Category Archives: Opini

Happy Anniversary, Khairil Yulian…!!!


CARA MEMBUAT BLOG YANG BAIK

Happy Anniversary - khairil yulian

Tak disangka, dan tak terasa, usia Blogku sudah 3 tahun. Hal ini ku ketahui dari sebuah ucapan “Happy Anniversary” dari wordpress, yang mengatakan bahwa aku telah terdaftar di WordPress sejak 3 tahun yang lalu. Pihak wordpress juga mengucapkan terima kasih karena telah terbang (red: flying) dengan mereka. Selanjutnya tersemat sebuah harapan untuk terus nge-blog dengan cara yang baik….

Bagaimana sih Blogging yang baik itu…!!?

Melakukan Blogging yang baik itu, menurutku adalah:

  1. Menjauhi sejauh-jauhnya tindakan plagiat.
    Meskipun banyak dari kawan-kawan yang hobby banget melakukan “Copas” alias “Copy-Paste” atau menyalin sebuah tulisan dan menerbitkannya di Blognya sendiri, tetapi bukan berarti kalian bebas menyontek dan mengakui sebuah karya cipta orang lain sebagai karya cipta anda sendiri.
  2. Berhentilah menciptakan masalah
    Sering ku temukan artikel-artikel yang berisi suatu opini atau pendapat yang justru membentuk sebuah opini publik yang bersifat destruktif. Karena sebuah opiniyang diterbitkan di suatu blog atau website, yang bukan berdampak pada terciptanya sebuah solusi, tetapi malah memperkeruh suatu masalah. Karena keadaan tersebut, bukan tidak mungkin, akan lahir satu atau beberapa masalah lain yang semakin mencabang, dan akhirnya lupa pada apa sebenarnya akar dari permasalah tersebut.
    Jadi, salah satu bentuk tindakan blogging yang baik adalah menghindari menciptakan masalah, tetapi justru memberi solusi pada masalah yang sedang terjadi di masyarakat.
  3. Jangan terlalu mengejar rating
    Bukan rahasia lagi bahwa pada umumnya orang melakukan blogging untuk mengejar rating atau meningkatkan kuantitas kunjungan. Adalah Sebuah kebanggan, apabila blog atau website mereka mendapatkan angka kunjungan yang tinggi, meskipun harus melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya, dan bahkan lebih mirip penipuan, karena pengunjung yang tersesat ke Blognya, tidak menemukan apa yang mereka cari. Dampak dari tindakan terlalu mengejar rating, biasanya adalah rendahnya kualitas dari artikel yang diterbitkan pada blog tersebut. Materi tidak disajikan secara mendalam, karena prioritas pada upaya untuk sekedar menerbitkan sebuah artikel yang sedang Booming.
  4. Hindari Pornografi
    Situs-situs porno mungkin banyak, dan ada juga situs yang juga terkesan memberikan aropa porno dalam tulisan dan gambar yuang diterbitkannya. Pada dasarnya, semua boleh dilakukan, tetapi hal tersebut tentu bertentangan dengan norma dan etika serta ajaran agama. nge-Blog yang baik tidak harus melakukan hal tersebut, karena masih banyak pilihan jalur lainnya yang lebih bermanfaat dan informatif.
  5. Tata bahasa yang baik dan sopan
    Bahasa lisan tidak sama dengan bahasa tulisan. Kemampuan untuk berkomunikasi dalam bahasa tulisan, memang tidak dimiliki oleh semua orang.  Namun keterampilan dalam menyampaikan ide melalui tulisan, bisa dikembangkan dengan sering dan membiasakan membaca. Karena tidak ada orang yang bisa menulis dengan baik, kalau dia tidak pernah mau membaca, sepertinya juga tidak ada orang yang bisa berbicara dengan baik, kalau dia tidak pernah mau mendengar.
  6. Berikan karakter pada Blog anda
    Blog yang baik adalah blog yang mempunyai karakter sendiri. Cobalah untuk fokus pada tujuan, untuk apa blog atau website tersebut anda buat? Jangan menerbitkan sebuah artikel yang tidak sesuai dengan blog anda. Hal ini mungkin saja terjadi, ketika anda mempunyai banyak bidang usaha, atau memiliki banyak keahlian. Misalnya, anda membuat sebuah website untuk menjual sepatu, tetapi kemudian, anda juga menerbitkan produk elektronik di website tersebut. Jika anda memang punya banyak usaha atau produk, sebaiknya, bangun sebuah website dengan nama yang umum, atau buat sebuah subdomain sendiri untuk masing-masing bidang usaha atau produk anda. Dan mungkin akan lebih baik, jika anda membuat blog atau website tersendiri untuk masing-masing usaha atau produk anda tersebut.
  7. Jangan Berlebihan
    Kata “Terlalu” memang selalu kurang baik saat ditempatkan di depan suatu kata sifat, bahkan pada sifat yang positif. Misalnya, “Cantik” itu bagus, tetapi jika sudah “Terlalu cantik“, maka kesannya akan negatif. “Banyak” itu bagus, tetapi kalau sudah “Terlalu Banyak” , maka terkesan berlebihan. Lihat surah Al-An’am (6): 141 dan Surah Al-A’raf (7): 31. Di sana disebutkan: “janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”.

Mungkin itu sebagian dari cara nge-Blog yang baik, terlepas dari aspek keindahan desain sebuah Blog atau website. Jika anda menyukai, artikel tentang Cara membuat Blog yang baik ini, silahkan untuk membaginya pada orang lain. (Boleh Copas, tapi jangan plagiat, ya!) 😆

Iklan

Bukan “Khairil Yulian”


Jika dulu ada acara Empat Mata yang ditayangkan oleh salah satu Stasion Televisi Swasta di Indonesia, yang kemudian dicekal dan berganti nama dengan Bukan Empat Mata. Peristiwa yang serupa [tapi tak sama] ternyata juga terjadi pada namaku (Red: Khairil Yulian). 😆

Nama Blogku dulu ku ambil dari namaku sendiri, yaitu Khairilyulian.wordpress.com. Tetapi kemudian berganti dengan nama yang sama tetapi ada sedikit tambahan di awal, yaitu NEWkhairilyulian.wordpress.com. Penambahan NEW tersebut, bukan tanpa alasan… 😆 Soalnya… Blog milikku yang sebelumnya Not Longer Available… 😆 Hehehe… para Blogger pasti ngerti lah istilah itu..

Nah sekarang hal yang serupa tapi sama, terjadi pada diriku tanpa aku pernah menyadari… 😆 Aku baru saja iseng ngetik namaku [KHAIRIL YULIAN] di Mesin Pencari “Google“…. eeeh, ternyata pas masuk ke halaman ke-3 ku temukan sebuah nama yang sama dengan namaku, tetapi bukan aku…

Bukan Khairil Yulian

Hasil pencarian di Google yang menemukan nama khairil yulian juga ada di sebuah artikel berjudul Multiyears Seluma Dihentikan | Rakyat Bengkulu yang mengarahkan pada sebuah situs bernama harianrakyatbengkulu.com. Dalam artikel berjudul Multiyears Seluma Dihentikan, tepatnya pada paragraf ke-7 ada tulisan berikut:

ada di harianrakyatbengkulu.comSaya kutib sepenggal kalimat sebagai berikut:

“Usai penyampaian jawaban eksekutif, Wakil Ketua Komisi II DPRD Seluma yang juga  Ketua Fraksi PKPI, Khairil Yulian, S.Sos langsung interupsi. Adik kandung mantan Bupati Seluma Murman Effendi itu menegaskan bahwa proyek multiyears wajib dianggarkan”

Atas kesamaan nama tersebut, dalam kesempatan kali ini saya tegaskan bahwa itu Bukan Khairil Yulian, yang sedang menulis artikel ini…!! Nama yang sama pada situs tersebut, bukan Gue…!!!! alasannya:

  1. Saya bukan Wakil Ketua Komisi II DPRD Seluma
  2. Saya juga bukan Ketua Fraksi PKPI
  3. Titel saya bukan, S.Sos.
  4. Saya juga bukan Adik kandung mantan Bupati Seluma Murman Effendi
  5. Saya tidak pernah interupsi untuk menegaskan bahwa proyek multiyears wajib dianggarkan. 😆

________________

Saya menulis artikel ini, untuk menghindari adanya kesalahpahaman yang MUNGKIN akan terjadi suatu hari nanti… Daripada nanti terlanjur, lebih baik saya tegaskan sekarang… 😆 Hehehehe……….

Preventif lebih baik daripada Antisipatif

Interpretasi versi Gue:
Preventif:
Mencegah sebelum terjadi
Antisipatif: Mencegah setelah terjadi… 😆

Cara Mendapatkan Hati Wanita Tanpa Harus Dianggap Sebagai “Kakak” Saja


Jika kamu pernah merasakan pengalaman cinta yang mengecewakan karena hanya dianggap sebagai “Kakak” oleh sang pujaan hati, kamu tentu akan bertanya-tanya, kurang apa yang pengorbanan yang telah anda lakukan untuk si dia? 😆 Permasalahan sebenarnya bukan pada si dia, tetapi pada cara yang anda gunakan untuk mendapatkan hatinya.

Dalam sebuah status di Halaman Facebook Cinta tertanggal 15 September, disebutkan:

Jika kamu ingin mendapatkan hati seorang wanita, maka jangan terlalu baik padanya, karena kamu hanya akan dianggapnya sebagai “Kakak” saja...♥♥♥

Maksud dari status tersebut adalah bahwa untuk menarik hati seorang wanita pujaan hati, bukan dengan berbuat baik padanya, atau memenuhi semua keinginan dan keperluannya, bahkan sebelum dia meminta. WoW..!! 😆 Mungkin kamu berpikir, dengan semua yang telah kamu lakukan untuknya, dan atas semua yang telah kamu berikan padanya tersebut, akan mampu mencuri hatinya. Tetapi ternyata yang terjadi tidak seperti yang kamu harapkan. Akan ada sebuah tanda tanya besar di kepalamu, “Kenapa dia hanya menganggapku sebagai Kakak?” 😦 😆 Dalam keterpaksaan menerima hubungan hanya sebagai Kakak dari wanita yang kamu sukai, saya yakin, bukan hubungan itu yang kamu harapkan. Tul nggak…!!!??? 😆

Satu hal yang perlu dipahami tentang hati wanita, ia tidak berpikir secara logika seperti pola pikir laki-laki pada umumnya, melainkan dengan perasaan. Secara logika, dengan berbuat baik padanya, maka dia juga akan berbuat padamu; dengan melakukan semua yang diinginkannya, maka dia mungkin juga akan melakukan yang anda inginkan; atau dengan memberikan semua yang dia minta, dia juga akan berharap dia juga mau memenuhi semua keinginan anda.

Teori tersebut tidak berlaku pada wanita. Karena wanita ada sosok yang senang apabila ada seseorang yang mau memenuhi semua keinginannya, dan ia juga senang jika ada seseorang yang dengan senang hati  melakukan yang dimintanya. Wanita tidak pernah berpikir untuk membalasnya dengan melakukan atau memberikan hal yang sama seperti yang telah kamu berikan terhadapnya, bahkan sampai kamu berpikir bahwa ia hanya memanfaatkanmu saja.

Ketika kamu berpikir bahwa dia hanya memanfaatkanmu saja, maka kamu akan berpikir untuk untuk meminta kepastian darinya. Saya yakin kamu akan nervous (gugup) saat mengungkapkannya, dan akan kecewa bahkan marah ketika mendengar jawabannya ternyata dia hanya menganggapmu sebagai kakak. 😆 Yang paling saya khawatirkan adalah, kamu mempertanyakan status hubunganmu dengannya selama ini.

Guys! Banyak cowok yang merasa putus cinta, justru pada saat ia akan memulai sebuah hubungan. Dia kecewa karena selama proses PDKT (pendekatan) ia terlalu baik, terlalu memenuhi semua keinginan calon pasangannya, terlalu banyak memberi bahkan untuk sesuatu yang tidak pernah diminta. Karena sesungguhnya, kebaikanmu itulah yang membuat seorang perempuan malah tidak bisa memberikan hatinya padamu. Kehadiranmu di sisinya sangat ia butuhkan, bukan sebagai seorang kekasih, melainkan sebagai seorang “KAKAK”….

Perbaiki caramu jika kau ingin mendapatkan hati seorang wanita yang kamu idam-idamkan. Jangan jadi laki-laki yang hanya pandai bermain logika, tetapi jadilah laki-laki yang pandai memainkan perasaan wanita… ❓

____________

Jangan Bingung…!! Karena saya akan mengupas semuanya di sini

Budaya COPAS di Kalangan Blogger: Menghambat Kreativitas dan Produktivitas


Bagi kalangan Blogger, istilah Copas (Copy Paste) memang bukan hal yang asing lagi, karena diakui atau tidak, seorang blogger pasti pernah menerbitkan “artikel Copas“, 😆 karena memang melakukan “Copy Paste” jauh lebih mudah dibandingkan menulis sebuah artikel yang lahir sebagai buah pemikiran sendiri, karena yang diperlukan hanyalah klik “Copy” pada artikel yang terdapat pada suatu Blog, dan klik “Paste” pada blog sendiri, kemudian klik “Terbitkan”Selesai..!!! 😆

Selain itu, budaya “Copas” juga bukan hal yang dilarang, selama masih menjaga kode etik dan penghargaan terhadap hak cipta orang lain. Namun demikian, tidak jarang saya temukan, beberapa artikel yang mirip atau bahkan sama persis yang saya yakin merupakan hasil Copas yang tidak menyebutkan referensi atau sumber di mana tulisan tersebut diambil. Sehingga yang saya rasakan adalah, SEBUAH HAL YANG ANEH 😆

“Apa mungkin sebuah artikel yang sama persis isinya, ditulis oleh beberapa orang yang berbeda…!!?” 😕

Sebenarnya sih ada kebanggaan tersendiri ketika artikel atau tulisan yang kita terbitkan di-Copas oleh orang lain, tetapi rasa kebanggaan itu akan langsung berubah menjadi rasa jengkel ketika diketahui bahwa si Copaser (Pelaku Copy Paste) ternyata meng-Copas artikel anda tanpa menyebutkan sumber referensinya… 😥

Sobat Blogger,,,!!
Kalau saya boleh katakan, kebiasaan Copas bukan sebuah kebiasaan yang baik dalam dunia Blogging. Kebiasaan tersebut juga bahkan dikenal dengan istilah Plagiat atau Plagiarisme yang dalam tatanan konstitusional, merupakan salah satu bentuk tindak pidana. Dalam dunia pendidikan, Di dunia pendidikan, seorang plagiator dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas.¹ Oleh karena itulah, hendak para blogger menjauhi kebiasaan Copas, karena selain alasan-alasan tersebut di atas, kebiasaan Copas juga mematikan Kreativitas dan Produktivitas.

  1. Kebiasaan Copy Paste (Copas) Dapat Mematikan Kretivitas
    Jika mau jujur, orang yang terbiasa hidup meniru milik orang lain, meniru model orang lain, meniru ide orang lain, maka selamanya, anda tidak akan pernah menjadi yang pertama, kecuali model atau ide tersebut anda bawa ke suatu lingkungan yang memang belum tahu bahwa sebenarnya ide atau model yang anda perkenalkan tersebut sebenarnya adalah milik orang lain yang anda tiru. Anda mungkin bisa saja tidak mencantumkan referensi model/ide tersebut, tetapi cepat atau lambat, orang akan tahu bahwa anda sebenarnya bukan seorang pemilik ide/model tersebut, tetapi hanya seorang plagiator pecundang… 😆
    Tujuan utama Copy paste –menurut saya– adalah untuk membantu pemilik ide/model untuk menyebarluaskan informasi tentang ide/model tersebut, bukan untuk menjiplak, meniru, mencontek, imitation, Copying, artificial dan sebagainya yang bernuansa Plagiarisme.
    Menerbitkan sebuah artikel Copy Paste, baik dengan menyebutkan sumbernya atau tidak, akan memberikan kesan bahwa dia hanya seorang blogger yang mengejar-ngejar blog trafic. Kebiasaan Copas dalam nge-Blog, baik disadari atau tidak, juga akan menumbuhkan image kurang baik terhadap pemilik blog, karena penulis pada Blog tersebut hanya mampu menerbitkan artikel-artikel yang telah diterbitkan orang lain. Terbiasa dengan budaya Copas, jelas akan mematikan kreativitas, karena ide yang tulis tidak pernah bersumber pada ide atau pemikiran anda sendiri. Padahal dunia blogging, adalah kesempatan untuk menunjukkan seberapa besar kualitas dan kreativitas anda dalam mengemukakan suatu ide, model, gagasan, dan sebagainya, dalam bentuk tulisan.
    Oleh sebab itu, menjadi seorang Blogger, hendaknya jangan asal-asalan, just increasing blog traffic, tanpa memperhatikan kualitas tulisan yang anda terbitkan. Cobalah untuk menunjukkan kreativitas anda melalui tulisan pada Blog anda. Tunjukkan bahwa anda anda adalah seorang Blogger sejati. Kualitas seorang Blogger dipandang dari artikel yang diterbitkan di Blog-nya, dan sebaliknya, kualitas seorang Blogger juga akan menentukan seberapa besar kualitas Blog-nya. 😆
  2. Kebiasaan Copy Paste (Copas) Dapat Menghambat Produktivitas
    Pada blog saya sebelumnya, selain tulisan-tulisan yang bersumber dari ide dan pemikiran sendiri, saya juga banyak menulis artikel Copas. Bahkan, artikel Copas yang saya terbitkan jauh lebih banyak dari artikel yang bersumber dari pemikiran saya sendiri. Tetapi pada kenyataannya, terlihat secara signifikan, bahwa artikel yang merupakan luapan ide dan pemikiran saya sendiri jauh lebih banyak mendapatkan kunjungan, daripada artikel Copas.
    Hal ini jelas menunjukkan bahwa Copas juga dapat menghambat produktivitas, dengan kata lain, upaya untuk meningkatkan blog traffic dengan cara menerbitkan banyak artikel (nggak peduli Copas, yg penting banyaaaak dulu deh), justru berdampak pada hasil yang tidak seberapa. Banyaknya artikel Copas dalam suatu Blog malah memberikan kesan mubazir, “Sesungguhnya mubazir itu saudaranya setan”. (QS Al Isra’ : 26-27)
    Oleh sebab itu, jika niat Blogging anda adalah untuk increasing blog traffic, tentunya itu tidak salah, tetapi akan lebih baik jika anda juga mau memperhatikan kualitas dari artikel yang anda tulis. Artikel Copas, secara sederhana bisa diartikan sebagai artikel yang di-Copy dari artikel dari Blog lain. Secara sederhana kita juga bisa menemukan logikanya, bahwa artikel yang lebih lama eksis akan lebih dulu terindeks oleh Web Search Engine, yang juga memiliki kemungkinan lebih besar menduduki posisi tertinggi dalam pencarian pada Web Search Engines tersebut.

___________________________

Key Word: Kualitas dan Kreativitas akan menunjang Produktivitas

Artikel lain tentang Blogging:

Bagaimana Agar Mengajar menjadi menyenangkan


Bagi kamu yang berstatus sebagai tenaga pengajar, baik Dosen, Guru, maupun Instruktur, kamu tentu pernah mengalami suasana mengajar yang tidak menyenangkan. Berbagai alternatif metode mungkin telah kamu coba untuk membuat suasana mengajar menjadi menyenangkan, tetapi tetap saja tidak kamu temukan situasi menyenangkan yang kamu inginkan.

Tips berikut mungkin akan dapat membantu kamu untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dalam mengajar.

  1. Pahami Dirimu..!!
    Sebagai seorang yang berstatus tenaga pengajar, tentunya kamu juga pernah menyandang status sebagai pelajar. Kamu pasti pernah menyukai profil seorang guru/dosen yang pernah mengajarmu. sebaliknya, kamu juga mungkin pernah mendapati guru/dosen yang tidak kamu sukai. Sekarang keadaannya adalah kamu berada pada posisi tenaga pengajar. Pahami Dirimu..!! Seperti apa dirimu di mata anak didikmu? Apakah seperti guru/dosen yg kamu sukai, atau seperti guru/dosen yang tidak kamu sukai?
  2. Benahi Dirimu..!!
    Jika suatu mata pelajaran tidak kamu sukai, maka kamu tidak akan menemukan kesenangan dalam mengajar. Pelajaran tertentu tidak kamu sukai, pada umumnya disebabkan kamu memang tidak menguasai pelajaran tersebut. Oleh karena itu, Benahi dirimu..!! Perluas wawasan dan pengetahuanmu tentang materi pelajaran yang kamu ajarkan.
  3. Yakinkan dirimu..!!
    Salah satu hal terpenting yang harus ada saat mengajar adalah semangat. Seorang guru/dosen tidak akan bisa mengharapkan semangat belajar pada anak didiknya, jika dia sendiri tidak menunjukkan semangat itu pada anak didiknya. Oleh karena itu, Yakinkan dirimu..!! Tunjukkan bahwa kamu memiliki kompetensi di bidangmu! Tunjukkan antusiasmu dalam mengajar! Perlihatkan semangat mengajarmu kepada mereka yang menerima pelajaran darimu!
  4. Pahami diri mereka..!!
    Seorang tenaga pengajar yang baik, adalah tenaga pengajar yang mampu mengukur dan membandingkan kemampuannya dengan anak didiknya. Kadang terjadi permasalahan, seorang tenaga pengajar yang begitu antusias dalam menyampaikan materi pelajaran, tetapi siswanya hanya terdiam bingung menerima pelajaran tersebut. Selain tingkat kemampuan intelijensi tersebut, keadaan psikologis pada peserta didik juga harus diperhatikan. Oleh karena itu, pahamilah diri mereka..!! Jangan mengharapkan peserta didik memahami kemampuan kamu, tetapi kamulah yang diharapkan mampu memahami keadaan pada peserta didikmu, baik tingkat IQ mereka, maupun keadaan psikologis yang ada pada mereka.
  5. Benahi diri mereka..!!
    Tingkat kecerdasan dan kondisi psikologis yang berbeda-beda pada masing-masing anak didik, mengharuskan seorang guru/dosen melakukan suatu strategi mengajar yang tepat, baik dalam hal pemilihan metode dan media yang sesuai dengan materi yang diajarkan, maupun dalam hal memahami keadaan peserta didik tersebut. Oleh karena itu, seorang tenaga pengajar yang baik tidak seharusnya membawa anak didik langsung masuk kepada materi yang akan diajarkan, tetapi haruslah terlebih dahulu masuk ke dalam dunia mereka, kemudian membawa mereka ke dunia yang diinginkan oleh tenaga pengajar tersebut. Benahi keadaan anak didik dari dalam diri mereka sendiri, masuki emosi mereka, buatlah anak didik mengikuti keinginan anda tanpa dipaksa, dan tumbuhkan rasa percaya diri mereka.
    Dalam hal ini, penting bagi seorang guru untuk mempelajari ilmu jiwa (Psikologi).
  6. Yakinkan diri mereka..!!
    Tenaga pengajar yang bersemangat dalam mengajar dan siswa yang bersemangat dalam belajar, pastinya akan menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan. Oleh karena itu, Yakinkan mereka..!! Berikan motivasi yang membuat peserta didik tersenyum dan antusias dalam menerima materi pelajaran yang anda berikan, dan jangan pernah tumbuhkan semangat belajar pada anak didik yang didasari oleh rasa takut, karena dibayang-bayangi oleh adanya suatu ancaman atau hukuman.

Dikutib dari berbagai sumber

Lihat artikel di FacebookClick here
  • Pahami, Benahi dan Yakinkan diri anda (Guru)…!!
  • Pahami benahi, dan Yakinkan diri mereka (Murid)…!!

Siapakah Orang yang Paling Beruntung?


 Al-‘Ashr:
Vonis Terhadap Manusia Sepanjang Masa

“Demi masa!” Demikian salah satu sumpah Allah yang termuat dalam Al-Qur’an surah al-‘Ashr ayat pertama. Tidak jelas dimaksudkan kapan masa yang dimaksudkan dalam ayat tersebut, apakah pada masa yang lalu, masa yang sekarang, atau masa yang akan datang. Jadi saya artikan, sumpah Allah dengan mengatas namakan waktu tersebut berlaku untuk semua masa, baik dulu, sekarang, maupun masa yang akan datang. Ada apa dengan masa sehingga Allah sampai bersumpah dengan mengatas namakan masa tersebut? Keterangan atas sumpah Allah tersebut terdapat dalam ayat selanjutnya pada surah yang sama yang artinya:

“Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.”

Saya memahami ayat ini sebagai keterangan atas sumpah Allah pada ayat sebelumnya. Jadi Allah bersumpah demi masa –tak perduli kapanpun masa itu terjadi–, maka sesuatu yang bernama manusia (disebutkan disana dengan kata al-insan) benar-benar akan berada dalam suatu kerugian. Dalam ayat kedua surah Al-‘Ashr ini, saya menemukan dua tauqid (penekanan/penegasan), yaitu kata “Sesungguhnya” (إِنَّ) pada awal ayat dan kata “benar-benar” (huruf “لَ” pada kata “لَفِي”) dipertengahan ayat. Penekanan ini berarti sumpah Allah dengan mengatas namakan waktu tersebut bukan sumpah biasa. Dalam sumpah-Nya, Allah menegaskan bahwa kapanpun masa itu terjadi, baik di masa lalu, di masa sekarang, maupun di masa yang akan datang, maka sungguh makhluk yang bernama insan (manusia) akan benar-benar berada dalam kerugian. Siapakan al-insan (manusia) itu? Makhluk yang bernama manusia itu tidak lain adalah saya, anda, dan semua jenis mamalia yang dalam dirinya diberikan akal dan nafsu yang menjadikannya menjadi satu-satunya makhluk dinamis di jagat raya ini.

Dengan gambaran di atas, berarti semua jenis makhluk Allah yang bernama manusia, baik ia laki-laki maupun perempuan, baik ia tua maupun muda, baik ia miskin ataupun kaya, baik ia pejabat ataupun rakyat, baik ia pimpinan ataupun karyawan, baik ia atasan ataupun bawahan, baik ia terkenal ataupun terdampar, dab baik ia merasa diri sebagai manusia, atau pun yang tidak….. Kapanpun mereka hidup, baik dulu, saat ini, ataupun di masa yang akan datang…. semuanya adalah objek atas sumpah Allah dengan mengatasnamakan masa sebagai kelompok yang benar-benar berada dalam kerugian.

Sobat pembaca sekalian! Jangan buru-buru berpikir untuk menafikan diri sebagai manusia, atau berpikir lebih baik jadi binatang atau tumbuhan, karena sumpah Allah terhadap al-insan ini bukan tanpa pengecualian. Pada ayat terakhir surah Al-‘Ashr ini diterangkan, “Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shaleh, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.”

Dalam pemahaman saya, meskipun Allah telah bersumpah dan memvonis bahwa manusia akan benar-benar berada dalam kerugian, kapanpun waktu itu terjadi, tetapi Allah juga memberikan pengecualian kepada empat golongan manusia, yaitu:

  1. Orang-orang yang beriman
  2. Orang-orang yang beramal saleh
  3. Orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan, dan
  4. Orang-orang yang saling menasehati dalam kesabaran.

Sekarang tinggal kita memahami seperti apa orang yang beriman itu dan apakah kita termasuk kedalam golongan itu? atau seperti apa orang yang beramal saleh itu, dan apakah kita termasuk ke dalam golongan mereka? atau seperti apa mereka yang saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, dan apakah kita juga termasuk ke dalam golongan mereka?

*** 🙂 ***

Sekarang waktunya introspeksi diri kita masing-masing
dan silahkan baca ulang ayat-ayat dari Kitab suci Al-Qur’an di bawah ini..!!

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَالْعَصْرِ

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

(QS. Al-‘Ashr/103: 1 -13)

Jika anda bermasalah dengan esensi artikel ini, sebaiknya anda baca ini juga!

Menghindari Penyakit Maag ala Rasulullah Saw


Aku memang bukan Dokter atau orang yang memahami dengan baik masalah kesehatan, tetapi aku adalah orang yang pernah merasakan bagaimana rasanya sakit, dan berusaha untuk tidak merasakannya lagi. Karena saat sedang sakit itu adalah saat-saat yang paling tidak menyenangkan, namun juga sekaligus saat-saat yg bisa menyadarkanku bahwa betapa kesehatan adalah sebuah nikmat Allah yang sangat besar yang harus selalu disyukuri.

Maag adalah penyakit yang telah ku derita sejak lama. Pada awalnya, penyakit ini benar-benar menggangguku. Bahkan yang terpikir olehku adalah penyakit Maag adalah penyakit yang paling menyakitkan. Gejala Maag yang ku rasakan adalah pinggang dan tulang belakang terasa pegal. Saat sedang bekerja duduk di depan komputer, pinggang terasa penat adalah hal yang biasa. Cukup dengan sedikit peregangan, maka penat itu akan hilang. Tetapi jika itu adalah gejala Maag, maka peregangan tulang belakang, baik dibawa berdiri, duduk, atau bahkan berbaring pun penat itu tidak hilang. Jika sudah demikian, maka aku akan cepat-cepat mencari obat Maag.

Pada suatu ketika, aku bertemu dengan teman lamaku (teman waktu SMP dan waktu mondok). Sekarang dia bekerja di sebuah Rumah Sakit. Ada sebuah nasehat kesehatan tentang penyakit Maag yang menurutku sangat rasional, ilmiah sekaligus memiliki nilai-nilai religius. Hehehe…. 🙂 Apakah menurutmu aku terlalu banyak bicara? Baiklah…!! Berikut ini, aku akan mencoba mendeskripsikan dengan bahasaku sendiri, bukan dengan bahasa kedokteran atau bahasa ulama.

Penyakit Maag

Menurut beberapa keterangan yang ku peroleh tentang penyakit Maag, dikatakan bahwa penyakit ini bisa dihindari dengan pola makan yang teratur. Statement itu memang tidak bisa disalahkan. Tetapi perlu diketahui bahwa awal penyakit Maag justru adalah pola makan teratur itu sendiri. Anda tidak percaya? Begini gambarannya… 😆

Kebiasaan makan teratur berpotensi menderita Maag pada saat kebiasaan teratur itu tidak bisa lagi dilakukan. Hal semacam ini biasanya terjadi pada saat seseorang berpindah dari suatu lingkungan ke lingkungan lainnya, seperti seorang anak yang terbiasa makan teratur di rumahnya, sehingga pada saat ia hidup terpisah dari orang tuanya kebiasaan makan teratur itu tidak bisa ia pertahankan, sementara pola makan teratur itu sendiri masih melekat dalam kebiasaanya. Akibatnya, jika ia terlambat makan, maka lambungnya akan mengalami kelebihan asam lambung yang berdampat pada lukanya dinding lambung, karena sudah tidak ada lagi makanan yg tersisa di lambung. Rasa sakit yang diakibatkan oleh lukanya dinding lambung inilah yang disebut dengan Maag.

Pengaruh Niat

Tingkat pengeluaran asam lambung sebenarnya dipengaruhi oleh niat. Kebiasaan makan teratur telah menanamkan niat untuk makan pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Niat tersebut seperti memberi perintah kepada otak untuk mengontrol tingkat pengeluaran asam lambung. Pada saat seseorang sedang sarapan pagi, secara tidak sadar ia telah berniat untuk kembali mengisi lambungnya pada siang hari. Inilah yang saya sebut sebagai niat yang tertanam akibat pola makan teratur. Effect dari niat ini menyebabkan asam lambung dikeluarkan untuk mencerna makanan yang ada di lambung, sehingga pada saat siang hari nanti, lambungnya sudah kosong dan siap untuk diisi kembali dengan makanan. Apabila pola makan teratur masih bisa dipertahankan, maka ini tidak akan berpotensi untuk mengalami Maag. Tetapi jika pada waktu tersebut, ia tidak mengisi lambungnya, maka asam lambung yang terus keluar mengisi lambung akan merusak dinding lambung, sehingga anda akan merasa sakit di perut anda.

Pengaruh yang ditimbulkan oleh niat ini bisa dirasakan pada saat berpuasa. Menurut kesehatan puasa memang baik untuk mencegah penyakit Maag. Hal ini terkait dengan penjelasan di atas, yaitu berhubungan dengan masalah niat. Pada saat seseorang berniat untuk puasa, maka secara tidak langsung ia telah berniat untuk makan hanya pada saat waktu berbuka. Niat tersebut mempengaruhi otak untuk memberikan perintah kepada asam lambung agar mengurangai produksinya, sehingga proses pencernaan di lambung berjalan lebih lambat, karena niat yang yang tertanam di hati merencanakan hanya akan mengisi lambung pada sat berbuka.

Hadits Rasulullah

Nahnu Qaumun la Na’kulu hatta Naju’ wa idza na’kulu la nasbu’.” Demikian bunyi sebuah hadits tentang pola makan yang diajarkan Rasulullah. Arti dari Hadits tersebut kurang lebihnya adalah sebagai berikut: “Kami ada suatu Kaum yang tidak makan sebelum lapar, dan jika kami makan tidak sampai kenyang.”

Saya berpikir, pola makan yang disebutkan dalam Hadits tersebut benar-benar efektif untuk mencegah kambuhnya penyakit Maag. Konsep niat sebagaimana saya sebutkan di atas, sangat erat hubungannya dengan pola makan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw ini. Dalam hadits tersebut diterangkan bahwa umat Rasulullah Saw adalah orang-orang yang tidak makan sebelum lapar. Ini artinya, Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkan untuk berniat mempola makan teratur. Senada dengan uraian saya sebelumnya, bahwa pola makan teratur itulah yang menyebabkan Maag, yautu pada saat pola itu tidak bisa terus berjalan dengan baik.

Lihatlah mereka yang berada dalam kekurangan, mereka yang hidup dari meminta belas kasihan orang lain, mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Saya tidak pernah mendengar penyakit Maag ada di antara mereka. Hal ini karena mereka memang tidak bisa untuk berniat makan.

Aktualisasi (Tidak Penting untuk dibaca)

Cara saya memahami hadits tersebut dalam hubungannnya dengan konsep niat, telah merubah pola pikir saya dalam penerapan pola makan. Saya mencoba untuk makan hanya pada saat lapar. Dengan kata lain, saya tidak pernah lagi berniat untuk makan. Pengaruhnya lumayan besar dalam menjaga lambung saya dari kambuhnya penyakit Maag. Tetapi di sisi lain, hal ini berpengaruh pada pola kerja saya. Penerapan jam makan siang, tidak bisa ditentukan pada jam tertentu. begitu juga pada jam makan malam dan sarapan.

Oleh karena itulah, saya tidak suka bekerja dengan aturan waktu yang menharuskan saya mempola hidup saya. Kebebasan adalah cara terbaik dalam pola kerja saya. Bukan semata dipengaruhi oleh bawaan penyakit Maag yang telah saya derita sejak lama, tetapi juga dipengaruhi bawaan pribadi dan obsesi untuk bekerja dengan cara saya. 😀 😀 😀

EPISTEMOLOGI PHENOMENOLOGIK


EPISTEMOLOGI PHENOMENOLOGIK

oleh

Khairil Yulian dan Ahmad Effendy

Pendahuluan

Sejak era Renaissance hingga memasuki abad ke 20 M. alam pikiran di eropa  barat ditandai oleh kemunculannya berbagai aliran filsafat yang tidak mudah dipertemukan. Pertemuan tersebut menghasilkan pertentangan, sehingga filsafat justru mengaburkan adanya landasan yang pasti sebagai titik pijak untuk mengembangkan pemikiran sebagai proses penalaran yang sistematis dan konsisten.[1]

Dalam era renaissance tersebut merupakan masa jaynya rasionalisme. Pada masa itu pula di Prancis masanya kebebasan berkembangdengan bermunculannya golongan yang tersebut kaum philosophes.[2] Pada tempat yang sama (Prancis) muncul tokoh penting yang tidak sepaham dengan rasionalisme, ia adalah Hendri Bergson (1859-1941); bahwa rasionalisme selalu berlaku tidak cukup untuk memahami semua gejala dalam kenyataan; tidak kalah pentingnya ialah peran intuisi. Sebagai daya manusia untuk memahami dan menafsirkan kenyataan.[3]

Epistemologi berarti berbicara tentang “bagaimana cara kita memperoleh ilmu pengetahuan?”. Dalam memperoleh pengetahuan inilah akan ada sarana dipergunakan seperti akal, akal budi, pengalaman atau kombinasi antara akal dan pengalaman institusi, sehingga dikenal adanya model-model epistemologik rasionalisme, empisisme, kritisisme atau rasionalisme kritis, positivisme dan phenomenologik dengan berbagai variasinya.[4]

Dalam makalah ini kami penulis akan membahas salah satu cara yang ditempuh akal manusia untuk mencapai kebenaran ilmu, yaitu epistemologi phenomenologi.

Phenomenologi berasal dari kata fenomenon dan logos. Fenomenon secara asal kata  berarti fantasi, fentom, jostor, foto yang sama artinya sinar, cahaya. Dari asal kata itu dibentuk sesuatu kata kerja yang antara lain berarti nampak, terllihat karena cahaya, bersianr. Dari itu fenomenon berarti sesuatu yang nampak, yang terlihat karena bercahaya dalam bahasa kita “gejala” logos dari bahasa Yunani berarti ucapan, pembicaraan, pikiran, akal budi, kata, arti, studi tentang, pertimbangan tentang ilmu pengetahuan, tentang dasar pemikiran, tentang suatu hal.[5]

Kata “Fenomenologi” berasal dari bahasa Yunani fenomenon yaitu sesuatu yang nampak atau disebut “gejala” menurut para pengikut filsafat fenomenologi, “fenomenon” adalah “apa yang menampakkkan diri dalam diri sendiri” suatu fenomenon itu tidak perlu harus dapat dipahami dengan indera, sebab fenomenon dapat juga dilihat atau ditilik secara rohani tanpa mlewati indera.[6]

Dan sejak Edmund Husserl (1859-1938) sebagai tokoh phenomenologi, arti fenomenologi telah menjadi filsafat dan menjadi metodologi berpikir, fenomenologi bukan sekedar pengalaman langsung yang tidak mengimplisitkan penafsiran dan klasifikasi.[7]

Dari beberapa pengertian di atas tentang fenomenologi, maka dapat dipahami bahwa fenomenologi berarti ilmu tentang fenomenon-fenomenon atau apa saja yang nampak. Sebuah pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita.

Tokoh dan Pokok-Pokok Pikirannya

  1. Edmund Husserl (1859-1938)
    Husserl lahir di Prosswitz (Moravia), ia seorang Yahudi filosof Jerman pendiri fenomenologi. Di uneversitas ia belajar ilmu alam, ilmu falak, matematika dan filsafat, mula-mula di Leipzig, kemudian juga di Berlin dan Wina. Disana ia tertarik pada filsafat Franz Brentano.[8]
    Jika kita ingin mengerti arti fenomenologi sebagai suatu sikap filsafat, kita harus mengetahui lebih dulu apa yang dimaksud oleh pendirinya Edmund Husserl. Menurutnya fenomenologi itu merupakan metode dan ajaran filsafat. Sebagai metode ia membentangkan langkah-langkah yang harus diambil sehingga kita sampai pada fenomeno yang murni, kita harus mulai dengan subjek (manusia) serta kesadarannya dan berusaha untuk kembali kepada “kesadaran yang murni”.
    Sebagai filsafat, fenomenologi menurut Husserl memberi pengetahuan yang perlu dan essensial tentang apa yang ada. Dalam langkah-langkah penyelidikannya, ia menemukan obyek-obyek (yang tak terbatas banyaknya) yang membentuk dunia yang kita alami. Benda itu dapat dilukiskan menurut  kesadaran dimana ia temukan. Dengan begitu fenomenologi dijelaskan sebagai kembali kepada benda, sebagai lawan dari ilusi atau sasaran pikiran, justru karena benda adalah obyek kesadaran yang langsung dalam bentuk yang murni.[9]
    Filsafat Husserl memang mengelami perkembangan yang agak lama. Pada mulanya ia berfilsafat tentang ilmu pasti, tetapi kemudian sampai jugalah ia pada renungan tentang filsafat umumnya serta dasar-dasarnya sekali. Seperti dulu descartes ia berpendapat bahwa adanya bermacam-macam aliran dalam filsafat yang satu sama lain bertentangan itu, karena orang tidak mulai dengan metode dan dasar permulaan yang dipertanggungjawabkan. Maka dari itu haruslah dicari satu metode yang memungkinkan kita berpikir, tanpa mendasarkan pikiran itu kepada suatu pendapat lebih dulu.biasanya orang berpikir setelah mempunyai suatu teori atau pemikiran sendiri. Itu tidak benar, demikian Hesserl, orang harus memulai dengan mengamat-amati hal sendiri tanpa dasar suatupun: Zun den Sachen Selbest. Ia memerlukan analisa kesadaran. Maka analisa ini menunjukkan kepada kita, bahwa kesadaran itu selalu terarah kepada obyek. Oleh karena yang diselidiki itu susunan kesadaran itu sendiri, maka haruslah nampak obyek dalam kesadaran (gejala fenomenon), maka gejala itu diselidiki pula. Sunggug tidaknya obyek tidaklah masuk dalam penyelidikan. Yang harus dicari sekarang ialah sungguh-sungguh merupakan intisarinya. Adapun yang diluar intisari itu tidak dihiraukan. Tetapi bukanlah cara abstraksi seperti ajaran Tomisme melainkan inti itu tercapai instisi: inti itu terpandang oleh budi.
    Demikian terdapat inti susunan kesadaran, akan tetapi hal ini lain dari kesadaran empiri : inti itu terpandang oleh budi.
    Pengaruh Husserl amat besar, pula dalam aliran-aliran lain. Ada yang mempergunakan meode ini untuk segala ilmu atau cabang filsafat, misalnya S. Strasser dalam antrofologi. E de Bruyne dalam etika serta Langeveld dalam pedagogiknya.[10]
  2. Max Scheler
    Disamping Husserl adalah filosof fenomenologi, yaitu Max Scheler (1874-1928). Bagi Scheler, metode fenomenologi sama dengan satu cara tertentu untuk memandang realitas. Fenomenologi lebih merupakan sikap bahan suatu prosedur khusus yang diikuti oleh pemikiran (diskusi, Induksi, Observasi dll). Dalam hubungan ini kita mengadakan hubungan langsung dengan realitas berdasarkan instuisi (pengalaman fenomenologi).
    Menurut Scheler ada tiga jenis fakta yang memegang peranan penting dalam pengalaman fenomenologis, yaitu (1) fakta natural, (2) fakta ilmiah, dan (3) fakta fenomenologis. Fakta natural berasal dari pengalaman inderawi dan menyangkut benda-benda yang nampak dalam pengalaman biasa. Fakta ilmiah mulai melepas diri dari penerapan inderawi yang langsung dan semakin abstrak. Fakta fenomenologis merupakan isi “intuitif” yang merupakan hakikat dari penglaman langsung, tidak terikat kepada ada tidaknya realisasi di luar.[11]
  3. Maurice Merlean-ponty (1908-1961)
    Sebagaimana halnya Husserl, ia yakin seorang filosof benar-benar harus memulai kegiatannya dengan meneliti pengalaman. Pengalamannya sendiri tentang realitas, dengan begitu ia menjauhkan diri dari dua ekstrim yaitu : Pertama hanya meneliti atau mengulangi penelitian tentang apa yang telah dikatakan orang tentang realita, dan Kedua hanya memperhatikan segi-segi luar dari penglaman tanpa menyebut-nyebut realitas sama sekali.
    Walaupun Marlean-Ponty setuju dengan Husserl bahwa kitalah yang dapat mengetahui dengan sesuatu dan kita hanya dapat mengetahui benda-benda yang dapat dicapai oleh kesadaran manusia, namun ia mengatakan lebih jauh lagi, yakni bahwa semua pengalaman perseptual membawa syarat yang essensial tentang sesuatu alam di atas kesadaran. Oleh karena itu deskripsi fenomenologi yang dilakukan Marlean-Ponty tidak hanya berurusan dengan data rasa atau essensi saja, akan tetapi menurutnya, kita melakukan perjumpaan perseptual dengan alam. Marlean-Porty menegaskan sangat perlunya persepsi untuk mencapai yang real.

Dasar-dasar Filsafat Epistemologi Fenomenologi

  1. Pendekatan filsafatnya berpusat pada analisis terhadap gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita. Analisis menunjukkan bahwa kesadaran itu sungguh-sungguh selalu terarah kepada obyek.
  2. Orang harus berpikir, dengan memulai dengan mengamati hal sendiri, tanpa dasar apapun. Memulai kegiatannya dengan meneliti penglaman-pengalamannya sendiri tentang realita dan menjauhkan diri dari meneliti dan mengulangi (teori orang lain).
  3. Fenomenologi keberan dibuktikan berdasarkan ditemukannya yang essensial.[12]
  4. Fenomenologi menerima kebenaran di luar empirik indrawi. Oleh sebab itu mereka menerima kebenaran sensual, kebenaran logik, ethik dan transedental.[13]
  5. Fenomena baru dapat dinyatakan benar setelah diuji korespondensinya dengan yang dipercayainya.
  6. Fenomenologi lebih merupakan sikap bukan suatu prosedur khusus yang diikuti pemikirannya (diskusi, induksi, observsi dll). Dalam hubungan ini hubungan langsung dengan realitas berdasarkan intuisi.

Kesimpulan

Epistemologi fenomenologi diperkanalkan oleh Husserl dengan kajian berpusat pada analisis terhadap gejala yang nampak dalam kesadaran manusia. Untuk malahirkan suatu teori orang jangan berpedoman pada teori orang lain (bukan menguji teori yang ada) tapi mengamati tanpa dasar apapun. Dalam pemikiran fenomenologi orang mengamati terkait langsung dengan perhatiannya, dan juga terkait pada konsep-konsep yang telah dimilikinya sendiri (sangat relatif). Kebenaran logik, ethik dan transendental (kebenaran di luar empirik inderawi) diterima oleh fenomenologi. Metode ini banyak mempengaruhi segala cabang ilmu filsafat.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Munin al-Hifni, al-Mausu’ah al-Falsafiyah, beirUt Libanon, Dar Ibn Zaidun, tt. Cet. ke I

Burhanuddin Salam, Logika Materiil (Filsafat Ilmu Pengetahuan), Jakarta, Renika Cipta

Dirjarkara, Percikan Filssafat, Jakarta PT. Pembangunan, tahun 1978.

Fuad Hasan, Pengantar Filsafat Barat, Jakarta, Pustaka Jaya, tahun 1996, cet. ke I

Hasan Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius, tahun 1993, cet. ke 9

Kamrani Buseri, Diktat Filsafat Ilmu, Pada Mata Kuliah Filsafat Ilmu, Program Pascasarjana Iain Antasari Banjarmasin tahun 2002.

Koento Wibisono Siswoniharjo, Ilmu Pengantar Sebuah Sketsa Umum Untuk Mengenal Kalahiran dan Perkembangan Sebagai Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu Dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu, Filsafat Ilmu, Yogyakarta, Leberty, tahun 1996.

Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta, Reka Sarasin, tahun 1998.

Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, Jakarta, Pt, Pembangunan, tahun 1974.

Titus, Living Issnes In Philosophy (Persoalan-Persoalan Filsafat), alih bahasa oleh DR. H. M. Rasyidi, Jakarta, Bulan Bintang, tahun 1984.

END NOTE


[1]Fuad Hasan, Pengantar Filsafat Barat, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1996), cet. ke I, h. 102

[2]Kaum philosophes adalah kaum yang bukan dari para filosof atau akademis, melainkan para penulis yang sangat mendambakan terjadinya perubahan tatanan kemasyarakatan dan kenegaraan, di antara mereka terdapat seniman, sastrawan, wartawan, ilmuan, dan lain-lain. Ibid., h. 84.

[3]Ibid., h. 99.

[4]Koento Wibisono Siswoniharjo, Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umam Untuk Mengenal Kelahiran dan Perkembangan: Sebuah Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty, 1996), h. 12

[5]Dirjakara, Percikan Filsafat, (Jakarta: Pembangunan, 1978), h. 177.

[6]Haruh Hadi Wijoyo, Sari Sejarah Barat 2, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), Cet. 9., h. 140.

[7]Noeng Muhajirin, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998), h. 81.

[8]Abdul Mun’in Hifni, Al-Mausu’ah al-Falsafiyah, (Beirut: Libanon, Dar Ibn Zaitun, t.th), Cet. I, h. 509.

[9]Titus, Living Issnes in Philosophy, terj.: Dr. H. M. Rasyidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 401.

[10]Poedjawijatna, Pembimbing ke arah Alam Filsafat, (Jakarta: Pembangunan, 1974), h. 134.

[11]Burhanuddin Salam, Logika Material: Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), h. 206.

[12]Noeng Muhadjir, Op.Cit., h. 10.

[13]Kamrani Buseri, Diktat Filsafat Ilmu, (Banjarmasin: IAIN Antasari Banjarmasin, t.th.), h. 21.

30 Rahasia Wanita yang Harus Pria Ketahui

Memahami Essensi Hari Valentine Dalam Tinjauan Sejarah


Berbagai asumsi terhadap perayaan hari Valentine sebagai simbol hari kasih sayang memang banyak dimuntahkan oleh berbagai kalangan. Ada yang menerima keberadaan hari Valentine sebagai simbol perayaan hari kasih sayang tahunan, ada pula yang menolaknya. Dalam posting ini saya tidak mempermasalahkan tentang pertentangan pendapat tersebut. Di sini saya hanya memaparkan sejarah hari Valentine tersebut.

Sedikit Deskripsi tentang hari Valentine

Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day), pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-muasalnya yang tidak begitu jelas, ada yg menyebutkan Valentine sebagai sebuah hari raya Katolik Roma sebagaimana didiskusikan di artikel Santo Valentinus. Hari raya ini tidak mungkin diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir Abad Pertengahan ketika konsep-konsep seperti ini diciptakan.

Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran item dan catatan dalam bentuk “valentines”. Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan catatan pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.

Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah hubungan serius. Sebenarnya valentine itu Merupakan hari Percintaan, bukan hanya kepada Pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal Percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta.

Di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik “Happy Valentine’s”, yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka, ataupun, teman pria kepada teman prianya dan teman wanita kepada teman wanitanya.

Sejarah Hari Valentine

Perayaan Keseburan Bulan Pebruari

Asosiasi pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulu kala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus menyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.

Hari Raya Gereja

Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), nama Valentinus sekurang-kurangnya merujuk pada tiga martir atau Santo (orang suci) yang berbeda:

  • Seorang pastur di Roma
  • Seorang uskup Interamna (modern Terni)
  • Seorang martir di provinsi Romawi Africa

Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus di Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St.Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyu dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Valentinius

Guru ilmu Gnostisisme yang memiliki pengaruh Valentinius, adalah seorang calon uskup Roma pada tahun 143. Dalam ajarannya, tempat tidur pelaminan memiliki tempat yang utama dalam versi Cinta Kasih Kristianinya. Penekanannya ini jauh berbeda dengan konsep dalam agama Kristen yang umum. Stephan A. Hoeller, seorang pakar, menyatakan pendapatnya tentang Valentinius mengenai hal ini: “Selain sakramen permandian, penguatan, ekaristi, imamat dan perminyakan, aliran gnosis Valentinius juga secara prominen menekankan dua sakramen agung dan misterius yang dipanggil “penebusan dosa” (apolytrosis) dan “tempat pelaminan”.

Era abad pertengahan

Catatan pertama yang hubungkan hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa

For this was sent on Seynt Valentyne’s day
When every foul cometh there to choose his mate
Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus
Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya

Pada zaman itu, bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka suatu icon Valentine. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:

  • Sore hari sebelum Santo Valentinus gugur sebagai martir (orang suci dalam ajaran Katolik), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis, “dari Valentinusmu“.
  • Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.

Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan kegugurannya sebagai martir.

Hari Valentine pada era modern

Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary”.)

_____________________

Santo Valentine

Link: Anda bisa merefensikan data tentang Valentine disini

Related Link:

Siddhartha Gautama (Sang Budha)
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd
Rasyid Ridha
Ibnu Sina
Kisah-Kisah para Nabi

%d blogger menyukai ini: