Hakekat dan Landasan Kependidikan Islam


Hakekat dan Landasan Kependidikan Islam

Oleh:

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr Al-Shiddiq

Pendahuluan

Sejarah pendidikan Islam pada hakekatnya tidak bisa dilepaskan dari sejarah Islam. Perinciannya dapat dibagi menjadi 5 masa, yaitu:

  1. Masa hidup Nabi Muhammad Saw (571-632 M)
  2. Masa khalifah yang empat (Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali di Madinah (632-661 M)
  3. Masa Kekuasaan Umawiyah di Damsyik (661-750 M)
  4. Masa Kekuasaan Abbasiyah di Baghdad (750-1250 M)
  5. Masa dari jatuhnya kekuasaan khalifah di Baghdad tahun 1250 M sampai sekarang.[1]

Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar.[2] Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat.[3]

Pendidikan bukan semata-mata sebagai sarana untuk persiapan kehidupan yang akan datang, tetapi untuk kehidupan anak sekarang yang sedang mengalami perkembangan menuju ke tingkat kedewasaannya.[4] Dewasa ialah dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri baik secara biologis, psikologis, pedagogis dan sosiologis.[5] Dalam makalah ini penulis akan mencoba menguraikan hal-hal yang merupakan hakekat dan landasan dari kependidikan Islam.

Hakekat Kependidikan Islam

Kependidikan Islam dan pendidikan Islam dalam bahasa Inggris sering diterjemahkan dengan kata yang sama, yaitu Education. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Drs. M. Noor Syam dalam bukunya Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan yang menyebutkan dasar-dasar kependidikan sama artinya dengan dasar-dasar pendidikan. Dalam pengertian lain, dasar-dasar kependidikan hanya merupakan uraian tentang teori-teori pendidikan yang bersifat mendasar, atau bisa dikatakan hanya sebagai pengantar dasar-dasar ilmu pendidikan.[6]

Dengan demikian, dalam mengkaji hakekatnya kependidikan Islam, hal utama yang perlu dilakukan adalah mengetahui hal-hal yang berkenaan dengan pendidikan itu sendiri secara teoritis, yang menyangkut definisi pendidikan, tujuan pendidikan dan komponen-komponen lain yang terkait dengan kependidikan Islam.

  1. Definisi Pendidikan Islam
    Pendidikan secara etimologis, menurut para ahli merupakan kata yang dimodifikasi dari kata bahasa Yunani, yaitu Paedagogie yang berarti “Pendidikan”.[7] Sementara menurut tinjauan terminologis, pendidikan oleh para pakar sering didefinisikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.[8]
    Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu pada term al-Tarbiyah, al-Ta’lim dan al-Ta’dib.[9] Dari ketika term tersebut yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah term al-Tarbiyah.[10]
    Kata al-Tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu: Pertama, rabba-yarbu yang berarti tertambah, tumbuh dan berkembang. Rabiya-yarba berarti menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun dan memelihara.[11]
    Pendidikan dalam konteks Islam ini, banyak kalangan pakar memberikan definisi. Seperti yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas bahwa
    Pendidikan Islam ialah usaha yang dilakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan.[12]
    Pendapat senada dengan yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas tersebut juga dikemukakan oleh beberapa pakar pendidikan lainnya, seperti Drs. Ahmad D. Marimba,[13] Drs. Birlian Somad[14] dan Musthafa al-Ghulayaini.[15]
  2. Tujuan Pendidikan Islam
    Tujuan adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan suatu kegiatan. Karena itu tujuan pendidikan Islam, yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan pendidikan Islam.[16]
    Menurut Prof. Dr. M. Athiyah al-Abrasi, para ahli pendidikan telah sepakat bahwa tujuan pendidikan Islam bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui. Tujuan pokok dan terutama dari Pendidikan Islam ialah mendidik anak budi pekerti dan pendidikan jiwa.[17]
    Prof. H. M. Arifin, M.Ed., membedakan tujuan teoritis dengan tujuan dalam proses. Tujuan teoritis terdiri dari berbagai tingkat antara  lain: tujuan intermedier, tujuan akhir dan tujuan insidental.[18] Sementara M. Arifin menyebutkan bahwa dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
    1. Tujuan dan tugas manusia di muka bumi, baik secara vertikal maupun horizontal.
    2. Sifat-sifat dasar manusia.
    3. Tuntutan masyarakat dan dinamika peradaban kemanusiaan.
    4. Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam.[19]

Menurut Muhammad Athiyah al-Abrasyi, tujuan pendidikan Islam terdiri atas 5 sasaran, yaitu:

  1. Membentuk akhlak mulia
  2. Mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat
  3. Persiapan untuk mencari rizki dan memelihara segala kemanfaatannya
  4. Menumbuhkan semangat ilmiah di kalangan peserta didik.
  5. Mempersiapkan tenaga profesional yang terampil.[20]

Dengan demikian, apa yang dikemukakan oleh Omar Mohammad al-Thoumy al-Syaibaniy berikut yang menyebutkan secara ringkas bahwa tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat[21] memberikan pemahaman bahwa Pendidikan Islam selalu mempertimbangkan dua sisi kehidupan duniawi dan ukhrawi dalam setiap langkah dan geraknya.[22]

Landasan kependidikan Islam

Setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai landasan tempat berpijak yang baik dan kuat. Oleh karena itu pendidikan Islam sebagai suatu usaha membentuk manusia, harus mempunyai landasan ke mana semua kegiatan dan semua perumusan tujuan pendidikan Islam itu dihubungkan.

Dasar ilmu pendidikan Islam adalah Islam dengan segala ajarannya. Ajaran itu bersumber dari Al-Qur’an, sunnah Rasulullah Saw. dan Rakyu (hasil pemikiran manusia).[23]

Landasan Islam terdiri dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw yang dapat dikembangkan dengan ijtihad, al-Maslahah al-Mursalah, Istihsan, Qiyas dan sebagainya.[24]

  1. Al-Qur’an
    Al-Qur’an adalah kalam Allah Swt. yang diturunkan kepada Muhammad Saw dalam bahasa Arab yang terang guna menjelaskan jalan hidup yang bermaslahat bagi umat manusia di dunia dan di akhirat.[25]
    Dalam kaitan Al-Qur’an sebagai salah satu landasan kependidikan Islam, Ahmad Ibrahim Muhanna sebagaimana dikutip oleh Drs. Hery Noer Aly, MA. Dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, mengatakan sebagai berikut:
    Al-Qur’an membahas berbagai berbagai aspek kehidupan manusia, dan pendidikan merupakan tema terpenting yang dibahasnya. Setiap ayatnya merupakan bahan baku bangunan pendidikan yang dibutuhkan semua manusia. Hal itu tidak aneh mengingat Al-Qur’an merupakan kitab hidayah; dan seseorang memperoleh hidayah tidak lain karena pendidikan yang benar serta ketaatannya. Meskipun demikian, hubungan ayat-ayatnya dengan pendidikan tidak semuanya sama. Ada yang merupakan bagian fondasionaldan ada yang merupakan bagian parsial. Dengan perkataan lain, hubungannya dengan pendidikan ada yang langsung dan ada yang tidak langsung.[26]
  2. As-Sunnah
    As-Sunnah ialah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rasul Allah Swt. Yang dimaksud dengan pengakuan itu adalah kejaidian atau perbuatan orang lain yang diketahui oleh Rasulullah Saw dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan.[27]
    Dalam lapangan pendidikan, sebagaimana dikemukakan oleh Abdurrahman An-Nahlawi dalam bukunya Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Sunnah mempunyai dua faedah, yaitu:
    1. Menjelaskan sistem pendidikan Islam sebagaimana terdapat di dalam Al-Qur’an dan menerangkan hal-hal yang rinci yang tidak terdapat di dalamnya.
    2. Menggariskan metode-metode pendidikan yang dapat dipraktikkan[28]

Banyak tindakan mendidik yang telah dicontohkan Rasulullah dalam pergaulan bersama para sahabatnya. Muhammad Quthb menerangkan bahwa pribadi Rasulullah Saw sendiri  merupakan contoh hidup serta bukti kongkrit sistem dan hasil pendidikan Islam.[29]

Di samping kedua landasan konstitusinal normatif tersebut, ijtihad (ra’yu) juga dijadikan landasan kependidikan Islam. Soerjono Soekanto menegaskan bahwa masyarakat selalu mengalami perubahan, baik mengenai nilai-nilai sosial, kaidah-kaidah sosial, pola-pola tingkah laku, organisasi, susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan, kekuasaan dan wewenang, maupun interaksi sosial dan lain sebagainya.[30] Ijtihad adalah istilah para fuqaha, yaitu berpikir dengan menggunakan seluruh ilmuyang dimiliki oleh ilmuan syariat Islam untuk menetapkan/ menentukan sesuatu hukum syariat Islam dalam hal-hal yang ternyata belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan, tetapi tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah.[31]

Ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang diolah oleh akal yang sehat dari para ahli pendidikan Islam. Ijtihad tersebut haruslah dalam hal-hal yang berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup di suatu tempat pada kondisi dan situasi tertentu. Teori-teori pendidikan baru dari hasil ijtihad harus dikaitkan dengan ajaran Islam dan kebutuhan hidup.[32]

Kesimpulan

Dari uraian sekilas tentang hakikat dan landasan kependidikan Islam yang telah penulis kemukakan di atas, dapat penulis ambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Hakekat kependidikan Islam adalah menciptakan pribadi muslim yang sempurna dan kesejahteraan dunia dan akhirat.
  2. Landasan kependidikan Islam adalah Al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad (ra’yu).

——————————–cut here——————————–

Daftar Pustaka

Abrasi, M. Athiyah al-, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1970

Abrasyi, Muhammad Athiyah al-, Dasar-Dasar Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Ghani dan Djohar Bahry, Jakarta, Bulan Bintang, 1984

Aly, Abdullah, dan H. Djamaluddin Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandung, Pustaka Setia, 1999, Cet. II

Aly, Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1999, Cet. I

Arifin, M., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1991

Attas, Syekh Muhammad al-Naquib al-, Konsep pendidikan Dalam Islam, Jakarta, Mizan, 1984

Daradjat, Zakiah, et.al., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1996, Cet. III

Ghulayaini, Musthafa al-, Idhah al-Nashihin, Beirut, Dar al-Fikr, 1984, h. 189.

Hasbullah, Ali, Ushul al-Tasyri al-Islam, Kairo, Dar al-Ma’arif, 1971

Heriawan, Adang, et.al., Mengenal manusia dan Pendidikan, Yogyakarta, Liberty, 1988, Cet. I

Ihsan, H. Fuad, Dasar-Dasar Kependidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 1997, Cet. I.

Marimba, Ahmad D., Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Alma’arif, 1989

Musra, Muhammad Munir, Al-Tarbiyah al-Islamiyah, Ushuluha wa Tathawuruha fi al-Bilad al-Arabiyah, t.tp., A’lam al-Kutub, 1977

Nahlawi, Abdurrahman an-, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Bandung, CV. Diponegoro, 1992

Nahlawi, Abdurrahman an-, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah, Beirut, Dar al-Fikr, 1989

Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta, Bulan Bintang, 1975

Purwanto, M. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1995, Cet. VIII

Qurthubiy, Ibnu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansyary al-, Tafsir al-Qurthubiy, Kairo, Dar al-Syabiy, t.th, Juz. I.

Quthb, Muhammad, Sistem Pendidikan Islam, terj. Salman Harun, Bandung, Alma’arif, 1984.

Soekanto, Soerjono, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Jakarta, Rajawali Pers, 1988

Somad, Birlian, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, Bandung, Alma’arif, 1981.

Syah, Muhibbin, M.Ed., Psikologi Belajar, Jakarta, Logos, 1999, Cet. I,

Syaibaniy, Omar Mohammad al-Thoumy al-, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1979.

Syalabi, Ahmad, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, Kairo, al-Kasyaf, 1954.

Syam, M. Noor, et.al., Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, Surabaya, Usaha Nasional, 1981

END NOTE:


[1]Dr. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h. 11.

[2]Muhibbin Syah, M.Ed., Psikologi Belajar, (Jakarta: Logos, 1999), Cet. I, h. 55.

[3]Drs. H. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Cet. I,    h. 1-2.

[4]Ibid., h. 5.

[5]Biologis: apabila seseorang telah dapat menurunkan keturunan (akil balig), Psikologis: apabila fungsi-fungsi kejiwaan seseorang telah matang, Pedagogis: apabila telah menyadari dan mengenal diri sendiri atas tanggung jawab sendiri, Sosiologis: apabila seseorang telah memenuhi syarat untuk hidup bersama yang telah ditentukan masyrakat. Ibid., h. 6.

[6]Sesungguhnya yang dimaksud dengan dasar-dasar kependidikan ialah uraian ringkas asas-asas atau pengantar kependidikan. Dasar-dasar kependidikan sama artinya dengan dasar-dasar pendidikan. Karena itu dapat pula diartikan sebagai pengantar pendidikan atau pengantar dasar-dasar ilmu pendidikan. Ini didasarkan pada pendekatan yang lebih mendasar dan praktis. Artinya, uraian tentang teori pendidikan secara teoritis hanya bersifat mendasar, sekedar memberikan wawasan tentang arti (pengertian, definisi), ruang lingkup, fungsi, tujuan dan sistematika atau komponen-komponen pendidikan lain, di samping juga menyangkut aspek-aspek yang antar-hubungannya dapat berpengaruh dengan fungsi pendidikan seperti: masyarakat, negara, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta nilai-nilai yang berlaku di dalamnya.           M. Noor Syam, et.al., Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1981), h. 1.

[7]Paedagogie berarti “pendidikan” sedangkan paedagoiek artinya “ilmu pendidikan”. H. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Cet. I, h. 1; Paedagogos ialah seorang atau budak pada zaman Yunani kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Juga dirumahnya, anak-anak tersebut selalu dalam pengawasan para Paedagogos. Jadi nyatalah bahwa pendidikan anak pada zaman Yunani kuno sebagian besar diserahkan kepada Paedagogos itu. Lihat: M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), Cet. VIII, h. 3.

[8]Drs. H. Fuad Ihsan, Op.Cit., h. 1-2; Pendidikan merupakan kegiatan dimanis dalam setiap individu yang mempengaruhi perkembangan fisik, mental, emosi sosial dan etikanya, dengan perkataan lain pendidikan merupakan suatu kegiatan yang dinamis yang mempengaruhi setiap aspek kepribadian dan kehidupan individu. Lihat: Drs. Adang Heriawan, et.al., Mengenal manusia dan Pendidikan, (Yogyakarta: Liberty, 1988), Cet. I, h. 2.

[9]Lihat: Muhammad Munir Musra, Al-Tarbiyah al-Islamiyah: Ushuluha wa Tathawuruha fi al-Bilad al-Arabiyah, (t.tp.: A’lam al-Kutub, 1977), h. 17.

[10]Istilah al-Ta’dib dan al-Ta’lim jarang sekali digunakan. Padahal kedua istilah tersebut telah digunakan pada awal pertumbuhan pendidikan Islam. Ahmad Syalabi, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Kairo: al-Kasyaf, 1954), h. 213.

[11]Abdurrahman an-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Diponegoro, 1992), h. 31; Al-Tarbiyah berasal dari kata rabb. kata ini memiliki banyak makna, tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestarian dan eksistensinya. Lihat: Ibnu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansyary al-Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, (Kairo: Dar al-Syabiy, t.th), Juz. I, h. 120.

[12]Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas, Konsep pendidikan Dalam Islam, (Jakarta: Mizan, 1984), h. 10.

[13]Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani  berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Drs. Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Alma’arif, 1989), h. 19.

[14]Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri, berkepribadian tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya adalah ajaran Allah yang tercantum dengan lengkap di dalam Al-Qur’an yang pelaksanaannya di dalam praktek hidup sehari-hari sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Birlian Somad, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, (Bandung: Alma’arif, 1981), h. 21.

[15]Pendidikan Islam adalah menanamkan akhlak mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasehat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemapuan (meresap dalam) jiwanya, kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk memanfaatkan tanah air. Musthafa al-Ghulayaini, Idhah al-Nashihin, (Beirut: Dar al-Fikr, 1984), h. 189.

[16]Drs. H. Djamaluddin dan Drs. Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. II, h. 14; Ringkasnya tujuan pendidikan Islam adalah taqarrub kepada Allah, bahagia di dunia dan akhirat. Menurut Imam Al-Ghazali, tujuan pendidikan yaitu pembentukan Insan Paripurna, baik di dunia maupun di akhirat. H. Djamaluddin dan Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. II, h. 15.

[17]M. Athiyah al-Abrasi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), h. 2.

[18]M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 38; Tujuan Intermedier, yaitu tujuan yang merupakan batas sasaran kemampuan nyang harus dicapai dalam proses pendidikan pada tingkat tertentu. Tujuan insidental, merupakan peristiwa tertentu yang tidak direncanakan, tetapi dapat dijadikan sasaran dari proses pendidikan pada tujuan intermedier. Tujuan Akhir pendidikan Islam pada hakekatnya adalah realisasi dari cita-cita ajaran Islam, yang membawa misi bagi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir dan bathin di dunia dan akhirat. Lihat: H. Djamaluddin dan Abdullah Aly, Op.Cit., (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. II, h. 17.

[19]M. Arifin, Filsafat pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), h. 120.

[20]Muhammad Athiyah al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Ghani dan Djohar Bahry, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. h. 3-4.

[21]Omar Mohammad al-Thoumy al-Syaibaniy, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 410.

[22]H. Djamaluddin dan Abdullah Aly, Op.Cit., h. 11.

[23]Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), Cet. I,    h. 30.

[24]Zakiah Daradjat, et.al., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), Cet. III, h. 19.

[25]Lihat: Ali Hasbullah, Ushul al-Tasyri al-Islam, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1971), h. 17.

[26]Hery Noer Aly, Op.Cit., h. 38-39.

[27]Zakiah Daradat, et.al., Op.Cit., h. 20.

[28]Abdurrahman an-Nahlawi, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), h. 23.

[29]Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, terj. Salman Harun, (Bandung: Alma’arif, 1984), h. 13.

[30]Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, (Jakarta: Rajawali Pers, 1988), h. 87-88.

[31]Zakiah Daradat, et.al., Op.Cit., h. 21.

[32]Ibid., h. 22.

About Khairil Yulian

Khairil Yulian Ibn Ruslan Abd al-Ghani Ibn Abd al-Syukr al-Siddiq

Posted on 26 Februari 2012, in Islam, Pendidikan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: