Category Archives: Sejarah

Kontroversi Konsep Filsafat Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd


Kontroversi Konsep Filsafat
Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd

0leh

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq


Pendahuluan

Penyelidikan filsafat[1] bukanlah monopoli Yunani dan dunia barat. Pemikiran filsafat haruslah ditempatkan sebagai suatu petunjuk kegelisahan abadi umat manusia. Jika orang mengatakan bahwa sejarah pemikiran umat manusia dimulai sejak periode Thales di Yunani kuno, adalah suatu kealfaan manusia dalam mencatat perilaku sejarah umat manusia tersebut, atau justru memang harus diakui adanya kealfaan sebagai umat manusia memunculkan sejarahnya.[2]

Pada masa Rasulullah Saw, setiap permasalahan dapat langsung ditanyakan kepada beliau, tetapi sejak beliau wafat, umat Islam telah dihadapkan pada permasalahan yang menuntut mereka berpikir sendiri karena tidak ada lagi tempat mereka bertanya. Pada masa pasca wafatnya Rasulullah Saw ini saja telah lahir polarisasi umat dalam Islam pertama, yang melahirkan kelompok-kelompok umat seperti kaum Anshar, Muhajirin dan kaum kerabat Nabi.

Pada masa akhir Khulafa’ al-Rasyidin, juga lahir berbagai aliran sikap politis yang berkembang pada perbedaan ideologi teologis, seperti Khawarij, Syi’ah dan Sunni. Periode selanjutnya, atau sering disebut sebagai periode pemikiran Islam yang sistematis, dapat disebutkan berbagai kelompok yang mewakili suatu pandangan tertentu, seperti Mu’tazilah, Murji’ah, Qadariah, Jabariah dan Ahlu al-Sunnah Wa al-Jama’ah. [3]

Dari hampir semua zaman, masalah utama justru terletak pada masalah filsafat sebagai metode berpikir, yakni tentang legalitas filsafat untuk dipergunakan sebagai perangkat kerja menemukan dan mencari kebenaran. Perbedaan tersebut memuncak pada perbedaan Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.[4] Dalam makalah ini, penulis mencoba mengupas masalah kontroversi kedua tokoh sejarah tersebut dengan pendekatan sejarah.

Imam Al-Ghazali dan Pemikirannya

Imam Al-Ghazali[5] adalah seorang ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.[6] Perjalanan spiritualnya menjadikannya mempunyai satu konsep sendiri, terutama dalam bidang filsafat. Kalangan intelektual sebelum Al-Ghazali menjadikan filsafat sebagai cara untuk mencari kebenaran.[7] Pendapat mereka kemudian ditentang keras oleh Al-Ghazali.[8] Teknik pendekatan filsafat yang dibunuh oleh Al-Ghazali adalah konsep filsafat yang diutarakan oleh filosof Islam sendiri, yaitu Ibnu Sina[9] dan Al-Farabi.[10]

Dalam sejarah filsafat Islam Al-Ghazali dikenal sebagai orang yang pada mulanya syak terhadap segala-galanya. Perasaan syak ini kelihatannya timbul dalam dirinya dari pelajaran ilmu kalam atau teologi yang diperolehnya dari al-Juwaini.[11] Sebagaimana diketahui dalam Ilmu Kalam terdapat beberapa aliran yang saling bertentangan. Timbullah pertanyaan dalam diri Al-Ghazali: Aliran manakah yang bertul-betul benar diantara semua aliran itu?[12]

Pada mulanya pengetahuan filsafat dijumpai Al-Ghazali dalam hal-hal yang ditangkap dengan pancaindra, tetapi baginya kemudian ternyata bahwa pancaindra juga berdusta. Sebagai umpama sebagai berikut:

“Bayangan rumah kelihatannya tak bergerak, tetapi akhirnya ternyata berubah tempat. 
Bintang-bintang di langit kelihatannya kecil tetapi perhitungan menyatakan bahwa bintang-bintang itu lebih besar dari bumi”.

Karena tidak percaya pada panca indra lagi, kemudian dia meletakkan kepercayaan pada akal. Tetapi akal juga ternyata tidak dapat dipercaya.

Al-Ghazali mempelajari filsafat, kelihtannya untuk menyelidiki apakah pendapat-pendapat yang dimajukan oleh filosof-filosof itulah yang merupakan kebenaran. Baginya ternyata bahwa argumen-argumen yang mereka ajukan tidak kuat dan menurut keyakinannya ada yang bertentangan dengan ajaran Islam. Akhirnya ia mengambil sikap menentang terhadap filsafat.

Sebagaimana halnya dalam Ilmu Kalam, Al-Ghazali juga menjumpai argumen-argumen yang tidak kuat dalam filasafat, akhirnya dalam tasawuflah ia memperoleh apa yang dicarinya. Tasawuflah yang dapat menghilangkan rasa syak yang lama mengganggunya. Pengetahuan yang menimbulkan keyakinan akan kebenarannya bagi Al-Ghazali adalah pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari Tuhan dengan Tasawuf.[13]

Al-Ghazali tidak percaya pada filsafat, bahkan memandang filosof-filosof sebagai ahlu Al-Bida’, yaitu tersesat dalam beberapa pendalat mereka. Al-Ghazali menyalahkan filosof-filosof sebelumnya dalam beberapa pendapat berikut:[14]

  1. Tuhan tidak mempunyai sifat
  2. Tuhan mempunyai substansi basit (sederhana/simple) dan tidak mempunyai mahiah (hakekat/quiddity).
  3. Tuhan tidak mengetahui Juz’iat (perincian/particulars)
  4. Tuhan tidak diberi sifat al-Jins (Jenis/Jenus) dan Al-Fashl (differentia)
  5. Planet-planet dan bintang-bintang bergerak dengan kemauan
  6. Jiwa planet-planet mengetahui semua juz’iat.
  7. Hukum alam tak dapat berubah
  8. Pembangkitan jasmani tidak ada
  9. Alam itu tidak bermula
  10. Alam itu akan kekal

Tiga dari kesepuluh pendalat di atas, menurut Al-Ghazali membawa kepada kekufuran, yaitu:

  1. Alam kela dalam arti tak bermula
  2. Tuhan tak mengetahui perincin dari apa-apa yang terjadi di alam.
  3. Pembangkitan jasmani tak ada. [[15]]

Ibnu Rusyd dan Pemikirannya

Ibnu Rusyd[16] adalah seorang seorang hakim Istana di Cordova (Spanyol Islam)[17] yang juga dikenal sebagai dokter istana. Di samping itu ia juga seorang filosof yang mempunyai pengaruh besar di kalangan istana, terutama di zaman Sultan Abu Yusuf Ya’qub al-Mansyur (1184-1199 M).

Ibnu Rusyd hidup dalam situasi politik yang sedang berkecamuk. Pemerintahan Almurafiah digulingkan oleh golongan Almuhadiah di Marakusy pada tahun 542/1147 M, yang menaklukan Cordova pada tahun 543 H/ 1148 M.[18] Tiga orang pewarisnya dari golongan Almuhadiah, Abd al-Mu’min, Abu Ya’kub dan Abu Yusuf yang diabdi oleh Ibnu Rusyd, terkenal karena semangat berilmu dan berfilsafat mereka. Di sinilah sebenarnya awal perkenalan Ibnu Rusyd dengan dunia filsafat.

Awal keterlibatan Ibnu Rusyd dalam dunia filsafat adalah ketika Abu Ya’kub yang saat itu menjadi Amir, memerintahkannnya menuliskan ulasan-ulasan atas buku-buku Aristoteles agar buku tersebut dapat dipahami dengan mudah olehnya.[19]

Kondisi kultural pada saat itu, sebenarnya tidak begitu mendukung terhadap aktivitas filsafat Ibnu Rusyd, hanya saja pengaruhnya di kalangan istana memberikan kesempatan yang besar dalam berfilsafat. Sebagai seorang filosof, pengaruhnya di kalangan istana kurang disenangi oleh kaum ulama dan fuqaha. Sehingga, ketika terjadi peperangan antara Sultan dengan kaum Kristen, Sultan menghajatkan bantuan dari kalangan ulama dan fuqaha yang memang dikenal lebih dekat umat. Kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan oleh kaum Ulama dan Kaum Fuqaha untuk menyingkirkan Ibnu Rusyd.

Ibnu Rusyd dituduh membawa filsafat yang menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam. Maka dengan demikian, Ibnu Rusyd ditangkap dan diasingkn ke suatu tempat bernama Lucena di daerah Cordova. Bukan hanya itu saja, buku-bukunya dibakar di depan umum. Namun penderitaan dan siksaan yang diderita oleh Ibnu Rusyd tidak lama, karena Sultan memberikan pengampunan terhadapnya.[20]

Ibnu Rusyd lebih dikenal dan dihargai di Eropa Tengah daripada di Timur, dikarenakan beberapa sebab:

  1. Tulisan-tulisannya yang banyak jumlahnya itu diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan diedarkan serta dilestarikan, sedangkan teksnya yang asli dalam bahasa Arab dibakar atau dilarang diterbitkan lantaran mengandung semangat anti filsafat dan filosof.[21]
  2. Eropa pada jaman Renaissance dengan mudah menerima filsafat dan metode ilmiah sebagaimana dianut oleh Ibnu Rusyd, sedangkan di Timur, ilmu-ilmu filsafat mulai dikurbankan demi berkembangnya gerakan-gerakan mistis dan keagamaan.[22]

Sebagai seorang filosof, Ibnu Rusyd tentu saja harus melakukan pembelaan terhadap filsafat dari serangan-serangan Al-Ghazali yang menuduh kaum filosof menjadi kafir dengan berbagai pemikiran filosofis sebagaimana disebutkan di atas.

Mungkin pada masa sekarang ini soal seperti ini tidak begiru pantas dihebohkan. Tetapi pada abad ke-6 H/12 M masalah semacam itu memang sangat penting. Para filosof dituduh berbuat bid’ah (kufr) atau tidak beragama. Al-Ghazali dalam karyanya Thahafut mengutuk para filosof sebagai orang yang tidak beragama.. kalau tuduhan ini benar, maka para filosof itu berdasarkan hukum Islam, harus dihukum mati, kecuali kalau mereka mau melepaskan diri dari berfilsafat atau membuat pernyataan di depan umum bahwa mereka tidak percaya kepada ajaran-ajaran filsafat mereka. Oleh karena itu, perlulah bagi para filosof membela diri dan pendapat-pendapat mereka.[23]

Dalam risalahnya Ibnu Rusyd menyatakan bahwa filsafat diwajibkan atau paling tidak diajurkan dalam agama Islam, sebab fungsi filsafat hanyalah membuat spekulasi atas yang maujud dan memikirkannya selama membawa pada pengetahuan akan sang pencipta. Al-Qur’an memerintahkan untuk berpikir (i’tibar) dalam banyak ayat seperti: “Berpikirlah, wahai yang bisa melihat”. I’tibar merupkan suatu ungkapan Qur’ani yang berarti sesuatu yang lebih dari sekedar spekulasi tau repleksi (nazar).[24]

Ibnu Rusyd kembali ke bidang Fiqh dan membandingkan metode logika filsafat dengan metode tradisional fiqh. Dia menyebutkan prinsip fiqh berpijak pada empat sumber, yaitu Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ (konsensus) dan Qiyas (silogisme yang absah). Telah dipahami bahwa Al-Qur’an mesti ditafsirkan secara rasional, dan ijma’ merupakan buah kesepakatan secara aklamasi dari para alim pada masa tertentu, tetapi tiada konsensus pada masalah-masalah doktrinal. Karena tidak ada konsensus pada masalah-masalah doktrinal tersebut, maka Al-Ghazali, atas dasar ijma’ tidak berhak mengutuk para filosof sebagai orang-orang tidak beragama.[25]

Menurut Al-Ghazali, mereka pantas dituduh sebagai ahli bid’ah (takfir) lantaran tiga hal, yaitu ajaran mereka tentang keabadian dunia, penolakan mereka atas pengetahuan Tuhan tentang segalanya dan penolakan meraka atas kebangkitan kembali secara jasmaniah.[26] Menurut Ibnu Rusyd, agama didasarkan pada tiga prinsip yang mesti diyakini oleh setiap Muslim, yaitu eksistensi Tuhan, kenabian dan kebangkitan. Ketiga prinsip ini merupakan pokok masalah agama. Orang yang menolak prinsip yang manapun dari yang disebut di atas, berarti ialah yang pantas disebut tak beragama (kafir).[27]

Kontroversi Konsep Filsafat

Menyimak dari pemiran kedua tokoh tersebut, Al-Ghazali (450 H/1059 M–505 H/1111 M) kecewa dengan filsafat karena pengalamannya dalam dunia filsafat, dia tidak menemukan kebenaran yang dia cari. Kemudian dia menemukan bahwa pendekatan tasawuflah yang dapat menjawab semua permasalahan yang dihadapinya dalam menemukan kebenaran sebenarnya. Selanjutnya ia menentang setiap kegiatan filsafat dan mengutuk kaum filosofis sebagai orang kafir dan tak beragama. Sementara Ibnu Rusyd (520 H/1126 M–592 H/1198 M) adalah seorang yang telah terjun ke dunia filosofis Islam. Dalam posisinya sebagai seorang filosof, ia dituntut untuk membela eksistensi filsafat dari serangan-serangan Al-Ghazali yang telah menyebabkan para filosof kehilangan kekuatannya untuk meneruskan aktivitas filsafatnya.

Abdul Munir Mulkhan menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan mendasar dalam penggunaan “filsafat” sebagai metode berpikir dari kedua tokoh pemikir tersebut. Perbedaan justru terdapat pada teknik berpikirnya itu sendiri. Dan pada legalitas filsafat sebagai metode mencari kebenaran. Jika Imam Al-Ghazali menekankan pada aspek intuitif, maka Ibnu Rusyd menitik beratkan metode berpikirnya pada aspek rasional.[28]

Lebih jauh dapat dipahami bahwa Al-Ghazali lebih menekankan penetapan kebenaran berdasarkan pada penghayatan dan ketajaman perasaan yang dalam, sedangkan Ibnu Rusyd pada unsur logis dan korespondensi metode filsafat Yunani dan ajaran Islam.

Penutup

Kesimpulannya, Kontroversi Pemikiran filsafat antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, bukan terletak pada konsep filsafat, tetapi terletak pada terdapatnya perbedaan anggapan terhadap eksistensi filsafat itu sendiri. Al-Ghazali adalah orang yang menentang filsafat dan menyerang filosof dengan tuduhan “Kafir”, sementara Ibnu Rusyd adalah seorang filosof Islam yang dituntut untuk membela keberadaan filsafat


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Zaenal Abidin, Ibnu Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia, Bulan Bintang, Jakarta, 1949.

Ahwani, Ahmad Fuad Al-, Filsafat Islam, Pustaka Firdaus, Bandung, 1984

Amin, Oemar, Filsafat Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1959.

Boer, T.J. De, The History of Philosophy in Islam, Dover Publication, Inc., New York, 1967.

Daudi, Ahmad, Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1984.

Dominique, Urvoy, Ibn Rushd (Averroes): Arabic Thought and Culture, Routedge, London, 1991.

Ghazali, M. Bahri, Konsep Ilmu Menurut Al-Ghazali: Suatu Tinjauan Psikologik Pedagogik, Pedoman Ilmu Jaya, Yogyakarta, 1991.

Mansur, Laily, Ajaran dan Teladan Para Sufi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996.

Mulkhan, Abdul Munir, Mencari Tuhan dan Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai pemikiran Al-Ghazali, Bumi Aksara, Jakarta, 1992.

Munawir, Imam, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, Bina Ilmu, Surabaya, 1985.

Nasution, Harun, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1983.

___________, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Universitas Indonesia, Jakarta, 1996.

Poerwantana, et.al., Seluk beluk Filsafat Islam, Rineka Cipta, Jakarta, 1996.

Sudarsono, Filsafat Islam, Rineka Cipta, Jakarta, t.th.

Syarif, M.M., Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1994.

___________, The Philosophies: History of Muslim Philosophy, terj.: Ilyas Hasan, Mizan, Bandung, 1996.


Keterangan:
Artikel ini merupakan makalah yang saya tulis untuk tugas mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam Program Pasca Sarja IAIN Antasari Banjarmasin.

Kembali Ke:

  1. Pendahuluan
  2. Imam Al-Ghazali dan Pemikirannya
  3. Ibnu Rusyd dan Pemikirannya
  4. Kontroversi Konsep Filsafat
  5. Penutup

[1]Perkataan “Filsafat” bukanlah bahasa Arab, sebelum Islam datang, orang Arab tidak mempunyai filsafat. Meskipun mereka mempunyai Hikmah dan Hukama, mempunyai “Kebijaksanaan” dan “para Bijaksanawan”. Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1959),      h.11; Filsafat sebgai ilmu adalah sebuah sistematika pemikiran mendalam untuk mencari dan menemukan kebenaran. Sedangkan filsafat sebagai kegiatan berpikir dapat dikatakan sebagai suatu pemikiran yang mendalam dan radikal tentang segala sesuatu, Abdul Munir Mulkhan, Mencari Tuhan dan Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai pemikiran Al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), Cet. II, h. 71

[2]Ibid., h. 77.

[3]Ibid., h. 78.

[4]Ibid., h. 79.

[5]He (Al-Ghazali) was born at Tos in Khorasan in the year 1059. T.J. De Boer, The History of Philosophy in Islam, (New York: Dover Publication, Inc., 1967), h. 155; Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali. Laily Mansur, Ajaran dan Teladan Para Sufi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), h. 25; Setelah bertahun-tahun mengembara sebagai sufi ia kembali ke Thus di tahun 1105 M dan meninggal di sana pada tahun 1111 M. Lihat: Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), Cet. III., h. 43; Di dunia barat terkenal ia dengan sebutan al-Ghazel. M. Bahri Ghazali, Konsep Ilmu Menurut Al-Ghazali: Suatu Tinjauan Psikologik Pedagogik, (Yogyakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991), Cet. I h. 21.

[6]Masa hidup Al-Ghazali adalah masa munculnya aliran-aliran pemikiran di tengah-tengah masyarakat. Ibid., h. 24.

[7]Ahli-ahli filsafat Islam Banyak mempelajari filsafat Yunani, sehingga dengan demikian telah terjadi kontak antara Filsafat Yunani dengan ajaran agama Islam. Sudarsono, Filsafat Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, t.th.), h. 122.

[8]Al-Ghazali mengecam ajaran-ajaran filosof-filosof Mulism dalam bukunya Thahafut, dan metode yang digunakan adalah tasawuf. M.M. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy, terj.: Ilyas Hasan, (bandung: Mizan, 1996), Cet. VIII, h. 199.

[9]Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada tahun 980 M di Asfshana, suatu tempat dekat Bukhara. Orang tuanya adalah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman. Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya,(Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia, 1996), h. 50; Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal unik, sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu – satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad. M.M. Syarif, Para Filosof Muslim, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 101; Di bidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya dunia Islam menyanjungnya, ia memang merupakan satu bintang gemerlapan memancarkan cahaya sendiri. Lihat: Imam Munawir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985), h. 332 – 333; Lihat: Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Firdaus, 1984), h. 63.

[10]Dengan ketajaman otaknya Ibnu Sina banyak mempelajari filsafat dan cabang-cabangnya, kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru setelah ia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho-nya Al-Farabi (870-950 M), semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa dia menjadi murid yang setia dari Al-Farabi. Zaenal Abidin Ahmad, Ibnu Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1949), h. 49; Al-Ghazali demikian sengit dan keras terhadap para filosof, khususnya Al-Farabi dan Ibnu Sina, Selanjutnya Ibnu Rusyd terhadap Al-Ghazali dan terhadap Kitabnya yang berjudul Thahafut al-Falaasifah. Ahmad Daudi, Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 10.

[11]Imam al-Haramain al-Juwaini adalah Guru Besar di Madrasah al-Nizamiah Nisyafur. Lihat: Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Op.Cit., h. 41.

[12]Ibid.

[13]Lihat: Ibid., h. 42-44; Al-Ghazali memperoleh kesan bahwa orang-orang sufi (ahli Tasawuf) itu benar-benar berada di atas jalan yang benar, berakhlak baik dan mendapat pengetahuan yang tepat. Sudarsono, Op.Cit., h. 122.

[14]Al-Ghazali menghantam pendapat-pendapat filsafat Yunani, di antaranya juga Ibnu Sina c.s., dalam dua puluh masalah. Di antaranya yang terpenting ialah (1) Al-Ghazali menyerang dalil-dalil filsafat (aristoteles) tentang azalinya alam dan dunia, (2) Al-Ghazali menyerang pendapat kaum filsafat (aristoteles) tentang pastinya keabadian alam, (3) Al-Ghazali menyerang pendapat kaum filsafat bahwa Tuhan hanya mengetahui soal-soal yang besar saja dan (4) Al-Ghazali juga menentang pendapat filsafat bahwa segala sesuatu terjadi dengan kepastian hukum sebab dan akibat. Poerwantana, et.al., Seluk beluk Filsafat Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), h. 170-171.

[15]Lihat: Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Op.Cit., h. 45.

[16]Nama penuh Ibnu Rusyd ialah Abu al-Walid Muhammad ibn Muhammad ibn Rusyd, ia lahir di Cordova pada tahun 1126 M. Ibid., h. 47; Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd lahir di Cordova pada tahun 520 H/1126 M. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h. 197; Abu-l-Walid Muhammad ibn Akhmed ibn Mohammed ibn Roshd (Averroes) was born at Cordova, of Al-Ghazali family of lawyers, in the year 1126. T.J. De Boer, Op.Cit, h. 187; The twelfth-century philosopher Ibn Rushd also known as Averroes, is one of the most important philosophers of the Arab middle age. He played Al-Ghazali crucial role in the transmission of classical fhilosophy of Islam, nd his work had propound influence on western scholsticism and on aspects of renaissance thought. Urvoy Dominique, Ibn Rushd (Averroes): Arabic Thought and Culture, (London: Routedge, 1991), h. 1.

[17]Cordova terkenal sebagai pusat studi-studi filsafat. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h. 199.

[18]Ibid.

[19]Ketika Abu Ya’kub menjadi Amir, diperintahkannya Ibnu Rusyd untuk menulis ulasan-ulasan mengenai Aristoteles. Maka mulailah Ibnu Rusyd menuliskan ulasan-ulasan atas buku-buku Aristoteles. Untuk itu ia layak disebut sebagai “Juru Ulas”. Dan gelar itulah yang dikenal oleh masyarakat Eropa abad pertengahan. Ibid., h. 200-201.

[20]Orang-orang yang ahli dalam ilmu keagamaan (fuqaha dan Ulama) lebih dekat dengan massa dan terpengaruh oleh mereka. Para penguasa muslim yang membutuhkan dukungan mereka meninggalkan para filosof dan berpihak pada kepada massa yang berang. Aib dan siksaan yang diterimanya serta diusirnya dia dari tanah kelahirannya pada tahun 593 H/1196 M merupakan akibat dari pertentangan itu. Tetapi aib yang diderita oleh Ibnu Rusyd tidak berlangsung lama. Dan Al-Mansyur sekembalinya dari Marakusy, mengampuni dan memanggilnya kembali. Ibnu Rusyd pergi ke Marakusy dan dia meninggal pada tahun 595 H/1198 M. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h.  203.

[21]Dengan timbulnya pengaruh ulama dan fuqaha, kaum filosof mulai tak disenangi lagi dan buku-buku mereka dibakar. Ibnu Rusyd sendiri kemudian dipindahkan ke Maroko dan meninggal di sana dalam usia 72 tahun di tahun 1198 M. Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Op.Cit., h. 47; Tipu daya yang dilancarkan oleh kaum agamawan itu berhasil. Hal itu mengakibatkan Ibnu Rusyd bukan saja dihukum buang, tetapi juga tulisan-tulisannya dibakan dimuka umum. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h. 203.

[22]Sebenarnya ia sendiri terpengaruh oleh adanya pertentangan ilmu dan filsafat dengan agama. Agama memenagkan di Timur dan ilmu memengakan di Barat. Ibid., h. 202

[23]Ibid., h. 204.

[24]Ibid.

[25]Ibid., h. 206.

[26]Ibid.

[27]Ibid., h. 206-207.

[28]Abdul Munir Mulkhan, Op.Cit., h. 80.

Iklan

Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan


Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan

Oleh:

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq

A. Pendahuluan

Menoleh jauh ke zaman pra sejarah, masyarakat di kawasan Nusantara (Indonesia) merupakan imigran dari berbagai kawasan. Menurut Buku Sejarah yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, terjadi empat periode imigrasi besar ke kawasan Nusantara, yaitu:

  1. 3.000 tahun yang lalu (1000 SM) sejumlah besar suku Mongol berimigrasi ke Kepulauan Indonesia.[1]
  2. Imigrasi kedua terjadi pada 2.000 tahun yang lampau, sekitar abad ke-1, termasuk sejumlah suku Yun Nan yang berimigrasi ke Selatan.[2]
  3. Imigrasi besar ketiga berasal dari India, pada abad VIII[3]
  4. Imigrasi besar keempat adalah penganut agama Islam dari Arabia, di Timur Tengah. Kebanyakan di antaranya yang kini menjadi orang-orang Pakistan. Terjadi pada abad XII.[4]

Dari sini diketahui bahwa periodisasi masuknya Islam ke Indonesia, tergolong dalam empat imigrasi besar yang membentuk ekosistem sosial budaya masyarakat Indonesia, termasuk dalam periode tersebut penyebaran Islam di Kalimantan Selatan. Setelah empat periode imigrasi besar tersebut, barulah masuk bangsa kolonial Eropa yang di mulai dari bangsa Portugis,[5] Spanyol,[6] Belanda[7] dan terakhir Jepang.[8]

Dalam perjalanan sejarah Indonesia tersebut, sejarah penyebaran Islam di Indonesia mempunyai bagian penting dalam tatanan sejarah Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan sebagai bagian dalam kawasan Indonesia. Dalam konteks ini, penulis menemukan beberapa catatan sejarah mengenai pendidikan Islam. Sesuai dengan lingkup kajian mengenai sejarah pendidikan Islam, maka dalam makalah ini akan penulis sajikan pembahasan pada lingkup sejarah pendidikan Islam di Kalimantan Selatan yang akan penulis awali dengan mengupas dari sejarah awal masuknya Islam di Kalimantan Selatan.

B. Selintas Sejarah Masuknya Islam Ke Kalimantan Selatan

Menurut Helius Syamsuddin dalam bukunya Islam and Resistence in South and Centre kalimantan in The Nineteenth and Early Twentieth Centuries menerangkan bahwa Islam masuk Kalimantan Selatan dari Jawa pada abad ke XVI, ketika Sultan Demak membantu Pangeran Banjar, Pangeran Samudera, untuk menghadapi Pangeran Temenggung dalam peperangan merebut tahta kerajaan, sebagai imbalannya, Pangeran samudera bersedia untuk memeluk Islam. Dia menjadi Sultan pertama Kesultanan Banjarmasin dengan gelar Sultan Suriansyah. Konversinya itu perlahan-lahan diikuti oleh diikuti oleh para pengikutnya dan orang-orang Banjar kecuali masyarakat Dayak di daerah pedalaman.[9]

Diterangkannya pula bahwa setelah konversi Sultan Suriansyah pada Abad XVI tersebut, tidak banyak lagi diketahui mengenai proses islamisasi sesudahnya, dalam arti intensitas pengajaran Islam pada masyarakat Banjar atan secara khusus, penyebaran Islam di kalangan masyarakat Dayak padalaman pada abad-abad selanjutnya. Barulah pada abad XIX ada bukti mengenai proses ini yang berasal dari ulasan-ulasan Schwaner dan Meijer dalam bukunya Borneo. Pada awalnya islamisasi terhadap masyarakat Daway di mulai di kalangan orang Bakumpai [sub-kelompok Dayak Ngaju]. Bakumpai Marabahan yang tinggal 57 km dari Banjarmasin, sering melakukan interaksi dengan masyarakat masyarakat Banjar, terutama dalam bidang perdagangan, yang diikuti dengan perkawinan antara orang Banjar dengan orang Bakumpai, yang menyebabkan mereka masuk Islam. Setelah konversi ini, mereka menyebut diri mereka sebagai “Orang Melayu”.[10]

Encyclopedia Britannica yang diterbitkan pada tahun 1963 mencatatkan bahwa bahasa Melayu menjadi bahasa bagi penduduk asli di semenanjung Tanah Melayu, di pantai timur Sumatera, di seluruh pantai Borneo (Kalimantan), di kepulauan Riau, di Bangka, di Belitung, dan di Natuna Besar.[11] D.J. Prentice berpendapat bahawa daerah penutur asli bahasa Melayu ialah di kawasan Tanah Melayu sehingga selatan Thailand (Pattani), di sepanjang pantai timur Sumatera, di kepulauan Riau, di sepanjang pesisir Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur, di Brunei, di pantai barat Sabah, di Sarawak, di Singapura, di Jakarta, di Larantuka, di Kupang, di Makasar, di Menado, di Ternate, di Banda, dan di Ambon. Selain wilayah Melayu, ternyata bahwa bahasa Melayu pun dapat ditemukan di Sri Lanka dan di Afrika Selatan.[12]

C. Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan

Tidak banyak catatan yang memberikan deskripsi sehubungan dengan sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan ini. Dari sekian literatur yang penulis temukan mengenai sejarah pendidikan di Kalimantan Selatan, pada umumnya merujuk pada tokoh Besar Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Hal ini menurut penulis cukup beralasan, karena sebagaimana diungkapkan Gubernur Kalsel Drs HM Sjahriel Darham bahwa Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari memiliki pemikiran-pemikiran yang sangat luar biasa pada kurun waktu 1710 sampai 1821 M, sampai mendapatkan gelar “Matahari Islam dari Kalimantan” dari Menteri Agama Republik Indonesia periode 1962-1967.

Hal ini menyangkut karyanya yang sangat monumental pada kitab Sabillah Muhtadin perlu terus diteladani, mengingat pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari mampu mendorong fenomena religius yang memberikan arti terhadap pengisian khazanah perkembangan agama Islam.[13]

Dalam beberapa sumber yang penulis dapatkan, usaha pendidikan Islam yang diupayakan oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dapat diklasifikasi menjadi tiga, yaitu pengakderan ulama, pengajaran terhadap masyarakat dan pendirian madrasah.

  1. Mengkader Ulama

Saat menunggu musim haji Syekh Arsyad kembali menemukan malam penuh berkah Lailatul Qadr. Saat itu beliau memohon kepada Tuhan, agar diberikan ilmu yang akan berlanjut sampai ke anak cucu tujuh turunan, bahkan turun temurun. Permohonan itu dikabulkan Tuhan. Banyak anak cucu dan zuriat beliau sampai sekarang dikenal sebagai tokoh panutan, menjadi orang alim atau ulama besar. Ada pula yang menjabat mufti semasa kerajaan Banjar dan masa pemerintahan Belanda.

Buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya perumpamaan itu berlaku pula pada diri Syekh Arsyad. Banyak anak cucu keturunan beliau menjadi orang yang ternama, terutama di bidang agama yang namanya tetap dikenang sampai sekarang, beberapa diantaranya adalah:

  1. Mufti H. Muhammad As’ad[14]
  2. Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis[15]
  3. Mufti H. Muhammad Arsyad bin H. M. As’ad[16]
  4. H. Abdul Rahman Siddiq bin Shafura.[17]
  5. H. Sa’duddin bin Mufti H. Muhammad As’ad.[18]
  6. Kadi H. Abu Su’ud bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.[19]
  7. H. M. Syarwani Abdan bin H. M. Yusuf.[20]
  8. H. Muhammad Khatib bin Mufti H. Ahmad.[21]
  9. Mufti H. Jamaludin.[22]
  10. Guru H. Zainal Ilmi bin H. Abdus Samad.[23]
  11. H. Zaini Abd. Ghani bin Abd. Ghani.[24]

Di antara kadernya yang lain, bukan keturunannya adalah:

  1. Syekh Muhammad Saleh bin Murid Ar-Rawa, penyusun kitab Fathul Mubin, suatu sarah dan terjemahan hadits Arba’in Imam Nawawi yang kedua kali dalam bahasa Melayu. Syekh Muhammad Saleh adalah penganut Khalwatiyah-Sammaniyah dan Tarikat Sariliyah.
  2. H. Abd. Ghoni yakni seorang yang menyebarkan Islam di Pontianak di Kalimantan Barat.[25]
  3. Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidillah yang mendapat didikan khusus dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, sehingga menjadi raja yang tinggi cita-citanya, cerdas pandai, berbicara dengan petah (ramah dan lembut), mempunyai pikiran yang bersih dan ilmu pengetahuan yang dalam.[26]

Banyak lagi murid-murid yang lain, yang tersebar di berbagai daerah Kalimantan Selatan atau Kalimantan secara keseluruhan bahkan menyebar ke seluruh Nusantara.

  1. Mendidik Masyarakat

Syekh Arsyad memahami betul bahwa mendidik masyarakat akan sangat efektif jika dimulai dengan berintegrasi dengan kekuasaan, Syekh Arsyad sebagai ulama yang telah berhasil menyatukan sultan sebagai elit penguasa dengan rakyatnya atas dasar ikatan ajaran Islam, sehingga tidak adanya jarak memisah, baik antara sultan dengan rakyat maupun antara umara dengan ulama. Hal ini bisa dicapai karena sistem pendekatan yang beliau lakukan beranjak dari bawah, baru setelah itu kepada penguasa atau sultan. Di samping itu memang sejak awalnya hubungan antara sultan dengan Syekh Muhammad Arsyad terjalin dengan baik.

Sebagai contoh, hukum waris dan pernikahan yang semula tidak berdasarkan kepada hukum Islam, secara perlahan dapat dirubah ketentuan-ketentuan hukum Islam yang memakai pedoman kitab Sabilal Muhtadin. Kalau sebelumnya sebahagian sultan sangat terkenal memelihara berpuluh-puluh gundik di dalam istana, maka atas nasehat Syekh Muhammad Arsyad, sultan menikah menurut ketentuan hukum Islam.

Di dalam kerajaan Banjar, hukum Had sempat pula diperlakukan kepada orang lain yang membunuh, murtad dan berziarah sebagai realisasi dari pada penerapan hukum Islam.

Misalnya hukum Had yang telah dijatuhkan kepada Haji Abdul Hamid yang telah mengajarkan Ilmu tasawuf kearah ajaran Wihdatul Wujud yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam. Haji Abdul Hamid mengajarkan bahwa.”Tiada maujud melainkan Dia, tiada wujud yang lainnya, tiada aku melainkan Dia, Dialah aku adalah Dia.” Dia juga mengatakan bahwa pelajaran syariat yang diajarkan selama ini hanyalah kulit saja belum sampai pada hakekat.[27]

Mendengar ajaran dan keterangan yang demikian, timbullah perselisihan faham di dalam masyarakat, untuk menjernihkan suasana, maka dipanggillah Haji Abdul Hamid ke istana untuk menghadap sultan. Namun dijawab oleh Haji Abdul hamid bahwa: “Tuhan tidak ada, yang ada hanya Abdul Hamid.” Akhirnya sultan menyerahkan permasalahan itu kepada Syekh Muhammad Arsyad unutk menyelesaikannya. Setelah meneliti persoalan itu secara cermat, barulah beliau mengambil kesimpulan bahwa ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh Haji Abdul Hamid dapat menyesatkan orang awam dan membawa kepada syirik. Melenyapkan seseorang untuk menyelematkan orang banyak dibolehkan menurut hukum, bahkan terkadang diwajibkan. Dengan kesimpulan yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Arsyad ini, maka sultan mengambil keputusan untuk menghukum bunuh Haji Abdul Hamid.[28]

Untuk melaksanakan hukum Islam secara riil di kerajan Banjar tidak mungkin tanpa adanya suatu lembaga hukum yang mengatur dan melaksanakannya. Oleh sebab itu maka dibentuklah Mahkamah Syar’iyah suatu lembaga pengadilan agama yang dipimpin oleh seorang mufti sebagai ketua hakim tertinggi pengawas pengadilan umum.[29]

Lembaga Qadhi ini kemudian berkembang menjadi kerapatan Qadhi dan sekarang berubah lagi menjadi Pengadilan Agama Tingkat Pertama dan Tingkat Banding, Pengadilan Agama Tingkat Banding berkedudukan di Banjarmasin sebagai penjelmaan dari terapan Qadhi Besar Banjarmasin.[30]

Hal ini memang telah jelas terlihat di dalam undang-undang Sultan Adam pasal 7 dan 8 yang membicarakan tentang tugas mufti.[31]

Melihat pentingnya peran lembaga hukum di dalam mengatur dan menjalankan hukum di dalam wilayah kerajaan Banjar, maka betapa besar jasa yang telah diberikan oleh Syekh Muhammad Arsyad di dalam kerajaan Banjar. Hal ini membuktikan bahwa Syekh Muhammad Arsyad telah mampu memasukkan ajaran-ajaran Islam di dalam peraturan pemerintah dan juga sebagai bukti adanya kerjasama yang baik antara Syekh Muhammad Arsyad dengan Sultan pada waktu itu.bentuk lain dari integrasi Syekh Arsyad dengan masyarakat lewat pendidikan dalam rangka mensejahterakan masyarakat. hal ini dimulai Syekh Arsyad dengan upaya meningkatkan kecerdasan dengan berupaya memberantas kebodohan sekaligus mengangkatnya dari lembah kemiskinan.

Kuatnya Syekh Arsyad dalam memberantas kebodohan dan mengangkat masyarakat dari kemiskinan khususnya bagi Ilmu agama dapat diketahui dari surat balasan yang dilayangkan kepada sahabatnya saat bermukim di Mekah, yaitu Syekh Abdul Samad Palembani.

Surat yang dikirim rekan dari Sumatra tersebut, berisi ajaran Syekh Arsyad berjihad fii sabilillah melawan umat yang beragama Budha di Siam. Namun ajakan rekannya tersebut gayung tak bersambut, bahkan dirinya pun sedang berperang.

Syekh Arsyad berperang melawan kebodohan seperti buta huruf dan agama membasmi syirik, khurafat, tahyul dan memerangi kemiskinan termasuk miskin Ilmu agama. KH. Jumri bin Haji Roys dalam bukunya berjudul Sejarah Kerajaan Banjar, menyatakan Syekh Arsyad berpendapat memerangi kebodohan dan kemiskinan pahalanya lebih besar atau lebih utama dari jihad fi sabilillah, dalam arti sempit yaitu berperang secara fisik.[32]

  1. Mendirikan Madrasah

Dalam lapangan pendidikan dan sistem penyebaran agama Islam tidak ditemukan adanya lembaga khusus yang terdapat seperti sekarang ini, meskipun berbentuk pesantren. Pendidikan hanya diberikan dalam lingkungan keluarga masing-masing dan ilmu-ilmu tertentu yang diperlukan dalam kehidupan, diperoleh dengan berguru kepada seseorang yang dianggap ahli secara individual. Hal demikian juga dilakukan di keraton, sebagaimana yang terjadi pada masa Syekh Arsyad tinggal di keraton karena Syekh Arsyad mulai melakukan dengan membuka sebuah perkampungan baru tempat mendirikan sebuah lembaga pendidikan.

Kepulangan Syekh Arsyad di Martapura disambut dengan upacara penyambutan,[33] karena sangat dinanti-nantikan pada waktu itu. Di keraton kesultanan ramailah sertiap hari karena masyarakat selalu mengunjunginya, untuk meminta nasehat atau mendengar ceramahnya, terkadang juga menanyakan berbagai masalah keagamaan, sebab pada masa itu tidak banyak ulama atau guru di daerah Banjar, apalagi yang mempunyai keilmuan yang sebanding dengan Syekh Arsyad.

Dengan melihat kecenderungan masyarakat terhadap pengetahuan, yang kian hari semakin bertambah mereka yang datang. Maka Syekh Arsyad mempunyai gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan secara tersendiri agar lebih terkoordinir, sehingga baik masyarakat umum maupun kalangan zuriatnya sendiri yang mengkhususkan untuk belajar dapat dilaksanakan.

Kemudian gagasan tersebut Syekh Arsyad sampaikan kepada sultan dan sultan sendiri menyambut baik ide yang disampaikan Syekh Arsyad, sebab sultan sendiri yang berkuasa saat itu mengaku murid beliau.[34] Maka tak mengherankan secara langsung menawarkan kepada Syekh Arsyad untuk memilih tempat yang sesuai dengan kondisi lembaga yang dikehendaki Syekh Arsyad tersebut.

Dengan sebuah tanah kosong yang telah diberikan sultan didirikan sebuah lembaga pendidikan. Tanah yang dipilih Syekh Arsyad untuk mendirikan lembaga tersebut berada di sekitar 5 Kilometer. dari keraton kesultanan (Martapura), yaitu di pinggir Sungai Martapura yang membentang dari Riam Kanan dan Riam Kiri menuju Banjarmasin. Tanah tersebut merupakan hutan belukar yang bisa digunakan adalah Jukung (perahu kecil) melalui sungai untuk menuju ke lokasi tersebut. Maka setelah ditebangi pepohonan didirikan beberapa buah bangunan, sebagaimana telah dikemukakan Zafry Zamzam bahwa “Syekh Arsyad mendirikan lembaga pendidikan dengan menyediakan pondok-pondok bagi penuntut ilmu yang berdatangan dari berbagai daerah.”[35] Menurut Yusuf Khalidi bahwa bangunan tersebut terdiri dari rumah istrinya sebanyak tiga buah, kemudian langgar dan perpustakaan yang sekaligus menjadi balai pengajian dan beberapa asrama santri yang tinggal di sana.

Kemudian di muka dan di samping lingkungan bangunan dibuatkan pagar sebagai perbatasan. Dari perkembangan lembaga tersebut jadilah sekarang ini kampung yang bernama kampung Dalam Pagar. Istilah Dalam Pagar tersebut karena batas pagar yang dibuat Syekh Arsyad untuk menjaga murid-murid agar tidak keluar masuk semaunya, juga setiap orang yang ingin berkunjung ke tempat Syekh Arsyad atau datang dari Dalam Pagar. Sekarang kampung dalam pagar sudah terbagi dua kampung yaitu Dalam Pagar Hulu inilah yang semula sebagai tempat lembaga pendidikan Syekh Arsyad, dimana sekarang adanya lembaga pendidikan Sullamul Ulum dan Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Dengan adanya lembaga pendidikan yang didirikan Syekh Arsyad pada waktu itu, sebenarnya merupakan yang pertama untuk daerah Kerajaan Banjar, karena bagaimana dikatakan sebelumnya tidak ada suatu lembaga yang jelas sebagai tempat pendidikan, seperti dikatakan oleh Shagir Abdullah bahwa:

“….sebagaimana method dan dakwah Islam masih kurang diketahui data-datanya. Setelah pulangnya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari Mekah barulah ada sistem secara ampuh dan kokoh…..”[36]

Maka dengan demikian Arsyadlah pelopor dalam pendirian lembaga pendidikan model pondok pesantren di daerah Banjar. Dalam waktu kurang 20 tahun lembaga pendidikan tersebut sudah mampu mempunyai lulusan yang berkualitas. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan lulusan tersebut untuk diterjunkan sebagai pendidik dan pendakwah, sebagai pewaris generasi tua terutama dari kalangan zuriatnya sendiri yaitu Muhammad As’ad dan Fatimah dua bersaudara dari Syekh Arsyad. Namun dengan hasil tersebut bukan berarti Syekh Arsyad sudah menyerahkan begitu saja tongkat kepemimpinan dalam lembaga tersebut, akan tetapi terus mengupayakan agar bagaimana lebih tepatnya digunakan. Melihat kedatangan orang-orang yang kian hari semakin bertambah untuk belajar di tempat tersebut, maka sementara waktu kedua lulusan itu ia jadikan sebagai pendamping dalam lembaga pendidikan untuk memberikan pengajaran kepada murid-murid yang mempelajari ilmu-ilmu agama dalam tahap permulaan atau sebagian ilmu alat seperti Bahasa Arab (Nahwu, Syaraf dan sebagainya) untuk murid laki-laki Syekh Arsyad memberikan kepercayaan kepada Muhammad As’ad, sedangkan untuk pengajaran kaum wanitanya diberikan kepercayaan kepada Fatimah.[37]

Mencermati pendidikan Syekh Arsyad, kita bisa melihat pengembangan secara sistematik dari paradigma sampai praktis, dalam paradigma dia mengembangkan orientasi baru meskipun tidak radikal tetapi cukup membuat bergeser dari padigma lama yang cenderung pada pengembangan rohaniah-ukhrawi semata-mata berubah menjadi padigma baru yang tidak saja mengembangkan aspek rohaniah-ukhrawi melainkan juga memberi perhatian besar terhadap pengembangan aspek rohaniah-duniawi, di samping itu ia juga melakukan perubahan cukup mendasar dari tasawuf yang asosial dan penuh spekulasi-spekulasi Illahiyah yang membahayakan dan sangat anti syariat bahkan dianggap sebagai hijab penghalang pertemuan hamba dengan Tuhan, mengganti dengan pengharmonisan hubungan tasawuf dengan syariat yang saling menerima dan memberi satu sama yang lain, karena keduanya merupakan kesatuan utuh yang tak bisa dipisahkan satu sama lain yang ibarat sebuah koin yang mempunyai dua sisi, salah satu sisi rusak membuat sisi lain tidak berguna.

Dari aspek institusi Syekh Arsyad telah mengembangkan institusi pendidikan yang sebelumnya sangat sederhana hanya semacam pengajian di langgar, mesjid, rumah kepala desa, rumah guru dan rumah tatuha menjadi institusi pendidikan yang cukup lengkap yang bisa dikatakan semacam pesantren atau surau yang ada asrama murid tempat belajar perpustakaan rumah guru, aula pertemuan dan sebagainya, bahkan institusi ini diciptakan lingkungan kerja sehingga murid-muridnya bisa belajar sambil bekerja, dari aspek metodologi Syekh Arsyad juga melakukan perluasan yang cukup signifikan sebelumnya metodologi pendidikan sangat sederhana hanya metode halakoh, di mana guru mengajar dikelilingi oleh murid-muridnya tanpa ada diskusi yang terbuka. Setelah Syekh Arsyad datang dan berperan dalam pendidikan ia mengembangkan metodologi yang tidak halakoh semata-mata, tetapi juga ada metode ceramah yang biasanya banyak ia lakukan di langgar, pesantren dan balai perpustakaan.[38] Kemudian ia juga menerapkan metode tanya jawab dimana bisa ia bertanya murid-murid yang menjawab, atau sebaliknya murid-murid bertanya ia menjawab. Hal ini terlihat pada karyanya yaitu kitab Sabilal Muhtadin dan Tuh Faturragibin, sebagai contoh:

مَسَالَهْ: جِيْكَا تِيَدَا مَلِيْهَةْ إِيَ  أَكَنْ دَارَهْ نِيْفَسْ سَكَلِي كَلِي أَدَاكَهْ هَارُسْ بَاكِى سُوَامِيْثَ مَوَطَ دَارِ فَدَ مَنْدِي أَتَوْ تَيَمُمْ.

Masalah:  ”Jika tak melihat sedikitpun darah nifas haruskah suaminya menyuruh dia mandi atau tayamum.”[39]

Pernyataan demikian dalam tiap pengajaran Syekh Arsyad sering kali diberikan masalah kemudian dilontarkan, apabila tidak ada satupun yang dapat menjawab dengan tepat barulah ia memberikan arahan.

Contoh yang lain:

سُأَلْ         : بَرَفَ فَرْكَرَ رُكُنْ تَوْبَةْ يَغْ مَغْكُوْكُرْكَنْ دُوْسَا؟

جَاوَبْ       : أَدَافُنْ رُكُنْ تَوْبَةْ يَغْ مَغْكُوكُرْكَنْ دُوْسَا إِيْتُوْ تِيْكَا فُرْكَارَ.

Soal       :“Berapakah rukun taubat yang mennghapuskan dosa.

Jawab    :”Rukun taubat yang menghapuskan dosa ada tiga perkara”[40]

Hal ini lebih menunjukkan lagi bahwa tanya jawab bagi Syekh Arsyad merupakan satu yang sangat penting dalam pendidikan.

Di samping itu ia juga menerapkan metode memberikan contoh, di mana para muridnya mencatat penyampaian yang dia berikan disela-sela kitab yang dibaca. Selanjutnya ia juga memakai metode Takhasus di mana murid-murid yang berbakat dalam bidang tertentu terutama tasawuf, ia bimbing secara khusus dalam waktu yang tertentu pula, selain itu ia juga menerapkan metode belajar sambil bekerja di mana kebanyakan muridnya meskipun belajar secara rukun tetapi diberi juga tugas untuk bekerja di sawah sebagai petani atau diperkampungan Dalam Pagar.

Dari aspek isi atau materi Syekh Arsyad mengembangkan sedemikian jauh dari sebelumnya. Kalau dahulu materi pendidikan terbatas pada pengajaran Al-Quran, sedikit tentang fiqih (terutama pelajaran shalat, wudhu dan azan) dan cukup mendalam pelajaran tasawuf, namun sayangnya sudah tanpa kendali syariat. Setelah zaman Syekh Arsyad materi pendidikan tidak sekedar belajar Al-Quran tetapi sekaligus pelajaran tafsir, tajwid, qira’at, khat, kaligrafi, juga bahasa Arab dengan berbagai seluk-beluknya. Dalam fiqih tidak semata-mata pelajaran shalat, wudhu dan azan tetapi juga mencakup seluruh aspek ibadah dan muamallah. Dalam bidang aqidah juga diajarkan oleh Syekh Arsyad terutama aqidah yang beraliran Ahwalul Sunnah Waljama’ah yang sebelumnya tidak diabaikan. Dalam tasawuf ia membawa angin baru semacam ajaran tasawuf yang sudah diperbaharui yakni non-sufisme dalam tarikat yang mengharmoniskan antara tasawuf palsafi dan tasawuf amali (ajaran Ibnul Arabi dengan ajaran Al-Ghazali), antara zuhud dan jihad. Selain itu ia juga mengajarkan ilmu falak, keterampilan berdagang, keterampilan bertani dan keterampilan berpolitik terutama sebagai mufti dan qadhi.

Dalam tinjauan kekinian, nilai-nilai sejarah dalam pendidikan Islam di Kalimantan Selatan masih meninggalkan kesan yang cukup monumental. Martapura sebagai ibukota Kotamadya Banjar[41] diberi gelar Kota Serambi Mekkah. Marwah ini tidak lepas dari peran pesantren, seperti yang diungkapkan KH. Abdul Syukur dalam buku Kota Serambi Mekkah, bahwa secara kuantitatif Martapura mempunyai pesantren lebih banyak dibandingkan daerah lainnya di Kalimantan Selatan. Adapun pesantren tertua dan sangat terkenal adalah Pesantren Darussalam.[42]

Dalam sebuah buku bertajuk biografi Ny. Hj. Asmah Sjachruni diberikan gambaran nilai pendidikan Islam dalam aspek sosiologis pada awal masa pasca kemerdekaan Indonesia. Dalam buku tersebut dikutib perkataan Ny. Hj. Asmah Sjahruni sebagai berikut:

“Pendidikan kala itu sangat terbatas. Untuk pendidikan agama orang bisa menambahnya di surau,atau semacam pesantren. Ayah telah mengajarkan saya bagaimana membaca al-Qur`an dengan baik. Ayah juga mengajarkan saya fiqih dan tauhid secara dasar. Untuk pendidikan umum (Sekolah Rakyat) Lima Tahun yang dibuat dua jenjang. Pertama hingga kelas tiga dan mendapat ijazah. Lantas dilanjutkan jenjang kedua kelas empat dan lima.”[43]

Periode terakhir perkembangan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan, barangkali masih dapat dirasakan. Banyak perkembangan dan pengembangan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan ini. Salah satunya di sini penulis kemukakan sebuah berita pada harian Banjarmasin Post edisi tanggal 1 Juli 2002 sebagai berikut:

“Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mukarramah, Sungai Danau, Kecamatan Satui, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, bermaksud membangun sarana dan prasarana pendidikan serta sosial (Pensos) terbesar untuk wilayah Kalimantan.”[44]

Salah satu contoh lainnya,

D. Penutup

Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan dalam lintasan sejarah mempunyai kebanggan tersendiri, dengan terbitnya seorang yang mendapat gelar “Matahari Islam dari Kalimantan”. Akankah cahaya matahari pendidikan itu akan tetap menerangi jejak langkah pendidikan Islam sekarang?

Artikel ini merupakan Makalah yang saya tulis untuk mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam (Program Pasca Sarjana IAIN Antasari Banjarmasin)

RESUME:


[1]Rute perjalanan suku Mongol ini mula-mula ke Han Chong (daratan Cina Tengah), kemudian Yun Nan, Thailand, Semenanjung Malaka, Sumatra, Jawa, akhirnya tersebar ke Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Kepulauan lainnya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Pendidikan Sejarah, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), h. 74.

[2]Suku Yun Nan sebenarnya adalah suku Mongol yang mula-mula, setelah imigrasi ke Selatan berbaur dengan suku setempat. Jalur perjalanan imigran kedua ini sama dengan yang pertama. Alasan imigrasi adalah karena kekacauan akibat peperangan, perdagangan, mencari tempat tinggal yang lebih aman dan sejahtera. Ibid, h. 75.

[3]Mereka memakai jalur darat dan laut: Lautan Hindia, Thailand, Myanmar ke Sumatra, Jawa, dan kemudian pada abad ke-2 mendirikan Kerajaan Prambanan di Jawa Tengah. Sampai pada abad ke 8, penganut agama Budha dari Cina dan India datang dan mendirikan Kerajaan Sriwijaya di Palembang, Sumatra Selatan. Ibid.

[4]Pada abad ke-12, dengan amanat untuk menaklukkan dunia bagi Islam, mereka datang ke Aceh, Sumatra Utara, Kalimantan, kemudian ke Selatan, tiba di Pulau Jawa, dan mendirikan Kesultanan Banten. Sesudah itu ekspansi ke Timur Laut menaklukkan Sulawesi, dan ke Utara sampai ke Pulau Mindanao, Filipina Selatan. Pada abad ke-15, tentara Spanyol menaklukkan Pulau Luzon, kemudian ke Selatan menghambat rencana ekspansi Islam ke utara ke Pulau Luzon itu. Ibid., h. 76. Keterangan mengenai empat periode imigrasi besar tersebut juga bisa dilihat dalam buku Dr. Peter Wongso, Hamba Tuhan dan Jemaat Kristus Yang Melintas Jaman, (Jakarta: Seminar Al-Kitab Asia Tenggara [TAAT], 1997), h. 52.

[5]Kolonialisme Eropa Barat pertama yang berekspansi ke Timur adalah Portugis, yang mulai menaklukkan Goa di pantai Barat India, kemudian menyeberangi selat Malaka di Lautan Hindia, tiba di Pulau Jawa, memerintah Indonesia selama kurang lebih 100 tahun lamanya. Ibid., h. 60.

[6]Bangsa Spayol menjajah pulau Luzon. Ibid., h. 61.

[7]Pada abad ke-16, Belanda menyerang Indonesia, mengusir Portugis dan menjajah Indonesia selama 350 tahun lamanya. Ibid.

[8]Lihat: Ibid., h. 67.

[9]Helius Syamsuddin, Islam and Resistence in South and Centre kalimantan in The Nineteenth and Early Twentieth Centuries, Terj.: Najib Kaelani dan Muhammad Faqih De Ridha, Islam dan Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Tengah Pada Abad 19 dan Awal Abad 20, (Banjarmasin: Pusat Studi dan Pengembangan Borneo, 2002), h. 1.

[10]Ibid., h. 2; Pada Masa itu, Melayu begitu bersinonim dengan Islam, sehingga ada anggapan bahwa kalau seseorang itu Melayu, dia mestilah Islam. Sekarang, nampaknya tanggapan itu telah bergeser kerana tidak dapat dinafikan bahwa ada sebilangan kecil orang Melayu yang bukan Islam lagi. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa bahasa dan bangsa Melayu telah tersebar bukan sahaja di Asia Tenggara, malah di luar dunia Melayu. Menurut C.A. Mess, bahasa Melayu terdapat di Tanah Melayu, di pantai timur laut Sumatera, di kepulauan Riau, di Palembang, di Kampar, di Jambi, di Medan, serta di pantai Kalimantan. Lihat: C.A. Mess, Ranah Melayu, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 98; Menurut R.O. Winstedt, bahasa Melayu terdapat di semenanjung Tanah Melayu, termasuk di negeri Selat, di Pattani, di kepulauan Riau, di pantai timur Sumatera, dan di pantai barat Borneo. Lihat: R.O. Winstedt, Asian and Indonesian, (London: Oxport University, 1979), h. 233.

[11]Willian Benton, Encyclopedia Britannica, (USA: Encyclopaedia Britannica, Inc., 1979), h. 365.

[12]D.J. Prentice, Peradaban Malaka, (Serawak, Malaysia: Al-Maktabatul-Kaber, t.th.), h. 106.

[13]Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Tak Dimakan Sejarah, (Banjarmasin: Bpost, 2003) Edisi. 6 Oktober 2003, h. 5.

[14]Cucu pertama Syekh Arsyad yang mewarisi ilmu langsung dari kakeknya, hapal Al Quran, menguasai Tafsir, Hadist dan Fiqih, serta menjabat mufti pertama di kerajaan Banjar. Ibunya Syarifah yang kawin dengan Usman. Re Nadalsyah, Buah yang jatuh Tidak Akan Jauh Dari Pohonnya, Banjarmasin Post, (Banjarmasin), 16 Mei 1997, h. 4.

[15]Ulama perempuan dan adik seibu Muhammad As’ad yang juga mewarisi pengetahuan kakeknya, Fatimah dikenal dengan karyanya Kitab Parukuanan Besar. buku ini sampai sekarang masih digunakan sebagai dasar belajar fiqih dan tersebar sampai ke Malaysia, Vietnam dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Ibid.

[16]Anak keempat Mufti H. M. As’ad cicit Syekh Muhammad Arsyad yang dikenal dengan julukan mufti lamak, pernah belajar beberapa tahun di Mekah dengan ulama besar di zamannya. Diangkat menjadi mufti kerajaan Banjar. Di antara murid beliau, sultan Adam Al-Waiq Billah. Ibid.

[17]Zuriat kelima dari pihak ibu dan generasi keempat dari pihak nenek ulama terkenal yang banyak menulis kitab dalam bahasa melayu bukunya Syaratul Arsyadiyah dijadikan rujukan untuk mengetahui silsilah Sekh Muhammad Arsyad yang tersebar sampai di Malaysia, Brunei, Fathani dan sebagainya. Belajar di Mekah setelah pulang berangkat ke Sapat Tanbilanan diminta masyarakat disana. Diangkat sebagai mufti wilayah Indragiri. Beliau menunjuk Tuan Guru H. Anang (Zainal Ilmi sebagai pengganti mengajar di dalam pagar). Ibid.

[18]Cicit kelima yang mewarisi ilmu dari orang tua dan datuknya, menguasai ilmu syariat dan hakikat. Sejak kecil mendampingi orang tua berdakwah. Selama lebih kurang 10 tahun belajar di Mekah. Setelah pulang memberikan pelajaran dan pemurah dan berani memberantas kebathilan bahkan menolak jabatan mufti untuk menggantikan kakaknya Mufti H. Muhammad Arsyad. Ibid.

[19]Anak Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari istri Tuan Bidur mewarisi pelajaran dari orang tua, menjadi qadhi pertama dan guru sultan Sulaiman. Pernah tinggal di Kedah, Malaysia atas permintaan masyarakat kawin dan membuka pengajian. Ibid.

[20]Keturunan beliau itu menguasai ilmu tarikat Nasysyabandiyah dan Sammaiah belajar dari ulama terkenal, Syekh Muhammad Amin qutbi dan Ali bin Abdullah Al-Banjari untuk ilmu tasawuf. Membuka pengajian di Bangil yang disebut Pondok Pesantren Datuk Kalampayan. Muridnya banyak menjadi ulama yang tersebar di Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Ibid.

[21]Terkenal dengan kesederhanaannya Mansyur sebagai wali setelah meninggal karena kuatnya kemanakan beliau, H. Abd. Rahman Siddiq menyimpan rahasia ketika Mufti H. Abd. Rahman Siddiq belajar di Mekah sering melihat beliau tawaf keliling Ka’bah padahal paman beliau itu berada di Banjar (Martapura). Ibid.

[22]Terkenal sebagai ulama pemurah, ramah dan disegani masyarakat, termasuk pejabat pemerintah Belanda. Beberapa tahun belajar di Mekah bersama paman beliau ulama Besar Syekh Muhammad Athailah. Mufti yang selalu berusaha meningkatkan syiar Islam dan kemudahan beribadah. Beliau mengukir makam Syekh Muhammad Arsyad dengan kaligrafi yang indah. Dimakamkan di depan rumah beliau yang terkenal dengan nama kubah di Sungai Jingah. Ibid.

[23]Ulama yang berpengaruh dalam masyarakat dan pejabat pemerintah di Kabupaten Banjar baik sipil maupun ABRI. Di antara guru beliau yang terkenal ialah Mufti H. Abd. Rahman Siddiq, yang menunjuknya pengganti mengajar karena keberangkatan beliau Ke Sapat Tambilahan Riau. Terkenal keramat beliau sewaktu terjadi kebakaran begitu pula tanda-tanda saat beliau wafat, kuburan beliau berada di sebelah kanan bangunan makam Syekh Muhammad Arsyad A-Banjari di desa Kalampayan Martapura. Ibid.

[24]Keturunan Syekh Muhammad Arsyad yang paling dicintai masyarakat dan terkenal pula di kalangan petinggi pemerintah memiliki kemampuan berkomunikasi dengan seluruh kalangan dan menguasai berbagai disiplin Ilmu agama termasuk tasawuf dan Ilmu tarikat. Pengajian di Sekumpul Martapura selalu dihadiri ratusan muslimin dari berbagai penjuru Kalimantan Selatan. Beliau memiliki berbagai keramat seperti mendatangkan buah rambutan sebelum musimnya juga memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit. Menelorkan beberapa karya tulis antara lain Manakip Syekh Muhammad Saman Al-Madhani dan Risalah Nuraniyah. Ibid.

[25]Ia seorang ulama besar yang disegani dan disayangi oleh segenap masyarakat Pontianak. Abu Daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Dalam Pagar: Sullamul Ulum, 1996), h. 63-64.

[26]Dialah yang menguasai Negeri Banjar, yang selalu berusaha memperbaiki urusan agama dan dunia, pimpinan yang benar dan ikutan yang mulia. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Sabilal Al-Muhtadin lil Al-Tafaqquh fi Amr Al-Din, (Mesir: Darun Ahya, t.th.), Cet. III, h. 3.

[27]Abu daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Tuan Haji Besar, (Martapura: Sullamul Ulum, 1980), h. 48.

[28]Dr. Karel. A. Steenbrink menilai bahwa, peristiwa yang terjadi di atas kemungkinan besar cerita ini versi Banjar saja dari cerita Syekh Siti Jenar dan cerita Siti Jenar pun sebenarnya juga hanya merupakan versi Jawa riwayat tentang Al-Hajjaj. Steenbrink beralasan bahwa antara Banjar dan Jawa mempunyai hubungan yang sangat erat, sehingga Banjar mendapat pengaruh dari Jawa. Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, (Jakarta: Bulan bintang, 1984), h. 49.

[29]Lembaga ini mengurusi masalah-masalah keagamaan yang timbul dalam masyarakat, agar senantiasa terpimpin kepada kebenaran umum. Mufti sebagai ketua Mahkamah Syar’iyah didampingi oleh seorang Qadhi yang berfungsi sebagai pelaksana hukum dan mengatur jalannya pengadilan, seperti soal nikah, talak, rujuk, pembagian harta warisan dan lain sebagainya. Yusuf Khalidi, Ulama Besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, (Banjarmasin: Aulia, 1968), h. 40.

[30]Karel. A. Steenbrink memberikan suatu analisa bahwa undang-undang Sultan Adam yang diterapkan tahun 1835, memberikan kesan bahwa kedudukan mufti mirip dengan Mahkamah Agung yang ada sekarang dan berfungsi pula sebagai lembaga naik banding dari Mahkamah Biasa. Karel A. Steenbrink, Loc.Cit.

[31]Di dalam pasal 7 disebutkan bahwa, mufti ditugaskan memberikan fatwa kepada orang yang hendak berhukum. Sedang di dalam pasal 8 disebutkan, bila orang yang hendak meminta fatwa itu mengatakan disuruh Sultan, orang tersebut harus memperlihatkan bukti dengan cap Sultan. Amir Hasan Kyai Bondan, Suluh Sejarah Kalimantan, (Banjarmasin: MAI fajar, 1953), h. 152.

[32]Am Ramadhani, Berantas Kebodohan Lebih Utama Dari Jihad, Banjarmasin Post, (Banjarmasin), 4 April 1997.

[33]Abu Daudi, Op.Cit., h. 45.

[34]Ibid, h. 36.

[35]Zafri Zamzam, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Ulama Besar Juru Dakwah, (Banjarmasin: Karya, 1974), h. 7.

[36]Shagir Abdullah, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Pengarang Sabilal Muhtadin, (Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniah, 1990), h. 50.

[37]Abu Daudi, Op.Cit., h. 42.

[38]Shagir Abdullah, Op.Cit., h. 51.

[39]Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Sabilal Muhtadin lil tafaqquh fi Amr Al-Din, (Beirut: Darul Al-Fikr, t.th.), h. 34.

[40]Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Tuhfatur Raghibin, Juz. I, (Surabaya: Ibnu Sa’ad Al-Nabhan, t.t.h.), h. 22.

[41]Kabupaten Banjar dibentuk pada tanggal 14 Agustus 1950, dengan Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Nomor 186/PB/92/14 Jo. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Undang-undang Pokok Pemerintahan di Daerah tanggal 14 Agustus 1950 dengan sebutan Daerah Otonom Kabupaten Banjarmasin. KH. Abdul Syukur dalam buku Kota Serambi Mekkah (Kalimantan Selatan: CRDS, 2001), h. 2.

[42]Ibid., h. 3.

[43]Nahdatul Ulama Kalimtan Selatan, Asmah Sjachruni : Muslimat Pejuang Lintas Zaman, (Banjarmasin: h. 14)

[44]Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mukarramah Bangun Sarana Pensos Terbesar di Kalimantan, (Banjarmasin: Bpost, 2002), edisi 1 Juli 2002, h. 3.

Kembali ke awal

Memahami Essensi Hari Valentine Dalam Tinjauan Sejarah


Berbagai asumsi terhadap perayaan hari Valentine sebagai simbol hari kasih sayang memang banyak dimuntahkan oleh berbagai kalangan. Ada yang menerima keberadaan hari Valentine sebagai simbol perayaan hari kasih sayang tahunan, ada pula yang menolaknya. Dalam posting ini saya tidak mempermasalahkan tentang pertentangan pendapat tersebut. Di sini saya hanya memaparkan sejarah hari Valentine tersebut.

Sedikit Deskripsi tentang hari Valentine

Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day), pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-muasalnya yang tidak begitu jelas, ada yg menyebutkan Valentine sebagai sebuah hari raya Katolik Roma sebagaimana didiskusikan di artikel Santo Valentinus. Hari raya ini tidak mungkin diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir Abad Pertengahan ketika konsep-konsep seperti ini diciptakan.

Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran item dan catatan dalam bentuk “valentines”. Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan catatan pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.

Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah hubungan serius. Sebenarnya valentine itu Merupakan hari Percintaan, bukan hanya kepada Pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal Percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta.

Di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik “Happy Valentine’s”, yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka, ataupun, teman pria kepada teman prianya dan teman wanita kepada teman wanitanya.

Sejarah Hari Valentine

Perayaan Keseburan Bulan Pebruari

Asosiasi pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulu kala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus menyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.

Hari Raya Gereja

Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), nama Valentinus sekurang-kurangnya merujuk pada tiga martir atau Santo (orang suci) yang berbeda:

  • Seorang pastur di Roma
  • Seorang uskup Interamna (modern Terni)
  • Seorang martir di provinsi Romawi Africa

Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus di Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St.Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyu dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Valentinius

Guru ilmu Gnostisisme yang memiliki pengaruh Valentinius, adalah seorang calon uskup Roma pada tahun 143. Dalam ajarannya, tempat tidur pelaminan memiliki tempat yang utama dalam versi Cinta Kasih Kristianinya. Penekanannya ini jauh berbeda dengan konsep dalam agama Kristen yang umum. Stephan A. Hoeller, seorang pakar, menyatakan pendapatnya tentang Valentinius mengenai hal ini: “Selain sakramen permandian, penguatan, ekaristi, imamat dan perminyakan, aliran gnosis Valentinius juga secara prominen menekankan dua sakramen agung dan misterius yang dipanggil “penebusan dosa” (apolytrosis) dan “tempat pelaminan”.

Era abad pertengahan

Catatan pertama yang hubungkan hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa

For this was sent on Seynt Valentyne’s day
When every foul cometh there to choose his mate
Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus
Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya

Pada zaman itu, bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka suatu icon Valentine. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:

  • Sore hari sebelum Santo Valentinus gugur sebagai martir (orang suci dalam ajaran Katolik), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis, “dari Valentinusmu“.
  • Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.

Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan kegugurannya sebagai martir.

Hari Valentine pada era modern

Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary”.)

_____________________

Santo Valentine

Link: Anda bisa merefensikan data tentang Valentine disini

Related Link:

Siddhartha Gautama (Sang Budha)
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd
Rasyid Ridha
Ibnu Sina
Kisah-Kisah para Nabi

Siddhartha Gautama (Sang Budha) Dalam Pandangan Khairil Yulian Ibn Ruslan Abd Al-Ghani


PEMBERITAHUAN

Apapun anggapan anda terhadap posting saya kali ini, saya tidak bisa menampiknya. Anda boleh berpandangan apa saja tentang saya, atau tentang tulisan saya ini. Saya hanya punya satu harapan, posting ini tidak melahirkan kontroversi SARA, karena ini hanya pemikiran saya semata, yang lemah referensi, dan tidak ada konfirmasi dari sumber dan saksi, serta tidak melalui proses sterilisasi essensi.

****************

Siddhartha Gautama (Sang Budha)
Dalam Pandangan Khairil Yulian

Gautama Buddha dilahirkan dengan nama Siddhartha Gautama (Sanskerta: Siddhattha Gotama; Pali: “keturunan Gotama yang tujuannya tercapai”), dia kemudian menjadi sang Buddha (secara harfiah: orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna). Dia juga dikenal sebagai Shakyamuni (‘orang bijak dari kaum Sakya’) dan sebagai sang Tathagata. Siddhartha Gautama adalah guru spiritual dari wilayah timur laut India yang juga merupakan pendiri Agama Buddha[1] Ia secara mendasar dianggap oleh pemeluk Agama Buddha sebagai Buddha Agung (Sammāsambuddha) di masa sekarang. Waktu kelahiran dan kematiannya tidaklah pasti, sebagian besar sejarawan dari awal abad ke 20 memperkirakan kehidupannya antara tahun 563 SM sampai 483 SM; baru-baru ini, pada suatu simposium para ahli akan masalah ini,[2] sebagian besar dari ilmuwan yang menjelaskan pendapat memperkirakan tanggal berkisar antara 20 tahun antara tahun 400 SM untuk waktu meninggal dunianya, sedangkan yang lain menyokong perkiraan tanggal yang lebih awal atau waktu setelahnya.

Siddhartha Gautama merupakan figur utama dalam agama Buddha, keterangan akan kehidupannya, khotbah-khotbah, dan peraturan keagamaan yang dipercayai oleh penganut agama Buddha dirangkum setelah kematiannya dan dihafalkan oleh para pengikutnya. Berbagai kumpulan perlengkapan pengajaran akan Siddhartha Gautama diberikan secara lisan, dan bentuk tulisan pertama kali dilakukan sekitar 400 tahun kemudian. Pelajar-pelajar dari negara Barat lebih condong untuk menerima biografi Sang Buddha yang dijelaskan dalam naskah Agama Buddha sebagai catatan sejarah, tetapi belakangan ini “keseganan pelajar negara Barat meningkat dalam memberikan pernyataan yang tidak sesuai mengenai fakta historis akan kehidupan dan pengajaran Sang Buddha.”[3]

Orang tua

Ayah dari Pangeran Siddhartha Gautama adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Ratu Mahā Māyā Dewi. Ibunda Pangeran Siddharta Gautama meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran. Setelah meninggal, beliau terlahir di alam/surga Tusita, yaitu alam surga luhur. Sejak meninggalnya Ratu Mahā Māyā Dewi, Pangeran Siddharta dirawat oleh Ratu Mahā Pajāpati, bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana.

Riwayat hidup

Kelahiran

Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 563 SM di Taman Lumbini, saat Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan pohon sal. Pada saat ia lahir, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin sedangkan yang lainnya hangat. Arus tersebut membasuh tubuh Siddhartha. Siddhartha lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai.

Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala, diramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang Buddha. Hanya pertapa Kondañña yang dengan tegas meramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena apabila Sang Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan Sang Raja, para pertapa itu menjelaskan agar Sang Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa. Bila tidak, ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu adalah:

  1. Orang tua,
  2. Orang sakit,
  3. Orang mati,
  4. Seorang pertapa.

Masa kecil

Sejak kecil sudah terlihat bahwa Sang Pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah. Pada saat berusia 7 tahun, Pangeran Siddharta mempunyai 3 kolam bunga teratai, yaitu:

  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Biru (Uppala)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Merah (Paduma)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Putih (Pundarika)

Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Pangeran Siddharta menguasai semua pelajaran dengan baik. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai sayembara. Dan saat berumur 16 tahun, Pangeran memiliki tiga Istana, yaitu:

  • Istana Musim Dingin (Ramma)
  • Istana Musim Panas (Suramma)
  • Istana Musim Hujan (Subha)

Masa dewasa

Kata-kata pertapa Asita membuat Raja Suddhodana tidak tenang siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua, dan kematian, sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.

Suatu hari Pangeran Siddharta meminta ijin untuk berjalan di luar istana, dimana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya “Empat Kondisi” yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang suci. Pangeran Siddhartha bersedih dan menanyakan kepada dirinya sendiri, “Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini!”. Pangeran Siddharta berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban tersebut.

Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan duniawi. Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya, Canna. Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai pertapa.

Setelah itu Pangeran Siddhartha meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan mati. Pertapa Siddharta berguru kepada Alāra Kālāma dan kemudian kepada Uddaka Ramāputra, tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh yang diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima orang pertapa. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrim itu dan bermeditasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan Penerangan Agung.

Masa pengembaraan

Di dalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama dan pertapa Udraka Ramputra. Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya. Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magadha untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruwela, di tepi Sungai Nairanjana yang mengalir dekat Hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di Hutan Uruwela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakekat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.

Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang tua sedang menasihati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana dengan mengatakan:

Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu.

Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja, pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya, “Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna.”

Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan penggoda yang dahsyat. Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan iman yang teguh kukuh, akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur.

Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender lunar. Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Sang Siddharta memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.

Penyebaran ajaran Buddha

Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain: Buddha Gautama, Buddha Shakyamuni, Tathagata (‘Ia Yang Telah Datang’, Ia Yang Telah Pergi’), Sugata (‘Yang Maha Tahu’), Bhagava (‘Yang Agung’) dan sebagainya. Lima pertapa yang mendampingi Beliau di hutan Uruwela merupakan murid pertama Sang Buddha yang mendengarkan khotbah pertama Dhammacakka Pavattana, dimana Beliau menjelaskan mengenai Jalan Tengah yang ditemukan-Nya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya yang menjelaskan “Empat Kebenaran Mulia”.

Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, saat ia menyadari bahwa tiga bulan lagi ia akan mencapai Parinibbana.

Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).

Sifat Agung Sang Buddha

Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan Kasih Sayang (karuna). Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak terbatas oleh waktu dan selalu abadi, karena telah ada dan memancar sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda samsara yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan batinnya. Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas, yaitu

  1. Berusaha menolong semua makhluk.
  2. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.
  3. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.
  4. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.

Buddha Gautama pertama melatih diri untuk melaksanakan amal kebajikan kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari sepuluh tindakan yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan pikiran, yaitu

  • Tubuh (kaya): pembunuhan, pencurian, perbuatan jinah.
  • Ucapan (vak): penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar, percakapan tiada manfaat.
  • Pikiran (citta): kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang salah.

Cinta kasih dan kasih sayang seorang Buddha adalah cinta kasih untuk kebahagiaan semua makhluk seperti orang tua mencintai anak-anaknya, dan mengharapkan berkah tertinggi terlimpah kepada mereka. Akan tetapi terhadap mereka yang menderita sangat berat atau dalam keadaan batin gelap, Sang Buddha akan memberikan perhatian khusus. Dengan Kasih Sayang-Nya, Sang Buddha menganjurkan supaya mereka berjalan di atas jalan yang benar dan mereka akan dibimbing dalam melawan kejahatan, hingga tercapai “Pencerahan Sempurna”.

Sebagai Buddha yang abadi, Beliau telah mengenal semua orang dan dengan menggunakan berbagai cara Beliau telah berusaha untuk meringankan penderitaan semua makhluk. Buddha Gautama mengetahui sepenuhnya hakekat dunia, namun Beliau tidak pernah mau mengatakan bahwa dunia ini asli atau palsu, baik atau buruk. Ia hanya menunjukkan tentang keadaan dunia sebagaimana adanya. Buddha Gautama mengajarkan agar setiap orang memelihara akar kebijaksanaan sesuai dengan watak, perbuatan dan kepercayaan masing-masing. Ia tidak saja mengajarkan melalui ucapan, akan tetapi juga melalui perbuatan. Meskipun bentuk fisik tubuh-Nya tidak ada akhirnya, namun dalam mengajar umat manusia yang mendambakan hidup abadi, Beliau menggunakan jalan pembebasan dari kelahiran dan kematian untuk membangunkan perhatian mereka.

Pengabdian Buddha Gautama telah membuat dirinya mampu mengatasi berbagai masalah didalam berbagai kesempatan yang pada hakekatnya adalah Dharma-kaya, yang merupakan keadaan sebenarnya dari hakekat yang hakiki dari seorang Buddha. Sang Buddha adalah pelambang dari kesucian, yang tersuci dari semua yang suci. Karena itu, Sang Buddha adalah Raja Dharma yang agung. Ia dapat berkhotbah kepada semua orang, kapanpun dikehendaki-Nya. Sang Buddha mengkhotbahkan Dharma, akan tetapi sering terdapat telinga orang yang bodoh karena keserakahannya dan kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan khotbah-Nya. Bagi mereka yang mendengarkan khotbah-Nya, yang dapat mengerti dan menghayati serta mengamalkan Sifat Agung Sang Buddha akan terbebas dari penderitaan hidup. Mereka tidak akan dapat tertolong hanya karena mengandalkan kepintarannya sendiri.


[3]Lopez (1995). Buddhism in Practice. Princeton University Press. pp. 16.

**********************

Pandangan Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq tentang Sosok Siddhartha Gautama

Latar Belakang

Jika anda pernah membaca posting saya yang berjudul Pertanyaan tentang Iman yang Universal, maka anda akan melihat adanya hubungan antara posting itu dengan tulisan saya kali ini. Lahirnya konsep iman universal tersebut berasal dari sebuah pemikiran yang dikekang oleh fanatisme agama yang membutakan pemeluk suatu agama untuk membandingkan diri dengan orang lain. Efek negatif yang dilahirkan dari fanatisme agama tersebut adalah merasa benar sendiri, merasa diri paling benar dan orang lain salah, karena memang begitu konsep yang ditanamkan oleh pada umumnya agama terhadap pemeluknya, seperti perusahaan jasa yang bersaing untuk mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya dan mendokrin untuk tidak pindah ke produk lain.

Pada saat aku berpikir bahwa pemikiran bebasku dibelenggu oleh konsep fanatisme dalam beragama, keningku pun berkerut memikirkan jawaban atas  beberapa pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benakku. Pertanyaan yang sangat mendasar menurutku waktu itu, yaitu:

  1. Mengapa setiap pemeluk agama menganggap agamanya paling benar?
  2. Apakah ajaran agama yang ku peluk ini adalah ajaran agama yang benar-benar “BENAR”?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu cukup menggangguku pada saat itu, mengingat aku adalah seorang muslim yang lahir dari keluarga muslim, tumbuh dan berkembang dalam lingkungan muslim, dan bahkan dididik di lembaga pendidik Islam dari Madrasah Aliyah, hingga kuliah S1 dan S2. Sebagai muslim yang besar dalam kondisi masyarakat yang Homogen, pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti di atas telah membuatku melepaskan status “muslimku” selama aku belum menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Bagi sebagian orang di sekitarku, tindakan yang ku lakukan itu dianggap terlalu berani, karena harus melepaskan aqidah. Namun bagiku, justru dari sinilah aku akan mematri diriku dengan aqidah yang memang lahir dari pencarian dan untuk mendapatkan keyakinan. Karena aku beranggapan bahwa apa artinya beragama jika tidak memiliki dasar keyakinan yang kuat. Hidup dalam homogentitas agama yang melahirkan fanatisme itu justru membuatku beranggapan agama yang ku peluk ini bukan agama yang benar. Jika agama ini adalah sebuah kebenaran, maka ia tidak akan pernah takut untuk disandingkan dengan sesuatu yang yang juga dianggap benar oleh orang lain.

Pencarian kebenaran dengan melepaskan keyakinan memang merupakan hal yang sangat menakutkan dalam hubungannya dengan masalah aqidah, tetapi hal ini memang harus ku lakukan jika keyakinan yang kupegang justru membuat hatiku bimbang akan sebuah kebenaran. Ajaran agama yang ku peluk sebenarnya sudah ku yakini kebenarannya, tetapi hal itu masih dalam keyakinan yang wajar, yaitu karena keluarga, lingkungan dan pendidikanku hanya seputar itu. Lagi pula, dengan konsep sederhana seperti itu, semua pemeluk agama apapun akan beranggapan seperti yang ku rasa, yaitu “Agamaku adalah agama yang paling benar”.  Keyakinan yang wajar dan sederhana itu tidak cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti yang sudah ku sebutkan sebelumnya. Perlu adanya usaha pencarian keyakinan yang lebih EXTREME untuk jiwa dan pemikiranku yang EXTREME, yaitu dengan membandingkan semua ajaran kebenaran.

Siddhartha Gautama adalah Sosok Nabi

Ajaran Agama Budha adalah salah satu dari lima ajaran agama yang ku ketahui sejak aku duduk di bangku sekolah dasar, karena dalam Falsafah Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, ada lima Agama yang diakui, yaitu Islam, Kristen Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha. Dalam pencarian kebenaran yang ku lakukan, Ajaran Agama Budha adalah salah satu agama yang masuk dalam target pencarian kebenaran yang ku lakukan.

Dalam posting ini, saya tidak akan menyalahkan atau membenarkan ajaran agama Budha yang dibawa oleh Siddhartha Gautama, tetapi dalam pencarian kebenaran yang ku jalani ini, aku menemukan satu kesimpulan bahwa agama itu tidak bisa diciptakan begitu saja oleh manusia, diperlukan suatu falsafah mendasar yang menjadikan suatu ajaran pantas untuk disebut sebagai sebuah agama. Disamping itu, semua ajaran agama memang selalu mengajarkan kebenaran, karena itulah semua pemeluk agama menganggap agama yang dipeluknya itulah yang paling benar, termasuk dalam hal ini, ajaran yang dibawa oleh Siddhartha Gautama, yaitu ajaran agama Budha.

Dalam referensi yang saya kemukakan sebelumnya disebutkan bahwa Siddhartha Gautama pada awalnya juga merupakan manusia biasa yang sejak lahirnya sudah diberikan kelebihan. Ia lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai. Hal ini seperti juga kelahiran Isa al-Masih (Nabi Isa As) oleh Bunda Maria (Maryam) yang menandungnya tanpa Ayah. Seperti halnya juga kelahiran Muhammad Saw yang diwarnai dengan turunya ratusan burung Ababil yang menyerang tentara bergajah yang akan menghancurkan Ka’bah.

Pangeran Siddhartha Gautama yang sejak lahir diramalkan akan meninggalkan Istana, menyebabkan sang Ayah, Raja Suddhodana berusaha membahagiakan putra kesayangannya dalam kemewahan Istana. Pangeran Siddhartha tidak pernah diperkenalkan dengan beberapa hal, yaitu usia tua, penyakit, kematian, dan pertapa. Pangeran hanya tahu makna kebahagiaan itu dari kemewahan dalam Istana, wanita-wanita cantik, dan berbagai kenikmatan dunia lainnya. Sehingga pada saat ia berjalan ke luar Istana, sepanjang jalan yang akan dilaluinya harus lebih dulu dibersihkan dari ke-empat perkara yang dipantangkan untuk dilihat oleh Pangeran Siddhartha.

Namun waktu dan keadaan akhirnya mempertemukan Pangeran Siddhartha dengan semua perkara yang tidak pernah dikenalnya itu. Perjalanan keluar Istana yang telah dibersihkan sebelumnya tidak bisa menghalangi kenyataan bahwa Pangeran Siddhartha memang sudah waktunya mengenal adanya usia tua, penyakit, kematian dan pertapa. Keempat perkara itu secara tidak sengaja dilihatnya perjalanannya keluar Istana. Peristiwa itu sangat terkenal dalam sejarah kehidupan Siddhartha Gautama Sang Budha.

Apa yang dikhawatirkan Raja Suddhodana akhirnya menjadi nyata, Siddhartha Gautama akhirnya meninggalkan Istana untuk mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan dari dirinya. berbagai usaha telah ia lakukan untuk mencari kebenaran, bahkan disebutkan ia pernah ikut bertapa bersama para pertapa Hindu, tetapi tidak juga ia temukan kebenaran yang ia harapkan. Sampai pada akhirnya, pertapa Gautama melakukan samadhi di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya, “Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna.”

Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun. Dalam referensi yang penulis kemukakan di atas disebutkan bahwa pada saat mencapai pencerahan sempurna, dari tubuh Sang Siddhartha memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.

Melihat dari awal perjalanan kehidupan Siddhartha Gautama hingga ia menemukan pencerahan sempurna, saya berpikir Siddhartha Gautama adalah seorang Nabi, dan kejadian di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya adalah saat-saat dimana ia menerima wahyu untuk disampaikan dan diajarkan kepada umat manusia.

Seperti halnya juga saya temukan dalam kisah Isa Al-Masih (Nabi Isa As), Siddhartha Gautama juga tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan atas ajaran Budha yang dibawanya. Para pengikutnyalah yang kemudian mengklain bahwa ia adalah Tuhan. Keadaan ini –menurut analisa saya,– adalah suatu hal yang wajar. Pengaruh besar yang ditinggalkannya menjadikan ia sebagai panutan para pengikutnya, sehingga wajar kebesaran pengaruhnya itu menjadikan ia dituhankan oleh pengikutnya.

Keadaan seperti ini juga bisa saja terjadi Muhammad Saw dengan Islam yang dibawanya. Perbedaannya adalah, Muhammad menanamkan nilai-nilai ketuhanan (Tauhid) pada awal penyebaran ajarannya, kemudian dilanjutkan dengan memberikan contoh teladan dan ajaran bagaimana bertingkah laku dengan sesama manusia dan makhluk lainnya. Dalam konsep penyebaran ajaran agama oleh Nabi-Nabi sebelumnya, aspek ketuhahanan ini –menurut saya– disejajarkan dengan pengajaran akhlak dan etika pergaulan sesama manusia, sehingga para pengikutnya kurang mengerti eksistensi Tuhan pasca kematiannya. Sehingga sang tokohlah yang kemudian diklain sebagai Tuhan. Muhammad Saw pun bisa saja diklain sebagai Tuhan jika dalam penyebaran Islam, tidak menanamkan nilai-nilai ketuhanan (Tauhid) pada awal penyebarannya.

Para pembaca yang budiman.!!

Terima kasih telah membaca poting ini…!!! 😆 Pemikiran yang sehat dan positif hendaknya tetap menjadi panduan untuk memfilter pemikiran-pemikiran luar yang masuk ke Head dan Heart anda, termasuk Head (Pemikiran) dan Heart (Perasaan) yang tertuang dalam tulisan-tulisan di blog saya ini….. Pencarian kebenaran yang saya lakukan, ternyata akhirnya membawa saya kembali pada ajaran yang saya peluk sebelumnya, yaitu Islam, dengan keyakinan yang lebih sempurna dari sebelumnya. 🙂 Insya Allah…

12 Januari dalam Lintasan Sejarah


12 Januari adalah hari ke-12 dalam kalender Gregorian (Masehi).  Dengan mengambil term “12 Januari“, berikut ini adalah hal-hal yang terjadi pada tanggal 12 Januari dalam lintasan sejarah.

Peristiwa

  • 1528 – Gustav I dari Swedia menjadi Raja Swedia.
  • 1709 – Zaman Es Kecil: Masa beku selama dua bulan dimulai di Perancis – Pantai Atlantik dan Sungai Reine membeku, tanaman gagal panen dan setidaknya 24.000 warga Paris meninggal.
  • 1875 – Kwang-su menjadi Kaisar Cina.
  • 1898 – Ito Hirobumi memulai masa bakti ketiganya sebagai Perdana Menteri Jepang.
  • 1908 – Pesan radio jarak jauh dikirim dari Menara Eiffel untuk pertama kalinya.
  • 1926 – Freeman Gosden dan Charles Correll memulai program radio mereka Sam ‘n’ Henry, pendahulu Amos ‘n’ Andy; kemungkinan adalah sitkom pertama.
  • 1940 – Perang Dunia II: Rusia mengebom kota-kota di Finlandia.
  • 1945 – Perang Dunia II: Uni Soviet memulai serangan besar di Eropa Timur melawan Nazi.
  • 1964 – Para pemberontak di Zanzibar memulai suatu pemberontakan dan kemudian memproklamirkan sebuah republik.
  • 1966 – Lyndon B. Johnson menyatakan bahwa Amerika Serikat harus tetap tinggal di Vietnam Selatan hingga agresi Komunis di sana berakhir.
  • 1966 – Versi TV Batman, Batman the TV series memulai debutnya di saluran televisi ABC.
  • 1969 – Band Hard rock Led Zeppelin merilis album pertamanya.
  • 1970 – Biafra menyerah, mengakhiri perang saudara Nigeria.
  • 1976 – Dewan Keamanan PBB melakukan voting dengan hasil 11-1 untuk membolehkan Organisasi Pembebasan Palestina untuk berpartisipasi di dalam perdebatan Dewan Keamanan (tanpa hak suara).
  • 1991 – Perang Teluk Persia: Sebuah undang-undang Kongres AS memberikan persetujuan penggunaan militer untuk memaksa Irak keluar dari Kuwait.
  • 1992 – Dalam film 2001: A Space Odyssey, HAL 9000, sebuah komputer fiktif, seharusnya diaktifkan pada tanggal ini.
  • 1998 – 19 negara Eropa setuju untuk melarang kloning manusia.
  • 2010 – Gempa bumi Haiti dengan episenter dekat kota Léogâne 7,0 Skala Richter berdampak pada 3 juta penduduk, perkiraan korban meninggal 230.000 orang, luka-luka 300.000 orang dan 1.000.000 kehilangan tempat tinggal.

Kelahiran

  • 1893 – Hermann Göring, pejabat Nazi (w. 1946)
  • 1893 – Alfred Rosenberg, pejabat Nazi (w. 1946)
  • 1899 – Paul Hermann Müller, ahli kimia, peraih gelar Penghargaan Nobel untuk Kedokteran dan Fisiologi pada 1948 (w. 1965)
  • 1916 – Pieter Willem Botha, presiden Afrika Selatan
  • 1944 – Joe Frazier, juara tinju
  • 1980 – Khairil Yulianibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq, 😆 Pemikir terkenal dari Kalimantan Selatan. 😆 😆 😆 😆 😆
    Hahahaha…… 😀 :D: 😀 😀 😀 😀
  • 1992 – HAL 9000, komputer fiktif
  • 1992 – Mao Kobayashi, Japanese gravure idol
  • 1993 – Aika Mitsui, Penyanyi Jepang
  • 1993 – D.O., salah satu anggota boyband EXO-K
  • 1995 – Laurel McGoff, Kontestan Acara Reality Show Amerika
  • 1998 – Nathan Gamble, Aktor Amerika

Meninggal

  • 1519 – Maximilian I, Kaisar Suci Romawi (l. 1459)
  • 1976 – Agatha Christie, penulis (l. 1890)
  • 2003 – Maurice Gibb, penyanyi dan pemain bass dalam Bee Gees (l. 1949)
  • 2014 – Murnita, Orang tua dari KHAIRIL YULIAN… 😦 (l. 1952)

Catatan Penulis:

Saya mengucapkan terima kasih atas semua ucapan Selamat pada hari ulang tahunku, kepada:

  • Teman-temanku di Facebook. (Maaf ych! kalian nggak bisa nulis ucapan selamat di Wall saya)
  • Teman-teman YM.
  • Yahoo Indonesia Community

    Yahoo Indonesia Community

    Message from Yahoo Indonesia Community

  • Pengirim Ucapan Selamat via SMS
  • Mereka yang telah memberikan ucapan selamat secara langsung di hadapanku
  • Dia yang memberikan ucapan selamat langsung ke ku ….

😳 JANGAN ADA SURPRISE…!!! 😆

________________________________

Referensi: Wikipedia Bahasa Indonesia & DNABerita.com

Sumpah Pemuda


SOEMPAH PEMOEDA

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928.

Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :

  1. Abdul Muthalib Sangadji
  2. Purnama Wulan
  3. Abdul Rachman
  4. Raden Soeharto
  5. Abu Hanifah
  6. Raden Soekamso
  7. Adnan Kapau Gani
  8. Ramelan
  9. Amir (Dienaren van Indie)
  10. Saerun (Keng Po)
  11. Anta Permana
  12. Sahardjo
  13. Anwari
  14. Sarbini
  15. Arnold Manonutu
  16. Sarmidi Mangunsarkoro
  17. Assaat
  18. Sartono
  19. Bahder Djohan
  20. S.M. Kartosoewirjo
  21. Dali
  22. Setiawan
  23. Darsa
  24. Sigit (Indonesische Studieclub)
  25. Dien Pantouw
  26. Siti Sundari
  27. Djuanda
  28. Sjahpuddin Latif
  29. Dr.Pijper
  30. Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
  31. Emma Puradiredja
  32. Soejono Djoenoed Poeponegoro
  33. Halim
  34. R.M. Djoko Marsaid
  35. Hamami
  36. Soekamto
  37. Jo Tumbuhan
  38. Soekmono
  39. Joesoepadi
  40. Soekowati (Volksraad)
  41. Jos Masdani
  42. Soemanang
  43. Kadir
  44. Soemarto
  45. Karto Menggolo
  46. Soenario (PAPI & INPO)
  47. Kasman Singodimedjo
  48. Soerjadi
  49. Koentjoro Poerbopranoto
  50. Soewadji Prawirohardjo
  51. Martakusuma
  52. Soewirjo
  53. Masmoen Rasid
  54. Soeworo
  55. Mohammad Ali Hanafiah
  56. Suhara
  57. Mohammad Nazif
  58. Sujono (Volksraad)
  59. Mohammad Roem
  60. Sulaeman
  61. Mohammad Tabrani
  62. Suwarni
  63. Mohammad Tamzil
  64. Tjahija
  65. Muhidin (Pasundan)
  66. Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
  67. Mukarno
  68. Wilopo
  69. Muwardi
  70. Wage Rudolf Soepratman
  71. Nona Tumbel

Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu”Indonesia Raya” gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.

  1. Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong.
  2. Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang yaitu :
    a. Kwee Thiam Hong
    b. Oey Kay Siang
    c. John Lauw Tjoan Hok
    d. Tjio Djien kwie

Shalat Cepat dan Shalat Lambat


Suatu ketika, Rasulullah Saw sujud begitu lama. setelah shalat selesai, para sahabat bertanya, mengapa baginda Saw sujud begitu lama?
Beliau menjawab, “Sesungguhnya cucuku Hasan dan Husein sedang bermain di pundakku.!”

Suatu ketika yg lain, Rasulullah Saw shalat begitu cepat. Setelah selesai shalat kembali para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah Saw! mengapa baginda shalat begitu cepat hari ini?”
Beliau menjawab, “Tidakkah kalian mendengar suara seorang anak… yg sedang menangis di luar mesjid? Siapakah di antara kalian orang tua dari anak itu?”

Terlambat Shalat Subuh


Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w. terlambat sampai ke Mesjid karena di depannya ada orang tua yg berjalan sangat pelan. Setelah tiba di depan Mesjid, ternyata orang tua tersebut bukan muslim, dia terus berlalu dari mesjid. Namun ternyata, jama’ah di mesjid masih melaksanakan ruku rekaat pertama, sehingga Ali bin Abi Thalib k.w tidak ketinggalan shalat Subuh.

Selesai shalat Subuh, para Sahabat bertanya kpda Rasulullah saw, kenapa kali ini ruku begitu lama?

Rasulullah Saw menjawab, “Jibril menahan pundakku, karena seorang hamba Allah terlambat datang ke mesjid untuk shalat Subuh karena ia menghormati orang lain.

PERIODISASI SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM


Periodisasi Sejarah Pendidikan Islam

Ditulis oleh:

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq

A. Pendahuluan

Pendidikan secara etimologis, menurut para ahli merupakan kata yang dimodifikasi dari kata bahasa Yunani, yaitu Paedagogie yang berarti “Pendidikan”.[1] Sementara menurut tinjauan terminologis, pendidikan oleh para pakar sering didefinisikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.[2]

Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu pada term al-Tarbiyah, al-Ta’lim dan al-Ta’dib.[3] Dari ketika term tersebut yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah term al-Tarbiyah.[4]

Kata al-Tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu: Pertama, rabba-yarbu yang berarti tertambah, tumbuh dan berkembang. Rabiya-yarba berarti menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun dan memelihara.[5]

Pendidikan dalam konteks Islam ini, banyak kalangan pakar memberikan definisi. Seperti yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas bahwa “Pendidikan Islam ialah usaha yang dilakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan”.[6]

Pendapat senada dengan yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas tersebut juga dikemukakan oleh beberapa pakar pendidikan lainnya, seperti Drs. Ahmad D. Marimba,[7] Drs. Birlian Somad[8] dan Musthafa al-Ghulayaini.[9]

Dalam tinjauan historik, sejarah pendidikan Islam dimulai bersamaan dengan awal berkembangnya sejarah Islam, yaitu sejak masa Rasulullah Saw. Dalam perjalanan panjang sejarah Islam, pendidikan Islam juga mengalami berbagai dinamika pluktuatif seiring dengan pluktuasi sejarah Islam sendiri.

Dinamika sejarah Islam tersebut telah banyak diperiodisasikan ole para pakar, diantaranya Prof. Dr. Harun Nasuton yang membagi sejarah Isme dalam tiga periode, yaitu periode klask, pertengahan dan modern. Namun demikian, para pakar sejarah Islam tidak banyak yang melakukan periodisasi terhadap sejarah pendidikan Islam. Dengan demikian, maka lahirlah satu pertanyaan, apakah dinamika sejarah pendidikan Islam berjalan seiring dengan dinamika sejarah perkembangan peradaban Islam.

Dalam makalah ini, akan disajikan kajian sejarah Islam dalam rangka menemukan jawaban terhadap ada tidaknya hubungan antara sejarah pendidikan Ilam dengan Sejarah perkembangan peadaban Islam.

B. Periodisasi Sejarah Peradaban Islam

Sejarah peradaban Islam telah dibagi oleh Prof. Dr. harun Nasution dalam tiga periode, yaitu periode klasik, periode pertengahan dan periode modern.[10]

  1. Periode Klasik
    Periode klasik (650 M-1250 M) merupakan zaman kemajuan dan dibagi dalam dua fase, yaitu:

    1. Fase Ekspansi, Integrasi dan Puncak kemajuan (650 M-1000 M).
      Pada fase inilah dunia Islam meluas melalui Afrika Utara sampai ke Spanyol di Barat dan melalui Persia sampai ke India di Timur. Daerah-daerah tersebut tunduk kepada keluasaan khalifah yang pada mulanya berkedudukan di Madinah, kemudian di Damsyik dan terakhir di Baghdad. Di masa ini pulalah berkembang dan memuncaknya ilmu pengetahuan, baik dalam bidang agama maupun non-agama, an kebudayaan Islam.
      Zaman inilah yang menghasilkan ulama-ulama besar seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ibn Hambal dalam bidang hukum, Imam Asy’ari, Imam al-Maturidi, pemuka-pemuka Mu’tazilah seperti Wasil Ibn ‘Ata’, Abu al-Huzail, al-Nazzam dan al-Zubair dalam bidang teologi, zunnun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami dan al-Hajjaj dalam mistisisme atau al-Tasawwuf, al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Miskawaih dalam filsafat, dan Ibn Hasyam, Ibn Hayyan, al-Khawarijmi, al-Mas’udi dan al-Razi dalam bidang ilmu pengetahuan
    2. Fase Disintegrasi (1000 M-1250 M)
      Di masa ini, keutuhan umat Islam dalam bidang politik mulai pecah, keuasaan khalifah menurun dan akhirnya Baghdad dapat dirampas dan dihancurka oleh Hulagu pada tahun 1258 M. Khalifah, sebagai lambang kesatuan politik umat Islam, hilang.
  2. Perode Pertengahan (1250 M-1800 M)
    Periode pertengahan ini juga dibgi oleh Prof. Dr. Harun Nasution ke dalam dua fase, yaitu fase kemunduran dan fase tiga kerajaan besar.

    1. Fase Kemunduran (1250 M-1500 M)
      Dalam fase ini, disentralisasi dan disintegrasi meningkat. Perbedam antara Sunni dan Syi’ah dan demikian juga antara Arab an Persia semakin nyata terlihat. Dunia Islam terbagi dua, yaitu bagian Arab dan bagian Persia.
      Bagian Arab yang terdiri atas Arabia, Irak, Suria, Palestina Mesir dan Afrika Utara, dengan Mesir sebagai pusat,
      Bagian Persia yang terdiri atas Balkan, Asia kecil, Persia dan Asia Tengah, dengan Iran Sebagai Pusat.
      Kebudayaan Persia mengambil bntuk Internasional dan dengan demikan mendesak lapangan kebudayaan kebudayan Arab. Pendapat bahwa pintu ijtihad tertutup makin meluas di kalangan umat Islam. Demikian juga tarekat dengan pengaruh negatifnya, perhatian terhadap ilmu pengetahuan menjadi sangat kurang. Umat Islam di Spanyol dipaksa masuk Kristen atau keluar dari daerah trsebut.
    2. Fase Tiga Kerajaan Besar (1500 M-1800 M)
      Tiga kerajaan besar yang dimaksud dalam fase ini ialah Kerajaan Utsmani (Ottoman Empire) di Turki, Kerajaan Safawi di Persia dan Kerajaan Mughal di India.
      Fase tiga kerajaan besar ini, oleh Prof. Dr. Harun Nasution dibagi kembali dalam dua periode lagi, yaitu dimulai dengan aman kemajuan (1500 M-1700 M) dan zaman kemunduran (1700 M-1800 M).
      Di masa kemajuan, ketiga kerajan besar ini mempunyai kejayaan masing-masing teruama dalam bentuk literatur dan arsitek. Mesjid-mesjid dan gedung-gedung indah yang didirikan di zaman ini masih dapat dilihat di Istambul, Tibriz, Isfahan serta kota-kota lian di Iran dan di Delhi. Kemajuan umat Islam di zaman ini lebih banyak merupakan kemajuan di periode klasik. Prhatian terhadap ilmu pengetahuan masih kurang sekali.
      Di masa kemunduran, Kerajaan Utsmani terpukul oleh Eropa. Kerajaan Safawi dihancurkan oleh serangn-serangan suku bangsa Afghan, sedangkan daerah kekuasaan Kerajaan Mughal diperkecil oleh pukulan-pukulan raja-ra India. Kekuatan militer dan kekuatan politik umat Islam menurun. Umat Islam dalam keadaan mundur dan statis. Dalam pada itu, Eropda dengan kekayaan-kekayaannya yang diangkut dari Amerika dam Timur Jauh, bertambah kay dan maju. Penetrasi Barat yang kekuaannya meningkat ke dunia Islam yang kekuatanya menurun, kian mendalam dan kian meluas. Akhirnya Napoleon pada ahun 1798 M menduduki Mesir, sebagai salah satu pusat Islam yang terpenting.
  3. Periode Modern ( sejak 1800 M)
    Periode modern ialah zama kebangkitan kembali umat Islam. Jatunya Mesir ke tangan Barat menyadarkan dunia Islam akan kelemahannya dan menyadarkan umat Islam bahwa Barat telah mempunyai peradaban baru yang lebih tnggi dan merpakn ancaman bagi Islam. Raja-raja dan pemuka-pemuka Islam mulai memikikan bagaimana meninkatkan mutu dan kekuatan umat Islam kembali. Pada periode modern inilah timbul ide-ide pembaharuan dalam Islam.[11]

C. Dinamika Sejarah Pendidikan Islam Secara Kronologis

Dinamika pendidikan Islam dalam sejarah tidak bisa begitu dikatakan seiring dengan periodisasi sejarah peradaban Islam, tanpa menyelami sejarah pendidikan Islam tersebut secara kronologis. Dalam hal ini, sebelum penulis dapat menyatakan kesesuaian antara periodisasi peradaban Islam dengan dinamika sejarah pendidikan Islam, maka berikut ini akan penulis kemukakan beberapa bentuk dan usaha pendidikan Islam dalam dinamika sejarah Islam secara kronologis dari awal perkembangan Islam itu sendiri.

  1. Bentuk dan Usaha Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah Saw. (610 M-632 M) [12]
    1. Pelaksanaan Pendidikan di Mekakah.
      Bentuk dan usaha Pendidikan Islam pada masa Mekkah ini meliputi:

      1. Pendidikan Tauhid
        Pendidikan keagamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan memepersekutukan-Nya dengan berhala, karena Tuhan itu Maha Besar dan Maha Pemurah, sebab itu hendaklah dienyahkan berhala sejauh-jauhnya.
        Pendidikan akliyah dan ilmiyah, yaitu mempejari kejadian manusia sari segumpal darah dan kejadian alam semesta. Allah akan mengajarkan yang demikian itu kepada orang-orang yang mau menyelidiki dan membahasnya, sedangkan mereka dahulu mereka belum mengetahuinya. Untuk mengetahui hal itu haruslah dengan membaca dan menyelidiki serta memakai pena untuk mencatat.
        Pendidikan akhlak dan budi pekerti, Nabi Muhammad Saw mengajar sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid.
      2. Pendidikan jasmani, yaitu mementingkan kebersihan dan pakaian, badan dan tempat kediaman.[13]
      3. Pengajaran Al-Qur’an
        Pada masa permulaan turunnya al-Qur’an, Nabi Muhammad Saw mengajarka Islam secara sembunyi-sembunyi, para sahabat mempelajari al-Qur’an di suatu rumah (rumah Arqam bin Abi al Arqam). Mereka berkumpul membaca al-Qur’an, memahami kandungan setiap ayat yang diturunkan Allah dengan jalan bermudarasah dan bertadarus.[14] Setelah Umar bin Khattab memeluk agama Islam mereka dengan bebas membaca dan mempelajari al-Qur’an. Nabi Muhammad selalu menganjurkan kepada para sahabatnya supaya al-Qur’an dihapal dan selalu dibaca, dan diwaiibkan membacanya dari ayat-ayat dalam shalat, sehingga kebiasaan membca al-Qur’an tersebut merupakan bagian dari kehidupan mereka sehari-hari, menggantikan kebiasaan membacakan syair-syair indah pada masa sebelum Islam. Untuk menjaga ayat al-Qur’an tidak tercampur dengan hal-hal lain maka Nabi Muhammad Saw memberikan perintah agar hanya al-Qur’an sajaah yang dituliskan.[15]
    2. Pelaksanaan Pendidikan di Madinah
      Pendidikan di Madinah ini dilakukan setelah Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah. Pendidikan Islam pada masa ini dapat dikatakan sebagai pendidikan sosial dan politik (dalam arti yang luas). Pendidikan ini merupakan kelanjutan dari pendidikan tauhid di Mekkah, yaitu pembinaan di bidang pendidikan sosial dan politik agar dijiwai oleh ajaran tauhid, sehingga akhirnya tingkah laku sosial politik merupakan cermin dan pantulan sinar tauhid tersebut.[16]
      Kegiatan pertama yang pertama-tama yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad Saw bersama dengan kaum muslimin adalah membangun mesjid.[17] Salah satu ruangan dari Mesjid itu beliau pergunakan secara khusus untuk mengajar para sahabat. Ruangan itu sikenal dengan al-Shuffah yang juga berfungsi sebagai tempat penampungan para siswa yang miskin.[18]
  2. Bentuk dan Usaha Pendidikan Islam Pada Masa Khulafa’ al-Rasyidin (632-661 M)
    Pemberontakan orang-orang murtad, nabi-nabi palsu dan orang-orang yang enggan membayar zakat, memberikan pengalaman bagi orang Islam untuk memperteguh ajaran-ajaran Islam kaum muslimin sehingga dapat dihindari kejadian serupa. Pengalaman ini  memperteguh pendidikan Islam untuk memperkokoh nilai-nilai Islam di kalangan kaum muslimin. Akan tetapi, pelakanaan pendidikan Islam di masa Khalifah Abu Bakar masih seperti di masa Nabi, baik materi maupun lembaga pendidikannya.[19]
    Selain mengirimkan tentara untuk menumpas pemberontakan, Abu Bakar juga memusatkan perhatiannya untuk mengirimkan pasukannya dalam rangka ekspansi wilayah Islam ke Syiria dan berhasil menaklukkan Syiria. Akibat ekspansi, membuat umat Islam kurang memberikan perhatian terhadap pendidikan Islam.[20]
    Pada masa khalifah Umar bin Khattab, kondisi politik dalam keadaan stabil. Ekspansipun  mencapai hasil yang gemilang yang melipauti Semananjung Arabia, Palestina, Syiria, Irak, Persia, dan Mesir. Karena daerah-daerah tersebut memiliki dat istiadat dan kebudayaan yang bebeda dengan Islam, maka Umar bin Khattab memerintahkan panglima-panglima apabila berhasil menguasai suatu kota, hendaknya mereka mendirikan mesjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan.[21] Berkaitan dengan pendidikan itu, khlaifah Umar menunjuk dan mengangkat guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkan, yang bertugas mengajarkan isi al-Qur’an dan ajaran Islam kepada penduduk yang baru masuk Islam.[22]
    Meluasnya kekuasaan Islam, pada masa Umar ini, mendorong kegiatan Islam bertambah besar karena mereka yang baru saja memeluk agama Islam ingin menimba ilmu pengetahuan dari para sahabat yang menerima langsung dari Nabi Saw, khususnya mengenai hadis Rasul sebagai salah satu sumber agama (yang belum terbukukan dan masih dalam ingatan para sahabat) dan sebagai alat bantu untuk menafsirkan al-Qur’an. Gairah menuntut ilmu agama Islam tersebut di belakang hari mendorong lahirnya sejumlah pembidangan disiplin ilmu keagamaan, seperti tafsir, hadis, fikih dan sebagainya.
    Orang-orang yang baru masuk Islam dari daerah-daerah yang ditaklukkan, harus belajar Bahasa Arab jika mereka ingin belajar dan mendalami pengetahuan Islam. Oleh karena itu, masa ini sudah terdapat pengajaran Bahasa Arab.[23]
    Pada masa khalifah Utsman, pelaksanaan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada. Usaha kongkrit di bidang pendidikan Islam belum dikembangkan oleh khalifah Utsman. Namun begitu, satu usaha cemerlang yang terjadi di masa ini, yang berpengaruh luar biasa bagi pendidikan Islam. Melanjutkan usuluan Umar bin Khattab kepada  khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan tulisan-tulisan ayat al-qur’an, khalifah Utsman memerintahkan agar mushaf yang dikumpulan pada masa khalifah Abu Bakar, disalin oleh Zaid bin Tsabit bersama Abdullah bin Zubair, Zaid bin ‘Ash, dan Adurrahman bin Harits.[24]
    Mengganti Utsman, naiklah Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Sejak awal kekuasaannya, khlaifah ali selalu diselimuti pemberontakan hingga berakhir tragis dengan terbunuhnya khlaifah. Saat kericuhan politik di masa Ali ini hampir dapat dipastikan bahwa kegiatan pendidikan Islam mendapat hamabatan dan gangguan walaupun tidak terhenti sama sekali. Khalifah Ali saat itu tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan, karena seluruh perhatiannya terkonsentrsi pada masalah keamanan dan kedamaian bagi masyrkat Islam.[25]
    Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam pada zaman Khalifah al-Rasyidin secara keseluruhan belum berkembang seperti masa-masa sesudahnya. Pelaksanaan tidak jauh dengan masa Nabi, yang menekankan pada pengajaran baca tulis dan ajaran-ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan Hadis Nabi.
  3. Bentuk dan Usaha Pendidikan Islam Pada Masa Dinasti Umaiyah (661 M-705 M)
    1. Semenjak berpindahnya pusat kerajaan Islam ke Damaskus, penerjemahan berbagai buku Yunani ke dalam bahasa Arab mulai digalakkan, meskipun dengan demikian justru melahirkan berbagai masalah baru dalam dunia Islam[26]
    2. Pada zaman ini, diaturkan berbagai kursus (halaqah) di dalam mesjid.[27]
    3. Berkembangnya berbagai mazhab dan aliran dalam Islam pada zaman ini, menambah minat bagi para ulama untuk membahas dan memperdalam berbagai masalah agama Islam.[28]
    4. Mengirim para ulama bersama angkatan perang untuk menegakkan prinsip-prinsip Islam dan menyiarkan dakwah Islam.[29]
    5. Mementingkan penulisan sebagai alat perhubungan yang dahulunya tidak begitu dipentingkan.
    6. Membuka lebar-lebar pintu untuk mempelajari bahasa-bahasa asing. Hal ini didorong oleh keperluan terhadap bertambah luasnya kawasan Islam.
    7. Pusat pendidikan bergantung pada surau (Kuttab) dan mesjid.[30]
  4. Bentuk dan Usaha Pendidikan Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah (750 M-1258 M)
    1. Pada masa Dinasti Abbasiyah, tidak dijumpai seorang ahli pun kecuali dari orang-orang muslim.[31]
    2. Pada masa Dinasti abbasiyah ini pula, pertam kali didirikan institusi pendidikan baru,yaitu sekolah (Madrasah).
    3. Hospital dan pabrik peluru yang pertama kali dikenal dalam sejarah dunia didirikan pada zaman ini.[32]
    4. Pada masa ini pulalah lahir ulama-ulama besar dalam berbagai disiplin ilmu.[33]
    5. Pada zaman khalifah al-Makmun, berdiri dar al-Hikmah, yang walaupun semula merupakan pusat kegiatan pustaka dan penterjemahan namun dalam perkembangannnya berubah menjadi peguruan tinggi[34]
    6. Zaman pemerintahan al-Makmun menyaksikn sumber perkembangan ilmiah dan penterjemahan buku-buku lama dari berbagai bahasa ke bahasa Arab. Di antaranya adalah kitab-kitab Plato dan Aristoteles.[35]
    7. Aktivits pengislaman filsafat Yunani ini mungkin bertujuan baik, tetapi dampaknya negatifnya juga tidak sedikit,[36] sehingga tidak mengherankan apabila dengan itu kemudian, lahir dan berkembang pula pemikiran dari sementara ulama yang berusah membela kelebihan dan keutamaan Islam dibanding karya-karya Yunani.[37]
  5. Bentuk dan usaha Pendidikan Pada Masa Dinasti Umaiyah Spanyol (711 M-1492 M)
    Masa kerajaan Islam di Barat (Maghrib), yaitu Dinasti Umaiyah di Spanyol (Andalusia) lahir hampir bersamaan waktunya dengan Dinasti Abbasiyah di Timur (Baghdad).[38]Pada masa kekuasaan Dinasti Umaiyah Spanyol ini, ada beberapa catatan sejarah sebagai bukti adanya bentuk dan usaha pendidikan Islam yang dilaksanakan dalam masa kekuasaannnya. Di antaranya sebagai berikut:

    1. Peradaban di Spanyol banyak melahirnya nama-nama ulama dan filosof Islam terkenal, seperti Ibnu Bajah, Ibnu Hazm, Ibnu Thufail, Ibnu Arabi dan Ibnu Rusyd, kemudian belakangan sekali lahir nama besar lain, yaitu Ibnu Khaldun.[39]
    2. Golongan Almuhadiah di Marakusy yang menaklukan Cordova pada tahun 543 H/ 1148 M., dipimpin oleh Abd al-Mu’min, Abu Ya’kub dan Abu Yusuf yang terkenal karena semangat berilmu dan berfilsafat mereka.[40]
    3. Sebagaimana halnya dalam kekuasaan Dinasti Abbasiyah, kemajuan pada Dinasti Umaiyah di Spanyol juga ditandai dengan munculnya lembaga pendidikan untuk pertama kali dalam sejarah yang msih hingga sekarang, yaitu Madrasah.[41]
    4. Awal Perkembangan Perguruan tinggi di Eropa adalah dari Islam Spanyol.[42]
    5. Cordova (Spanyol) merupakan pusat studi-studi filsafat.[43]
  6. Bentuk dan Usaha Pendidikan Pasca Runtuhnya Dinasti Abbasiyah (1258 M hingga sekarang)
    Setelah pudarnya kekuasaan Abbasiyah di Baghdad, maka pusat kekuasaan Islam bergeser ke tangan bangsa Turki, dengan Istambul sebagai ibu kotanya. Dinasti ini mencatat prestasi yang menakjibkan dalam bidang militer, karena pernah memasuki jantung Eropa dalam gerakan penaklukannya, akan tetapi dalam bidang pendidikan justru mengalami kemunduran.
    Faktor penyebab kemunduran pendidikan pada masa pasca runtuhnya kejayaan Dinasti Abbasiyah ini antara lain disebabkan oleh beberapa faktor. Drs. Imam Bawawi, MA dalam bukunya Tradisionalisme Dalam pendidikan Islam mengemukakan bahwa faktor yang menyebabkan statisnya sistem pendidikan pada masa ini antara lain adalah:

    1. Kebekuan Pemikiran Islam
    2. Kecenderungan untuk kembali mengutamakan ilmu-ilmu naqliah
    3. Kebekuan institusi pendidikan yang ada
    4. Terlalu menonjolnya budaya Turki
    5. Diberikannya keistimewaan bagi golongan minoritas non-muslim untuk mengembangkan pola kehidupannya sendiri.
    6. Masuknya pengaruh Pendidikan Barat dalam dunia Islam.

Kemunduran-kemunduran di bidang pendidikan yang tampak dalam dunia Islam tersebut, juga telah diungkapkan oleh Hanun Asrohah, M.Ag. dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam, yaitu bahwa Gejala Kemunduran pendidikan Islam mulai tampak setelah abad XIII yang ditandai dengan terus melemahnya pemikiran Islam sampai Abad XVIII.[44]

Namun demikian, dia juga mengemukakan bahwa bahwa secara kuantitas, pendidikan Islam menunjukkan perkembangan yang baik. Hal ini terlihat dari beberapa catatan sejarah dalam bidang pendidikan Islam sebagai berikut:

  1. Madrasah telah diperkenalkan dan didirikan di beberapa wilayah Islam.
  2. Keterlibtan langsung penguasa terhadap pendidikan
  3. Memacu makin berkembangnya lenbaga-lembaga pendidikan.
  4. Penguasa dinasti Ayyubiyah, Mamluk, Utsmani dan sebagainya terus memperbanyak bangunan-bangunan Madrasah.
  5. Kontrol negara yang kuat terhadap sistem Madrasah membuat masyarakat Islam mengarahkan kegiatan pendidikan formal di madrasah-madrasah.
  6. Bahkan dari segi pengorganisasian, sistem madrasah mencapai puncak perkembangannya pada masa kerajaan Utsmani.[45]

Kemunduran pendidikan Islam pada masa-masa ini terletak pada beberapa aspek, yaitu:

  1. Merosotnya mutu pendidikan dan pengajaran di lembaga-lembaga pendidikan Islam.
  2. Materi yang diajarkan hanyalah materi-ateri dan ilmu-ilmu keagamaan.
  3. Lembaga pendidikan tidak lagi tidak lagi mengajarkan ilmi-ilmu filsafat termasuk ilmu pengetahuan.
  4. Rasionalisme pun kehilangan peranannya, dalam arti semakin dijauhi.
  5. Daya nalar umat Islam mengalami kebekuan, sehingga pemikiran kritis, penelitian dan ijtihad tidak lagi dikembangkan.

Sebagai akibatnya, sejarah Islam pada masa-masa ini tidak didengar ada nama-nama ulama yang menghasilkan karya-karya intelektualsme yang mengaguman.[46]

Keadaan sistem pendidikan yang statis ini terus berlangsung hingga terjadi persentuhan dengan dunia Barat. Hanun Asrohah, M.Ag. dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam menyebutkan bahwa kebangkitan intelektual di Eropa telah memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan Eropa. Semangat Rasionalisme menyusul melimpahnya kekayaan yang dibawa dari Amerika dan Timur Jauh membuat negara-negara Eropa menjadi kuat baik militer, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan dan teknologi.[47]

Dalam beberapa sumber literatur, proses persentuhan dunia Islam dengan Barat untuk pertama kali terjadi sekitar abad XVIII, yaitu ketika Ekspansi Napoleon berhasil menguasai Mesir sebagai salah satu pusat Islam yang terpenting.[48] Sementara menurut Prof. Dr. Harun Nasution, persentuhan dunia Islam dengan Barat juga telah terjadi pada periode pertengahan (1250 M-1800 M),[49] yaitu terutama pada kerajaan Utsmani sekitar abad XVII.[50]

Hanun Asrorah, M.Ag. menyebutkan dalam bukunya Sejarah pendidikan Islam bahwa menurut sebagian tokoh-tokoh pembaharu Islam, salah satu penyebab kemunduran umat Islam adalah melemah dan merosotnya kualitas pendidikan Islam.[51]

Pembaharuan pendidikan Islam pertama kali dimulai di kerajaan Utsmani. Adapun bentuk dan usaha pendidikan Islam yag dilakukan oleh pemerintah kerajaan Utsmani pada masa ini, antara lain:

  1. Turki mengembangkan kemajuan ilmu pengetahuan yang selama ini dilupakan sebagai konsekwensi logis dari pembangunan.

  2. Mendirikan lembaga terjemah pada tahun 1717 M yang bertugas menterjemahkan buku-buku dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Turki
  3. Mendirikan percetakan di Istambul pada tahun 1727 M sebagai usaha untuk mempermudah akses buku-buku pengetahuan.
  4. Mendirikan sekolah teknik militer, yang menerapkan sistem baru yang dapat menjadi contoh bagi lembaga pendidikan yang menganut sistem pendidikan tradisional.
  5. Membenahi kurikulum di Madrasah-Madrasah dengan juga memasukkan ilmu-ilmu pengetahuan umum.
  6. Sultan Mahmud II mendirikan sekolah-sekolah Model Barat.[52]

  7. Sultan Mahmud II juga mengirim + 159 pelajar ke luar negeri, seperti ke Inggris, Perancis, Rusia dan Austria.[53]

Seperti halnya di Turki, usaha pembaharuan pendidikan di Mesir juga diawali setelah adanya kontak dengan peradaban modern Barat. Bentuk dan usaha pendidikan Islam yang dilaksanakan pada saat itu antara lain:

  1. Setelah Muhammad Ali naik tahta menjadi penguasa Mesir, ia memberikan perhatian khusus pada bidang militer dan ekonomi.[54] Untuk memajukan kedua bidang tersebut dibutuhkan ilmu-ilmu modern, oleh karena itulah ia juga mencurahkan perhatiannya terhadap bidang pendidikan.
  2. Selain meniru corak dan model pendidikan barat, Muhammad Ali juga mempercayakan pengawasan sekolah-sekolah kepada orang-orang Barat, bahkan guru-gurunya juga didatangkan dari Barat (Eropa).

  3. Mendatangkan tenaga ahli dari Eropa
  4. Mengirimkan siswa-siswa untuk belajar ke Italia, Perancis, Inggris dan Austria.[55]

D. Korelasi Antara Periodisasi Sejarah Peradaban Islam dengan Dinamika Sejarah Pendidikan Islam

Dalam beberapa sub-bab pembahasan di atas telah dikemukakan beberapa bentuk dan usaha pendidikan Islam yang tercatat dalam sejarah Islam, yang telah penulis kemukakan secara kronologis.
Dalam menyikapi pertanyaan tentang ada tidaknya korelasi antara periodisasi sejarah peradaban Islam dengan sejarah pendidikan Islam, Dra. Zuhairini, MA. mengemukakan bahwa sejarah pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan hubungannya dengan sejarah Islam sendiri, karena sejarah pendidikan Islam memang berada dalam sejarah Islam itu sendiri.[56] Dia sendiri membagi sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam ke dalam lima periode, yaitu sebagai berikut:

  1. Periode pembinan pendidikan Islam yang berlangsung pada zaman Nabi Muhammad Saw.
  2. Periode pertumbuhan pendidikan Islam, yang berlangsung sejah Nabi Muhammad Saw wafat sampai masa akhir Bani Umayyah, yang diwarnai dengan berkembangnya ilmu-ilmu naqliyah.
  3. Periode kejayaan (puncak perkembangan) pendidikan Islam, yang berlangsung sejak permulaan daulah Abbasiyah sampai dengan jatuhnya Baghdad, yang diwarnai dengan berkembangnya ilmu akliyah dan timbulnya madrasah, serta memuncaknya perkembangan kebudayaan Islam.
  4. Periode kemunduran pendidikan Islam, yaitu sejak jatuhnya Baghdad sampai jatuhnya Mesir ke tangan Napoleon, yang ditandai dengan runtuhnya sendi-sendi kebudayaan Islam dan berpindahnya pusat-pusat pengembangan kebudayaan ke dunia Barat.
  5. Periode pembaharuan pendidikan Islam, yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh Napoleon sampai masa kini, yang ditandai dengan gejala-gejala kebangkitan kembali umat dan kebudayaan Islam.[57]

Sementara Prof. Dr. Hasan Langgulung dalam bukunya Manusia dan Pendidikan menyebutkan ada empat periode dalam sejarah pendidikan Islam. Periodisasi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Zaman Pembinaan Awal
    1. Zaman Rasul dan sahabat-sahabat yaitu antara 571 M dan 661 M
    2. Zaman Kerajaan Umaiyah, yaitu antara 661 M sampai 705 MCiri-ciri utama pendidikan Islam pada zaman awalan ini adalah:
      1. Pendidikan Islam murni berdasarkan Alquran dan Hadis
      2. Bertujuan meneguhkan dasar-dasar agama baru
      3. Pada prinsipnya berdasar pada ilmu-ilmu Alquran/naqliyah
      4. Menggunakan bahan tertulis sebagai alat komunikasi
      5. Membuka peluang untuk mempelajari bahan asing
      6. Menggunakan Kuttab, mesjid dan perpustakaan sebagai pusat pendidikan.
  2. Zaman Keemasan
    1. Di Timur, bermula dengan berdirinya kerajaan Abbasiyah di Baghdad (750 M-1258 M)
    2. Di Barat, bermula pada tahun 711 M, dan berakhir dengan jatuhnya Granada pada tahun 1492 M. Kerajaan Islam terakhir di Spanyol.

Pendidikan Islam di masa itu menampilkan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Zaman Kemerosotan
    Bermula dengan berdirinya kerajaan Usmaniyah pada tahun 1517 M, sampai tahun 1917 M, yaitu kalahnya Turki pada perang dunia pertama dan bebasny negara-negara Arab dari kerajaan Utsmaniyah dengan kerjasama penjajah penjajah Inggris, Perancis dan Misionary Kristen.
  2. Zaman Baru
    Zaman Baru yaitu semenjak permulaan abad kedua puluh sampai sekarang.[58]

E. Analisis

Berdasarkan formulasi periodisasi sejarah peradaban Islam yang dikemukakan oleh para pakar di atas, penulis melihat adanya hubungan yang tidak terpisahkan antara periodisasi sejarah peradaban Islam dengan periodisasi sejarah pendidikan Islam. Sehingga pluktuasi dinamika bentuk dan usaha pendidikan Islam dalam perjalanan sejarah, berjalan mengiringi dinamika sejarah peradaban Islam.

Apa yang dikemukakan oleh Dra. Zuhairini, MA mengenai hubungan pendidikan Islam dengan sejarah Islam di atas,[59] memang ada benarnya, karena kajian terhadap sejarah pendidikan Islam yang selama ini dilakukan dan disajikan dalam berbagai literatur selalu bersandar pada sejarah Islam. Sehingga, ketika dilakukan periodisasi terhadap sejarah Islam, sejarah pendidikan Islam juga ikut terbagi dalam periode-periode sejarah Islam tersebut.

Jika penulis melihat dari sekian rumusan periodisasi sejarah pendidikan Islam yang dikemukakan oleh para pakar, terlihat bahwa landasan awal dan mendasar dalam usaha periodisasi sejarah pendidikan Islam mengacu pada term “Dunia Islam”, kemudian diikuti dengan meneliti karakteristik bentuk pendidikan serta prasasti sejarah yang masih bisa dibaca. Analisis yang penulis kemukakan ini didasari oleh beberapa alasan, antara lain sebagai berikut:

  1. Kajian Sejarah pendidikan Islam secara geografis, hanya mengupas sejarah Islam pada pesilangan tiga benua, yaitu membentang dari kawasan Timur Tengah (Asia), melintasi kawasan Eropa Timur hingga sebagian kawasan benua Afrika. Nama-nama daerah yang disebutkan dalam sejarah Islam, antara lain bermuara di Mekkah (awal masa kenabian Muhammad Saw), Madinah, Damaskus, Baghdad, Spanyol, Turki, Mesir dan India. Nama kawasan lain yang mungkin juga disebutkan, hanyalah sebagai bingkai penghias lukisan sejarah Islam.
    Kenapa hanya kawasan itu saja yang menjadi lokasi penelitian sejarah Islam secara umum? Apakah Islam yang juga tersebar di berbagai kawasan lain di planet Bumi ini tidak mempunyai sejarah pertumbuhan dan perkembangannya? Lokasi sejarah Islam yang hanya berkisar pada kawasan-kawasan tersebut, menurut analisa penulis disebabkan bahwa penelitian sejarah Islam disandarkan pada term “Dunia Islam”.
    Istilah Dunia Islam menurut Dr. Syed Sajjad Husain dan Dr. Syed Ali Asharaf dalam bukunya Crisis Muslim Education mengacu pada wilayah yang penduduknya sebagian besar Muslim. Wilayah ini membentang dari Maroko sampai Nusantara (Indonesia).[60]Karena kawasan dunia Islam dibatasai pada kawasan tersebut, maka penelitian dan kajian sejarah Islam selalu mengambil lokasi pada lingtang kawasan tersebut.
    Melihat aspek sosiologis dari definisi yang dikemukakan Dr. Syed Sajjad Husain dan Dr. Syed Ali Asharaf tersebut, maka India dan beberapa kawasan lainnya tidaklah bisa dimuat dalam kajian sejarah Islam. karena menurut Hanun Asrohah, M.Ag. dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam, menyebutkan bahwa di India tiga kelompok masyarakat besar, yaitu Umat Islam, masyarakat Hindu dan bangsa Inggris sebagai penguasa koloni. Umat Islam di India adalah kelompok masyarakat yang paling terbelakang yang hanya berjumlah seperlima dari Umat Hindu.
    Dari apa yang dikemukakan oleh Hanun Asrohah, M.Ag. tersebut, maka dapat dipahami bahwa masyarakat Islam di India adalah masyarakat minoritas. Jika dibandingkan dengan definisi yang dikemukakan oleh Dr. Syed Sajjad Husain dan Dr. Syed Ali Asharaf di atas, maka India tidak bisa dimasukkan dalam kategori sejarah pendidikan Islam.
    Menurut analisa penulis, pengkajian sejarah Islam tidak begitu tepat, karena lokasi Islam dalam sejarah hanya meliputi beberapa kawasan saja. Bahkan hubungan realitas sejarah dengan definisi dunia Islam juga tidak begitu tepat. Karena itu, penulis menilai bahwa penelitian dan pengkajian terhadap sejara Islam harus didasarkan pada aspek karakteristik dan tidak terikat oleh lokasi.
    Hal ini tentunya juga berlaku dalam penelitian dan pengkajian sejarah pendidikan Islam, karena harus diakui bahwa sejarah pendidikan Islam memang merupakan bagian dalam sejarah Islam.
    Dunia Islam menurut penulis, lebih pantas diterjemahkan dengan masa pemerintahan Islam yang masih bernaung dalam satu struktur pemerintahan Islamiyah. Jadi, ketika mengkaji sejarah Islam dan berbagai aspeknya, hanya pada masa di mana Islam bernaung di bawah satu payung pemerintahan, yaitu khilafah Islamiyah.
  2. Karakteristik pendidikan Islam adalah faktor penting yang harus diperhatikaan dalam melakukan periodisasi sejarah pendidikan Islam. periodisasi yang dikemukakan oleh Dra, zuhairini, MA dan Prof. Dr. Hasan Langgulung, menurut Analisa penulis memang sudah cukup baik. karena sejarah pendidikan Islam yang mereka bagi dalam periode-periode tersebut sudah cukup mempunyai karakteristik masing-masing. Namun di sisi lain, penulis juga melihat adanya faktor kebetulan dalam model periodisasi yang mereka kemukakan, karena periodisasi tersebut terkait dengan aspek kekuasaan dan pemerintahan.
    Menurut analisis penulis, setiap pemerintahan mempunyai karakteristik sendiri, yang dipengaruhi oleh faktor kultural dan struktural masyarakat pada zaman tersebut. Periode-periode sejarah pendidikan Islam dalam plutuasinya yang dikemukakan oleh para pakar terikat dengan politik dan pemerintahan, karena perubahan karakteristik pendidikan Islam, terjadi bersamaan perubahan.
    Berdasarkan beberapa alasan tersebut dan melihat dinamika sejarah pendidikan Islam dalam perjalanan sejarah, maka pola periodisasi pendidikan Islam yang bisa penulis kemukakan di sini terbagi menjadi empat periode:
  1. Periode Awal Daulah Islamiyah
    1. Masa Rasulullah Saw.
    2. Masa Khulafa al-Rasyidin
    3. Masa Bani Umaiyah
  2. Periode pertengahan Daulah Islamiyah
    1. Masa awal Daulah Abbasiyah
    2. Periode akhir Daulah Islamiyah
    3. Masa akhir Daulah Abbasiyah
    4. Periode pasca Kehancuran Daulah Islamiyah
    5. Periode Pasca hancurnya Daulah Abbasiyah
  3. Periode Kebangkitan di berbagai kawasan dunia Islam

Periodisasi sejarah pendidikan Islam yang penulis kemukakan di atas didasarkan pada aspek karakteristik pendidikan Islam. karakteristik pola periodisasi sejarah pendidikan Islam tersebut, dapat penulis gambarkan dalam bentuk skema (Terlampir)

F. Penutup

Kesimpulan

  1. Periodisasi Sejarah Peradaban Islam secara umum terbagi menjadi tiga periode, yait periode klasik, periode pertengahan dan periode modern.
  2. Dinamika sejarah pendidikan Islam mempunyai karakteristik yang berbeda-beda pada setiap periodenya.
  3. Periodisasi sejarah pendidikan Islam yang dikemukakan oleh para pakar terikat dengan periodisasi sejarah peradaban Islam, karena di samping aspek pendidikan merupakan bagian dari peradaban Islam.

G. Catatan Penulis

  • Posting berjudul Periodisasi Sejarah Pendidikan Islam ini, menduduki urutan kedua setelah Rasyid Ridha dan Pemikirannya (10%), dalam hal posting yang paling sering dikunjungi, yaitu 8% dari total kunjungan.
  • Terima kasih ats kunjungan anda di Blog saya. Mudah-mudahan ini memberikan manfaat bagi anda.
  • Jika anda tidak ingin ketinggalan artikel yang kami posting, silahkan untuk berlangganan melalui e-mail.

🙂 😀 😆 😳 😆 😀 🙂

DAFTAR PUSTAKA

Asrohah, Hanun, Sejarah Pendidikan Islam, Logos, Jakarta, 1999

Attas, Syekh Muhammad al-Naquib al-, Konsep pendidikan Dalam Islam, Mizan, Bandung, 1984

Bawani, Imam, Tradisionalisme Dalam pendidikan Islam, Cet. I, Al-Ikhlas, Surabaya, 1993

Fazlurrahman, Islam, Pustaka, Bandung, 1984

Ghulayaini, Musthafa al-, Idhah al-Nashihin, Dar al-Fikr, Beirut, 1984

Heriawan, Adang, et.al., Mengenal manusia dan Pendidikan, Cet. I, Liberty, Yogyakarta, 1988

Ihsan, H. Fuad, Dasar-Dasar Kependidikan, Cet. I, Rineka Cipta, Jakarta, 1997

Marimba, Ahmad D., Filsafat Pendidikan Islam, Alma’arif, Bandung, 1989

Musra, Muhammad Munir, Al-Tarbiyah al-Islamiyah: Ushuluha wa Tathawuruha fi al-Bilad al-Arabiyah, A’lam al-Kutub, t.tp., 1977

Nahlawi, Abdurrahman an-, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, CV. Diponegoro, Bandung, 1992

Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Cet. II, Bulan Bintang, Jakarta, 1982

Purwanto, M. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Cet. VIII, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1995

Qurthubiy, Ibnu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansyary al-, Tafsir al-Qurthubiy, Juz. I, Dar al-Syabiy, Kairo, t.th

Shiddiqy, T.M. Hasbi Ash-, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir Al-Qur’an, Bulan Bintang, Jakarta, 1972

Soekarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Angkasa, Bandung, 1985

Somad, Birlian, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, Alma’arif, Bandung, 1981

Syalabi, Ahmad, Sejarah Pendidikan Islam, Terj.: Muchtar Jahja dan Sanusi Latief, Bulan Bintang, Jakarta, 1978

Syalabi, Ahmad, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, al-Kasyaf, Kairo, 1954

Syarif, M.M., Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1994

Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Asharaf, Crisis Muslim Education, Terj.: Drs. Rahmani Astuti, Cet. V, CV.Gema Risalah Press, Bandung, 1994

Yaqub, Ali Mustafa, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, Pustaka Firdaus, t.tp, 2000

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Cet. 10, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2000

Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Hidakarya Agung, Jakarta, 1989

Zuhairi, et.al., Sejarah pendidikan Islam, Cet. III, Bumi Aksara, Jakarta, 1992

😆 CATATAN AKHIR 😆

(Setiap kali aku browsing nyari makalah dari internet, Makalah yang juga menyediakan Daftar Pustaka dan catatan kaki adalah jenis makalah yang paling aku cari…. 😆 Aku yakin, kamu juga begitu….. 😆 )

Berikan komentarmu tentang tulisan ini….!!!! 😀 Please!

<=== 😳 ===>


[1]Paedagogie berarti “pendidikan” sedangkan paedagoiek artinya “ilmu pendidikan”. H. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Cet. I, h. 1; Paedagogos ialah seorang atau budak pada zaman Yunani kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Juga dirumahnya, anak-anak tersebut selalu dalam pengawasan para Paedagogos. Jadi nyatalah bahwa pendidikan anak pada zaman Yunani kuno sebagian besar diserahkan kepada Paedagogos itu. Lihat: M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), Cet. VIII, h. 3.

[2]Drs. H. Fuad Ihsan, Op.Cit., h. 1-2; Pendidikan merupakan kegiatan dimanis dalam setiap individu yang mempengaruhi perkembangan fisik, mental, emosi sosial dan etikanya, dengan perkataan lain pendidikan merupakan suatu kegiatan yang dinamis yang mempengaruhi setiap aspek kepribadian dan kehidupan individu. Lihat: Drs. Adang Heriawan, et.al., Mengenal manusia dan Pendidikan, (Yogyakarta: Liberty, 1988), Cet. I, h. 2.

[3]Lihat: Muhammad Munir Musra, Al-Tarbiyah al-Islamiyah: Ushuluha wa Tathawuruha fi al-Bilad al-Arabiyah, (t.tp.: A’lam al-Kutub, 1977), h. 17.

[4]Istilah al-Ta’dib dan al-Ta’lim jarang sekali digunakan. Padahal kedua istilah tersebut telah digunakan pada awal pertumbuhan pendidikan Islam. Ahmad Syalabi, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Kairo: al-Kasyaf, 1954), h. 213.

[5]Abdurrahman an-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Diponegoro, 1992), h. 31; Al-Tarbiyah berasal dari kata rabb. kata ini memiliki banyak makna, tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestarian dan eksistensinya. Lihat: Ibnu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansyary al-Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, (Kairo: Dar al-Syabiy, t.th), Juz. I, h. 120.

[6]Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas, Konsep pendidikan Dalam Islam, (Bandung: Mizan, 1984), h. 10.

[7]Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani  berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Drs. Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Alma’arif, 1989), h. 19.

[8]Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri, berkepribadian tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya adalah ajaran Allah yang tercantum dengan lengkap di dalam Al-Qur’an yang pelaksanaannya di dalam praktek hidup sehari-hari sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Birlian Somad, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, (Bandung: Alma’arif, 1981), h. 21.

[9]Pendidikan Islam adalah menanamkan akhlak mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasehat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemapuan (meresap dalam) jiwanya, kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk memanfaatkan tanah air. Musthafa al-Ghulayaini, Idhah al-Nashihin, (Beirut: Dar al-Fikr, 1984), h. 189.

[10]Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), Cet. II, h. 13.

[11]Ibid., h. 13-14.

[12]Berlangsung sejak Rasulullah Saw menerima wahyu pertama pada tanggal 17 Ramadhan 13 tahun sebelum hijrah bertepatan dengan 6 Agustus 610 M–12 Rabiul Awal 11 H, bertepatan dengan 8 Juni 632 M, Zuhairi, et.al., Sejarah pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), Cet. III, h. 14; Sementara Dr. Badri Yatim, MA menyatakan bahwa masa Rasulullah Saw ini dimulai sejak diturunknnya wahyu pertama, yaitu tanggal 17 Ramadhan di tahun 611 M. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000), Cet. 10, h. 18.

[13] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1989), h. 5-6

[14] T.M. Hasbi Ash Shiddiqy, sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir Al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1972), h. 45/46

[15] Zuhairini, et.al, Op.Cit., h. 30

[16] Ibid, h. 33

[17] Ibid. h. 35

[18] Ali Mustafa Yaqub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, (t.tp: Pustaka Firdaus, 2000), h. 134

[19] Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999), h. 16-17

[20] Ibid. h. 17

[21] Ahmad Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, Terjemah: Muchtar Jahja dan Sanusi Latief, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), h. 94

[22] Hanun Asrohah, Op.Cit., h. 17

[23] Ibid.

[24] Ibid., h. 18-19.

[25] Soekarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Angkasa, 1985), h. 68

[26]Masalah-masalah dimaksud adalah persoalan yang sama dengan yang diperdebatkan oleh golongan Asy’ariyah dan Mu’tazilah, yaitu tentang apakah Al-Qur’an itu Hadits atau Qadim. Hasan Langgulung, h. 11.

[27]Sistem pendidikan di dalam mesjid yang diatur dalam bentuk halaqah inilah yang memupuk berkembangnya berbagai mazhab dan aliran-aliran dalam bidang keislaman, sepeti aliran Syi’ah, Khawarij dan Mu’tazilah. Ibid., h. 12.

[28]Di antara masalah-masalah tersbut adalah masalah Qadha, Qadar, Jabar, Ikhtiar, dosa besar dam lain-lain. Ibid., h. 12

[29]Hal ini seperti yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yaitu dengan mengutus sepuluh orang ahli fiqh untuk mengajar penduduk Barbar tentang agma Islam. Ibid.

[30]Pada zaman ini, istilah sekolah (Madrasah) dan perpustakaan belum dikenal. Ibid., h. 13.

[31]Para pakar pada masa Dinasti Abbasiyah tersebut terutama pada disiplin ilmu Geografi, Kimia, Fisika, Matematika, Sastra, Falak, di samping disiplin ilmu-ilmu agama Islam. Ibid, h. 14.

[32]Tepatnya pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid.

[33]Di antara ulama-ulama Islam yang terkenal saat itu adalah Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Di samping itu, sepanjang sejarah kekuasaan dinasti ini juga dikenal nama-nama ulama dan filosof, seperti al-farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali dan lain-lain.

[34]Imam Bawani, Tradisionalisme Dalam pendidikan Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993), Cet. I, h. 75.

[35]Dengan terjemahan kitab-kitan Plato dan Aristoteles ini, maka mulaailah filsaft Yunani menyelinap masuk ke dalam pemikiran umat Islam. Di samping itu juga, buku-buku kedokteran ciptaan Galenus diterjemahkn ke dalam bahasa Arab dan mendapat perhatian besar dari kalangan ulama-ulama Islam, bahkan selanjutnya Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan Ibnu Thufail adalah di antara filosof-filosof muslim yang juga adalah seorang dokter perobatan. Hasan Langgulung, Op.Cit., h. 14.

[36]Proses pengislaman filsafat Yunani tersebut tentu saja dengan tujuan baik, yaitu berusha menyiarkan agama Islam kepada orang-orang yang telah lama menganut filsafat Yunani ini. Tetapi pengaruh yang buruk juga tidak sedikit, yaitu timbulnya usaha golongan kaum muslimin untuk menafsirkan Al-Qur’an dengan kacamata filsafat Yunani, seperti berlaku pada golongan Ikhwanusyifa. Ibid., h. 15.

[37]Di antara Ulama yang paling banyak mengkaji filsafat Yunani barangkali adalah Imam al-Ghazali, tetapi ia juga yang paling lantang mengkritik filsafat dalam bukunya Tahafut al-Falasifah. Ibid.

[38]Lihat: Ibid., h. 13.

[39]Ibid., h. 16.

[40]M.M. Syarif, Para Filosof Muslim, (Bandung: Mizan, 1994), h. 199.

[41]Imam Bawani, Op.Cit., Cet. I, h. 74.

[42]Pada zaman khalifah al-Makmun, berdiri dar al-Hikmah, yang walaupun semula merupakan pusat kegiatan pustaka dan penterjemahan namun dalam perkembangannnya berubah menjadi peguruan tinggi. Dari sinilah bahwa lembaga pendidikan tingkat universitas yang semula lahir dalam pangkuan Islam, akhirnya merembas ke Eropa melalui Andalusia (Spanyol). Ibid.,      h. 75.

[43]MM. Syarif. Loc.Cit.

[44]Hanun Asrohah, Op.Cit., h. 120.

[45]Sistem pendidikan pada zaman kerajaan Utsmani dilembagakan secara sistematis, dipelihara dan ditunjang oleh pejabat “Syaikh al-Islam” dengan kecakapan dan sistem administrasi yang tinggi. Fazlurrahman,Islam, (Bandung: Pustaka, 1984), h. 268.

[46]Para ulama lebih senang mengikuti pemikiran-pemikiran ulama terdahulu daripada berusaha melakukan penemuan-penemuan baru. Keterpesonaan terhadap buah pikiran masa lampau, membuat umat Islam merasa cukup dengan apa yang sudah ada. Hanun Asrorah, Op.Cit., h. 120-121.

[47]Ibid., h. 127.

[48]Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong negara-negara Eropa mengembangkan teknologi industri. Selanjutnya, teknologi industri ini mendorong terjadinya kompetensi di antara negara-negara Eropa untuk mendapatkan peluang bagi kebutuhan bahan mentah dan pemasaran hasil industri mereka. Tuntutan ini mengakibatkan intervensi Barat terhadap negara-negara terbelakang, termasuk daerah-daerah yang pernah dikuasai Islam. Ibid., h. 128.

[49]Harun Nasution membagi sejarah peradaban Islam pada tiga periode, yaitu periode Klasik (650 M-1250 M), periode pertengahan (1250 M-1800 M)dan periode Modern (1800 sampai sekarang). Lihat: Harun Nasution, Op.Cit., h. 12..

[50]Lengkapnya lihat: Ibid., h. 15.

[51]Anggapan inilah yang menyebabkan munculnya kembali gagaran-gagasan tentang pembaruan pendidikan Islam yang diikuti dengan pelaksanaan perubahan penyelenggaraannya. Hanun Asrohah, Op.Cit., h. 129.

[52]Sekolah-sekolah yang didirikan oleh Sultan Mahmud II antara lain; Sekolah Kedokteran (Tilahanie Amire)dan Sekolah Teknik (Muhandisane) pada tahun 1827 M, Sekolah Akadmi Militer pada tahun 1834 M. Ibid., h. 132.

[53]Lihat: Ibid., h. 132-133.

[54]Bidang Militer akan memberikan dukungan untuk mempertahankan dan memperbesar kekuasaannya, sedangkan bidang ekonomi akan sangat diperlukan dalam membiayai masalah kemiliteran. Ibid., h. 133.

[55]Menurut statistik, antara tahun 1823 M dan 1844 M, sekitar 311 pelajar dikirim ke Eropa. Ibid.

[56]Zuhairini, Op.Cit., h.

[57]Ibid., h. 13.

[58]Hasan Langgulung, Op.Cit., h. 10.

[59]Sejarah pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan hubungannya dengan sejarah Islam, karena sejarah pendidikan Islam memang berada dalam sejarah Islam itu sendiri. Lihat: Zuhairini, Op.Cit., h. 13.

[60]Dr. Syed Sajjad Husain dan Dr. Syed Ali Asharaf, Crisis Muslim Education, Terj,: Drs. Rahmani Astuti, (Bandung: CV. Gema Risalah Press, 1994), Cet. V, h. 8.

__________________________________

Tentang Posting ini:

Tulisan ini adalah Tugas Makalah untuk Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam pada waktu penulis Kuliah di Program Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri Antasari Banjarmasin.

Pembebasan Dunia Islam dari Penjajahan Barat


Pembebasan Dunia Islam dari

Penjajahan Barat

Oleh:

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq

 

1st.    Pendahuluan

1.                          Penjajahan Barat Atas Dunia Islam

Kajian masalah pembebasan dunia Islam atas penjajahan Barat tentunya tidak bisa diuraikan tanpa mengetahui gambaran jelas mengenai penjajahan atas dunia Islam itu sendiri.

Berbicara masalah penjajahan atas dunia Islam, dalam beberapa sumber disebutkan bahwa sampai akhir perang dunia II, hampir semua daerah-daerah muslim di dunia berada dalam kekuasaan bangsa Eropa, baik sebagai jajahan, atau setengah jajahan atau apapun istilahnya[1]

Hal senada juga diungkapkan oleh Syekh Taqiyyuddin al-Nabhani. Ia mengatakan bahwa lama sebelum payung dunia Islam, Khilafah Utsmani runtuh pada tahun 1924, bangsa Barat telah melakukan penjajahan militer terhadap dunia Islam. Diantaranya yaitu daerah Aljazair oleh Perancis, Irak, India, Palestina, Yordania, Mesir dan kawasan Teluk dikuasai Inggris dan sebagainya.[2]

Barat menyadari benar potensi umat Islam kalau kaum muslim bersatu. Beberapa potensi umat Islam itu adalah ideologi (aqidah Islam), geopolitik (posisi yang strategis di dunia), sumber alam (menguasai sumber alam yang vital terutama minyak), sumber daya manusia (lebih dari 1,5 milyar), militer dan lainya. Carleton, saat mengomentari peradaban Islam dari tahun 800 M hingga 1600 M, menyatakan:

“Peradaban Islam merupakan peradaban yang terbesar di dunia. Peradaban Islam sanggup menciptakan negara adidaya (Super State) yang terbentang dari satu samudera ke samudera lain; dari iklim Utara hingga tropis dengan ratusan juta orang di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan suku.”[3]

Samuel Huntington, dalam The Clash of Civilitation, menulis, “Problem mendasar bagi Barat bukanlah fundamentalisme, tetapi Islam sebagai peradaban yang penduduknya yakin ketinggian kebudayaannya tapi dihantui rendahnya kekuataan mereka saat ini.”[4]

Pada abad XVIII dan XIX M, misionaris Eropa masuk ke negara-negara Islam dan memulai kegiatannya secara luas. Awalnya, gerakan ini bertujuan untuk menyebarkan pemikiran Kristen dan mengganti agama kaum muslimin. Namun, usaha mereka mengalami kegagalan. Karena itu, mereka mengganti metode penyeberluasan misi mereka. Sebagai ganti pengajaran ajaran Kristen, mereka mempropagandakan kebudayaan Barat dan nasionalisme. Berdasarkan pengakuan sebagian penulis Barat, seperti George Antonius, benih-benih pemikiran pertama Barat seperti penolakan agama, liberalisme, dan sekularisme secara terus-menerus ditanamkan oleh misionaris Kristen di negara Islam. Tujuan mereka adalah untuk memperlemah keyakinan kaum muslimin di kawasan itu tehadap agama Islam dan mempersiapkan kondisi bagi terlaksananya imperialisme di sana. Para misionaris, dengan mendirikan sekolah, pusat keilmuan, dan universitas, menyebarkan dasar-dasar pemikiran Barat dan dengan jalan ini mereka mempromosikan peradaban Barat di dunia Islam.

Konsep negara Islam termasuk dalam perkara–perkara Ijtihadiyah, karena tidak dinyatakan dalam al–Quran atau as–Sunnah. Menurut Muhammad bin Hassan As–Syaibani (ulama terkemuka dari mazhab Hanafi), negara Islam ialah negara yang dikuasai oleh umat Islam dan orang-orang Islam beroleh keamanan di dalamnya. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Syeikh Muhammad Abu Abu Zuhrah, sebagai berikut: “Negara Islam ialah negara yang berada di bawah kuasa pemerintahan Islam, dalam mana kekuatan dan pertahanannya berada di tangan umat Islam.”[5]

2nd.    Pembebasan Dunia Islam atas Penjajahan Barat

Pembebasan dunia Islam atas penjajahan barat diklasfikasi menjadi dua bagian, yaitu penjajahan secara fisik (penjajahan militer) dan penjajahan non-fisik (penjajahan ideologi).

1.                          Pembebasan Dari Penjajahan Fisik

Kebangkian Islam yang lahir pada akhir abad ke-19 merupakan jawaban terhadap pengaruh dunia barat yang yang gencar menyerang kaum muslimin.[6]

Menurut Harun Nasution reaksi pembebasan terhadap pengaruh Eropa timbul pertama kali di Kerajaan Turki Utsmani dan Mesir. Orang-orang Turki Utsmaniyah sejak awal telah mempunyai kontak langsung dengan Eropa, karena kekuasaan Kerajaan Turki Ustmani hingga abad ke-17 Masehi telah mencapai Eropa Timur yang meluas sampai ke gerbang kota Wina. Tetapi sejak abad ke-18, Kerajaan Tukri Ustmani mulai mengalami kekalahan dari kerajaan-kerajaan Eropa. Kekalahan oleh Eropa –yang pada abad-abad sebelumnya masih dalam keadaan mundur– inilah yang menjadi pemicu adanya pembaharuan di Kerajaan Turki.[7]

Sementara kebangkitan Islam di Mesir terjadi sejak terjadinya kontak dengan Eropa yang dimulai dari datangnya ekspedisi Napoleon Bonaparte yang mendarat di Aleksandria pada tahun 1798 M.

Dalam proses kebangkitan Islam pasca persentuhan dengan barat di Mesir, di kenal beberapa orang tokoh yaitu Rifa’i al-Thahthawi (1803-1873 M)[8], Jamaluddin al-Afghani (1839-1877 M)[9], Muhammad Abduh (1849-1905 M)[10] dan Rasyid Ridha (1864-1935 M).

Sementara menurut L. Stoddard, usaha pembebasan dunia Islam atas penjajahan barat secara fisik pertama kali dilakukan di Mesir oleh Muhammad Abdul Wahhab pada awal abad XIX. Dia membawa konsep persatuan umat Islam dengan nama Pan-Islamisme.[11]Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh L. Stoddardsebagai berikut:

Ketika dunia Islam diliputi kegelapan, tiba-tiba bergemalah seruan dari padang pasir yang luas itu –tempat lahir Islam– memanggil mereka kembali kepada jalan yang benar. Yang meneriakkan seruan itu ialah juru islah yang termashur, Muhammad bin Abdul Wahhab. Ia menyalakan api yang membakar sampai ke pelosok-pelosok  dunia Islam. Ia menggerakkan umat Islam untuk memperbaiki jiwa danmembangkitkan kemegahan dan kebesaran yang dahulu. Kebangkitan umat Islam yang perkasa mulailah.[12]

Diterangkannya pula bahwa pada mulanya, kebangkitan umat Islam yang dibawa oleh Muhammad Abdul Wahab di Mesir bukanlah karena takut atau dendam kepada barat, karena pada saat itu Eropa belum menyerang Islam dengan sungguh-sungguh, selain merebut wilayah Turki di Eropa dan kepulauan Nusantara. Dari itu bahaya dari Barat belumlah dirasakan. Keadaan berubah secara radikal pada pertengahan abad XIX dengan adanya ditaklukannya Aljazair oleh Perancis, penguasaan Transkaukasia oleh Rusia dan penaklukan seluruh India oleh Inggris.[13]

Penaklukan Barat itu meyakinkan orang Islam yang berpikir di manapun, bahwa Islam benar-benar dalam bahaya, akan jatuh dibawah dominasi Barat. Pada waktu itulah Pan-Islamisme tampil dengan watak anti-barat.[14]

Konsep pan-Islamisme ini pada periode selanjutnya dikembangkan kembali oleh Jamaluddin al-Afghani (1839-1897) dalam rangka mengobarkan semangat perasaan Islam di dunia timur Islam. Ia juga menolong menimbulkan pemberontakan Arabi di Mesir dan Revolusi di Persia.[15]

Gerakan-gerakan perlawanan terhadap serangan barat pada mulanya timbul disetiap negeri dan tidak dikoordinasi. Perlawanan seperti Abdul Katsir di Aljazair dan Syamil di kaukasus. Kebencian terhadap barat tumbuh hebat dan cepat. Di Aljazair pecah pemberontakan “Al-Kabil” tahun 1871. Sedangkan di Afrika Utara bangunlah wali-wali dan menggerakkan jihad. Yang terbesar di antara semuanya adalah pemberontakan “Al-Mahdi di Sudan Bagian Mesir. Ia melemahkan sendi-sendi kekuatan Inggris, sampai Kitchener merebut kartum menjelang akhir abad XIX.[16] Hal demikian juga terjadi di Afganistan dan India. Keduanya memberikan banyak kesusahan bagi Inggris.

2.                          Pembebasan Dari Penjajahan Non-Fisik

Usaha dalam usaha pembebasan dari penjajahan yang dilakukan barat secara non-fisik atas dunia Islam terlihat rancu dan tidak ter-manage dan tidak sistematis. Terlihat bahwa usaha pembebasan dari penjajahan secara fisik pun ternyata masih membuka kesempatan untuk penjajahan secara non-fisik.[17] Negera-negara Barat tetap berusaha menjajah dengan dengan cara yang baru.

Di bidang ekonomi, penjajahan dilakukan melalui ketergantungan terhadap hutang luar negeri. Dengan dalih membantu negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, mereka meminjamkan uang dalam jumlah besar. Belakangan terbukti hutang tersebut bukan mengentaskan kemiskinan, melainkan malah menambah miskin. Dan yang paling gawat adalah memunculkan ketergantungan ekonomi. Dengan ketergantungan ekonomi yang demikian besar, negara Barat lewat berbagai institusi-institusi yang dibentuknya seperti IMF, World Bank dan sebagainya, dapat memaksakan kemauan politiknya atas suatu negara, baik secara langsung maupun tidak. Maka, negeri-negeri itu menjadi tidak merdeka secara politik. Indonesia mengalami itu. Kini kita tidak lagi bisa secara leluasa mengatur negeri kita sendiri. Semua, bahkan termasuk penyusunan kabinet dan program-progam pemulihan ekonomi, harus dimintakan persetujuannya melalui apa yang disebut letter of inten (L0I). Untuk hal seperti itu saja harus meminta persetujuan mereka, maka jangan berharap mereka akan membiarkan kita, misalnya, menetapkan pemberlakuan hukum syariat Islam seperti yang sekarang sedang diusulkan oleh FPPP di sidang MPR. Penjajahan ekonomi juga dilakukan dengan berbagai aturan yang mereka paksakan, seperti ide pasar bebas dengan WTO-nya atau isue globalisasi, privartisasi dsb. Maka, sekalipun secara fisik merdeka, secara politik dan ekonomi terjajah.[18]

Di bidang kebudayaan, globalisasi informasi yang ditimbulkan oleh kemajuan luar biasa di bidang teknologi informasi bak pisau bermata dua. Satu sisi menguntungkan karena dengan demikian peristiwa-peristiwa dari berbagai belahan dunia dengan cepat dapat kita ketahui, tapi di sisi lain terjadi pula gelombang arus budaya Barat (westernisasi) ke negeri-negeri Islam. Munculnya TV swasta di negeri ini mempercepat berkembangnya budaya Barat. Saban hari keluarga-keluarga muslim dicekoki dengan gaya hidup, perilaku dan cara berfikir Barat. TV telah menjadi agen pembaratan yang tangguh. Tak heran bila kemudian anak-anak muslim lebih mengenal tokoh-tokoh rekaan di TV ketimbang tokoh-tokoh Islam. Maka, sadar atau tidak mereka telah terbaratkan dan kehilangan identitas kepribadian Islamnya. Itu semua sedikit banyak berpengaruh kepada cara berfikir, pemihakan, keprihatinan dan perilaku kaum muslimin. Apa yang dari Barat dinilai baik dan modern, serta apa yang dilakukan juga mesti benar. Inilah penjajahan di bidang budaya.[19]

Di bidang hukum, tak terhitung jumlahnya hukum dan perundang-undangan negeri muslim, termasuk Indonesia, yang masih bersumber dari Barat. Kita bangga terbebas dari penjajahan Barat, tapi mengapa tidak merasa risih menggunakan undang-undang bikinan Belanda? Itu berarti, secara tidak langsung kita menyelesaikan berbagai masalah di negeri yang mayoritas muslim ini dengan cara penjajah. Penjajah telah lama pergi, tapi mereka masih bercokol dalam wajah yang berbeda.[20]

3rd.   Penutup

Berdasarkan uraian berbagai data literatur yang berhasil penulis kemukakan di atas, terlihat bahwa penjajahan secara fisik memang telah berakhir bagi sebagian besar negara-negara Islam. Tetapi penjajahan non-fisik yang dilakukan negara-negara Barat atas dunia Islam masih tetap berlangsung dan tidak akan berhenti kecuali Islam telah hancur dari pemukaan bumi.

 

Sumber pustaka

Abu Zahrah. Syeikh, 164, hal. 377

Ali, Yunasril Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988)

H.A.R. Gibb, Islam Dalam Lintasan Sejarah, (Jakarta: Bhratara, 1964)

Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1998)

L. Stoddard, Dunia baru Islam, (Jakarta: t.pt, 1966), h. 46

Moeslim Abdurrahman, Islam Transpormatif, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995)

Samuel Huntington, The Clash of Civilitation, (London:

Syahrin Harahap, Islam Dinamis :Menggali Nilai-nilai Ajaran Alquran dalam Kehidupan modern di Indonesia, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1997)

Syekh Taqiyyuddin al-Nabhani, Mafahim Siyasiyah, terj.: Bambang Saiful (Bandung: Alma’arif, 1985)

Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988), h. 110.

Yusran Asmuni, Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996)

 


[1]Yusran Asmuni, Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), h. 17.

[2]Syekh Taqiyyuddin al-Nabhani, Mafahim Siyasiyah, terj.: Bambang Saiful (Bandung: Alma’arif, 1985), h. 51.

[3]Ibid, h. 60

[4]Samuel Huntington, The Clash of Civilitation, (London: t.pn, 1979), h. 134.

[5]Ali, Yunasril Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988), h. 377.

[6]Moeslim Abdurrahman, Islam Transpormatif, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995), Cet. I, h. 62.

[7]Sultan-sultan Kerajaan ‘Utsmani pun mengirim duta-duta ke Eropa untuk mengetahui rahasia kekuatan raja-raja Eropa yang pada abad-abad sebelumnya masih berada dalam keadaan yang mundur. Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1998), Cet. VII, h. 147.

[8]Al-Thahthawi seorang ulama lulusan al-Azhar yang melalui gurunya al-Syaikh Hasan al-Aththar, menaruh perhatian pada ilmu pengetahuan yang sedang berkembang di Barat.. Harun Nasution, Ibid., h. 149.

[9]Jamaluddin al-Afghani merupakan pencetus pertama konsep Pan-Islamisme. Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988), h. 110.

[10]Muhammad Abduh merupakan pemikir pembaharu yag mempunyai pengaruh besar di Mesir, yang lebih memperjelas metode berpikir yang secara secara implisit terkandung dalam dalam pemikiran al-Thahthawi dan al-Afghani. Ia menentang jumud, kebekuan dan kestatisan umat Islam. Harun Nasution, Ibid., h. 150.

[11]Pan-Islamisme dalam pengertinnya yang luas ialah rasa solidaritas antara seluruh mukmin. L. Stoddard, Dunia baru Islam, (Jakarta: t.pt, 1966), h. 46

[12]Muhammad bin Abdul Wahhab dilahirkan di Nejed, terletak dijantung padg pasir Arab, sekitar tahun 1700. Ibid., h. 30.

[13]Ibid., h. 50.

[14]Ibid.

[15]Tujuan pertama pan-Islam yang dikembangkan oleh al-Afghani ditujukan untuk menjatuhkan semua bangsa muslimin dalam Khilafah Utsmani. Meskipun ia gagal dalam pergerakan tersebut, namun tujuan dan pengaruhnya yang utama masih hidup, yaitu soidaritas Islam. H.A.R. Gibb, Islam Dalam Lintasan Sejarah, (Jakarta: Bhratara, 1964), h. 145.

[16]L. Stoddard. Loc.Cit.

[17]Syahrin Harahap, Islam Dinamis :Menggali Nilai-nilai Ajaran Alquran dalam Kehidupan modern di Indonesia, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1997), h. 248.

[18]Ibid., h. 252.

[19]Ibid., h. 265.

[20]Ibid., h. 269.

%d blogger menyukai ini: