelematkan orang banyak dibolehkan menurut hukum, bahkan terkadang diwajibkan. Dengan kesimpulan yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Arsyad ini, maka sultan mengambil keputusan untuk menghukum bunuh Haji Abdul Hamid.[28]

Untuk melaksanakan hukum Islam secara riil di kerajan Banjar tidak mungkin tanpa adanya suatu lembaga hukum yang mengatur dan melaksanakannya. Oleh sebab itu maka dibentuklah Mahkamah Syar’iyah suatu lembaga pengadilan agama yang dipimpin oleh seorang mufti sebagai ketua hakim tertinggi pengawas pengadilan umum.[29]

Lembaga Qadhi ini kemudian berkembang menjadi kerapatan Qadhi dan sekarang berubah lagi menjadi Pengadilan Agama Tingkat Pertama dan Tingkat Banding, Pengadilan Agama Tingkat Banding berkedudukan di Banjarmasin sebagai penjelmaan dari terapan Qadhi Besar Banjarmasin.[30]

Hal ini memang telah jelas terlihat di dalam undang-undang Sultan Adam pasal 7 dan 8 yang membicarakan tentang tugas mufti.[31]

Melihat pentingnya peran lembaga hukum di dalam mengatur dan menjalankan hukum di dalam wilayah kerajaan Banjar, maka betapa besar jasa yang telah diberikan oleh Syekh Muhammad Arsyad di dalam kerajaan Banjar. Hal ini membuktikan bahwa Syekh Muhammad Arsyad telah mampu memasukkan ajaran-ajaran Islam di dalam peraturan pemerintah dan juga sebagai bukti adanya kerjasama yang baik antara Syekh Muhammad Arsyad dengan Sultan pada waktu itu.bentuk lain dari integrasi Syekh Arsyad dengan masyarakat lewat pendidikan dalam rangka mensejahterakan masyarakat. hal ini dimulai Syekh Arsyad dengan upaya meningkatkan kecerdasan dengan berupaya memberantas kebodohan sekaligus mengangkatnya dari lembah kemiskinan.

Kuatnya Syekh Arsyad dalam memberantas kebodohan dan mengangkat masyarakat dari kemiskinan khususnya bagi Ilmu agama dapat diketahui dari surat balasan yang dilayangkan kepada sahabatnya saat bermukim di Mekah, yaitu Syekh Abdul Samad Palembani.

Surat yang dikirim rekan dari Sumatra tersebut, berisi ajaran Syekh Arsyad berjihad fii sabilillah melawan umat yang beragama Budha di Siam. Namun ajakan rekannya tersebut gayung tak bersambut, bahkan dirinya pun sedang berperang.

Syekh Arsyad berperang melawan kebodohan seperti buta huruf dan agama membasmi syirik, khurafat, tahyul dan memerangi kemiskinan termasuk miskin Ilmu agama. KH. Jumri bin Haji Roys dalam bukunya berjudul Sejarah Kerajaan Banjar, menyatakan Syekh Arsyad berpendapat memerangi kebodohan dan kemiskinan pahalanya lebih besar atau lebih utama dari jihad fi sabilillah, dalam arti sempit yaitu berperang secara fisik.[32]

  1. Mendirikan Madrasah

Dalam lapangan pendidikan dan sistem penyebaran agama Islam tidak ditemukan adanya lembaga khusus yang terdapat seperti sekarang ini, meskipun berbentuk pesantren. Pendidikan hanya diberikan dalam lingkungan keluarga masing-masing dan ilmu-ilmu tertentu yang diperlukan dalam kehidupan, diperoleh dengan berguru kepada seseorang yang dianggap ahli secara individual. Hal demikian juga dilakukan di keraton, sebagaimana yang terjadi pada masa Syekh Arsyad tinggal di keraton karena Syekh Arsyad mulai melakukan dengan membuka sebuah perkampungan baru tempat mendirikan sebuah lembaga pendidikan.

Kepulangan Syekh Arsyad di Martapura disambut dengan upacara penyambutan,[33] karena sangat dinanti-nantikan pada waktu itu. Di keraton kesultanan ramailah sertiap hari karena masyarakat selalu mengunjunginya, untuk meminta nasehat atau mendengar ceramahnya, terkadang juga menanyakan berbagai masalah keagamaan, sebab pada masa itu tidak banyak ulama atau guru di daerah Banjar, apalagi yang mempunyai keilmuan yang sebanding dengan Syekh Arsyad.

Dengan melihat kecenderungan masyarakat terhadap pengetahuan, yang kian hari semakin bertambah mereka yang datang. Maka Syekh Arsyad mempunyai gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan secara tersendiri agar lebih terkoordinir, sehingga baik masyarakat umum maupun kalangan zuriatnya sendiri yang mengkhususkan untuk belajar dapat dilaksanakan.

Kemudian gagasan tersebut Syekh Arsyad sampaikan kepada sultan dan sultan sendiri menyambut baik ide yang disampaikan Syekh Arsyad, sebab sultan sendiri yang berkuasa saat itu mengaku murid beliau.[34] Maka tak mengherankan secara langsung menawarkan kepada Syekh Arsyad untuk memilih tempat yang sesuai dengan kondisi lembaga yang dikehendaki Syekh Arsyad tersebut.

Dengan sebuah tanah kosong yang telah diberikan sultan didirikan sebuah lembaga pendidikan. Tanah yang dipilih Syekh Arsyad untuk mendirikan lembaga tersebut berada di sekitar 5 Kilometer. dari keraton kesultanan (Martapura), yaitu di pinggir Sungai Martapura yang membentang dari Riam Kanan dan Riam Kiri menuju Banjarmasin. Tanah tersebut merupakan hutan belukar yang bisa digunakan adalah Jukung (perahu kecil) melalui sungai untuk menuju ke lokasi tersebut. Maka setelah ditebangi pepohonan didirikan beberapa buah bangunan, sebagaimana telah dikemukakan Zafry Zamzam bahwa “Syekh Arsyad mendirikan lembaga pendidikan dengan menyediakan pondok-pondok bagi penuntut ilmu yang berdatangan dari berbagai daerah.”[35] Menurut Yusuf Khalidi bahwa bangunan tersebut terdiri dari rumah istrinya sebanyak tiga buah, kemudian langgar dan perpustakaan yang sekaligus menjadi balai pengajian dan beberapa asrama santri yang tinggal di sana.

Kemudian di muka dan di samping lingkungan bangunan dibuatkan pagar sebagai perbatasan. Dari perkembangan lembaga tersebut jadilah sekarang ini kampung yang bernama kampung Dalam Pagar. Istilah Dalam Pagar tersebut karena batas pagar yang dibuat Syekh Arsyad untuk menjaga murid-murid agar tidak keluar masuk semaunya, juga setiap orang yang ingin berkunjung ke tempat Syekh Arsyad atau datang dari Dalam Pagar. Sekarang kampung dalam pagar sudah terbagi dua kampung yaitu Dalam Pagar Hulu inilah yang semula sebagai tempat lembaga pendidikan Syekh Arsyad, dimana sekarang adanya lembaga pendidikan Sullamul Ulum dan Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Dengan adanya lembaga pendidikan yang didirikan Syekh Arsyad pada waktu itu, sebenarnya merupakan yang pertama untuk daerah Kerajaan Banjar, karena bagaimana dikatakan sebelumnya tidak ada suatu lembaga yang jelas sebagai tempat pendidikan, seperti dikatakan oleh Shagir Abdullah bahwa:

“….sebagaimana method dan dakwah Islam masih kurang diketahui data-datanya. Setelah pulangnya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari Mekah barulah ada sistem secara ampuh dan kokoh…..”[36]

Maka dengan demikian Arsyadlah pelopor dalam pendirian lembaga pendidikan model pondok pesantren di daerah Banjar. Dalam waktu kurang 20 tahun lembaga pendidikan tersebut sudah mampu mempunyai lulusan yang berkualitas. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan lulusan tersebut untuk diterjunkan sebagai pendidik dan pendakwah, sebagai pewaris generasi tua terutama dari kalangan zuriatnya sendiri yaitu Muhammad As’ad dan Fatimah dua bersaudara dari Syekh Arsyad. Namun dengan hasil tersebut bukan berarti Syekh Arsyad sudah menyerahkan begitu saja tongkat kepemimpinan dalam lembaga tersebut, akan tetapi terus mengupayakan agar bagaimana lebih tepatnya digunakan. Melihat kedatangan orang-orang yang kian hari semakin bertambah untuk belajar di tempat tersebut, maka sementara waktu kedua lulusan itu ia jadikan sebagai pendamping dalam lembaga pendidikan untuk memberikan pengajaran kepada murid-murid yang mempelajari ilmu-ilmu agama dalam tahap permulaan atau sebagian ilmu alat seperti Bahasa Arab (Nahwu, Syaraf dan sebagainya) untuk murid laki-laki Syekh Arsyad memberikan kepercayaan kepada Muhammad As’ad, sedangkan untuk pengajaran kaum wanitanya diberikan kepercayaan kepada Fatimah.[37]

Mencermati pendidikan Syekh Arsyad, kita bisa melihat pengembangan secara sistematik dari paradigma sampai praktis, dalam paradigma dia mengembangkan orientasi baru meskipun tidak radikal tetapi cukup membuat bergeser dari padigma lama yang cenderung pada pengembangan rohaniah-ukhrawi semata-mata berubah menjadi padigma baru yang tidak saja mengembangkan aspek rohaniah-ukhrawi melainkan juga memberi perhatian besar terhadap pengembangan aspek rohaniah-duniawi, di samping itu ia juga melakukan perubahan cukup mendasar dari tasawuf yang asosial dan penuh spekulasi-spekulasi Illahiyah yang membahayakan dan sangat anti syariat bahkan dianggap sebagai hijab penghalang pertemuan hamba dengan Tuhan, mengganti dengan pengharmonisan hubungan tasawuf dengan syariat yang saling menerima dan memberi satu sama yang lain, karena keduanya merupakan kesatuan utuh yang tak bisa dipisahkan satu sama lain yang ibarat sebuah koin yang mempunyai dua sisi, salah satu sisi rusak membuat sisi lain tidak berguna.

Dari aspek institusi Syekh Arsyad telah mengembangkan institusi pendidikan yang sebelumnya sangat sederhana hanya semacam pengajian di langgar, mesjid, rumah kepala desa, rumah guru dan rumah tatuha menjadi institusi pendidikan yang cukup lengkap yang bisa dikatakan semacam pesantren atau surau yang ada asrama murid tempat belajar perpustakaan rumah guru, aula pertemuan dan sebagainya, bahkan institusi ini diciptakan lingkungan kerja sehingga murid-muridnya bisa belajar sambil bekerja, dari aspek metodologi Syekh Arsyad juga melakukan perluasan yang cukup signifikan sebelumnya metodologi pendidikan sangat sederhana hanya metode halakoh, di mana guru mengajar dikelilingi oleh murid-muridnya tanpa ada diskusi yang terbuka. Setelah Syekh Arsyad datang dan berperan dalam pendidikan ia mengembangkan metodologi yang tidak halakoh semata-mata, tetapi juga ada metode ceramah yang biasanya banyak ia lakukan di langgar, pesantren dan balai perpustakaan.[38] Kemudian ia juga menerapkan metode tanya jawab dimana bisa ia bertanya murid-murid yang menjawab, atau sebaliknya murid-murid bertanya ia menjawab. Hal ini terlihat pada karyanya yaitu kitab Sabilal Muhtadin dan Tuh Faturragibin, sebagai contoh:

مَسَالَهْ: جِيْكَا تِيَدَا مَلِيْهَةْ إِيَ  أَكَنْ دَارَهْ نِيْفَسْ سَكَلِي كَلِي أَدَاكَهْ هَارُسْ بَاكِى سُوَامِيْثَ مَوَطَ دَارِ فَدَ مَنْدِي أَتَوْ تَيَمُمْ.

Masalah:  ”Jika tak melihat sedikitpun darah nifas haruskah suaminya menyuruh dia mandi atau tayamum.”[39]

Pernyataan demikian dalam tiap pengajaran Syekh Arsyad sering kali diberikan masalah kemudian dilontarkan, apabila tidak ada satupun yang dapat menjawab dengan tepat barulah ia memberikan arahan.

Contoh yang lain:

سُأَلْ         : بَرَفَ فَرْكَرَ رُكُنْ تَوْبَةْ يَغْ مَغْكُوْكُرْكَنْ دُوْسَا؟

جَاوَبْ       : أَدَافُنْ رُكُنْ تَوْبَةْ يَغْ مَغْكُوكُرْكَنْ دُوْسَا إِيْتُوْ تِيْكَا فُرْكَارَ.

Soal       :“Berapakah rukun taubat yang mennghapuskan dosa.

Jawab    :”Rukun taubat yang menghapuskan dosa ada tiga perkara”[40]

Hal ini lebih menunjukkan lagi bahwa tanya jawab bagi Syekh Arsyad merupakan satu yang sangat penting dalam pendidikan.

Di samping itu ia juga menerapkan metode memberikan contoh, di mana para muridnya mencatat penyampaian yang dia berikan disela-sela kitab yang dibaca. Selanjutnya ia juga memakai metode Takhasus di mana murid-murid yang berbakat dalam bidang tertentu terutama tasawuf, ia bimbing secara khusus dalam waktu yang tertentu pula, selain itu ia juga menerapkan metode belajar sambil bekerja di mana kebanyakan muridnya meskipun belajar secara rukun tetapi diberi juga tugas untuk bekerja di sawah sebagai petani atau diperkampungan Dalam Pagar.

Dari aspek isi atau materi Syekh Arsyad mengembangkan sedemikian jauh dari sebelumnya. Kalau dahulu materi pendidikan terbatas pada pengajaran Al-Quran, sedikit tentang fiqih (terutama pelajaran shalat, wudhu dan azan) dan cukup mendalam pelajaran tasawuf, namun sayangnya sudah tanpa kendali syariat. Setelah zaman Syekh Arsyad materi pendidikan tidak sekedar belajar Al-Quran tetapi sekaligus pelajaran tafsir, tajwid, qira’at, khat, kaligrafi, juga bahasa Arab dengan berbagai seluk-beluknya. Dalam fiqih tidak semata-mata pelajaran shalat, wudhu dan azan tetapi juga mencakup seluruh aspek ibadah dan muamallah. Dalam bidang aqidah juga diajarkan oleh Syekh Arsyad terutama aqidah yang beraliran Ahwalul Sunnah Waljama’ah yang sebelumnya tidak diabaikan. Dalam tasawuf ia membawa angin baru semacam ajaran tasawuf yang sudah diperbaharui yakni non-sufisme dalam tarikat yang mengharmoniskan antara tasawuf palsafi dan tasawuf amali (ajaran Ibnul Arabi dengan ajaran Al-Ghazali), antara zuhud dan jihad. Selain itu ia juga mengajarkan ilmu falak, keterampilan berdagang, keterampilan bertani dan keterampilan berpolitik terutama sebagai mufti dan qadhi.

Dalam tinjauan kekinian, nilai-nilai sejarah dalam pendidikan Islam di Kalimantan Selatan masih meninggalkan kesan yang cukup monumental. Martapura sebagai ibukota Kotamadya Banjar[41] diberi gelar Kota Serambi Mekkah. Marwah ini tidak lepas dari peran pesantren, seperti yang diungkapkan KH. Abdul Syukur dalam buku Kota Serambi Mekkah, bahwa secara kuantitatif Martapura mempunyai pesantren lebih banyak dibandingkan daerah lainnya di Kalimantan Selatan. Adapun pesantren tertua dan sangat terkenal adalah Pesantren Darussalam.[42]

Dalam sebuah buku bertajuk biografi Ny. Hj. Asmah Sjachruni diberikan gambaran nilai pendidikan Islam dalam aspek sosiologis pada awal masa pasca kemerdekaan Indonesia. Dalam buku tersebut dikutib perkataan Ny. Hj. Asmah Sjahruni sebagai berikut:

“Pendidikan kala itu sangat terbatas. Untuk pendidikan agama orang bisa menambahnya di surau,atau semacam pesantren. Ayah telah mengajarkan saya bagaimana membaca al-Qur`an dengan baik. Ayah juga mengajarkan saya fiqih dan tauhid secara dasar. Untuk pendidikan umum (Sekolah Rakyat) Lima Tahun yang dibuat dua jenjang. Pertama hingga kelas tiga dan mendapat ijazah. Lantas dilanjutkan jenjang kedua kelas empat dan lima.”[43]

Periode terakhir perkembangan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan, barangkali masih dapat dirasakan. Banyak perkembangan dan pengembangan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan ini. Salah satunya di sini penulis kemukakan sebuah berita pada harian Banjarmasin Post edisi tanggal 1 Juli 2002 sebagai berikut:

“Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mukarramah, Sungai Danau, Kecamatan Satui, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, bermaksud membangun sarana dan prasarana pendidikan serta sosial (Pensos) terbesar untuk wilayah Kalimantan.”[44]

Salah satu contoh lainnya,

D. Penutup

Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan dalam lintasan sejarah mempunyai kebanggan tersendiri, dengan terbitnya seorang yang mendapat gelar “Matahari Islam dari Kalimantan”. Akankah cahaya matahari pendidikan itu akan tetap menerangi jejak langkah pendidikan Islam sekarang?

Artikel ini merupakan Makalah yang saya tulis untuk mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam (Program Pasca Sarjana IAIN Antasari Banjarmasin)

RESUME:


[1]Rute perjalanan suku Mongol ini mula-mula ke Han Chong (daratan Cina Tengah), kemudian Yun Nan, Thailand, Semenanjung Malaka, Sumatra, Jawa, akhirnya tersebar ke Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Kepulauan lainnya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Pendidikan Sejarah, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), h. 74.

[2]Suku Yun Nan sebenarnya adalah suku Mongol yang mula-mula, setelah imigrasi ke Selatan berbaur dengan suku setempat. Jalur perjalanan imigran kedua ini sama dengan yang pertama. Alasan imigrasi adalah karena kekacauan akibat peperangan, perdagangan, mencari tempat tinggal yang lebih aman dan sejahtera. Ibid, h. 75.

[3]Mereka memakai jalur darat dan laut: Lautan Hindia, Thailand, Myanmar ke Sumatra, Jawa, dan kemudian pada abad ke-2 mendirikan Kerajaan Prambanan di Jawa Tengah. Sampai pada abad ke 8, penganut agama Budha dari Cina dan India datang dan mendirikan Kerajaan Sriwijaya di Palembang, Sumatra Selatan. Ibid.

[4]Pada abad ke-12, dengan amanat untuk menaklukkan dunia bagi Islam, mereka datang ke Aceh, Sumatra Utara, Kalimantan, kemudian ke Selatan, tiba di Pulau Jawa, dan mendirikan Kesultanan Banten. Sesudah itu ekspansi ke Timur Laut menaklukkan Sulawesi, dan ke Utara sampai ke Pulau Mindanao, Filipina Selatan. Pada abad ke-15, tentara Spanyol menaklukkan Pulau Luzon, kemudian ke Selatan menghambat rencana ekspansi Islam ke utara ke Pulau Luzon itu. Ibid., h. 76. Keterangan mengenai empat periode imigrasi besar tersebut juga bisa dilihat dalam buku Dr. Peter Wongso, Hamba Tuhan dan Jemaat Kristus Yang Melintas Jaman, (Jakarta: Seminar Al-Kitab Asia Tenggara [TAAT], 1997), h. 52.

[5]Kolonialisme Eropa Barat pertama yang berekspansi ke Timur adalah Portugis, yang mulai menaklukkan Goa di pantai Barat India, kemudian menyeberangi selat Malaka di Lautan Hindia, tiba di Pulau Jawa, memerintah Indonesia selama kurang lebih 100 tahun lamanya. Ibid., h. 60.

[6]Bangsa Spayol menjajah pulau Luzon. Ibid., h. 61.

[7]Pada abad ke-16, Belanda menyerang Indonesia, mengusir Portugis dan menjajah Indonesia selama 350 tahun lamanya. Ibid.

[8]Lihat: Ibid., h. 67.

[9]Helius Syamsuddin, Islam and Resistence in South and Centre kalimantan in The Nineteenth and Early Twentieth Centuries, Terj.: Najib Kaelani dan Muhammad Faqih De Ridha, Islam dan Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Tengah Pada Abad 19 dan Awal Abad 20, (Banjarmasin: Pusat Studi dan Pengembangan Borneo, 2002), h. 1.

[10]Ibid., h. 2; Pada Masa itu, Melayu begitu bersinonim dengan Islam, sehingga ada anggapan bahwa kalau seseorang itu Melayu, dia mestilah Islam. Sekarang, nampaknya tanggapan itu telah bergeser kerana tidak dapat dinafikan bahwa ada sebilangan kecil orang Melayu yang bukan Islam lagi. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa bahasa dan bangsa Melayu telah tersebar bukan sahaja di Asia Tenggara, malah di luar dunia Melayu. Menurut C.A. Mess, bahasa Melayu terdapat di Tanah Melayu, di pantai timur laut Sumatera, di kepulauan Riau, di Palembang, di Kampar, di Jambi, di Medan, serta di pantai Kalimantan. Lihat: C.A. Mess, Ranah Melayu, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 98; Menurut R.O. Winstedt, bahasa Melayu terdapat di semenanjung Tanah Melayu, termasuk di negeri Selat, di Pattani, di kepulauan Riau, di pantai timur Sumatera, dan di pantai barat Borneo. Lihat: R.O. Winstedt, Asian and Indonesian, (London: Oxport University, 1979), h. 233.

[11]Willian Benton, Encyclopedia Britannica, (USA: Encyclopaedia Britannica, Inc., 1979), h. 365.

[12]D.J. Prentice, Peradaban Malaka, (Serawak, Malaysia: Al-Maktabatul-Kaber, t.th.), h. 106.

[13]Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Tak Dimakan Sejarah, (Banjarmasin: Bpost, 2003) Edisi. 6 Oktober 2003, h. 5.

[14]Cucu pertama Syekh Arsyad yang mewarisi ilmu langsung dari kakeknya, hapal Al Quran, menguasai Tafsir, Hadist dan Fiqih, serta menjabat mufti pertama di kerajaan Banjar. Ibunya Syarifah yang kawin dengan Usman. Re Nadalsyah, Buah yang jatuh Tidak Akan Jauh Dari Pohonnya, Banjarmasin Post, (Banjarmasin), 16 Mei 1997, h. 4.

[15]Ulama perempuan dan adik seibu Muhammad As’ad yang juga mewarisi pengetahuan kakeknya, Fatimah dikenal dengan karyanya Kitab Parukuanan Besar. buku ini sampai sekarang masih digunakan sebagai dasar belajar fiqih dan tersebar sampai ke Malaysia, Vietnam dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Ibid.

[16]Anak keempat Mufti H. M. As’ad cicit Syekh Muhammad Arsyad yang dikenal dengan julukan mufti lamak, pernah belajar beberapa tahun di Mekah dengan ulama besar di zamannya. Diangkat menjadi mufti kerajaan Banjar. Di antara murid beliau, sultan Adam Al-Waiq Billah. Ibid.

[17]Zuriat kelima dari pihak ibu dan generasi keempat dari pihak nenek ulama terkenal yang banyak menulis kitab dalam bahasa melayu bukunya Syaratul Arsyadiyah dijadikan rujukan untuk mengetahui silsilah Sekh Muhammad Arsyad yang tersebar sampai di Malaysia, Brunei, Fathani dan sebagainya. Belajar di Mekah setelah pulang berangkat ke Sapat Tanbilanan diminta masyarakat disana. Diangkat sebagai mufti wilayah Indragiri. Beliau menunjuk Tuan Guru H. Anang (Zainal Ilmi sebagai pengganti mengajar di dalam pagar). Ibid.

[18]Cicit kelima yang mewarisi ilmu dari orang tua dan datuknya, menguasai ilmu syariat dan hakikat. Sejak kecil mendampingi orang tua berdakwah. Selama lebih kurang 10 tahun belajar di Mekah. Setelah pulang memberikan pelajaran dan pemurah dan berani memberantas kebathilan bahkan menolak jabatan mufti untuk menggantikan kakaknya Mufti H. Muhammad Arsyad. Ibid.

[19]Anak Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari istri Tuan Bidur mewarisi pelajaran dari orang tua, menjadi qadhi pertama dan guru sultan Sulaiman. Pernah tinggal di Kedah, Malaysia atas permintaan masyarakat kawin dan membuka pengajian. Ibid.

[20]Keturunan beliau itu menguasai ilmu tarikat Nasysyabandiyah dan Sammaiah belajar dari ulama terkenal, Syekh Muhammad Amin qutbi dan Ali bin Abdullah Al-Banjari untuk ilmu tasawuf. Membuka pengajian di Bangil yang disebut Pondok Pesantren Datuk Kalampayan. Muridnya banyak menjadi ulama yang tersebar di Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Ibid.

[21]Terkenal dengan kesederhanaannya Mansyur sebagai wali setelah meninggal karena kuatnya kemanakan beliau, H. Abd. Rahman Siddiq menyimpan rahasia ketika Mufti H. Abd. Rahman Siddiq belajar di Mekah sering melihat beliau tawaf keliling Ka’bah padahal paman beliau itu berada di Banjar (Martapura). Ibid.

[22]Terkenal sebagai ulama pemurah, ramah dan disegani masyarakat, termasuk pejabat pemerintah Belanda. Beberapa tahun belajar di Mekah bersama paman beliau ulama Besar Syekh Muhammad Athailah. Mufti yang selalu berusaha meningkatkan syiar Islam dan kemudahan beribadah. Beliau mengukir makam Syekh Muhammad Arsyad dengan kaligrafi yang indah. Dimakamkan di depan rumah beliau yang terkenal dengan nama kubah di Sungai Jingah. Ibid.

[23]Ulama yang berpengaruh dalam masyarakat dan pejabat pemerintah di Kabupaten Banjar baik sipil maupun ABRI. Di antara guru beliau yang terkenal ialah Mufti H. Abd. Rahman Siddiq, yang menunjuknya pengganti mengajar karena keberangkatan beliau Ke Sapat Tambilahan Riau. Terkenal keramat beliau sewaktu terjadi kebakaran begitu pula tanda-tanda saat beliau wafat, kuburan beliau berada di sebelah kanan bangunan makam Syekh Muhammad Arsyad A-Banjari di desa Kalampayan Martapura. Ibid.

[24]Keturunan Syekh Muhammad Arsyad yang paling dicintai masyarakat dan terkenal pula di kalangan petinggi pemerintah memiliki kemampuan berkomunikasi dengan seluruh kalangan dan menguasai berbagai disiplin Ilmu agama termasuk tasawuf dan Ilmu tarikat. Pengajian di Sekumpul Martapura selalu dihadiri ratusan muslimin dari berbagai penjuru Kalimantan Selatan. Beliau memiliki berbagai keramat seperti mendatangkan buah rambutan sebelum musimnya juga memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit. Menelorkan beberapa karya tulis antara lain Manakip Syekh Muhammad Saman Al-Madhani dan Risalah Nuraniyah. Ibid.

[25]Ia seorang ulama besar yang disegani dan disayangi oleh segenap masyarakat Pontianak. Abu Daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Dalam Pagar: Sullamul Ulum, 1996), h. 63-64.

[26]Dialah yang menguasai Negeri Banjar, yang selalu berusaha memperbaiki urusan agama dan dunia, pimpinan yang benar dan ikutan yang mulia. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Sabilal Al-Muhtadin lil Al-Tafaqquh fi Amr Al-Din, (Mesir: Darun Ahya, t.th.), Cet. III, h. 3.

[27]Abu daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Tuan Haji Besar, (Martapura: Sullamul Ulum, 1980), h. 48.

[28]Dr. Karel. A. Steenbrink menilai bahwa, peristiwa yang terjadi di atas kemungkinan besar cerita ini versi Banjar saja dari cerita Syekh Siti Jenar dan cerita Siti Jenar pun sebenarnya juga hanya merupakan versi Jawa riwayat tentang Al-Hajjaj. Steenbrink beralasan bahwa antara Banjar dan Jawa mempunyai hubungan yang sangat erat, sehingga Banjar mendapat pengaruh dari Jawa. Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, (Jakarta: Bulan bintang, 1984), h. 49.

[29]Lembaga ini mengurusi masalah-masalah keagamaan yang timbul dalam masyarakat, agar senantiasa terpimpin kepada kebenaran umum. Mufti sebagai ketua Mahkamah Syar’iyah didampingi oleh seorang Qadhi yang berfungsi sebagai pelaksana hukum dan mengatur jalannya pengadilan, seperti soal nikah, talak, rujuk, pembagian harta warisan dan lain sebagainya. Yusuf Khalidi, Ulama Besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, (Banjarmasin: Aulia, 1968), h. 40.

[30]Karel. A. Steenbrink memberikan suatu analisa bahwa undang-undang Sultan Adam yang diterapkan tahun 1835, memberikan kesan bahwa kedudukan mufti mirip dengan Mahkamah Agung yang ada sekarang dan berfungsi pula sebagai lembaga naik banding dari Mahkamah Biasa. Karel A. Steenbrink, Loc.Cit.

[31]Di dalam pasal 7 disebutkan bahwa, mufti ditugaskan memberikan fatwa kepada orang yang hendak berhukum. Sedang di dalam pasal 8 disebutkan, bila orang yang hendak meminta fatwa itu mengatakan disuruh Sultan, orang tersebut harus memperlihatkan bukti dengan cap Sultan. Amir Hasan Kyai Bondan, Suluh Sejarah Kalimantan, (Banjarmasin: MAI fajar, 1953), h. 152.

[32]Am Ramadhani, Berantas Kebodohan Lebih Utama Dari Jihad, Banjarmasin Post, (Banjarmasin), 4 April 1997.

[33]Abu Daudi, Op.Cit., h. 45.

[34]Ibid, h. 36.

[35]Zafri Zamzam, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Ulama Besar Juru Dakwah, (Banjarmasin: Karya, 1974), h. 7.

[36]Shagir Abdullah, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Pengarang Sabilal Muhtadin, (Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniah, 1990), h. 50.

[37]Abu Daudi, Op.Cit., h. 42.

[38]Shagir Abdullah, Op.Cit., h. 51.

[39]Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Sabilal Muhtadin lil tafaqquh fi Amr Al-Din, (Beirut: Darul Al-Fikr, t.th.), h. 34.

[40]Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Tuhfatur Raghibin, Juz. I, (Surabaya: Ibnu Sa’ad Al-Nabhan, t.t.h.), h. 22.

[41]Kabupaten Banjar dibentuk pada tanggal 14 Agustus 1950, dengan Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Nomor 186/PB/92/14 Jo. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Undang-undang Pokok Pemerintahan di Daerah tanggal 14 Agustus 1950 dengan sebutan Daerah Otonom Kabupaten Banjarmasin. KH. Abdul Syukur dalam buku Kota Serambi Mekkah (Kalimantan Selatan: CRDS, 2001), h. 2.

[42]Ibid., h. 3.

[43]Nahdatul Ulama Kalimtan Selatan, Asmah Sjachruni : Muslimat Pejuang Lintas Zaman, (Banjarmasin: h. 14)

[44]Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mukarramah Bangun Sarana Pensos Terbesar di Kalimantan, (Banjarmasin: Bpost, 2002), edisi 1 Juli 2002, h. 3.

Kembali ke awal

About Khairil Yulian

Khairil Yulian Ibn Ruslan Abd al-Ghani Ibn Abd al-Syukr al-Siddiq

Posted on 10 Februari 2012, in Islam, Pendidikan, Sejarah and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: