Category Archives: Sosial

Bukan “Khairil Yulian”


Jika dulu ada acara Empat Mata yang ditayangkan oleh salah satu Stasion Televisi Swasta di Indonesia, yang kemudian dicekal dan berganti nama dengan Bukan Empat Mata. Peristiwa yang serupa [tapi tak sama] ternyata juga terjadi pada namaku (Red: Khairil Yulian). 😆

Nama Blogku dulu ku ambil dari namaku sendiri, yaitu Khairilyulian.wordpress.com. Tetapi kemudian berganti dengan nama yang sama tetapi ada sedikit tambahan di awal, yaitu NEWkhairilyulian.wordpress.com. Penambahan NEW tersebut, bukan tanpa alasan… 😆 Soalnya… Blog milikku yang sebelumnya Not Longer Available… 😆 Hehehe… para Blogger pasti ngerti lah istilah itu..

Nah sekarang hal yang serupa tapi sama, terjadi pada diriku tanpa aku pernah menyadari… 😆 Aku baru saja iseng ngetik namaku [KHAIRIL YULIAN] di Mesin Pencari “Google“…. eeeh, ternyata pas masuk ke halaman ke-3 ku temukan sebuah nama yang sama dengan namaku, tetapi bukan aku…

Bukan Khairil Yulian

Hasil pencarian di Google yang menemukan nama khairil yulian juga ada di sebuah artikel berjudul Multiyears Seluma Dihentikan | Rakyat Bengkulu yang mengarahkan pada sebuah situs bernama harianrakyatbengkulu.com. Dalam artikel berjudul Multiyears Seluma Dihentikan, tepatnya pada paragraf ke-7 ada tulisan berikut:

ada di harianrakyatbengkulu.comSaya kutib sepenggal kalimat sebagai berikut:

“Usai penyampaian jawaban eksekutif, Wakil Ketua Komisi II DPRD Seluma yang juga  Ketua Fraksi PKPI, Khairil Yulian, S.Sos langsung interupsi. Adik kandung mantan Bupati Seluma Murman Effendi itu menegaskan bahwa proyek multiyears wajib dianggarkan”

Atas kesamaan nama tersebut, dalam kesempatan kali ini saya tegaskan bahwa itu Bukan Khairil Yulian, yang sedang menulis artikel ini…!! Nama yang sama pada situs tersebut, bukan Gue…!!!! alasannya:

  1. Saya bukan Wakil Ketua Komisi II DPRD Seluma
  2. Saya juga bukan Ketua Fraksi PKPI
  3. Titel saya bukan, S.Sos.
  4. Saya juga bukan Adik kandung mantan Bupati Seluma Murman Effendi
  5. Saya tidak pernah interupsi untuk menegaskan bahwa proyek multiyears wajib dianggarkan. 😆

________________

Saya menulis artikel ini, untuk menghindari adanya kesalahpahaman yang MUNGKIN akan terjadi suatu hari nanti… Daripada nanti terlanjur, lebih baik saya tegaskan sekarang… 😆 Hehehehe……….

Preventif lebih baik daripada Antisipatif

Interpretasi versi Gue:
Preventif:
Mencegah sebelum terjadi
Antisipatif: Mencegah setelah terjadi… 😆

Iklan

Cara Menutup Akun Facebook Kerabat Yang Telah Meninggal Dunia


Ketika seorang pemilik akun Facebook meninggal dunia, maka tentu saja ia tidak akan bisa lagi melakukan apa-apa terhadap akun Facebooknya, jangankan untuk membuat status atau mengomentari status teman, untuk masuk ke akun facebooknya saja sudah tidak mungkin (kecuali ada teman atau kerabat yang mengetahui email dan password akun Facebooknya). Karena dia tidak mampu melakukan apa-apa terhadap akun Facebooknya tersebut, maka akun Facebooknya tersebut akan tetap ada di internet, meskipun sudah tidak tampak adanya aktivitas lagi sejak ia meninggal.

Untuk kasus pemilik akun Facebook yang meninggal dunia seperti di atas, sebenarnya ada satu halaman di Facebook yang memungkinkan bagi para teman atau keluarga dari pemilik akun Facebook yang meninggal dunia tersebut untuk menutup akun Facebooknya untuk selama-lamanya atau ingin menjadikan akun Facebooknya sebagai akun kenangan.

  1. Permintaan Menutup Akun Facebook Seseorang Yang Telah Meninggal Dunia
    Permintaan Khusus ini bisa dilakukan oleh keluarga atau teman dekat pemilik akun Facebook yang meninggal dunia. Melakukan permintaan khusus ini dilakukan jika pihak keluarga atau teman pemilik akun Facebook yang meninggal dunia menginginkan akun Facebooknya ditutup untuk selama-lamanya.
    Caranya dengan mengisi form permintaan khusus seperti pada gambar di bawah ini:
  2. Permintaan Untuk Menjadikan Akun Facebook Kenangan
    Dengan menjadikannya sebagai akun Facebook Kenangan, maka semua data dan aktivitas yang ada di akun Facebook orang yang telah meninggal dunia tersebut akan tetap ada, namun pihak Facebook akan melindungi akun tersebut, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat menggunakan akun tersebut.
    Cara menjadikan akun Facebook seseorang yang telah meninggal dunia sebagai akun kenangan adalah dengan mengisi form “Memorialization Request” seperti di bawah ini.

Dengan kedua opsi tersebut, maka pihak keluarga atau teman pemilik akun Facebook yang meninggal dunia dapat menutup selama-lamanya akun Facebook tersebut, atau hanya menjadikannya sebagai akun kenangan.

Ulasan Khairil Yulian Tentang Kematian Pemilik Akun Facebook

Facebook menyediakan kedua halaman form tersebut tentunya karena menyadari bahwa seorang pemilik akun Facebook yang telah meninggal dunia tentunya tidak akan bisa menutup akunnya, atau menulis status “Selamat Tinggal” atau “Good Bye” sebagai status terakhirnya. Karena jika seseorang telah meninggal dunia, maka segala hal yang berhubungan dengan dunia akan terputus. Namun Dalam Islam, masih ada tiga hal yang tiga hal yang tidak akan terputus, meskipun ia telah meninggal dunia.

  1. Shadaqah Jariyah
    Jika anda pernah memberikan shadaqah dalam hidup anda, dan shadaqah yang anda keluarkan tersebut terus dimanfaatkan orang untuk kebaikan, maka pahala atas shadaqah jariyah tersebut akan terus mengalir pada anda selama ia masih dimanfaatkan oleh orang lain.
  2. Ilmu Yang Bermanfaat
    Anda mungkin bukan orang kaya yang mampu bershadaqah jariyah dengan jumlah yang besar dan memberi manfaat bagi orang banyak, tetapi anda masih mampu untuk berbagi (share) ilmu, pengetahuan, wawasan atau pengalaman kepada orang lain. Berharaplah ilmu pengetahuan atau pengalaman yang telah anda sampaikan tersebut bermanfaat bagi orang lain. Karena jika ilmu pengetahuan atau pengalaman yang anda bagikan tersebut bermanfaat bagi orang lain, maka kematian tidak akan bisa menghentikan aliran pahala yang anda terima.
  3. Anak Yang Shaleh
    Memiliki anak yang shaleh mungkin adalah harapan semua orang tua, karena memiliki seorang anak yang shaleh itu bukan hanya  memberikan kebanggan terhadap orang tua dan nama baik keluarga, tetapi lebih dari itu, seorang anak yang shaleh akan memberinya pahala yang tak putus-putus meskipun kematian telah memutus hubungannya dengan dunia.

Referensi Dalil Naqli:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ

إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah segalanya amal perbuatannya, kecuali atas 3 perkata: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendo’akan orang tuanya”. (HR.Muslim)

Permintaan Menutup Akun Facebook Seseorang Yang Telah Meninggal Dunia
Permintaan Untuk Menjadikan Akun Facebook Kenangan

Week End dengan Wake End…!!?


“Weekend” adalah istilah Kereeen untuk menyebut istilah akhir pekan, terutama bagi mereka yang bekerja pada instansi formal, baik negeri maupun swasta. Sabtu dan Minggu, adalah dua hari dalam seminggu yang sering disebut sebagai Week-end. Namun hal tersebut tidaklah mutlak, karena saat saat masih duduk di bangku Madrasah Aliyah, saya merasakan Week-end berada pada hari Jum’at. 😀 Bahkan sekarang dengan pekerjaan yang saya geluti, Sabtu dan Minggu menjadi hari yang paling disibukkan dengan pekerjaan. Mungkin dari kawan-kawan yang lain juga ada yang mendefinisikan Week-end menurut versinya sendiri, sesuai dengan bagaimana ia merasakan “Week-end’ itu sendiri.

Namun demikian, saya juga tidak bisa memungkiri, bahwa Libur formal Sabtu dan Minggu sebagai Week-end. Bagaimanapun Sabtu dan Minggu menjadi lahan yang subur untuk mengais keuntungan lebih, yaah tetap saja Sabtu dan Minggu menjadi hari yang bisa saya gunakan untuk menikmati saat-saat harus keluar dari rutinitas. Bagitu pula saat di Madrasah Aliyah, libur Jum’at tidak bisa aku nikmati maksimal, karena teman-temanku dari sekolah lain belum Week-end pada hari itu… 😆 Cape deeeh..!! 😆

Week-end pada dasarnya adalah sebuah kesempatan untuk beristirahat, keluar dari rutinitas yang dijalani selama satu minggu. Jadi sewajarnya lah jika Week-end dihabiskan untuk melakukan aktivitas yang berbeda dengan rutinitas yang dijalani selama satu minggu berjalan. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan saat Week-end.

  • Beres-beres Rumah
    Bagi anda yang memiliki rutinitas formal yang cukup padat dalam pekerjaannya, terkadang lelah adalah akhir dari harinya, sehingga saat kembali ke rumah, bawaannya pingin bobo… 🙂 Hal ini wajar-wajar saja. Namun dengan keadaan seperti itu, banyak pekerjaan rumah yang seringkali tertunda atau terabaikan. Week-end adalah moment yang tepat untuk membenani kondisi rumah anda yang mungkin tidak bisa tertata rapi karena kesibukan aktivitas di luar dengan pekerjaan anda selama seminggu.
    Rumah yang tertata rapi, indah dipandang, akan menambah semangat baru dalam hari anda. Boleh jadi, itu akan melahirkan kesan baru dalam pekerjaan anda, yaitu “I like Monday“, dan sekaligus kesan baru dalam rumah anda, yaitu “Home Sweet Home“.
  • Menikmati Kebersamaan
    Kesibukan karena tuntutan pekerjaan yang menjadi rutinitas wajib bagi anda selama seminggu, terkadang bukan hanya berdampak  pada diri anda sendiri, tetapi juga pada orang-orang di sekitar anda. Anda mungkin beranggapan bahwa apa yang anda lakukan, juga adalah untuk mereka yang ada di sekitar anda, boleh jadi itu istri dan anak-anak anda, orang tua, saudara, atau siapa saja. Tetapi di sisi lain, kesibukan anda itu –sedikit banyak– telah membuat mereka merasa terpisahkan dari anda, noleh jadi  secara fisik, ataupun secara psikis. Oleh karena itu, Week-end adalah saat-saat yang paling baik untuk terus menumbuhkan rasa kebersamaan bagi orang-orang di sekitar anda. Sehingga keberadaan anda selalu terasa dan tetap memberi arti dalam kehidupan mereka.
    Ketahuilah, pada saat-saat tertentu, keterpenuhan materi tidak akan bisa menciptakan ikatan psikologis antara anda dan orang-orang di sekitar anda. Itu hanyalah icon yang mewakili adanya hubungan antara anda dan mereka. Tetapi itu tidak cukup, karena keberadaan anda secara emosional dalam kehidupan mereka hanya bisa terjalin dengan adanya moment kebersamaan antara anda dan mereka. Manfaatkanlah moment Week-end ini sebagai sarana untuk menumbuhkan rasa kebersamaan antara anda dengan mereka yang ada di sekitar anda. 🙂
  • Keluar rumah
    Tidak perduli, apakah anda bekerja di rumah atau di luar rumah, jadikanlah moment Week-End sebagai sebuah kesempatan untuk anda keluar dari rumah. Selama sepekan anda sibuk dengan rutinitas pekerjaan anda, dan kembali pulang ke rumah untuk melepaskan lelah atas aktivitas keseharian anda. Week-end juga bisa dijadikan sebagai sebuah kesempatan untuk keluar dari rutinitas itu. Jika selama sepekan ini anda keluar dari rumah untuk menuju tempat kerja anda, sekarang cobalah untuk keluar dari rumah untuk hal yang berbeda, apakah hanya untuk sekedar Jogging, menghirup udara pagi yang segar, maupun untuk sesuatu yang lebih besar, seperti Camping, berlibur menikmati saat-saat lepas dari rutinitas.
  • Melakukan Hobby
    Saya yakin, setiap orang mempunyai hal yang dia sukai untuk dilakukan. Kegemaran terhadap sesuatu ini sering disebut dengan istilah “Hobby“. Hobby adalah sesuatu yang sangat anda sukai saat melakukannya. Hobby yang dimiliki oleh setiap orang boleh jadi berbeda satu dengan yang lainnya. Kesibukan keseharian anda dengan aktivitas formal mungkin membuat anda tidak bisa lagi menyalurkan Hobby anda, atau bahkan kesibukan itu telah membuat anda melupakan Hobby anda.
    Week-end adalah saat dimana anda bisa lepas dari kesibukan rutin anda. Jadi, tidak ada salahnya jika kesempatan Week-end ini anda gunakan untuk kembali menyalurkan Hobby anda. Tuntutan pekerjaan yang menyibukkan keseharian anda selama satu pekan, –dan bahkan mungkin dapat membuat anda merasa stressed–, mungkin akan bisa hilang sekejap saat anda mampu melakukan sesuatu yang menjadi Hobby anda. Perasaan bebas dari tekanan, perasaan rileks, dan kepuasan tersendiri adalah hal bisa anda dapatkan saat anda berkecimpung dengan Hobby. Oleh sebab itu, manfaatkanlah moment Week-end sebagai kesempatan untuk back to your Hobby.
  • Wake-End
    Bagi sebagian orang Week-end (Akhir Pekan) juga bisa dimanfaatkan untuk Wake-End (bangun pagi lebih siang)… 😆 Dalam hal ini, saya tidak menyalahkan mereka yang memanfaatkan Week-end untuk Wake-end, karena kesibukan selama 1 minggu dengan aktivitas formal, mungkin telah menuntutnya untuk selalu bangun lebih cepat. jadi hanya pada moment Week-end  inilah mereka bisa lebih santai dalam beraktivitas.
    Dalam hal memanfaatkan moment Week-end, saya tidak menyalahkan anda yang mengisinya dengan Wake-end, tetapi saya lebih merekomendasikan anda untuk melakukan aktivitas-aktivitas lain, seperti pada point-point sebelumnya.

Program Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah di Kalimantan Selatan


Pada dasarnya, aku bukan orang yang bergelut dengan kegiatan-kegiatan sosial, apalagi yang berhubungan dengan pengembangan usaha kecil dan menengah di Kalimantan Selatan. Aku juga bukan pejabat Dinas Sosial yang memang seharusnya memikirkan bagaimana mengembangkan usaha kecil dan menengah dalam meningkatkan tarap hidup masyarakat kecil yang merupakan bagian dari Bangsa ini.

Ide Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah di Kalimantan Selatan ini lahir dari pentingnya iklan dan promosi usaha dalam meningkatkan penghasilan dari usaha kecil dan menengah. Karena pada umumnya, kalahnya pengusaha berskala menengah ke bawah bersaing dengan pengusaha besar, salah satunya disebabkan oleh kalahnya mereka dalam kegiatan promosi dan pemasaran.

Pemikiran tentang pentingnya iklan dan promosi usaha bagi para pemilik usaha kecil dan menengah tersebut, melahirkan satu ide untuk memulai bisnis iklan dan promosi usaha yang berorientasi pada pengusaha kecil dan menengah tersebut, yaitu dengan menyediakan sebuah wadah untuk mereka mempromosikan usahanya melalui media yang bergengsi dengan anggaran yang ditekan seminimal mungkin.

Media iklan dan promosi yang saya kembangkan untuk membantu pengusaha kecil dan menengah di Kalimantan Selatan dalam mengembangkan usahanya adalah berbentuk media internet, yaitu dengan membuat satu situs yang khusus mempromosikan usaha-usaha berskala kecil dan menengah yang ada di Kalimantan Selatan. Nama situs internet yang ku kembangkan adalah Pasar Banua yang mengemban misi sebagai Media Pemasaran Kalimantan Selatan.

Kendala yang sering dihadapi dalam pelaksanaannya, antara lain pemahaman yang kurang baik dari para pemilik usaha kecil dan menengah tentang dunia iklan dan promosi di internet. Sehingga, setiap kali melakukan penawaran, maka tenaga marketing di lapangan juga harus terus memberikan penjelasan panjang lebar tentang internet dan teknis pemasangan iklan di internet serta keuntungannya. Kurangnya pemahaman para pengusaha kecil dan menengah tentang iklan dan promosi usaha secara online di internet ini, juga mengharuskan tenaga marketing di lapangan menguasai lebih dalam tentang internet dan teknis serta keuntungan dari pemasangan iklan di internet.

Pengelolaan website Pasar Banua ini, di satu sisi merupakan sebuah bisnis, tetapi di sisi lain, tersimpan satu harapan akan menjadikan website Pasar Banua ini sebagai barometer usaha di Kalimantan Selatan. Harapan tersebut mungkin tidak akan mudah terwujud, jika semata dilaksanakan dengan pola kerja bisnis berbasis iklan. Oleh sebab itu, dukungan dari berbagai pihak seperti pemerintah daerah dan dinas-dinas terkait akan sangat membantu terlaksananya program pengembangan usaha kecil dan menengah di Kalimantan Selatan yang mendasari bisnis iklan dan promosi usaha yang ku jalankan ini.

EPISTEMOLOGI PHENOMENOLOGIK


EPISTEMOLOGI PHENOMENOLOGIK

oleh

Khairil Yulian dan Ahmad Effendy

Pendahuluan

Sejak era Renaissance hingga memasuki abad ke 20 M. alam pikiran di eropa  barat ditandai oleh kemunculannya berbagai aliran filsafat yang tidak mudah dipertemukan. Pertemuan tersebut menghasilkan pertentangan, sehingga filsafat justru mengaburkan adanya landasan yang pasti sebagai titik pijak untuk mengembangkan pemikiran sebagai proses penalaran yang sistematis dan konsisten.[1]

Dalam era renaissance tersebut merupakan masa jaynya rasionalisme. Pada masa itu pula di Prancis masanya kebebasan berkembangdengan bermunculannya golongan yang tersebut kaum philosophes.[2] Pada tempat yang sama (Prancis) muncul tokoh penting yang tidak sepaham dengan rasionalisme, ia adalah Hendri Bergson (1859-1941); bahwa rasionalisme selalu berlaku tidak cukup untuk memahami semua gejala dalam kenyataan; tidak kalah pentingnya ialah peran intuisi. Sebagai daya manusia untuk memahami dan menafsirkan kenyataan.[3]

Epistemologi berarti berbicara tentang “bagaimana cara kita memperoleh ilmu pengetahuan?”. Dalam memperoleh pengetahuan inilah akan ada sarana dipergunakan seperti akal, akal budi, pengalaman atau kombinasi antara akal dan pengalaman institusi, sehingga dikenal adanya model-model epistemologik rasionalisme, empisisme, kritisisme atau rasionalisme kritis, positivisme dan phenomenologik dengan berbagai variasinya.[4]

Dalam makalah ini kami penulis akan membahas salah satu cara yang ditempuh akal manusia untuk mencapai kebenaran ilmu, yaitu epistemologi phenomenologi.

Phenomenologi berasal dari kata fenomenon dan logos. Fenomenon secara asal kata  berarti fantasi, fentom, jostor, foto yang sama artinya sinar, cahaya. Dari asal kata itu dibentuk sesuatu kata kerja yang antara lain berarti nampak, terllihat karena cahaya, bersianr. Dari itu fenomenon berarti sesuatu yang nampak, yang terlihat karena bercahaya dalam bahasa kita “gejala” logos dari bahasa Yunani berarti ucapan, pembicaraan, pikiran, akal budi, kata, arti, studi tentang, pertimbangan tentang ilmu pengetahuan, tentang dasar pemikiran, tentang suatu hal.[5]

Kata “Fenomenologi” berasal dari bahasa Yunani fenomenon yaitu sesuatu yang nampak atau disebut “gejala” menurut para pengikut filsafat fenomenologi, “fenomenon” adalah “apa yang menampakkkan diri dalam diri sendiri” suatu fenomenon itu tidak perlu harus dapat dipahami dengan indera, sebab fenomenon dapat juga dilihat atau ditilik secara rohani tanpa mlewati indera.[6]

Dan sejak Edmund Husserl (1859-1938) sebagai tokoh phenomenologi, arti fenomenologi telah menjadi filsafat dan menjadi metodologi berpikir, fenomenologi bukan sekedar pengalaman langsung yang tidak mengimplisitkan penafsiran dan klasifikasi.[7]

Dari beberapa pengertian di atas tentang fenomenologi, maka dapat dipahami bahwa fenomenologi berarti ilmu tentang fenomenon-fenomenon atau apa saja yang nampak. Sebuah pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita.

Tokoh dan Pokok-Pokok Pikirannya

  1. Edmund Husserl (1859-1938)
    Husserl lahir di Prosswitz (Moravia), ia seorang Yahudi filosof Jerman pendiri fenomenologi. Di uneversitas ia belajar ilmu alam, ilmu falak, matematika dan filsafat, mula-mula di Leipzig, kemudian juga di Berlin dan Wina. Disana ia tertarik pada filsafat Franz Brentano.[8]
    Jika kita ingin mengerti arti fenomenologi sebagai suatu sikap filsafat, kita harus mengetahui lebih dulu apa yang dimaksud oleh pendirinya Edmund Husserl. Menurutnya fenomenologi itu merupakan metode dan ajaran filsafat. Sebagai metode ia membentangkan langkah-langkah yang harus diambil sehingga kita sampai pada fenomeno yang murni, kita harus mulai dengan subjek (manusia) serta kesadarannya dan berusaha untuk kembali kepada “kesadaran yang murni”.
    Sebagai filsafat, fenomenologi menurut Husserl memberi pengetahuan yang perlu dan essensial tentang apa yang ada. Dalam langkah-langkah penyelidikannya, ia menemukan obyek-obyek (yang tak terbatas banyaknya) yang membentuk dunia yang kita alami. Benda itu dapat dilukiskan menurut  kesadaran dimana ia temukan. Dengan begitu fenomenologi dijelaskan sebagai kembali kepada benda, sebagai lawan dari ilusi atau sasaran pikiran, justru karena benda adalah obyek kesadaran yang langsung dalam bentuk yang murni.[9]
    Filsafat Husserl memang mengelami perkembangan yang agak lama. Pada mulanya ia berfilsafat tentang ilmu pasti, tetapi kemudian sampai jugalah ia pada renungan tentang filsafat umumnya serta dasar-dasarnya sekali. Seperti dulu descartes ia berpendapat bahwa adanya bermacam-macam aliran dalam filsafat yang satu sama lain bertentangan itu, karena orang tidak mulai dengan metode dan dasar permulaan yang dipertanggungjawabkan. Maka dari itu haruslah dicari satu metode yang memungkinkan kita berpikir, tanpa mendasarkan pikiran itu kepada suatu pendapat lebih dulu.biasanya orang berpikir setelah mempunyai suatu teori atau pemikiran sendiri. Itu tidak benar, demikian Hesserl, orang harus memulai dengan mengamat-amati hal sendiri tanpa dasar suatupun: Zun den Sachen Selbest. Ia memerlukan analisa kesadaran. Maka analisa ini menunjukkan kepada kita, bahwa kesadaran itu selalu terarah kepada obyek. Oleh karena yang diselidiki itu susunan kesadaran itu sendiri, maka haruslah nampak obyek dalam kesadaran (gejala fenomenon), maka gejala itu diselidiki pula. Sunggug tidaknya obyek tidaklah masuk dalam penyelidikan. Yang harus dicari sekarang ialah sungguh-sungguh merupakan intisarinya. Adapun yang diluar intisari itu tidak dihiraukan. Tetapi bukanlah cara abstraksi seperti ajaran Tomisme melainkan inti itu tercapai instisi: inti itu terpandang oleh budi.
    Demikian terdapat inti susunan kesadaran, akan tetapi hal ini lain dari kesadaran empiri : inti itu terpandang oleh budi.
    Pengaruh Husserl amat besar, pula dalam aliran-aliran lain. Ada yang mempergunakan meode ini untuk segala ilmu atau cabang filsafat, misalnya S. Strasser dalam antrofologi. E de Bruyne dalam etika serta Langeveld dalam pedagogiknya.[10]
  2. Max Scheler
    Disamping Husserl adalah filosof fenomenologi, yaitu Max Scheler (1874-1928). Bagi Scheler, metode fenomenologi sama dengan satu cara tertentu untuk memandang realitas. Fenomenologi lebih merupakan sikap bahan suatu prosedur khusus yang diikuti oleh pemikiran (diskusi, Induksi, Observasi dll). Dalam hubungan ini kita mengadakan hubungan langsung dengan realitas berdasarkan instuisi (pengalaman fenomenologi).
    Menurut Scheler ada tiga jenis fakta yang memegang peranan penting dalam pengalaman fenomenologis, yaitu (1) fakta natural, (2) fakta ilmiah, dan (3) fakta fenomenologis. Fakta natural berasal dari pengalaman inderawi dan menyangkut benda-benda yang nampak dalam pengalaman biasa. Fakta ilmiah mulai melepas diri dari penerapan inderawi yang langsung dan semakin abstrak. Fakta fenomenologis merupakan isi “intuitif” yang merupakan hakikat dari penglaman langsung, tidak terikat kepada ada tidaknya realisasi di luar.[11]
  3. Maurice Merlean-ponty (1908-1961)
    Sebagaimana halnya Husserl, ia yakin seorang filosof benar-benar harus memulai kegiatannya dengan meneliti pengalaman. Pengalamannya sendiri tentang realitas, dengan begitu ia menjauhkan diri dari dua ekstrim yaitu : Pertama hanya meneliti atau mengulangi penelitian tentang apa yang telah dikatakan orang tentang realita, dan Kedua hanya memperhatikan segi-segi luar dari penglaman tanpa menyebut-nyebut realitas sama sekali.
    Walaupun Marlean-Ponty setuju dengan Husserl bahwa kitalah yang dapat mengetahui dengan sesuatu dan kita hanya dapat mengetahui benda-benda yang dapat dicapai oleh kesadaran manusia, namun ia mengatakan lebih jauh lagi, yakni bahwa semua pengalaman perseptual membawa syarat yang essensial tentang sesuatu alam di atas kesadaran. Oleh karena itu deskripsi fenomenologi yang dilakukan Marlean-Ponty tidak hanya berurusan dengan data rasa atau essensi saja, akan tetapi menurutnya, kita melakukan perjumpaan perseptual dengan alam. Marlean-Porty menegaskan sangat perlunya persepsi untuk mencapai yang real.

Dasar-dasar Filsafat Epistemologi Fenomenologi

  1. Pendekatan filsafatnya berpusat pada analisis terhadap gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita. Analisis menunjukkan bahwa kesadaran itu sungguh-sungguh selalu terarah kepada obyek.
  2. Orang harus berpikir, dengan memulai dengan mengamati hal sendiri, tanpa dasar apapun. Memulai kegiatannya dengan meneliti penglaman-pengalamannya sendiri tentang realita dan menjauhkan diri dari meneliti dan mengulangi (teori orang lain).
  3. Fenomenologi keberan dibuktikan berdasarkan ditemukannya yang essensial.[12]
  4. Fenomenologi menerima kebenaran di luar empirik indrawi. Oleh sebab itu mereka menerima kebenaran sensual, kebenaran logik, ethik dan transedental.[13]
  5. Fenomena baru dapat dinyatakan benar setelah diuji korespondensinya dengan yang dipercayainya.
  6. Fenomenologi lebih merupakan sikap bukan suatu prosedur khusus yang diikuti pemikirannya (diskusi, induksi, observsi dll). Dalam hubungan ini hubungan langsung dengan realitas berdasarkan intuisi.

Kesimpulan

Epistemologi fenomenologi diperkanalkan oleh Husserl dengan kajian berpusat pada analisis terhadap gejala yang nampak dalam kesadaran manusia. Untuk malahirkan suatu teori orang jangan berpedoman pada teori orang lain (bukan menguji teori yang ada) tapi mengamati tanpa dasar apapun. Dalam pemikiran fenomenologi orang mengamati terkait langsung dengan perhatiannya, dan juga terkait pada konsep-konsep yang telah dimilikinya sendiri (sangat relatif). Kebenaran logik, ethik dan transendental (kebenaran di luar empirik inderawi) diterima oleh fenomenologi. Metode ini banyak mempengaruhi segala cabang ilmu filsafat.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Munin al-Hifni, al-Mausu’ah al-Falsafiyah, beirUt Libanon, Dar Ibn Zaidun, tt. Cet. ke I

Burhanuddin Salam, Logika Materiil (Filsafat Ilmu Pengetahuan), Jakarta, Renika Cipta

Dirjarkara, Percikan Filssafat, Jakarta PT. Pembangunan, tahun 1978.

Fuad Hasan, Pengantar Filsafat Barat, Jakarta, Pustaka Jaya, tahun 1996, cet. ke I

Hasan Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius, tahun 1993, cet. ke 9

Kamrani Buseri, Diktat Filsafat Ilmu, Pada Mata Kuliah Filsafat Ilmu, Program Pascasarjana Iain Antasari Banjarmasin tahun 2002.

Koento Wibisono Siswoniharjo, Ilmu Pengantar Sebuah Sketsa Umum Untuk Mengenal Kalahiran dan Perkembangan Sebagai Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu Dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu, Filsafat Ilmu, Yogyakarta, Leberty, tahun 1996.

Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta, Reka Sarasin, tahun 1998.

Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, Jakarta, Pt, Pembangunan, tahun 1974.

Titus, Living Issnes In Philosophy (Persoalan-Persoalan Filsafat), alih bahasa oleh DR. H. M. Rasyidi, Jakarta, Bulan Bintang, tahun 1984.

END NOTE


[1]Fuad Hasan, Pengantar Filsafat Barat, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1996), cet. ke I, h. 102

[2]Kaum philosophes adalah kaum yang bukan dari para filosof atau akademis, melainkan para penulis yang sangat mendambakan terjadinya perubahan tatanan kemasyarakatan dan kenegaraan, di antara mereka terdapat seniman, sastrawan, wartawan, ilmuan, dan lain-lain. Ibid., h. 84.

[3]Ibid., h. 99.

[4]Koento Wibisono Siswoniharjo, Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umam Untuk Mengenal Kelahiran dan Perkembangan: Sebuah Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty, 1996), h. 12

[5]Dirjakara, Percikan Filsafat, (Jakarta: Pembangunan, 1978), h. 177.

[6]Haruh Hadi Wijoyo, Sari Sejarah Barat 2, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), Cet. 9., h. 140.

[7]Noeng Muhajirin, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998), h. 81.

[8]Abdul Mun’in Hifni, Al-Mausu’ah al-Falsafiyah, (Beirut: Libanon, Dar Ibn Zaitun, t.th), Cet. I, h. 509.

[9]Titus, Living Issnes in Philosophy, terj.: Dr. H. M. Rasyidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 401.

[10]Poedjawijatna, Pembimbing ke arah Alam Filsafat, (Jakarta: Pembangunan, 1974), h. 134.

[11]Burhanuddin Salam, Logika Material: Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), h. 206.

[12]Noeng Muhadjir, Op.Cit., h. 10.

[13]Kamrani Buseri, Diktat Filsafat Ilmu, (Banjarmasin: IAIN Antasari Banjarmasin, t.th.), h. 21.

8 Hal Yang Perlu Dipertimbangkan Wanita Dalam Memilih Pasangan


Apa yang Anda lihat ketika memilih pasangan? Pria yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang? Jika tujuan hubungan Anda hanya saat ini, mungkin itu cukup. Namun, bila yang anda cari adalah hubungan yang serius hingga ke pernikahan, ada kriteria lain yang sebaiknya Anda lihat, yaitu potensi kesuksesan dia…

  1. Punya tujuan hidup
    Ketika Anda bertanya apa tujuan hidupnya, ia akan menjelaskan secara rinci kepada Anda rencana jangka pendek dan menengahnya, apa yang ingin ia lakukan setahun mendatang, lima tahun, dan seterusnya. Bahkan, ia menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi kegagalan. Tidak hanya menjawab, “Kita lihat saja nanti, jalani saja hidup ini seperti air mengalir.”
  2. Mandiri
    Ia tidak bergantung pada orang lain dan mengandalkan kemampuan sendiri dalam hal apa pun. Misalnya, sejak awal mula bekerja, ia menanggung sendiri biaya hidupnya tanpa bantuan orangtuanya. Pria seperti ini menunjukkan bahwa ia bertanggung jawab atas hidupnya dan hidup orang yang ia sayangi. Si dia juga tak pernah mengeluh mengenai pekerjaannya. Karena ia sadar, untuk mencapai kesuksesan, tentu dibutuhkan usaha dan kerja keras.
  3. Hobi menolong
    Anda tentu pernah mendengar ungkapan semakin banyak memberi, akan semakin banyak menerima. Percaya atau tidak, ungkapan ini memang ada benarnya. Jadi, bila pasangan termasuk pria yang ringan tangan membantu orang lain, Anda perlu berbangga hati mendukungnya. Sebab, ini akan menjadi bekal atau tabungan untuk menuju kesuksesannya di masa depan. Siapa tahu seseorang yang ia bantu saat ini berperan penting dalam kariernya di kemudian hari.
  4. Bersahabat dan berwawasan
    Sikapnya yang bersahabat ditambah dengan wawasan luasnya biasanya akan mudah mengambil hati banyak orang, termasuk saat melobi orang-orang penting yang berkaitan dengan kariernya. Pengetahuannya tentang berbagai hal termasuk berita-berita terkini akan membuat orang lain merasa nyaman berdiskusi dengannya. Semakin banyak orang tertarik padanya, semakin luas juga networking-nya. Kalau sudah begini, Anda tak perlu khawatir dengan kualitas diri yang dimiliki si dia, kesuksesan pun akan segera menghampiri.
  5. Family man
    Pria yang bertanggung jawab dan menyayangi keluarganya biasanya adalah pria yang juga memerhatikan perkembangan kariernya. Ia akan selalu termotivasi meningkatkan karier lebih baik lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selain itu, pria tipe ini cenderung setia pada pasangannya sehingga ia bisa menyeimbangkan waktu dan pikirannya untuk Anda dan pekerjaannya.
  6. Memiliki investasi
    Saat ini gaji si dia tak bisa dibilang besar? Tak perlu khawatir selama ia bisa mengatur pendapatannya dan tak selalu kehabisan uang di tengah bulan. Apalagi bila ia termasuk orang yang jeli melihat peluang bisnis. Tak perlu terlalu besar, berangkat dari bisnis kecil-kecilan pun bisa mengantarkannya menjadi pengusaha sukses. Dukung sepenuhnya ketika dia memiliki keinginan untuk mencicil rumah atau berinvestasi dalam bentuk lain, seperti saham atau reksa dana. Karena ini menunjukkan si dia sangat memikirkan masa depan.
  7. Realistis dan lurus
    Meskipun si dia bersemangat meraih mimpinya, tetap amati bagaimana usahanya meraih impian, jangan sampai si dia menghalalkan berbagai cara yang justru bisa menghancurkan masa depannya. Ingatkan untuk tetap realistis dengan kemampuan yang dimilikinya. Bila si dia ahli dalam bidang teknologi informatika, ia tak perlu memaksakan diri untuk menjadi seorang public relations karena tertarik melihat temannya yang sukses di bidang tersebut. Masing-masing orang kan memiliki kelebihan yang berbeda-beda.
  8. Optimistis dan positif
    Ia sangat tahu apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya sehingga ia selalu percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain ataupun ketika diberikan tanggung jawab baru. Ia hampir tak pernah berkata “tidak bisa” atau “malas deh melakukannya”. Ia selalu berpikir positif dan optimistis bahwa setiap tantangan yang datang pasti ada solusinya. Selain itu, ia juga terbiasa fokus dalam melakukan sesuatu sehingga tak cepat menyerah saat mengalami kegagalan.

_______________________

Original Link:😆 😳 😆

Siddhartha Gautama (Sang Budha) Dalam Pandangan Khairil Yulian Ibn Ruslan Abd Al-Ghani


PEMBERITAHUAN

Apapun anggapan anda terhadap posting saya kali ini, saya tidak bisa menampiknya. Anda boleh berpandangan apa saja tentang saya, atau tentang tulisan saya ini. Saya hanya punya satu harapan, posting ini tidak melahirkan kontroversi SARA, karena ini hanya pemikiran saya semata, yang lemah referensi, dan tidak ada konfirmasi dari sumber dan saksi, serta tidak melalui proses sterilisasi essensi.

****************

Siddhartha Gautama (Sang Budha)
Dalam Pandangan Khairil Yulian

Gautama Buddha dilahirkan dengan nama Siddhartha Gautama (Sanskerta: Siddhattha Gotama; Pali: “keturunan Gotama yang tujuannya tercapai”), dia kemudian menjadi sang Buddha (secara harfiah: orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna). Dia juga dikenal sebagai Shakyamuni (‘orang bijak dari kaum Sakya’) dan sebagai sang Tathagata. Siddhartha Gautama adalah guru spiritual dari wilayah timur laut India yang juga merupakan pendiri Agama Buddha[1] Ia secara mendasar dianggap oleh pemeluk Agama Buddha sebagai Buddha Agung (Sammāsambuddha) di masa sekarang. Waktu kelahiran dan kematiannya tidaklah pasti, sebagian besar sejarawan dari awal abad ke 20 memperkirakan kehidupannya antara tahun 563 SM sampai 483 SM; baru-baru ini, pada suatu simposium para ahli akan masalah ini,[2] sebagian besar dari ilmuwan yang menjelaskan pendapat memperkirakan tanggal berkisar antara 20 tahun antara tahun 400 SM untuk waktu meninggal dunianya, sedangkan yang lain menyokong perkiraan tanggal yang lebih awal atau waktu setelahnya.

Siddhartha Gautama merupakan figur utama dalam agama Buddha, keterangan akan kehidupannya, khotbah-khotbah, dan peraturan keagamaan yang dipercayai oleh penganut agama Buddha dirangkum setelah kematiannya dan dihafalkan oleh para pengikutnya. Berbagai kumpulan perlengkapan pengajaran akan Siddhartha Gautama diberikan secara lisan, dan bentuk tulisan pertama kali dilakukan sekitar 400 tahun kemudian. Pelajar-pelajar dari negara Barat lebih condong untuk menerima biografi Sang Buddha yang dijelaskan dalam naskah Agama Buddha sebagai catatan sejarah, tetapi belakangan ini “keseganan pelajar negara Barat meningkat dalam memberikan pernyataan yang tidak sesuai mengenai fakta historis akan kehidupan dan pengajaran Sang Buddha.”[3]

Orang tua

Ayah dari Pangeran Siddhartha Gautama adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Ratu Mahā Māyā Dewi. Ibunda Pangeran Siddharta Gautama meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran. Setelah meninggal, beliau terlahir di alam/surga Tusita, yaitu alam surga luhur. Sejak meninggalnya Ratu Mahā Māyā Dewi, Pangeran Siddharta dirawat oleh Ratu Mahā Pajāpati, bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana.

Riwayat hidup

Kelahiran

Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 563 SM di Taman Lumbini, saat Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan pohon sal. Pada saat ia lahir, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin sedangkan yang lainnya hangat. Arus tersebut membasuh tubuh Siddhartha. Siddhartha lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai.

Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala, diramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang Buddha. Hanya pertapa Kondañña yang dengan tegas meramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena apabila Sang Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan Sang Raja, para pertapa itu menjelaskan agar Sang Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa. Bila tidak, ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu adalah:

  1. Orang tua,
  2. Orang sakit,
  3. Orang mati,
  4. Seorang pertapa.

Masa kecil

Sejak kecil sudah terlihat bahwa Sang Pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah. Pada saat berusia 7 tahun, Pangeran Siddharta mempunyai 3 kolam bunga teratai, yaitu:

  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Biru (Uppala)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Merah (Paduma)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Putih (Pundarika)

Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Pangeran Siddharta menguasai semua pelajaran dengan baik. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai sayembara. Dan saat berumur 16 tahun, Pangeran memiliki tiga Istana, yaitu:

  • Istana Musim Dingin (Ramma)
  • Istana Musim Panas (Suramma)
  • Istana Musim Hujan (Subha)

Masa dewasa

Kata-kata pertapa Asita membuat Raja Suddhodana tidak tenang siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua, dan kematian, sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.

Suatu hari Pangeran Siddharta meminta ijin untuk berjalan di luar istana, dimana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya “Empat Kondisi” yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang suci. Pangeran Siddhartha bersedih dan menanyakan kepada dirinya sendiri, “Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini!”. Pangeran Siddharta berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban tersebut.

Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan duniawi. Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya, Canna. Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai pertapa.

Setelah itu Pangeran Siddhartha meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan mati. Pertapa Siddharta berguru kepada Alāra Kālāma dan kemudian kepada Uddaka Ramāputra, tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh yang diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima orang pertapa. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrim itu dan bermeditasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan Penerangan Agung.

Masa pengembaraan

Di dalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama dan pertapa Udraka Ramputra. Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya. Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magadha untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruwela, di tepi Sungai Nairanjana yang mengalir dekat Hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di Hutan Uruwela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakekat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.

Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang tua sedang menasihati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana dengan mengatakan:

Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu.

Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja, pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya, “Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna.”

Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan penggoda yang dahsyat. Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan iman yang teguh kukuh, akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur.

Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender lunar. Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Sang Siddharta memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.

Penyebaran ajaran Buddha

Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain: Buddha Gautama, Buddha Shakyamuni, Tathagata (‘Ia Yang Telah Datang’, Ia Yang Telah Pergi’), Sugata (‘Yang Maha Tahu’), Bhagava (‘Yang Agung’) dan sebagainya. Lima pertapa yang mendampingi Beliau di hutan Uruwela merupakan murid pertama Sang Buddha yang mendengarkan khotbah pertama Dhammacakka Pavattana, dimana Beliau menjelaskan mengenai Jalan Tengah yang ditemukan-Nya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya yang menjelaskan “Empat Kebenaran Mulia”.

Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, saat ia menyadari bahwa tiga bulan lagi ia akan mencapai Parinibbana.

Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).

Sifat Agung Sang Buddha

Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan Kasih Sayang (karuna). Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak terbatas oleh waktu dan selalu abadi, karena telah ada dan memancar sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda samsara yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan batinnya. Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas, yaitu

  1. Berusaha menolong semua makhluk.
  2. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.
  3. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.
  4. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.

Buddha Gautama pertama melatih diri untuk melaksanakan amal kebajikan kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari sepuluh tindakan yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan pikiran, yaitu

  • Tubuh (kaya): pembunuhan, pencurian, perbuatan jinah.
  • Ucapan (vak): penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar, percakapan tiada manfaat.
  • Pikiran (citta): kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang salah.

Cinta kasih dan kasih sayang seorang Buddha adalah cinta kasih untuk kebahagiaan semua makhluk seperti orang tua mencintai anak-anaknya, dan mengharapkan berkah tertinggi terlimpah kepada mereka. Akan tetapi terhadap mereka yang menderita sangat berat atau dalam keadaan batin gelap, Sang Buddha akan memberikan perhatian khusus. Dengan Kasih Sayang-Nya, Sang Buddha menganjurkan supaya mereka berjalan di atas jalan yang benar dan mereka akan dibimbing dalam melawan kejahatan, hingga tercapai “Pencerahan Sempurna”.

Sebagai Buddha yang abadi, Beliau telah mengenal semua orang dan dengan menggunakan berbagai cara Beliau telah berusaha untuk meringankan penderitaan semua makhluk. Buddha Gautama mengetahui sepenuhnya hakekat dunia, namun Beliau tidak pernah mau mengatakan bahwa dunia ini asli atau palsu, baik atau buruk. Ia hanya menunjukkan tentang keadaan dunia sebagaimana adanya. Buddha Gautama mengajarkan agar setiap orang memelihara akar kebijaksanaan sesuai dengan watak, perbuatan dan kepercayaan masing-masing. Ia tidak saja mengajarkan melalui ucapan, akan tetapi juga melalui perbuatan. Meskipun bentuk fisik tubuh-Nya tidak ada akhirnya, namun dalam mengajar umat manusia yang mendambakan hidup abadi, Beliau menggunakan jalan pembebasan dari kelahiran dan kematian untuk membangunkan perhatian mereka.

Pengabdian Buddha Gautama telah membuat dirinya mampu mengatasi berbagai masalah didalam berbagai kesempatan yang pada hakekatnya adalah Dharma-kaya, yang merupakan keadaan sebenarnya dari hakekat yang hakiki dari seorang Buddha. Sang Buddha adalah pelambang dari kesucian, yang tersuci dari semua yang suci. Karena itu, Sang Buddha adalah Raja Dharma yang agung. Ia dapat berkhotbah kepada semua orang, kapanpun dikehendaki-Nya. Sang Buddha mengkhotbahkan Dharma, akan tetapi sering terdapat telinga orang yang bodoh karena keserakahannya dan kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan khotbah-Nya. Bagi mereka yang mendengarkan khotbah-Nya, yang dapat mengerti dan menghayati serta mengamalkan Sifat Agung Sang Buddha akan terbebas dari penderitaan hidup. Mereka tidak akan dapat tertolong hanya karena mengandalkan kepintarannya sendiri.


[3]Lopez (1995). Buddhism in Practice. Princeton University Press. pp. 16.

**********************

Pandangan Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq tentang Sosok Siddhartha Gautama

Latar Belakang

Jika anda pernah membaca posting saya yang berjudul Pertanyaan tentang Iman yang Universal, maka anda akan melihat adanya hubungan antara posting itu dengan tulisan saya kali ini. Lahirnya konsep iman universal tersebut berasal dari sebuah pemikiran yang dikekang oleh fanatisme agama yang membutakan pemeluk suatu agama untuk membandingkan diri dengan orang lain. Efek negatif yang dilahirkan dari fanatisme agama tersebut adalah merasa benar sendiri, merasa diri paling benar dan orang lain salah, karena memang begitu konsep yang ditanamkan oleh pada umumnya agama terhadap pemeluknya, seperti perusahaan jasa yang bersaing untuk mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya dan mendokrin untuk tidak pindah ke produk lain.

Pada saat aku berpikir bahwa pemikiran bebasku dibelenggu oleh konsep fanatisme dalam beragama, keningku pun berkerut memikirkan jawaban atas  beberapa pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benakku. Pertanyaan yang sangat mendasar menurutku waktu itu, yaitu:

  1. Mengapa setiap pemeluk agama menganggap agamanya paling benar?
  2. Apakah ajaran agama yang ku peluk ini adalah ajaran agama yang benar-benar “BENAR”?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu cukup menggangguku pada saat itu, mengingat aku adalah seorang muslim yang lahir dari keluarga muslim, tumbuh dan berkembang dalam lingkungan muslim, dan bahkan dididik di lembaga pendidik Islam dari Madrasah Aliyah, hingga kuliah S1 dan S2. Sebagai muslim yang besar dalam kondisi masyarakat yang Homogen, pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti di atas telah membuatku melepaskan status “muslimku” selama aku belum menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Bagi sebagian orang di sekitarku, tindakan yang ku lakukan itu dianggap terlalu berani, karena harus melepaskan aqidah. Namun bagiku, justru dari sinilah aku akan mematri diriku dengan aqidah yang memang lahir dari pencarian dan untuk mendapatkan keyakinan. Karena aku beranggapan bahwa apa artinya beragama jika tidak memiliki dasar keyakinan yang kuat. Hidup dalam homogentitas agama yang melahirkan fanatisme itu justru membuatku beranggapan agama yang ku peluk ini bukan agama yang benar. Jika agama ini adalah sebuah kebenaran, maka ia tidak akan pernah takut untuk disandingkan dengan sesuatu yang yang juga dianggap benar oleh orang lain.

Pencarian kebenaran dengan melepaskan keyakinan memang merupakan hal yang sangat menakutkan dalam hubungannya dengan masalah aqidah, tetapi hal ini memang harus ku lakukan jika keyakinan yang kupegang justru membuat hatiku bimbang akan sebuah kebenaran. Ajaran agama yang ku peluk sebenarnya sudah ku yakini kebenarannya, tetapi hal itu masih dalam keyakinan yang wajar, yaitu karena keluarga, lingkungan dan pendidikanku hanya seputar itu. Lagi pula, dengan konsep sederhana seperti itu, semua pemeluk agama apapun akan beranggapan seperti yang ku rasa, yaitu “Agamaku adalah agama yang paling benar”.  Keyakinan yang wajar dan sederhana itu tidak cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti yang sudah ku sebutkan sebelumnya. Perlu adanya usaha pencarian keyakinan yang lebih EXTREME untuk jiwa dan pemikiranku yang EXTREME, yaitu dengan membandingkan semua ajaran kebenaran.

Siddhartha Gautama adalah Sosok Nabi

Ajaran Agama Budha adalah salah satu dari lima ajaran agama yang ku ketahui sejak aku duduk di bangku sekolah dasar, karena dalam Falsafah Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, ada lima Agama yang diakui, yaitu Islam, Kristen Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha. Dalam pencarian kebenaran yang ku lakukan, Ajaran Agama Budha adalah salah satu agama yang masuk dalam target pencarian kebenaran yang ku lakukan.

Dalam posting ini, saya tidak akan menyalahkan atau membenarkan ajaran agama Budha yang dibawa oleh Siddhartha Gautama, tetapi dalam pencarian kebenaran yang ku jalani ini, aku menemukan satu kesimpulan bahwa agama itu tidak bisa diciptakan begitu saja oleh manusia, diperlukan suatu falsafah mendasar yang menjadikan suatu ajaran pantas untuk disebut sebagai sebuah agama. Disamping itu, semua ajaran agama memang selalu mengajarkan kebenaran, karena itulah semua pemeluk agama menganggap agama yang dipeluknya itulah yang paling benar, termasuk dalam hal ini, ajaran yang dibawa oleh Siddhartha Gautama, yaitu ajaran agama Budha.

Dalam referensi yang saya kemukakan sebelumnya disebutkan bahwa Siddhartha Gautama pada awalnya juga merupakan manusia biasa yang sejak lahirnya sudah diberikan kelebihan. Ia lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai. Hal ini seperti juga kelahiran Isa al-Masih (Nabi Isa As) oleh Bunda Maria (Maryam) yang menandungnya tanpa Ayah. Seperti halnya juga kelahiran Muhammad Saw yang diwarnai dengan turunya ratusan burung Ababil yang menyerang tentara bergajah yang akan menghancurkan Ka’bah.

Pangeran Siddhartha Gautama yang sejak lahir diramalkan akan meninggalkan Istana, menyebabkan sang Ayah, Raja Suddhodana berusaha membahagiakan putra kesayangannya dalam kemewahan Istana. Pangeran Siddhartha tidak pernah diperkenalkan dengan beberapa hal, yaitu usia tua, penyakit, kematian, dan pertapa. Pangeran hanya tahu makna kebahagiaan itu dari kemewahan dalam Istana, wanita-wanita cantik, dan berbagai kenikmatan dunia lainnya. Sehingga pada saat ia berjalan ke luar Istana, sepanjang jalan yang akan dilaluinya harus lebih dulu dibersihkan dari ke-empat perkara yang dipantangkan untuk dilihat oleh Pangeran Siddhartha.

Namun waktu dan keadaan akhirnya mempertemukan Pangeran Siddhartha dengan semua perkara yang tidak pernah dikenalnya itu. Perjalanan keluar Istana yang telah dibersihkan sebelumnya tidak bisa menghalangi kenyataan bahwa Pangeran Siddhartha memang sudah waktunya mengenal adanya usia tua, penyakit, kematian dan pertapa. Keempat perkara itu secara tidak sengaja dilihatnya perjalanannya keluar Istana. Peristiwa itu sangat terkenal dalam sejarah kehidupan Siddhartha Gautama Sang Budha.

Apa yang dikhawatirkan Raja Suddhodana akhirnya menjadi nyata, Siddhartha Gautama akhirnya meninggalkan Istana untuk mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan dari dirinya. berbagai usaha telah ia lakukan untuk mencari kebenaran, bahkan disebutkan ia pernah ikut bertapa bersama para pertapa Hindu, tetapi tidak juga ia temukan kebenaran yang ia harapkan. Sampai pada akhirnya, pertapa Gautama melakukan samadhi di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya, “Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna.”

Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun. Dalam referensi yang penulis kemukakan di atas disebutkan bahwa pada saat mencapai pencerahan sempurna, dari tubuh Sang Siddhartha memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.

Melihat dari awal perjalanan kehidupan Siddhartha Gautama hingga ia menemukan pencerahan sempurna, saya berpikir Siddhartha Gautama adalah seorang Nabi, dan kejadian di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya adalah saat-saat dimana ia menerima wahyu untuk disampaikan dan diajarkan kepada umat manusia.

Seperti halnya juga saya temukan dalam kisah Isa Al-Masih (Nabi Isa As), Siddhartha Gautama juga tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan atas ajaran Budha yang dibawanya. Para pengikutnyalah yang kemudian mengklain bahwa ia adalah Tuhan. Keadaan ini –menurut analisa saya,– adalah suatu hal yang wajar. Pengaruh besar yang ditinggalkannya menjadikan ia sebagai panutan para pengikutnya, sehingga wajar kebesaran pengaruhnya itu menjadikan ia dituhankan oleh pengikutnya.

Keadaan seperti ini juga bisa saja terjadi Muhammad Saw dengan Islam yang dibawanya. Perbedaannya adalah, Muhammad menanamkan nilai-nilai ketuhanan (Tauhid) pada awal penyebaran ajarannya, kemudian dilanjutkan dengan memberikan contoh teladan dan ajaran bagaimana bertingkah laku dengan sesama manusia dan makhluk lainnya. Dalam konsep penyebaran ajaran agama oleh Nabi-Nabi sebelumnya, aspek ketuhahanan ini –menurut saya– disejajarkan dengan pengajaran akhlak dan etika pergaulan sesama manusia, sehingga para pengikutnya kurang mengerti eksistensi Tuhan pasca kematiannya. Sehingga sang tokohlah yang kemudian diklain sebagai Tuhan. Muhammad Saw pun bisa saja diklain sebagai Tuhan jika dalam penyebaran Islam, tidak menanamkan nilai-nilai ketuhanan (Tauhid) pada awal penyebarannya.

Para pembaca yang budiman.!!

Terima kasih telah membaca poting ini…!!! 😆 Pemikiran yang sehat dan positif hendaknya tetap menjadi panduan untuk memfilter pemikiran-pemikiran luar yang masuk ke Head dan Heart anda, termasuk Head (Pemikiran) dan Heart (Perasaan) yang tertuang dalam tulisan-tulisan di blog saya ini….. Pencarian kebenaran yang saya lakukan, ternyata akhirnya membawa saya kembali pada ajaran yang saya peluk sebelumnya, yaitu Islam, dengan keyakinan yang lebih sempurna dari sebelumnya. 🙂 Insya Allah…

7 Hal yang Wanita Benci dari Pria


VIVAnews – Wanita mengagumi pria karena berbagai alasan. Entah itu, perhatiannya, tubuh tegapnya, atau kecerdasannya. Namun, ada sejumlah perilaku khas pria yang tidak disukai wanita. Ingin tahu apa sajakah itu? Simak hasil wawancara sekelompok wanita yang menyatakan hal paling dibenci dari pria, seperti dikutip dari halaman Idiva:

  1. Ego tinggi
    Banyak wanita berharap, pria sedikit menurunkan egonya. Banyak wanita beranggapan, pria selalu tak ingin disaingi wanita, tidak rela jika wanita memiliki kemapuan lebih darinya.
  2. Menganggap wanita hanya sebagai objek seks
    “Satu hal yang saya benci tentang kebanyakan pria adalah mereka kerap menganggap wanita sebagai inferior dan hanya objek kepuasan seksual. Padahal dalam agama dan budaya wanita adalah sosok yang harus dihormati, tapi wanita masih saja sering diperlakukan buruk,” ujar Miss India 2008, Parvathi Omanakuttan saat menanggapi sikap pria yang paling dibencinya.
  3. Terobsesi payudara
    Payudara wanita memang menjadi bagian paling menarik perhatian banyak pria. Maka tak heran saat melihat payudara berukuran besar, tatapan pria seakan tak berkedip. Padahal, mereka sering melihat wanita setiap hari, namun tetap saja tatapan pertama yang membuatnya banyak pria terpaku adalah bagian dada wanita. Hal ini membuat kebanyakan wanita merasa risih.
  4. Berambut gondrong
    Sebagian pria mungkin cocok berpenampilan rambut panjang. Namun, jika tak sesuai dengan bentuk wajah, beberapa wanita tidak menyukai gaya pria dengan rambut gondrong. Dan akan lebih buruk lagi, jika pria berambut panjang menggunakan ikat rambut warna-warni, gel rambut dan mewarnai rambutnya dengan cat rambut pirang. Ini bisa menjadi hal menjijikkan buat wanita.
  5. Pria terobsesi penampilan
    Pria selalu mengeluh ketika wanita membutuhkan waktu lama untuk berdandan. Tapi ternyata, pria juga butuh waktu lama untuk merapikan diri, mulai dari memilih busana bahkan tak jarang dari mereka juga menggunakan riasan meski hanya sedikit bedak.
  6. Seks, seks, seks
    Pria begitu terobsesi pada aktivitas seksual sepanjang waktu. Ibarat kompor, dorongan seks pria bagaikan kompor gas. Pria hanya cukup pemanasan sedikit untuk bergairah. Banyak humor diciptakan orang untuk menunjukkan betapa pentingnya seks bagi seorang pria. Kebanyakan wanita beranggapan, mereka hanya mendengar apa yang mereka mau.
  7. Pria berbulu
    Kebanyakan pria tak rela jika bulu-bulu halus di tubuhnya dipangkas habis. Padahal, sebagian besar wanita merasa jijik saat melihat pria dengan banyak bulu, terutama di bagian dadanya.

➡ Sumber

Mengapa Surga berada di bawah telapak kaki Ibu?


Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”
Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya, “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?” Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan.” Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, “Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?” Dalam mimpinya Tuhan menjawab, “Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Pada wanita Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah. Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.
Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?
Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.
Dan akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”.
Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup, karena di kakinyalah kita menemukan surga.

Source

Mencari Kode pos di wilayah Indonesia


Masalah Kode Pos memang sering dikaitkan dengan masalah surat menyurat. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini sering membuat kita melupakan urgensi kode pos itu sendiri. Saat ini, orang lebih sering menanyakan Nomor HP atau alamat Facebook, daripada Alamat tempat tinggal, akibatnya Kode Pos sebagai salah satu ID wilayah kadang dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting. Tidak sedikit orang yang tidak bisa menjawab, saat ditanyakan, berapa kode pos di daerahnya. Hal ini terjadi karena hubungan komunikasi surat-menyurat telah tergeser oleh teknologi komunikasi yang begitu canggihnya saat ini. Keadaan ini memang tidak bisa dihindari, karena manusia dan teknologi adalah sesuatu yang dinamis. Peruabahan demi peruabahan adalah suatu keharusan.

Tetapi perlu diingat, bahwa meskipun HandPhone (sebagai sarana komunikasi) dan Facebook (sebagai sebuah jaringan sosial) telah menggeser Alamat tempat tinggal, tetapi pemilik nomor HP dan alamat Facebook itupun pasti punya tempat tinggal. Dalam kata lain, ia punya alamat rumah dengan keterangan Jalan, RT, RW, Nomor rumah, Gang, Kelurahan, Kecamatan, dan pastinya juga Kode Pos. Oleh karena itu, meskipun tidak diangggap sebagai sesuatu yang penting, saya pikir, kita perlu tahu tentang kode pos suatu wilayah tertentu. setidaknya kita perlu tahu Kode Pos untuk alamat tempat tinggal kita.

Jika anda termasuk orang yang tidak tahu Kode Pos untuk Wilayah anda, atau anda ingin menyetahui Kode Pos untuk wilayah tertentu, anda bisa melihatnya disini.

%d blogger menyukai ini: