Category Archives: Islam

Nomor Surah Al-Qur’an dan Jumlah Ayat


Terkadang dalam beberapa hal, saya ingin menulis kutipan nama surah dalam Al-Qur’an dengan format yang sangat sederhana, yaitu hanya mencantumkan nomor surah. Tetapi kadang saya harus membuka referensi tersebut langsung dari sumbernya, hanya untuk mengetahui nomor surah tersebut.

Artikel ini sebenarnya tidak bertujuan apa-apa. Awalnya saya hanya ingin menulis nama surah dalam Al-Qur’an dengan format nomor surahnya saja, misalnya seperti “QS. Al-Baqarah: 200”, saya hanya ingin menulisnya dalam bentuk “QS.1:200”. Dengan mengabadikan Nomor Surah Al-Qur’an dan Jumlah Ayatnya di blog saya, maka saya akan lebih mudah mencari nomor surah yang saya cari.

No Surah

Nama Surah

Jumlah Ayat

1

Surat Al-Fatihah

7

2

Surat Al-Baqarah

286

3

Surah Al-i’Imran

200

4

Surah An-Nisaa

176

5

Surat Al-Maidah

120

6

Surat Al-An’am

165

7

Surat Al-A’raf

206

8

Surat Al-Anfal

75

9

Surah At-Tauba

129

10

Surah Yunus

109

11

Surah Hud

123

12

Surah Yusuf

111

13

Surah Ar-Ra’d

43

14

Surah Ibrahim

52

15

Surat Al-Hijr

99

16

Surah An-Nahl

128

17

Surat Al-Isra

111

18

Surat Al-Kahfi

110

19

Surah Maryam

98

20

Surah Ta-ha

135

21

Surat Al-Anbiyaa

112

22

Surat Al-Hajj

78

23

Surat Al-Muminun

118

24

Surah An-Nur

64

25

Surat Al-Furqan

77

26

Surah Ash-Shu’araa

227

27

Surat An-Naml

93

28

Surat Al-Qashash

88

29

Surah Al-Ankabut

69

30

Surah Ar-Rum

60

31

Surat Luqman

34

32

Surah As-Sajdah

30

33

Surat Al-Ahzab

73

34

Surah Saba

54

35

Surah Faathir

45

36

Surat Ya-Sin

83

37

Surah QS. Ash-Shaffat

182

38

Surah Sad

88

39

Surah Az-Zumar

75

40

Surat Al-Mu’min

85

41

Surah Ha-Mim

54

42

Surah Ash-Shura

53

43

Surah Az-Zukhruf

89

44

Surat Ad-Dukhan

59

45

Surat Al-Jathiya

37

46

Surat Al-Ahqaf

35

47

Surah Muhammad

38

48

Surah Al-Fat-h

29

49

Surah Al-Hujurat

18

50

Surah Qaaf

45

51

Surah Az-Zariyat

60

52

Surah At-Tur

49

53

Surat An-Najm

62

54

Surat Al-Qamar

55

55

Surah Ar-Rahman

78

56

Surat Al-Waaqi’ah

96

57

Surat Al-Hadid

29

58

Surat Al-Mujadila

22

59

Surat Al-Hasyr

24

60

Surat Al-Mumtahana

13

61

Surah As-Shaff

14

62

Surat Al-jumu’ah

11

63

Surat Al-munafik

11

64

Surah At-Tagabun

18

65

Surah At-talaq

12

66

Surah At-Tahrim

12

67

Surat Al-Mulk

30

68

Surat Al-Qalam

52

69

Surat Al-aqqa

52

70

Surat Al-Ma’arij

44

71

Surah Nuh

28

72

Surat Al-Jinn

28

73

Surah Al-Muzzammil

20

74

Surah Al-Muddathth

56

75

Surat Al-Qiyamat

40

76

Surah Ad-Dahr

31

77

Surat Al-Mursalat

50

78

Surah An-Nabaa

40

79

Surah An-Nazi’at

46

80

Surat Abasa

42

81

Surah At-Takwir

29

82

Surat Al-Infitar

19

83

Surah Al-Mutaffife

36

84

Surat Al-Inshiqaq

25

85

Surat Al-Buruj

22

86

Surah At-Tariq

17

87

Surat Al-A’la

19

88

Surat Al-Gashiya

26

89

Surat Al-Fajr

30

90

Surat Al-Balad

20

91

Surah Ash-Shams

15

92

Surat Al-Lail

21

93

Surah Adz-Dhuha

11

94

Surat Al-Syarh

8

95

Surah At-Tin

8

96

Surat Al-Alaq

19

97

Surat Al-Qadr

5

98

Surah Al-Baiyina

8

99

Surat Al-Zalzalah

8

100

Surat Al-Adiyat

11

101

Surat Al-Qari’a

11

102

Surah At-Takathur

8

103

Surat Al-Asr

3

104

Surat Al-Humaza

9

105

Surat Al-Fil

5

106

Surah Quraish

4

107

Surat Al-Ma’un

7

108

Surat Al-Kautsar

3

109

Surat Al-orang-orang kafir

6

110

Surat An-Nashr

3

111

Surat Al-Lahab

5

112

Surat Al-Ikhlas

4

113

Surah Al-Falaq

5

114

Surah Al-Nas

6

6236

Pengantar Risalah Siswa Quantum


Logoالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَ المُرْسَلِيْنَ

سَيِّدِنَا محمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. عَمَّا بَعْدُ

Segala puji bagi Allah, Tuhan yang telah memberikan manusia kemauan dan kemampuan untuk berpikir, sehingga kita bisa menjadi khalifah di muka bumi. Shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw yang telah diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.

Buku berjudul Risalah Siswa Quantum ini merupakan buku panduan kegiatan siswa peserta kegiatan Bimbingan Belajar di Quantum Islamic Education (QIE) Cabang Ratu Zaleha. Dengan buku ini diharapkan siswa dapat mengikuti setiap kegiatan di Lembaga Bimbingan Belajar Berbasis Karakter dan Spiritual ini secara maksimal.

Konsep penataan materi dalam buku ini disusun sesuai dengan proses umum kegiatan yang dilaksanakan di Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE), disertai dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits sebagai asas rujukan untuk bimbingan karakter dan spiritual yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE).

Buku ini juga disertai dengan materi Bimbingan Karakter (Adab sopan santun dalam kehidupan sehari-hari) serta Laporan Perkembangan Prestasi Siswa, agar orang tua siswa bisa melihat perkembangan kemampuan anak mereka selama mengikuti kegiatan di Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE), baik dalam kemampuan akademis maupun dalam hal perubahan tingkah laku (karakter) anak.

Ucapan terima kasih yang tak terhingga, saya ucapkan kepada:

  1. Kepala Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE), Ustadz Sugeng Waluyo, S.Pd. yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengelola dan mengembangkan cabang Ratu Zaleha.
  2. Staf Pendidikan dan Pengajaran QIE Cabang Ratu Zaleha, Ustadzah Maslimah, S.Pd. dan Staf Administrasi, Ustadzah Kurnia, yang telah menemani saya merintis QIE Cabang Ratu Zaleha.
  3. Seluruh Staf Pengajar dan Karyawan yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan visi dan Misi Quantum Islamic Education.
  4. Semua pihak yang telah memberikan dukungan atas berjalannya kegiatan Bimbingan Belajar berbasis karakter dan spiritual di Quantum Islamic Education (QIE) Cabang Ratu Zaleha.

Semoga limpahan rahmat dari Allah selalu tercurah semua yang telah diberikan untuk pengembangan Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education Cabang Ratu Zaleha.

Harapan saya, semoga Dakwah Islamiyah melalui kegiatan Bimbingan Belajar yang dilaksanakan oleh Quantum Islamic Education (QIE) ini dapat terus berjalan dan berkembang seiring dengan terus berkembangnya ajaran Islam.

Penulis,

Khairil Yulian

Risalah Siswa Quantum Islamic Education


BAB I

SALAM

A. Ucapan Salam dan Jawabannya

– Ucapan Salam

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ

Assalamu ’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Artinya: “Semoga keselamatan, rahmat (kasih sayang)

dan berkah Allah selalu menyertai kalian”

– Menjawab Salam

وَ عَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Wa alaikumus-salam wa rahmatullahi wa barakatuh

Artinya: “Semoga keselamatan, rahmat (kasih sayang) dan

berkah Allah juga selalu menyertai kalian”

B. Mengucapkan Salam Jika Bertemu

Siswa Quantum harus membiasakan mengucapkan salam jika bertemu, baik dengan Ustadz atau Ustadzah, dengan orang tua, maupun dengan teman. Kebiasaan mengucapkan salam juga harus dilakukan saat akan keluar rumah atau sebelum masuk rumah. Siswa Quantum juga harus membiasakan mengucapkan salam saat akan masuk kelas, atau saat akan pulang. Anak Quantum adalah anak saleh yang selalu mengucapkan salam saat bertemu dengan siapapun, kapanpun dan di manapun.

C. Dalil Tentang Mengucapkan Salam

 

خَمْسٌ تَجِبُ لِلْمُسْلِمِ عَلَى أَخِيهِ رَدُّ السَّلَامِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ

Khamsun yajibu lilmuslimi ‘ala akhihi, raddus-salami wa tasymitul-‘athisi wa ijabatud-da’wati wa ‘iyadatul-maridhi wats-tsiba’ul-jana’izi

Artinya:  “Kewajiban seorang muslim atas saudaranya ada lima perkara, yaitu: (1) menjawab salam, (2) mendoakan orang yang bersin, (3) memenuhi undangan, (4) mengunjungi orang sakit, dan (5) ikut mengantar jenazah.” (HR. Muslim)

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Ali bin Abi Thalib k.w. tidak pernah memberi salam setiap bertemu dengan Umar bin Khattab r.a. Sehingga Umar bin Khattab terpaksa mengucapkan salam lebih dulu. Padahal Alilah yang seharusnya mengucapkan salam lebih dulu, karena Ali bin Abi Thalib k.w berusia jauh lebih muda daripada Umar bin Khattab. Keadaan ini dilaporkan Umar bin Khattab r.a. kepada Rasulullah Saw.

“Ya, Rasulallah, Ali bin Abi Thalib tidak pernah memberi salam kepadaku…” Demikian pengaduan Umar bin Khattab kepada Rasulullah Saw.

Atas pengaduan tersebut, Ali bin Abi Thalib k.w. pun akhirnya dipanggil menghadap Rasulullah Saw untuk dipertanyakan perihal yang diadukan oleh Umar bin Khattab. Rasulullah lalu menanyakan hal itu kepada Ali bin Abi Thalib.

 “Benarkah demikian, Wahai Ali?”

“Benar, ya Rasullallah..!!” Ali bin Abi Thalib membenarkan pengaduan Umar bin Khatab itu.

“Mengapa kau lakukan itu, Wahai Ali?” Tanya Rasulullah Saw.

 “Ya, Rasulullah!”, Jawab Ali “Engkau pernah bersabda, barangsiapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan mendirikan istana baginya di Surga”.

“Benar!” Jawab Rasulullah Saw.

“Aku sayang pada Umar bin Khattab, dan aku ingin Umar bin Khattablah yang akan mendapatkan istana di Surga itu”.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ (رواه أحمد)

Qala Rasulullah Saw, ifsyus-salama bainakum

Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: Sebarkanlah salam di antara kalian.” (H.R. Ahmad)


Kembali ke BAB SALAM

BAB II

BELAJAR

 

A. Semangat Quantum

– Ustadz/Ustadzah        :  Apa khabar siswa Quantum hari ini?

– Siswa Quantum           :

Alhamdulillah…!!

Luar Biasa…!!

Tetap Semangat…!!

Berprestasi…!!

Berakhlak Mulia…!!

Nilai 100…!!

Allahu Akbar..!  Allahu Akbar..!  Allahu Akbar..!

B. Basmalah dan Doa Sebelum Belajar

بِسْمِ اللهِ الرّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Bismillahir-rahmanir-rahim

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا{ وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا{ وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَّ رَسُوْلًا{ رَبّىِ زِدْنِى عِلْمًا{ وَارْزُقْنِى فَهْمًا{ رَبِّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى{ وَ يَسِّرْ لِى أَمْرِى{ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِى{ يَفْقَهُوْا قَوْلِى{ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ{

Radhitu billahi rabba. wa bil-islami dina. wa bi muhammadin nabiyyaw-wa rasula. Rabbi zidni ‘ilma. warzuqni fahma. Rabbisyrah li shadri. wa yassir li amri. wahlul ‘uqdatam-mil-lisani. yafqahu qauli. Wal-hamdu lillahi rabbil-‘alamin.

Artinya:   “Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul. Ya Allah, tambahkan ilmuku dan berikan aku kepahaman. Ya Allah, lapangkan dadaku, mudahkan urusanku, dan lepaskan kekakuan dari lidahku agar mereka mengerti perkataanku. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

C. Dalil Tentang Ilmu

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَتٍ وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya:   “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang menuntut ilmu. Dan Allah mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Man slaka thariqan yaltamisu fihi ‘ilman sahhalallahu lahu bihi thariqan ilal-jannah

Artinya:   “Barangsiapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (رواه بيهقي)

Qala Rasulullah SAW, thalabul-‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim

Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang Islam.” (H.R.Baihaqi)

D. Doa Setelah Belajar

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ. (3x) سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَŒ أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْكَŽ بِسمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ وَلاَ حَولَ وَلا قُوَّةَ إلاَّ باللهِ العَلِيُّ الْعَظِيْمُ سُبْحانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ‘ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ’ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”

Astagfirullahal-azhim (3x) Subhanakallahumma wa bihamdika. Asyhadu alla ilaha illa anta. astagfiruka wa atubu ilaik. Bismillahi tawakkaltu ‘alallah. wa la haila wa la quwwata illa billahil’aliyyil-azhim. Subhanalladzi sakkara lana hadza wa ma kunna lahu muqranin. Wa inna ila rabbana lamuňqalibun. rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar. Alhamdu lillahi rabbil-‘alamin.

Artinya:   “Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung. Maha suci Engkau ya Allah, segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau, dan aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu. Dengan menyebut nama Allah aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan upaya kecuali milik Allah yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

E. Dalil Tentang Doa

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِي إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya:   “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka  hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”(QS. Al-Baqarah: 186)

Kembali ke BAB SALAM
Kembali ke BAB BELAJAR

BAB III

WUDHU

A. Niat Wudhu

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الأَصْغَرِ فَرْضًا للهِ تَعَالَى

 Nawaitul-wudhu’a li raf’il-hadatsil asgari fardhal- lillahi ta’ala

Artinya: “Aku berniat melakukan wudhu untuk mengangkat hadats kecil karena Allah Ta’ala”

B. Tata Cara Wudhu

  1. Membasuh kedua telapak tangan hingga pergelangan tangan, lalu Berkumur-kumur (3x), dan menghisap air ke lubang hidung (3x)
  2. Membasuh muka (batas yang wajib dibasuh ialah dari tempat tumbuh rambut kepala sebelah atas hingga kedua tulang dagu sebelah bawah dan antara telinga kiri dan kanan tidak boleh ketinggalan sedikitpun bahkan wajib dilebihkan sedikit agar kita yakin sudah terbasuh semuanya) (3x)
  3. Membasuh tangan kanan dan kiri hingga siku (3x)
  4. Membasuh sebagian rambut/kulit kepala (disunahkan membasuh seluruh rambut) (3x)
  5. Membasuh telinga kanan dan kiri (3x)
  6. Membasuh kaki kanan dan kiri hingga mata kaki (3x)

C. Wudhu Rasulullah Saw

Dari Humran (bekas budak Utsman), bahwa Usman bin Affan r.a. meminta air wudhu’. (Setelah dibawakan), ia berwudhu. Ia mencuci kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidungnya, kemudian mencuci wajahnya tiga kali, lalu membasuh tangan kanannya sampai siku tiga kali, kemudian membasuh tangannya yang kiri tiga kali seperti itu juga, kemudian mengusap kepalanya lalu membasuh kakinya yang kanan sampai kedua mata kakinya tiga kali kemudian membasuh yang kiri seperti itu juga. Kemudian mengatakan, “Saya melihat Rasulullah saw. (biasa) berwudhu seperti wudhuku ini”.

Usman bin Affan r.a meriwayatkan:

إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لاَ يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ فَيُصَلِّى صَلاَةً إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاَةِ الَّتِى تَلِيهَا

Artinya:   “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim berwudhu dan membaguskan wudhunya kemudian mengerjakan sholat, melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya sejak saat itu sampai sholat yang berikutnya.” (HR.Muslim)

D. Doa Setelah Wudhu

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ{وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَه{ وَأَشْهَدُأَنَّ محمدًاعَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ{اللّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِيْنَ{ وَاجْعَلْنِى مِنَ المُتَطَهِّرِيْنَ{وَاجْعَلْنِى مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ{

Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahummaj’alni minat-tawwabina waj’alni minal-mutathahirin waj’alni min ‘ibadikash-shalihin

Artinya:   “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Ya Allah jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang bertobat, jadikan aku termasuk golongan orang yang suci, dan jadikan aku termasuk ke dalam golongan orang-orang yang shaleh.”

E. Dalil Tentang Wudhu

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى المَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Artinya:   “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ الْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

Artinya:   “Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan sampai selesai atau menyempurnakan wudhu kemudian membaca doa: “Asyhadu alla ilaha illallah wa anna Muhammadan ‘abdullahi wa rasuluh” (Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya), melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga yang dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki.” (HR.Muslim)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ (رواه مسلم)

Artinya:   “Barang siapa yang berwudhu kemudian ia membaguskan (menyempurnakan) wudhunya. maka dosa-dosanya akan keluar dari jasadnya sampai ujung kuku-kukunya”

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ (رواه مسلم)

Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: Kebersihan itu sebagian daripada iman.” (H.R. Muslim) 


Kembali ke BAB SALAM
Kembali ke BAB BELAJAR
Kembali ke BAB WUDHU

BAB IV

ADZAN DAN IQAMAH

A. Lafazh Adzan

ðاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ(2x)

Allahu Akbar allahu akbar  (2x)

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

ðأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ(2x)

Asyhadu alla ilaha illallah   (2x)

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah

ðأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ(2x)

Asyhadu anna Muhammadar-rasulullah   (2x)

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah

ðحَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ(2x)

Hayya ‘alash-shalah   (2x)

Mari kita shalat

ðحَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ(2x)

Hayya ‘alal-falah   (2x)

Mari kita menuju kemenangan

ðاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ

Allahu akbar allahu akbar

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

ðلَا إِلهَ إِلَّا اللهُ

la ilaha illallah

Tiada Tuhan selain Allah

B. Doa Setelah Adzan

اللَّهُمَّ رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةِ  وَالشَّرَفَ وَ الدَّرَجَةَ الْعَالِيَّةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا الَّذِى وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيْعَادِ

Allahumma rabba hadzihid-da’watit-tammah. Wash-shalatil-qa’imah. Ati sayyidana Muhammadanil-wasilata wal-fadhilah. Wasy-syarafa wad-darajatal-‘aliyyatar-rafi’ah. wab’atshu maqamam-mahmudanil-ladzi wa ‘adtah. innaka la tukhliful-mi’ad.

Artinya:   “Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan. Karuniakanlah kepada junjungan kami Nabi Muhammad wasilah, keutamaan, kemuliaan, dan derajat yang tinggi. Dan angkatlah ia ke tempat yang terpuji sebagaimana telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau ya Allah, Dzat yang tidak akan mengubah janji.”

C. Lafazh Iqamah

ðاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ

Allahu Akbar allahu akbar

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

ðأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ

Asyhadu alla ilaha illallah

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah

ðأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

Asyhadu anna Muhammadar-rasulullah

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah

ðحَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ

Hayya ‘alash-shalah

Mari kita shalat

ðحَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

Hayya ‘alal-falah

Mari kita menuju kemenangan

ðقَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ(2x)

Qad qamatish-shalah

Shalat telah didirikan

ðاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ

 Allahu akbar allahu akbar

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

ðلَا إِلهَ إِلَّا اللهُ

la ilaha illallah

Tiada Tuhan selain Allah

D. Doa Setelah Iqamah

اللَّهُمَّ رَبَّ هٰذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِð وَالصَّلاةِ الْقَائِمَةِð صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍð وَآتِهِ سُؤْلَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِð

Allahumma rabba hadzihid-da’watit-tammah. Wash-shalatil-qa’imah. Shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammadin. wa atihi su’lahu yaumal-qiyamah

Artinya:   “Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan. Curahkanlah rahmat dan salam atas jungjunan kami Nabi Muhammad dan kabulkanlah segala permohonannya pada hari kiamat nanti.”


Kembali ke BAB SALAM
Kembali ke BAB BELAJAR
Kembali ke BAB WUDHU
Kembali ke BAB ADZAN

BAB V

SHALAT

A. Niat Shalat

أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مَأمُوْمًا للهِ تَعالىَ

Ushalli fardhash-Shubhi rak’ataini ma’muman lillahi ta’ala

Artinya: “Aku melaksanakan shalat subuh dua rekaat sebagai makmum

karena Allah yang Maha Tinggi.”

أُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَأمُوْمًا للهِ تَعالىَ

Ushalli fardhazh-zhuhri arba’a raka’atin ma’muman lillahi ta’ala

Artinya: “Aku melaksanakan shalat Zuhur empat rekaat sebagai makmum

karena Allah yang Maha Tinggi.”

أُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَأمُوْمًا للهِ تَعالىَ

Ushalli fardhal-‘ashri arba’a raka’atin ma’muman lillahi ta’ala

Artinya: “Aku melaksanakan shalat Ashr empat rekaat sebagai makmum

karena Allah yang Maha Tinggi.”

أُصَلِّى فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مَأمُوْمًا للهِ تَعالىَ

Ushalli fardhal-Maghribi tsalatsa raka’atin ma’muman lillahi ta’ala

Artinya: “Aku melaksanakan shalat maghrib tiga rekaat sebagai makmum

karena Allah yang Maha Tinggi.”

أُصَلِّى فَرْضَ الْعِشَاءِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَأمُوْمًا للهِ تَعالىَ

Ushalli fardhal-‘isya’i arba’a raka’atin ma’muman lillahi ta’ala

Artinya: “Aku melaksanakan shalat isya empat rekaat sebagai makmum

karena Allah yang Maha Tinggi.”

Catatan: Ma’munan (مَأْمُوْمًا), (teks bergaris bawah) artinya sebagai makmum. Jika sebagai imam, maka diganti dengan imaman (إِمَامًا). Jika shalat sendiri diganti dengan ada’an (أَدَاءً).

B. Do’a Iftitah

اللهُ أكْبَرُ كَبِيْرًا وَّ الْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَتًا وَّ أَصِيْلًا. إِنِى وَجَّهتُ وَجْهِيَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّموَاتِ وَ الأَرْضِ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَّ مَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلَاتِى وَ نُسُقِى وَ مَحْيَايَ وَ مَمَاتِ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لَا شَرِيْكَ لَه وَ بِذَالِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

Allahu akbar kabiraw-wal-hamdu lillahi katsiraw-wa subhanallahi bukrataw-wa ashila. Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fataras-samawati wal-ardhi hanifam-muslimaw-wa ma ana minal-musyrikin. Innash-shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil-‘alamin. La syarika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal-muslimin.

Artinya:   “Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah dengan banyaknya. Maha suci Allah sepanjang pagi dan petang. Aku hadapkan wajahku bagi Tuhan yang mencipta langit dan bumi, dengan keadaan suci lagi berserah diri. dan aku bukanlah dari golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya semata-mata bagi Allah, Tuhan Semesta alam. Tidak ada sekutu baginya, demikian aku diperintahkan, dan aku adalah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berserah diri.”

C. Bacaan Ruku’

سُبْهَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ وَ بِحَمْدِه

Subhana rabbiyal azhimi wa bihamdih

Artinya: “Maha suci Tuhanku yang Maha Mulia dan segala puji bagi-Nya”.

D. Bacaan I’tidal

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

Rabbana lakal-hamdu

Artinya: “Ya Tuhan kami, bagimu lah segala puji”

E. Bacaan Sujud

سُبْهَانَ رَبِّىَ الأَعْلى وَ بِحَمْدِه

Subhana rabbiyal a’la wa bihamdih

Artinya: “Maha suci Tuhanku yang Maha tinggi dan segala puji bagi-Nya”.

F. Bacaan Duduk Antara Dua Sujud

رَبِّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَاجْبُرْنِى وَارْفَعْنِى وَارْزُقْنِى وَاهْدِنِى وَعَافِنِى وَاعْفُ عَنِّى

Rabbighfir li warhamni wazburni warfa’ni warzuqni wahdini wa ‘afini wa’fu ‘anni

Artinya: “Ya Allah, ampuni dosaku, rahmatilah aku, perbaikilah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rizki, berilah aku petunjuk, ampuni dan maafkan aku.”

G. Bacaan Tahiyat Awal

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ. السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ. السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Attahiyyatul-mubarakatush-shalawatuth-thayyibatu lillah. Assalamu ’alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh. Assalamu ‘alaina wa ‘ala ibadillahish-shalihin. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar-rasulullah. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad.

Artinya:   “Segala penghormatan yang berkat, shalat yang baik adalah untuk Allah. Sejahtera atas engkau wahai Nabi dan rahmat Allah serta keberkatannya. Sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah. Ya Allah, curahkan shalawat ke atas Nabi Muhammad.”

G. Bacaan Tahiyat Akhir

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ. السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ. السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد وعلى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد كَمَا صَلَّبْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.

Attahiyyatul mubarakatush shalawatuth thayyibatu lillah. Assalamu ’alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh. Assalamu ‘alaina wa ‘ala ibadillahish-shalihin. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar-rasulullah. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala sayyidina Muhammadin kama shallayta ‘ala sayyidina ibrahima wa ‘ala ali sayyidina ibrahima, wa barik ‘ala sayyidina Muhammadiw-wa ‘ala ali sayyidina Muhammadin kama barakta ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahima, fil-‘alamina innaka hamidum’majid.

Artinya:   “Segala penghormatan yang berkat, dan shalat yang baik adalah untuk Allah. Sejahtera atas engkau wahai Nabi dan rahmat Allah serta keberkatannya. Sejahtera ke atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah. Ya Allah, curahkan shalawat ke atas Nabi Muhammad dan ke atas keluarganya. Sebagaimana atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim. Berkatilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau berkati ke atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim. Di dalam alam ini, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.”

H. Dalil Tentang Shalat

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ الصَّلَاةُ (رواه أحمد)

Qala Rasulullah SAW, miftahul-jannahish-shalah

Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: kunci surga adalah sholat.” (H.R. Ahmad)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: Jika kamu mendengar panggilan adzan maka penuhilah panggilan Allah itu”. (segera kerjakan shalat). (Muttafaqun ‘Alaih)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً (رواه مسلم)

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Shalat berjamaah lebih utama dua puluh derajat daripada shalat sendiri”. (H.R.Muslim)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ (رواه الطبراني)

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya hal yang pertama kali di hisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya dan apabila shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya”.

Kembali ke BAB SALAM
Kembali ke BAB BELAJAR
Kembali ke BAB WUDHU
Kembali ke BAB ADZAN
Kembali ke BAB SHALAT

BAB VI

WIRID DAN DOA SETELAH SHALAT

A. Wirid              

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ. اَلَّذِى لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ القَيُّومُ وَ أَتُوْبُ إِلَيْه

لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه. لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْيِ وَ يُمِيْتُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ َوإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلَامُ. تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَا اَلْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

(اَلْفَاتِحَةُ) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمِ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لَا الضّآلِّيْنِ.

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَّ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيمُ . اللهُ لَآ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ. لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَّلاَ نَوْمٌ. لَه مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ. مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ. يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ. وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ الْعَظِيْمُ

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ إِلَهَنَا يَارَبَّنَا أَنْتَ مَوْلَانَا

سُبْحَانَ اللهِ (33x)

سُبْحَانَ اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَ بِحَمْدِه دَائِمًا

الْحَمْدُ لِلَّهِ (33x)

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَ فِى كُلِّ حَالٍ وَ نِعْمَةٍ

اَللهُ اَكْبَرُ (33x)

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا ، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً. لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ. لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَلاَ حَولَ وَلا قُوَّةَ إلاَّ باللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Dibaca Imam sebelum membaca Doa

اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا محمَّدٍ فِى الأَوَّلِيْنَ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا محمَّدٍ فِى الآخِرِيْنَ. وَسَلَّمَ وَ رَضِيَ اللهُ تَبَرَكَ وَ تَعَلَى عَنْ سَادَاتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.

 

B. Doa-Doa Setelah Shalat

Pembuka Doa

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا محمَّدٍ وَعَلى آلِ سَيِّدِنَا محمَّدٍ

Doa Mohon ampunan atas kedua orang tua dan seluruh umat muslim

اَللّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَ وَارْحَمْ هُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا. وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Doa Salamat

اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ سَلَامَةً فِى الدِّيْنِ. وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ. وَزِيَدَةً فِى الْعِلْمِ. وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ. وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ. وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ. وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اللّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِى سَكَرَاتِ الْمَوْتِ. وَالنَّجَاةً مِّنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْهَدَيْتَنَا وَ هَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

Doa Mohon Kemudahan Hidup

اللّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ. وَ نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ. وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ. وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Doa Mohon Kebaikan Dunia Akhirat

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Doa mohon dikabulkan doa

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Penutup Doa

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


Kembali ke BAB SALAM
Kembali ke BAB BELAJAR
Kembali ke BAB WUDHU
Kembali ke BAB ADZAN
Kembali ke BAB SHALAT
Kembali ke BAB WIRID

BAB VII

DOA HARIAN DAN ADAB MULIA

A. Doa Bangun Tidur

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Alhamdulillahil-ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilayhin-nusyur

Artinya:   “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit”

B. Doa Masuk Kamar Mandi/WC

اَللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

Allahumma inni a’udzubika minal-khubutsi wal-khaba’its

Artinya:   “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan syetan laki-laki dan syetan perempuan”. 

C. Doa Keluar Kamar Mandi/WC

غُفْرَانَكَ اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ اَذْهَبَ عَنِّى اْلاَذٰى وَعَافَانِيْ وَاَبْقَى مَايَنْفَعُنِىْ

Gufranakal-hamdu lillahil-ladzi adzhaba ‘annil-ada wa ‘afani wa abqa wa ma yanfa’uni

Artinya:   “Dengan mengharap ampunan-Mu, segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran dari badanku, yang telah menyelamatkan aku dan yang telah mensisakan yang bermanfaat bagiku”.

D. Doa Bercermin

اَللَّهُـمَّ كَمَا حَسَّـنْتَ خَلْقِـيْ فَحَسِّـنْ خُلُقِـيْ

Allahumma kama hassanta khalqi fahassin khulqi

Artinya:   “Ya Allah sebagaimana Engkau telah ciptakan aku dengan baik, maka perbaikilah akhlakku”

E. Doa Masuk Mesjid

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Allahummaftah li abwaba rahmatika

Artinya: “Ya Allah bukalah bagiku pintu-pintu rahmatmu”.

F. Doa Keluar Mesjid

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

Allahumma inni as’aluka min fadhlika

Artinya:   “Ya Alloh, Aku mohon keutamaan dariMu”.

G. Doa Qunut

أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَó وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَó وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَó وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَó وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَó فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضٰى عَلَيْكَó وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَó وَلاَيَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَó تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَó فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَاقَضَيْتَó أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَó وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدِنِ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Artinya:   “Ya Allah tunjukkan aku sebagaimana mereka yang telah Engkau tunjukkan, Berikan kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang telah Engkau berikan kesehatan, Dan peliharalah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau peliharakan, Berilah keberkatan bagiku pada apa-apa yang telah Engkau kurniakan, Dan selamatkan aku dari bahaya yang telah Engkau tentukan, Maka sesungguhnya, Engkaulah yang menghukum dan bukannya yang kena hukum, Dan sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin, Dan tidak mulia orang yang Engkau musuhi, Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi,Maka bagi Engkaulah segala pujian di atas apa yang Engkau hukumkan,Aku memohon ampun dari-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu,Dan semoga Allah mencurahkan rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya.“

H. Doa Sebelum Makan

الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Allahumma barik lana fima razaqtana wa qina ‘adzaban-nar

Artinya:   “Ya Allah, berkatilah rezeki yang engkau berikan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa api neraka”.

– Hadits Tentang Adab Makan

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: لاَ يَشْرَبَنَّ أَحَدُكُمْ قَائِمًا (رواه مسلم)

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: “janganlah sekali-kali salah seorang diantara kalian minum sambil berdiri.”

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Wahai anak, bacalah basmalah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa-apa (makanan) yang dekat denganmu.” (Muttafaqun “alaih)

 

– Lupa Membaca Doa Sebelum Makan

بِسْمِ الله أوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Bismillahi awwalahu wa akhirahu

Artinya:   “Dengan menyebut asma’ Alloh pada permulaan dan akhiran”.

J. Doa Setelah Makan

الْحَمْـدُ للهِ الَّذي أَطْعَمَنـاَ وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِينَ

Alhamdulillahi-ladzi ath’amana wa saqana wa ja’alana muslimin

Artinya:   “Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan dan minum serta menjadikan kami memeluk agama islam”

K. Doa Shalat Dhuha

 اَللّهُمَّ اِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاءُكَóوَالْبَهَاءَ بَهَائُكَóوَالْجَمَالَ جَمَالُكَóوَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَóوَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَóوَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَóاَللّهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَاءِ فَاَنْزِلْهُóوَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَاَخْرِجْهُóوَاِنْ كَانَ مُعَسِّرًا فَيَسِّرْهُóوَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُóوَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُóبِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَóآتِنِى مَااَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Artinya:   “Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu,  dan keagungan adalah keagungan-MU, dan keindahan adalah keindahan-MU, dan kekuatan adalah kekuatan-MU, dan kekuasaan adalah kekuasaan-MU, dan perlindungan adalah perlindungan-MU, Ya Allah, jika rizkiku ada di atas langit, maka turunkanlah, jika ada di dalam bumi, maka keluarkanlah, jika masih sukar, maka mudahkanlah, jika (ternyata) haram, maka sucikanlah, jika jauh, maka dekatkanlah, dengan berkat waktu dhuha-MU, keagungan-MU, keindahan-MU, kekuatan-MU dan kekuasaan-MU, limpahkanlah kepadaku segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-MU yang shaleh”

L. Do’a Bepergian Dengan Kendaraan    

بِسْمِ اللهِ. الْحَمْدُ للهِ سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

Bismillah. Alhamdu lillah. Subhanal-ladzi sakh-khara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin. Wa inna ila Rabbana lamunqalibun.

Artinya:   “Dengan nama Allah segala puji bagi Allah Maha Suci Tuhan yg menundukkan kendaraan ini untuk kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami {di hari Kiamat}.”

M. Doa Masuk Rumah

بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا. وَعَلَى اللهِ رَبَّنَا تَوَكَّلْنَا

Bismillahi walajna wa bismillahi kharajna. Wa ‘alallahi rabbana tawakkalna

Artinya:   “Dengan menyebut nama Allah (pula) kami keluar darinya. Kepada Allah-lah kami berserah diri sepenuhnya”

N. Doa Sebelum Tidur  

بِاسْمِكَ اللّهُمَّ أَحْيَاوَأَمُوتُ

Bismikallahumma ahya wa amut

Artinya:   “Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan mati”.

O. Doa Shalat Tahajud

اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اَللّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ. فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ إِلٰهِيْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ

Artinya:   “Ya, Allah! Bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu kerajaan langit dan bumi serta seisi-nya. Bagi-Mu segala puji, Engkau benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, bertemu dengan-Mu benar, Surga adalah benar (ada), Neraka adalah benar (ada), (terutusnya) para nabi adalah benar, (terutusnya) Muhammad adalah benar (dari-Mu), peristiwa hari kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mu aku pasrah, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku kembali (bertaubat), dengan pertolongan-Mu aku berdebat (kepada orang-orang kafir), kepada-Mu (dan dengan ajaran-Mu) aku menjatuhkan hukum. Oleh karena itu, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang. Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau

P. Doa Shalat Witir

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا دَائِمًا. وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا. وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا. وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا. وَنَسْأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا. وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا. وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ. وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ. وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ. وَنَسْأَلُكَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا. وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللَّهُ. يَا اَللَّهُ يَا اَللَّهُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Artinya: “Ya Allah, ya Tuhan kami, kami memohon kepada-Mu (mohon diberi) iman yang lenggeng, dan kami mohon kepada-Mu hati kami yang khusyu’, dan kami mohon kepada-Mu diberi ilmu yang bermanfaat, dan kami mohon ditetapkannya keyakinan yang benar, dan kami mohon (dapat melaksanakan) amal yang shalih dan mohon tetap dalam agama islam, dan kami mohon diberinya kebaikan yang melimpah-limpah, dan kami mohon memperoleh ampunan dan kesehatan, dan kami mohon kesehatan yang sempurna, dan kami mohon mensyukuri atas kesehatan kami, dan kami mohon kecukupan. Ya Allah ya Tuhan kami, terimalah shalat kami, puasa kami, rukuk kami, dan khusyu’ kami, dan pengabdian kami, dan sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama shalat, ya Allah, yaAllah, ya Allah Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang, semoga Allah memberi kesejahteraan atas sebaik-baik makhluk-Nya yaitu Nabi Muhammad, atas keluarga dan semua sahabatnya, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”

Kembali ke BAB SALAM
Kembali ke BAB BELAJAR
Kembali ke BAB WUDHU
Kembali ke BAB ADZAN
Kembali ke BAB SHALAT
Kembali ke BAB WIRID
Kembali ke BAB DOA HARIAN

BAB VIII

AKHLAKUL KARIMAH

A. Ucapan Mulia

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ ( متّفق عليه)

qala Rasulullah SAW, man kana yu’minu billahi wal-yawmil-akhiri fal-yaqul khairan aw liyashmuts.

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam”. (Muttafaqun ‘Alaih)

B. Akhlak Yang Mulia

Abad Terhadap Orang Tua

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ (رواه اَلتِّرْمِذِيُّ)

Qala Rasulullah SAW, ridhallahi fi ridhal-walidain, wa sukhtullahi fi sukhtil-walidain

Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: Ridho Allah tergantung pada ridho orang tua dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan orang tua”. (H.R. At Tirmidzi)

 

Adab Pergaulan

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنَهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفَهُمْ بِأَهْلِهِ (رواه أحمد)

qala Rasulullah Saw, inna man akmalil-mu’minina imanan ahsanahum khuluqan wa althafahum bi-ahlihi.

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Sebagian dari (tanda) orang yang beriman paling sempurna  adalah orang yang paling baik budi pekertinya (akhlaknya) dan paling santun terhadap keluarganya” (HR.Ahmad)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُ+وَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ  (رواه مسلم)

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa dan harta kalian tetapi Allah memandang kepada hati dan amal (perbuatan) kalian”.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَنْ لاَ يَرْحَمِ النَّاسَ لاَ يَرْحَمْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia (orang selain dirinya) niscaya Allah ‘Azza wa Jalla pun tidak menyayanginya”.

Adab Terhadap Tamu

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir. maka hendaklah memuliakan tamunya”.

 

C. Sifat Mulia

Malu

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيْمَانِ (رواه أحمد)

Qala Rasulullah SAW, alhaya’u minal-iman.

Artinya: Rasulullah Saw. bersabda: “Malu sebagian dari iman.” (H.R. Ahmad)

Jujur

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ. إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّار ِ(رواه مسلم)

Artinya:   “Rasulullah SAW bersabda: Hendaklah kalian jujur. sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Jauhilah berdusta, sesungguhnya dusta itu membawa kepada dosa, dan sesungguhnya dosa itu membawa ke neraka. (HR. Muslim)

Sabar

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ (رواه طبراني)

Qala Rasulullah SAW, la taghdhab wa lakal-jannah

Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah kamu marah maka bagimu surga” (H.R. Thabrani)

Kembali ke BAB SALAM
Kembali ke BAB BELAJAR
Kembali ke BAB WUDHU
Kembali ke BAB ADZAN
Kembali ke BAB SHALAT
Kembali ke BAB WIRID
Kembali ke BAB DOA HARIAN
Kembali ke BAB AKHLAKUL KARIMAH

Promo Awal Tahun 2013


Promo Cabang Ratu Zaleha

Pada awal tahun 2013 ini, Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE) yang berdiri sejak tanggal 4 Juli 2011 di Jln. Harmoni 2 RT.24 No.30 Pekapuran Raya – Banjarmasin, kembali melebarkan sayap dakwahnya dengan membuka 2 cabang baru yang berlokasi di Jln. Gunung Sari Ujung RT.25 No.7 Teluk Dalam – Banjarmasin, dan di Jln. Ratu Zaleha RT.10 RW.4 No.7 Karang Mekar – Banjarmasin.

Saya kebetulan dipercaya untuk memimpin QIE Cabang Ratu Zaleha. Ini merupakan tanggung jawab besar bagi saya, karena saya harus berpikir cerdas dan kreatif untuk membangun pondasi awal Cabang QIE. Ada 2 hal yang saya prioritaskan dalam upaya membangun cabang QIE, yaitu: Performance dan Quality.

  1. Performance (Tampilan)
    Saya harus bisa menciptakan konsep cover yang menarik, sehingga orang tertarik untuk masuk dan bergabung dengan Lembaga Bimbingan Belajar QIE yang saya kelola.
  2. Quality (Mutu)
    Selain tampilan yang menarik, saya juga berharap bisa memberikan teknik bimbingan belajar yang berkualitas, sehingga orang yang masuk tidak akan merasa tertipu oleh kulitnya yang menarik.

Melalui Blog Pribadi saya ini, saya mencoba menyajikan konsep Bimbingan Belajar Berbasis Karakter dan Spiritual yang menjadi ciri khas Quantum Islamic Education (QIE) dan berharap Cabang Lembaga Bimbingan Belajar yang saya pimpin ini bisa diterima secara konsep dan mendapat dukungan dari semua pihak. 😆

Kelas dan Metode Pembelajaran

Kelas bimbingan Quantum Islamic Education (QIE) disesuaikan dengan tingkat kelas siswa di sekolahnya, sehingga materi yang akan diterima oleh siswa dalam satu kelas bimbingan akan sesuai dengan tingkat pelajaran yang diterimanya di sekolah.

Jumlah peserta bimbingan belajar dalam satu kelas, berkisar antara 10 sampai 15 orang siswa. Hal ini bertujuan agar proses kegiatan bimbingan belajar bisa lebih efektif. Dengan jumlah siswa yang tidak terlalu banyak, guru bisa memaksimalkan penyampaian materi dan kontrol terhadap aktivitas kelas, dan siswa juga diharapkan bisa menerima pelajaran dengan lebih baik.

Satu kali pertemuan dalam kegiatan bimbingan untuk pelajaran umum adalah 2 jam pelajaran atau 2x 45 menit. Integrasi bimbingan karakter dan spiritual tidak mengurangi kualitas dan kuantitas kegiatan bimbingan untuk pelajaran umum. Dengan frekuensi 3 sampai 4 kali pertemuan dalam satu minggu, diharapkan visi dan misi untuk menyelenggarakan kegiatan bimbingan belajar berbasis karakter dan spiritual yang berkualitas akan tercapai.

Tenaga pengajar dalam Kegiatan Bimbingan belajar Quantum Islamic Education adalah tutor yang memang menguasai di bidangnya dan telah dilatih dan siapkan untuk memberikan bimbingan belajar yang terintegrasi antara pelajaran umum dengan pendidikan karakter dan spiritual.

Proses bimbingan belajar di Quantum Islamic Education tidak menggunakan sistem guru kelas, melainkan guru bimbingan, artinya seorang tenaga pengajar (Tutor) hanya mengajar materi yang sesuai dengan bidang yang dikuasainya. Hal ini bertujuan agar siswa bisa lebih memahami materi pelajaran yang diberikan, karena disampaikan oleh tenaga pengajar yang berkompeten di bidangnya.

Paket Bimbingan Belajar

Untuk Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE) Cabang Ratu Zaleha, tersedia 3 (tiga) Paket Bimbingan yang masing-masing telah terintegrasi dengan bimbingan karakter dan spiritual yang merupakan visi dan misi Quantum Islamic Education. Paket-Paket Bimbingan Belajar tersebut, adalah sebagai berikut:

A. PAKET REGULER

Paket Reguler adalah Paket Bimbingan Belajar yang mencakup bimbingan untuk beberapa mata pelajaran sekaligus. Mata Pelajaran umum yang termuat dalam Paket ini antara lain: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Matematika, dan IPA.

Kelas yang ditawarkan untuk Paket Reguler ini bisa dilihat dalam tabel di bawah ini:

 No

Tingkat

Kelas

Pertemuan

Keterangan

1.

SD/MI/Sederajat

I  s/d  VI

4x  perminggu

2.

SMP/MTs/Sederajat

VII  s/d  IX

4x  perminggu

B. PAKET KHUSUS

Paket Khusus adalah Paket Bimbingan Belajar yang diberikan untuk siswa (mulai dari tingkat TK/RA (anak pra sekolah), SD/MI/sederajat, sampai siswa SMP/MTs/sederajat) yang hanya ingin mendapatkan bimbingan untuk satu mata pelajaran saja.

Kelas yang ditawarkan untuk Paket Khusus ini bisa dilihat dalam tabel di bawah ini.

No

Kelas

Tingkat

Pertemuan

Keterangan

1.

CALISTUNG (Baca, Tulis, Berhitung) TK dan SD

3x perminggu

2.

Al-Qur’an TK, SD dan SMP

3x perminggu

3.

Matematika SD dan SMP

3x perminggu

4.

Bahasa Inggris SD dan SMP

3x perminggu

5.

Bahasa Arab SD dan SMP

3x perminggu

6.

IPA SD dan SMP

3x perminggu

7.

TIK (Komputer) SD dan SMP

3x perminggu

C. PAKET PRIVATE

Paket Private adalah Paket Bimbingan Belajar yang tidak menggunakan sistem kelas, melainkan sistem satu guru untuk satu anak. Proses Kegiatan untuk Paket Private ini tidak dilaksanakan di rumah siswa, namun tetap di ruangan khusus pada Lembaga Bimbingan Belajar untuk menjaga tetap terlaksananya Visi dan Misi Quantum Islamic Education (QIE) dalam mengintegrasikan bimbingan karakter dan spiritual dalam materi bimbingan pelajaran umum.

Materi Bimbingan Belajar

Materi Bimbingan Belajar di Quantum Islamic Education (QIE) secara umum adalah mata pelajaran yang terdapat di sekolah tempat siswa menerima pendidikan formal, karena pada dasarnya kegiatan Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE) adalah untuk membantu prestasi belajar siswa di sekolah. Namun dengan konsep bimbingan belajar yang terpadu sesuai dengan Visi dan Misi Quantum Islamic Education (QIE), maka materi Bimbingan Belajar yang diberikan secara umum bisa dikelompokkan sebagai berikut:

A.      Bimbingan Akademis

Bimbingan Akademis adalah bimbingan belajar untuk mata pelajaran yang diberikan di sekolah. Bimbingan akademis ini diberikan sesuai dengan tingkat pendidikan siswa di sekolahnya.

B.      Bimbingan Karakter

Bimbingan karakter adalah bimbingan untuk membentuk anak yang memiliki akhlak yang mulia, berkepribadian yang islami, serta memahami secara mendalam tentang tata sopan santun dalam bertingkah laku di dalam kehidupan sehari-hari.

C.      Bimbingan Do’a Harian

Peserta Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE) juga akan dibimbing dalam pembiasaan membaca do’a dalam setiap aktivitas kesehariannya. Metode menghafal yang efektif dan pembiasaan akan sangat mendukung proses bimbingan ini.

D.      Bimbingan Al-Qur’an dan Hadits

Konsep bimbingan belajar berasaskan Islam yang dilaksanakan oleh Quantum Islamic Education (QIE) menjadikannya tidak bisa lepas dengan pengintegrasikan Bimbingan Al-Qur’an dan Hadits sebagai asas ajaran Islam

E.       Bimbingan Ibadah/Fiqh

Permasalah ibadah juga tidak bisa dilepaskan dengan Visi dan Misi membentuk anak yang berkarakter dan berwawasan spiritual, oleh sebab itu bimbingan ibadah ini juga diitegrasikan dalam kegiatan bimbingan belajar di Quantum Islamic Education (QIE)

F.       Bimbingan Kemandirian

Bimbingan kemandirian adalah bentuk bimbingan lain yang juga diberikan di Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE). Bentuk bimbingan ini bersifat ekstakurekuler yang diformulasi dalam kegiatan “Malam Bina Iman dan Takwa” (MABIT) yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan.

Pendaftaran Siswa Baru 

A. TEMPAT DAN WAKTU PENDAFTARAN

Registrasi (pendaftaran) siswa baru Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE) cabang Ratu Zaleha bisa dilakukan di Kantor QIE Cabang Ratu Zaleha yang beralamat di Jln. Ratu Zaleha RT.10 RW.4 No.7 Karang Mekar, Banjarmasin. Pendaftaran siswa baru bisa dilakukan setiap hari kerja, dari jam 08.00 – 18.00 Wita.

B. PERSYARATAN

➡ Mengisi Formulir Pendaftaran (disediakan di tempat pendaftaran)

➡  Menyerahkan Pasphoto 3 x 4 (2 lembar)

➡  Membayar uang Registrasi (pendaftaran) dan Iuran Bulanan (SPP)

C. TEKNIK DAN BIAYA PENDAFTARAN

Dalam proses registrasi (pendaftaran) siswa baru, Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE) cabang Ratu Zaleha memberikan beberapa teknis registrasi, yaitu sebagai berikut:

1.       Registrasi Normal

Biaya registrasi (pendaftaran) siswa baru Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE) adalah Rp.50.000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah).

2.       Registrasi Siswa Berprestasi

Biaya registrasi untuk siswa yang berprestasi di sekolahnya adalah Rp.25.000,- (Dua Puluh Lima Ribu Rupiah). Persyaratan tambahan: menyertakan photokopi hasil belajar (Raport).

3.       Registrasi Berantai (Sponsorship)

Registrasi Berantai, yaitu mengajak teman untuk mendaftar. Dengan mengajak 2 orang teman, maka uang registrasi siswa yang bersangkutan akan dikembalikan.

4.       Registrasi Bersaudara

Registrasi untuk siswa yang bersaudara, hanya dihitung untuk registrasi satu siswa saja.

5.       Registrasi Bersama

Registrasi Bersama adalah registrasi yang dilakukan oleh beberapa orang siswa sekaligus, dengan ketentuan sebagai berikut:

No

Registrasi Bersama

Biaya Registrasi

Keterangan

1

5 orang siswa

Rp.30.000,-

Per siswa

2

10 orang siswa

Rp.20.000,-

Per siswa

3

15 orang siswa

Rp.10.000,-

Per siswa

BIAYA REGISTRASI DAN IURAN BULANAN

 

NO

PAKET

REGISTRASI (Rp)

IURAN BULANAN (Rp)

1 Bulan

3 Bulan

6 Bulan

1 Tahun

1.

Paket Reguler
a- SD/MI/Sederajat

50.000

100.000 250.000 475.000 900.000
b- SMP/MTs/Sederajat

50.000

150.000 400.000 700.000 1.200.000

2.

Paket Khusus
a- Kelas Calistung

50.000

100.000 250.000 475.000 900.000
b- Kelas Matemetika

50.000

150.000 400.000 700.000 1.200.000
c- Kelas Bahasa Inggris

50.000

150.000 400.000 700.000 1.200.000
d- Kelas Al-Qur’an

50.000

150.000 400.000 700.000 1.200.000
e- Kelas IPA

50.000

150.000 400.000 700.000 1.200.000
f. kelas TIK (Komputer)

50.000

150.000 400.000 700.000 1.200.000

3.

PAKET Private

50.000

35.000/pertemuan

1. Registrasi

Pembayaran uang registrasi (pendaftaran) hanya dilakukan pada awal mengikuti kegiatan bimbingan belajar di Quantum Islamic Education.

2. Iuran Bulanan/SPP

Jumlah biaya iuran bulanan berbeda-beda untuk masing-masing paket bimbingan. Iuran bulanan bisa dibayarkan perbulan, per 3 bulan, per 6 bulan, atau per tahun.

➡ BERSAUDARA

Bagi peserta Bimbingan Belajar yang bersaudara (memiliki saudara yang juga peserta Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education), maka iuran bulanan/SPP untuk masing-masing anak akan dipotong Rp.25.000,- (Dua Puluh Lima Ribu Rupiah)

➡  BERPRESTASI

Bagi peserta Bimbingan Belajar yang berprestasi di sekolah, maka untuk iuran bulanan/SPP dipotong Rp.25.000,- (Dua Puluh Lima Ribu Rupiah) dari biaya normal.*)

➡   BEASISWA

Bagi siswa yang kurang mampu, Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education memberikan keringanan biaya SPP/iuran Bulanan sebesar 50% dari biaya normal. Persyaratan tambahan untuk mendapatkan paket beasiswa ini adalah dengan menyertakan Surat Keterangan kurang mampu dari Ketua RT/Kelurahan setempat pada saat pendaftaran.

Cara Menutup Akun Facebook Kerabat Yang Telah Meninggal Dunia


Ketika seorang pemilik akun Facebook meninggal dunia, maka tentu saja ia tidak akan bisa lagi melakukan apa-apa terhadap akun Facebooknya, jangankan untuk membuat status atau mengomentari status teman, untuk masuk ke akun facebooknya saja sudah tidak mungkin (kecuali ada teman atau kerabat yang mengetahui email dan password akun Facebooknya). Karena dia tidak mampu melakukan apa-apa terhadap akun Facebooknya tersebut, maka akun Facebooknya tersebut akan tetap ada di internet, meskipun sudah tidak tampak adanya aktivitas lagi sejak ia meninggal.

Untuk kasus pemilik akun Facebook yang meninggal dunia seperti di atas, sebenarnya ada satu halaman di Facebook yang memungkinkan bagi para teman atau keluarga dari pemilik akun Facebook yang meninggal dunia tersebut untuk menutup akun Facebooknya untuk selama-lamanya atau ingin menjadikan akun Facebooknya sebagai akun kenangan.

  1. Permintaan Menutup Akun Facebook Seseorang Yang Telah Meninggal Dunia
    Permintaan Khusus ini bisa dilakukan oleh keluarga atau teman dekat pemilik akun Facebook yang meninggal dunia. Melakukan permintaan khusus ini dilakukan jika pihak keluarga atau teman pemilik akun Facebook yang meninggal dunia menginginkan akun Facebooknya ditutup untuk selama-lamanya.
    Caranya dengan mengisi form permintaan khusus seperti pada gambar di bawah ini:
  2. Permintaan Untuk Menjadikan Akun Facebook Kenangan
    Dengan menjadikannya sebagai akun Facebook Kenangan, maka semua data dan aktivitas yang ada di akun Facebook orang yang telah meninggal dunia tersebut akan tetap ada, namun pihak Facebook akan melindungi akun tersebut, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat menggunakan akun tersebut.
    Cara menjadikan akun Facebook seseorang yang telah meninggal dunia sebagai akun kenangan adalah dengan mengisi form “Memorialization Request” seperti di bawah ini.

Dengan kedua opsi tersebut, maka pihak keluarga atau teman pemilik akun Facebook yang meninggal dunia dapat menutup selama-lamanya akun Facebook tersebut, atau hanya menjadikannya sebagai akun kenangan.

Ulasan Khairil Yulian Tentang Kematian Pemilik Akun Facebook

Facebook menyediakan kedua halaman form tersebut tentunya karena menyadari bahwa seorang pemilik akun Facebook yang telah meninggal dunia tentunya tidak akan bisa menutup akunnya, atau menulis status “Selamat Tinggal” atau “Good Bye” sebagai status terakhirnya. Karena jika seseorang telah meninggal dunia, maka segala hal yang berhubungan dengan dunia akan terputus. Namun Dalam Islam, masih ada tiga hal yang tiga hal yang tidak akan terputus, meskipun ia telah meninggal dunia.

  1. Shadaqah Jariyah
    Jika anda pernah memberikan shadaqah dalam hidup anda, dan shadaqah yang anda keluarkan tersebut terus dimanfaatkan orang untuk kebaikan, maka pahala atas shadaqah jariyah tersebut akan terus mengalir pada anda selama ia masih dimanfaatkan oleh orang lain.
  2. Ilmu Yang Bermanfaat
    Anda mungkin bukan orang kaya yang mampu bershadaqah jariyah dengan jumlah yang besar dan memberi manfaat bagi orang banyak, tetapi anda masih mampu untuk berbagi (share) ilmu, pengetahuan, wawasan atau pengalaman kepada orang lain. Berharaplah ilmu pengetahuan atau pengalaman yang telah anda sampaikan tersebut bermanfaat bagi orang lain. Karena jika ilmu pengetahuan atau pengalaman yang anda bagikan tersebut bermanfaat bagi orang lain, maka kematian tidak akan bisa menghentikan aliran pahala yang anda terima.
  3. Anak Yang Shaleh
    Memiliki anak yang shaleh mungkin adalah harapan semua orang tua, karena memiliki seorang anak yang shaleh itu bukan hanya  memberikan kebanggan terhadap orang tua dan nama baik keluarga, tetapi lebih dari itu, seorang anak yang shaleh akan memberinya pahala yang tak putus-putus meskipun kematian telah memutus hubungannya dengan dunia.

Referensi Dalil Naqli:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ

إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah segalanya amal perbuatannya, kecuali atas 3 perkata: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendo’akan orang tuanya”. (HR.Muslim)

Permintaan Menutup Akun Facebook Seseorang Yang Telah Meninggal Dunia
Permintaan Untuk Menjadikan Akun Facebook Kenangan

Tuntunan Rasulullah saat Hari Raya


Ada beberapa hal yang dituntunkan Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam terkait dengan pelaksanaan hari raya, di antaranya:

  1. Mandi Sebelum ‘Ied: Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk hari raya karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk sholat. Namun, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah. Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat ‘Iedul fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk sholat (HR. Malik, sanadnya shohih). Berkata pula Imam Sa’id bin Al Musayyib, “Hal-hal yang disunnahkan saat Iedul Fitri (di antaranya) ada tiga: Berjalan menuju tanah lapang, makan sebelum sholat ‘Ied, dan mandi.” (Diriwayatkan oleh Al Firyabi dengan sanad shahih, Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).1
  2. Makan di Hari Raya: Disunnahkan makan saat ‘Iedul Fitri sebelum melaksanakan sholat dan tidak makan saat ‘Iedul Adha sampai kembali dari sholat dan makan dari daging sembelihan kurbannya. Hal ini berdasarkan hadits dari Buraidah, bahwa beliau berkata: Rosululloh dahulu tidak keluar (berangkat) pada saat Iedul Fitri sampai beliau makan dan pada Iedul Adha tidak makan sampai beliau kembali, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, sanadnya hasan). Imam Al Muhallab menjelaskan bahwa hikmah makan sebelum sholat saat ‘Iedul Fitri adalah agar tidak ada sangkaan bahwa masih ada kewajiban puasa sampai dilaksanakannya sholat ‘Iedul Fitri. Seakan-akan Rasulullah Saw mencegah sangkaan ini.2
  3. Memperindah (berhias) diri pada Hari Raya: Dalam suatu hadits, dijelaskan bahwa Umar pernah menawarkan jubah sutra kepada Rasulullah Saw agar dipakai untuk berhias dengan baju tersebut di hari raya dan untuk menemui utusan. (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah Saw tidak mengingkari apa yang ada dalam persepsi Umar, yaitu bahwa saat hari raya dianjurkan berhias dengan pakaian terbaik, hal ini menunjukkan tentang sunnahnya hal tersebut.3 Perlu diingat, anjuran berhias saat hari raya ini tidak menjadikan seseorang melanggar yang diharamkan oleh Allah, di antaranya larangan memakai pakaian sutra bagi laki-laki, emas bagi laki-laki, dan minyak wangi bagi kaum wanita.
  4. Berbeda jalan antara pergi pulang dari tempat Shalat Eid: Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda tatkala berangkat dan pulang, berdasarkan hadits dari Jabir, beliau berkata, “Rasulullah membedakan jalan (saat berangkat dan pulang) saat iedul fitri.” (HR. Al Bukhari). Hikmahnya sangat banyak sekali di antaranya, agar dapat memberi salam pada orang yang ditemui di jalan, dapat membantu memenuhi kebutuhan orang yang ditemui di jalan, dan agar syiar-syiar Islam tampak di masyarakat.4
  5. Disunnahkan pula bertakbir saat berjalan menuju tanah lapang, karena sesungguhnya Nabi apabila berangkat saat Iedul Fitri, beliau bertakbir hingga ke tanah lapang, dan sampai dilaksanakan shalat, jika telah selesai shalat, beliau berhenti bertakbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih).

Semoga Tuntunan Rasulullah Saw ini bermanfaat bagi kita semua…. 🙂

Referensi:

1Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar – edisi Indonesia.

2Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan.

3Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan

4Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan.

Ali bin Abi Thalib Tidak Pernah Memberikan Salam Kepada Umar bin Khattab


Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak pernah memberikan salam kepada Umar bin Khattab dalam setiap mereka berpapasan, sehingga Umar bin Khattab lah yang akhirnya harus mengucapkan salam itu terlebih dahulu. Logikanya Ali sebagai orang yang lebih muda, dialah yang seharusnya lebih dulu mengucapkan salam.

Apa yang dirasakan janggal oleh Umar bin Khattab terhadap kebiasaan Ali bin Abi Thalib ini akhirnya memaksanya untuk mengadukan permasalah ini kepada Rasulullah Saw.

“Ya, Rasulallah, Ali bin Abi Thalib tidak pernah memulai mengucapkan salam kepadaku…” Demikian pengaduan Umar bin Khattab kepada RAsulullah Saw. Rasulullah lalu menanyakan hal itu kepada Ali bin Abi Thalib.

“Benarkah demikian, Wahai Ali?”

“Benar, ya Rasullallah..!!” Ali bin Abi Thalib membenarkan pengaduan Umar bin Khatab itu. Namun tanpa disangka-sangka, Ali kemudian mengemukakan alasannya sebagai pembelaan diri atas apa yang telah dilakukannya.

“Ya, Rasulullah, itu kulakukan karena aku ingin supaya Umar bin Khattab bisa mendapatkan istana di Surga! Seperti yang disabdakan olehmu, ya Rasulullah. Bahwa siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan mendirikan istana baginya di Surga.

😆

____________________________

Dalam kisah yang saya sajikan di atas, saya tidak mengajarkan kepada anda untuk selalu menunggu orang yang memberi salam terlebih dahulu, seperti halnya yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib, melainkan sebagai upaya mengajak hati anda untuk berlomba-lomba mengucapkan salam kepada sesama. Saya ingin mengatakan kepada anda betapa sebuah perbuatan yang begitu ringan, seperti mengucapkan salam ini ternyata memiliki ganjaran yang begitu besar, yaitu imbalan berupa istana di Surga. Ternyata begitu mudah untuk mendirikan sebuah Istana di Surga ya? 🙂

Mengenai perkara mengucapkan salam ini, diriwayatkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw pernah mengatakan, “Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim)

🙂 🙂 🙂

Yuk! kita berlomba-lomba membangun Istana di Surga?
Sudah berapa istana yang anda bangun hari ini?

🙂 Smile with me..!!! 🙂

Kontroversi Konsep Filsafat Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd


Kontroversi Konsep Filsafat
Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd

0leh

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq


Pendahuluan

Penyelidikan filsafat[1] bukanlah monopoli Yunani dan dunia barat. Pemikiran filsafat haruslah ditempatkan sebagai suatu petunjuk kegelisahan abadi umat manusia. Jika orang mengatakan bahwa sejarah pemikiran umat manusia dimulai sejak periode Thales di Yunani kuno, adalah suatu kealfaan manusia dalam mencatat perilaku sejarah umat manusia tersebut, atau justru memang harus diakui adanya kealfaan sebagai umat manusia memunculkan sejarahnya.[2]

Pada masa Rasulullah Saw, setiap permasalahan dapat langsung ditanyakan kepada beliau, tetapi sejak beliau wafat, umat Islam telah dihadapkan pada permasalahan yang menuntut mereka berpikir sendiri karena tidak ada lagi tempat mereka bertanya. Pada masa pasca wafatnya Rasulullah Saw ini saja telah lahir polarisasi umat dalam Islam pertama, yang melahirkan kelompok-kelompok umat seperti kaum Anshar, Muhajirin dan kaum kerabat Nabi.

Pada masa akhir Khulafa’ al-Rasyidin, juga lahir berbagai aliran sikap politis yang berkembang pada perbedaan ideologi teologis, seperti Khawarij, Syi’ah dan Sunni. Periode selanjutnya, atau sering disebut sebagai periode pemikiran Islam yang sistematis, dapat disebutkan berbagai kelompok yang mewakili suatu pandangan tertentu, seperti Mu’tazilah, Murji’ah, Qadariah, Jabariah dan Ahlu al-Sunnah Wa al-Jama’ah. [3]

Dari hampir semua zaman, masalah utama justru terletak pada masalah filsafat sebagai metode berpikir, yakni tentang legalitas filsafat untuk dipergunakan sebagai perangkat kerja menemukan dan mencari kebenaran. Perbedaan tersebut memuncak pada perbedaan Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.[4] Dalam makalah ini, penulis mencoba mengupas masalah kontroversi kedua tokoh sejarah tersebut dengan pendekatan sejarah.

Imam Al-Ghazali dan Pemikirannya

Imam Al-Ghazali[5] adalah seorang ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.[6] Perjalanan spiritualnya menjadikannya mempunyai satu konsep sendiri, terutama dalam bidang filsafat. Kalangan intelektual sebelum Al-Ghazali menjadikan filsafat sebagai cara untuk mencari kebenaran.[7] Pendapat mereka kemudian ditentang keras oleh Al-Ghazali.[8] Teknik pendekatan filsafat yang dibunuh oleh Al-Ghazali adalah konsep filsafat yang diutarakan oleh filosof Islam sendiri, yaitu Ibnu Sina[9] dan Al-Farabi.[10]

Dalam sejarah filsafat Islam Al-Ghazali dikenal sebagai orang yang pada mulanya syak terhadap segala-galanya. Perasaan syak ini kelihatannya timbul dalam dirinya dari pelajaran ilmu kalam atau teologi yang diperolehnya dari al-Juwaini.[11] Sebagaimana diketahui dalam Ilmu Kalam terdapat beberapa aliran yang saling bertentangan. Timbullah pertanyaan dalam diri Al-Ghazali: Aliran manakah yang bertul-betul benar diantara semua aliran itu?[12]

Pada mulanya pengetahuan filsafat dijumpai Al-Ghazali dalam hal-hal yang ditangkap dengan pancaindra, tetapi baginya kemudian ternyata bahwa pancaindra juga berdusta. Sebagai umpama sebagai berikut:

“Bayangan rumah kelihatannya tak bergerak, tetapi akhirnya ternyata berubah tempat. 
Bintang-bintang di langit kelihatannya kecil tetapi perhitungan menyatakan bahwa bintang-bintang itu lebih besar dari bumi”.

Karena tidak percaya pada panca indra lagi, kemudian dia meletakkan kepercayaan pada akal. Tetapi akal juga ternyata tidak dapat dipercaya.

Al-Ghazali mempelajari filsafat, kelihtannya untuk menyelidiki apakah pendapat-pendapat yang dimajukan oleh filosof-filosof itulah yang merupakan kebenaran. Baginya ternyata bahwa argumen-argumen yang mereka ajukan tidak kuat dan menurut keyakinannya ada yang bertentangan dengan ajaran Islam. Akhirnya ia mengambil sikap menentang terhadap filsafat.

Sebagaimana halnya dalam Ilmu Kalam, Al-Ghazali juga menjumpai argumen-argumen yang tidak kuat dalam filasafat, akhirnya dalam tasawuflah ia memperoleh apa yang dicarinya. Tasawuflah yang dapat menghilangkan rasa syak yang lama mengganggunya. Pengetahuan yang menimbulkan keyakinan akan kebenarannya bagi Al-Ghazali adalah pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari Tuhan dengan Tasawuf.[13]

Al-Ghazali tidak percaya pada filsafat, bahkan memandang filosof-filosof sebagai ahlu Al-Bida’, yaitu tersesat dalam beberapa pendalat mereka. Al-Ghazali menyalahkan filosof-filosof sebelumnya dalam beberapa pendapat berikut:[14]

  1. Tuhan tidak mempunyai sifat
  2. Tuhan mempunyai substansi basit (sederhana/simple) dan tidak mempunyai mahiah (hakekat/quiddity).
  3. Tuhan tidak mengetahui Juz’iat (perincian/particulars)
  4. Tuhan tidak diberi sifat al-Jins (Jenis/Jenus) dan Al-Fashl (differentia)
  5. Planet-planet dan bintang-bintang bergerak dengan kemauan
  6. Jiwa planet-planet mengetahui semua juz’iat.
  7. Hukum alam tak dapat berubah
  8. Pembangkitan jasmani tidak ada
  9. Alam itu tidak bermula
  10. Alam itu akan kekal

Tiga dari kesepuluh pendalat di atas, menurut Al-Ghazali membawa kepada kekufuran, yaitu:

  1. Alam kela dalam arti tak bermula
  2. Tuhan tak mengetahui perincin dari apa-apa yang terjadi di alam.
  3. Pembangkitan jasmani tak ada. [[15]]

Ibnu Rusyd dan Pemikirannya

Ibnu Rusyd[16] adalah seorang seorang hakim Istana di Cordova (Spanyol Islam)[17] yang juga dikenal sebagai dokter istana. Di samping itu ia juga seorang filosof yang mempunyai pengaruh besar di kalangan istana, terutama di zaman Sultan Abu Yusuf Ya’qub al-Mansyur (1184-1199 M).

Ibnu Rusyd hidup dalam situasi politik yang sedang berkecamuk. Pemerintahan Almurafiah digulingkan oleh golongan Almuhadiah di Marakusy pada tahun 542/1147 M, yang menaklukan Cordova pada tahun 543 H/ 1148 M.[18] Tiga orang pewarisnya dari golongan Almuhadiah, Abd al-Mu’min, Abu Ya’kub dan Abu Yusuf yang diabdi oleh Ibnu Rusyd, terkenal karena semangat berilmu dan berfilsafat mereka. Di sinilah sebenarnya awal perkenalan Ibnu Rusyd dengan dunia filsafat.

Awal keterlibatan Ibnu Rusyd dalam dunia filsafat adalah ketika Abu Ya’kub yang saat itu menjadi Amir, memerintahkannnya menuliskan ulasan-ulasan atas buku-buku Aristoteles agar buku tersebut dapat dipahami dengan mudah olehnya.[19]

Kondisi kultural pada saat itu, sebenarnya tidak begitu mendukung terhadap aktivitas filsafat Ibnu Rusyd, hanya saja pengaruhnya di kalangan istana memberikan kesempatan yang besar dalam berfilsafat. Sebagai seorang filosof, pengaruhnya di kalangan istana kurang disenangi oleh kaum ulama dan fuqaha. Sehingga, ketika terjadi peperangan antara Sultan dengan kaum Kristen, Sultan menghajatkan bantuan dari kalangan ulama dan fuqaha yang memang dikenal lebih dekat umat. Kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan oleh kaum Ulama dan Kaum Fuqaha untuk menyingkirkan Ibnu Rusyd.

Ibnu Rusyd dituduh membawa filsafat yang menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam. Maka dengan demikian, Ibnu Rusyd ditangkap dan diasingkn ke suatu tempat bernama Lucena di daerah Cordova. Bukan hanya itu saja, buku-bukunya dibakar di depan umum. Namun penderitaan dan siksaan yang diderita oleh Ibnu Rusyd tidak lama, karena Sultan memberikan pengampunan terhadapnya.[20]

Ibnu Rusyd lebih dikenal dan dihargai di Eropa Tengah daripada di Timur, dikarenakan beberapa sebab:

  1. Tulisan-tulisannya yang banyak jumlahnya itu diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan diedarkan serta dilestarikan, sedangkan teksnya yang asli dalam bahasa Arab dibakar atau dilarang diterbitkan lantaran mengandung semangat anti filsafat dan filosof.[21]
  2. Eropa pada jaman Renaissance dengan mudah menerima filsafat dan metode ilmiah sebagaimana dianut oleh Ibnu Rusyd, sedangkan di Timur, ilmu-ilmu filsafat mulai dikurbankan demi berkembangnya gerakan-gerakan mistis dan keagamaan.[22]

Sebagai seorang filosof, Ibnu Rusyd tentu saja harus melakukan pembelaan terhadap filsafat dari serangan-serangan Al-Ghazali yang menuduh kaum filosof menjadi kafir dengan berbagai pemikiran filosofis sebagaimana disebutkan di atas.

Mungkin pada masa sekarang ini soal seperti ini tidak begiru pantas dihebohkan. Tetapi pada abad ke-6 H/12 M masalah semacam itu memang sangat penting. Para filosof dituduh berbuat bid’ah (kufr) atau tidak beragama. Al-Ghazali dalam karyanya Thahafut mengutuk para filosof sebagai orang yang tidak beragama.. kalau tuduhan ini benar, maka para filosof itu berdasarkan hukum Islam, harus dihukum mati, kecuali kalau mereka mau melepaskan diri dari berfilsafat atau membuat pernyataan di depan umum bahwa mereka tidak percaya kepada ajaran-ajaran filsafat mereka. Oleh karena itu, perlulah bagi para filosof membela diri dan pendapat-pendapat mereka.[23]

Dalam risalahnya Ibnu Rusyd menyatakan bahwa filsafat diwajibkan atau paling tidak diajurkan dalam agama Islam, sebab fungsi filsafat hanyalah membuat spekulasi atas yang maujud dan memikirkannya selama membawa pada pengetahuan akan sang pencipta. Al-Qur’an memerintahkan untuk berpikir (i’tibar) dalam banyak ayat seperti: “Berpikirlah, wahai yang bisa melihat”. I’tibar merupkan suatu ungkapan Qur’ani yang berarti sesuatu yang lebih dari sekedar spekulasi tau repleksi (nazar).[24]

Ibnu Rusyd kembali ke bidang Fiqh dan membandingkan metode logika filsafat dengan metode tradisional fiqh. Dia menyebutkan prinsip fiqh berpijak pada empat sumber, yaitu Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ (konsensus) dan Qiyas (silogisme yang absah). Telah dipahami bahwa Al-Qur’an mesti ditafsirkan secara rasional, dan ijma’ merupakan buah kesepakatan secara aklamasi dari para alim pada masa tertentu, tetapi tiada konsensus pada masalah-masalah doktrinal. Karena tidak ada konsensus pada masalah-masalah doktrinal tersebut, maka Al-Ghazali, atas dasar ijma’ tidak berhak mengutuk para filosof sebagai orang-orang tidak beragama.[25]

Menurut Al-Ghazali, mereka pantas dituduh sebagai ahli bid’ah (takfir) lantaran tiga hal, yaitu ajaran mereka tentang keabadian dunia, penolakan mereka atas pengetahuan Tuhan tentang segalanya dan penolakan meraka atas kebangkitan kembali secara jasmaniah.[26] Menurut Ibnu Rusyd, agama didasarkan pada tiga prinsip yang mesti diyakini oleh setiap Muslim, yaitu eksistensi Tuhan, kenabian dan kebangkitan. Ketiga prinsip ini merupakan pokok masalah agama. Orang yang menolak prinsip yang manapun dari yang disebut di atas, berarti ialah yang pantas disebut tak beragama (kafir).[27]

Kontroversi Konsep Filsafat

Menyimak dari pemiran kedua tokoh tersebut, Al-Ghazali (450 H/1059 M–505 H/1111 M) kecewa dengan filsafat karena pengalamannya dalam dunia filsafat, dia tidak menemukan kebenaran yang dia cari. Kemudian dia menemukan bahwa pendekatan tasawuflah yang dapat menjawab semua permasalahan yang dihadapinya dalam menemukan kebenaran sebenarnya. Selanjutnya ia menentang setiap kegiatan filsafat dan mengutuk kaum filosofis sebagai orang kafir dan tak beragama. Sementara Ibnu Rusyd (520 H/1126 M–592 H/1198 M) adalah seorang yang telah terjun ke dunia filosofis Islam. Dalam posisinya sebagai seorang filosof, ia dituntut untuk membela eksistensi filsafat dari serangan-serangan Al-Ghazali yang telah menyebabkan para filosof kehilangan kekuatannya untuk meneruskan aktivitas filsafatnya.

Abdul Munir Mulkhan menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan mendasar dalam penggunaan “filsafat” sebagai metode berpikir dari kedua tokoh pemikir tersebut. Perbedaan justru terdapat pada teknik berpikirnya itu sendiri. Dan pada legalitas filsafat sebagai metode mencari kebenaran. Jika Imam Al-Ghazali menekankan pada aspek intuitif, maka Ibnu Rusyd menitik beratkan metode berpikirnya pada aspek rasional.[28]

Lebih jauh dapat dipahami bahwa Al-Ghazali lebih menekankan penetapan kebenaran berdasarkan pada penghayatan dan ketajaman perasaan yang dalam, sedangkan Ibnu Rusyd pada unsur logis dan korespondensi metode filsafat Yunani dan ajaran Islam.

Penutup

Kesimpulannya, Kontroversi Pemikiran filsafat antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, bukan terletak pada konsep filsafat, tetapi terletak pada terdapatnya perbedaan anggapan terhadap eksistensi filsafat itu sendiri. Al-Ghazali adalah orang yang menentang filsafat dan menyerang filosof dengan tuduhan “Kafir”, sementara Ibnu Rusyd adalah seorang filosof Islam yang dituntut untuk membela keberadaan filsafat


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Zaenal Abidin, Ibnu Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia, Bulan Bintang, Jakarta, 1949.

Ahwani, Ahmad Fuad Al-, Filsafat Islam, Pustaka Firdaus, Bandung, 1984

Amin, Oemar, Filsafat Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1959.

Boer, T.J. De, The History of Philosophy in Islam, Dover Publication, Inc., New York, 1967.

Daudi, Ahmad, Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1984.

Dominique, Urvoy, Ibn Rushd (Averroes): Arabic Thought and Culture, Routedge, London, 1991.

Ghazali, M. Bahri, Konsep Ilmu Menurut Al-Ghazali: Suatu Tinjauan Psikologik Pedagogik, Pedoman Ilmu Jaya, Yogyakarta, 1991.

Mansur, Laily, Ajaran dan Teladan Para Sufi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996.

Mulkhan, Abdul Munir, Mencari Tuhan dan Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai pemikiran Al-Ghazali, Bumi Aksara, Jakarta, 1992.

Munawir, Imam, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, Bina Ilmu, Surabaya, 1985.

Nasution, Harun, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1983.

___________, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Universitas Indonesia, Jakarta, 1996.

Poerwantana, et.al., Seluk beluk Filsafat Islam, Rineka Cipta, Jakarta, 1996.

Sudarsono, Filsafat Islam, Rineka Cipta, Jakarta, t.th.

Syarif, M.M., Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1994.

___________, The Philosophies: History of Muslim Philosophy, terj.: Ilyas Hasan, Mizan, Bandung, 1996.


Keterangan:
Artikel ini merupakan makalah yang saya tulis untuk tugas mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam Program Pasca Sarja IAIN Antasari Banjarmasin.

Kembali Ke:

  1. Pendahuluan
  2. Imam Al-Ghazali dan Pemikirannya
  3. Ibnu Rusyd dan Pemikirannya
  4. Kontroversi Konsep Filsafat
  5. Penutup

[1]Perkataan “Filsafat” bukanlah bahasa Arab, sebelum Islam datang, orang Arab tidak mempunyai filsafat. Meskipun mereka mempunyai Hikmah dan Hukama, mempunyai “Kebijaksanaan” dan “para Bijaksanawan”. Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1959),      h.11; Filsafat sebgai ilmu adalah sebuah sistematika pemikiran mendalam untuk mencari dan menemukan kebenaran. Sedangkan filsafat sebagai kegiatan berpikir dapat dikatakan sebagai suatu pemikiran yang mendalam dan radikal tentang segala sesuatu, Abdul Munir Mulkhan, Mencari Tuhan dan Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai pemikiran Al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), Cet. II, h. 71

[2]Ibid., h. 77.

[3]Ibid., h. 78.

[4]Ibid., h. 79.

[5]He (Al-Ghazali) was born at Tos in Khorasan in the year 1059. T.J. De Boer, The History of Philosophy in Islam, (New York: Dover Publication, Inc., 1967), h. 155; Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali. Laily Mansur, Ajaran dan Teladan Para Sufi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), h. 25; Setelah bertahun-tahun mengembara sebagai sufi ia kembali ke Thus di tahun 1105 M dan meninggal di sana pada tahun 1111 M. Lihat: Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), Cet. III., h. 43; Di dunia barat terkenal ia dengan sebutan al-Ghazel. M. Bahri Ghazali, Konsep Ilmu Menurut Al-Ghazali: Suatu Tinjauan Psikologik Pedagogik, (Yogyakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991), Cet. I h. 21.

[6]Masa hidup Al-Ghazali adalah masa munculnya aliran-aliran pemikiran di tengah-tengah masyarakat. Ibid., h. 24.

[7]Ahli-ahli filsafat Islam Banyak mempelajari filsafat Yunani, sehingga dengan demikian telah terjadi kontak antara Filsafat Yunani dengan ajaran agama Islam. Sudarsono, Filsafat Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, t.th.), h. 122.

[8]Al-Ghazali mengecam ajaran-ajaran filosof-filosof Mulism dalam bukunya Thahafut, dan metode yang digunakan adalah tasawuf. M.M. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy, terj.: Ilyas Hasan, (bandung: Mizan, 1996), Cet. VIII, h. 199.

[9]Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada tahun 980 M di Asfshana, suatu tempat dekat Bukhara. Orang tuanya adalah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman. Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya,(Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia, 1996), h. 50; Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal unik, sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu – satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad. M.M. Syarif, Para Filosof Muslim, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 101; Di bidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya dunia Islam menyanjungnya, ia memang merupakan satu bintang gemerlapan memancarkan cahaya sendiri. Lihat: Imam Munawir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985), h. 332 – 333; Lihat: Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Firdaus, 1984), h. 63.

[10]Dengan ketajaman otaknya Ibnu Sina banyak mempelajari filsafat dan cabang-cabangnya, kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru setelah ia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho-nya Al-Farabi (870-950 M), semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa dia menjadi murid yang setia dari Al-Farabi. Zaenal Abidin Ahmad, Ibnu Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1949), h. 49; Al-Ghazali demikian sengit dan keras terhadap para filosof, khususnya Al-Farabi dan Ibnu Sina, Selanjutnya Ibnu Rusyd terhadap Al-Ghazali dan terhadap Kitabnya yang berjudul Thahafut al-Falaasifah. Ahmad Daudi, Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 10.

[11]Imam al-Haramain al-Juwaini adalah Guru Besar di Madrasah al-Nizamiah Nisyafur. Lihat: Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Op.Cit., h. 41.

[12]Ibid.

[13]Lihat: Ibid., h. 42-44; Al-Ghazali memperoleh kesan bahwa orang-orang sufi (ahli Tasawuf) itu benar-benar berada di atas jalan yang benar, berakhlak baik dan mendapat pengetahuan yang tepat. Sudarsono, Op.Cit., h. 122.

[14]Al-Ghazali menghantam pendapat-pendapat filsafat Yunani, di antaranya juga Ibnu Sina c.s., dalam dua puluh masalah. Di antaranya yang terpenting ialah (1) Al-Ghazali menyerang dalil-dalil filsafat (aristoteles) tentang azalinya alam dan dunia, (2) Al-Ghazali menyerang pendapat kaum filsafat (aristoteles) tentang pastinya keabadian alam, (3) Al-Ghazali menyerang pendapat kaum filsafat bahwa Tuhan hanya mengetahui soal-soal yang besar saja dan (4) Al-Ghazali juga menentang pendapat filsafat bahwa segala sesuatu terjadi dengan kepastian hukum sebab dan akibat. Poerwantana, et.al., Seluk beluk Filsafat Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), h. 170-171.

[15]Lihat: Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Op.Cit., h. 45.

[16]Nama penuh Ibnu Rusyd ialah Abu al-Walid Muhammad ibn Muhammad ibn Rusyd, ia lahir di Cordova pada tahun 1126 M. Ibid., h. 47; Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd lahir di Cordova pada tahun 520 H/1126 M. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h. 197; Abu-l-Walid Muhammad ibn Akhmed ibn Mohammed ibn Roshd (Averroes) was born at Cordova, of Al-Ghazali family of lawyers, in the year 1126. T.J. De Boer, Op.Cit, h. 187; The twelfth-century philosopher Ibn Rushd also known as Averroes, is one of the most important philosophers of the Arab middle age. He played Al-Ghazali crucial role in the transmission of classical fhilosophy of Islam, nd his work had propound influence on western scholsticism and on aspects of renaissance thought. Urvoy Dominique, Ibn Rushd (Averroes): Arabic Thought and Culture, (London: Routedge, 1991), h. 1.

[17]Cordova terkenal sebagai pusat studi-studi filsafat. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h. 199.

[18]Ibid.

[19]Ketika Abu Ya’kub menjadi Amir, diperintahkannya Ibnu Rusyd untuk menulis ulasan-ulasan mengenai Aristoteles. Maka mulailah Ibnu Rusyd menuliskan ulasan-ulasan atas buku-buku Aristoteles. Untuk itu ia layak disebut sebagai “Juru Ulas”. Dan gelar itulah yang dikenal oleh masyarakat Eropa abad pertengahan. Ibid., h. 200-201.

[20]Orang-orang yang ahli dalam ilmu keagamaan (fuqaha dan Ulama) lebih dekat dengan massa dan terpengaruh oleh mereka. Para penguasa muslim yang membutuhkan dukungan mereka meninggalkan para filosof dan berpihak pada kepada massa yang berang. Aib dan siksaan yang diterimanya serta diusirnya dia dari tanah kelahirannya pada tahun 593 H/1196 M merupakan akibat dari pertentangan itu. Tetapi aib yang diderita oleh Ibnu Rusyd tidak berlangsung lama. Dan Al-Mansyur sekembalinya dari Marakusy, mengampuni dan memanggilnya kembali. Ibnu Rusyd pergi ke Marakusy dan dia meninggal pada tahun 595 H/1198 M. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h.  203.

[21]Dengan timbulnya pengaruh ulama dan fuqaha, kaum filosof mulai tak disenangi lagi dan buku-buku mereka dibakar. Ibnu Rusyd sendiri kemudian dipindahkan ke Maroko dan meninggal di sana dalam usia 72 tahun di tahun 1198 M. Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Op.Cit., h. 47; Tipu daya yang dilancarkan oleh kaum agamawan itu berhasil. Hal itu mengakibatkan Ibnu Rusyd bukan saja dihukum buang, tetapi juga tulisan-tulisannya dibakan dimuka umum. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h. 203.

[22]Sebenarnya ia sendiri terpengaruh oleh adanya pertentangan ilmu dan filsafat dengan agama. Agama memenagkan di Timur dan ilmu memengakan di Barat. Ibid., h. 202

[23]Ibid., h. 204.

[24]Ibid.

[25]Ibid., h. 206.

[26]Ibid.

[27]Ibid., h. 206-207.

[28]Abdul Munir Mulkhan, Op.Cit., h. 80.

Siapakah Orang yang Paling Beruntung?


 Al-‘Ashr:
Vonis Terhadap Manusia Sepanjang Masa

“Demi masa!” Demikian salah satu sumpah Allah yang termuat dalam Al-Qur’an surah al-‘Ashr ayat pertama. Tidak jelas dimaksudkan kapan masa yang dimaksudkan dalam ayat tersebut, apakah pada masa yang lalu, masa yang sekarang, atau masa yang akan datang. Jadi saya artikan, sumpah Allah dengan mengatas namakan waktu tersebut berlaku untuk semua masa, baik dulu, sekarang, maupun masa yang akan datang. Ada apa dengan masa sehingga Allah sampai bersumpah dengan mengatas namakan masa tersebut? Keterangan atas sumpah Allah tersebut terdapat dalam ayat selanjutnya pada surah yang sama yang artinya:

“Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.”

Saya memahami ayat ini sebagai keterangan atas sumpah Allah pada ayat sebelumnya. Jadi Allah bersumpah demi masa –tak perduli kapanpun masa itu terjadi–, maka sesuatu yang bernama manusia (disebutkan disana dengan kata al-insan) benar-benar akan berada dalam suatu kerugian. Dalam ayat kedua surah Al-‘Ashr ini, saya menemukan dua tauqid (penekanan/penegasan), yaitu kata “Sesungguhnya” (إِنَّ) pada awal ayat dan kata “benar-benar” (huruf “لَ” pada kata “لَفِي”) dipertengahan ayat. Penekanan ini berarti sumpah Allah dengan mengatas namakan waktu tersebut bukan sumpah biasa. Dalam sumpah-Nya, Allah menegaskan bahwa kapanpun masa itu terjadi, baik di masa lalu, di masa sekarang, maupun di masa yang akan datang, maka sungguh makhluk yang bernama insan (manusia) akan benar-benar berada dalam kerugian. Siapakan al-insan (manusia) itu? Makhluk yang bernama manusia itu tidak lain adalah saya, anda, dan semua jenis mamalia yang dalam dirinya diberikan akal dan nafsu yang menjadikannya menjadi satu-satunya makhluk dinamis di jagat raya ini.

Dengan gambaran di atas, berarti semua jenis makhluk Allah yang bernama manusia, baik ia laki-laki maupun perempuan, baik ia tua maupun muda, baik ia miskin ataupun kaya, baik ia pejabat ataupun rakyat, baik ia pimpinan ataupun karyawan, baik ia atasan ataupun bawahan, baik ia terkenal ataupun terdampar, dab baik ia merasa diri sebagai manusia, atau pun yang tidak….. Kapanpun mereka hidup, baik dulu, saat ini, ataupun di masa yang akan datang…. semuanya adalah objek atas sumpah Allah dengan mengatasnamakan masa sebagai kelompok yang benar-benar berada dalam kerugian.

Sobat pembaca sekalian! Jangan buru-buru berpikir untuk menafikan diri sebagai manusia, atau berpikir lebih baik jadi binatang atau tumbuhan, karena sumpah Allah terhadap al-insan ini bukan tanpa pengecualian. Pada ayat terakhir surah Al-‘Ashr ini diterangkan, “Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shaleh, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.”

Dalam pemahaman saya, meskipun Allah telah bersumpah dan memvonis bahwa manusia akan benar-benar berada dalam kerugian, kapanpun waktu itu terjadi, tetapi Allah juga memberikan pengecualian kepada empat golongan manusia, yaitu:

  1. Orang-orang yang beriman
  2. Orang-orang yang beramal saleh
  3. Orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan, dan
  4. Orang-orang yang saling menasehati dalam kesabaran.

Sekarang tinggal kita memahami seperti apa orang yang beriman itu dan apakah kita termasuk kedalam golongan itu? atau seperti apa orang yang beramal saleh itu, dan apakah kita termasuk ke dalam golongan mereka? atau seperti apa mereka yang saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, dan apakah kita juga termasuk ke dalam golongan mereka?

*** 🙂 ***

Sekarang waktunya introspeksi diri kita masing-masing
dan silahkan baca ulang ayat-ayat dari Kitab suci Al-Qur’an di bawah ini..!!

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَالْعَصْرِ

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

(QS. Al-‘Ashr/103: 1 -13)

Jika anda bermasalah dengan esensi artikel ini, sebaiknya anda baca ini juga!

Hakekat dan Landasan Kependidikan Islam


Hakekat dan Landasan Kependidikan Islam

Oleh:

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr Al-Shiddiq

Pendahuluan

Sejarah pendidikan Islam pada hakekatnya tidak bisa dilepaskan dari sejarah Islam. Perinciannya dapat dibagi menjadi 5 masa, yaitu:

  1. Masa hidup Nabi Muhammad Saw (571-632 M)
  2. Masa khalifah yang empat (Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali di Madinah (632-661 M)
  3. Masa Kekuasaan Umawiyah di Damsyik (661-750 M)
  4. Masa Kekuasaan Abbasiyah di Baghdad (750-1250 M)
  5. Masa dari jatuhnya kekuasaan khalifah di Baghdad tahun 1250 M sampai sekarang.[1]

Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar.[2] Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat.[3]

Pendidikan bukan semata-mata sebagai sarana untuk persiapan kehidupan yang akan datang, tetapi untuk kehidupan anak sekarang yang sedang mengalami perkembangan menuju ke tingkat kedewasaannya.[4] Dewasa ialah dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri baik secara biologis, psikologis, pedagogis dan sosiologis.[5] Dalam makalah ini penulis akan mencoba menguraikan hal-hal yang merupakan hakekat dan landasan dari kependidikan Islam.

Hakekat Kependidikan Islam

Kependidikan Islam dan pendidikan Islam dalam bahasa Inggris sering diterjemahkan dengan kata yang sama, yaitu Education. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Drs. M. Noor Syam dalam bukunya Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan yang menyebutkan dasar-dasar kependidikan sama artinya dengan dasar-dasar pendidikan. Dalam pengertian lain, dasar-dasar kependidikan hanya merupakan uraian tentang teori-teori pendidikan yang bersifat mendasar, atau bisa dikatakan hanya sebagai pengantar dasar-dasar ilmu pendidikan.[6]

Dengan demikian, dalam mengkaji hakekatnya kependidikan Islam, hal utama yang perlu dilakukan adalah mengetahui hal-hal yang berkenaan dengan pendidikan itu sendiri secara teoritis, yang menyangkut definisi pendidikan, tujuan pendidikan dan komponen-komponen lain yang terkait dengan kependidikan Islam.

  1. Definisi Pendidikan Islam
    Pendidikan secara etimologis, menurut para ahli merupakan kata yang dimodifikasi dari kata bahasa Yunani, yaitu Paedagogie yang berarti “Pendidikan”.[7] Sementara menurut tinjauan terminologis, pendidikan oleh para pakar sering didefinisikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.[8]
    Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu pada term al-Tarbiyah, al-Ta’lim dan al-Ta’dib.[9] Dari ketika term tersebut yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah term al-Tarbiyah.[10]
    Kata al-Tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu: Pertama, rabba-yarbu yang berarti tertambah, tumbuh dan berkembang. Rabiya-yarba berarti menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun dan memelihara.[11]
    Pendidikan dalam konteks Islam ini, banyak kalangan pakar memberikan definisi. Seperti yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas bahwa
    Pendidikan Islam ialah usaha yang dilakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan.[12]
    Pendapat senada dengan yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas tersebut juga dikemukakan oleh beberapa pakar pendidikan lainnya, seperti Drs. Ahmad D. Marimba,[13] Drs. Birlian Somad[14] dan Musthafa al-Ghulayaini.[15]
  2. Tujuan Pendidikan Islam
    Tujuan adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan suatu kegiatan. Karena itu tujuan pendidikan Islam, yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan pendidikan Islam.[16]
    Menurut Prof. Dr. M. Athiyah al-Abrasi, para ahli pendidikan telah sepakat bahwa tujuan pendidikan Islam bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui. Tujuan pokok dan terutama dari Pendidikan Islam ialah mendidik anak budi pekerti dan pendidikan jiwa.[17]
    Prof. H. M. Arifin, M.Ed., membedakan tujuan teoritis dengan tujuan dalam proses. Tujuan teoritis terdiri dari berbagai tingkat antara  lain: tujuan intermedier, tujuan akhir dan tujuan insidental.[18] Sementara M. Arifin menyebutkan bahwa dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
    1. Tujuan dan tugas manusia di muka bumi, baik secara vertikal maupun horizontal.
    2. Sifat-sifat dasar manusia.
    3. Tuntutan masyarakat dan dinamika peradaban kemanusiaan.
    4. Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam.[19]

Menurut Muhammad Athiyah al-Abrasyi, tujuan pendidikan Islam terdiri atas 5 sasaran, yaitu:

  1. Membentuk akhlak mulia
  2. Mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat
  3. Persiapan untuk mencari rizki dan memelihara segala kemanfaatannya
  4. Menumbuhkan semangat ilmiah di kalangan peserta didik.
  5. Mempersiapkan tenaga profesional yang terampil.[20]

Dengan demikian, apa yang dikemukakan oleh Omar Mohammad al-Thoumy al-Syaibaniy berikut yang menyebutkan secara ringkas bahwa tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat[21] memberikan pemahaman bahwa Pendidikan Islam selalu mempertimbangkan dua sisi kehidupan duniawi dan ukhrawi dalam setiap langkah dan geraknya.[22]

Landasan kependidikan Islam

Setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai landasan tempat berpijak yang baik dan kuat. Oleh karena itu pendidikan Islam sebagai suatu usaha membentuk manusia, harus mempunyai landasan ke mana semua kegiatan dan semua perumusan tujuan pendidikan Islam itu dihubungkan.

Dasar ilmu pendidikan Islam adalah Islam dengan segala ajarannya. Ajaran itu bersumber dari Al-Qur’an, sunnah Rasulullah Saw. dan Rakyu (hasil pemikiran manusia).[23]

Landasan Islam terdiri dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw yang dapat dikembangkan dengan ijtihad, al-Maslahah al-Mursalah, Istihsan, Qiyas dan sebagainya.[24]

  1. Al-Qur’an
    Al-Qur’an adalah kalam Allah Swt. yang diturunkan kepada Muhammad Saw dalam bahasa Arab yang terang guna menjelaskan jalan hidup yang bermaslahat bagi umat manusia di dunia dan di akhirat.[25]
    Dalam kaitan Al-Qur’an sebagai salah satu landasan kependidikan Islam, Ahmad Ibrahim Muhanna sebagaimana dikutip oleh Drs. Hery Noer Aly, MA. Dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, mengatakan sebagai berikut:
    Al-Qur’an membahas berbagai berbagai aspek kehidupan manusia, dan pendidikan merupakan tema terpenting yang dibahasnya. Setiap ayatnya merupakan bahan baku bangunan pendidikan yang dibutuhkan semua manusia. Hal itu tidak aneh mengingat Al-Qur’an merupakan kitab hidayah; dan seseorang memperoleh hidayah tidak lain karena pendidikan yang benar serta ketaatannya. Meskipun demikian, hubungan ayat-ayatnya dengan pendidikan tidak semuanya sama. Ada yang merupakan bagian fondasionaldan ada yang merupakan bagian parsial. Dengan perkataan lain, hubungannya dengan pendidikan ada yang langsung dan ada yang tidak langsung.[26]
  2. As-Sunnah
    As-Sunnah ialah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rasul Allah Swt. Yang dimaksud dengan pengakuan itu adalah kejaidian atau perbuatan orang lain yang diketahui oleh Rasulullah Saw dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan.[27]
    Dalam lapangan pendidikan, sebagaimana dikemukakan oleh Abdurrahman An-Nahlawi dalam bukunya Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Sunnah mempunyai dua faedah, yaitu:
    1. Menjelaskan sistem pendidikan Islam sebagaimana terdapat di dalam Al-Qur’an dan menerangkan hal-hal yang rinci yang tidak terdapat di dalamnya.
    2. Menggariskan metode-metode pendidikan yang dapat dipraktikkan[28]

Banyak tindakan mendidik yang telah dicontohkan Rasulullah dalam pergaulan bersama para sahabatnya. Muhammad Quthb menerangkan bahwa pribadi Rasulullah Saw sendiri  merupakan contoh hidup serta bukti kongkrit sistem dan hasil pendidikan Islam.[29]

Di samping kedua landasan konstitusinal normatif tersebut, ijtihad (ra’yu) juga dijadikan landasan kependidikan Islam. Soerjono Soekanto menegaskan bahwa masyarakat selalu mengalami perubahan, baik mengenai nilai-nilai sosial, kaidah-kaidah sosial, pola-pola tingkah laku, organisasi, susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan, kekuasaan dan wewenang, maupun interaksi sosial dan lain sebagainya.[30] Ijtihad adalah istilah para fuqaha, yaitu berpikir dengan menggunakan seluruh ilmuyang dimiliki oleh ilmuan syariat Islam untuk menetapkan/ menentukan sesuatu hukum syariat Islam dalam hal-hal yang ternyata belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan, tetapi tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah.[31]

Ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang diolah oleh akal yang sehat dari para ahli pendidikan Islam. Ijtihad tersebut haruslah dalam hal-hal yang berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup di suatu tempat pada kondisi dan situasi tertentu. Teori-teori pendidikan baru dari hasil ijtihad harus dikaitkan dengan ajaran Islam dan kebutuhan hidup.[32]

Kesimpulan

Dari uraian sekilas tentang hakikat dan landasan kependidikan Islam yang telah penulis kemukakan di atas, dapat penulis ambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Hakekat kependidikan Islam adalah menciptakan pribadi muslim yang sempurna dan kesejahteraan dunia dan akhirat.
  2. Landasan kependidikan Islam adalah Al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad (ra’yu).

——————————–cut here——————————–

Daftar Pustaka

Abrasi, M. Athiyah al-, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1970

Abrasyi, Muhammad Athiyah al-, Dasar-Dasar Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Ghani dan Djohar Bahry, Jakarta, Bulan Bintang, 1984

Aly, Abdullah, dan H. Djamaluddin Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandung, Pustaka Setia, 1999, Cet. II

Aly, Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1999, Cet. I

Arifin, M., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1991

Attas, Syekh Muhammad al-Naquib al-, Konsep pendidikan Dalam Islam, Jakarta, Mizan, 1984

Daradjat, Zakiah, et.al., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1996, Cet. III

Ghulayaini, Musthafa al-, Idhah al-Nashihin, Beirut, Dar al-Fikr, 1984, h. 189.

Hasbullah, Ali, Ushul al-Tasyri al-Islam, Kairo, Dar al-Ma’arif, 1971

Heriawan, Adang, et.al., Mengenal manusia dan Pendidikan, Yogyakarta, Liberty, 1988, Cet. I

Ihsan, H. Fuad, Dasar-Dasar Kependidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 1997, Cet. I.

Marimba, Ahmad D., Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Alma’arif, 1989

Musra, Muhammad Munir, Al-Tarbiyah al-Islamiyah, Ushuluha wa Tathawuruha fi al-Bilad al-Arabiyah, t.tp., A’lam al-Kutub, 1977

Nahlawi, Abdurrahman an-, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Bandung, CV. Diponegoro, 1992

Nahlawi, Abdurrahman an-, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah, Beirut, Dar al-Fikr, 1989

Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta, Bulan Bintang, 1975

Purwanto, M. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1995, Cet. VIII

Qurthubiy, Ibnu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansyary al-, Tafsir al-Qurthubiy, Kairo, Dar al-Syabiy, t.th, Juz. I.

Quthb, Muhammad, Sistem Pendidikan Islam, terj. Salman Harun, Bandung, Alma’arif, 1984.

Soekanto, Soerjono, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Jakarta, Rajawali Pers, 1988

Somad, Birlian, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, Bandung, Alma’arif, 1981.

Syah, Muhibbin, M.Ed., Psikologi Belajar, Jakarta, Logos, 1999, Cet. I,

Syaibaniy, Omar Mohammad al-Thoumy al-, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1979.

Syalabi, Ahmad, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, Kairo, al-Kasyaf, 1954.

Syam, M. Noor, et.al., Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, Surabaya, Usaha Nasional, 1981

END NOTE:


[1]Dr. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h. 11.

[2]Muhibbin Syah, M.Ed., Psikologi Belajar, (Jakarta: Logos, 1999), Cet. I, h. 55.

[3]Drs. H. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Cet. I,    h. 1-2.

[4]Ibid., h. 5.

[5]Biologis: apabila seseorang telah dapat menurunkan keturunan (akil balig), Psikologis: apabila fungsi-fungsi kejiwaan seseorang telah matang, Pedagogis: apabila telah menyadari dan mengenal diri sendiri atas tanggung jawab sendiri, Sosiologis: apabila seseorang telah memenuhi syarat untuk hidup bersama yang telah ditentukan masyrakat. Ibid., h. 6.

[6]Sesungguhnya yang dimaksud dengan dasar-dasar kependidikan ialah uraian ringkas asas-asas atau pengantar kependidikan. Dasar-dasar kependidikan sama artinya dengan dasar-dasar pendidikan. Karena itu dapat pula diartikan sebagai pengantar pendidikan atau pengantar dasar-dasar ilmu pendidikan. Ini didasarkan pada pendekatan yang lebih mendasar dan praktis. Artinya, uraian tentang teori pendidikan secara teoritis hanya bersifat mendasar, sekedar memberikan wawasan tentang arti (pengertian, definisi), ruang lingkup, fungsi, tujuan dan sistematika atau komponen-komponen pendidikan lain, di samping juga menyangkut aspek-aspek yang antar-hubungannya dapat berpengaruh dengan fungsi pendidikan seperti: masyarakat, negara, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta nilai-nilai yang berlaku di dalamnya.           M. Noor Syam, et.al., Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1981), h. 1.

[7]Paedagogie berarti “pendidikan” sedangkan paedagoiek artinya “ilmu pendidikan”. H. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Cet. I, h. 1; Paedagogos ialah seorang atau budak pada zaman Yunani kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Juga dirumahnya, anak-anak tersebut selalu dalam pengawasan para Paedagogos. Jadi nyatalah bahwa pendidikan anak pada zaman Yunani kuno sebagian besar diserahkan kepada Paedagogos itu. Lihat: M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), Cet. VIII, h. 3.

[8]Drs. H. Fuad Ihsan, Op.Cit., h. 1-2; Pendidikan merupakan kegiatan dimanis dalam setiap individu yang mempengaruhi perkembangan fisik, mental, emosi sosial dan etikanya, dengan perkataan lain pendidikan merupakan suatu kegiatan yang dinamis yang mempengaruhi setiap aspek kepribadian dan kehidupan individu. Lihat: Drs. Adang Heriawan, et.al., Mengenal manusia dan Pendidikan, (Yogyakarta: Liberty, 1988), Cet. I, h. 2.

[9]Lihat: Muhammad Munir Musra, Al-Tarbiyah al-Islamiyah: Ushuluha wa Tathawuruha fi al-Bilad al-Arabiyah, (t.tp.: A’lam al-Kutub, 1977), h. 17.

[10]Istilah al-Ta’dib dan al-Ta’lim jarang sekali digunakan. Padahal kedua istilah tersebut telah digunakan pada awal pertumbuhan pendidikan Islam. Ahmad Syalabi, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Kairo: al-Kasyaf, 1954), h. 213.

[11]Abdurrahman an-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Diponegoro, 1992), h. 31; Al-Tarbiyah berasal dari kata rabb. kata ini memiliki banyak makna, tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestarian dan eksistensinya. Lihat: Ibnu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansyary al-Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, (Kairo: Dar al-Syabiy, t.th), Juz. I, h. 120.

[12]Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas, Konsep pendidikan Dalam Islam, (Jakarta: Mizan, 1984), h. 10.

[13]Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani  berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Drs. Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Alma’arif, 1989), h. 19.

[14]Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri, berkepribadian tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya adalah ajaran Allah yang tercantum dengan lengkap di dalam Al-Qur’an yang pelaksanaannya di dalam praktek hidup sehari-hari sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Birlian Somad, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, (Bandung: Alma’arif, 1981), h. 21.

[15]Pendidikan Islam adalah menanamkan akhlak mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasehat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemapuan (meresap dalam) jiwanya, kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk memanfaatkan tanah air. Musthafa al-Ghulayaini, Idhah al-Nashihin, (Beirut: Dar al-Fikr, 1984), h. 189.

[16]Drs. H. Djamaluddin dan Drs. Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. II, h. 14; Ringkasnya tujuan pendidikan Islam adalah taqarrub kepada Allah, bahagia di dunia dan akhirat. Menurut Imam Al-Ghazali, tujuan pendidikan yaitu pembentukan Insan Paripurna, baik di dunia maupun di akhirat. H. Djamaluddin dan Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. II, h. 15.

[17]M. Athiyah al-Abrasi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), h. 2.

[18]M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 38; Tujuan Intermedier, yaitu tujuan yang merupakan batas sasaran kemampuan nyang harus dicapai dalam proses pendidikan pada tingkat tertentu. Tujuan insidental, merupakan peristiwa tertentu yang tidak direncanakan, tetapi dapat dijadikan sasaran dari proses pendidikan pada tujuan intermedier. Tujuan Akhir pendidikan Islam pada hakekatnya adalah realisasi dari cita-cita ajaran Islam, yang membawa misi bagi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir dan bathin di dunia dan akhirat. Lihat: H. Djamaluddin dan Abdullah Aly, Op.Cit., (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. II, h. 17.

[19]M. Arifin, Filsafat pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), h. 120.

[20]Muhammad Athiyah al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Ghani dan Djohar Bahry, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. h. 3-4.

[21]Omar Mohammad al-Thoumy al-Syaibaniy, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 410.

[22]H. Djamaluddin dan Abdullah Aly, Op.Cit., h. 11.

[23]Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), Cet. I,    h. 30.

[24]Zakiah Daradjat, et.al., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), Cet. III, h. 19.

[25]Lihat: Ali Hasbullah, Ushul al-Tasyri al-Islam, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1971), h. 17.

[26]Hery Noer Aly, Op.Cit., h. 38-39.

[27]Zakiah Daradat, et.al., Op.Cit., h. 20.

[28]Abdurrahman an-Nahlawi, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), h. 23.

[29]Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, terj. Salman Harun, (Bandung: Alma’arif, 1984), h. 13.

[30]Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, (Jakarta: Rajawali Pers, 1988), h. 87-88.

[31]Zakiah Daradat, et.al., Op.Cit., h. 21.

[32]Ibid., h. 22.

%d blogger menyukai ini: