Category Archives: Pendidikan

Pengantar Risalah Siswa Quantum


Logoالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَ المُرْسَلِيْنَ

سَيِّدِنَا محمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. عَمَّا بَعْدُ

Segala puji bagi Allah, Tuhan yang telah memberikan manusia kemauan dan kemampuan untuk berpikir, sehingga kita bisa menjadi khalifah di muka bumi. Shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw yang telah diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.

Buku berjudul Risalah Siswa Quantum ini merupakan buku panduan kegiatan siswa peserta kegiatan Bimbingan Belajar di Quantum Islamic Education (QIE) Cabang Ratu Zaleha. Dengan buku ini diharapkan siswa dapat mengikuti setiap kegiatan di Lembaga Bimbingan Belajar Berbasis Karakter dan Spiritual ini secara maksimal.

Konsep penataan materi dalam buku ini disusun sesuai dengan proses umum kegiatan yang dilaksanakan di Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE), disertai dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits sebagai asas rujukan untuk bimbingan karakter dan spiritual yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE).

Buku ini juga disertai dengan materi Bimbingan Karakter (Adab sopan santun dalam kehidupan sehari-hari) serta Laporan Perkembangan Prestasi Siswa, agar orang tua siswa bisa melihat perkembangan kemampuan anak mereka selama mengikuti kegiatan di Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE), baik dalam kemampuan akademis maupun dalam hal perubahan tingkah laku (karakter) anak.

Ucapan terima kasih yang tak terhingga, saya ucapkan kepada:

  1. Kepala Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE), Ustadz Sugeng Waluyo, S.Pd. yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengelola dan mengembangkan cabang Ratu Zaleha.
  2. Staf Pendidikan dan Pengajaran QIE Cabang Ratu Zaleha, Ustadzah Maslimah, S.Pd. dan Staf Administrasi, Ustadzah Kurnia, yang telah menemani saya merintis QIE Cabang Ratu Zaleha.
  3. Seluruh Staf Pengajar dan Karyawan yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan visi dan Misi Quantum Islamic Education.
  4. Semua pihak yang telah memberikan dukungan atas berjalannya kegiatan Bimbingan Belajar berbasis karakter dan spiritual di Quantum Islamic Education (QIE) Cabang Ratu Zaleha.

Semoga limpahan rahmat dari Allah selalu tercurah semua yang telah diberikan untuk pengembangan Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education Cabang Ratu Zaleha.

Harapan saya, semoga Dakwah Islamiyah melalui kegiatan Bimbingan Belajar yang dilaksanakan oleh Quantum Islamic Education (QIE) ini dapat terus berjalan dan berkembang seiring dengan terus berkembangnya ajaran Islam.

Penulis,

Khairil Yulian

Risalah Siswa Quantum Islamic Education


BAB I

SALAM

A. Ucapan Salam dan Jawabannya

– Ucapan Salam

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ

Assalamu ’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Artinya: “Semoga keselamatan, rahmat (kasih sayang)

dan berkah Allah selalu menyertai kalian”

– Menjawab Salam

وَ عَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Wa alaikumus-salam wa rahmatullahi wa barakatuh

Artinya: “Semoga keselamatan, rahmat (kasih sayang) dan

berkah Allah juga selalu menyertai kalian”

B. Mengucapkan Salam Jika Bertemu

Siswa Quantum harus membiasakan mengucapkan salam jika bertemu, baik dengan Ustadz atau Ustadzah, dengan orang tua, maupun dengan teman. Kebiasaan mengucapkan salam juga harus dilakukan saat akan keluar rumah atau sebelum masuk rumah. Siswa Quantum juga harus membiasakan mengucapkan salam saat akan masuk kelas, atau saat akan pulang. Anak Quantum adalah anak saleh yang selalu mengucapkan salam saat bertemu dengan siapapun, kapanpun dan di manapun.

C. Dalil Tentang Mengucapkan Salam

 

خَمْسٌ تَجِبُ لِلْمُسْلِمِ عَلَى أَخِيهِ رَدُّ السَّلَامِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ

Khamsun yajibu lilmuslimi ‘ala akhihi, raddus-salami wa tasymitul-‘athisi wa ijabatud-da’wati wa ‘iyadatul-maridhi wats-tsiba’ul-jana’izi

Artinya:  “Kewajiban seorang muslim atas saudaranya ada lima perkara, yaitu: (1) menjawab salam, (2) mendoakan orang yang bersin, (3) memenuhi undangan, (4) mengunjungi orang sakit, dan (5) ikut mengantar jenazah.” (HR. Muslim)

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Ali bin Abi Thalib k.w. tidak pernah memberi salam setiap bertemu dengan Umar bin Khattab r.a. Sehingga Umar bin Khattab terpaksa mengucapkan salam lebih dulu. Padahal Alilah yang seharusnya mengucapkan salam lebih dulu, karena Ali bin Abi Thalib k.w berusia jauh lebih muda daripada Umar bin Khattab. Keadaan ini dilaporkan Umar bin Khattab r.a. kepada Rasulullah Saw.

“Ya, Rasulallah, Ali bin Abi Thalib tidak pernah memberi salam kepadaku…” Demikian pengaduan Umar bin Khattab kepada Rasulullah Saw.

Atas pengaduan tersebut, Ali bin Abi Thalib k.w. pun akhirnya dipanggil menghadap Rasulullah Saw untuk dipertanyakan perihal yang diadukan oleh Umar bin Khattab. Rasulullah lalu menanyakan hal itu kepada Ali bin Abi Thalib.

 “Benarkah demikian, Wahai Ali?”

“Benar, ya Rasullallah..!!” Ali bin Abi Thalib membenarkan pengaduan Umar bin Khatab itu.

“Mengapa kau lakukan itu, Wahai Ali?” Tanya Rasulullah Saw.

 “Ya, Rasulullah!”, Jawab Ali “Engkau pernah bersabda, barangsiapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan mendirikan istana baginya di Surga”.

“Benar!” Jawab Rasulullah Saw.

“Aku sayang pada Umar bin Khattab, dan aku ingin Umar bin Khattablah yang akan mendapatkan istana di Surga itu”.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ (رواه أحمد)

Qala Rasulullah Saw, ifsyus-salama bainakum

Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: Sebarkanlah salam di antara kalian.” (H.R. Ahmad)


Kembali ke BAB SALAM

BAB II

BELAJAR

 

A. Semangat Quantum

– Ustadz/Ustadzah        :  Apa khabar siswa Quantum hari ini?

– Siswa Quantum           :

Alhamdulillah…!!

Luar Biasa…!!

Tetap Semangat…!!

Berprestasi…!!

Berakhlak Mulia…!!

Nilai 100…!!

Allahu Akbar..!  Allahu Akbar..!  Allahu Akbar..!

B. Basmalah dan Doa Sebelum Belajar

بِسْمِ اللهِ الرّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Bismillahir-rahmanir-rahim

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا{ وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا{ وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَّ رَسُوْلًا{ رَبّىِ زِدْنِى عِلْمًا{ وَارْزُقْنِى فَهْمًا{ رَبِّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى{ وَ يَسِّرْ لِى أَمْرِى{ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِى{ يَفْقَهُوْا قَوْلِى{ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ{

Radhitu billahi rabba. wa bil-islami dina. wa bi muhammadin nabiyyaw-wa rasula. Rabbi zidni ‘ilma. warzuqni fahma. Rabbisyrah li shadri. wa yassir li amri. wahlul ‘uqdatam-mil-lisani. yafqahu qauli. Wal-hamdu lillahi rabbil-‘alamin.

Artinya:   “Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul. Ya Allah, tambahkan ilmuku dan berikan aku kepahaman. Ya Allah, lapangkan dadaku, mudahkan urusanku, dan lepaskan kekakuan dari lidahku agar mereka mengerti perkataanku. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

C. Dalil Tentang Ilmu

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَتٍ وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya:   “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang menuntut ilmu. Dan Allah mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Man slaka thariqan yaltamisu fihi ‘ilman sahhalallahu lahu bihi thariqan ilal-jannah

Artinya:   “Barangsiapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (رواه بيهقي)

Qala Rasulullah SAW, thalabul-‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim

Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang Islam.” (H.R.Baihaqi)

D. Doa Setelah Belajar

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ. (3x) سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَŒ أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْكَŽ بِسمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ وَلاَ حَولَ وَلا قُوَّةَ إلاَّ باللهِ العَلِيُّ الْعَظِيْمُ سُبْحانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ‘ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ’ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”

Astagfirullahal-azhim (3x) Subhanakallahumma wa bihamdika. Asyhadu alla ilaha illa anta. astagfiruka wa atubu ilaik. Bismillahi tawakkaltu ‘alallah. wa la haila wa la quwwata illa billahil’aliyyil-azhim. Subhanalladzi sakkara lana hadza wa ma kunna lahu muqranin. Wa inna ila rabbana lamuňqalibun. rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar. Alhamdu lillahi rabbil-‘alamin.

Artinya:   “Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung. Maha suci Engkau ya Allah, segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau, dan aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu. Dengan menyebut nama Allah aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan upaya kecuali milik Allah yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

E. Dalil Tentang Doa

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِي إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya:   “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka  hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”(QS. Al-Baqarah: 186)

Kembali ke BAB SALAM
Kembali ke BAB BELAJAR

BAB III

WUDHU

A. Niat Wudhu

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الأَصْغَرِ فَرْضًا للهِ تَعَالَى

 Nawaitul-wudhu’a li raf’il-hadatsil asgari fardhal- lillahi ta’ala

Artinya: “Aku berniat melakukan wudhu untuk mengangkat hadats kecil karena Allah Ta’ala”

B. Tata Cara Wudhu

  1. Membasuh kedua telapak tangan hingga pergelangan tangan, lalu Berkumur-kumur (3x), dan menghisap air ke lubang hidung (3x)
  2. Membasuh muka (batas yang wajib dibasuh ialah dari tempat tumbuh rambut kepala sebelah atas hingga kedua tulang dagu sebelah bawah dan antara telinga kiri dan kanan tidak boleh ketinggalan sedikitpun bahkan wajib dilebihkan sedikit agar kita yakin sudah terbasuh semuanya) (3x)
  3. Membasuh tangan kanan dan kiri hingga siku (3x)
  4. Membasuh sebagian rambut/kulit kepala (disunahkan membasuh seluruh rambut) (3x)
  5. Membasuh telinga kanan dan kiri (3x)
  6. Membasuh kaki kanan dan kiri hingga mata kaki (3x)

C. Wudhu Rasulullah Saw

Dari Humran (bekas budak Utsman), bahwa Usman bin Affan r.a. meminta air wudhu’. (Setelah dibawakan), ia berwudhu. Ia mencuci kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidungnya, kemudian mencuci wajahnya tiga kali, lalu membasuh tangan kanannya sampai siku tiga kali, kemudian membasuh tangannya yang kiri tiga kali seperti itu juga, kemudian mengusap kepalanya lalu membasuh kakinya yang kanan sampai kedua mata kakinya tiga kali kemudian membasuh yang kiri seperti itu juga. Kemudian mengatakan, “Saya melihat Rasulullah saw. (biasa) berwudhu seperti wudhuku ini”.

Usman bin Affan r.a meriwayatkan:

إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لاَ يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ فَيُصَلِّى صَلاَةً إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاَةِ الَّتِى تَلِيهَا

Artinya:   “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim berwudhu dan membaguskan wudhunya kemudian mengerjakan sholat, melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya sejak saat itu sampai sholat yang berikutnya.” (HR.Muslim)

D. Doa Setelah Wudhu

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ{وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَه{ وَأَشْهَدُأَنَّ محمدًاعَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ{اللّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِيْنَ{ وَاجْعَلْنِى مِنَ المُتَطَهِّرِيْنَ{وَاجْعَلْنِى مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ{

Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahummaj’alni minat-tawwabina waj’alni minal-mutathahirin waj’alni min ‘ibadikash-shalihin

Artinya:   “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Ya Allah jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang bertobat, jadikan aku termasuk golongan orang yang suci, dan jadikan aku termasuk ke dalam golongan orang-orang yang shaleh.”

E. Dalil Tentang Wudhu

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى المَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Artinya:   “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ الْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

Artinya:   “Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan sampai selesai atau menyempurnakan wudhu kemudian membaca doa: “Asyhadu alla ilaha illallah wa anna Muhammadan ‘abdullahi wa rasuluh” (Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya), melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga yang dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki.” (HR.Muslim)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ (رواه مسلم)

Artinya:   “Barang siapa yang berwudhu kemudian ia membaguskan (menyempurnakan) wudhunya. maka dosa-dosanya akan keluar dari jasadnya sampai ujung kuku-kukunya”

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ (رواه مسلم)

Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: Kebersihan itu sebagian daripada iman.” (H.R. Muslim) 


Kembali ke BAB SALAM
Kembali ke BAB BELAJAR
Kembali ke BAB WUDHU

BAB IV

ADZAN DAN IQAMAH

A. Lafazh Adzan

ðاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ(2x)

Allahu Akbar allahu akbar  (2x)

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

ðأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ(2x)

Asyhadu alla ilaha illallah   (2x)

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah

ðأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ(2x)

Asyhadu anna Muhammadar-rasulullah   (2x)

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah

ðحَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ(2x)

Hayya ‘alash-shalah   (2x)

Mari kita shalat

ðحَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ(2x)

Hayya ‘alal-falah   (2x)

Mari kita menuju kemenangan

ðاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ

Allahu akbar allahu akbar

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

ðلَا إِلهَ إِلَّا اللهُ

la ilaha illallah

Tiada Tuhan selain Allah

B. Doa Setelah Adzan

اللَّهُمَّ رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةِ  وَالشَّرَفَ وَ الدَّرَجَةَ الْعَالِيَّةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا الَّذِى وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيْعَادِ

Allahumma rabba hadzihid-da’watit-tammah. Wash-shalatil-qa’imah. Ati sayyidana Muhammadanil-wasilata wal-fadhilah. Wasy-syarafa wad-darajatal-‘aliyyatar-rafi’ah. wab’atshu maqamam-mahmudanil-ladzi wa ‘adtah. innaka la tukhliful-mi’ad.

Artinya:   “Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan. Karuniakanlah kepada junjungan kami Nabi Muhammad wasilah, keutamaan, kemuliaan, dan derajat yang tinggi. Dan angkatlah ia ke tempat yang terpuji sebagaimana telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau ya Allah, Dzat yang tidak akan mengubah janji.”

C. Lafazh Iqamah

ðاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ

Allahu Akbar allahu akbar

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

ðأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ

Asyhadu alla ilaha illallah

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah

ðأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

Asyhadu anna Muhammadar-rasulullah

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah

ðحَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ

Hayya ‘alash-shalah

Mari kita shalat

ðحَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

Hayya ‘alal-falah

Mari kita menuju kemenangan

ðقَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ(2x)

Qad qamatish-shalah

Shalat telah didirikan

ðاَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ

 Allahu akbar allahu akbar

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

ðلَا إِلهَ إِلَّا اللهُ

la ilaha illallah

Tiada Tuhan selain Allah

D. Doa Setelah Iqamah

اللَّهُمَّ رَبَّ هٰذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِð وَالصَّلاةِ الْقَائِمَةِð صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍð وَآتِهِ سُؤْلَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِð

Allahumma rabba hadzihid-da’watit-tammah. Wash-shalatil-qa’imah. Shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammadin. wa atihi su’lahu yaumal-qiyamah

Artinya:   “Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan. Curahkanlah rahmat dan salam atas jungjunan kami Nabi Muhammad dan kabulkanlah segala permohonannya pada hari kiamat nanti.”


Kembali ke BAB SALAM
Kembali ke BAB BELAJAR
Kembali ke BAB WUDHU
Kembali ke BAB ADZAN

BAB V

SHALAT

A. Niat Shalat

أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مَأمُوْمًا للهِ تَعالىَ

Ushalli fardhash-Shubhi rak’ataini ma’muman lillahi ta’ala

Artinya: “Aku melaksanakan shalat subuh dua rekaat sebagai makmum

karena Allah yang Maha Tinggi.”

أُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَأمُوْمًا للهِ تَعالىَ

Ushalli fardhazh-zhuhri arba’a raka’atin ma’muman lillahi ta’ala

Artinya: “Aku melaksanakan shalat Zuhur empat rekaat sebagai makmum

karena Allah yang Maha Tinggi.”

أُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَأمُوْمًا للهِ تَعالىَ

Ushalli fardhal-‘ashri arba’a raka’atin ma’muman lillahi ta’ala

Artinya: “Aku melaksanakan shalat Ashr empat rekaat sebagai makmum

karena Allah yang Maha Tinggi.”

أُصَلِّى فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مَأمُوْمًا للهِ تَعالىَ

Ushalli fardhal-Maghribi tsalatsa raka’atin ma’muman lillahi ta’ala

Artinya: “Aku melaksanakan shalat maghrib tiga rekaat sebagai makmum

karena Allah yang Maha Tinggi.”

أُصَلِّى فَرْضَ الْعِشَاءِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَأمُوْمًا للهِ تَعالىَ

Ushalli fardhal-‘isya’i arba’a raka’atin ma’muman lillahi ta’ala

Artinya: “Aku melaksanakan shalat isya empat rekaat sebagai makmum

karena Allah yang Maha Tinggi.”

Catatan: Ma’munan (مَأْمُوْمًا), (teks bergaris bawah) artinya sebagai makmum. Jika sebagai imam, maka diganti dengan imaman (إِمَامًا). Jika shalat sendiri diganti dengan ada’an (أَدَاءً).

B. Do’a Iftitah

اللهُ أكْبَرُ كَبِيْرًا وَّ الْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَتًا وَّ أَصِيْلًا. إِنِى وَجَّهتُ وَجْهِيَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّموَاتِ وَ الأَرْضِ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَّ مَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلَاتِى وَ نُسُقِى وَ مَحْيَايَ وَ مَمَاتِ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لَا شَرِيْكَ لَه وَ بِذَالِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

Allahu akbar kabiraw-wal-hamdu lillahi katsiraw-wa subhanallahi bukrataw-wa ashila. Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fataras-samawati wal-ardhi hanifam-muslimaw-wa ma ana minal-musyrikin. Innash-shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil-‘alamin. La syarika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal-muslimin.

Artinya:   “Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah dengan banyaknya. Maha suci Allah sepanjang pagi dan petang. Aku hadapkan wajahku bagi Tuhan yang mencipta langit dan bumi, dengan keadaan suci lagi berserah diri. dan aku bukanlah dari golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya semata-mata bagi Allah, Tuhan Semesta alam. Tidak ada sekutu baginya, demikian aku diperintahkan, dan aku adalah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berserah diri.”

C. Bacaan Ruku’

سُبْهَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ وَ بِحَمْدِه

Subhana rabbiyal azhimi wa bihamdih

Artinya: “Maha suci Tuhanku yang Maha Mulia dan segala puji bagi-Nya”.

D. Bacaan I’tidal

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

Rabbana lakal-hamdu

Artinya: “Ya Tuhan kami, bagimu lah segala puji”

E. Bacaan Sujud

سُبْهَانَ رَبِّىَ الأَعْلى وَ بِحَمْدِه

Subhana rabbiyal a’la wa bihamdih

Artinya: “Maha suci Tuhanku yang Maha tinggi dan segala puji bagi-Nya”.

F. Bacaan Duduk Antara Dua Sujud

رَبِّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَاجْبُرْنِى وَارْفَعْنِى وَارْزُقْنِى وَاهْدِنِى وَعَافِنِى وَاعْفُ عَنِّى

Rabbighfir li warhamni wazburni warfa’ni warzuqni wahdini wa ‘afini wa’fu ‘anni

Artinya: “Ya Allah, ampuni dosaku, rahmatilah aku, perbaikilah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rizki, berilah aku petunjuk, ampuni dan maafkan aku.”

G. Bacaan Tahiyat Awal

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ. السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ. السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Attahiyyatul-mubarakatush-shalawatuth-thayyibatu lillah. Assalamu ’alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh. Assalamu ‘alaina wa ‘ala ibadillahish-shalihin. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar-rasulullah. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad.

Artinya:   “Segala penghormatan yang berkat, shalat yang baik adalah untuk Allah. Sejahtera atas engkau wahai Nabi dan rahmat Allah serta keberkatannya. Sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah. Ya Allah, curahkan shalawat ke atas Nabi Muhammad.”

G. Bacaan Tahiyat Akhir

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ. السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ. السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد وعلى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد كَمَا صَلَّبْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.

Attahiyyatul mubarakatush shalawatuth thayyibatu lillah. Assalamu ’alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh. Assalamu ‘alaina wa ‘ala ibadillahish-shalihin. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar-rasulullah. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala sayyidina Muhammadin kama shallayta ‘ala sayyidina ibrahima wa ‘ala ali sayyidina ibrahima, wa barik ‘ala sayyidina Muhammadiw-wa ‘ala ali sayyidina Muhammadin kama barakta ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahima, fil-‘alamina innaka hamidum’majid.

Artinya:   “Segala penghormatan yang berkat, dan shalat yang baik adalah untuk Allah. Sejahtera atas engkau wahai Nabi dan rahmat Allah serta keberkatannya. Sejahtera ke atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah. Ya Allah, curahkan shalawat ke atas Nabi Muhammad dan ke atas keluarganya. Sebagaimana atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim. Berkatilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau berkati ke atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim. Di dalam alam ini, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.”

H. Dalil Tentang Shalat

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ الصَّلَاةُ (رواه أحمد)

Qala Rasulullah SAW, miftahul-jannahish-shalah

Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: kunci surga adalah sholat.” (H.R. Ahmad)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: Jika kamu mendengar panggilan adzan maka penuhilah panggilan Allah itu”. (segera kerjakan shalat). (Muttafaqun ‘Alaih)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً (رواه مسلم)

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Shalat berjamaah lebih utama dua puluh derajat daripada shalat sendiri”. (H.R.Muslim)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ (رواه الطبراني)

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya hal yang pertama kali di hisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya dan apabila shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya”.

Kembali ke BAB SALAM
Kembali ke BAB BELAJAR
Kembali ke BAB WUDHU
Kembali ke BAB ADZAN
Kembali ke BAB SHALAT

BAB VI

WIRID DAN DOA SETELAH SHALAT

A. Wirid              

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ. اَلَّذِى لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ القَيُّومُ وَ أَتُوْبُ إِلَيْه

لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه. لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْيِ وَ يُمِيْتُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ َوإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلَامُ. تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَا اَلْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

(اَلْفَاتِحَةُ) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمِ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لَا الضّآلِّيْنِ.

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَّ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيمُ . اللهُ لَآ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ. لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَّلاَ نَوْمٌ. لَه مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ. مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ. يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ. وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ الْعَظِيْمُ

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ إِلَهَنَا يَارَبَّنَا أَنْتَ مَوْلَانَا

سُبْحَانَ اللهِ (33x)

سُبْحَانَ اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَ بِحَمْدِه دَائِمًا

الْحَمْدُ لِلَّهِ (33x)

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَ فِى كُلِّ حَالٍ وَ نِعْمَةٍ

اَللهُ اَكْبَرُ (33x)

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا ، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً. لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ. لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَلاَ حَولَ وَلا قُوَّةَ إلاَّ باللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Dibaca Imam sebelum membaca Doa

اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا محمَّدٍ فِى الأَوَّلِيْنَ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا محمَّدٍ فِى الآخِرِيْنَ. وَسَلَّمَ وَ رَضِيَ اللهُ تَبَرَكَ وَ تَعَلَى عَنْ سَادَاتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.

 

B. Doa-Doa Setelah Shalat

Pembuka Doa

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا محمَّدٍ وَعَلى آلِ سَيِّدِنَا محمَّدٍ

Doa Mohon ampunan atas kedua orang tua dan seluruh umat muslim

اَللّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَ وَارْحَمْ هُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا. وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Doa Salamat

اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ سَلَامَةً فِى الدِّيْنِ. وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ. وَزِيَدَةً فِى الْعِلْمِ. وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ. وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ. وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ. وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اللّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِى سَكَرَاتِ الْمَوْتِ. وَالنَّجَاةً مِّنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْهَدَيْتَنَا وَ هَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

Doa Mohon Kemudahan Hidup

اللّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ. وَ نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ. وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ. وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Doa Mohon Kebaikan Dunia Akhirat

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Doa mohon dikabulkan doa

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Penutup Doa

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


Kembali ke BAB SALAM
Kembali ke BAB BELAJAR
Kembali ke BAB WUDHU
Kembali ke BAB ADZAN
Kembali ke BAB SHALAT
Kembali ke BAB WIRID

BAB VII

DOA HARIAN DAN ADAB MULIA

A. Doa Bangun Tidur

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Alhamdulillahil-ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilayhin-nusyur

Artinya:   “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit”

B. Doa Masuk Kamar Mandi/WC

اَللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

Allahumma inni a’udzubika minal-khubutsi wal-khaba’its

Artinya:   “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan syetan laki-laki dan syetan perempuan”. 

C. Doa Keluar Kamar Mandi/WC

غُفْرَانَكَ اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ اَذْهَبَ عَنِّى اْلاَذٰى وَعَافَانِيْ وَاَبْقَى مَايَنْفَعُنِىْ

Gufranakal-hamdu lillahil-ladzi adzhaba ‘annil-ada wa ‘afani wa abqa wa ma yanfa’uni

Artinya:   “Dengan mengharap ampunan-Mu, segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran dari badanku, yang telah menyelamatkan aku dan yang telah mensisakan yang bermanfaat bagiku”.

D. Doa Bercermin

اَللَّهُـمَّ كَمَا حَسَّـنْتَ خَلْقِـيْ فَحَسِّـنْ خُلُقِـيْ

Allahumma kama hassanta khalqi fahassin khulqi

Artinya:   “Ya Allah sebagaimana Engkau telah ciptakan aku dengan baik, maka perbaikilah akhlakku”

E. Doa Masuk Mesjid

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Allahummaftah li abwaba rahmatika

Artinya: “Ya Allah bukalah bagiku pintu-pintu rahmatmu”.

F. Doa Keluar Mesjid

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

Allahumma inni as’aluka min fadhlika

Artinya:   “Ya Alloh, Aku mohon keutamaan dariMu”.

G. Doa Qunut

أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَó وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَó وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَó وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَó وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَó فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضٰى عَلَيْكَó وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَó وَلاَيَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَó تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَó فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَاقَضَيْتَó أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَó وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدِنِ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Artinya:   “Ya Allah tunjukkan aku sebagaimana mereka yang telah Engkau tunjukkan, Berikan kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang telah Engkau berikan kesehatan, Dan peliharalah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau peliharakan, Berilah keberkatan bagiku pada apa-apa yang telah Engkau kurniakan, Dan selamatkan aku dari bahaya yang telah Engkau tentukan, Maka sesungguhnya, Engkaulah yang menghukum dan bukannya yang kena hukum, Dan sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin, Dan tidak mulia orang yang Engkau musuhi, Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi,Maka bagi Engkaulah segala pujian di atas apa yang Engkau hukumkan,Aku memohon ampun dari-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu,Dan semoga Allah mencurahkan rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya.“

H. Doa Sebelum Makan

الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Allahumma barik lana fima razaqtana wa qina ‘adzaban-nar

Artinya:   “Ya Allah, berkatilah rezeki yang engkau berikan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa api neraka”.

– Hadits Tentang Adab Makan

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: لاَ يَشْرَبَنَّ أَحَدُكُمْ قَائِمًا (رواه مسلم)

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: “janganlah sekali-kali salah seorang diantara kalian minum sambil berdiri.”

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Wahai anak, bacalah basmalah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa-apa (makanan) yang dekat denganmu.” (Muttafaqun “alaih)

 

– Lupa Membaca Doa Sebelum Makan

بِسْمِ الله أوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Bismillahi awwalahu wa akhirahu

Artinya:   “Dengan menyebut asma’ Alloh pada permulaan dan akhiran”.

J. Doa Setelah Makan

الْحَمْـدُ للهِ الَّذي أَطْعَمَنـاَ وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِينَ

Alhamdulillahi-ladzi ath’amana wa saqana wa ja’alana muslimin

Artinya:   “Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan dan minum serta menjadikan kami memeluk agama islam”

K. Doa Shalat Dhuha

 اَللّهُمَّ اِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاءُكَóوَالْبَهَاءَ بَهَائُكَóوَالْجَمَالَ جَمَالُكَóوَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَóوَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَóوَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَóاَللّهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَاءِ فَاَنْزِلْهُóوَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَاَخْرِجْهُóوَاِنْ كَانَ مُعَسِّرًا فَيَسِّرْهُóوَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُóوَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُóبِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَóآتِنِى مَااَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Artinya:   “Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu,  dan keagungan adalah keagungan-MU, dan keindahan adalah keindahan-MU, dan kekuatan adalah kekuatan-MU, dan kekuasaan adalah kekuasaan-MU, dan perlindungan adalah perlindungan-MU, Ya Allah, jika rizkiku ada di atas langit, maka turunkanlah, jika ada di dalam bumi, maka keluarkanlah, jika masih sukar, maka mudahkanlah, jika (ternyata) haram, maka sucikanlah, jika jauh, maka dekatkanlah, dengan berkat waktu dhuha-MU, keagungan-MU, keindahan-MU, kekuatan-MU dan kekuasaan-MU, limpahkanlah kepadaku segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-MU yang shaleh”

L. Do’a Bepergian Dengan Kendaraan    

بِسْمِ اللهِ. الْحَمْدُ للهِ سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

Bismillah. Alhamdu lillah. Subhanal-ladzi sakh-khara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin. Wa inna ila Rabbana lamunqalibun.

Artinya:   “Dengan nama Allah segala puji bagi Allah Maha Suci Tuhan yg menundukkan kendaraan ini untuk kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami {di hari Kiamat}.”

M. Doa Masuk Rumah

بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا. وَعَلَى اللهِ رَبَّنَا تَوَكَّلْنَا

Bismillahi walajna wa bismillahi kharajna. Wa ‘alallahi rabbana tawakkalna

Artinya:   “Dengan menyebut nama Allah (pula) kami keluar darinya. Kepada Allah-lah kami berserah diri sepenuhnya”

N. Doa Sebelum Tidur  

بِاسْمِكَ اللّهُمَّ أَحْيَاوَأَمُوتُ

Bismikallahumma ahya wa amut

Artinya:   “Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan mati”.

O. Doa Shalat Tahajud

اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اَللّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ. فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ إِلٰهِيْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ

Artinya:   “Ya, Allah! Bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu kerajaan langit dan bumi serta seisi-nya. Bagi-Mu segala puji, Engkau benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, bertemu dengan-Mu benar, Surga adalah benar (ada), Neraka adalah benar (ada), (terutusnya) para nabi adalah benar, (terutusnya) Muhammad adalah benar (dari-Mu), peristiwa hari kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mu aku pasrah, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku kembali (bertaubat), dengan pertolongan-Mu aku berdebat (kepada orang-orang kafir), kepada-Mu (dan dengan ajaran-Mu) aku menjatuhkan hukum. Oleh karena itu, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang. Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau

P. Doa Shalat Witir

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا دَائِمًا. وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا. وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا. وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا. وَنَسْأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا. وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا. وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ. وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ. وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ. وَنَسْأَلُكَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا. وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللَّهُ. يَا اَللَّهُ يَا اَللَّهُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Artinya: “Ya Allah, ya Tuhan kami, kami memohon kepada-Mu (mohon diberi) iman yang lenggeng, dan kami mohon kepada-Mu hati kami yang khusyu’, dan kami mohon kepada-Mu diberi ilmu yang bermanfaat, dan kami mohon ditetapkannya keyakinan yang benar, dan kami mohon (dapat melaksanakan) amal yang shalih dan mohon tetap dalam agama islam, dan kami mohon diberinya kebaikan yang melimpah-limpah, dan kami mohon memperoleh ampunan dan kesehatan, dan kami mohon kesehatan yang sempurna, dan kami mohon mensyukuri atas kesehatan kami, dan kami mohon kecukupan. Ya Allah ya Tuhan kami, terimalah shalat kami, puasa kami, rukuk kami, dan khusyu’ kami, dan pengabdian kami, dan sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama shalat, ya Allah, yaAllah, ya Allah Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang, semoga Allah memberi kesejahteraan atas sebaik-baik makhluk-Nya yaitu Nabi Muhammad, atas keluarga dan semua sahabatnya, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”

Kembali ke BAB SALAM
Kembali ke BAB BELAJAR
Kembali ke BAB WUDHU
Kembali ke BAB ADZAN
Kembali ke BAB SHALAT
Kembali ke BAB WIRID
Kembali ke BAB DOA HARIAN

BAB VIII

AKHLAKUL KARIMAH

A. Ucapan Mulia

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ ( متّفق عليه)

qala Rasulullah SAW, man kana yu’minu billahi wal-yawmil-akhiri fal-yaqul khairan aw liyashmuts.

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam”. (Muttafaqun ‘Alaih)

B. Akhlak Yang Mulia

Abad Terhadap Orang Tua

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ (رواه اَلتِّرْمِذِيُّ)

Qala Rasulullah SAW, ridhallahi fi ridhal-walidain, wa sukhtullahi fi sukhtil-walidain

Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: Ridho Allah tergantung pada ridho orang tua dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan orang tua”. (H.R. At Tirmidzi)

 

Adab Pergaulan

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنَهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفَهُمْ بِأَهْلِهِ (رواه أحمد)

qala Rasulullah Saw, inna man akmalil-mu’minina imanan ahsanahum khuluqan wa althafahum bi-ahlihi.

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Sebagian dari (tanda) orang yang beriman paling sempurna  adalah orang yang paling baik budi pekertinya (akhlaknya) dan paling santun terhadap keluarganya” (HR.Ahmad)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُ+وَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ  (رواه مسلم)

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa dan harta kalian tetapi Allah memandang kepada hati dan amal (perbuatan) kalian”.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَنْ لاَ يَرْحَمِ النَّاسَ لاَ يَرْحَمْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia (orang selain dirinya) niscaya Allah ‘Azza wa Jalla pun tidak menyayanginya”.

Adab Terhadap Tamu

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Artinya:   “Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir. maka hendaklah memuliakan tamunya”.

 

C. Sifat Mulia

Malu

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيْمَانِ (رواه أحمد)

Qala Rasulullah SAW, alhaya’u minal-iman.

Artinya: Rasulullah Saw. bersabda: “Malu sebagian dari iman.” (H.R. Ahmad)

Jujur

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ. إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّار ِ(رواه مسلم)

Artinya:   “Rasulullah SAW bersabda: Hendaklah kalian jujur. sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Jauhilah berdusta, sesungguhnya dusta itu membawa kepada dosa, dan sesungguhnya dosa itu membawa ke neraka. (HR. Muslim)

Sabar

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ (رواه طبراني)

Qala Rasulullah SAW, la taghdhab wa lakal-jannah

Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah kamu marah maka bagimu surga” (H.R. Thabrani)

Kembali ke BAB SALAM
Kembali ke BAB BELAJAR
Kembali ke BAB WUDHU
Kembali ke BAB ADZAN
Kembali ke BAB SHALAT
Kembali ke BAB WIRID
Kembali ke BAB DOA HARIAN
Kembali ke BAB AKHLAKUL KARIMAH

Promo Awal Tahun 2013


Promo Cabang Ratu Zaleha

Pada awal tahun 2013 ini, Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE) yang berdiri sejak tanggal 4 Juli 2011 di Jln. Harmoni 2 RT.24 No.30 Pekapuran Raya – Banjarmasin, kembali melebarkan sayap dakwahnya dengan membuka 2 cabang baru yang berlokasi di Jln. Gunung Sari Ujung RT.25 No.7 Teluk Dalam – Banjarmasin, dan di Jln. Ratu Zaleha RT.10 RW.4 No.7 Karang Mekar – Banjarmasin.

Saya kebetulan dipercaya untuk memimpin QIE Cabang Ratu Zaleha. Ini merupakan tanggung jawab besar bagi saya, karena saya harus berpikir cerdas dan kreatif untuk membangun pondasi awal Cabang QIE. Ada 2 hal yang saya prioritaskan dalam upaya membangun cabang QIE, yaitu: Performance dan Quality.

  1. Performance (Tampilan)
    Saya harus bisa menciptakan konsep cover yang menarik, sehingga orang tertarik untuk masuk dan bergabung dengan Lembaga Bimbingan Belajar QIE yang saya kelola.
  2. Quality (Mutu)
    Selain tampilan yang menarik, saya juga berharap bisa memberikan teknik bimbingan belajar yang berkualitas, sehingga orang yang masuk tidak akan merasa tertipu oleh kulitnya yang menarik.

Melalui Blog Pribadi saya ini, saya mencoba menyajikan konsep Bimbingan Belajar Berbasis Karakter dan Spiritual yang menjadi ciri khas Quantum Islamic Education (QIE) dan berharap Cabang Lembaga Bimbingan Belajar yang saya pimpin ini bisa diterima secara konsep dan mendapat dukungan dari semua pihak. 😆

Kelas dan Metode Pembelajaran

Kelas bimbingan Quantum Islamic Education (QIE) disesuaikan dengan tingkat kelas siswa di sekolahnya, sehingga materi yang akan diterima oleh siswa dalam satu kelas bimbingan akan sesuai dengan tingkat pelajaran yang diterimanya di sekolah.

Jumlah peserta bimbingan belajar dalam satu kelas, berkisar antara 10 sampai 15 orang siswa. Hal ini bertujuan agar proses kegiatan bimbingan belajar bisa lebih efektif. Dengan jumlah siswa yang tidak terlalu banyak, guru bisa memaksimalkan penyampaian materi dan kontrol terhadap aktivitas kelas, dan siswa juga diharapkan bisa menerima pelajaran dengan lebih baik.

Satu kali pertemuan dalam kegiatan bimbingan untuk pelajaran umum adalah 2 jam pelajaran atau 2x 45 menit. Integrasi bimbingan karakter dan spiritual tidak mengurangi kualitas dan kuantitas kegiatan bimbingan untuk pelajaran umum. Dengan frekuensi 3 sampai 4 kali pertemuan dalam satu minggu, diharapkan visi dan misi untuk menyelenggarakan kegiatan bimbingan belajar berbasis karakter dan spiritual yang berkualitas akan tercapai.

Tenaga pengajar dalam Kegiatan Bimbingan belajar Quantum Islamic Education adalah tutor yang memang menguasai di bidangnya dan telah dilatih dan siapkan untuk memberikan bimbingan belajar yang terintegrasi antara pelajaran umum dengan pendidikan karakter dan spiritual.

Proses bimbingan belajar di Quantum Islamic Education tidak menggunakan sistem guru kelas, melainkan guru bimbingan, artinya seorang tenaga pengajar (Tutor) hanya mengajar materi yang sesuai dengan bidang yang dikuasainya. Hal ini bertujuan agar siswa bisa lebih memahami materi pelajaran yang diberikan, karena disampaikan oleh tenaga pengajar yang berkompeten di bidangnya.

Paket Bimbingan Belajar

Untuk Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE) Cabang Ratu Zaleha, tersedia 3 (tiga) Paket Bimbingan yang masing-masing telah terintegrasi dengan bimbingan karakter dan spiritual yang merupakan visi dan misi Quantum Islamic Education. Paket-Paket Bimbingan Belajar tersebut, adalah sebagai berikut:

A. PAKET REGULER

Paket Reguler adalah Paket Bimbingan Belajar yang mencakup bimbingan untuk beberapa mata pelajaran sekaligus. Mata Pelajaran umum yang termuat dalam Paket ini antara lain: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Matematika, dan IPA.

Kelas yang ditawarkan untuk Paket Reguler ini bisa dilihat dalam tabel di bawah ini:

 No

Tingkat

Kelas

Pertemuan

Keterangan

1.

SD/MI/Sederajat

I  s/d  VI

4x  perminggu

2.

SMP/MTs/Sederajat

VII  s/d  IX

4x  perminggu

B. PAKET KHUSUS

Paket Khusus adalah Paket Bimbingan Belajar yang diberikan untuk siswa (mulai dari tingkat TK/RA (anak pra sekolah), SD/MI/sederajat, sampai siswa SMP/MTs/sederajat) yang hanya ingin mendapatkan bimbingan untuk satu mata pelajaran saja.

Kelas yang ditawarkan untuk Paket Khusus ini bisa dilihat dalam tabel di bawah ini.

No

Kelas

Tingkat

Pertemuan

Keterangan

1.

CALISTUNG (Baca, Tulis, Berhitung) TK dan SD

3x perminggu

2.

Al-Qur’an TK, SD dan SMP

3x perminggu

3.

Matematika SD dan SMP

3x perminggu

4.

Bahasa Inggris SD dan SMP

3x perminggu

5.

Bahasa Arab SD dan SMP

3x perminggu

6.

IPA SD dan SMP

3x perminggu

7.

TIK (Komputer) SD dan SMP

3x perminggu

C. PAKET PRIVATE

Paket Private adalah Paket Bimbingan Belajar yang tidak menggunakan sistem kelas, melainkan sistem satu guru untuk satu anak. Proses Kegiatan untuk Paket Private ini tidak dilaksanakan di rumah siswa, namun tetap di ruangan khusus pada Lembaga Bimbingan Belajar untuk menjaga tetap terlaksananya Visi dan Misi Quantum Islamic Education (QIE) dalam mengintegrasikan bimbingan karakter dan spiritual dalam materi bimbingan pelajaran umum.

Materi Bimbingan Belajar

Materi Bimbingan Belajar di Quantum Islamic Education (QIE) secara umum adalah mata pelajaran yang terdapat di sekolah tempat siswa menerima pendidikan formal, karena pada dasarnya kegiatan Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE) adalah untuk membantu prestasi belajar siswa di sekolah. Namun dengan konsep bimbingan belajar yang terpadu sesuai dengan Visi dan Misi Quantum Islamic Education (QIE), maka materi Bimbingan Belajar yang diberikan secara umum bisa dikelompokkan sebagai berikut:

A.      Bimbingan Akademis

Bimbingan Akademis adalah bimbingan belajar untuk mata pelajaran yang diberikan di sekolah. Bimbingan akademis ini diberikan sesuai dengan tingkat pendidikan siswa di sekolahnya.

B.      Bimbingan Karakter

Bimbingan karakter adalah bimbingan untuk membentuk anak yang memiliki akhlak yang mulia, berkepribadian yang islami, serta memahami secara mendalam tentang tata sopan santun dalam bertingkah laku di dalam kehidupan sehari-hari.

C.      Bimbingan Do’a Harian

Peserta Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE) juga akan dibimbing dalam pembiasaan membaca do’a dalam setiap aktivitas kesehariannya. Metode menghafal yang efektif dan pembiasaan akan sangat mendukung proses bimbingan ini.

D.      Bimbingan Al-Qur’an dan Hadits

Konsep bimbingan belajar berasaskan Islam yang dilaksanakan oleh Quantum Islamic Education (QIE) menjadikannya tidak bisa lepas dengan pengintegrasikan Bimbingan Al-Qur’an dan Hadits sebagai asas ajaran Islam

E.       Bimbingan Ibadah/Fiqh

Permasalah ibadah juga tidak bisa dilepaskan dengan Visi dan Misi membentuk anak yang berkarakter dan berwawasan spiritual, oleh sebab itu bimbingan ibadah ini juga diitegrasikan dalam kegiatan bimbingan belajar di Quantum Islamic Education (QIE)

F.       Bimbingan Kemandirian

Bimbingan kemandirian adalah bentuk bimbingan lain yang juga diberikan di Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE). Bentuk bimbingan ini bersifat ekstakurekuler yang diformulasi dalam kegiatan “Malam Bina Iman dan Takwa” (MABIT) yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan.

Pendaftaran Siswa Baru 

A. TEMPAT DAN WAKTU PENDAFTARAN

Registrasi (pendaftaran) siswa baru Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE) cabang Ratu Zaleha bisa dilakukan di Kantor QIE Cabang Ratu Zaleha yang beralamat di Jln. Ratu Zaleha RT.10 RW.4 No.7 Karang Mekar, Banjarmasin. Pendaftaran siswa baru bisa dilakukan setiap hari kerja, dari jam 08.00 – 18.00 Wita.

B. PERSYARATAN

➡ Mengisi Formulir Pendaftaran (disediakan di tempat pendaftaran)

➡  Menyerahkan Pasphoto 3 x 4 (2 lembar)

➡  Membayar uang Registrasi (pendaftaran) dan Iuran Bulanan (SPP)

C. TEKNIK DAN BIAYA PENDAFTARAN

Dalam proses registrasi (pendaftaran) siswa baru, Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE) cabang Ratu Zaleha memberikan beberapa teknis registrasi, yaitu sebagai berikut:

1.       Registrasi Normal

Biaya registrasi (pendaftaran) siswa baru Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education (QIE) adalah Rp.50.000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah).

2.       Registrasi Siswa Berprestasi

Biaya registrasi untuk siswa yang berprestasi di sekolahnya adalah Rp.25.000,- (Dua Puluh Lima Ribu Rupiah). Persyaratan tambahan: menyertakan photokopi hasil belajar (Raport).

3.       Registrasi Berantai (Sponsorship)

Registrasi Berantai, yaitu mengajak teman untuk mendaftar. Dengan mengajak 2 orang teman, maka uang registrasi siswa yang bersangkutan akan dikembalikan.

4.       Registrasi Bersaudara

Registrasi untuk siswa yang bersaudara, hanya dihitung untuk registrasi satu siswa saja.

5.       Registrasi Bersama

Registrasi Bersama adalah registrasi yang dilakukan oleh beberapa orang siswa sekaligus, dengan ketentuan sebagai berikut:

No

Registrasi Bersama

Biaya Registrasi

Keterangan

1

5 orang siswa

Rp.30.000,-

Per siswa

2

10 orang siswa

Rp.20.000,-

Per siswa

3

15 orang siswa

Rp.10.000,-

Per siswa

BIAYA REGISTRASI DAN IURAN BULANAN

 

NO

PAKET

REGISTRASI (Rp)

IURAN BULANAN (Rp)

1 Bulan

3 Bulan

6 Bulan

1 Tahun

1.

Paket Reguler
a- SD/MI/Sederajat

50.000

100.000 250.000 475.000 900.000
b- SMP/MTs/Sederajat

50.000

150.000 400.000 700.000 1.200.000

2.

Paket Khusus
a- Kelas Calistung

50.000

100.000 250.000 475.000 900.000
b- Kelas Matemetika

50.000

150.000 400.000 700.000 1.200.000
c- Kelas Bahasa Inggris

50.000

150.000 400.000 700.000 1.200.000
d- Kelas Al-Qur’an

50.000

150.000 400.000 700.000 1.200.000
e- Kelas IPA

50.000

150.000 400.000 700.000 1.200.000
f. kelas TIK (Komputer)

50.000

150.000 400.000 700.000 1.200.000

3.

PAKET Private

50.000

35.000/pertemuan

1. Registrasi

Pembayaran uang registrasi (pendaftaran) hanya dilakukan pada awal mengikuti kegiatan bimbingan belajar di Quantum Islamic Education.

2. Iuran Bulanan/SPP

Jumlah biaya iuran bulanan berbeda-beda untuk masing-masing paket bimbingan. Iuran bulanan bisa dibayarkan perbulan, per 3 bulan, per 6 bulan, atau per tahun.

➡ BERSAUDARA

Bagi peserta Bimbingan Belajar yang bersaudara (memiliki saudara yang juga peserta Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education), maka iuran bulanan/SPP untuk masing-masing anak akan dipotong Rp.25.000,- (Dua Puluh Lima Ribu Rupiah)

➡  BERPRESTASI

Bagi peserta Bimbingan Belajar yang berprestasi di sekolah, maka untuk iuran bulanan/SPP dipotong Rp.25.000,- (Dua Puluh Lima Ribu Rupiah) dari biaya normal.*)

➡   BEASISWA

Bagi siswa yang kurang mampu, Lembaga Bimbingan Belajar Quantum Islamic Education memberikan keringanan biaya SPP/iuran Bulanan sebesar 50% dari biaya normal. Persyaratan tambahan untuk mendapatkan paket beasiswa ini adalah dengan menyertakan Surat Keterangan kurang mampu dari Ketua RT/Kelurahan setempat pada saat pendaftaran.

Bagaimana Agar Mengajar menjadi menyenangkan


Bagi kamu yang berstatus sebagai tenaga pengajar, baik Dosen, Guru, maupun Instruktur, kamu tentu pernah mengalami suasana mengajar yang tidak menyenangkan. Berbagai alternatif metode mungkin telah kamu coba untuk membuat suasana mengajar menjadi menyenangkan, tetapi tetap saja tidak kamu temukan situasi menyenangkan yang kamu inginkan.

Tips berikut mungkin akan dapat membantu kamu untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dalam mengajar.

  1. Pahami Dirimu..!!
    Sebagai seorang yang berstatus tenaga pengajar, tentunya kamu juga pernah menyandang status sebagai pelajar. Kamu pasti pernah menyukai profil seorang guru/dosen yang pernah mengajarmu. sebaliknya, kamu juga mungkin pernah mendapati guru/dosen yang tidak kamu sukai. Sekarang keadaannya adalah kamu berada pada posisi tenaga pengajar. Pahami Dirimu..!! Seperti apa dirimu di mata anak didikmu? Apakah seperti guru/dosen yg kamu sukai, atau seperti guru/dosen yang tidak kamu sukai?
  2. Benahi Dirimu..!!
    Jika suatu mata pelajaran tidak kamu sukai, maka kamu tidak akan menemukan kesenangan dalam mengajar. Pelajaran tertentu tidak kamu sukai, pada umumnya disebabkan kamu memang tidak menguasai pelajaran tersebut. Oleh karena itu, Benahi dirimu..!! Perluas wawasan dan pengetahuanmu tentang materi pelajaran yang kamu ajarkan.
  3. Yakinkan dirimu..!!
    Salah satu hal terpenting yang harus ada saat mengajar adalah semangat. Seorang guru/dosen tidak akan bisa mengharapkan semangat belajar pada anak didiknya, jika dia sendiri tidak menunjukkan semangat itu pada anak didiknya. Oleh karena itu, Yakinkan dirimu..!! Tunjukkan bahwa kamu memiliki kompetensi di bidangmu! Tunjukkan antusiasmu dalam mengajar! Perlihatkan semangat mengajarmu kepada mereka yang menerima pelajaran darimu!
  4. Pahami diri mereka..!!
    Seorang tenaga pengajar yang baik, adalah tenaga pengajar yang mampu mengukur dan membandingkan kemampuannya dengan anak didiknya. Kadang terjadi permasalahan, seorang tenaga pengajar yang begitu antusias dalam menyampaikan materi pelajaran, tetapi siswanya hanya terdiam bingung menerima pelajaran tersebut. Selain tingkat kemampuan intelijensi tersebut, keadaan psikologis pada peserta didik juga harus diperhatikan. Oleh karena itu, pahamilah diri mereka..!! Jangan mengharapkan peserta didik memahami kemampuan kamu, tetapi kamulah yang diharapkan mampu memahami keadaan pada peserta didikmu, baik tingkat IQ mereka, maupun keadaan psikologis yang ada pada mereka.
  5. Benahi diri mereka..!!
    Tingkat kecerdasan dan kondisi psikologis yang berbeda-beda pada masing-masing anak didik, mengharuskan seorang guru/dosen melakukan suatu strategi mengajar yang tepat, baik dalam hal pemilihan metode dan media yang sesuai dengan materi yang diajarkan, maupun dalam hal memahami keadaan peserta didik tersebut. Oleh karena itu, seorang tenaga pengajar yang baik tidak seharusnya membawa anak didik langsung masuk kepada materi yang akan diajarkan, tetapi haruslah terlebih dahulu masuk ke dalam dunia mereka, kemudian membawa mereka ke dunia yang diinginkan oleh tenaga pengajar tersebut. Benahi keadaan anak didik dari dalam diri mereka sendiri, masuki emosi mereka, buatlah anak didik mengikuti keinginan anda tanpa dipaksa, dan tumbuhkan rasa percaya diri mereka.
    Dalam hal ini, penting bagi seorang guru untuk mempelajari ilmu jiwa (Psikologi).
  6. Yakinkan diri mereka..!!
    Tenaga pengajar yang bersemangat dalam mengajar dan siswa yang bersemangat dalam belajar, pastinya akan menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan. Oleh karena itu, Yakinkan mereka..!! Berikan motivasi yang membuat peserta didik tersenyum dan antusias dalam menerima materi pelajaran yang anda berikan, dan jangan pernah tumbuhkan semangat belajar pada anak didik yang didasari oleh rasa takut, karena dibayang-bayangi oleh adanya suatu ancaman atau hukuman.

Dikutib dari berbagai sumber

Lihat artikel di FacebookClick here
  • Pahami, Benahi dan Yakinkan diri anda (Guru)…!!
  • Pahami benahi, dan Yakinkan diri mereka (Murid)…!!

Program Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah di Kalimantan Selatan


Pada dasarnya, aku bukan orang yang bergelut dengan kegiatan-kegiatan sosial, apalagi yang berhubungan dengan pengembangan usaha kecil dan menengah di Kalimantan Selatan. Aku juga bukan pejabat Dinas Sosial yang memang seharusnya memikirkan bagaimana mengembangkan usaha kecil dan menengah dalam meningkatkan tarap hidup masyarakat kecil yang merupakan bagian dari Bangsa ini.

Ide Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah di Kalimantan Selatan ini lahir dari pentingnya iklan dan promosi usaha dalam meningkatkan penghasilan dari usaha kecil dan menengah. Karena pada umumnya, kalahnya pengusaha berskala menengah ke bawah bersaing dengan pengusaha besar, salah satunya disebabkan oleh kalahnya mereka dalam kegiatan promosi dan pemasaran.

Pemikiran tentang pentingnya iklan dan promosi usaha bagi para pemilik usaha kecil dan menengah tersebut, melahirkan satu ide untuk memulai bisnis iklan dan promosi usaha yang berorientasi pada pengusaha kecil dan menengah tersebut, yaitu dengan menyediakan sebuah wadah untuk mereka mempromosikan usahanya melalui media yang bergengsi dengan anggaran yang ditekan seminimal mungkin.

Media iklan dan promosi yang saya kembangkan untuk membantu pengusaha kecil dan menengah di Kalimantan Selatan dalam mengembangkan usahanya adalah berbentuk media internet, yaitu dengan membuat satu situs yang khusus mempromosikan usaha-usaha berskala kecil dan menengah yang ada di Kalimantan Selatan. Nama situs internet yang ku kembangkan adalah Pasar Banua yang mengemban misi sebagai Media Pemasaran Kalimantan Selatan.

Kendala yang sering dihadapi dalam pelaksanaannya, antara lain pemahaman yang kurang baik dari para pemilik usaha kecil dan menengah tentang dunia iklan dan promosi di internet. Sehingga, setiap kali melakukan penawaran, maka tenaga marketing di lapangan juga harus terus memberikan penjelasan panjang lebar tentang internet dan teknis pemasangan iklan di internet serta keuntungannya. Kurangnya pemahaman para pengusaha kecil dan menengah tentang iklan dan promosi usaha secara online di internet ini, juga mengharuskan tenaga marketing di lapangan menguasai lebih dalam tentang internet dan teknis serta keuntungan dari pemasangan iklan di internet.

Pengelolaan website Pasar Banua ini, di satu sisi merupakan sebuah bisnis, tetapi di sisi lain, tersimpan satu harapan akan menjadikan website Pasar Banua ini sebagai barometer usaha di Kalimantan Selatan. Harapan tersebut mungkin tidak akan mudah terwujud, jika semata dilaksanakan dengan pola kerja bisnis berbasis iklan. Oleh sebab itu, dukungan dari berbagai pihak seperti pemerintah daerah dan dinas-dinas terkait akan sangat membantu terlaksananya program pengembangan usaha kecil dan menengah di Kalimantan Selatan yang mendasari bisnis iklan dan promosi usaha yang ku jalankan ini.

Hakekat dan Landasan Kependidikan Islam


Hakekat dan Landasan Kependidikan Islam

Oleh:

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr Al-Shiddiq

Pendahuluan

Sejarah pendidikan Islam pada hakekatnya tidak bisa dilepaskan dari sejarah Islam. Perinciannya dapat dibagi menjadi 5 masa, yaitu:

  1. Masa hidup Nabi Muhammad Saw (571-632 M)
  2. Masa khalifah yang empat (Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali di Madinah (632-661 M)
  3. Masa Kekuasaan Umawiyah di Damsyik (661-750 M)
  4. Masa Kekuasaan Abbasiyah di Baghdad (750-1250 M)
  5. Masa dari jatuhnya kekuasaan khalifah di Baghdad tahun 1250 M sampai sekarang.[1]

Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar.[2] Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat.[3]

Pendidikan bukan semata-mata sebagai sarana untuk persiapan kehidupan yang akan datang, tetapi untuk kehidupan anak sekarang yang sedang mengalami perkembangan menuju ke tingkat kedewasaannya.[4] Dewasa ialah dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri baik secara biologis, psikologis, pedagogis dan sosiologis.[5] Dalam makalah ini penulis akan mencoba menguraikan hal-hal yang merupakan hakekat dan landasan dari kependidikan Islam.

Hakekat Kependidikan Islam

Kependidikan Islam dan pendidikan Islam dalam bahasa Inggris sering diterjemahkan dengan kata yang sama, yaitu Education. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Drs. M. Noor Syam dalam bukunya Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan yang menyebutkan dasar-dasar kependidikan sama artinya dengan dasar-dasar pendidikan. Dalam pengertian lain, dasar-dasar kependidikan hanya merupakan uraian tentang teori-teori pendidikan yang bersifat mendasar, atau bisa dikatakan hanya sebagai pengantar dasar-dasar ilmu pendidikan.[6]

Dengan demikian, dalam mengkaji hakekatnya kependidikan Islam, hal utama yang perlu dilakukan adalah mengetahui hal-hal yang berkenaan dengan pendidikan itu sendiri secara teoritis, yang menyangkut definisi pendidikan, tujuan pendidikan dan komponen-komponen lain yang terkait dengan kependidikan Islam.

  1. Definisi Pendidikan Islam
    Pendidikan secara etimologis, menurut para ahli merupakan kata yang dimodifikasi dari kata bahasa Yunani, yaitu Paedagogie yang berarti “Pendidikan”.[7] Sementara menurut tinjauan terminologis, pendidikan oleh para pakar sering didefinisikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.[8]
    Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu pada term al-Tarbiyah, al-Ta’lim dan al-Ta’dib.[9] Dari ketika term tersebut yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah term al-Tarbiyah.[10]
    Kata al-Tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu: Pertama, rabba-yarbu yang berarti tertambah, tumbuh dan berkembang. Rabiya-yarba berarti menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun dan memelihara.[11]
    Pendidikan dalam konteks Islam ini, banyak kalangan pakar memberikan definisi. Seperti yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas bahwa
    Pendidikan Islam ialah usaha yang dilakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan.[12]
    Pendapat senada dengan yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas tersebut juga dikemukakan oleh beberapa pakar pendidikan lainnya, seperti Drs. Ahmad D. Marimba,[13] Drs. Birlian Somad[14] dan Musthafa al-Ghulayaini.[15]
  2. Tujuan Pendidikan Islam
    Tujuan adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan suatu kegiatan. Karena itu tujuan pendidikan Islam, yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan pendidikan Islam.[16]
    Menurut Prof. Dr. M. Athiyah al-Abrasi, para ahli pendidikan telah sepakat bahwa tujuan pendidikan Islam bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui. Tujuan pokok dan terutama dari Pendidikan Islam ialah mendidik anak budi pekerti dan pendidikan jiwa.[17]
    Prof. H. M. Arifin, M.Ed., membedakan tujuan teoritis dengan tujuan dalam proses. Tujuan teoritis terdiri dari berbagai tingkat antara  lain: tujuan intermedier, tujuan akhir dan tujuan insidental.[18] Sementara M. Arifin menyebutkan bahwa dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
    1. Tujuan dan tugas manusia di muka bumi, baik secara vertikal maupun horizontal.
    2. Sifat-sifat dasar manusia.
    3. Tuntutan masyarakat dan dinamika peradaban kemanusiaan.
    4. Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam.[19]

Menurut Muhammad Athiyah al-Abrasyi, tujuan pendidikan Islam terdiri atas 5 sasaran, yaitu:

  1. Membentuk akhlak mulia
  2. Mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat
  3. Persiapan untuk mencari rizki dan memelihara segala kemanfaatannya
  4. Menumbuhkan semangat ilmiah di kalangan peserta didik.
  5. Mempersiapkan tenaga profesional yang terampil.[20]

Dengan demikian, apa yang dikemukakan oleh Omar Mohammad al-Thoumy al-Syaibaniy berikut yang menyebutkan secara ringkas bahwa tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat[21] memberikan pemahaman bahwa Pendidikan Islam selalu mempertimbangkan dua sisi kehidupan duniawi dan ukhrawi dalam setiap langkah dan geraknya.[22]

Landasan kependidikan Islam

Setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai landasan tempat berpijak yang baik dan kuat. Oleh karena itu pendidikan Islam sebagai suatu usaha membentuk manusia, harus mempunyai landasan ke mana semua kegiatan dan semua perumusan tujuan pendidikan Islam itu dihubungkan.

Dasar ilmu pendidikan Islam adalah Islam dengan segala ajarannya. Ajaran itu bersumber dari Al-Qur’an, sunnah Rasulullah Saw. dan Rakyu (hasil pemikiran manusia).[23]

Landasan Islam terdiri dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw yang dapat dikembangkan dengan ijtihad, al-Maslahah al-Mursalah, Istihsan, Qiyas dan sebagainya.[24]

  1. Al-Qur’an
    Al-Qur’an adalah kalam Allah Swt. yang diturunkan kepada Muhammad Saw dalam bahasa Arab yang terang guna menjelaskan jalan hidup yang bermaslahat bagi umat manusia di dunia dan di akhirat.[25]
    Dalam kaitan Al-Qur’an sebagai salah satu landasan kependidikan Islam, Ahmad Ibrahim Muhanna sebagaimana dikutip oleh Drs. Hery Noer Aly, MA. Dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, mengatakan sebagai berikut:
    Al-Qur’an membahas berbagai berbagai aspek kehidupan manusia, dan pendidikan merupakan tema terpenting yang dibahasnya. Setiap ayatnya merupakan bahan baku bangunan pendidikan yang dibutuhkan semua manusia. Hal itu tidak aneh mengingat Al-Qur’an merupakan kitab hidayah; dan seseorang memperoleh hidayah tidak lain karena pendidikan yang benar serta ketaatannya. Meskipun demikian, hubungan ayat-ayatnya dengan pendidikan tidak semuanya sama. Ada yang merupakan bagian fondasionaldan ada yang merupakan bagian parsial. Dengan perkataan lain, hubungannya dengan pendidikan ada yang langsung dan ada yang tidak langsung.[26]
  2. As-Sunnah
    As-Sunnah ialah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rasul Allah Swt. Yang dimaksud dengan pengakuan itu adalah kejaidian atau perbuatan orang lain yang diketahui oleh Rasulullah Saw dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan.[27]
    Dalam lapangan pendidikan, sebagaimana dikemukakan oleh Abdurrahman An-Nahlawi dalam bukunya Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Sunnah mempunyai dua faedah, yaitu:
    1. Menjelaskan sistem pendidikan Islam sebagaimana terdapat di dalam Al-Qur’an dan menerangkan hal-hal yang rinci yang tidak terdapat di dalamnya.
    2. Menggariskan metode-metode pendidikan yang dapat dipraktikkan[28]

Banyak tindakan mendidik yang telah dicontohkan Rasulullah dalam pergaulan bersama para sahabatnya. Muhammad Quthb menerangkan bahwa pribadi Rasulullah Saw sendiri  merupakan contoh hidup serta bukti kongkrit sistem dan hasil pendidikan Islam.[29]

Di samping kedua landasan konstitusinal normatif tersebut, ijtihad (ra’yu) juga dijadikan landasan kependidikan Islam. Soerjono Soekanto menegaskan bahwa masyarakat selalu mengalami perubahan, baik mengenai nilai-nilai sosial, kaidah-kaidah sosial, pola-pola tingkah laku, organisasi, susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan, kekuasaan dan wewenang, maupun interaksi sosial dan lain sebagainya.[30] Ijtihad adalah istilah para fuqaha, yaitu berpikir dengan menggunakan seluruh ilmuyang dimiliki oleh ilmuan syariat Islam untuk menetapkan/ menentukan sesuatu hukum syariat Islam dalam hal-hal yang ternyata belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan, tetapi tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah.[31]

Ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang diolah oleh akal yang sehat dari para ahli pendidikan Islam. Ijtihad tersebut haruslah dalam hal-hal yang berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup di suatu tempat pada kondisi dan situasi tertentu. Teori-teori pendidikan baru dari hasil ijtihad harus dikaitkan dengan ajaran Islam dan kebutuhan hidup.[32]

Kesimpulan

Dari uraian sekilas tentang hakikat dan landasan kependidikan Islam yang telah penulis kemukakan di atas, dapat penulis ambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Hakekat kependidikan Islam adalah menciptakan pribadi muslim yang sempurna dan kesejahteraan dunia dan akhirat.
  2. Landasan kependidikan Islam adalah Al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad (ra’yu).

——————————–cut here——————————–

Daftar Pustaka

Abrasi, M. Athiyah al-, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1970

Abrasyi, Muhammad Athiyah al-, Dasar-Dasar Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Ghani dan Djohar Bahry, Jakarta, Bulan Bintang, 1984

Aly, Abdullah, dan H. Djamaluddin Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandung, Pustaka Setia, 1999, Cet. II

Aly, Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1999, Cet. I

Arifin, M., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1991

Attas, Syekh Muhammad al-Naquib al-, Konsep pendidikan Dalam Islam, Jakarta, Mizan, 1984

Daradjat, Zakiah, et.al., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1996, Cet. III

Ghulayaini, Musthafa al-, Idhah al-Nashihin, Beirut, Dar al-Fikr, 1984, h. 189.

Hasbullah, Ali, Ushul al-Tasyri al-Islam, Kairo, Dar al-Ma’arif, 1971

Heriawan, Adang, et.al., Mengenal manusia dan Pendidikan, Yogyakarta, Liberty, 1988, Cet. I

Ihsan, H. Fuad, Dasar-Dasar Kependidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 1997, Cet. I.

Marimba, Ahmad D., Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Alma’arif, 1989

Musra, Muhammad Munir, Al-Tarbiyah al-Islamiyah, Ushuluha wa Tathawuruha fi al-Bilad al-Arabiyah, t.tp., A’lam al-Kutub, 1977

Nahlawi, Abdurrahman an-, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Bandung, CV. Diponegoro, 1992

Nahlawi, Abdurrahman an-, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah, Beirut, Dar al-Fikr, 1989

Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta, Bulan Bintang, 1975

Purwanto, M. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1995, Cet. VIII

Qurthubiy, Ibnu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansyary al-, Tafsir al-Qurthubiy, Kairo, Dar al-Syabiy, t.th, Juz. I.

Quthb, Muhammad, Sistem Pendidikan Islam, terj. Salman Harun, Bandung, Alma’arif, 1984.

Soekanto, Soerjono, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Jakarta, Rajawali Pers, 1988

Somad, Birlian, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, Bandung, Alma’arif, 1981.

Syah, Muhibbin, M.Ed., Psikologi Belajar, Jakarta, Logos, 1999, Cet. I,

Syaibaniy, Omar Mohammad al-Thoumy al-, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1979.

Syalabi, Ahmad, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, Kairo, al-Kasyaf, 1954.

Syam, M. Noor, et.al., Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, Surabaya, Usaha Nasional, 1981

END NOTE:


[1]Dr. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h. 11.

[2]Muhibbin Syah, M.Ed., Psikologi Belajar, (Jakarta: Logos, 1999), Cet. I, h. 55.

[3]Drs. H. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Cet. I,    h. 1-2.

[4]Ibid., h. 5.

[5]Biologis: apabila seseorang telah dapat menurunkan keturunan (akil balig), Psikologis: apabila fungsi-fungsi kejiwaan seseorang telah matang, Pedagogis: apabila telah menyadari dan mengenal diri sendiri atas tanggung jawab sendiri, Sosiologis: apabila seseorang telah memenuhi syarat untuk hidup bersama yang telah ditentukan masyrakat. Ibid., h. 6.

[6]Sesungguhnya yang dimaksud dengan dasar-dasar kependidikan ialah uraian ringkas asas-asas atau pengantar kependidikan. Dasar-dasar kependidikan sama artinya dengan dasar-dasar pendidikan. Karena itu dapat pula diartikan sebagai pengantar pendidikan atau pengantar dasar-dasar ilmu pendidikan. Ini didasarkan pada pendekatan yang lebih mendasar dan praktis. Artinya, uraian tentang teori pendidikan secara teoritis hanya bersifat mendasar, sekedar memberikan wawasan tentang arti (pengertian, definisi), ruang lingkup, fungsi, tujuan dan sistematika atau komponen-komponen pendidikan lain, di samping juga menyangkut aspek-aspek yang antar-hubungannya dapat berpengaruh dengan fungsi pendidikan seperti: masyarakat, negara, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta nilai-nilai yang berlaku di dalamnya.           M. Noor Syam, et.al., Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1981), h. 1.

[7]Paedagogie berarti “pendidikan” sedangkan paedagoiek artinya “ilmu pendidikan”. H. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Cet. I, h. 1; Paedagogos ialah seorang atau budak pada zaman Yunani kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Juga dirumahnya, anak-anak tersebut selalu dalam pengawasan para Paedagogos. Jadi nyatalah bahwa pendidikan anak pada zaman Yunani kuno sebagian besar diserahkan kepada Paedagogos itu. Lihat: M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), Cet. VIII, h. 3.

[8]Drs. H. Fuad Ihsan, Op.Cit., h. 1-2; Pendidikan merupakan kegiatan dimanis dalam setiap individu yang mempengaruhi perkembangan fisik, mental, emosi sosial dan etikanya, dengan perkataan lain pendidikan merupakan suatu kegiatan yang dinamis yang mempengaruhi setiap aspek kepribadian dan kehidupan individu. Lihat: Drs. Adang Heriawan, et.al., Mengenal manusia dan Pendidikan, (Yogyakarta: Liberty, 1988), Cet. I, h. 2.

[9]Lihat: Muhammad Munir Musra, Al-Tarbiyah al-Islamiyah: Ushuluha wa Tathawuruha fi al-Bilad al-Arabiyah, (t.tp.: A’lam al-Kutub, 1977), h. 17.

[10]Istilah al-Ta’dib dan al-Ta’lim jarang sekali digunakan. Padahal kedua istilah tersebut telah digunakan pada awal pertumbuhan pendidikan Islam. Ahmad Syalabi, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Kairo: al-Kasyaf, 1954), h. 213.

[11]Abdurrahman an-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Diponegoro, 1992), h. 31; Al-Tarbiyah berasal dari kata rabb. kata ini memiliki banyak makna, tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestarian dan eksistensinya. Lihat: Ibnu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansyary al-Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, (Kairo: Dar al-Syabiy, t.th), Juz. I, h. 120.

[12]Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas, Konsep pendidikan Dalam Islam, (Jakarta: Mizan, 1984), h. 10.

[13]Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani  berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Drs. Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Alma’arif, 1989), h. 19.

[14]Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri, berkepribadian tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya adalah ajaran Allah yang tercantum dengan lengkap di dalam Al-Qur’an yang pelaksanaannya di dalam praktek hidup sehari-hari sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Birlian Somad, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, (Bandung: Alma’arif, 1981), h. 21.

[15]Pendidikan Islam adalah menanamkan akhlak mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasehat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemapuan (meresap dalam) jiwanya, kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk memanfaatkan tanah air. Musthafa al-Ghulayaini, Idhah al-Nashihin, (Beirut: Dar al-Fikr, 1984), h. 189.

[16]Drs. H. Djamaluddin dan Drs. Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. II, h. 14; Ringkasnya tujuan pendidikan Islam adalah taqarrub kepada Allah, bahagia di dunia dan akhirat. Menurut Imam Al-Ghazali, tujuan pendidikan yaitu pembentukan Insan Paripurna, baik di dunia maupun di akhirat. H. Djamaluddin dan Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. II, h. 15.

[17]M. Athiyah al-Abrasi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), h. 2.

[18]M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 38; Tujuan Intermedier, yaitu tujuan yang merupakan batas sasaran kemampuan nyang harus dicapai dalam proses pendidikan pada tingkat tertentu. Tujuan insidental, merupakan peristiwa tertentu yang tidak direncanakan, tetapi dapat dijadikan sasaran dari proses pendidikan pada tujuan intermedier. Tujuan Akhir pendidikan Islam pada hakekatnya adalah realisasi dari cita-cita ajaran Islam, yang membawa misi bagi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir dan bathin di dunia dan akhirat. Lihat: H. Djamaluddin dan Abdullah Aly, Op.Cit., (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. II, h. 17.

[19]M. Arifin, Filsafat pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), h. 120.

[20]Muhammad Athiyah al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Ghani dan Djohar Bahry, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. h. 3-4.

[21]Omar Mohammad al-Thoumy al-Syaibaniy, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 410.

[22]H. Djamaluddin dan Abdullah Aly, Op.Cit., h. 11.

[23]Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), Cet. I,    h. 30.

[24]Zakiah Daradjat, et.al., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), Cet. III, h. 19.

[25]Lihat: Ali Hasbullah, Ushul al-Tasyri al-Islam, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1971), h. 17.

[26]Hery Noer Aly, Op.Cit., h. 38-39.

[27]Zakiah Daradat, et.al., Op.Cit., h. 20.

[28]Abdurrahman an-Nahlawi, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), h. 23.

[29]Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, terj. Salman Harun, (Bandung: Alma’arif, 1984), h. 13.

[30]Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, (Jakarta: Rajawali Pers, 1988), h. 87-88.

[31]Zakiah Daradat, et.al., Op.Cit., h. 21.

[32]Ibid., h. 22.

EPISTEMOLOGI PHENOMENOLOGIK


EPISTEMOLOGI PHENOMENOLOGIK

oleh

Khairil Yulian dan Ahmad Effendy

Pendahuluan

Sejak era Renaissance hingga memasuki abad ke 20 M. alam pikiran di eropa  barat ditandai oleh kemunculannya berbagai aliran filsafat yang tidak mudah dipertemukan. Pertemuan tersebut menghasilkan pertentangan, sehingga filsafat justru mengaburkan adanya landasan yang pasti sebagai titik pijak untuk mengembangkan pemikiran sebagai proses penalaran yang sistematis dan konsisten.[1]

Dalam era renaissance tersebut merupakan masa jaynya rasionalisme. Pada masa itu pula di Prancis masanya kebebasan berkembangdengan bermunculannya golongan yang tersebut kaum philosophes.[2] Pada tempat yang sama (Prancis) muncul tokoh penting yang tidak sepaham dengan rasionalisme, ia adalah Hendri Bergson (1859-1941); bahwa rasionalisme selalu berlaku tidak cukup untuk memahami semua gejala dalam kenyataan; tidak kalah pentingnya ialah peran intuisi. Sebagai daya manusia untuk memahami dan menafsirkan kenyataan.[3]

Epistemologi berarti berbicara tentang “bagaimana cara kita memperoleh ilmu pengetahuan?”. Dalam memperoleh pengetahuan inilah akan ada sarana dipergunakan seperti akal, akal budi, pengalaman atau kombinasi antara akal dan pengalaman institusi, sehingga dikenal adanya model-model epistemologik rasionalisme, empisisme, kritisisme atau rasionalisme kritis, positivisme dan phenomenologik dengan berbagai variasinya.[4]

Dalam makalah ini kami penulis akan membahas salah satu cara yang ditempuh akal manusia untuk mencapai kebenaran ilmu, yaitu epistemologi phenomenologi.

Phenomenologi berasal dari kata fenomenon dan logos. Fenomenon secara asal kata  berarti fantasi, fentom, jostor, foto yang sama artinya sinar, cahaya. Dari asal kata itu dibentuk sesuatu kata kerja yang antara lain berarti nampak, terllihat karena cahaya, bersianr. Dari itu fenomenon berarti sesuatu yang nampak, yang terlihat karena bercahaya dalam bahasa kita “gejala” logos dari bahasa Yunani berarti ucapan, pembicaraan, pikiran, akal budi, kata, arti, studi tentang, pertimbangan tentang ilmu pengetahuan, tentang dasar pemikiran, tentang suatu hal.[5]

Kata “Fenomenologi” berasal dari bahasa Yunani fenomenon yaitu sesuatu yang nampak atau disebut “gejala” menurut para pengikut filsafat fenomenologi, “fenomenon” adalah “apa yang menampakkkan diri dalam diri sendiri” suatu fenomenon itu tidak perlu harus dapat dipahami dengan indera, sebab fenomenon dapat juga dilihat atau ditilik secara rohani tanpa mlewati indera.[6]

Dan sejak Edmund Husserl (1859-1938) sebagai tokoh phenomenologi, arti fenomenologi telah menjadi filsafat dan menjadi metodologi berpikir, fenomenologi bukan sekedar pengalaman langsung yang tidak mengimplisitkan penafsiran dan klasifikasi.[7]

Dari beberapa pengertian di atas tentang fenomenologi, maka dapat dipahami bahwa fenomenologi berarti ilmu tentang fenomenon-fenomenon atau apa saja yang nampak. Sebuah pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita.

Tokoh dan Pokok-Pokok Pikirannya

  1. Edmund Husserl (1859-1938)
    Husserl lahir di Prosswitz (Moravia), ia seorang Yahudi filosof Jerman pendiri fenomenologi. Di uneversitas ia belajar ilmu alam, ilmu falak, matematika dan filsafat, mula-mula di Leipzig, kemudian juga di Berlin dan Wina. Disana ia tertarik pada filsafat Franz Brentano.[8]
    Jika kita ingin mengerti arti fenomenologi sebagai suatu sikap filsafat, kita harus mengetahui lebih dulu apa yang dimaksud oleh pendirinya Edmund Husserl. Menurutnya fenomenologi itu merupakan metode dan ajaran filsafat. Sebagai metode ia membentangkan langkah-langkah yang harus diambil sehingga kita sampai pada fenomeno yang murni, kita harus mulai dengan subjek (manusia) serta kesadarannya dan berusaha untuk kembali kepada “kesadaran yang murni”.
    Sebagai filsafat, fenomenologi menurut Husserl memberi pengetahuan yang perlu dan essensial tentang apa yang ada. Dalam langkah-langkah penyelidikannya, ia menemukan obyek-obyek (yang tak terbatas banyaknya) yang membentuk dunia yang kita alami. Benda itu dapat dilukiskan menurut  kesadaran dimana ia temukan. Dengan begitu fenomenologi dijelaskan sebagai kembali kepada benda, sebagai lawan dari ilusi atau sasaran pikiran, justru karena benda adalah obyek kesadaran yang langsung dalam bentuk yang murni.[9]
    Filsafat Husserl memang mengelami perkembangan yang agak lama. Pada mulanya ia berfilsafat tentang ilmu pasti, tetapi kemudian sampai jugalah ia pada renungan tentang filsafat umumnya serta dasar-dasarnya sekali. Seperti dulu descartes ia berpendapat bahwa adanya bermacam-macam aliran dalam filsafat yang satu sama lain bertentangan itu, karena orang tidak mulai dengan metode dan dasar permulaan yang dipertanggungjawabkan. Maka dari itu haruslah dicari satu metode yang memungkinkan kita berpikir, tanpa mendasarkan pikiran itu kepada suatu pendapat lebih dulu.biasanya orang berpikir setelah mempunyai suatu teori atau pemikiran sendiri. Itu tidak benar, demikian Hesserl, orang harus memulai dengan mengamat-amati hal sendiri tanpa dasar suatupun: Zun den Sachen Selbest. Ia memerlukan analisa kesadaran. Maka analisa ini menunjukkan kepada kita, bahwa kesadaran itu selalu terarah kepada obyek. Oleh karena yang diselidiki itu susunan kesadaran itu sendiri, maka haruslah nampak obyek dalam kesadaran (gejala fenomenon), maka gejala itu diselidiki pula. Sunggug tidaknya obyek tidaklah masuk dalam penyelidikan. Yang harus dicari sekarang ialah sungguh-sungguh merupakan intisarinya. Adapun yang diluar intisari itu tidak dihiraukan. Tetapi bukanlah cara abstraksi seperti ajaran Tomisme melainkan inti itu tercapai instisi: inti itu terpandang oleh budi.
    Demikian terdapat inti susunan kesadaran, akan tetapi hal ini lain dari kesadaran empiri : inti itu terpandang oleh budi.
    Pengaruh Husserl amat besar, pula dalam aliran-aliran lain. Ada yang mempergunakan meode ini untuk segala ilmu atau cabang filsafat, misalnya S. Strasser dalam antrofologi. E de Bruyne dalam etika serta Langeveld dalam pedagogiknya.[10]
  2. Max Scheler
    Disamping Husserl adalah filosof fenomenologi, yaitu Max Scheler (1874-1928). Bagi Scheler, metode fenomenologi sama dengan satu cara tertentu untuk memandang realitas. Fenomenologi lebih merupakan sikap bahan suatu prosedur khusus yang diikuti oleh pemikiran (diskusi, Induksi, Observasi dll). Dalam hubungan ini kita mengadakan hubungan langsung dengan realitas berdasarkan instuisi (pengalaman fenomenologi).
    Menurut Scheler ada tiga jenis fakta yang memegang peranan penting dalam pengalaman fenomenologis, yaitu (1) fakta natural, (2) fakta ilmiah, dan (3) fakta fenomenologis. Fakta natural berasal dari pengalaman inderawi dan menyangkut benda-benda yang nampak dalam pengalaman biasa. Fakta ilmiah mulai melepas diri dari penerapan inderawi yang langsung dan semakin abstrak. Fakta fenomenologis merupakan isi “intuitif” yang merupakan hakikat dari penglaman langsung, tidak terikat kepada ada tidaknya realisasi di luar.[11]
  3. Maurice Merlean-ponty (1908-1961)
    Sebagaimana halnya Husserl, ia yakin seorang filosof benar-benar harus memulai kegiatannya dengan meneliti pengalaman. Pengalamannya sendiri tentang realitas, dengan begitu ia menjauhkan diri dari dua ekstrim yaitu : Pertama hanya meneliti atau mengulangi penelitian tentang apa yang telah dikatakan orang tentang realita, dan Kedua hanya memperhatikan segi-segi luar dari penglaman tanpa menyebut-nyebut realitas sama sekali.
    Walaupun Marlean-Ponty setuju dengan Husserl bahwa kitalah yang dapat mengetahui dengan sesuatu dan kita hanya dapat mengetahui benda-benda yang dapat dicapai oleh kesadaran manusia, namun ia mengatakan lebih jauh lagi, yakni bahwa semua pengalaman perseptual membawa syarat yang essensial tentang sesuatu alam di atas kesadaran. Oleh karena itu deskripsi fenomenologi yang dilakukan Marlean-Ponty tidak hanya berurusan dengan data rasa atau essensi saja, akan tetapi menurutnya, kita melakukan perjumpaan perseptual dengan alam. Marlean-Porty menegaskan sangat perlunya persepsi untuk mencapai yang real.

Dasar-dasar Filsafat Epistemologi Fenomenologi

  1. Pendekatan filsafatnya berpusat pada analisis terhadap gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita. Analisis menunjukkan bahwa kesadaran itu sungguh-sungguh selalu terarah kepada obyek.
  2. Orang harus berpikir, dengan memulai dengan mengamati hal sendiri, tanpa dasar apapun. Memulai kegiatannya dengan meneliti penglaman-pengalamannya sendiri tentang realita dan menjauhkan diri dari meneliti dan mengulangi (teori orang lain).
  3. Fenomenologi keberan dibuktikan berdasarkan ditemukannya yang essensial.[12]
  4. Fenomenologi menerima kebenaran di luar empirik indrawi. Oleh sebab itu mereka menerima kebenaran sensual, kebenaran logik, ethik dan transedental.[13]
  5. Fenomena baru dapat dinyatakan benar setelah diuji korespondensinya dengan yang dipercayainya.
  6. Fenomenologi lebih merupakan sikap bukan suatu prosedur khusus yang diikuti pemikirannya (diskusi, induksi, observsi dll). Dalam hubungan ini hubungan langsung dengan realitas berdasarkan intuisi.

Kesimpulan

Epistemologi fenomenologi diperkanalkan oleh Husserl dengan kajian berpusat pada analisis terhadap gejala yang nampak dalam kesadaran manusia. Untuk malahirkan suatu teori orang jangan berpedoman pada teori orang lain (bukan menguji teori yang ada) tapi mengamati tanpa dasar apapun. Dalam pemikiran fenomenologi orang mengamati terkait langsung dengan perhatiannya, dan juga terkait pada konsep-konsep yang telah dimilikinya sendiri (sangat relatif). Kebenaran logik, ethik dan transendental (kebenaran di luar empirik inderawi) diterima oleh fenomenologi. Metode ini banyak mempengaruhi segala cabang ilmu filsafat.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Munin al-Hifni, al-Mausu’ah al-Falsafiyah, beirUt Libanon, Dar Ibn Zaidun, tt. Cet. ke I

Burhanuddin Salam, Logika Materiil (Filsafat Ilmu Pengetahuan), Jakarta, Renika Cipta

Dirjarkara, Percikan Filssafat, Jakarta PT. Pembangunan, tahun 1978.

Fuad Hasan, Pengantar Filsafat Barat, Jakarta, Pustaka Jaya, tahun 1996, cet. ke I

Hasan Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius, tahun 1993, cet. ke 9

Kamrani Buseri, Diktat Filsafat Ilmu, Pada Mata Kuliah Filsafat Ilmu, Program Pascasarjana Iain Antasari Banjarmasin tahun 2002.

Koento Wibisono Siswoniharjo, Ilmu Pengantar Sebuah Sketsa Umum Untuk Mengenal Kalahiran dan Perkembangan Sebagai Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu Dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu, Filsafat Ilmu, Yogyakarta, Leberty, tahun 1996.

Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta, Reka Sarasin, tahun 1998.

Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, Jakarta, Pt, Pembangunan, tahun 1974.

Titus, Living Issnes In Philosophy (Persoalan-Persoalan Filsafat), alih bahasa oleh DR. H. M. Rasyidi, Jakarta, Bulan Bintang, tahun 1984.

END NOTE


[1]Fuad Hasan, Pengantar Filsafat Barat, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1996), cet. ke I, h. 102

[2]Kaum philosophes adalah kaum yang bukan dari para filosof atau akademis, melainkan para penulis yang sangat mendambakan terjadinya perubahan tatanan kemasyarakatan dan kenegaraan, di antara mereka terdapat seniman, sastrawan, wartawan, ilmuan, dan lain-lain. Ibid., h. 84.

[3]Ibid., h. 99.

[4]Koento Wibisono Siswoniharjo, Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umam Untuk Mengenal Kelahiran dan Perkembangan: Sebuah Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty, 1996), h. 12

[5]Dirjakara, Percikan Filsafat, (Jakarta: Pembangunan, 1978), h. 177.

[6]Haruh Hadi Wijoyo, Sari Sejarah Barat 2, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), Cet. 9., h. 140.

[7]Noeng Muhajirin, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998), h. 81.

[8]Abdul Mun’in Hifni, Al-Mausu’ah al-Falsafiyah, (Beirut: Libanon, Dar Ibn Zaitun, t.th), Cet. I, h. 509.

[9]Titus, Living Issnes in Philosophy, terj.: Dr. H. M. Rasyidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 401.

[10]Poedjawijatna, Pembimbing ke arah Alam Filsafat, (Jakarta: Pembangunan, 1974), h. 134.

[11]Burhanuddin Salam, Logika Material: Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), h. 206.

[12]Noeng Muhadjir, Op.Cit., h. 10.

[13]Kamrani Buseri, Diktat Filsafat Ilmu, (Banjarmasin: IAIN Antasari Banjarmasin, t.th.), h. 21.

Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan


Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan

Oleh:

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq

A. Pendahuluan

Menoleh jauh ke zaman pra sejarah, masyarakat di kawasan Nusantara (Indonesia) merupakan imigran dari berbagai kawasan. Menurut Buku Sejarah yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, terjadi empat periode imigrasi besar ke kawasan Nusantara, yaitu:

  1. 3.000 tahun yang lalu (1000 SM) sejumlah besar suku Mongol berimigrasi ke Kepulauan Indonesia.[1]
  2. Imigrasi kedua terjadi pada 2.000 tahun yang lampau, sekitar abad ke-1, termasuk sejumlah suku Yun Nan yang berimigrasi ke Selatan.[2]
  3. Imigrasi besar ketiga berasal dari India, pada abad VIII[3]
  4. Imigrasi besar keempat adalah penganut agama Islam dari Arabia, di Timur Tengah. Kebanyakan di antaranya yang kini menjadi orang-orang Pakistan. Terjadi pada abad XII.[4]

Dari sini diketahui bahwa periodisasi masuknya Islam ke Indonesia, tergolong dalam empat imigrasi besar yang membentuk ekosistem sosial budaya masyarakat Indonesia, termasuk dalam periode tersebut penyebaran Islam di Kalimantan Selatan. Setelah empat periode imigrasi besar tersebut, barulah masuk bangsa kolonial Eropa yang di mulai dari bangsa Portugis,[5] Spanyol,[6] Belanda[7] dan terakhir Jepang.[8]

Dalam perjalanan sejarah Indonesia tersebut, sejarah penyebaran Islam di Indonesia mempunyai bagian penting dalam tatanan sejarah Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan sebagai bagian dalam kawasan Indonesia. Dalam konteks ini, penulis menemukan beberapa catatan sejarah mengenai pendidikan Islam. Sesuai dengan lingkup kajian mengenai sejarah pendidikan Islam, maka dalam makalah ini akan penulis sajikan pembahasan pada lingkup sejarah pendidikan Islam di Kalimantan Selatan yang akan penulis awali dengan mengupas dari sejarah awal masuknya Islam di Kalimantan Selatan.

B. Selintas Sejarah Masuknya Islam Ke Kalimantan Selatan

Menurut Helius Syamsuddin dalam bukunya Islam and Resistence in South and Centre kalimantan in The Nineteenth and Early Twentieth Centuries menerangkan bahwa Islam masuk Kalimantan Selatan dari Jawa pada abad ke XVI, ketika Sultan Demak membantu Pangeran Banjar, Pangeran Samudera, untuk menghadapi Pangeran Temenggung dalam peperangan merebut tahta kerajaan, sebagai imbalannya, Pangeran samudera bersedia untuk memeluk Islam. Dia menjadi Sultan pertama Kesultanan Banjarmasin dengan gelar Sultan Suriansyah. Konversinya itu perlahan-lahan diikuti oleh diikuti oleh para pengikutnya dan orang-orang Banjar kecuali masyarakat Dayak di daerah pedalaman.[9]

Diterangkannya pula bahwa setelah konversi Sultan Suriansyah pada Abad XVI tersebut, tidak banyak lagi diketahui mengenai proses islamisasi sesudahnya, dalam arti intensitas pengajaran Islam pada masyarakat Banjar atan secara khusus, penyebaran Islam di kalangan masyarakat Dayak padalaman pada abad-abad selanjutnya. Barulah pada abad XIX ada bukti mengenai proses ini yang berasal dari ulasan-ulasan Schwaner dan Meijer dalam bukunya Borneo. Pada awalnya islamisasi terhadap masyarakat Daway di mulai di kalangan orang Bakumpai [sub-kelompok Dayak Ngaju]. Bakumpai Marabahan yang tinggal 57 km dari Banjarmasin, sering melakukan interaksi dengan masyarakat masyarakat Banjar, terutama dalam bidang perdagangan, yang diikuti dengan perkawinan antara orang Banjar dengan orang Bakumpai, yang menyebabkan mereka masuk Islam. Setelah konversi ini, mereka menyebut diri mereka sebagai “Orang Melayu”.[10]

Encyclopedia Britannica yang diterbitkan pada tahun 1963 mencatatkan bahwa bahasa Melayu menjadi bahasa bagi penduduk asli di semenanjung Tanah Melayu, di pantai timur Sumatera, di seluruh pantai Borneo (Kalimantan), di kepulauan Riau, di Bangka, di Belitung, dan di Natuna Besar.[11] D.J. Prentice berpendapat bahawa daerah penutur asli bahasa Melayu ialah di kawasan Tanah Melayu sehingga selatan Thailand (Pattani), di sepanjang pantai timur Sumatera, di kepulauan Riau, di sepanjang pesisir Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur, di Brunei, di pantai barat Sabah, di Sarawak, di Singapura, di Jakarta, di Larantuka, di Kupang, di Makasar, di Menado, di Ternate, di Banda, dan di Ambon. Selain wilayah Melayu, ternyata bahwa bahasa Melayu pun dapat ditemukan di Sri Lanka dan di Afrika Selatan.[12]

C. Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan

Tidak banyak catatan yang memberikan deskripsi sehubungan dengan sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan ini. Dari sekian literatur yang penulis temukan mengenai sejarah pendidikan di Kalimantan Selatan, pada umumnya merujuk pada tokoh Besar Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Hal ini menurut penulis cukup beralasan, karena sebagaimana diungkapkan Gubernur Kalsel Drs HM Sjahriel Darham bahwa Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari memiliki pemikiran-pemikiran yang sangat luar biasa pada kurun waktu 1710 sampai 1821 M, sampai mendapatkan gelar “Matahari Islam dari Kalimantan” dari Menteri Agama Republik Indonesia periode 1962-1967.

Hal ini menyangkut karyanya yang sangat monumental pada kitab Sabillah Muhtadin perlu terus diteladani, mengingat pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari mampu mendorong fenomena religius yang memberikan arti terhadap pengisian khazanah perkembangan agama Islam.[13]

Dalam beberapa sumber yang penulis dapatkan, usaha pendidikan Islam yang diupayakan oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dapat diklasifikasi menjadi tiga, yaitu pengakderan ulama, pengajaran terhadap masyarakat dan pendirian madrasah.

  1. Mengkader Ulama

Saat menunggu musim haji Syekh Arsyad kembali menemukan malam penuh berkah Lailatul Qadr. Saat itu beliau memohon kepada Tuhan, agar diberikan ilmu yang akan berlanjut sampai ke anak cucu tujuh turunan, bahkan turun temurun. Permohonan itu dikabulkan Tuhan. Banyak anak cucu dan zuriat beliau sampai sekarang dikenal sebagai tokoh panutan, menjadi orang alim atau ulama besar. Ada pula yang menjabat mufti semasa kerajaan Banjar dan masa pemerintahan Belanda.

Buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya perumpamaan itu berlaku pula pada diri Syekh Arsyad. Banyak anak cucu keturunan beliau menjadi orang yang ternama, terutama di bidang agama yang namanya tetap dikenang sampai sekarang, beberapa diantaranya adalah:

  1. Mufti H. Muhammad As’ad[14]
  2. Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis[15]
  3. Mufti H. Muhammad Arsyad bin H. M. As’ad[16]
  4. H. Abdul Rahman Siddiq bin Shafura.[17]
  5. H. Sa’duddin bin Mufti H. Muhammad As’ad.[18]
  6. Kadi H. Abu Su’ud bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.[19]
  7. H. M. Syarwani Abdan bin H. M. Yusuf.[20]
  8. H. Muhammad Khatib bin Mufti H. Ahmad.[21]
  9. Mufti H. Jamaludin.[22]
  10. Guru H. Zainal Ilmi bin H. Abdus Samad.[23]
  11. H. Zaini Abd. Ghani bin Abd. Ghani.[24]

Di antara kadernya yang lain, bukan keturunannya adalah:

  1. Syekh Muhammad Saleh bin Murid Ar-Rawa, penyusun kitab Fathul Mubin, suatu sarah dan terjemahan hadits Arba’in Imam Nawawi yang kedua kali dalam bahasa Melayu. Syekh Muhammad Saleh adalah penganut Khalwatiyah-Sammaniyah dan Tarikat Sariliyah.
  2. H. Abd. Ghoni yakni seorang yang menyebarkan Islam di Pontianak di Kalimantan Barat.[25]
  3. Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidillah yang mendapat didikan khusus dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, sehingga menjadi raja yang tinggi cita-citanya, cerdas pandai, berbicara dengan petah (ramah dan lembut), mempunyai pikiran yang bersih dan ilmu pengetahuan yang dalam.[26]

Banyak lagi murid-murid yang lain, yang tersebar di berbagai daerah Kalimantan Selatan atau Kalimantan secara keseluruhan bahkan menyebar ke seluruh Nusantara.

  1. Mendidik Masyarakat

Syekh Arsyad memahami betul bahwa mendidik masyarakat akan sangat efektif jika dimulai dengan berintegrasi dengan kekuasaan, Syekh Arsyad sebagai ulama yang telah berhasil menyatukan sultan sebagai elit penguasa dengan rakyatnya atas dasar ikatan ajaran Islam, sehingga tidak adanya jarak memisah, baik antara sultan dengan rakyat maupun antara umara dengan ulama. Hal ini bisa dicapai karena sistem pendekatan yang beliau lakukan beranjak dari bawah, baru setelah itu kepada penguasa atau sultan. Di samping itu memang sejak awalnya hubungan antara sultan dengan Syekh Muhammad Arsyad terjalin dengan baik.

Sebagai contoh, hukum waris dan pernikahan yang semula tidak berdasarkan kepada hukum Islam, secara perlahan dapat dirubah ketentuan-ketentuan hukum Islam yang memakai pedoman kitab Sabilal Muhtadin. Kalau sebelumnya sebahagian sultan sangat terkenal memelihara berpuluh-puluh gundik di dalam istana, maka atas nasehat Syekh Muhammad Arsyad, sultan menikah menurut ketentuan hukum Islam.

Di dalam kerajaan Banjar, hukum Had sempat pula diperlakukan kepada orang lain yang membunuh, murtad dan berziarah sebagai realisasi dari pada penerapan hukum Islam.

Misalnya hukum Had yang telah dijatuhkan kepada Haji Abdul Hamid yang telah mengajarkan Ilmu tasawuf kearah ajaran Wihdatul Wujud yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam. Haji Abdul Hamid mengajarkan bahwa.”Tiada maujud melainkan Dia, tiada wujud yang lainnya, tiada aku melainkan Dia, Dialah aku adalah Dia.” Dia juga mengatakan bahwa pelajaran syariat yang diajarkan selama ini hanyalah kulit saja belum sampai pada hakekat.[27]

Mendengar ajaran dan keterangan yang demikian, timbullah perselisihan faham di dalam masyarakat, untuk menjernihkan suasana, maka dipanggillah Haji Abdul Hamid ke istana untuk menghadap sultan. Namun dijawab oleh Haji Abdul hamid bahwa: “Tuhan tidak ada, yang ada hanya Abdul Hamid.” Akhirnya sultan menyerahkan permasalahan itu kepada Syekh Muhammad Arsyad unutk menyelesaikannya. Setelah meneliti persoalan itu secara cermat, barulah beliau mengambil kesimpulan bahwa ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh Haji Abdul Hamid dapat menyesatkan orang awam dan membawa kepada syirik. Melenyapkan seseorang untuk menyelematkan orang banyak dibolehkan menurut hukum, bahkan terkadang diwajibkan. Dengan kesimpulan yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Arsyad ini, maka sultan mengambil keputusan untuk menghukum bunuh Haji Abdul Hamid.[28]

Untuk melaksanakan hukum Islam secara riil di kerajan Banjar tidak mungkin tanpa adanya suatu lembaga hukum yang mengatur dan melaksanakannya. Oleh sebab itu maka dibentuklah Mahkamah Syar’iyah suatu lembaga pengadilan agama yang dipimpin oleh seorang mufti sebagai ketua hakim tertinggi pengawas pengadilan umum.[29]

Lembaga Qadhi ini kemudian berkembang menjadi kerapatan Qadhi dan sekarang berubah lagi menjadi Pengadilan Agama Tingkat Pertama dan Tingkat Banding, Pengadilan Agama Tingkat Banding berkedudukan di Banjarmasin sebagai penjelmaan dari terapan Qadhi Besar Banjarmasin.[30]

Hal ini memang telah jelas terlihat di dalam undang-undang Sultan Adam pasal 7 dan 8 yang membicarakan tentang tugas mufti.[31]

Melihat pentingnya peran lembaga hukum di dalam mengatur dan menjalankan hukum di dalam wilayah kerajaan Banjar, maka betapa besar jasa yang telah diberikan oleh Syekh Muhammad Arsyad di dalam kerajaan Banjar. Hal ini membuktikan bahwa Syekh Muhammad Arsyad telah mampu memasukkan ajaran-ajaran Islam di dalam peraturan pemerintah dan juga sebagai bukti adanya kerjasama yang baik antara Syekh Muhammad Arsyad dengan Sultan pada waktu itu.bentuk lain dari integrasi Syekh Arsyad dengan masyarakat lewat pendidikan dalam rangka mensejahterakan masyarakat. hal ini dimulai Syekh Arsyad dengan upaya meningkatkan kecerdasan dengan berupaya memberantas kebodohan sekaligus mengangkatnya dari lembah kemiskinan.

Kuatnya Syekh Arsyad dalam memberantas kebodohan dan mengangkat masyarakat dari kemiskinan khususnya bagi Ilmu agama dapat diketahui dari surat balasan yang dilayangkan kepada sahabatnya saat bermukim di Mekah, yaitu Syekh Abdul Samad Palembani.

Surat yang dikirim rekan dari Sumatra tersebut, berisi ajaran Syekh Arsyad berjihad fii sabilillah melawan umat yang beragama Budha di Siam. Namun ajakan rekannya tersebut gayung tak bersambut, bahkan dirinya pun sedang berperang.

Syekh Arsyad berperang melawan kebodohan seperti buta huruf dan agama membasmi syirik, khurafat, tahyul dan memerangi kemiskinan termasuk miskin Ilmu agama. KH. Jumri bin Haji Roys dalam bukunya berjudul Sejarah Kerajaan Banjar, menyatakan Syekh Arsyad berpendapat memerangi kebodohan dan kemiskinan pahalanya lebih besar atau lebih utama dari jihad fi sabilillah, dalam arti sempit yaitu berperang secara fisik.[32]

  1. Mendirikan Madrasah

Dalam lapangan pendidikan dan sistem penyebaran agama Islam tidak ditemukan adanya lembaga khusus yang terdapat seperti sekarang ini, meskipun berbentuk pesantren. Pendidikan hanya diberikan dalam lingkungan keluarga masing-masing dan ilmu-ilmu tertentu yang diperlukan dalam kehidupan, diperoleh dengan berguru kepada seseorang yang dianggap ahli secara individual. Hal demikian juga dilakukan di keraton, sebagaimana yang terjadi pada masa Syekh Arsyad tinggal di keraton karena Syekh Arsyad mulai melakukan dengan membuka sebuah perkampungan baru tempat mendirikan sebuah lembaga pendidikan.

Kepulangan Syekh Arsyad di Martapura disambut dengan upacara penyambutan,[33] karena sangat dinanti-nantikan pada waktu itu. Di keraton kesultanan ramailah sertiap hari karena masyarakat selalu mengunjunginya, untuk meminta nasehat atau mendengar ceramahnya, terkadang juga menanyakan berbagai masalah keagamaan, sebab pada masa itu tidak banyak ulama atau guru di daerah Banjar, apalagi yang mempunyai keilmuan yang sebanding dengan Syekh Arsyad.

Dengan melihat kecenderungan masyarakat terhadap pengetahuan, yang kian hari semakin bertambah mereka yang datang. Maka Syekh Arsyad mempunyai gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan secara tersendiri agar lebih terkoordinir, sehingga baik masyarakat umum maupun kalangan zuriatnya sendiri yang mengkhususkan untuk belajar dapat dilaksanakan.

Kemudian gagasan tersebut Syekh Arsyad sampaikan kepada sultan dan sultan sendiri menyambut baik ide yang disampaikan Syekh Arsyad, sebab sultan sendiri yang berkuasa saat itu mengaku murid beliau.[34] Maka tak mengherankan secara langsung menawarkan kepada Syekh Arsyad untuk memilih tempat yang sesuai dengan kondisi lembaga yang dikehendaki Syekh Arsyad tersebut.

Dengan sebuah tanah kosong yang telah diberikan sultan didirikan sebuah lembaga pendidikan. Tanah yang dipilih Syekh Arsyad untuk mendirikan lembaga tersebut berada di sekitar 5 Kilometer. dari keraton kesultanan (Martapura), yaitu di pinggir Sungai Martapura yang membentang dari Riam Kanan dan Riam Kiri menuju Banjarmasin. Tanah tersebut merupakan hutan belukar yang bisa digunakan adalah Jukung (perahu kecil) melalui sungai untuk menuju ke lokasi tersebut. Maka setelah ditebangi pepohonan didirikan beberapa buah bangunan, sebagaimana telah dikemukakan Zafry Zamzam bahwa “Syekh Arsyad mendirikan lembaga pendidikan dengan menyediakan pondok-pondok bagi penuntut ilmu yang berdatangan dari berbagai daerah.”[35] Menurut Yusuf Khalidi bahwa bangunan tersebut terdiri dari rumah istrinya sebanyak tiga buah, kemudian langgar dan perpustakaan yang sekaligus menjadi balai pengajian dan beberapa asrama santri yang tinggal di sana.

Kemudian di muka dan di samping lingkungan bangunan dibuatkan pagar sebagai perbatasan. Dari perkembangan lembaga tersebut jadilah sekarang ini kampung yang bernama kampung Dalam Pagar. Istilah Dalam Pagar tersebut karena batas pagar yang dibuat Syekh Arsyad untuk menjaga murid-murid agar tidak keluar masuk semaunya, juga setiap orang yang ingin berkunjung ke tempat Syekh Arsyad atau datang dari Dalam Pagar. Sekarang kampung dalam pagar sudah terbagi dua kampung yaitu Dalam Pagar Hulu inilah yang semula sebagai tempat lembaga pendidikan Syekh Arsyad, dimana sekarang adanya lembaga pendidikan Sullamul Ulum dan Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Dengan adanya lembaga pendidikan yang didirikan Syekh Arsyad pada waktu itu, sebenarnya merupakan yang pertama untuk daerah Kerajaan Banjar, karena bagaimana dikatakan sebelumnya tidak ada suatu lembaga yang jelas sebagai tempat pendidikan, seperti dikatakan oleh Shagir Abdullah bahwa:

“….sebagaimana method dan dakwah Islam masih kurang diketahui data-datanya. Setelah pulangnya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari Mekah barulah ada sistem secara ampuh dan kokoh…..”[36]

Maka dengan demikian Arsyadlah pelopor dalam pendirian lembaga pendidikan model pondok pesantren di daerah Banjar. Dalam waktu kurang 20 tahun lembaga pendidikan tersebut sudah mampu mempunyai lulusan yang berkualitas. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan lulusan tersebut untuk diterjunkan sebagai pendidik dan pendakwah, sebagai pewaris generasi tua terutama dari kalangan zuriatnya sendiri yaitu Muhammad As’ad dan Fatimah dua bersaudara dari Syekh Arsyad. Namun dengan hasil tersebut bukan berarti Syekh Arsyad sudah menyerahkan begitu saja tongkat kepemimpinan dalam lembaga tersebut, akan tetapi terus mengupayakan agar bagaimana lebih tepatnya digunakan. Melihat kedatangan orang-orang yang kian hari semakin bertambah untuk belajar di tempat tersebut, maka sementara waktu kedua lulusan itu ia jadikan sebagai pendamping dalam lembaga pendidikan untuk memberikan pengajaran kepada murid-murid yang mempelajari ilmu-ilmu agama dalam tahap permulaan atau sebagian ilmu alat seperti Bahasa Arab (Nahwu, Syaraf dan sebagainya) untuk murid laki-laki Syekh Arsyad memberikan kepercayaan kepada Muhammad As’ad, sedangkan untuk pengajaran kaum wanitanya diberikan kepercayaan kepada Fatimah.[37]

Mencermati pendidikan Syekh Arsyad, kita bisa melihat pengembangan secara sistematik dari paradigma sampai praktis, dalam paradigma dia mengembangkan orientasi baru meskipun tidak radikal tetapi cukup membuat bergeser dari padigma lama yang cenderung pada pengembangan rohaniah-ukhrawi semata-mata berubah menjadi padigma baru yang tidak saja mengembangkan aspek rohaniah-ukhrawi melainkan juga memberi perhatian besar terhadap pengembangan aspek rohaniah-duniawi, di samping itu ia juga melakukan perubahan cukup mendasar dari tasawuf yang asosial dan penuh spekulasi-spekulasi Illahiyah yang membahayakan dan sangat anti syariat bahkan dianggap sebagai hijab penghalang pertemuan hamba dengan Tuhan, mengganti dengan pengharmonisan hubungan tasawuf dengan syariat yang saling menerima dan memberi satu sama yang lain, karena keduanya merupakan kesatuan utuh yang tak bisa dipisahkan satu sama lain yang ibarat sebuah koin yang mempunyai dua sisi, salah satu sisi rusak membuat sisi lain tidak berguna.

Dari aspek institusi Syekh Arsyad telah mengembangkan institusi pendidikan yang sebelumnya sangat sederhana hanya semacam pengajian di langgar, mesjid, rumah kepala desa, rumah guru dan rumah tatuha menjadi institusi pendidikan yang cukup lengkap yang bisa dikatakan semacam pesantren atau surau yang ada asrama murid tempat belajar perpustakaan rumah guru, aula pertemuan dan sebagainya, bahkan institusi ini diciptakan lingkungan kerja sehingga murid-muridnya bisa belajar sambil bekerja, dari aspek metodologi Syekh Arsyad juga melakukan perluasan yang cukup signifikan sebelumnya metodologi pendidikan sangat sederhana hanya metode halakoh, di mana guru mengajar dikelilingi oleh murid-muridnya tanpa ada diskusi yang terbuka. Setelah Syekh Arsyad datang dan berperan dalam pendidikan ia mengembangkan metodologi yang tidak halakoh semata-mata, tetapi juga ada metode ceramah yang biasanya banyak ia lakukan di langgar, pesantren dan balai perpustakaan.[38] Kemudian ia juga menerapkan metode tanya jawab dimana bisa ia bertanya murid-murid yang menjawab, atau sebaliknya murid-murid bertanya ia menjawab. Hal ini terlihat pada karyanya yaitu kitab Sabilal Muhtadin dan Tuh Faturragibin, sebagai contoh:

مَسَالَهْ: جِيْكَا تِيَدَا مَلِيْهَةْ إِيَ  أَكَنْ دَارَهْ نِيْفَسْ سَكَلِي كَلِي أَدَاكَهْ هَارُسْ بَاكِى سُوَامِيْثَ مَوَطَ دَارِ فَدَ مَنْدِي أَتَوْ تَيَمُمْ.

Masalah:  ”Jika tak melihat sedikitpun darah nifas haruskah suaminya menyuruh dia mandi atau tayamum.”[39]

Pernyataan demikian dalam tiap pengajaran Syekh Arsyad sering kali diberikan masalah kemudian dilontarkan, apabila tidak ada satupun yang dapat menjawab dengan tepat barulah ia memberikan arahan.

Contoh yang lain:

سُأَلْ         : بَرَفَ فَرْكَرَ رُكُنْ تَوْبَةْ يَغْ مَغْكُوْكُرْكَنْ دُوْسَا؟

جَاوَبْ       : أَدَافُنْ رُكُنْ تَوْبَةْ يَغْ مَغْكُوكُرْكَنْ دُوْسَا إِيْتُوْ تِيْكَا فُرْكَارَ.

Soal       :“Berapakah rukun taubat yang mennghapuskan dosa.

Jawab    :”Rukun taubat yang menghapuskan dosa ada tiga perkara”[40]

Hal ini lebih menunjukkan lagi bahwa tanya jawab bagi Syekh Arsyad merupakan satu yang sangat penting dalam pendidikan.

Di samping itu ia juga menerapkan metode memberikan contoh, di mana para muridnya mencatat penyampaian yang dia berikan disela-sela kitab yang dibaca. Selanjutnya ia juga memakai metode Takhasus di mana murid-murid yang berbakat dalam bidang tertentu terutama tasawuf, ia bimbing secara khusus dalam waktu yang tertentu pula, selain itu ia juga menerapkan metode belajar sambil bekerja di mana kebanyakan muridnya meskipun belajar secara rukun tetapi diberi juga tugas untuk bekerja di sawah sebagai petani atau diperkampungan Dalam Pagar.

Dari aspek isi atau materi Syekh Arsyad mengembangkan sedemikian jauh dari sebelumnya. Kalau dahulu materi pendidikan terbatas pada pengajaran Al-Quran, sedikit tentang fiqih (terutama pelajaran shalat, wudhu dan azan) dan cukup mendalam pelajaran tasawuf, namun sayangnya sudah tanpa kendali syariat. Setelah zaman Syekh Arsyad materi pendidikan tidak sekedar belajar Al-Quran tetapi sekaligus pelajaran tafsir, tajwid, qira’at, khat, kaligrafi, juga bahasa Arab dengan berbagai seluk-beluknya. Dalam fiqih tidak semata-mata pelajaran shalat, wudhu dan azan tetapi juga mencakup seluruh aspek ibadah dan muamallah. Dalam bidang aqidah juga diajarkan oleh Syekh Arsyad terutama aqidah yang beraliran Ahwalul Sunnah Waljama’ah yang sebelumnya tidak diabaikan. Dalam tasawuf ia membawa angin baru semacam ajaran tasawuf yang sudah diperbaharui yakni non-sufisme dalam tarikat yang mengharmoniskan antara tasawuf palsafi dan tasawuf amali (ajaran Ibnul Arabi dengan ajaran Al-Ghazali), antara zuhud dan jihad. Selain itu ia juga mengajarkan ilmu falak, keterampilan berdagang, keterampilan bertani dan keterampilan berpolitik terutama sebagai mufti dan qadhi.

Dalam tinjauan kekinian, nilai-nilai sejarah dalam pendidikan Islam di Kalimantan Selatan masih meninggalkan kesan yang cukup monumental. Martapura sebagai ibukota Kotamadya Banjar[41] diberi gelar Kota Serambi Mekkah. Marwah ini tidak lepas dari peran pesantren, seperti yang diungkapkan KH. Abdul Syukur dalam buku Kota Serambi Mekkah, bahwa secara kuantitatif Martapura mempunyai pesantren lebih banyak dibandingkan daerah lainnya di Kalimantan Selatan. Adapun pesantren tertua dan sangat terkenal adalah Pesantren Darussalam.[42]

Dalam sebuah buku bertajuk biografi Ny. Hj. Asmah Sjachruni diberikan gambaran nilai pendidikan Islam dalam aspek sosiologis pada awal masa pasca kemerdekaan Indonesia. Dalam buku tersebut dikutib perkataan Ny. Hj. Asmah Sjahruni sebagai berikut:

“Pendidikan kala itu sangat terbatas. Untuk pendidikan agama orang bisa menambahnya di surau,atau semacam pesantren. Ayah telah mengajarkan saya bagaimana membaca al-Qur`an dengan baik. Ayah juga mengajarkan saya fiqih dan tauhid secara dasar. Untuk pendidikan umum (Sekolah Rakyat) Lima Tahun yang dibuat dua jenjang. Pertama hingga kelas tiga dan mendapat ijazah. Lantas dilanjutkan jenjang kedua kelas empat dan lima.”[43]

Periode terakhir perkembangan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan, barangkali masih dapat dirasakan. Banyak perkembangan dan pengembangan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan ini. Salah satunya di sini penulis kemukakan sebuah berita pada harian Banjarmasin Post edisi tanggal 1 Juli 2002 sebagai berikut:

“Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mukarramah, Sungai Danau, Kecamatan Satui, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, bermaksud membangun sarana dan prasarana pendidikan serta sosial (Pensos) terbesar untuk wilayah Kalimantan.”[44]

Salah satu contoh lainnya,

D. Penutup

Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan dalam lintasan sejarah mempunyai kebanggan tersendiri, dengan terbitnya seorang yang mendapat gelar “Matahari Islam dari Kalimantan”. Akankah cahaya matahari pendidikan itu akan tetap menerangi jejak langkah pendidikan Islam sekarang?

Artikel ini merupakan Makalah yang saya tulis untuk mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam (Program Pasca Sarjana IAIN Antasari Banjarmasin)

RESUME:


[1]Rute perjalanan suku Mongol ini mula-mula ke Han Chong (daratan Cina Tengah), kemudian Yun Nan, Thailand, Semenanjung Malaka, Sumatra, Jawa, akhirnya tersebar ke Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Kepulauan lainnya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Pendidikan Sejarah, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), h. 74.

[2]Suku Yun Nan sebenarnya adalah suku Mongol yang mula-mula, setelah imigrasi ke Selatan berbaur dengan suku setempat. Jalur perjalanan imigran kedua ini sama dengan yang pertama. Alasan imigrasi adalah karena kekacauan akibat peperangan, perdagangan, mencari tempat tinggal yang lebih aman dan sejahtera. Ibid, h. 75.

[3]Mereka memakai jalur darat dan laut: Lautan Hindia, Thailand, Myanmar ke Sumatra, Jawa, dan kemudian pada abad ke-2 mendirikan Kerajaan Prambanan di Jawa Tengah. Sampai pada abad ke 8, penganut agama Budha dari Cina dan India datang dan mendirikan Kerajaan Sriwijaya di Palembang, Sumatra Selatan. Ibid.

[4]Pada abad ke-12, dengan amanat untuk menaklukkan dunia bagi Islam, mereka datang ke Aceh, Sumatra Utara, Kalimantan, kemudian ke Selatan, tiba di Pulau Jawa, dan mendirikan Kesultanan Banten. Sesudah itu ekspansi ke Timur Laut menaklukkan Sulawesi, dan ke Utara sampai ke Pulau Mindanao, Filipina Selatan. Pada abad ke-15, tentara Spanyol menaklukkan Pulau Luzon, kemudian ke Selatan menghambat rencana ekspansi Islam ke utara ke Pulau Luzon itu. Ibid., h. 76. Keterangan mengenai empat periode imigrasi besar tersebut juga bisa dilihat dalam buku Dr. Peter Wongso, Hamba Tuhan dan Jemaat Kristus Yang Melintas Jaman, (Jakarta: Seminar Al-Kitab Asia Tenggara [TAAT], 1997), h. 52.

[5]Kolonialisme Eropa Barat pertama yang berekspansi ke Timur adalah Portugis, yang mulai menaklukkan Goa di pantai Barat India, kemudian menyeberangi selat Malaka di Lautan Hindia, tiba di Pulau Jawa, memerintah Indonesia selama kurang lebih 100 tahun lamanya. Ibid., h. 60.

[6]Bangsa Spayol menjajah pulau Luzon. Ibid., h. 61.

[7]Pada abad ke-16, Belanda menyerang Indonesia, mengusir Portugis dan menjajah Indonesia selama 350 tahun lamanya. Ibid.

[8]Lihat: Ibid., h. 67.

[9]Helius Syamsuddin, Islam and Resistence in South and Centre kalimantan in The Nineteenth and Early Twentieth Centuries, Terj.: Najib Kaelani dan Muhammad Faqih De Ridha, Islam dan Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Tengah Pada Abad 19 dan Awal Abad 20, (Banjarmasin: Pusat Studi dan Pengembangan Borneo, 2002), h. 1.

[10]Ibid., h. 2; Pada Masa itu, Melayu begitu bersinonim dengan Islam, sehingga ada anggapan bahwa kalau seseorang itu Melayu, dia mestilah Islam. Sekarang, nampaknya tanggapan itu telah bergeser kerana tidak dapat dinafikan bahwa ada sebilangan kecil orang Melayu yang bukan Islam lagi. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa bahasa dan bangsa Melayu telah tersebar bukan sahaja di Asia Tenggara, malah di luar dunia Melayu. Menurut C.A. Mess, bahasa Melayu terdapat di Tanah Melayu, di pantai timur laut Sumatera, di kepulauan Riau, di Palembang, di Kampar, di Jambi, di Medan, serta di pantai Kalimantan. Lihat: C.A. Mess, Ranah Melayu, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 98; Menurut R.O. Winstedt, bahasa Melayu terdapat di semenanjung Tanah Melayu, termasuk di negeri Selat, di Pattani, di kepulauan Riau, di pantai timur Sumatera, dan di pantai barat Borneo. Lihat: R.O. Winstedt, Asian and Indonesian, (London: Oxport University, 1979), h. 233.

[11]Willian Benton, Encyclopedia Britannica, (USA: Encyclopaedia Britannica, Inc., 1979), h. 365.

[12]D.J. Prentice, Peradaban Malaka, (Serawak, Malaysia: Al-Maktabatul-Kaber, t.th.), h. 106.

[13]Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Tak Dimakan Sejarah, (Banjarmasin: Bpost, 2003) Edisi. 6 Oktober 2003, h. 5.

[14]Cucu pertama Syekh Arsyad yang mewarisi ilmu langsung dari kakeknya, hapal Al Quran, menguasai Tafsir, Hadist dan Fiqih, serta menjabat mufti pertama di kerajaan Banjar. Ibunya Syarifah yang kawin dengan Usman. Re Nadalsyah, Buah yang jatuh Tidak Akan Jauh Dari Pohonnya, Banjarmasin Post, (Banjarmasin), 16 Mei 1997, h. 4.

[15]Ulama perempuan dan adik seibu Muhammad As’ad yang juga mewarisi pengetahuan kakeknya, Fatimah dikenal dengan karyanya Kitab Parukuanan Besar. buku ini sampai sekarang masih digunakan sebagai dasar belajar fiqih dan tersebar sampai ke Malaysia, Vietnam dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Ibid.

[16]Anak keempat Mufti H. M. As’ad cicit Syekh Muhammad Arsyad yang dikenal dengan julukan mufti lamak, pernah belajar beberapa tahun di Mekah dengan ulama besar di zamannya. Diangkat menjadi mufti kerajaan Banjar. Di antara murid beliau, sultan Adam Al-Waiq Billah. Ibid.

[17]Zuriat kelima dari pihak ibu dan generasi keempat dari pihak nenek ulama terkenal yang banyak menulis kitab dalam bahasa melayu bukunya Syaratul Arsyadiyah dijadikan rujukan untuk mengetahui silsilah Sekh Muhammad Arsyad yang tersebar sampai di Malaysia, Brunei, Fathani dan sebagainya. Belajar di Mekah setelah pulang berangkat ke Sapat Tanbilanan diminta masyarakat disana. Diangkat sebagai mufti wilayah Indragiri. Beliau menunjuk Tuan Guru H. Anang (Zainal Ilmi sebagai pengganti mengajar di dalam pagar). Ibid.

[18]Cicit kelima yang mewarisi ilmu dari orang tua dan datuknya, menguasai ilmu syariat dan hakikat. Sejak kecil mendampingi orang tua berdakwah. Selama lebih kurang 10 tahun belajar di Mekah. Setelah pulang memberikan pelajaran dan pemurah dan berani memberantas kebathilan bahkan menolak jabatan mufti untuk menggantikan kakaknya Mufti H. Muhammad Arsyad. Ibid.

[19]Anak Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari istri Tuan Bidur mewarisi pelajaran dari orang tua, menjadi qadhi pertama dan guru sultan Sulaiman. Pernah tinggal di Kedah, Malaysia atas permintaan masyarakat kawin dan membuka pengajian. Ibid.

[20]Keturunan beliau itu menguasai ilmu tarikat Nasysyabandiyah dan Sammaiah belajar dari ulama terkenal, Syekh Muhammad Amin qutbi dan Ali bin Abdullah Al-Banjari untuk ilmu tasawuf. Membuka pengajian di Bangil yang disebut Pondok Pesantren Datuk Kalampayan. Muridnya banyak menjadi ulama yang tersebar di Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Ibid.

[21]Terkenal dengan kesederhanaannya Mansyur sebagai wali setelah meninggal karena kuatnya kemanakan beliau, H. Abd. Rahman Siddiq menyimpan rahasia ketika Mufti H. Abd. Rahman Siddiq belajar di Mekah sering melihat beliau tawaf keliling Ka’bah padahal paman beliau itu berada di Banjar (Martapura). Ibid.

[22]Terkenal sebagai ulama pemurah, ramah dan disegani masyarakat, termasuk pejabat pemerintah Belanda. Beberapa tahun belajar di Mekah bersama paman beliau ulama Besar Syekh Muhammad Athailah. Mufti yang selalu berusaha meningkatkan syiar Islam dan kemudahan beribadah. Beliau mengukir makam Syekh Muhammad Arsyad dengan kaligrafi yang indah. Dimakamkan di depan rumah beliau yang terkenal dengan nama kubah di Sungai Jingah. Ibid.

[23]Ulama yang berpengaruh dalam masyarakat dan pejabat pemerintah di Kabupaten Banjar baik sipil maupun ABRI. Di antara guru beliau yang terkenal ialah Mufti H. Abd. Rahman Siddiq, yang menunjuknya pengganti mengajar karena keberangkatan beliau Ke Sapat Tambilahan Riau. Terkenal keramat beliau sewaktu terjadi kebakaran begitu pula tanda-tanda saat beliau wafat, kuburan beliau berada di sebelah kanan bangunan makam Syekh Muhammad Arsyad A-Banjari di desa Kalampayan Martapura. Ibid.

[24]Keturunan Syekh Muhammad Arsyad yang paling dicintai masyarakat dan terkenal pula di kalangan petinggi pemerintah memiliki kemampuan berkomunikasi dengan seluruh kalangan dan menguasai berbagai disiplin Ilmu agama termasuk tasawuf dan Ilmu tarikat. Pengajian di Sekumpul Martapura selalu dihadiri ratusan muslimin dari berbagai penjuru Kalimantan Selatan. Beliau memiliki berbagai keramat seperti mendatangkan buah rambutan sebelum musimnya juga memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit. Menelorkan beberapa karya tulis antara lain Manakip Syekh Muhammad Saman Al-Madhani dan Risalah Nuraniyah. Ibid.

[25]Ia seorang ulama besar yang disegani dan disayangi oleh segenap masyarakat Pontianak. Abu Daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Dalam Pagar: Sullamul Ulum, 1996), h. 63-64.

[26]Dialah yang menguasai Negeri Banjar, yang selalu berusaha memperbaiki urusan agama dan dunia, pimpinan yang benar dan ikutan yang mulia. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Sabilal Al-Muhtadin lil Al-Tafaqquh fi Amr Al-Din, (Mesir: Darun Ahya, t.th.), Cet. III, h. 3.

[27]Abu daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Tuan Haji Besar, (Martapura: Sullamul Ulum, 1980), h. 48.

[28]Dr. Karel. A. Steenbrink menilai bahwa, peristiwa yang terjadi di atas kemungkinan besar cerita ini versi Banjar saja dari cerita Syekh Siti Jenar dan cerita Siti Jenar pun sebenarnya juga hanya merupakan versi Jawa riwayat tentang Al-Hajjaj. Steenbrink beralasan bahwa antara Banjar dan Jawa mempunyai hubungan yang sangat erat, sehingga Banjar mendapat pengaruh dari Jawa. Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, (Jakarta: Bulan bintang, 1984), h. 49.

[29]Lembaga ini mengurusi masalah-masalah keagamaan yang timbul dalam masyarakat, agar senantiasa terpimpin kepada kebenaran umum. Mufti sebagai ketua Mahkamah Syar’iyah didampingi oleh seorang Qadhi yang berfungsi sebagai pelaksana hukum dan mengatur jalannya pengadilan, seperti soal nikah, talak, rujuk, pembagian harta warisan dan lain sebagainya. Yusuf Khalidi, Ulama Besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, (Banjarmasin: Aulia, 1968), h. 40.

[30]Karel. A. Steenbrink memberikan suatu analisa bahwa undang-undang Sultan Adam yang diterapkan tahun 1835, memberikan kesan bahwa kedudukan mufti mirip dengan Mahkamah Agung yang ada sekarang dan berfungsi pula sebagai lembaga naik banding dari Mahkamah Biasa. Karel A. Steenbrink, Loc.Cit.

[31]Di dalam pasal 7 disebutkan bahwa, mufti ditugaskan memberikan fatwa kepada orang yang hendak berhukum. Sedang di dalam pasal 8 disebutkan, bila orang yang hendak meminta fatwa itu mengatakan disuruh Sultan, orang tersebut harus memperlihatkan bukti dengan cap Sultan. Amir Hasan Kyai Bondan, Suluh Sejarah Kalimantan, (Banjarmasin: MAI fajar, 1953), h. 152.

[32]Am Ramadhani, Berantas Kebodohan Lebih Utama Dari Jihad, Banjarmasin Post, (Banjarmasin), 4 April 1997.

[33]Abu Daudi, Op.Cit., h. 45.

[34]Ibid, h. 36.

[35]Zafri Zamzam, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Ulama Besar Juru Dakwah, (Banjarmasin: Karya, 1974), h. 7.

[36]Shagir Abdullah, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Pengarang Sabilal Muhtadin, (Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniah, 1990), h. 50.

[37]Abu Daudi, Op.Cit., h. 42.

[38]Shagir Abdullah, Op.Cit., h. 51.

[39]Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Sabilal Muhtadin lil tafaqquh fi Amr Al-Din, (Beirut: Darul Al-Fikr, t.th.), h. 34.

[40]Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Tuhfatur Raghibin, Juz. I, (Surabaya: Ibnu Sa’ad Al-Nabhan, t.t.h.), h. 22.

[41]Kabupaten Banjar dibentuk pada tanggal 14 Agustus 1950, dengan Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Nomor 186/PB/92/14 Jo. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Undang-undang Pokok Pemerintahan di Daerah tanggal 14 Agustus 1950 dengan sebutan Daerah Otonom Kabupaten Banjarmasin. KH. Abdul Syukur dalam buku Kota Serambi Mekkah (Kalimantan Selatan: CRDS, 2001), h. 2.

[42]Ibid., h. 3.

[43]Nahdatul Ulama Kalimtan Selatan, Asmah Sjachruni : Muslimat Pejuang Lintas Zaman, (Banjarmasin: h. 14)

[44]Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mukarramah Bangun Sarana Pensos Terbesar di Kalimantan, (Banjarmasin: Bpost, 2002), edisi 1 Juli 2002, h. 3.

Kembali ke awal

Siddhartha Gautama (Sang Budha) Dalam Pandangan Khairil Yulian Ibn Ruslan Abd Al-Ghani


PEMBERITAHUAN

Apapun anggapan anda terhadap posting saya kali ini, saya tidak bisa menampiknya. Anda boleh berpandangan apa saja tentang saya, atau tentang tulisan saya ini. Saya hanya punya satu harapan, posting ini tidak melahirkan kontroversi SARA, karena ini hanya pemikiran saya semata, yang lemah referensi, dan tidak ada konfirmasi dari sumber dan saksi, serta tidak melalui proses sterilisasi essensi.

****************

Siddhartha Gautama (Sang Budha)
Dalam Pandangan Khairil Yulian

Gautama Buddha dilahirkan dengan nama Siddhartha Gautama (Sanskerta: Siddhattha Gotama; Pali: “keturunan Gotama yang tujuannya tercapai”), dia kemudian menjadi sang Buddha (secara harfiah: orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna). Dia juga dikenal sebagai Shakyamuni (‘orang bijak dari kaum Sakya’) dan sebagai sang Tathagata. Siddhartha Gautama adalah guru spiritual dari wilayah timur laut India yang juga merupakan pendiri Agama Buddha[1] Ia secara mendasar dianggap oleh pemeluk Agama Buddha sebagai Buddha Agung (Sammāsambuddha) di masa sekarang. Waktu kelahiran dan kematiannya tidaklah pasti, sebagian besar sejarawan dari awal abad ke 20 memperkirakan kehidupannya antara tahun 563 SM sampai 483 SM; baru-baru ini, pada suatu simposium para ahli akan masalah ini,[2] sebagian besar dari ilmuwan yang menjelaskan pendapat memperkirakan tanggal berkisar antara 20 tahun antara tahun 400 SM untuk waktu meninggal dunianya, sedangkan yang lain menyokong perkiraan tanggal yang lebih awal atau waktu setelahnya.

Siddhartha Gautama merupakan figur utama dalam agama Buddha, keterangan akan kehidupannya, khotbah-khotbah, dan peraturan keagamaan yang dipercayai oleh penganut agama Buddha dirangkum setelah kematiannya dan dihafalkan oleh para pengikutnya. Berbagai kumpulan perlengkapan pengajaran akan Siddhartha Gautama diberikan secara lisan, dan bentuk tulisan pertama kali dilakukan sekitar 400 tahun kemudian. Pelajar-pelajar dari negara Barat lebih condong untuk menerima biografi Sang Buddha yang dijelaskan dalam naskah Agama Buddha sebagai catatan sejarah, tetapi belakangan ini “keseganan pelajar negara Barat meningkat dalam memberikan pernyataan yang tidak sesuai mengenai fakta historis akan kehidupan dan pengajaran Sang Buddha.”[3]

Orang tua

Ayah dari Pangeran Siddhartha Gautama adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Ratu Mahā Māyā Dewi. Ibunda Pangeran Siddharta Gautama meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran. Setelah meninggal, beliau terlahir di alam/surga Tusita, yaitu alam surga luhur. Sejak meninggalnya Ratu Mahā Māyā Dewi, Pangeran Siddharta dirawat oleh Ratu Mahā Pajāpati, bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana.

Riwayat hidup

Kelahiran

Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 563 SM di Taman Lumbini, saat Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan pohon sal. Pada saat ia lahir, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin sedangkan yang lainnya hangat. Arus tersebut membasuh tubuh Siddhartha. Siddhartha lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai.

Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala, diramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang Buddha. Hanya pertapa Kondañña yang dengan tegas meramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena apabila Sang Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan Sang Raja, para pertapa itu menjelaskan agar Sang Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa. Bila tidak, ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu adalah:

  1. Orang tua,
  2. Orang sakit,
  3. Orang mati,
  4. Seorang pertapa.

Masa kecil

Sejak kecil sudah terlihat bahwa Sang Pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah. Pada saat berusia 7 tahun, Pangeran Siddharta mempunyai 3 kolam bunga teratai, yaitu:

  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Biru (Uppala)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Merah (Paduma)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Putih (Pundarika)

Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Pangeran Siddharta menguasai semua pelajaran dengan baik. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai sayembara. Dan saat berumur 16 tahun, Pangeran memiliki tiga Istana, yaitu:

  • Istana Musim Dingin (Ramma)
  • Istana Musim Panas (Suramma)
  • Istana Musim Hujan (Subha)

Masa dewasa

Kata-kata pertapa Asita membuat Raja Suddhodana tidak tenang siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua, dan kematian, sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.

Suatu hari Pangeran Siddharta meminta ijin untuk berjalan di luar istana, dimana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya “Empat Kondisi” yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang suci. Pangeran Siddhartha bersedih dan menanyakan kepada dirinya sendiri, “Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini!”. Pangeran Siddharta berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban tersebut.

Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan duniawi. Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya, Canna. Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai pertapa.

Setelah itu Pangeran Siddhartha meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan mati. Pertapa Siddharta berguru kepada Alāra Kālāma dan kemudian kepada Uddaka Ramāputra, tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh yang diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima orang pertapa. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrim itu dan bermeditasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan Penerangan Agung.

Masa pengembaraan

Di dalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama dan pertapa Udraka Ramputra. Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya. Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magadha untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruwela, di tepi Sungai Nairanjana yang mengalir dekat Hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di Hutan Uruwela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakekat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.

Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang tua sedang menasihati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana dengan mengatakan:

Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu.

Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja, pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya, “Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna.”

Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan penggoda yang dahsyat. Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan iman yang teguh kukuh, akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur.

Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender lunar. Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Sang Siddharta memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.

Penyebaran ajaran Buddha

Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain: Buddha Gautama, Buddha Shakyamuni, Tathagata (‘Ia Yang Telah Datang’, Ia Yang Telah Pergi’), Sugata (‘Yang Maha Tahu’), Bhagava (‘Yang Agung’) dan sebagainya. Lima pertapa yang mendampingi Beliau di hutan Uruwela merupakan murid pertama Sang Buddha yang mendengarkan khotbah pertama Dhammacakka Pavattana, dimana Beliau menjelaskan mengenai Jalan Tengah yang ditemukan-Nya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya yang menjelaskan “Empat Kebenaran Mulia”.

Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, saat ia menyadari bahwa tiga bulan lagi ia akan mencapai Parinibbana.

Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).

Sifat Agung Sang Buddha

Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan Kasih Sayang (karuna). Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak terbatas oleh waktu dan selalu abadi, karena telah ada dan memancar sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda samsara yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan batinnya. Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas, yaitu

  1. Berusaha menolong semua makhluk.
  2. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.
  3. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.
  4. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.

Buddha Gautama pertama melatih diri untuk melaksanakan amal kebajikan kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari sepuluh tindakan yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan pikiran, yaitu

  • Tubuh (kaya): pembunuhan, pencurian, perbuatan jinah.
  • Ucapan (vak): penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar, percakapan tiada manfaat.
  • Pikiran (citta): kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang salah.

Cinta kasih dan kasih sayang seorang Buddha adalah cinta kasih untuk kebahagiaan semua makhluk seperti orang tua mencintai anak-anaknya, dan mengharapkan berkah tertinggi terlimpah kepada mereka. Akan tetapi terhadap mereka yang menderita sangat berat atau dalam keadaan batin gelap, Sang Buddha akan memberikan perhatian khusus. Dengan Kasih Sayang-Nya, Sang Buddha menganjurkan supaya mereka berjalan di atas jalan yang benar dan mereka akan dibimbing dalam melawan kejahatan, hingga tercapai “Pencerahan Sempurna”.

Sebagai Buddha yang abadi, Beliau telah mengenal semua orang dan dengan menggunakan berbagai cara Beliau telah berusaha untuk meringankan penderitaan semua makhluk. Buddha Gautama mengetahui sepenuhnya hakekat dunia, namun Beliau tidak pernah mau mengatakan bahwa dunia ini asli atau palsu, baik atau buruk. Ia hanya menunjukkan tentang keadaan dunia sebagaimana adanya. Buddha Gautama mengajarkan agar setiap orang memelihara akar kebijaksanaan sesuai dengan watak, perbuatan dan kepercayaan masing-masing. Ia tidak saja mengajarkan melalui ucapan, akan tetapi juga melalui perbuatan. Meskipun bentuk fisik tubuh-Nya tidak ada akhirnya, namun dalam mengajar umat manusia yang mendambakan hidup abadi, Beliau menggunakan jalan pembebasan dari kelahiran dan kematian untuk membangunkan perhatian mereka.

Pengabdian Buddha Gautama telah membuat dirinya mampu mengatasi berbagai masalah didalam berbagai kesempatan yang pada hakekatnya adalah Dharma-kaya, yang merupakan keadaan sebenarnya dari hakekat yang hakiki dari seorang Buddha. Sang Buddha adalah pelambang dari kesucian, yang tersuci dari semua yang suci. Karena itu, Sang Buddha adalah Raja Dharma yang agung. Ia dapat berkhotbah kepada semua orang, kapanpun dikehendaki-Nya. Sang Buddha mengkhotbahkan Dharma, akan tetapi sering terdapat telinga orang yang bodoh karena keserakahannya dan kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan khotbah-Nya. Bagi mereka yang mendengarkan khotbah-Nya, yang dapat mengerti dan menghayati serta mengamalkan Sifat Agung Sang Buddha akan terbebas dari penderitaan hidup. Mereka tidak akan dapat tertolong hanya karena mengandalkan kepintarannya sendiri.


[3]Lopez (1995). Buddhism in Practice. Princeton University Press. pp. 16.

**********************

Pandangan Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq tentang Sosok Siddhartha Gautama

Latar Belakang

Jika anda pernah membaca posting saya yang berjudul Pertanyaan tentang Iman yang Universal, maka anda akan melihat adanya hubungan antara posting itu dengan tulisan saya kali ini. Lahirnya konsep iman universal tersebut berasal dari sebuah pemikiran yang dikekang oleh fanatisme agama yang membutakan pemeluk suatu agama untuk membandingkan diri dengan orang lain. Efek negatif yang dilahirkan dari fanatisme agama tersebut adalah merasa benar sendiri, merasa diri paling benar dan orang lain salah, karena memang begitu konsep yang ditanamkan oleh pada umumnya agama terhadap pemeluknya, seperti perusahaan jasa yang bersaing untuk mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya dan mendokrin untuk tidak pindah ke produk lain.

Pada saat aku berpikir bahwa pemikiran bebasku dibelenggu oleh konsep fanatisme dalam beragama, keningku pun berkerut memikirkan jawaban atas  beberapa pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benakku. Pertanyaan yang sangat mendasar menurutku waktu itu, yaitu:

  1. Mengapa setiap pemeluk agama menganggap agamanya paling benar?
  2. Apakah ajaran agama yang ku peluk ini adalah ajaran agama yang benar-benar “BENAR”?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu cukup menggangguku pada saat itu, mengingat aku adalah seorang muslim yang lahir dari keluarga muslim, tumbuh dan berkembang dalam lingkungan muslim, dan bahkan dididik di lembaga pendidik Islam dari Madrasah Aliyah, hingga kuliah S1 dan S2. Sebagai muslim yang besar dalam kondisi masyarakat yang Homogen, pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti di atas telah membuatku melepaskan status “muslimku” selama aku belum menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Bagi sebagian orang di sekitarku, tindakan yang ku lakukan itu dianggap terlalu berani, karena harus melepaskan aqidah. Namun bagiku, justru dari sinilah aku akan mematri diriku dengan aqidah yang memang lahir dari pencarian dan untuk mendapatkan keyakinan. Karena aku beranggapan bahwa apa artinya beragama jika tidak memiliki dasar keyakinan yang kuat. Hidup dalam homogentitas agama yang melahirkan fanatisme itu justru membuatku beranggapan agama yang ku peluk ini bukan agama yang benar. Jika agama ini adalah sebuah kebenaran, maka ia tidak akan pernah takut untuk disandingkan dengan sesuatu yang yang juga dianggap benar oleh orang lain.

Pencarian kebenaran dengan melepaskan keyakinan memang merupakan hal yang sangat menakutkan dalam hubungannya dengan masalah aqidah, tetapi hal ini memang harus ku lakukan jika keyakinan yang kupegang justru membuat hatiku bimbang akan sebuah kebenaran. Ajaran agama yang ku peluk sebenarnya sudah ku yakini kebenarannya, tetapi hal itu masih dalam keyakinan yang wajar, yaitu karena keluarga, lingkungan dan pendidikanku hanya seputar itu. Lagi pula, dengan konsep sederhana seperti itu, semua pemeluk agama apapun akan beranggapan seperti yang ku rasa, yaitu “Agamaku adalah agama yang paling benar”.  Keyakinan yang wajar dan sederhana itu tidak cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti yang sudah ku sebutkan sebelumnya. Perlu adanya usaha pencarian keyakinan yang lebih EXTREME untuk jiwa dan pemikiranku yang EXTREME, yaitu dengan membandingkan semua ajaran kebenaran.

Siddhartha Gautama adalah Sosok Nabi

Ajaran Agama Budha adalah salah satu dari lima ajaran agama yang ku ketahui sejak aku duduk di bangku sekolah dasar, karena dalam Falsafah Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, ada lima Agama yang diakui, yaitu Islam, Kristen Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha. Dalam pencarian kebenaran yang ku lakukan, Ajaran Agama Budha adalah salah satu agama yang masuk dalam target pencarian kebenaran yang ku lakukan.

Dalam posting ini, saya tidak akan menyalahkan atau membenarkan ajaran agama Budha yang dibawa oleh Siddhartha Gautama, tetapi dalam pencarian kebenaran yang ku jalani ini, aku menemukan satu kesimpulan bahwa agama itu tidak bisa diciptakan begitu saja oleh manusia, diperlukan suatu falsafah mendasar yang menjadikan suatu ajaran pantas untuk disebut sebagai sebuah agama. Disamping itu, semua ajaran agama memang selalu mengajarkan kebenaran, karena itulah semua pemeluk agama menganggap agama yang dipeluknya itulah yang paling benar, termasuk dalam hal ini, ajaran yang dibawa oleh Siddhartha Gautama, yaitu ajaran agama Budha.

Dalam referensi yang saya kemukakan sebelumnya disebutkan bahwa Siddhartha Gautama pada awalnya juga merupakan manusia biasa yang sejak lahirnya sudah diberikan kelebihan. Ia lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai. Hal ini seperti juga kelahiran Isa al-Masih (Nabi Isa As) oleh Bunda Maria (Maryam) yang menandungnya tanpa Ayah. Seperti halnya juga kelahiran Muhammad Saw yang diwarnai dengan turunya ratusan burung Ababil yang menyerang tentara bergajah yang akan menghancurkan Ka’bah.

Pangeran Siddhartha Gautama yang sejak lahir diramalkan akan meninggalkan Istana, menyebabkan sang Ayah, Raja Suddhodana berusaha membahagiakan putra kesayangannya dalam kemewahan Istana. Pangeran Siddhartha tidak pernah diperkenalkan dengan beberapa hal, yaitu usia tua, penyakit, kematian, dan pertapa. Pangeran hanya tahu makna kebahagiaan itu dari kemewahan dalam Istana, wanita-wanita cantik, dan berbagai kenikmatan dunia lainnya. Sehingga pada saat ia berjalan ke luar Istana, sepanjang jalan yang akan dilaluinya harus lebih dulu dibersihkan dari ke-empat perkara yang dipantangkan untuk dilihat oleh Pangeran Siddhartha.

Namun waktu dan keadaan akhirnya mempertemukan Pangeran Siddhartha dengan semua perkara yang tidak pernah dikenalnya itu. Perjalanan keluar Istana yang telah dibersihkan sebelumnya tidak bisa menghalangi kenyataan bahwa Pangeran Siddhartha memang sudah waktunya mengenal adanya usia tua, penyakit, kematian dan pertapa. Keempat perkara itu secara tidak sengaja dilihatnya perjalanannya keluar Istana. Peristiwa itu sangat terkenal dalam sejarah kehidupan Siddhartha Gautama Sang Budha.

Apa yang dikhawatirkan Raja Suddhodana akhirnya menjadi nyata, Siddhartha Gautama akhirnya meninggalkan Istana untuk mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan dari dirinya. berbagai usaha telah ia lakukan untuk mencari kebenaran, bahkan disebutkan ia pernah ikut bertapa bersama para pertapa Hindu, tetapi tidak juga ia temukan kebenaran yang ia harapkan. Sampai pada akhirnya, pertapa Gautama melakukan samadhi di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya, “Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna.”

Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun. Dalam referensi yang penulis kemukakan di atas disebutkan bahwa pada saat mencapai pencerahan sempurna, dari tubuh Sang Siddhartha memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.

Melihat dari awal perjalanan kehidupan Siddhartha Gautama hingga ia menemukan pencerahan sempurna, saya berpikir Siddhartha Gautama adalah seorang Nabi, dan kejadian di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya adalah saat-saat dimana ia menerima wahyu untuk disampaikan dan diajarkan kepada umat manusia.

Seperti halnya juga saya temukan dalam kisah Isa Al-Masih (Nabi Isa As), Siddhartha Gautama juga tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan atas ajaran Budha yang dibawanya. Para pengikutnyalah yang kemudian mengklain bahwa ia adalah Tuhan. Keadaan ini –menurut analisa saya,– adalah suatu hal yang wajar. Pengaruh besar yang ditinggalkannya menjadikan ia sebagai panutan para pengikutnya, sehingga wajar kebesaran pengaruhnya itu menjadikan ia dituhankan oleh pengikutnya.

Keadaan seperti ini juga bisa saja terjadi Muhammad Saw dengan Islam yang dibawanya. Perbedaannya adalah, Muhammad menanamkan nilai-nilai ketuhanan (Tauhid) pada awal penyebaran ajarannya, kemudian dilanjutkan dengan memberikan contoh teladan dan ajaran bagaimana bertingkah laku dengan sesama manusia dan makhluk lainnya. Dalam konsep penyebaran ajaran agama oleh Nabi-Nabi sebelumnya, aspek ketuhahanan ini –menurut saya– disejajarkan dengan pengajaran akhlak dan etika pergaulan sesama manusia, sehingga para pengikutnya kurang mengerti eksistensi Tuhan pasca kematiannya. Sehingga sang tokohlah yang kemudian diklain sebagai Tuhan. Muhammad Saw pun bisa saja diklain sebagai Tuhan jika dalam penyebaran Islam, tidak menanamkan nilai-nilai ketuhanan (Tauhid) pada awal penyebarannya.

Para pembaca yang budiman.!!

Terima kasih telah membaca poting ini…!!! 😆 Pemikiran yang sehat dan positif hendaknya tetap menjadi panduan untuk memfilter pemikiran-pemikiran luar yang masuk ke Head dan Heart anda, termasuk Head (Pemikiran) dan Heart (Perasaan) yang tertuang dalam tulisan-tulisan di blog saya ini….. Pencarian kebenaran yang saya lakukan, ternyata akhirnya membawa saya kembali pada ajaran yang saya peluk sebelumnya, yaitu Islam, dengan keyakinan yang lebih sempurna dari sebelumnya. 🙂 Insya Allah…

Mengapa Surga berada di bawah telapak kaki Ibu?


Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”
Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya, “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?” Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan.” Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, “Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?” Dalam mimpinya Tuhan menjawab, “Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Pada wanita Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah. Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.
Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?
Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.
Dan akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”.
Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup, karena di kakinyalah kita menemukan surga.

Source

%d blogger menyukai ini: