Kontroversi Konsep Filsafat Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd


Kontroversi Konsep Filsafat
Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd

0leh

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq


Pendahuluan

Penyelidikan filsafat[1] bukanlah monopoli Yunani dan dunia barat. Pemikiran filsafat haruslah ditempatkan sebagai suatu petunjuk kegelisahan abadi umat manusia. Jika orang mengatakan bahwa sejarah pemikiran umat manusia dimulai sejak periode Thales di Yunani kuno, adalah suatu kealfaan manusia dalam mencatat perilaku sejarah umat manusia tersebut, atau justru memang harus diakui adanya kealfaan sebagai umat manusia memunculkan sejarahnya.[2]

Pada masa Rasulullah Saw, setiap permasalahan dapat langsung ditanyakan kepada beliau, tetapi sejak beliau wafat, umat Islam telah dihadapkan pada permasalahan yang menuntut mereka berpikir sendiri karena tidak ada lagi tempat mereka bertanya. Pada masa pasca wafatnya Rasulullah Saw ini saja telah lahir polarisasi umat dalam Islam pertama, yang melahirkan kelompok-kelompok umat seperti kaum Anshar, Muhajirin dan kaum kerabat Nabi.

Pada masa akhir Khulafa’ al-Rasyidin, juga lahir berbagai aliran sikap politis yang berkembang pada perbedaan ideologi teologis, seperti Khawarij, Syi’ah dan Sunni. Periode selanjutnya, atau sering disebut sebagai periode pemikiran Islam yang sistematis, dapat disebutkan berbagai kelompok yang mewakili suatu pandangan tertentu, seperti Mu’tazilah, Murji’ah, Qadariah, Jabariah dan Ahlu al-Sunnah Wa al-Jama’ah. [3]

Dari hampir semua zaman, masalah utama justru terletak pada masalah filsafat sebagai metode berpikir, yakni tentang legalitas filsafat untuk dipergunakan sebagai perangkat kerja menemukan dan mencari kebenaran. Perbedaan tersebut memuncak pada perbedaan Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.[4] Dalam makalah ini, penulis mencoba mengupas masalah kontroversi kedua tokoh sejarah tersebut dengan pendekatan sejarah.

Imam Al-Ghazali dan Pemikirannya

Imam Al-Ghazali[5] adalah seorang ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.[6] Perjalanan spiritualnya menjadikannya mempunyai satu konsep sendiri, terutama dalam bidang filsafat. Kalangan intelektual sebelum Al-Ghazali menjadikan filsafat sebagai cara untuk mencari kebenaran.[7] Pendapat mereka kemudian ditentang keras oleh Al-Ghazali.[8] Teknik pendekatan filsafat yang dibunuh oleh Al-Ghazali adalah konsep filsafat yang diutarakan oleh filosof Islam sendiri, yaitu Ibnu Sina[9] dan Al-Farabi.[10]

Dalam sejarah filsafat Islam Al-Ghazali dikenal sebagai orang yang pada mulanya syak terhadap segala-galanya. Perasaan syak ini kelihatannya timbul dalam dirinya dari pelajaran ilmu kalam atau teologi yang diperolehnya dari al-Juwaini.[11] Sebagaimana diketahui dalam Ilmu Kalam terdapat beberapa aliran yang saling bertentangan. Timbullah pertanyaan dalam diri Al-Ghazali: Aliran manakah yang bertul-betul benar diantara semua aliran itu?[12]

Pada mulanya pengetahuan filsafat dijumpai Al-Ghazali dalam hal-hal yang ditangkap dengan pancaindra, tetapi baginya kemudian ternyata bahwa pancaindra juga berdusta. Sebagai umpama sebagai berikut:

“Bayangan rumah kelihatannya tak bergerak, tetapi akhirnya ternyata berubah tempat. 
Bintang-bintang di langit kelihatannya kecil tetapi perhitungan menyatakan bahwa bintang-bintang itu lebih besar dari bumi”.

Karena tidak percaya pada panca indra lagi, kemudian dia meletakkan kepercayaan pada akal. Tetapi akal juga ternyata tidak dapat dipercaya.

Al-Ghazali mempelajari filsafat, kelihtannya untuk menyelidiki apakah pendapat-pendapat yang dimajukan oleh filosof-filosof itulah yang merupakan kebenaran. Baginya ternyata bahwa argumen-argumen yang mereka ajukan tidak kuat dan menurut keyakinannya ada yang bertentangan dengan ajaran Islam. Akhirnya ia mengambil sikap menentang terhadap filsafat.

Sebagaimana halnya dalam Ilmu Kalam, Al-Ghazali juga menjumpai argumen-argumen yang tidak kuat dalam filasafat, akhirnya dalam tasawuflah ia memperoleh apa yang dicarinya. Tasawuflah yang dapat menghilangkan rasa syak yang lama mengganggunya. Pengetahuan yang menimbulkan keyakinan akan kebenarannya bagi Al-Ghazali adalah pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari Tuhan dengan Tasawuf.[13]

Al-Ghazali tidak percaya pada filsafat, bahkan memandang filosof-filosof sebagai ahlu Al-Bida’, yaitu tersesat dalam beberapa pendalat mereka. Al-Ghazali menyalahkan filosof-filosof sebelumnya dalam beberapa pendapat berikut:[14]

  1. Tuhan tidak mempunyai sifat
  2. Tuhan mempunyai substansi basit (sederhana/simple) dan tidak mempunyai mahiah (hakekat/quiddity).
  3. Tuhan tidak mengetahui Juz’iat (perincian/particulars)
  4. Tuhan tidak diberi sifat al-Jins (Jenis/Jenus) dan Al-Fashl (differentia)
  5. Planet-planet dan bintang-bintang bergerak dengan kemauan
  6. Jiwa planet-planet mengetahui semua juz’iat.
  7. Hukum alam tak dapat berubah
  8. Pembangkitan jasmani tidak ada
  9. Alam itu tidak bermula
  10. Alam itu akan kekal

Tiga dari kesepuluh pendalat di atas, menurut Al-Ghazali membawa kepada kekufuran, yaitu:

  1. Alam kela dalam arti tak bermula
  2. Tuhan tak mengetahui perincin dari apa-apa yang terjadi di alam.
  3. Pembangkitan jasmani tak ada. [[15]]

Ibnu Rusyd dan Pemikirannya

Ibnu Rusyd[16] adalah seorang seorang hakim Istana di Cordova (Spanyol Islam)[17] yang juga dikenal sebagai dokter istana. Di samping itu ia juga seorang filosof yang mempunyai pengaruh besar di kalangan istana, terutama di zaman Sultan Abu Yusuf Ya’qub al-Mansyur (1184-1199 M).

Ibnu Rusyd hidup dalam situasi politik yang sedang berkecamuk. Pemerintahan Almurafiah digulingkan oleh golongan Almuhadiah di Marakusy pada tahun 542/1147 M, yang menaklukan Cordova pada tahun 543 H/ 1148 M.[18] Tiga orang pewarisnya dari golongan Almuhadiah, Abd al-Mu’min, Abu Ya’kub dan Abu Yusuf yang diabdi oleh Ibnu Rusyd, terkenal karena semangat berilmu dan berfilsafat mereka. Di sinilah sebenarnya awal perkenalan Ibnu Rusyd dengan dunia filsafat.

Awal keterlibatan Ibnu Rusyd dalam dunia filsafat adalah ketika Abu Ya’kub yang saat itu menjadi Amir, memerintahkannnya menuliskan ulasan-ulasan atas buku-buku Aristoteles agar buku tersebut dapat dipahami dengan mudah olehnya.[19]

Kondisi kultural pada saat itu, sebenarnya tidak begitu mendukung terhadap aktivitas filsafat Ibnu Rusyd, hanya saja pengaruhnya di kalangan istana memberikan kesempatan yang besar dalam berfilsafat. Sebagai seorang filosof, pengaruhnya di kalangan istana kurang disenangi oleh kaum ulama dan fuqaha. Sehingga, ketika terjadi peperangan antara Sultan dengan kaum Kristen, Sultan menghajatkan bantuan dari kalangan ulama dan fuqaha yang memang dikenal lebih dekat umat. Kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan oleh kaum Ulama dan Kaum Fuqaha untuk menyingkirkan Ibnu Rusyd.

Ibnu Rusyd dituduh membawa filsafat yang menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam. Maka dengan demikian, Ibnu Rusyd ditangkap dan diasingkn ke suatu tempat bernama Lucena di daerah Cordova. Bukan hanya itu saja, buku-bukunya dibakar di depan umum. Namun penderitaan dan siksaan yang diderita oleh Ibnu Rusyd tidak lama, karena Sultan memberikan pengampunan terhadapnya.[20]

Ibnu Rusyd lebih dikenal dan dihargai di Eropa Tengah daripada di Timur, dikarenakan beberapa sebab:

  1. Tulisan-tulisannya yang banyak jumlahnya itu diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan diedarkan serta dilestarikan, sedangkan teksnya yang asli dalam bahasa Arab dibakar atau dilarang diterbitkan lantaran mengandung semangat anti filsafat dan filosof.[21]
  2. Eropa pada jaman Renaissance dengan mudah menerima filsafat dan metode ilmiah sebagaimana dianut oleh Ibnu Rusyd, sedangkan di Timur, ilmu-ilmu filsafat mulai dikurbankan demi berkembangnya gerakan-gerakan mistis dan keagamaan.[22]

Sebagai seorang filosof, Ibnu Rusyd tentu saja harus melakukan pembelaan terhadap filsafat dari serangan-serangan Al-Ghazali yang menuduh kaum filosof menjadi kafir dengan berbagai pemikiran filosofis sebagaimana disebutkan di atas.

Mungkin pada masa sekarang ini soal seperti ini tidak begiru pantas dihebohkan. Tetapi pada abad ke-6 H/12 M masalah semacam itu memang sangat penting. Para filosof dituduh berbuat bid’ah (kufr) atau tidak beragama. Al-Ghazali dalam karyanya Thahafut mengutuk para filosof sebagai orang yang tidak beragama.. kalau tuduhan ini benar, maka para filosof itu berdasarkan hukum Islam, harus dihukum mati, kecuali kalau mereka mau melepaskan diri dari berfilsafat atau membuat pernyataan di depan umum bahwa mereka tidak percaya kepada ajaran-ajaran filsafat mereka. Oleh karena itu, perlulah bagi para filosof membela diri dan pendapat-pendapat mereka.[23]

Dalam risalahnya Ibnu Rusyd menyatakan bahwa filsafat diwajibkan atau paling tidak diajurkan dalam agama Islam, sebab fungsi filsafat hanyalah membuat spekulasi atas yang maujud dan memikirkannya selama membawa pada pengetahuan akan sang pencipta. Al-Qur’an memerintahkan untuk berpikir (i’tibar) dalam banyak ayat seperti: “Berpikirlah, wahai yang bisa melihat”. I’tibar merupkan suatu ungkapan Qur’ani yang berarti sesuatu yang lebih dari sekedar spekulasi tau repleksi (nazar).[24]

Ibnu Rusyd kembali ke bidang Fiqh dan membandingkan metode logika filsafat dengan metode tradisional fiqh. Dia menyebutkan prinsip fiqh berpijak pada empat sumber, yaitu Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ (konsensus) dan Qiyas (silogisme yang absah). Telah dipahami bahwa Al-Qur’an mesti ditafsirkan secara rasional, dan ijma’ merupakan buah kesepakatan secara aklamasi dari para alim pada masa tertentu, tetapi tiada konsensus pada masalah-masalah doktrinal. Karena tidak ada konsensus pada masalah-masalah doktrinal tersebut, maka Al-Ghazali, atas dasar ijma’ tidak berhak mengutuk para filosof sebagai orang-orang tidak beragama.[25]

Menurut Al-Ghazali, mereka pantas dituduh sebagai ahli bid’ah (takfir) lantaran tiga hal, yaitu ajaran mereka tentang keabadian dunia, penolakan mereka atas pengetahuan Tuhan tentang segalanya dan penolakan meraka atas kebangkitan kembali secara jasmaniah.[26] Menurut Ibnu Rusyd, agama didasarkan pada tiga prinsip yang mesti diyakini oleh setiap Muslim, yaitu eksistensi Tuhan, kenabian dan kebangkitan. Ketiga prinsip ini merupakan pokok masalah agama. Orang yang menolak prinsip yang manapun dari yang disebut di atas, berarti ialah yang pantas disebut tak beragama (kafir).[27]

Kontroversi Konsep Filsafat

Menyimak dari pemiran kedua tokoh tersebut, Al-Ghazali (450 H/1059 M–505 H/1111 M) kecewa dengan filsafat karena pengalamannya dalam dunia filsafat, dia tidak menemukan kebenaran yang dia cari. Kemudian dia menemukan bahwa pendekatan tasawuflah yang dapat menjawab semua permasalahan yang dihadapinya dalam menemukan kebenaran sebenarnya. Selanjutnya ia menentang setiap kegiatan filsafat dan mengutuk kaum filosofis sebagai orang kafir dan tak beragama. Sementara Ibnu Rusyd (520 H/1126 M–592 H/1198 M) adalah seorang yang telah terjun ke dunia filosofis Islam. Dalam posisinya sebagai seorang filosof, ia dituntut untuk membela eksistensi filsafat dari serangan-serangan Al-Ghazali yang telah menyebabkan para filosof kehilangan kekuatannya untuk meneruskan aktivitas filsafatnya.

Abdul Munir Mulkhan menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan mendasar dalam penggunaan “filsafat” sebagai metode berpikir dari kedua tokoh pemikir tersebut. Perbedaan justru terdapat pada teknik berpikirnya itu sendiri. Dan pada legalitas filsafat sebagai metode mencari kebenaran. Jika Imam Al-Ghazali menekankan pada aspek intuitif, maka Ibnu Rusyd menitik beratkan metode berpikirnya pada aspek rasional.[28]

Lebih jauh dapat dipahami bahwa Al-Ghazali lebih menekankan penetapan kebenaran berdasarkan pada penghayatan dan ketajaman perasaan yang dalam, sedangkan Ibnu Rusyd pada unsur logis dan korespondensi metode filsafat Yunani dan ajaran Islam.

Penutup

Kesimpulannya, Kontroversi Pemikiran filsafat antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, bukan terletak pada konsep filsafat, tetapi terletak pada terdapatnya perbedaan anggapan terhadap eksistensi filsafat itu sendiri. Al-Ghazali adalah orang yang menentang filsafat dan menyerang filosof dengan tuduhan “Kafir”, sementara Ibnu Rusyd adalah seorang filosof Islam yang dituntut untuk membela keberadaan filsafat


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Zaenal Abidin, Ibnu Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia, Bulan Bintang, Jakarta, 1949.

Ahwani, Ahmad Fuad Al-, Filsafat Islam, Pustaka Firdaus, Bandung, 1984

Amin, Oemar, Filsafat Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1959.

Boer, T.J. De, The History of Philosophy in Islam, Dover Publication, Inc., New York, 1967.

Daudi, Ahmad, Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1984.

Dominique, Urvoy, Ibn Rushd (Averroes): Arabic Thought and Culture, Routedge, London, 1991.

Ghazali, M. Bahri, Konsep Ilmu Menurut Al-Ghazali: Suatu Tinjauan Psikologik Pedagogik, Pedoman Ilmu Jaya, Yogyakarta, 1991.

Mansur, Laily, Ajaran dan Teladan Para Sufi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996.

Mulkhan, Abdul Munir, Mencari Tuhan dan Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai pemikiran Al-Ghazali, Bumi Aksara, Jakarta, 1992.

Munawir, Imam, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, Bina Ilmu, Surabaya, 1985.

Nasution, Harun, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1983.

___________, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Universitas Indonesia, Jakarta, 1996.

Poerwantana, et.al., Seluk beluk Filsafat Islam, Rineka Cipta, Jakarta, 1996.

Sudarsono, Filsafat Islam, Rineka Cipta, Jakarta, t.th.

Syarif, M.M., Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1994.

___________, The Philosophies: History of Muslim Philosophy, terj.: Ilyas Hasan, Mizan, Bandung, 1996.


Keterangan:
Artikel ini merupakan makalah yang saya tulis untuk tugas mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam Program Pasca Sarja IAIN Antasari Banjarmasin.

Kembali Ke:

  1. Pendahuluan
  2. Imam Al-Ghazali dan Pemikirannya
  3. Ibnu Rusyd dan Pemikirannya
  4. Kontroversi Konsep Filsafat
  5. Penutup

[1]Perkataan “Filsafat” bukanlah bahasa Arab, sebelum Islam datang, orang Arab tidak mempunyai filsafat. Meskipun mereka mempunyai Hikmah dan Hukama, mempunyai “Kebijaksanaan” dan “para Bijaksanawan”. Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1959),      h.11; Filsafat sebgai ilmu adalah sebuah sistematika pemikiran mendalam untuk mencari dan menemukan kebenaran. Sedangkan filsafat sebagai kegiatan berpikir dapat dikatakan sebagai suatu pemikiran yang mendalam dan radikal tentang segala sesuatu, Abdul Munir Mulkhan, Mencari Tuhan dan Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai pemikiran Al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), Cet. II, h. 71

[2]Ibid., h. 77.

[3]Ibid., h. 78.

[4]Ibid., h. 79.

[5]He (Al-Ghazali) was born at Tos in Khorasan in the year 1059. T.J. De Boer, The History of Philosophy in Islam, (New York: Dover Publication, Inc., 1967), h. 155; Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali. Laily Mansur, Ajaran dan Teladan Para Sufi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), h. 25; Setelah bertahun-tahun mengembara sebagai sufi ia kembali ke Thus di tahun 1105 M dan meninggal di sana pada tahun 1111 M. Lihat: Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), Cet. III., h. 43; Di dunia barat terkenal ia dengan sebutan al-Ghazel. M. Bahri Ghazali, Konsep Ilmu Menurut Al-Ghazali: Suatu Tinjauan Psikologik Pedagogik, (Yogyakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991), Cet. I h. 21.

[6]Masa hidup Al-Ghazali adalah masa munculnya aliran-aliran pemikiran di tengah-tengah masyarakat. Ibid., h. 24.

[7]Ahli-ahli filsafat Islam Banyak mempelajari filsafat Yunani, sehingga dengan demikian telah terjadi kontak antara Filsafat Yunani dengan ajaran agama Islam. Sudarsono, Filsafat Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, t.th.), h. 122.

[8]Al-Ghazali mengecam ajaran-ajaran filosof-filosof Mulism dalam bukunya Thahafut, dan metode yang digunakan adalah tasawuf. M.M. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy, terj.: Ilyas Hasan, (bandung: Mizan, 1996), Cet. VIII, h. 199.

[9]Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada tahun 980 M di Asfshana, suatu tempat dekat Bukhara. Orang tuanya adalah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman. Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya,(Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia, 1996), h. 50; Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal unik, sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu – satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad. M.M. Syarif, Para Filosof Muslim, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 101; Di bidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya dunia Islam menyanjungnya, ia memang merupakan satu bintang gemerlapan memancarkan cahaya sendiri. Lihat: Imam Munawir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985), h. 332 – 333; Lihat: Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Firdaus, 1984), h. 63.

[10]Dengan ketajaman otaknya Ibnu Sina banyak mempelajari filsafat dan cabang-cabangnya, kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru setelah ia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho-nya Al-Farabi (870-950 M), semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa dia menjadi murid yang setia dari Al-Farabi. Zaenal Abidin Ahmad, Ibnu Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1949), h. 49; Al-Ghazali demikian sengit dan keras terhadap para filosof, khususnya Al-Farabi dan Ibnu Sina, Selanjutnya Ibnu Rusyd terhadap Al-Ghazali dan terhadap Kitabnya yang berjudul Thahafut al-Falaasifah. Ahmad Daudi, Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 10.

[11]Imam al-Haramain al-Juwaini adalah Guru Besar di Madrasah al-Nizamiah Nisyafur. Lihat: Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Op.Cit., h. 41.

[12]Ibid.

[13]Lihat: Ibid., h. 42-44; Al-Ghazali memperoleh kesan bahwa orang-orang sufi (ahli Tasawuf) itu benar-benar berada di atas jalan yang benar, berakhlak baik dan mendapat pengetahuan yang tepat. Sudarsono, Op.Cit., h. 122.

[14]Al-Ghazali menghantam pendapat-pendapat filsafat Yunani, di antaranya juga Ibnu Sina c.s., dalam dua puluh masalah. Di antaranya yang terpenting ialah (1) Al-Ghazali menyerang dalil-dalil filsafat (aristoteles) tentang azalinya alam dan dunia, (2) Al-Ghazali menyerang pendapat kaum filsafat (aristoteles) tentang pastinya keabadian alam, (3) Al-Ghazali menyerang pendapat kaum filsafat bahwa Tuhan hanya mengetahui soal-soal yang besar saja dan (4) Al-Ghazali juga menentang pendapat filsafat bahwa segala sesuatu terjadi dengan kepastian hukum sebab dan akibat. Poerwantana, et.al., Seluk beluk Filsafat Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), h. 170-171.

[15]Lihat: Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Op.Cit., h. 45.

[16]Nama penuh Ibnu Rusyd ialah Abu al-Walid Muhammad ibn Muhammad ibn Rusyd, ia lahir di Cordova pada tahun 1126 M. Ibid., h. 47; Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd lahir di Cordova pada tahun 520 H/1126 M. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h. 197; Abu-l-Walid Muhammad ibn Akhmed ibn Mohammed ibn Roshd (Averroes) was born at Cordova, of Al-Ghazali family of lawyers, in the year 1126. T.J. De Boer, Op.Cit, h. 187; The twelfth-century philosopher Ibn Rushd also known as Averroes, is one of the most important philosophers of the Arab middle age. He played Al-Ghazali crucial role in the transmission of classical fhilosophy of Islam, nd his work had propound influence on western scholsticism and on aspects of renaissance thought. Urvoy Dominique, Ibn Rushd (Averroes): Arabic Thought and Culture, (London: Routedge, 1991), h. 1.

[17]Cordova terkenal sebagai pusat studi-studi filsafat. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h. 199.

[18]Ibid.

[19]Ketika Abu Ya’kub menjadi Amir, diperintahkannya Ibnu Rusyd untuk menulis ulasan-ulasan mengenai Aristoteles. Maka mulailah Ibnu Rusyd menuliskan ulasan-ulasan atas buku-buku Aristoteles. Untuk itu ia layak disebut sebagai “Juru Ulas”. Dan gelar itulah yang dikenal oleh masyarakat Eropa abad pertengahan. Ibid., h. 200-201.

[20]Orang-orang yang ahli dalam ilmu keagamaan (fuqaha dan Ulama) lebih dekat dengan massa dan terpengaruh oleh mereka. Para penguasa muslim yang membutuhkan dukungan mereka meninggalkan para filosof dan berpihak pada kepada massa yang berang. Aib dan siksaan yang diterimanya serta diusirnya dia dari tanah kelahirannya pada tahun 593 H/1196 M merupakan akibat dari pertentangan itu. Tetapi aib yang diderita oleh Ibnu Rusyd tidak berlangsung lama. Dan Al-Mansyur sekembalinya dari Marakusy, mengampuni dan memanggilnya kembali. Ibnu Rusyd pergi ke Marakusy dan dia meninggal pada tahun 595 H/1198 M. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h.  203.

[21]Dengan timbulnya pengaruh ulama dan fuqaha, kaum filosof mulai tak disenangi lagi dan buku-buku mereka dibakar. Ibnu Rusyd sendiri kemudian dipindahkan ke Maroko dan meninggal di sana dalam usia 72 tahun di tahun 1198 M. Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Op.Cit., h. 47; Tipu daya yang dilancarkan oleh kaum agamawan itu berhasil. Hal itu mengakibatkan Ibnu Rusyd bukan saja dihukum buang, tetapi juga tulisan-tulisannya dibakan dimuka umum. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h. 203.

[22]Sebenarnya ia sendiri terpengaruh oleh adanya pertentangan ilmu dan filsafat dengan agama. Agama memenagkan di Timur dan ilmu memengakan di Barat. Ibid., h. 202

[23]Ibid., h. 204.

[24]Ibid.

[25]Ibid., h. 206.

[26]Ibid.

[27]Ibid., h. 206-207.

[28]Abdul Munir Mulkhan, Op.Cit., h. 80.

About Khairil Yulian

Khairil Yulian Ibn Ruslan Abd al-Ghani Ibn Abd al-Syukr al-Siddiq

Posted on 1 April 2012, in Islam, Sejarah and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: