Arsip Blog

Select Option Provinsi di Indonesia


Apakah anda ingin membuat format html select Option seperti ini?

Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Kep. Bangka Belitung
Kepulauan Riau
Jakarta
Jawa Barat
Banten
Jawa Tengah
Yogyakarta
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Utara
Bali
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Barat
Gorontalo
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat

Copy paste kode berikut:

<!DOCTYPE html>
<html lang="en">
 <head>
 <meta charset="utf-8">
 <meta name="generator" content="www.triplecstudio.net">
 <meta name="dcterms.created" content="Sen, 27 Okt 2014 09:29:58 GMT">
 <meta name="description" content="select option propinsi di Indonesia">
 <meta name="keywords" content="provinsi di Indonesia">
 <title>Membuat Select Option Propinsi di Indonesia</title>
 
 <!--[if IE]>
 <script src="http://html5shim.googlecode.com/svn/trunk/html5.js"></script>
 <![endif]-->
 </head>
 <body>
<select>
 <option value="aceh">Aceh</option>
 <option value="Sumut">Sumatera Utara</option>
 <option value="sumbar">Sumatera Barat</option>
 <option value="Riau">Riau</option>
 <option value="Jambi">Jambi</option>
 <option value="Sumsel">Sumatera Selatan</option>
 <option value="Bengkulu">Bengkulu</option>
 <option value="Lampung">Lampung</option>
 <option value="BaBel">Kep. Bangka Belitung</option>
 <option value="kepRiau">Kepulauan Riau</option>
 <option value="Jakarta">Jakarta</option>
 <option value="Jabar">Jawa Barat</option>
 <option value="Banten">Banten</option>
 <option value="Jateng">Jawa Tengah</option>
 <option value="Yogyakarta">Yogyakarta</option>
 <option value="Jatim">Jawa Timur</option>
 <option value="Kalbar">Kalimantan Barat</option>
 <option value="Kalteng">Kalimantan Tengah</option>
 <option value="Kalsel">Kalimantan Selatan</option>
 <option value="Kaltim">Kalimantan Timur</option>
 <option value="Kaltra">Kalimantan Utara</option>
 <option value="Bali">Bali</option>
 <option value="NTT">Nusa Tenggara Timur</option>
 <option value="NTB">Nusa Tenggara Barat</option>
 <option value="Sulut">Sulawesi Utara</option>
 <option value="Sulteng">Sulawesi Tengah</option>
 <option value="Sulsel">Sulawesi Selatan</option>
 <option value="Sultengg">Sulawesi Tenggara</option>
 <option value="Sulbar">Sulawesi Barat</option>
 <option value="Gorontalo">Gorontalo</option>
 <option value="Maluku">Maluku</option>
 <option value="Maluku Utara">Maluku Utara</option>
 <option value="Papua">Papua</option>
 <option value="Papua Barat">Papua Barat</option>
</select>
 </body>
</html>

Menu Admin Website Berbasis Wordpress


  1. Menu AdminDashboard
    Dashboard adalah beranda pada halaman admin, berisi informasi dan data umum terakhir pada website, serta informasi perbaharuan.

    1. Home
      Informasi kontent website
    2. Updates
      Informasi update versi WordPress dan Plugin
  2. Jetpact
    Jetpact adalah plugin tambahan yang berisi berbagai aplikasi pendukung pada website

    1. Jetpact
      Daftar aplikasi pendukung dari Jetpact
    2. Omnisearch
      Layanan pencarian dari Jetpact
    3. Sitestats
      Laporan statistik pengunjung website
    4. Akismet
      Pengaturan keamanan
    5. Akismet Stats
      Laporan statistik keamanan
  3. Posts
    Menu Post berisi daftar artikel dan berbagai pengaturan lain yang berhubungan dengan penulisan artikel.

    1. All Posts
      Daftar semua artikel yang ada di website, baik yang telah terbit, yang masih berbentuk draft, ataupun yang telah dihapus dari website.
    2. Add New
      Menulis artikel baru (dibahas dalam point tersendiri)
    3. Categories
      Daftar Kategori artikel
    4. Tags
      Daftar Tags artikel
  4. Media
    Media berisi file yang diunduh ke hosting (penyimpanan) website

    1. Library
      Daftar media (file teks, image, video, dll) yang diupload ke hosting website.
    2. Add New
      Menambahkan (Upload) media baru ke hosting website
  5. Page
    Page merupakan artikel statis yang pada umumnya berisi keterangan umum tentang kegiatan website.

    1. All Pages
      Daftar semua halaman yang ada di website, baik yang telah terbit, yang masih berbentuk draft, ataupun yang telah dihapus dari website
    2. Add New
      Menambahkan halaman baru
  6. Comments dan Feedback
    Comments merupakan menu informasi komentar dan tanggapan pada post atau page yang ditulis oleh pengunjung website.
  7. Product
    Product merupakan menu untuk menerbitkan produk untuk toko online
    (Menu ini ada pada tema wordpress berbasis Toko Online)

    1. All Products
      Daftar semua produk, baik yang telah terbit, yang masih berbentuk draft, ataupun yang telah dihapus dari website
    2. Add New
      Menambahkan produk baru
    3. Departement
      Daftar kategori produk
  8. Appearance
    Appearance merupakan menu yang berisi pengaturan tampilan website.

    1. Themes
      Templete tampilan website.
    2. Costumize
      Menu pengaturan umum
    3. Widgets
      Pengaturan tampilan sidebar
    4. Menus
      Pengaturan menu
    5. Theme Documentation
      Penjelasan tentang tema yang digunakan
    6. Edit CSS
      Melakukan editing pada CSS (profesional)
    7. Theme Option
      Pengaturan tema
    8. Editor
      Melakukan editing pada HTML (profesional)
  9. Plugin
    Plugin merupakan menu yang memberikan informasi tentang plugin yang terpasang pada website.

    1. Installed Plugin
      Daftar semua Plugin yang terinstall pada website, baik yang aktif, maupun yang tidak aktif.
    2. Add New
      Menginstall/memasang plugin baru
    3. Editor
      Melakukan editing HTML pada plugin yang telah terpasang
  10. Users
    User adalah pengguna website

    1. All Users
      Daftar semua pengguna website
    2. Add New
      Menambahkan pengguna baru
    3. Your Profil
      Melihat detail tentang profil pengguna
  11. Tools
    Tools adalah perangkat yang bisa anda gunakan untuk melakukan impor atau ekspor data.

    1. Available Tool
      Perangkat yang tersedia
    2. Import
      Memasukkan artikel, halaman, komentar, dan media dari blog/website lain.
    3. Export
      Mendownload file artikel, halaman, komentar, dan media dari website anda untuk dipindahkan ke blog/website lain.
  12. Setting
    Setting adalah menu pengaturan umum untuk website

    1. General
      Pengaturan umum website Football Corner
    2. Writing
      Pengaturan dalam penulisan artikel, halaman, maupun produk pada website
    3. Reading
      Pengaturan tampilan bagi orang yang membaca artikel, halaman, maupun produk pada website anda
    4. Discussion
      Pengaturan komentar
    5. Media
      Pengaturan media
    6. Permalinks
      Pengaturan URL
    7. S. Simple Favicon (Plugin)
      Pengaturan favicon, yaitu icon website yang tampil pada browser (Mozzilla, Opera, Chrome, dll)
    8. Sharing
      Pengaturan share (membagikan) artikel, halaman, dan produk ke sosial media, seperti Facebook, twitter, dll.

_____________________

Artikel tentang WordPress:

  1. Pengunjung Blog Terus Meningkat Secara Sehat
  2. Budaya COPAS di Kalangan Blogger: Menghambat Kreativitas dan Produktivitas
  3. Perbedaan Blog dan Website Berbasis WordPress
  4. Memasukkan Link ke Halaman yang Sama
  5. Tips agar website/Blog anda menduduki Rangking atas di Search Engine Google?
  6. Kode Smiley untuk Blog WordPress
  7. Rating Pengunjung Blog tanggal 21 Desember 2010 meningkat tajam

DOWNLOAD DIKTAT PELATIHAN WEB-DESIGN

Cara Menutup Akun Facebook Kerabat Yang Telah Meninggal Dunia


Ketika seorang pemilik akun Facebook meninggal dunia, maka tentu saja ia tidak akan bisa lagi melakukan apa-apa terhadap akun Facebooknya, jangankan untuk membuat status atau mengomentari status teman, untuk masuk ke akun facebooknya saja sudah tidak mungkin (kecuali ada teman atau kerabat yang mengetahui email dan password akun Facebooknya). Karena dia tidak mampu melakukan apa-apa terhadap akun Facebooknya tersebut, maka akun Facebooknya tersebut akan tetap ada di internet, meskipun sudah tidak tampak adanya aktivitas lagi sejak ia meninggal.

Untuk kasus pemilik akun Facebook yang meninggal dunia seperti di atas, sebenarnya ada satu halaman di Facebook yang memungkinkan bagi para teman atau keluarga dari pemilik akun Facebook yang meninggal dunia tersebut untuk menutup akun Facebooknya untuk selama-lamanya atau ingin menjadikan akun Facebooknya sebagai akun kenangan.

  1. Permintaan Menutup Akun Facebook Seseorang Yang Telah Meninggal Dunia
    Permintaan Khusus ini bisa dilakukan oleh keluarga atau teman dekat pemilik akun Facebook yang meninggal dunia. Melakukan permintaan khusus ini dilakukan jika pihak keluarga atau teman pemilik akun Facebook yang meninggal dunia menginginkan akun Facebooknya ditutup untuk selama-lamanya.
    Caranya dengan mengisi form permintaan khusus seperti pada gambar di bawah ini:
  2. Permintaan Untuk Menjadikan Akun Facebook Kenangan
    Dengan menjadikannya sebagai akun Facebook Kenangan, maka semua data dan aktivitas yang ada di akun Facebook orang yang telah meninggal dunia tersebut akan tetap ada, namun pihak Facebook akan melindungi akun tersebut, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat menggunakan akun tersebut.
    Cara menjadikan akun Facebook seseorang yang telah meninggal dunia sebagai akun kenangan adalah dengan mengisi form “Memorialization Request” seperti di bawah ini.

Dengan kedua opsi tersebut, maka pihak keluarga atau teman pemilik akun Facebook yang meninggal dunia dapat menutup selama-lamanya akun Facebook tersebut, atau hanya menjadikannya sebagai akun kenangan.

Ulasan Khairil Yulian Tentang Kematian Pemilik Akun Facebook

Facebook menyediakan kedua halaman form tersebut tentunya karena menyadari bahwa seorang pemilik akun Facebook yang telah meninggal dunia tentunya tidak akan bisa menutup akunnya, atau menulis status “Selamat Tinggal” atau “Good Bye” sebagai status terakhirnya. Karena jika seseorang telah meninggal dunia, maka segala hal yang berhubungan dengan dunia akan terputus. Namun Dalam Islam, masih ada tiga hal yang tiga hal yang tidak akan terputus, meskipun ia telah meninggal dunia.

  1. Shadaqah Jariyah
    Jika anda pernah memberikan shadaqah dalam hidup anda, dan shadaqah yang anda keluarkan tersebut terus dimanfaatkan orang untuk kebaikan, maka pahala atas shadaqah jariyah tersebut akan terus mengalir pada anda selama ia masih dimanfaatkan oleh orang lain.
  2. Ilmu Yang Bermanfaat
    Anda mungkin bukan orang kaya yang mampu bershadaqah jariyah dengan jumlah yang besar dan memberi manfaat bagi orang banyak, tetapi anda masih mampu untuk berbagi (share) ilmu, pengetahuan, wawasan atau pengalaman kepada orang lain. Berharaplah ilmu pengetahuan atau pengalaman yang telah anda sampaikan tersebut bermanfaat bagi orang lain. Karena jika ilmu pengetahuan atau pengalaman yang anda bagikan tersebut bermanfaat bagi orang lain, maka kematian tidak akan bisa menghentikan aliran pahala yang anda terima.
  3. Anak Yang Shaleh
    Memiliki anak yang shaleh mungkin adalah harapan semua orang tua, karena memiliki seorang anak yang shaleh itu bukan hanya  memberikan kebanggan terhadap orang tua dan nama baik keluarga, tetapi lebih dari itu, seorang anak yang shaleh akan memberinya pahala yang tak putus-putus meskipun kematian telah memutus hubungannya dengan dunia.

Referensi Dalil Naqli:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ

إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah segalanya amal perbuatannya, kecuali atas 3 perkata: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendo’akan orang tuanya”. (HR.Muslim)

Permintaan Menutup Akun Facebook Seseorang Yang Telah Meninggal Dunia
Permintaan Untuk Menjadikan Akun Facebook Kenangan

Tuntunan Rasulullah saat Hari Raya


Ada beberapa hal yang dituntunkan Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam terkait dengan pelaksanaan hari raya, di antaranya:

  1. Mandi Sebelum ‘Ied: Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk hari raya karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk sholat. Namun, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah. Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat ‘Iedul fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk sholat (HR. Malik, sanadnya shohih). Berkata pula Imam Sa’id bin Al Musayyib, “Hal-hal yang disunnahkan saat Iedul Fitri (di antaranya) ada tiga: Berjalan menuju tanah lapang, makan sebelum sholat ‘Ied, dan mandi.” (Diriwayatkan oleh Al Firyabi dengan sanad shahih, Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).1
  2. Makan di Hari Raya: Disunnahkan makan saat ‘Iedul Fitri sebelum melaksanakan sholat dan tidak makan saat ‘Iedul Adha sampai kembali dari sholat dan makan dari daging sembelihan kurbannya. Hal ini berdasarkan hadits dari Buraidah, bahwa beliau berkata: Rosululloh dahulu tidak keluar (berangkat) pada saat Iedul Fitri sampai beliau makan dan pada Iedul Adha tidak makan sampai beliau kembali, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, sanadnya hasan). Imam Al Muhallab menjelaskan bahwa hikmah makan sebelum sholat saat ‘Iedul Fitri adalah agar tidak ada sangkaan bahwa masih ada kewajiban puasa sampai dilaksanakannya sholat ‘Iedul Fitri. Seakan-akan Rasulullah Saw mencegah sangkaan ini.2
  3. Memperindah (berhias) diri pada Hari Raya: Dalam suatu hadits, dijelaskan bahwa Umar pernah menawarkan jubah sutra kepada Rasulullah Saw agar dipakai untuk berhias dengan baju tersebut di hari raya dan untuk menemui utusan. (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah Saw tidak mengingkari apa yang ada dalam persepsi Umar, yaitu bahwa saat hari raya dianjurkan berhias dengan pakaian terbaik, hal ini menunjukkan tentang sunnahnya hal tersebut.3 Perlu diingat, anjuran berhias saat hari raya ini tidak menjadikan seseorang melanggar yang diharamkan oleh Allah, di antaranya larangan memakai pakaian sutra bagi laki-laki, emas bagi laki-laki, dan minyak wangi bagi kaum wanita.
  4. Berbeda jalan antara pergi pulang dari tempat Shalat Eid: Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda tatkala berangkat dan pulang, berdasarkan hadits dari Jabir, beliau berkata, “Rasulullah membedakan jalan (saat berangkat dan pulang) saat iedul fitri.” (HR. Al Bukhari). Hikmahnya sangat banyak sekali di antaranya, agar dapat memberi salam pada orang yang ditemui di jalan, dapat membantu memenuhi kebutuhan orang yang ditemui di jalan, dan agar syiar-syiar Islam tampak di masyarakat.4
  5. Disunnahkan pula bertakbir saat berjalan menuju tanah lapang, karena sesungguhnya Nabi apabila berangkat saat Iedul Fitri, beliau bertakbir hingga ke tanah lapang, dan sampai dilaksanakan shalat, jika telah selesai shalat, beliau berhenti bertakbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih).

Semoga Tuntunan Rasulullah Saw ini bermanfaat bagi kita semua…. 🙂

Referensi:

1Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar – edisi Indonesia.

2Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan.

3Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan

4Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan.

Kontroversi Konsep Filsafat Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd


Kontroversi Konsep Filsafat
Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd

0leh

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq


Pendahuluan

Penyelidikan filsafat[1] bukanlah monopoli Yunani dan dunia barat. Pemikiran filsafat haruslah ditempatkan sebagai suatu petunjuk kegelisahan abadi umat manusia. Jika orang mengatakan bahwa sejarah pemikiran umat manusia dimulai sejak periode Thales di Yunani kuno, adalah suatu kealfaan manusia dalam mencatat perilaku sejarah umat manusia tersebut, atau justru memang harus diakui adanya kealfaan sebagai umat manusia memunculkan sejarahnya.[2]

Pada masa Rasulullah Saw, setiap permasalahan dapat langsung ditanyakan kepada beliau, tetapi sejak beliau wafat, umat Islam telah dihadapkan pada permasalahan yang menuntut mereka berpikir sendiri karena tidak ada lagi tempat mereka bertanya. Pada masa pasca wafatnya Rasulullah Saw ini saja telah lahir polarisasi umat dalam Islam pertama, yang melahirkan kelompok-kelompok umat seperti kaum Anshar, Muhajirin dan kaum kerabat Nabi.

Pada masa akhir Khulafa’ al-Rasyidin, juga lahir berbagai aliran sikap politis yang berkembang pada perbedaan ideologi teologis, seperti Khawarij, Syi’ah dan Sunni. Periode selanjutnya, atau sering disebut sebagai periode pemikiran Islam yang sistematis, dapat disebutkan berbagai kelompok yang mewakili suatu pandangan tertentu, seperti Mu’tazilah, Murji’ah, Qadariah, Jabariah dan Ahlu al-Sunnah Wa al-Jama’ah. [3]

Dari hampir semua zaman, masalah utama justru terletak pada masalah filsafat sebagai metode berpikir, yakni tentang legalitas filsafat untuk dipergunakan sebagai perangkat kerja menemukan dan mencari kebenaran. Perbedaan tersebut memuncak pada perbedaan Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.[4] Dalam makalah ini, penulis mencoba mengupas masalah kontroversi kedua tokoh sejarah tersebut dengan pendekatan sejarah.

Imam Al-Ghazali dan Pemikirannya

Imam Al-Ghazali[5] adalah seorang ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.[6] Perjalanan spiritualnya menjadikannya mempunyai satu konsep sendiri, terutama dalam bidang filsafat. Kalangan intelektual sebelum Al-Ghazali menjadikan filsafat sebagai cara untuk mencari kebenaran.[7] Pendapat mereka kemudian ditentang keras oleh Al-Ghazali.[8] Teknik pendekatan filsafat yang dibunuh oleh Al-Ghazali adalah konsep filsafat yang diutarakan oleh filosof Islam sendiri, yaitu Ibnu Sina[9] dan Al-Farabi.[10]

Dalam sejarah filsafat Islam Al-Ghazali dikenal sebagai orang yang pada mulanya syak terhadap segala-galanya. Perasaan syak ini kelihatannya timbul dalam dirinya dari pelajaran ilmu kalam atau teologi yang diperolehnya dari al-Juwaini.[11] Sebagaimana diketahui dalam Ilmu Kalam terdapat beberapa aliran yang saling bertentangan. Timbullah pertanyaan dalam diri Al-Ghazali: Aliran manakah yang bertul-betul benar diantara semua aliran itu?[12]

Pada mulanya pengetahuan filsafat dijumpai Al-Ghazali dalam hal-hal yang ditangkap dengan pancaindra, tetapi baginya kemudian ternyata bahwa pancaindra juga berdusta. Sebagai umpama sebagai berikut:

“Bayangan rumah kelihatannya tak bergerak, tetapi akhirnya ternyata berubah tempat. 
Bintang-bintang di langit kelihatannya kecil tetapi perhitungan menyatakan bahwa bintang-bintang itu lebih besar dari bumi”.

Karena tidak percaya pada panca indra lagi, kemudian dia meletakkan kepercayaan pada akal. Tetapi akal juga ternyata tidak dapat dipercaya.

Al-Ghazali mempelajari filsafat, kelihtannya untuk menyelidiki apakah pendapat-pendapat yang dimajukan oleh filosof-filosof itulah yang merupakan kebenaran. Baginya ternyata bahwa argumen-argumen yang mereka ajukan tidak kuat dan menurut keyakinannya ada yang bertentangan dengan ajaran Islam. Akhirnya ia mengambil sikap menentang terhadap filsafat.

Sebagaimana halnya dalam Ilmu Kalam, Al-Ghazali juga menjumpai argumen-argumen yang tidak kuat dalam filasafat, akhirnya dalam tasawuflah ia memperoleh apa yang dicarinya. Tasawuflah yang dapat menghilangkan rasa syak yang lama mengganggunya. Pengetahuan yang menimbulkan keyakinan akan kebenarannya bagi Al-Ghazali adalah pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari Tuhan dengan Tasawuf.[13]

Al-Ghazali tidak percaya pada filsafat, bahkan memandang filosof-filosof sebagai ahlu Al-Bida’, yaitu tersesat dalam beberapa pendalat mereka. Al-Ghazali menyalahkan filosof-filosof sebelumnya dalam beberapa pendapat berikut:[14]

  1. Tuhan tidak mempunyai sifat
  2. Tuhan mempunyai substansi basit (sederhana/simple) dan tidak mempunyai mahiah (hakekat/quiddity).
  3. Tuhan tidak mengetahui Juz’iat (perincian/particulars)
  4. Tuhan tidak diberi sifat al-Jins (Jenis/Jenus) dan Al-Fashl (differentia)
  5. Planet-planet dan bintang-bintang bergerak dengan kemauan
  6. Jiwa planet-planet mengetahui semua juz’iat.
  7. Hukum alam tak dapat berubah
  8. Pembangkitan jasmani tidak ada
  9. Alam itu tidak bermula
  10. Alam itu akan kekal

Tiga dari kesepuluh pendalat di atas, menurut Al-Ghazali membawa kepada kekufuran, yaitu:

  1. Alam kela dalam arti tak bermula
  2. Tuhan tak mengetahui perincin dari apa-apa yang terjadi di alam.
  3. Pembangkitan jasmani tak ada. [[15]]

Ibnu Rusyd dan Pemikirannya

Ibnu Rusyd[16] adalah seorang seorang hakim Istana di Cordova (Spanyol Islam)[17] yang juga dikenal sebagai dokter istana. Di samping itu ia juga seorang filosof yang mempunyai pengaruh besar di kalangan istana, terutama di zaman Sultan Abu Yusuf Ya’qub al-Mansyur (1184-1199 M).

Ibnu Rusyd hidup dalam situasi politik yang sedang berkecamuk. Pemerintahan Almurafiah digulingkan oleh golongan Almuhadiah di Marakusy pada tahun 542/1147 M, yang menaklukan Cordova pada tahun 543 H/ 1148 M.[18] Tiga orang pewarisnya dari golongan Almuhadiah, Abd al-Mu’min, Abu Ya’kub dan Abu Yusuf yang diabdi oleh Ibnu Rusyd, terkenal karena semangat berilmu dan berfilsafat mereka. Di sinilah sebenarnya awal perkenalan Ibnu Rusyd dengan dunia filsafat.

Awal keterlibatan Ibnu Rusyd dalam dunia filsafat adalah ketika Abu Ya’kub yang saat itu menjadi Amir, memerintahkannnya menuliskan ulasan-ulasan atas buku-buku Aristoteles agar buku tersebut dapat dipahami dengan mudah olehnya.[19]

Kondisi kultural pada saat itu, sebenarnya tidak begitu mendukung terhadap aktivitas filsafat Ibnu Rusyd, hanya saja pengaruhnya di kalangan istana memberikan kesempatan yang besar dalam berfilsafat. Sebagai seorang filosof, pengaruhnya di kalangan istana kurang disenangi oleh kaum ulama dan fuqaha. Sehingga, ketika terjadi peperangan antara Sultan dengan kaum Kristen, Sultan menghajatkan bantuan dari kalangan ulama dan fuqaha yang memang dikenal lebih dekat umat. Kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan oleh kaum Ulama dan Kaum Fuqaha untuk menyingkirkan Ibnu Rusyd.

Ibnu Rusyd dituduh membawa filsafat yang menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam. Maka dengan demikian, Ibnu Rusyd ditangkap dan diasingkn ke suatu tempat bernama Lucena di daerah Cordova. Bukan hanya itu saja, buku-bukunya dibakar di depan umum. Namun penderitaan dan siksaan yang diderita oleh Ibnu Rusyd tidak lama, karena Sultan memberikan pengampunan terhadapnya.[20]

Ibnu Rusyd lebih dikenal dan dihargai di Eropa Tengah daripada di Timur, dikarenakan beberapa sebab:

  1. Tulisan-tulisannya yang banyak jumlahnya itu diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan diedarkan serta dilestarikan, sedangkan teksnya yang asli dalam bahasa Arab dibakar atau dilarang diterbitkan lantaran mengandung semangat anti filsafat dan filosof.[21]
  2. Eropa pada jaman Renaissance dengan mudah menerima filsafat dan metode ilmiah sebagaimana dianut oleh Ibnu Rusyd, sedangkan di Timur, ilmu-ilmu filsafat mulai dikurbankan demi berkembangnya gerakan-gerakan mistis dan keagamaan.[22]

Sebagai seorang filosof, Ibnu Rusyd tentu saja harus melakukan pembelaan terhadap filsafat dari serangan-serangan Al-Ghazali yang menuduh kaum filosof menjadi kafir dengan berbagai pemikiran filosofis sebagaimana disebutkan di atas.

Mungkin pada masa sekarang ini soal seperti ini tidak begiru pantas dihebohkan. Tetapi pada abad ke-6 H/12 M masalah semacam itu memang sangat penting. Para filosof dituduh berbuat bid’ah (kufr) atau tidak beragama. Al-Ghazali dalam karyanya Thahafut mengutuk para filosof sebagai orang yang tidak beragama.. kalau tuduhan ini benar, maka para filosof itu berdasarkan hukum Islam, harus dihukum mati, kecuali kalau mereka mau melepaskan diri dari berfilsafat atau membuat pernyataan di depan umum bahwa mereka tidak percaya kepada ajaran-ajaran filsafat mereka. Oleh karena itu, perlulah bagi para filosof membela diri dan pendapat-pendapat mereka.[23]

Dalam risalahnya Ibnu Rusyd menyatakan bahwa filsafat diwajibkan atau paling tidak diajurkan dalam agama Islam, sebab fungsi filsafat hanyalah membuat spekulasi atas yang maujud dan memikirkannya selama membawa pada pengetahuan akan sang pencipta. Al-Qur’an memerintahkan untuk berpikir (i’tibar) dalam banyak ayat seperti: “Berpikirlah, wahai yang bisa melihat”. I’tibar merupkan suatu ungkapan Qur’ani yang berarti sesuatu yang lebih dari sekedar spekulasi tau repleksi (nazar).[24]

Ibnu Rusyd kembali ke bidang Fiqh dan membandingkan metode logika filsafat dengan metode tradisional fiqh. Dia menyebutkan prinsip fiqh berpijak pada empat sumber, yaitu Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ (konsensus) dan Qiyas (silogisme yang absah). Telah dipahami bahwa Al-Qur’an mesti ditafsirkan secara rasional, dan ijma’ merupakan buah kesepakatan secara aklamasi dari para alim pada masa tertentu, tetapi tiada konsensus pada masalah-masalah doktrinal. Karena tidak ada konsensus pada masalah-masalah doktrinal tersebut, maka Al-Ghazali, atas dasar ijma’ tidak berhak mengutuk para filosof sebagai orang-orang tidak beragama.[25]

Menurut Al-Ghazali, mereka pantas dituduh sebagai ahli bid’ah (takfir) lantaran tiga hal, yaitu ajaran mereka tentang keabadian dunia, penolakan mereka atas pengetahuan Tuhan tentang segalanya dan penolakan meraka atas kebangkitan kembali secara jasmaniah.[26] Menurut Ibnu Rusyd, agama didasarkan pada tiga prinsip yang mesti diyakini oleh setiap Muslim, yaitu eksistensi Tuhan, kenabian dan kebangkitan. Ketiga prinsip ini merupakan pokok masalah agama. Orang yang menolak prinsip yang manapun dari yang disebut di atas, berarti ialah yang pantas disebut tak beragama (kafir).[27]

Kontroversi Konsep Filsafat

Menyimak dari pemiran kedua tokoh tersebut, Al-Ghazali (450 H/1059 M–505 H/1111 M) kecewa dengan filsafat karena pengalamannya dalam dunia filsafat, dia tidak menemukan kebenaran yang dia cari. Kemudian dia menemukan bahwa pendekatan tasawuflah yang dapat menjawab semua permasalahan yang dihadapinya dalam menemukan kebenaran sebenarnya. Selanjutnya ia menentang setiap kegiatan filsafat dan mengutuk kaum filosofis sebagai orang kafir dan tak beragama. Sementara Ibnu Rusyd (520 H/1126 M–592 H/1198 M) adalah seorang yang telah terjun ke dunia filosofis Islam. Dalam posisinya sebagai seorang filosof, ia dituntut untuk membela eksistensi filsafat dari serangan-serangan Al-Ghazali yang telah menyebabkan para filosof kehilangan kekuatannya untuk meneruskan aktivitas filsafatnya.

Abdul Munir Mulkhan menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan mendasar dalam penggunaan “filsafat” sebagai metode berpikir dari kedua tokoh pemikir tersebut. Perbedaan justru terdapat pada teknik berpikirnya itu sendiri. Dan pada legalitas filsafat sebagai metode mencari kebenaran. Jika Imam Al-Ghazali menekankan pada aspek intuitif, maka Ibnu Rusyd menitik beratkan metode berpikirnya pada aspek rasional.[28]

Lebih jauh dapat dipahami bahwa Al-Ghazali lebih menekankan penetapan kebenaran berdasarkan pada penghayatan dan ketajaman perasaan yang dalam, sedangkan Ibnu Rusyd pada unsur logis dan korespondensi metode filsafat Yunani dan ajaran Islam.

Penutup

Kesimpulannya, Kontroversi Pemikiran filsafat antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, bukan terletak pada konsep filsafat, tetapi terletak pada terdapatnya perbedaan anggapan terhadap eksistensi filsafat itu sendiri. Al-Ghazali adalah orang yang menentang filsafat dan menyerang filosof dengan tuduhan “Kafir”, sementara Ibnu Rusyd adalah seorang filosof Islam yang dituntut untuk membela keberadaan filsafat


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Zaenal Abidin, Ibnu Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia, Bulan Bintang, Jakarta, 1949.

Ahwani, Ahmad Fuad Al-, Filsafat Islam, Pustaka Firdaus, Bandung, 1984

Amin, Oemar, Filsafat Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1959.

Boer, T.J. De, The History of Philosophy in Islam, Dover Publication, Inc., New York, 1967.

Daudi, Ahmad, Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1984.

Dominique, Urvoy, Ibn Rushd (Averroes): Arabic Thought and Culture, Routedge, London, 1991.

Ghazali, M. Bahri, Konsep Ilmu Menurut Al-Ghazali: Suatu Tinjauan Psikologik Pedagogik, Pedoman Ilmu Jaya, Yogyakarta, 1991.

Mansur, Laily, Ajaran dan Teladan Para Sufi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996.

Mulkhan, Abdul Munir, Mencari Tuhan dan Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai pemikiran Al-Ghazali, Bumi Aksara, Jakarta, 1992.

Munawir, Imam, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, Bina Ilmu, Surabaya, 1985.

Nasution, Harun, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1983.

___________, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Universitas Indonesia, Jakarta, 1996.

Poerwantana, et.al., Seluk beluk Filsafat Islam, Rineka Cipta, Jakarta, 1996.

Sudarsono, Filsafat Islam, Rineka Cipta, Jakarta, t.th.

Syarif, M.M., Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1994.

___________, The Philosophies: History of Muslim Philosophy, terj.: Ilyas Hasan, Mizan, Bandung, 1996.


Keterangan:
Artikel ini merupakan makalah yang saya tulis untuk tugas mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam Program Pasca Sarja IAIN Antasari Banjarmasin.

Kembali Ke:

  1. Pendahuluan
  2. Imam Al-Ghazali dan Pemikirannya
  3. Ibnu Rusyd dan Pemikirannya
  4. Kontroversi Konsep Filsafat
  5. Penutup

[1]Perkataan “Filsafat” bukanlah bahasa Arab, sebelum Islam datang, orang Arab tidak mempunyai filsafat. Meskipun mereka mempunyai Hikmah dan Hukama, mempunyai “Kebijaksanaan” dan “para Bijaksanawan”. Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1959),      h.11; Filsafat sebgai ilmu adalah sebuah sistematika pemikiran mendalam untuk mencari dan menemukan kebenaran. Sedangkan filsafat sebagai kegiatan berpikir dapat dikatakan sebagai suatu pemikiran yang mendalam dan radikal tentang segala sesuatu, Abdul Munir Mulkhan, Mencari Tuhan dan Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai pemikiran Al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), Cet. II, h. 71

[2]Ibid., h. 77.

[3]Ibid., h. 78.

[4]Ibid., h. 79.

[5]He (Al-Ghazali) was born at Tos in Khorasan in the year 1059. T.J. De Boer, The History of Philosophy in Islam, (New York: Dover Publication, Inc., 1967), h. 155; Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali. Laily Mansur, Ajaran dan Teladan Para Sufi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), h. 25; Setelah bertahun-tahun mengembara sebagai sufi ia kembali ke Thus di tahun 1105 M dan meninggal di sana pada tahun 1111 M. Lihat: Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), Cet. III., h. 43; Di dunia barat terkenal ia dengan sebutan al-Ghazel. M. Bahri Ghazali, Konsep Ilmu Menurut Al-Ghazali: Suatu Tinjauan Psikologik Pedagogik, (Yogyakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991), Cet. I h. 21.

[6]Masa hidup Al-Ghazali adalah masa munculnya aliran-aliran pemikiran di tengah-tengah masyarakat. Ibid., h. 24.

[7]Ahli-ahli filsafat Islam Banyak mempelajari filsafat Yunani, sehingga dengan demikian telah terjadi kontak antara Filsafat Yunani dengan ajaran agama Islam. Sudarsono, Filsafat Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, t.th.), h. 122.

[8]Al-Ghazali mengecam ajaran-ajaran filosof-filosof Mulism dalam bukunya Thahafut, dan metode yang digunakan adalah tasawuf. M.M. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy, terj.: Ilyas Hasan, (bandung: Mizan, 1996), Cet. VIII, h. 199.

[9]Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada tahun 980 M di Asfshana, suatu tempat dekat Bukhara. Orang tuanya adalah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman. Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya,(Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia, 1996), h. 50; Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal unik, sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu – satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad. M.M. Syarif, Para Filosof Muslim, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 101; Di bidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya dunia Islam menyanjungnya, ia memang merupakan satu bintang gemerlapan memancarkan cahaya sendiri. Lihat: Imam Munawir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985), h. 332 – 333; Lihat: Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Firdaus, 1984), h. 63.

[10]Dengan ketajaman otaknya Ibnu Sina banyak mempelajari filsafat dan cabang-cabangnya, kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru setelah ia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho-nya Al-Farabi (870-950 M), semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa dia menjadi murid yang setia dari Al-Farabi. Zaenal Abidin Ahmad, Ibnu Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1949), h. 49; Al-Ghazali demikian sengit dan keras terhadap para filosof, khususnya Al-Farabi dan Ibnu Sina, Selanjutnya Ibnu Rusyd terhadap Al-Ghazali dan terhadap Kitabnya yang berjudul Thahafut al-Falaasifah. Ahmad Daudi, Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 10.

[11]Imam al-Haramain al-Juwaini adalah Guru Besar di Madrasah al-Nizamiah Nisyafur. Lihat: Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Op.Cit., h. 41.

[12]Ibid.

[13]Lihat: Ibid., h. 42-44; Al-Ghazali memperoleh kesan bahwa orang-orang sufi (ahli Tasawuf) itu benar-benar berada di atas jalan yang benar, berakhlak baik dan mendapat pengetahuan yang tepat. Sudarsono, Op.Cit., h. 122.

[14]Al-Ghazali menghantam pendapat-pendapat filsafat Yunani, di antaranya juga Ibnu Sina c.s., dalam dua puluh masalah. Di antaranya yang terpenting ialah (1) Al-Ghazali menyerang dalil-dalil filsafat (aristoteles) tentang azalinya alam dan dunia, (2) Al-Ghazali menyerang pendapat kaum filsafat (aristoteles) tentang pastinya keabadian alam, (3) Al-Ghazali menyerang pendapat kaum filsafat bahwa Tuhan hanya mengetahui soal-soal yang besar saja dan (4) Al-Ghazali juga menentang pendapat filsafat bahwa segala sesuatu terjadi dengan kepastian hukum sebab dan akibat. Poerwantana, et.al., Seluk beluk Filsafat Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), h. 170-171.

[15]Lihat: Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Op.Cit., h. 45.

[16]Nama penuh Ibnu Rusyd ialah Abu al-Walid Muhammad ibn Muhammad ibn Rusyd, ia lahir di Cordova pada tahun 1126 M. Ibid., h. 47; Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd lahir di Cordova pada tahun 520 H/1126 M. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h. 197; Abu-l-Walid Muhammad ibn Akhmed ibn Mohammed ibn Roshd (Averroes) was born at Cordova, of Al-Ghazali family of lawyers, in the year 1126. T.J. De Boer, Op.Cit, h. 187; The twelfth-century philosopher Ibn Rushd also known as Averroes, is one of the most important philosophers of the Arab middle age. He played Al-Ghazali crucial role in the transmission of classical fhilosophy of Islam, nd his work had propound influence on western scholsticism and on aspects of renaissance thought. Urvoy Dominique, Ibn Rushd (Averroes): Arabic Thought and Culture, (London: Routedge, 1991), h. 1.

[17]Cordova terkenal sebagai pusat studi-studi filsafat. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h. 199.

[18]Ibid.

[19]Ketika Abu Ya’kub menjadi Amir, diperintahkannya Ibnu Rusyd untuk menulis ulasan-ulasan mengenai Aristoteles. Maka mulailah Ibnu Rusyd menuliskan ulasan-ulasan atas buku-buku Aristoteles. Untuk itu ia layak disebut sebagai “Juru Ulas”. Dan gelar itulah yang dikenal oleh masyarakat Eropa abad pertengahan. Ibid., h. 200-201.

[20]Orang-orang yang ahli dalam ilmu keagamaan (fuqaha dan Ulama) lebih dekat dengan massa dan terpengaruh oleh mereka. Para penguasa muslim yang membutuhkan dukungan mereka meninggalkan para filosof dan berpihak pada kepada massa yang berang. Aib dan siksaan yang diterimanya serta diusirnya dia dari tanah kelahirannya pada tahun 593 H/1196 M merupakan akibat dari pertentangan itu. Tetapi aib yang diderita oleh Ibnu Rusyd tidak berlangsung lama. Dan Al-Mansyur sekembalinya dari Marakusy, mengampuni dan memanggilnya kembali. Ibnu Rusyd pergi ke Marakusy dan dia meninggal pada tahun 595 H/1198 M. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h.  203.

[21]Dengan timbulnya pengaruh ulama dan fuqaha, kaum filosof mulai tak disenangi lagi dan buku-buku mereka dibakar. Ibnu Rusyd sendiri kemudian dipindahkan ke Maroko dan meninggal di sana dalam usia 72 tahun di tahun 1198 M. Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Op.Cit., h. 47; Tipu daya yang dilancarkan oleh kaum agamawan itu berhasil. Hal itu mengakibatkan Ibnu Rusyd bukan saja dihukum buang, tetapi juga tulisan-tulisannya dibakan dimuka umum. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h. 203.

[22]Sebenarnya ia sendiri terpengaruh oleh adanya pertentangan ilmu dan filsafat dengan agama. Agama memenagkan di Timur dan ilmu memengakan di Barat. Ibid., h. 202

[23]Ibid., h. 204.

[24]Ibid.

[25]Ibid., h. 206.

[26]Ibid.

[27]Ibid., h. 206-207.

[28]Abdul Munir Mulkhan, Op.Cit., h. 80.

Hakekat dan Landasan Kependidikan Islam


Hakekat dan Landasan Kependidikan Islam

Oleh:

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr Al-Shiddiq

Pendahuluan

Sejarah pendidikan Islam pada hakekatnya tidak bisa dilepaskan dari sejarah Islam. Perinciannya dapat dibagi menjadi 5 masa, yaitu:

  1. Masa hidup Nabi Muhammad Saw (571-632 M)
  2. Masa khalifah yang empat (Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali di Madinah (632-661 M)
  3. Masa Kekuasaan Umawiyah di Damsyik (661-750 M)
  4. Masa Kekuasaan Abbasiyah di Baghdad (750-1250 M)
  5. Masa dari jatuhnya kekuasaan khalifah di Baghdad tahun 1250 M sampai sekarang.[1]

Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar.[2] Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat.[3]

Pendidikan bukan semata-mata sebagai sarana untuk persiapan kehidupan yang akan datang, tetapi untuk kehidupan anak sekarang yang sedang mengalami perkembangan menuju ke tingkat kedewasaannya.[4] Dewasa ialah dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri baik secara biologis, psikologis, pedagogis dan sosiologis.[5] Dalam makalah ini penulis akan mencoba menguraikan hal-hal yang merupakan hakekat dan landasan dari kependidikan Islam.

Hakekat Kependidikan Islam

Kependidikan Islam dan pendidikan Islam dalam bahasa Inggris sering diterjemahkan dengan kata yang sama, yaitu Education. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Drs. M. Noor Syam dalam bukunya Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan yang menyebutkan dasar-dasar kependidikan sama artinya dengan dasar-dasar pendidikan. Dalam pengertian lain, dasar-dasar kependidikan hanya merupakan uraian tentang teori-teori pendidikan yang bersifat mendasar, atau bisa dikatakan hanya sebagai pengantar dasar-dasar ilmu pendidikan.[6]

Dengan demikian, dalam mengkaji hakekatnya kependidikan Islam, hal utama yang perlu dilakukan adalah mengetahui hal-hal yang berkenaan dengan pendidikan itu sendiri secara teoritis, yang menyangkut definisi pendidikan, tujuan pendidikan dan komponen-komponen lain yang terkait dengan kependidikan Islam.

  1. Definisi Pendidikan Islam
    Pendidikan secara etimologis, menurut para ahli merupakan kata yang dimodifikasi dari kata bahasa Yunani, yaitu Paedagogie yang berarti “Pendidikan”.[7] Sementara menurut tinjauan terminologis, pendidikan oleh para pakar sering didefinisikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.[8]
    Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu pada term al-Tarbiyah, al-Ta’lim dan al-Ta’dib.[9] Dari ketika term tersebut yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah term al-Tarbiyah.[10]
    Kata al-Tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu: Pertama, rabba-yarbu yang berarti tertambah, tumbuh dan berkembang. Rabiya-yarba berarti menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun dan memelihara.[11]
    Pendidikan dalam konteks Islam ini, banyak kalangan pakar memberikan definisi. Seperti yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas bahwa
    Pendidikan Islam ialah usaha yang dilakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan.[12]
    Pendapat senada dengan yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas tersebut juga dikemukakan oleh beberapa pakar pendidikan lainnya, seperti Drs. Ahmad D. Marimba,[13] Drs. Birlian Somad[14] dan Musthafa al-Ghulayaini.[15]
  2. Tujuan Pendidikan Islam
    Tujuan adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan suatu kegiatan. Karena itu tujuan pendidikan Islam, yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan pendidikan Islam.[16]
    Menurut Prof. Dr. M. Athiyah al-Abrasi, para ahli pendidikan telah sepakat bahwa tujuan pendidikan Islam bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui. Tujuan pokok dan terutama dari Pendidikan Islam ialah mendidik anak budi pekerti dan pendidikan jiwa.[17]
    Prof. H. M. Arifin, M.Ed., membedakan tujuan teoritis dengan tujuan dalam proses. Tujuan teoritis terdiri dari berbagai tingkat antara  lain: tujuan intermedier, tujuan akhir dan tujuan insidental.[18] Sementara M. Arifin menyebutkan bahwa dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
    1. Tujuan dan tugas manusia di muka bumi, baik secara vertikal maupun horizontal.
    2. Sifat-sifat dasar manusia.
    3. Tuntutan masyarakat dan dinamika peradaban kemanusiaan.
    4. Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam.[19]

Menurut Muhammad Athiyah al-Abrasyi, tujuan pendidikan Islam terdiri atas 5 sasaran, yaitu:

  1. Membentuk akhlak mulia
  2. Mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat
  3. Persiapan untuk mencari rizki dan memelihara segala kemanfaatannya
  4. Menumbuhkan semangat ilmiah di kalangan peserta didik.
  5. Mempersiapkan tenaga profesional yang terampil.[20]

Dengan demikian, apa yang dikemukakan oleh Omar Mohammad al-Thoumy al-Syaibaniy berikut yang menyebutkan secara ringkas bahwa tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat[21] memberikan pemahaman bahwa Pendidikan Islam selalu mempertimbangkan dua sisi kehidupan duniawi dan ukhrawi dalam setiap langkah dan geraknya.[22]

Landasan kependidikan Islam

Setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai landasan tempat berpijak yang baik dan kuat. Oleh karena itu pendidikan Islam sebagai suatu usaha membentuk manusia, harus mempunyai landasan ke mana semua kegiatan dan semua perumusan tujuan pendidikan Islam itu dihubungkan.

Dasar ilmu pendidikan Islam adalah Islam dengan segala ajarannya. Ajaran itu bersumber dari Al-Qur’an, sunnah Rasulullah Saw. dan Rakyu (hasil pemikiran manusia).[23]

Landasan Islam terdiri dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw yang dapat dikembangkan dengan ijtihad, al-Maslahah al-Mursalah, Istihsan, Qiyas dan sebagainya.[24]

  1. Al-Qur’an
    Al-Qur’an adalah kalam Allah Swt. yang diturunkan kepada Muhammad Saw dalam bahasa Arab yang terang guna menjelaskan jalan hidup yang bermaslahat bagi umat manusia di dunia dan di akhirat.[25]
    Dalam kaitan Al-Qur’an sebagai salah satu landasan kependidikan Islam, Ahmad Ibrahim Muhanna sebagaimana dikutip oleh Drs. Hery Noer Aly, MA. Dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, mengatakan sebagai berikut:
    Al-Qur’an membahas berbagai berbagai aspek kehidupan manusia, dan pendidikan merupakan tema terpenting yang dibahasnya. Setiap ayatnya merupakan bahan baku bangunan pendidikan yang dibutuhkan semua manusia. Hal itu tidak aneh mengingat Al-Qur’an merupakan kitab hidayah; dan seseorang memperoleh hidayah tidak lain karena pendidikan yang benar serta ketaatannya. Meskipun demikian, hubungan ayat-ayatnya dengan pendidikan tidak semuanya sama. Ada yang merupakan bagian fondasionaldan ada yang merupakan bagian parsial. Dengan perkataan lain, hubungannya dengan pendidikan ada yang langsung dan ada yang tidak langsung.[26]
  2. As-Sunnah
    As-Sunnah ialah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rasul Allah Swt. Yang dimaksud dengan pengakuan itu adalah kejaidian atau perbuatan orang lain yang diketahui oleh Rasulullah Saw dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan.[27]
    Dalam lapangan pendidikan, sebagaimana dikemukakan oleh Abdurrahman An-Nahlawi dalam bukunya Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Sunnah mempunyai dua faedah, yaitu:
    1. Menjelaskan sistem pendidikan Islam sebagaimana terdapat di dalam Al-Qur’an dan menerangkan hal-hal yang rinci yang tidak terdapat di dalamnya.
    2. Menggariskan metode-metode pendidikan yang dapat dipraktikkan[28]

Banyak tindakan mendidik yang telah dicontohkan Rasulullah dalam pergaulan bersama para sahabatnya. Muhammad Quthb menerangkan bahwa pribadi Rasulullah Saw sendiri  merupakan contoh hidup serta bukti kongkrit sistem dan hasil pendidikan Islam.[29]

Di samping kedua landasan konstitusinal normatif tersebut, ijtihad (ra’yu) juga dijadikan landasan kependidikan Islam. Soerjono Soekanto menegaskan bahwa masyarakat selalu mengalami perubahan, baik mengenai nilai-nilai sosial, kaidah-kaidah sosial, pola-pola tingkah laku, organisasi, susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan, kekuasaan dan wewenang, maupun interaksi sosial dan lain sebagainya.[30] Ijtihad adalah istilah para fuqaha, yaitu berpikir dengan menggunakan seluruh ilmuyang dimiliki oleh ilmuan syariat Islam untuk menetapkan/ menentukan sesuatu hukum syariat Islam dalam hal-hal yang ternyata belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan, tetapi tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah.[31]

Ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang diolah oleh akal yang sehat dari para ahli pendidikan Islam. Ijtihad tersebut haruslah dalam hal-hal yang berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup di suatu tempat pada kondisi dan situasi tertentu. Teori-teori pendidikan baru dari hasil ijtihad harus dikaitkan dengan ajaran Islam dan kebutuhan hidup.[32]

Kesimpulan

Dari uraian sekilas tentang hakikat dan landasan kependidikan Islam yang telah penulis kemukakan di atas, dapat penulis ambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Hakekat kependidikan Islam adalah menciptakan pribadi muslim yang sempurna dan kesejahteraan dunia dan akhirat.
  2. Landasan kependidikan Islam adalah Al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad (ra’yu).

——————————–cut here——————————–

Daftar Pustaka

Abrasi, M. Athiyah al-, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1970

Abrasyi, Muhammad Athiyah al-, Dasar-Dasar Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Ghani dan Djohar Bahry, Jakarta, Bulan Bintang, 1984

Aly, Abdullah, dan H. Djamaluddin Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandung, Pustaka Setia, 1999, Cet. II

Aly, Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1999, Cet. I

Arifin, M., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1991

Attas, Syekh Muhammad al-Naquib al-, Konsep pendidikan Dalam Islam, Jakarta, Mizan, 1984

Daradjat, Zakiah, et.al., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1996, Cet. III

Ghulayaini, Musthafa al-, Idhah al-Nashihin, Beirut, Dar al-Fikr, 1984, h. 189.

Hasbullah, Ali, Ushul al-Tasyri al-Islam, Kairo, Dar al-Ma’arif, 1971

Heriawan, Adang, et.al., Mengenal manusia dan Pendidikan, Yogyakarta, Liberty, 1988, Cet. I

Ihsan, H. Fuad, Dasar-Dasar Kependidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 1997, Cet. I.

Marimba, Ahmad D., Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Alma’arif, 1989

Musra, Muhammad Munir, Al-Tarbiyah al-Islamiyah, Ushuluha wa Tathawuruha fi al-Bilad al-Arabiyah, t.tp., A’lam al-Kutub, 1977

Nahlawi, Abdurrahman an-, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Bandung, CV. Diponegoro, 1992

Nahlawi, Abdurrahman an-, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah, Beirut, Dar al-Fikr, 1989

Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta, Bulan Bintang, 1975

Purwanto, M. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1995, Cet. VIII

Qurthubiy, Ibnu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansyary al-, Tafsir al-Qurthubiy, Kairo, Dar al-Syabiy, t.th, Juz. I.

Quthb, Muhammad, Sistem Pendidikan Islam, terj. Salman Harun, Bandung, Alma’arif, 1984.

Soekanto, Soerjono, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Jakarta, Rajawali Pers, 1988

Somad, Birlian, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, Bandung, Alma’arif, 1981.

Syah, Muhibbin, M.Ed., Psikologi Belajar, Jakarta, Logos, 1999, Cet. I,

Syaibaniy, Omar Mohammad al-Thoumy al-, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1979.

Syalabi, Ahmad, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, Kairo, al-Kasyaf, 1954.

Syam, M. Noor, et.al., Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, Surabaya, Usaha Nasional, 1981

END NOTE:


[1]Dr. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h. 11.

[2]Muhibbin Syah, M.Ed., Psikologi Belajar, (Jakarta: Logos, 1999), Cet. I, h. 55.

[3]Drs. H. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Cet. I,    h. 1-2.

[4]Ibid., h. 5.

[5]Biologis: apabila seseorang telah dapat menurunkan keturunan (akil balig), Psikologis: apabila fungsi-fungsi kejiwaan seseorang telah matang, Pedagogis: apabila telah menyadari dan mengenal diri sendiri atas tanggung jawab sendiri, Sosiologis: apabila seseorang telah memenuhi syarat untuk hidup bersama yang telah ditentukan masyrakat. Ibid., h. 6.

[6]Sesungguhnya yang dimaksud dengan dasar-dasar kependidikan ialah uraian ringkas asas-asas atau pengantar kependidikan. Dasar-dasar kependidikan sama artinya dengan dasar-dasar pendidikan. Karena itu dapat pula diartikan sebagai pengantar pendidikan atau pengantar dasar-dasar ilmu pendidikan. Ini didasarkan pada pendekatan yang lebih mendasar dan praktis. Artinya, uraian tentang teori pendidikan secara teoritis hanya bersifat mendasar, sekedar memberikan wawasan tentang arti (pengertian, definisi), ruang lingkup, fungsi, tujuan dan sistematika atau komponen-komponen pendidikan lain, di samping juga menyangkut aspek-aspek yang antar-hubungannya dapat berpengaruh dengan fungsi pendidikan seperti: masyarakat, negara, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta nilai-nilai yang berlaku di dalamnya.           M. Noor Syam, et.al., Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1981), h. 1.

[7]Paedagogie berarti “pendidikan” sedangkan paedagoiek artinya “ilmu pendidikan”. H. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Cet. I, h. 1; Paedagogos ialah seorang atau budak pada zaman Yunani kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Juga dirumahnya, anak-anak tersebut selalu dalam pengawasan para Paedagogos. Jadi nyatalah bahwa pendidikan anak pada zaman Yunani kuno sebagian besar diserahkan kepada Paedagogos itu. Lihat: M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), Cet. VIII, h. 3.

[8]Drs. H. Fuad Ihsan, Op.Cit., h. 1-2; Pendidikan merupakan kegiatan dimanis dalam setiap individu yang mempengaruhi perkembangan fisik, mental, emosi sosial dan etikanya, dengan perkataan lain pendidikan merupakan suatu kegiatan yang dinamis yang mempengaruhi setiap aspek kepribadian dan kehidupan individu. Lihat: Drs. Adang Heriawan, et.al., Mengenal manusia dan Pendidikan, (Yogyakarta: Liberty, 1988), Cet. I, h. 2.

[9]Lihat: Muhammad Munir Musra, Al-Tarbiyah al-Islamiyah: Ushuluha wa Tathawuruha fi al-Bilad al-Arabiyah, (t.tp.: A’lam al-Kutub, 1977), h. 17.

[10]Istilah al-Ta’dib dan al-Ta’lim jarang sekali digunakan. Padahal kedua istilah tersebut telah digunakan pada awal pertumbuhan pendidikan Islam. Ahmad Syalabi, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Kairo: al-Kasyaf, 1954), h. 213.

[11]Abdurrahman an-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Diponegoro, 1992), h. 31; Al-Tarbiyah berasal dari kata rabb. kata ini memiliki banyak makna, tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestarian dan eksistensinya. Lihat: Ibnu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansyary al-Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, (Kairo: Dar al-Syabiy, t.th), Juz. I, h. 120.

[12]Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas, Konsep pendidikan Dalam Islam, (Jakarta: Mizan, 1984), h. 10.

[13]Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani  berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Drs. Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Alma’arif, 1989), h. 19.

[14]Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri, berkepribadian tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya adalah ajaran Allah yang tercantum dengan lengkap di dalam Al-Qur’an yang pelaksanaannya di dalam praktek hidup sehari-hari sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Birlian Somad, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, (Bandung: Alma’arif, 1981), h. 21.

[15]Pendidikan Islam adalah menanamkan akhlak mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasehat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemapuan (meresap dalam) jiwanya, kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk memanfaatkan tanah air. Musthafa al-Ghulayaini, Idhah al-Nashihin, (Beirut: Dar al-Fikr, 1984), h. 189.

[16]Drs. H. Djamaluddin dan Drs. Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. II, h. 14; Ringkasnya tujuan pendidikan Islam adalah taqarrub kepada Allah, bahagia di dunia dan akhirat. Menurut Imam Al-Ghazali, tujuan pendidikan yaitu pembentukan Insan Paripurna, baik di dunia maupun di akhirat. H. Djamaluddin dan Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. II, h. 15.

[17]M. Athiyah al-Abrasi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), h. 2.

[18]M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 38; Tujuan Intermedier, yaitu tujuan yang merupakan batas sasaran kemampuan nyang harus dicapai dalam proses pendidikan pada tingkat tertentu. Tujuan insidental, merupakan peristiwa tertentu yang tidak direncanakan, tetapi dapat dijadikan sasaran dari proses pendidikan pada tujuan intermedier. Tujuan Akhir pendidikan Islam pada hakekatnya adalah realisasi dari cita-cita ajaran Islam, yang membawa misi bagi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir dan bathin di dunia dan akhirat. Lihat: H. Djamaluddin dan Abdullah Aly, Op.Cit., (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. II, h. 17.

[19]M. Arifin, Filsafat pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), h. 120.

[20]Muhammad Athiyah al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Ghani dan Djohar Bahry, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. h. 3-4.

[21]Omar Mohammad al-Thoumy al-Syaibaniy, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 410.

[22]H. Djamaluddin dan Abdullah Aly, Op.Cit., h. 11.

[23]Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), Cet. I,    h. 30.

[24]Zakiah Daradjat, et.al., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), Cet. III, h. 19.

[25]Lihat: Ali Hasbullah, Ushul al-Tasyri al-Islam, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1971), h. 17.

[26]Hery Noer Aly, Op.Cit., h. 38-39.

[27]Zakiah Daradat, et.al., Op.Cit., h. 20.

[28]Abdurrahman an-Nahlawi, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), h. 23.

[29]Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, terj. Salman Harun, (Bandung: Alma’arif, 1984), h. 13.

[30]Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, (Jakarta: Rajawali Pers, 1988), h. 87-88.

[31]Zakiah Daradat, et.al., Op.Cit., h. 21.

[32]Ibid., h. 22.

EPISTEMOLOGI PHENOMENOLOGIK


EPISTEMOLOGI PHENOMENOLOGIK

oleh

Khairil Yulian dan Ahmad Effendy

Pendahuluan

Sejak era Renaissance hingga memasuki abad ke 20 M. alam pikiran di eropa  barat ditandai oleh kemunculannya berbagai aliran filsafat yang tidak mudah dipertemukan. Pertemuan tersebut menghasilkan pertentangan, sehingga filsafat justru mengaburkan adanya landasan yang pasti sebagai titik pijak untuk mengembangkan pemikiran sebagai proses penalaran yang sistematis dan konsisten.[1]

Dalam era renaissance tersebut merupakan masa jaynya rasionalisme. Pada masa itu pula di Prancis masanya kebebasan berkembangdengan bermunculannya golongan yang tersebut kaum philosophes.[2] Pada tempat yang sama (Prancis) muncul tokoh penting yang tidak sepaham dengan rasionalisme, ia adalah Hendri Bergson (1859-1941); bahwa rasionalisme selalu berlaku tidak cukup untuk memahami semua gejala dalam kenyataan; tidak kalah pentingnya ialah peran intuisi. Sebagai daya manusia untuk memahami dan menafsirkan kenyataan.[3]

Epistemologi berarti berbicara tentang “bagaimana cara kita memperoleh ilmu pengetahuan?”. Dalam memperoleh pengetahuan inilah akan ada sarana dipergunakan seperti akal, akal budi, pengalaman atau kombinasi antara akal dan pengalaman institusi, sehingga dikenal adanya model-model epistemologik rasionalisme, empisisme, kritisisme atau rasionalisme kritis, positivisme dan phenomenologik dengan berbagai variasinya.[4]

Dalam makalah ini kami penulis akan membahas salah satu cara yang ditempuh akal manusia untuk mencapai kebenaran ilmu, yaitu epistemologi phenomenologi.

Phenomenologi berasal dari kata fenomenon dan logos. Fenomenon secara asal kata  berarti fantasi, fentom, jostor, foto yang sama artinya sinar, cahaya. Dari asal kata itu dibentuk sesuatu kata kerja yang antara lain berarti nampak, terllihat karena cahaya, bersianr. Dari itu fenomenon berarti sesuatu yang nampak, yang terlihat karena bercahaya dalam bahasa kita “gejala” logos dari bahasa Yunani berarti ucapan, pembicaraan, pikiran, akal budi, kata, arti, studi tentang, pertimbangan tentang ilmu pengetahuan, tentang dasar pemikiran, tentang suatu hal.[5]

Kata “Fenomenologi” berasal dari bahasa Yunani fenomenon yaitu sesuatu yang nampak atau disebut “gejala” menurut para pengikut filsafat fenomenologi, “fenomenon” adalah “apa yang menampakkkan diri dalam diri sendiri” suatu fenomenon itu tidak perlu harus dapat dipahami dengan indera, sebab fenomenon dapat juga dilihat atau ditilik secara rohani tanpa mlewati indera.[6]

Dan sejak Edmund Husserl (1859-1938) sebagai tokoh phenomenologi, arti fenomenologi telah menjadi filsafat dan menjadi metodologi berpikir, fenomenologi bukan sekedar pengalaman langsung yang tidak mengimplisitkan penafsiran dan klasifikasi.[7]

Dari beberapa pengertian di atas tentang fenomenologi, maka dapat dipahami bahwa fenomenologi berarti ilmu tentang fenomenon-fenomenon atau apa saja yang nampak. Sebuah pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita.

Tokoh dan Pokok-Pokok Pikirannya

  1. Edmund Husserl (1859-1938)
    Husserl lahir di Prosswitz (Moravia), ia seorang Yahudi filosof Jerman pendiri fenomenologi. Di uneversitas ia belajar ilmu alam, ilmu falak, matematika dan filsafat, mula-mula di Leipzig, kemudian juga di Berlin dan Wina. Disana ia tertarik pada filsafat Franz Brentano.[8]
    Jika kita ingin mengerti arti fenomenologi sebagai suatu sikap filsafat, kita harus mengetahui lebih dulu apa yang dimaksud oleh pendirinya Edmund Husserl. Menurutnya fenomenologi itu merupakan metode dan ajaran filsafat. Sebagai metode ia membentangkan langkah-langkah yang harus diambil sehingga kita sampai pada fenomeno yang murni, kita harus mulai dengan subjek (manusia) serta kesadarannya dan berusaha untuk kembali kepada “kesadaran yang murni”.
    Sebagai filsafat, fenomenologi menurut Husserl memberi pengetahuan yang perlu dan essensial tentang apa yang ada. Dalam langkah-langkah penyelidikannya, ia menemukan obyek-obyek (yang tak terbatas banyaknya) yang membentuk dunia yang kita alami. Benda itu dapat dilukiskan menurut  kesadaran dimana ia temukan. Dengan begitu fenomenologi dijelaskan sebagai kembali kepada benda, sebagai lawan dari ilusi atau sasaran pikiran, justru karena benda adalah obyek kesadaran yang langsung dalam bentuk yang murni.[9]
    Filsafat Husserl memang mengelami perkembangan yang agak lama. Pada mulanya ia berfilsafat tentang ilmu pasti, tetapi kemudian sampai jugalah ia pada renungan tentang filsafat umumnya serta dasar-dasarnya sekali. Seperti dulu descartes ia berpendapat bahwa adanya bermacam-macam aliran dalam filsafat yang satu sama lain bertentangan itu, karena orang tidak mulai dengan metode dan dasar permulaan yang dipertanggungjawabkan. Maka dari itu haruslah dicari satu metode yang memungkinkan kita berpikir, tanpa mendasarkan pikiran itu kepada suatu pendapat lebih dulu.biasanya orang berpikir setelah mempunyai suatu teori atau pemikiran sendiri. Itu tidak benar, demikian Hesserl, orang harus memulai dengan mengamat-amati hal sendiri tanpa dasar suatupun: Zun den Sachen Selbest. Ia memerlukan analisa kesadaran. Maka analisa ini menunjukkan kepada kita, bahwa kesadaran itu selalu terarah kepada obyek. Oleh karena yang diselidiki itu susunan kesadaran itu sendiri, maka haruslah nampak obyek dalam kesadaran (gejala fenomenon), maka gejala itu diselidiki pula. Sunggug tidaknya obyek tidaklah masuk dalam penyelidikan. Yang harus dicari sekarang ialah sungguh-sungguh merupakan intisarinya. Adapun yang diluar intisari itu tidak dihiraukan. Tetapi bukanlah cara abstraksi seperti ajaran Tomisme melainkan inti itu tercapai instisi: inti itu terpandang oleh budi.
    Demikian terdapat inti susunan kesadaran, akan tetapi hal ini lain dari kesadaran empiri : inti itu terpandang oleh budi.
    Pengaruh Husserl amat besar, pula dalam aliran-aliran lain. Ada yang mempergunakan meode ini untuk segala ilmu atau cabang filsafat, misalnya S. Strasser dalam antrofologi. E de Bruyne dalam etika serta Langeveld dalam pedagogiknya.[10]
  2. Max Scheler
    Disamping Husserl adalah filosof fenomenologi, yaitu Max Scheler (1874-1928). Bagi Scheler, metode fenomenologi sama dengan satu cara tertentu untuk memandang realitas. Fenomenologi lebih merupakan sikap bahan suatu prosedur khusus yang diikuti oleh pemikiran (diskusi, Induksi, Observasi dll). Dalam hubungan ini kita mengadakan hubungan langsung dengan realitas berdasarkan instuisi (pengalaman fenomenologi).
    Menurut Scheler ada tiga jenis fakta yang memegang peranan penting dalam pengalaman fenomenologis, yaitu (1) fakta natural, (2) fakta ilmiah, dan (3) fakta fenomenologis. Fakta natural berasal dari pengalaman inderawi dan menyangkut benda-benda yang nampak dalam pengalaman biasa. Fakta ilmiah mulai melepas diri dari penerapan inderawi yang langsung dan semakin abstrak. Fakta fenomenologis merupakan isi “intuitif” yang merupakan hakikat dari penglaman langsung, tidak terikat kepada ada tidaknya realisasi di luar.[11]
  3. Maurice Merlean-ponty (1908-1961)
    Sebagaimana halnya Husserl, ia yakin seorang filosof benar-benar harus memulai kegiatannya dengan meneliti pengalaman. Pengalamannya sendiri tentang realitas, dengan begitu ia menjauhkan diri dari dua ekstrim yaitu : Pertama hanya meneliti atau mengulangi penelitian tentang apa yang telah dikatakan orang tentang realita, dan Kedua hanya memperhatikan segi-segi luar dari penglaman tanpa menyebut-nyebut realitas sama sekali.
    Walaupun Marlean-Ponty setuju dengan Husserl bahwa kitalah yang dapat mengetahui dengan sesuatu dan kita hanya dapat mengetahui benda-benda yang dapat dicapai oleh kesadaran manusia, namun ia mengatakan lebih jauh lagi, yakni bahwa semua pengalaman perseptual membawa syarat yang essensial tentang sesuatu alam di atas kesadaran. Oleh karena itu deskripsi fenomenologi yang dilakukan Marlean-Ponty tidak hanya berurusan dengan data rasa atau essensi saja, akan tetapi menurutnya, kita melakukan perjumpaan perseptual dengan alam. Marlean-Porty menegaskan sangat perlunya persepsi untuk mencapai yang real.

Dasar-dasar Filsafat Epistemologi Fenomenologi

  1. Pendekatan filsafatnya berpusat pada analisis terhadap gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita. Analisis menunjukkan bahwa kesadaran itu sungguh-sungguh selalu terarah kepada obyek.
  2. Orang harus berpikir, dengan memulai dengan mengamati hal sendiri, tanpa dasar apapun. Memulai kegiatannya dengan meneliti penglaman-pengalamannya sendiri tentang realita dan menjauhkan diri dari meneliti dan mengulangi (teori orang lain).
  3. Fenomenologi keberan dibuktikan berdasarkan ditemukannya yang essensial.[12]
  4. Fenomenologi menerima kebenaran di luar empirik indrawi. Oleh sebab itu mereka menerima kebenaran sensual, kebenaran logik, ethik dan transedental.[13]
  5. Fenomena baru dapat dinyatakan benar setelah diuji korespondensinya dengan yang dipercayainya.
  6. Fenomenologi lebih merupakan sikap bukan suatu prosedur khusus yang diikuti pemikirannya (diskusi, induksi, observsi dll). Dalam hubungan ini hubungan langsung dengan realitas berdasarkan intuisi.

Kesimpulan

Epistemologi fenomenologi diperkanalkan oleh Husserl dengan kajian berpusat pada analisis terhadap gejala yang nampak dalam kesadaran manusia. Untuk malahirkan suatu teori orang jangan berpedoman pada teori orang lain (bukan menguji teori yang ada) tapi mengamati tanpa dasar apapun. Dalam pemikiran fenomenologi orang mengamati terkait langsung dengan perhatiannya, dan juga terkait pada konsep-konsep yang telah dimilikinya sendiri (sangat relatif). Kebenaran logik, ethik dan transendental (kebenaran di luar empirik inderawi) diterima oleh fenomenologi. Metode ini banyak mempengaruhi segala cabang ilmu filsafat.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Munin al-Hifni, al-Mausu’ah al-Falsafiyah, beirUt Libanon, Dar Ibn Zaidun, tt. Cet. ke I

Burhanuddin Salam, Logika Materiil (Filsafat Ilmu Pengetahuan), Jakarta, Renika Cipta

Dirjarkara, Percikan Filssafat, Jakarta PT. Pembangunan, tahun 1978.

Fuad Hasan, Pengantar Filsafat Barat, Jakarta, Pustaka Jaya, tahun 1996, cet. ke I

Hasan Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius, tahun 1993, cet. ke 9

Kamrani Buseri, Diktat Filsafat Ilmu, Pada Mata Kuliah Filsafat Ilmu, Program Pascasarjana Iain Antasari Banjarmasin tahun 2002.

Koento Wibisono Siswoniharjo, Ilmu Pengantar Sebuah Sketsa Umum Untuk Mengenal Kalahiran dan Perkembangan Sebagai Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu Dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu, Filsafat Ilmu, Yogyakarta, Leberty, tahun 1996.

Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta, Reka Sarasin, tahun 1998.

Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, Jakarta, Pt, Pembangunan, tahun 1974.

Titus, Living Issnes In Philosophy (Persoalan-Persoalan Filsafat), alih bahasa oleh DR. H. M. Rasyidi, Jakarta, Bulan Bintang, tahun 1984.

END NOTE


[1]Fuad Hasan, Pengantar Filsafat Barat, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1996), cet. ke I, h. 102

[2]Kaum philosophes adalah kaum yang bukan dari para filosof atau akademis, melainkan para penulis yang sangat mendambakan terjadinya perubahan tatanan kemasyarakatan dan kenegaraan, di antara mereka terdapat seniman, sastrawan, wartawan, ilmuan, dan lain-lain. Ibid., h. 84.

[3]Ibid., h. 99.

[4]Koento Wibisono Siswoniharjo, Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umam Untuk Mengenal Kelahiran dan Perkembangan: Sebuah Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty, 1996), h. 12

[5]Dirjakara, Percikan Filsafat, (Jakarta: Pembangunan, 1978), h. 177.

[6]Haruh Hadi Wijoyo, Sari Sejarah Barat 2, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), Cet. 9., h. 140.

[7]Noeng Muhajirin, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998), h. 81.

[8]Abdul Mun’in Hifni, Al-Mausu’ah al-Falsafiyah, (Beirut: Libanon, Dar Ibn Zaitun, t.th), Cet. I, h. 509.

[9]Titus, Living Issnes in Philosophy, terj.: Dr. H. M. Rasyidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 401.

[10]Poedjawijatna, Pembimbing ke arah Alam Filsafat, (Jakarta: Pembangunan, 1974), h. 134.

[11]Burhanuddin Salam, Logika Material: Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), h. 206.

[12]Noeng Muhadjir, Op.Cit., h. 10.

[13]Kamrani Buseri, Diktat Filsafat Ilmu, (Banjarmasin: IAIN Antasari Banjarmasin, t.th.), h. 21.

Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan


Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan

Oleh:

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq

A. Pendahuluan

Menoleh jauh ke zaman pra sejarah, masyarakat di kawasan Nusantara (Indonesia) merupakan imigran dari berbagai kawasan. Menurut Buku Sejarah yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, terjadi empat periode imigrasi besar ke kawasan Nusantara, yaitu:

  1. 3.000 tahun yang lalu (1000 SM) sejumlah besar suku Mongol berimigrasi ke Kepulauan Indonesia.[1]
  2. Imigrasi kedua terjadi pada 2.000 tahun yang lampau, sekitar abad ke-1, termasuk sejumlah suku Yun Nan yang berimigrasi ke Selatan.[2]
  3. Imigrasi besar ketiga berasal dari India, pada abad VIII[3]
  4. Imigrasi besar keempat adalah penganut agama Islam dari Arabia, di Timur Tengah. Kebanyakan di antaranya yang kini menjadi orang-orang Pakistan. Terjadi pada abad XII.[4]

Dari sini diketahui bahwa periodisasi masuknya Islam ke Indonesia, tergolong dalam empat imigrasi besar yang membentuk ekosistem sosial budaya masyarakat Indonesia, termasuk dalam periode tersebut penyebaran Islam di Kalimantan Selatan. Setelah empat periode imigrasi besar tersebut, barulah masuk bangsa kolonial Eropa yang di mulai dari bangsa Portugis,[5] Spanyol,[6] Belanda[7] dan terakhir Jepang.[8]

Dalam perjalanan sejarah Indonesia tersebut, sejarah penyebaran Islam di Indonesia mempunyai bagian penting dalam tatanan sejarah Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan sebagai bagian dalam kawasan Indonesia. Dalam konteks ini, penulis menemukan beberapa catatan sejarah mengenai pendidikan Islam. Sesuai dengan lingkup kajian mengenai sejarah pendidikan Islam, maka dalam makalah ini akan penulis sajikan pembahasan pada lingkup sejarah pendidikan Islam di Kalimantan Selatan yang akan penulis awali dengan mengupas dari sejarah awal masuknya Islam di Kalimantan Selatan.

B. Selintas Sejarah Masuknya Islam Ke Kalimantan Selatan

Menurut Helius Syamsuddin dalam bukunya Islam and Resistence in South and Centre kalimantan in The Nineteenth and Early Twentieth Centuries menerangkan bahwa Islam masuk Kalimantan Selatan dari Jawa pada abad ke XVI, ketika Sultan Demak membantu Pangeran Banjar, Pangeran Samudera, untuk menghadapi Pangeran Temenggung dalam peperangan merebut tahta kerajaan, sebagai imbalannya, Pangeran samudera bersedia untuk memeluk Islam. Dia menjadi Sultan pertama Kesultanan Banjarmasin dengan gelar Sultan Suriansyah. Konversinya itu perlahan-lahan diikuti oleh diikuti oleh para pengikutnya dan orang-orang Banjar kecuali masyarakat Dayak di daerah pedalaman.[9]

Diterangkannya pula bahwa setelah konversi Sultan Suriansyah pada Abad XVI tersebut, tidak banyak lagi diketahui mengenai proses islamisasi sesudahnya, dalam arti intensitas pengajaran Islam pada masyarakat Banjar atan secara khusus, penyebaran Islam di kalangan masyarakat Dayak padalaman pada abad-abad selanjutnya. Barulah pada abad XIX ada bukti mengenai proses ini yang berasal dari ulasan-ulasan Schwaner dan Meijer dalam bukunya Borneo. Pada awalnya islamisasi terhadap masyarakat Daway di mulai di kalangan orang Bakumpai [sub-kelompok Dayak Ngaju]. Bakumpai Marabahan yang tinggal 57 km dari Banjarmasin, sering melakukan interaksi dengan masyarakat masyarakat Banjar, terutama dalam bidang perdagangan, yang diikuti dengan perkawinan antara orang Banjar dengan orang Bakumpai, yang menyebabkan mereka masuk Islam. Setelah konversi ini, mereka menyebut diri mereka sebagai “Orang Melayu”.[10]

Encyclopedia Britannica yang diterbitkan pada tahun 1963 mencatatkan bahwa bahasa Melayu menjadi bahasa bagi penduduk asli di semenanjung Tanah Melayu, di pantai timur Sumatera, di seluruh pantai Borneo (Kalimantan), di kepulauan Riau, di Bangka, di Belitung, dan di Natuna Besar.[11] D.J. Prentice berpendapat bahawa daerah penutur asli bahasa Melayu ialah di kawasan Tanah Melayu sehingga selatan Thailand (Pattani), di sepanjang pantai timur Sumatera, di kepulauan Riau, di sepanjang pesisir Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur, di Brunei, di pantai barat Sabah, di Sarawak, di Singapura, di Jakarta, di Larantuka, di Kupang, di Makasar, di Menado, di Ternate, di Banda, dan di Ambon. Selain wilayah Melayu, ternyata bahwa bahasa Melayu pun dapat ditemukan di Sri Lanka dan di Afrika Selatan.[12]

C. Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan

Tidak banyak catatan yang memberikan deskripsi sehubungan dengan sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan ini. Dari sekian literatur yang penulis temukan mengenai sejarah pendidikan di Kalimantan Selatan, pada umumnya merujuk pada tokoh Besar Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Hal ini menurut penulis cukup beralasan, karena sebagaimana diungkapkan Gubernur Kalsel Drs HM Sjahriel Darham bahwa Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari memiliki pemikiran-pemikiran yang sangat luar biasa pada kurun waktu 1710 sampai 1821 M, sampai mendapatkan gelar “Matahari Islam dari Kalimantan” dari Menteri Agama Republik Indonesia periode 1962-1967.

Hal ini menyangkut karyanya yang sangat monumental pada kitab Sabillah Muhtadin perlu terus diteladani, mengingat pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari mampu mendorong fenomena religius yang memberikan arti terhadap pengisian khazanah perkembangan agama Islam.[13]

Dalam beberapa sumber yang penulis dapatkan, usaha pendidikan Islam yang diupayakan oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dapat diklasifikasi menjadi tiga, yaitu pengakderan ulama, pengajaran terhadap masyarakat dan pendirian madrasah.

  1. Mengkader Ulama

Saat menunggu musim haji Syekh Arsyad kembali menemukan malam penuh berkah Lailatul Qadr. Saat itu beliau memohon kepada Tuhan, agar diberikan ilmu yang akan berlanjut sampai ke anak cucu tujuh turunan, bahkan turun temurun. Permohonan itu dikabulkan Tuhan. Banyak anak cucu dan zuriat beliau sampai sekarang dikenal sebagai tokoh panutan, menjadi orang alim atau ulama besar. Ada pula yang menjabat mufti semasa kerajaan Banjar dan masa pemerintahan Belanda.

Buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya perumpamaan itu berlaku pula pada diri Syekh Arsyad. Banyak anak cucu keturunan beliau menjadi orang yang ternama, terutama di bidang agama yang namanya tetap dikenang sampai sekarang, beberapa diantaranya adalah:

  1. Mufti H. Muhammad As’ad[14]
  2. Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis[15]
  3. Mufti H. Muhammad Arsyad bin H. M. As’ad[16]
  4. H. Abdul Rahman Siddiq bin Shafura.[17]
  5. H. Sa’duddin bin Mufti H. Muhammad As’ad.[18]
  6. Kadi H. Abu Su’ud bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.[19]
  7. H. M. Syarwani Abdan bin H. M. Yusuf.[20]
  8. H. Muhammad Khatib bin Mufti H. Ahmad.[21]
  9. Mufti H. Jamaludin.[22]
  10. Guru H. Zainal Ilmi bin H. Abdus Samad.[23]
  11. H. Zaini Abd. Ghani bin Abd. Ghani.[24]

Di antara kadernya yang lain, bukan keturunannya adalah:

  1. Syekh Muhammad Saleh bin Murid Ar-Rawa, penyusun kitab Fathul Mubin, suatu sarah dan terjemahan hadits Arba’in Imam Nawawi yang kedua kali dalam bahasa Melayu. Syekh Muhammad Saleh adalah penganut Khalwatiyah-Sammaniyah dan Tarikat Sariliyah.
  2. H. Abd. Ghoni yakni seorang yang menyebarkan Islam di Pontianak di Kalimantan Barat.[25]
  3. Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidillah yang mendapat didikan khusus dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, sehingga menjadi raja yang tinggi cita-citanya, cerdas pandai, berbicara dengan petah (ramah dan lembut), mempunyai pikiran yang bersih dan ilmu pengetahuan yang dalam.[26]

Banyak lagi murid-murid yang lain, yang tersebar di berbagai daerah Kalimantan Selatan atau Kalimantan secara keseluruhan bahkan menyebar ke seluruh Nusantara.

  1. Mendidik Masyarakat

Syekh Arsyad memahami betul bahwa mendidik masyarakat akan sangat efektif jika dimulai dengan berintegrasi dengan kekuasaan, Syekh Arsyad sebagai ulama yang telah berhasil menyatukan sultan sebagai elit penguasa dengan rakyatnya atas dasar ikatan ajaran Islam, sehingga tidak adanya jarak memisah, baik antara sultan dengan rakyat maupun antara umara dengan ulama. Hal ini bisa dicapai karena sistem pendekatan yang beliau lakukan beranjak dari bawah, baru setelah itu kepada penguasa atau sultan. Di samping itu memang sejak awalnya hubungan antara sultan dengan Syekh Muhammad Arsyad terjalin dengan baik.

Sebagai contoh, hukum waris dan pernikahan yang semula tidak berdasarkan kepada hukum Islam, secara perlahan dapat dirubah ketentuan-ketentuan hukum Islam yang memakai pedoman kitab Sabilal Muhtadin. Kalau sebelumnya sebahagian sultan sangat terkenal memelihara berpuluh-puluh gundik di dalam istana, maka atas nasehat Syekh Muhammad Arsyad, sultan menikah menurut ketentuan hukum Islam.

Di dalam kerajaan Banjar, hukum Had sempat pula diperlakukan kepada orang lain yang membunuh, murtad dan berziarah sebagai realisasi dari pada penerapan hukum Islam.

Misalnya hukum Had yang telah dijatuhkan kepada Haji Abdul Hamid yang telah mengajarkan Ilmu tasawuf kearah ajaran Wihdatul Wujud yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam. Haji Abdul Hamid mengajarkan bahwa.”Tiada maujud melainkan Dia, tiada wujud yang lainnya, tiada aku melainkan Dia, Dialah aku adalah Dia.” Dia juga mengatakan bahwa pelajaran syariat yang diajarkan selama ini hanyalah kulit saja belum sampai pada hakekat.[27]

Mendengar ajaran dan keterangan yang demikian, timbullah perselisihan faham di dalam masyarakat, untuk menjernihkan suasana, maka dipanggillah Haji Abdul Hamid ke istana untuk menghadap sultan. Namun dijawab oleh Haji Abdul hamid bahwa: “Tuhan tidak ada, yang ada hanya Abdul Hamid.” Akhirnya sultan menyerahkan permasalahan itu kepada Syekh Muhammad Arsyad unutk menyelesaikannya. Setelah meneliti persoalan itu secara cermat, barulah beliau mengambil kesimpulan bahwa ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh Haji Abdul Hamid dapat menyesatkan orang awam dan membawa kepada syirik. Melenyapkan seseorang untuk menyelematkan orang banyak dibolehkan menurut hukum, bahkan terkadang diwajibkan. Dengan kesimpulan yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Arsyad ini, maka sultan mengambil keputusan untuk menghukum bunuh Haji Abdul Hamid.[28]

Untuk melaksanakan hukum Islam secara riil di kerajan Banjar tidak mungkin tanpa adanya suatu lembaga hukum yang mengatur dan melaksanakannya. Oleh sebab itu maka dibentuklah Mahkamah Syar’iyah suatu lembaga pengadilan agama yang dipimpin oleh seorang mufti sebagai ketua hakim tertinggi pengawas pengadilan umum.[29]

Lembaga Qadhi ini kemudian berkembang menjadi kerapatan Qadhi dan sekarang berubah lagi menjadi Pengadilan Agama Tingkat Pertama dan Tingkat Banding, Pengadilan Agama Tingkat Banding berkedudukan di Banjarmasin sebagai penjelmaan dari terapan Qadhi Besar Banjarmasin.[30]

Hal ini memang telah jelas terlihat di dalam undang-undang Sultan Adam pasal 7 dan 8 yang membicarakan tentang tugas mufti.[31]

Melihat pentingnya peran lembaga hukum di dalam mengatur dan menjalankan hukum di dalam wilayah kerajaan Banjar, maka betapa besar jasa yang telah diberikan oleh Syekh Muhammad Arsyad di dalam kerajaan Banjar. Hal ini membuktikan bahwa Syekh Muhammad Arsyad telah mampu memasukkan ajaran-ajaran Islam di dalam peraturan pemerintah dan juga sebagai bukti adanya kerjasama yang baik antara Syekh Muhammad Arsyad dengan Sultan pada waktu itu.bentuk lain dari integrasi Syekh Arsyad dengan masyarakat lewat pendidikan dalam rangka mensejahterakan masyarakat. hal ini dimulai Syekh Arsyad dengan upaya meningkatkan kecerdasan dengan berupaya memberantas kebodohan sekaligus mengangkatnya dari lembah kemiskinan.

Kuatnya Syekh Arsyad dalam memberantas kebodohan dan mengangkat masyarakat dari kemiskinan khususnya bagi Ilmu agama dapat diketahui dari surat balasan yang dilayangkan kepada sahabatnya saat bermukim di Mekah, yaitu Syekh Abdul Samad Palembani.

Surat yang dikirim rekan dari Sumatra tersebut, berisi ajaran Syekh Arsyad berjihad fii sabilillah melawan umat yang beragama Budha di Siam. Namun ajakan rekannya tersebut gayung tak bersambut, bahkan dirinya pun sedang berperang.

Syekh Arsyad berperang melawan kebodohan seperti buta huruf dan agama membasmi syirik, khurafat, tahyul dan memerangi kemiskinan termasuk miskin Ilmu agama. KH. Jumri bin Haji Roys dalam bukunya berjudul Sejarah Kerajaan Banjar, menyatakan Syekh Arsyad berpendapat memerangi kebodohan dan kemiskinan pahalanya lebih besar atau lebih utama dari jihad fi sabilillah, dalam arti sempit yaitu berperang secara fisik.[32]

  1. Mendirikan Madrasah

Dalam lapangan pendidikan dan sistem penyebaran agama Islam tidak ditemukan adanya lembaga khusus yang terdapat seperti sekarang ini, meskipun berbentuk pesantren. Pendidikan hanya diberikan dalam lingkungan keluarga masing-masing dan ilmu-ilmu tertentu yang diperlukan dalam kehidupan, diperoleh dengan berguru kepada seseorang yang dianggap ahli secara individual. Hal demikian juga dilakukan di keraton, sebagaimana yang terjadi pada masa Syekh Arsyad tinggal di keraton karena Syekh Arsyad mulai melakukan dengan membuka sebuah perkampungan baru tempat mendirikan sebuah lembaga pendidikan.

Kepulangan Syekh Arsyad di Martapura disambut dengan upacara penyambutan,[33] karena sangat dinanti-nantikan pada waktu itu. Di keraton kesultanan ramailah sertiap hari karena masyarakat selalu mengunjunginya, untuk meminta nasehat atau mendengar ceramahnya, terkadang juga menanyakan berbagai masalah keagamaan, sebab pada masa itu tidak banyak ulama atau guru di daerah Banjar, apalagi yang mempunyai keilmuan yang sebanding dengan Syekh Arsyad.

Dengan melihat kecenderungan masyarakat terhadap pengetahuan, yang kian hari semakin bertambah mereka yang datang. Maka Syekh Arsyad mempunyai gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan secara tersendiri agar lebih terkoordinir, sehingga baik masyarakat umum maupun kalangan zuriatnya sendiri yang mengkhususkan untuk belajar dapat dilaksanakan.

Kemudian gagasan tersebut Syekh Arsyad sampaikan kepada sultan dan sultan sendiri menyambut baik ide yang disampaikan Syekh Arsyad, sebab sultan sendiri yang berkuasa saat itu mengaku murid beliau.[34] Maka tak mengherankan secara langsung menawarkan kepada Syekh Arsyad untuk memilih tempat yang sesuai dengan kondisi lembaga yang dikehendaki Syekh Arsyad tersebut.

Dengan sebuah tanah kosong yang telah diberikan sultan didirikan sebuah lembaga pendidikan. Tanah yang dipilih Syekh Arsyad untuk mendirikan lembaga tersebut berada di sekitar 5 Kilometer. dari keraton kesultanan (Martapura), yaitu di pinggir Sungai Martapura yang membentang dari Riam Kanan dan Riam Kiri menuju Banjarmasin. Tanah tersebut merupakan hutan belukar yang bisa digunakan adalah Jukung (perahu kecil) melalui sungai untuk menuju ke lokasi tersebut. Maka setelah ditebangi pepohonan didirikan beberapa buah bangunan, sebagaimana telah dikemukakan Zafry Zamzam bahwa “Syekh Arsyad mendirikan lembaga pendidikan dengan menyediakan pondok-pondok bagi penuntut ilmu yang berdatangan dari berbagai daerah.”[35] Menurut Yusuf Khalidi bahwa bangunan tersebut terdiri dari rumah istrinya sebanyak tiga buah, kemudian langgar dan perpustakaan yang sekaligus menjadi balai pengajian dan beberapa asrama santri yang tinggal di sana.

Kemudian di muka dan di samping lingkungan bangunan dibuatkan pagar sebagai perbatasan. Dari perkembangan lembaga tersebut jadilah sekarang ini kampung yang bernama kampung Dalam Pagar. Istilah Dalam Pagar tersebut karena batas pagar yang dibuat Syekh Arsyad untuk menjaga murid-murid agar tidak keluar masuk semaunya, juga setiap orang yang ingin berkunjung ke tempat Syekh Arsyad atau datang dari Dalam Pagar. Sekarang kampung dalam pagar sudah terbagi dua kampung yaitu Dalam Pagar Hulu inilah yang semula sebagai tempat lembaga pendidikan Syekh Arsyad, dimana sekarang adanya lembaga pendidikan Sullamul Ulum dan Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Dengan adanya lembaga pendidikan yang didirikan Syekh Arsyad pada waktu itu, sebenarnya merupakan yang pertama untuk daerah Kerajaan Banjar, karena bagaimana dikatakan sebelumnya tidak ada suatu lembaga yang jelas sebagai tempat pendidikan, seperti dikatakan oleh Shagir Abdullah bahwa:

“….sebagaimana method dan dakwah Islam masih kurang diketahui data-datanya. Setelah pulangnya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari Mekah barulah ada sistem secara ampuh dan kokoh…..”[36]

Maka dengan demikian Arsyadlah pelopor dalam pendirian lembaga pendidikan model pondok pesantren di daerah Banjar. Dalam waktu kurang 20 tahun lembaga pendidikan tersebut sudah mampu mempunyai lulusan yang berkualitas. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan lulusan tersebut untuk diterjunkan sebagai pendidik dan pendakwah, sebagai pewaris generasi tua terutama dari kalangan zuriatnya sendiri yaitu Muhammad As’ad dan Fatimah dua bersaudara dari Syekh Arsyad. Namun dengan hasil tersebut bukan berarti Syekh Arsyad sudah menyerahkan begitu saja tongkat kepemimpinan dalam lembaga tersebut, akan tetapi terus mengupayakan agar bagaimana lebih tepatnya digunakan. Melihat kedatangan orang-orang yang kian hari semakin bertambah untuk belajar di tempat tersebut, maka sementara waktu kedua lulusan itu ia jadikan sebagai pendamping dalam lembaga pendidikan untuk memberikan pengajaran kepada murid-murid yang mempelajari ilmu-ilmu agama dalam tahap permulaan atau sebagian ilmu alat seperti Bahasa Arab (Nahwu, Syaraf dan sebagainya) untuk murid laki-laki Syekh Arsyad memberikan kepercayaan kepada Muhammad As’ad, sedangkan untuk pengajaran kaum wanitanya diberikan kepercayaan kepada Fatimah.[37]

Mencermati pendidikan Syekh Arsyad, kita bisa melihat pengembangan secara sistematik dari paradigma sampai praktis, dalam paradigma dia mengembangkan orientasi baru meskipun tidak radikal tetapi cukup membuat bergeser dari padigma lama yang cenderung pada pengembangan rohaniah-ukhrawi semata-mata berubah menjadi padigma baru yang tidak saja mengembangkan aspek rohaniah-ukhrawi melainkan juga memberi perhatian besar terhadap pengembangan aspek rohaniah-duniawi, di samping itu ia juga melakukan perubahan cukup mendasar dari tasawuf yang asosial dan penuh spekulasi-spekulasi Illahiyah yang membahayakan dan sangat anti syariat bahkan dianggap sebagai hijab penghalang pertemuan hamba dengan Tuhan, mengganti dengan pengharmonisan hubungan tasawuf dengan syariat yang saling menerima dan memberi satu sama yang lain, karena keduanya merupakan kesatuan utuh yang tak bisa dipisahkan satu sama lain yang ibarat sebuah koin yang mempunyai dua sisi, salah satu sisi rusak membuat sisi lain tidak berguna.

Dari aspek institusi Syekh Arsyad telah mengembangkan institusi pendidikan yang sebelumnya sangat sederhana hanya semacam pengajian di langgar, mesjid, rumah kepala desa, rumah guru dan rumah tatuha menjadi institusi pendidikan yang cukup lengkap yang bisa dikatakan semacam pesantren atau surau yang ada asrama murid tempat belajar perpustakaan rumah guru, aula pertemuan dan sebagainya, bahkan institusi ini diciptakan lingkungan kerja sehingga murid-muridnya bisa belajar sambil bekerja, dari aspek metodologi Syekh Arsyad juga melakukan perluasan yang cukup signifikan sebelumnya metodologi pendidikan sangat sederhana hanya metode halakoh, di mana guru mengajar dikelilingi oleh murid-muridnya tanpa ada diskusi yang terbuka. Setelah Syekh Arsyad datang dan berperan dalam pendidikan ia mengembangkan metodologi yang tidak halakoh semata-mata, tetapi juga ada metode ceramah yang biasanya banyak ia lakukan di langgar, pesantren dan balai perpustakaan.[38] Kemudian ia juga menerapkan metode tanya jawab dimana bisa ia bertanya murid-murid yang menjawab, atau sebaliknya murid-murid bertanya ia menjawab. Hal ini terlihat pada karyanya yaitu kitab Sabilal Muhtadin dan Tuh Faturragibin, sebagai contoh:

مَسَالَهْ: جِيْكَا تِيَدَا مَلِيْهَةْ إِيَ  أَكَنْ دَارَهْ نِيْفَسْ سَكَلِي كَلِي أَدَاكَهْ هَارُسْ بَاكِى سُوَامِيْثَ مَوَطَ دَارِ فَدَ مَنْدِي أَتَوْ تَيَمُمْ.

Masalah:  ”Jika tak melihat sedikitpun darah nifas haruskah suaminya menyuruh dia mandi atau tayamum.”[39]

Pernyataan demikian dalam tiap pengajaran Syekh Arsyad sering kali diberikan masalah kemudian dilontarkan, apabila tidak ada satupun yang dapat menjawab dengan tepat barulah ia memberikan arahan.

Contoh yang lain:

سُأَلْ         : بَرَفَ فَرْكَرَ رُكُنْ تَوْبَةْ يَغْ مَغْكُوْكُرْكَنْ دُوْسَا؟

جَاوَبْ       : أَدَافُنْ رُكُنْ تَوْبَةْ يَغْ مَغْكُوكُرْكَنْ دُوْسَا إِيْتُوْ تِيْكَا فُرْكَارَ.

Soal       :“Berapakah rukun taubat yang mennghapuskan dosa.

Jawab    :”Rukun taubat yang menghapuskan dosa ada tiga perkara”[40]

Hal ini lebih menunjukkan lagi bahwa tanya jawab bagi Syekh Arsyad merupakan satu yang sangat penting dalam pendidikan.

Di samping itu ia juga menerapkan metode memberikan contoh, di mana para muridnya mencatat penyampaian yang dia berikan disela-sela kitab yang dibaca. Selanjutnya ia juga memakai metode Takhasus di mana murid-murid yang berbakat dalam bidang tertentu terutama tasawuf, ia bimbing secara khusus dalam waktu yang tertentu pula, selain itu ia juga menerapkan metode belajar sambil bekerja di mana kebanyakan muridnya meskipun belajar secara rukun tetapi diberi juga tugas untuk bekerja di sawah sebagai petani atau diperkampungan Dalam Pagar.

Dari aspek isi atau materi Syekh Arsyad mengembangkan sedemikian jauh dari sebelumnya. Kalau dahulu materi pendidikan terbatas pada pengajaran Al-Quran, sedikit tentang fiqih (terutama pelajaran shalat, wudhu dan azan) dan cukup mendalam pelajaran tasawuf, namun sayangnya sudah tanpa kendali syariat. Setelah zaman Syekh Arsyad materi pendidikan tidak sekedar belajar Al-Quran tetapi sekaligus pelajaran tafsir, tajwid, qira’at, khat, kaligrafi, juga bahasa Arab dengan berbagai seluk-beluknya. Dalam fiqih tidak semata-mata pelajaran shalat, wudhu dan azan tetapi juga mencakup seluruh aspek ibadah dan muamallah. Dalam bidang aqidah juga diajarkan oleh Syekh Arsyad terutama aqidah yang beraliran Ahwalul Sunnah Waljama’ah yang sebelumnya tidak diabaikan. Dalam tasawuf ia membawa angin baru semacam ajaran tasawuf yang sudah diperbaharui yakni non-sufisme dalam tarikat yang mengharmoniskan antara tasawuf palsafi dan tasawuf amali (ajaran Ibnul Arabi dengan ajaran Al-Ghazali), antara zuhud dan jihad. Selain itu ia juga mengajarkan ilmu falak, keterampilan berdagang, keterampilan bertani dan keterampilan berpolitik terutama sebagai mufti dan qadhi.

Dalam tinjauan kekinian, nilai-nilai sejarah dalam pendidikan Islam di Kalimantan Selatan masih meninggalkan kesan yang cukup monumental. Martapura sebagai ibukota Kotamadya Banjar[41] diberi gelar Kota Serambi Mekkah. Marwah ini tidak lepas dari peran pesantren, seperti yang diungkapkan KH. Abdul Syukur dalam buku Kota Serambi Mekkah, bahwa secara kuantitatif Martapura mempunyai pesantren lebih banyak dibandingkan daerah lainnya di Kalimantan Selatan. Adapun pesantren tertua dan sangat terkenal adalah Pesantren Darussalam.[42]

Dalam sebuah buku bertajuk biografi Ny. Hj. Asmah Sjachruni diberikan gambaran nilai pendidikan Islam dalam aspek sosiologis pada awal masa pasca kemerdekaan Indonesia. Dalam buku tersebut dikutib perkataan Ny. Hj. Asmah Sjahruni sebagai berikut:

“Pendidikan kala itu sangat terbatas. Untuk pendidikan agama orang bisa menambahnya di surau,atau semacam pesantren. Ayah telah mengajarkan saya bagaimana membaca al-Qur`an dengan baik. Ayah juga mengajarkan saya fiqih dan tauhid secara dasar. Untuk pendidikan umum (Sekolah Rakyat) Lima Tahun yang dibuat dua jenjang. Pertama hingga kelas tiga dan mendapat ijazah. Lantas dilanjutkan jenjang kedua kelas empat dan lima.”[43]

Periode terakhir perkembangan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan, barangkali masih dapat dirasakan. Banyak perkembangan dan pengembangan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan ini. Salah satunya di sini penulis kemukakan sebuah berita pada harian Banjarmasin Post edisi tanggal 1 Juli 2002 sebagai berikut:

“Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mukarramah, Sungai Danau, Kecamatan Satui, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, bermaksud membangun sarana dan prasarana pendidikan serta sosial (Pensos) terbesar untuk wilayah Kalimantan.”[44]

Salah satu contoh lainnya,

D. Penutup

Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan dalam lintasan sejarah mempunyai kebanggan tersendiri, dengan terbitnya seorang yang mendapat gelar “Matahari Islam dari Kalimantan”. Akankah cahaya matahari pendidikan itu akan tetap menerangi jejak langkah pendidikan Islam sekarang?

Artikel ini merupakan Makalah yang saya tulis untuk mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam (Program Pasca Sarjana IAIN Antasari Banjarmasin)

RESUME:


[1]Rute perjalanan suku Mongol ini mula-mula ke Han Chong (daratan Cina Tengah), kemudian Yun Nan, Thailand, Semenanjung Malaka, Sumatra, Jawa, akhirnya tersebar ke Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Kepulauan lainnya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Pendidikan Sejarah, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), h. 74.

[2]Suku Yun Nan sebenarnya adalah suku Mongol yang mula-mula, setelah imigrasi ke Selatan berbaur dengan suku setempat. Jalur perjalanan imigran kedua ini sama dengan yang pertama. Alasan imigrasi adalah karena kekacauan akibat peperangan, perdagangan, mencari tempat tinggal yang lebih aman dan sejahtera. Ibid, h. 75.

[3]Mereka memakai jalur darat dan laut: Lautan Hindia, Thailand, Myanmar ke Sumatra, Jawa, dan kemudian pada abad ke-2 mendirikan Kerajaan Prambanan di Jawa Tengah. Sampai pada abad ke 8, penganut agama Budha dari Cina dan India datang dan mendirikan Kerajaan Sriwijaya di Palembang, Sumatra Selatan. Ibid.

[4]Pada abad ke-12, dengan amanat untuk menaklukkan dunia bagi Islam, mereka datang ke Aceh, Sumatra Utara, Kalimantan, kemudian ke Selatan, tiba di Pulau Jawa, dan mendirikan Kesultanan Banten. Sesudah itu ekspansi ke Timur Laut menaklukkan Sulawesi, dan ke Utara sampai ke Pulau Mindanao, Filipina Selatan. Pada abad ke-15, tentara Spanyol menaklukkan Pulau Luzon, kemudian ke Selatan menghambat rencana ekspansi Islam ke utara ke Pulau Luzon itu. Ibid., h. 76. Keterangan mengenai empat periode imigrasi besar tersebut juga bisa dilihat dalam buku Dr. Peter Wongso, Hamba Tuhan dan Jemaat Kristus Yang Melintas Jaman, (Jakarta: Seminar Al-Kitab Asia Tenggara [TAAT], 1997), h. 52.

[5]Kolonialisme Eropa Barat pertama yang berekspansi ke Timur adalah Portugis, yang mulai menaklukkan Goa di pantai Barat India, kemudian menyeberangi selat Malaka di Lautan Hindia, tiba di Pulau Jawa, memerintah Indonesia selama kurang lebih 100 tahun lamanya. Ibid., h. 60.

[6]Bangsa Spayol menjajah pulau Luzon. Ibid., h. 61.

[7]Pada abad ke-16, Belanda menyerang Indonesia, mengusir Portugis dan menjajah Indonesia selama 350 tahun lamanya. Ibid.

[8]Lihat: Ibid., h. 67.

[9]Helius Syamsuddin, Islam and Resistence in South and Centre kalimantan in The Nineteenth and Early Twentieth Centuries, Terj.: Najib Kaelani dan Muhammad Faqih De Ridha, Islam dan Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Tengah Pada Abad 19 dan Awal Abad 20, (Banjarmasin: Pusat Studi dan Pengembangan Borneo, 2002), h. 1.

[10]Ibid., h. 2; Pada Masa itu, Melayu begitu bersinonim dengan Islam, sehingga ada anggapan bahwa kalau seseorang itu Melayu, dia mestilah Islam. Sekarang, nampaknya tanggapan itu telah bergeser kerana tidak dapat dinafikan bahwa ada sebilangan kecil orang Melayu yang bukan Islam lagi. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa bahasa dan bangsa Melayu telah tersebar bukan sahaja di Asia Tenggara, malah di luar dunia Melayu. Menurut C.A. Mess, bahasa Melayu terdapat di Tanah Melayu, di pantai timur laut Sumatera, di kepulauan Riau, di Palembang, di Kampar, di Jambi, di Medan, serta di pantai Kalimantan. Lihat: C.A. Mess, Ranah Melayu, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 98; Menurut R.O. Winstedt, bahasa Melayu terdapat di semenanjung Tanah Melayu, termasuk di negeri Selat, di Pattani, di kepulauan Riau, di pantai timur Sumatera, dan di pantai barat Borneo. Lihat: R.O. Winstedt, Asian and Indonesian, (London: Oxport University, 1979), h. 233.

[11]Willian Benton, Encyclopedia Britannica, (USA: Encyclopaedia Britannica, Inc., 1979), h. 365.

[12]D.J. Prentice, Peradaban Malaka, (Serawak, Malaysia: Al-Maktabatul-Kaber, t.th.), h. 106.

[13]Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Tak Dimakan Sejarah, (Banjarmasin: Bpost, 2003) Edisi. 6 Oktober 2003, h. 5.

[14]Cucu pertama Syekh Arsyad yang mewarisi ilmu langsung dari kakeknya, hapal Al Quran, menguasai Tafsir, Hadist dan Fiqih, serta menjabat mufti pertama di kerajaan Banjar. Ibunya Syarifah yang kawin dengan Usman. Re Nadalsyah, Buah yang jatuh Tidak Akan Jauh Dari Pohonnya, Banjarmasin Post, (Banjarmasin), 16 Mei 1997, h. 4.

[15]Ulama perempuan dan adik seibu Muhammad As’ad yang juga mewarisi pengetahuan kakeknya, Fatimah dikenal dengan karyanya Kitab Parukuanan Besar. buku ini sampai sekarang masih digunakan sebagai dasar belajar fiqih dan tersebar sampai ke Malaysia, Vietnam dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Ibid.

[16]Anak keempat Mufti H. M. As’ad cicit Syekh Muhammad Arsyad yang dikenal dengan julukan mufti lamak, pernah belajar beberapa tahun di Mekah dengan ulama besar di zamannya. Diangkat menjadi mufti kerajaan Banjar. Di antara murid beliau, sultan Adam Al-Waiq Billah. Ibid.

[17]Zuriat kelima dari pihak ibu dan generasi keempat dari pihak nenek ulama terkenal yang banyak menulis kitab dalam bahasa melayu bukunya Syaratul Arsyadiyah dijadikan rujukan untuk mengetahui silsilah Sekh Muhammad Arsyad yang tersebar sampai di Malaysia, Brunei, Fathani dan sebagainya. Belajar di Mekah setelah pulang berangkat ke Sapat Tanbilanan diminta masyarakat disana. Diangkat sebagai mufti wilayah Indragiri. Beliau menunjuk Tuan Guru H. Anang (Zainal Ilmi sebagai pengganti mengajar di dalam pagar). Ibid.

[18]Cicit kelima yang mewarisi ilmu dari orang tua dan datuknya, menguasai ilmu syariat dan hakikat. Sejak kecil mendampingi orang tua berdakwah. Selama lebih kurang 10 tahun belajar di Mekah. Setelah pulang memberikan pelajaran dan pemurah dan berani memberantas kebathilan bahkan menolak jabatan mufti untuk menggantikan kakaknya Mufti H. Muhammad Arsyad. Ibid.

[19]Anak Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari istri Tuan Bidur mewarisi pelajaran dari orang tua, menjadi qadhi pertama dan guru sultan Sulaiman. Pernah tinggal di Kedah, Malaysia atas permintaan masyarakat kawin dan membuka pengajian. Ibid.

[20]Keturunan beliau itu menguasai ilmu tarikat Nasysyabandiyah dan Sammaiah belajar dari ulama terkenal, Syekh Muhammad Amin qutbi dan Ali bin Abdullah Al-Banjari untuk ilmu tasawuf. Membuka pengajian di Bangil yang disebut Pondok Pesantren Datuk Kalampayan. Muridnya banyak menjadi ulama yang tersebar di Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Ibid.

[21]Terkenal dengan kesederhanaannya Mansyur sebagai wali setelah meninggal karena kuatnya kemanakan beliau, H. Abd. Rahman Siddiq menyimpan rahasia ketika Mufti H. Abd. Rahman Siddiq belajar di Mekah sering melihat beliau tawaf keliling Ka’bah padahal paman beliau itu berada di Banjar (Martapura). Ibid.

[22]Terkenal sebagai ulama pemurah, ramah dan disegani masyarakat, termasuk pejabat pemerintah Belanda. Beberapa tahun belajar di Mekah bersama paman beliau ulama Besar Syekh Muhammad Athailah. Mufti yang selalu berusaha meningkatkan syiar Islam dan kemudahan beribadah. Beliau mengukir makam Syekh Muhammad Arsyad dengan kaligrafi yang indah. Dimakamkan di depan rumah beliau yang terkenal dengan nama kubah di Sungai Jingah. Ibid.

[23]Ulama yang berpengaruh dalam masyarakat dan pejabat pemerintah di Kabupaten Banjar baik sipil maupun ABRI. Di antara guru beliau yang terkenal ialah Mufti H. Abd. Rahman Siddiq, yang menunjuknya pengganti mengajar karena keberangkatan beliau Ke Sapat Tambilahan Riau. Terkenal keramat beliau sewaktu terjadi kebakaran begitu pula tanda-tanda saat beliau wafat, kuburan beliau berada di sebelah kanan bangunan makam Syekh Muhammad Arsyad A-Banjari di desa Kalampayan Martapura. Ibid.

[24]Keturunan Syekh Muhammad Arsyad yang paling dicintai masyarakat dan terkenal pula di kalangan petinggi pemerintah memiliki kemampuan berkomunikasi dengan seluruh kalangan dan menguasai berbagai disiplin Ilmu agama termasuk tasawuf dan Ilmu tarikat. Pengajian di Sekumpul Martapura selalu dihadiri ratusan muslimin dari berbagai penjuru Kalimantan Selatan. Beliau memiliki berbagai keramat seperti mendatangkan buah rambutan sebelum musimnya juga memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit. Menelorkan beberapa karya tulis antara lain Manakip Syekh Muhammad Saman Al-Madhani dan Risalah Nuraniyah. Ibid.

[25]Ia seorang ulama besar yang disegani dan disayangi oleh segenap masyarakat Pontianak. Abu Daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Dalam Pagar: Sullamul Ulum, 1996), h. 63-64.

[26]Dialah yang menguasai Negeri Banjar, yang selalu berusaha memperbaiki urusan agama dan dunia, pimpinan yang benar dan ikutan yang mulia. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Sabilal Al-Muhtadin lil Al-Tafaqquh fi Amr Al-Din, (Mesir: Darun Ahya, t.th.), Cet. III, h. 3.

[27]Abu daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Tuan Haji Besar, (Martapura: Sullamul Ulum, 1980), h. 48.

[28]Dr. Karel. A. Steenbrink menilai bahwa, peristiwa yang terjadi di atas kemungkinan besar cerita ini versi Banjar saja dari cerita Syekh Siti Jenar dan cerita Siti Jenar pun sebenarnya juga hanya merupakan versi Jawa riwayat tentang Al-Hajjaj. Steenbrink beralasan bahwa antara Banjar dan Jawa mempunyai hubungan yang sangat erat, sehingga Banjar mendapat pengaruh dari Jawa. Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, (Jakarta: Bulan bintang, 1984), h. 49.

[29]Lembaga ini mengurusi masalah-masalah keagamaan yang timbul dalam masyarakat, agar senantiasa terpimpin kepada kebenaran umum. Mufti sebagai ketua Mahkamah Syar’iyah didampingi oleh seorang Qadhi yang berfungsi sebagai pelaksana hukum dan mengatur jalannya pengadilan, seperti soal nikah, talak, rujuk, pembagian harta warisan dan lain sebagainya. Yusuf Khalidi, Ulama Besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, (Banjarmasin: Aulia, 1968), h. 40.

[30]Karel. A. Steenbrink memberikan suatu analisa bahwa undang-undang Sultan Adam yang diterapkan tahun 1835, memberikan kesan bahwa kedudukan mufti mirip dengan Mahkamah Agung yang ada sekarang dan berfungsi pula sebagai lembaga naik banding dari Mahkamah Biasa. Karel A. Steenbrink, Loc.Cit.

[31]Di dalam pasal 7 disebutkan bahwa, mufti ditugaskan memberikan fatwa kepada orang yang hendak berhukum. Sedang di dalam pasal 8 disebutkan, bila orang yang hendak meminta fatwa itu mengatakan disuruh Sultan, orang tersebut harus memperlihatkan bukti dengan cap Sultan. Amir Hasan Kyai Bondan, Suluh Sejarah Kalimantan, (Banjarmasin: MAI fajar, 1953), h. 152.

[32]Am Ramadhani, Berantas Kebodohan Lebih Utama Dari Jihad, Banjarmasin Post, (Banjarmasin), 4 April 1997.

[33]Abu Daudi, Op.Cit., h. 45.

[34]Ibid, h. 36.

[35]Zafri Zamzam, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Ulama Besar Juru Dakwah, (Banjarmasin: Karya, 1974), h. 7.

[36]Shagir Abdullah, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Pengarang Sabilal Muhtadin, (Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniah, 1990), h. 50.

[37]Abu Daudi, Op.Cit., h. 42.

[38]Shagir Abdullah, Op.Cit., h. 51.

[39]Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Sabilal Muhtadin lil tafaqquh fi Amr Al-Din, (Beirut: Darul Al-Fikr, t.th.), h. 34.

[40]Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Tuhfatur Raghibin, Juz. I, (Surabaya: Ibnu Sa’ad Al-Nabhan, t.t.h.), h. 22.

[41]Kabupaten Banjar dibentuk pada tanggal 14 Agustus 1950, dengan Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Nomor 186/PB/92/14 Jo. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Undang-undang Pokok Pemerintahan di Daerah tanggal 14 Agustus 1950 dengan sebutan Daerah Otonom Kabupaten Banjarmasin. KH. Abdul Syukur dalam buku Kota Serambi Mekkah (Kalimantan Selatan: CRDS, 2001), h. 2.

[42]Ibid., h. 3.

[43]Nahdatul Ulama Kalimtan Selatan, Asmah Sjachruni : Muslimat Pejuang Lintas Zaman, (Banjarmasin: h. 14)

[44]Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mukarramah Bangun Sarana Pensos Terbesar di Kalimantan, (Banjarmasin: Bpost, 2002), edisi 1 Juli 2002, h. 3.

Kembali ke awal

Memahami Essensi Hari Valentine Dalam Tinjauan Sejarah


Berbagai asumsi terhadap perayaan hari Valentine sebagai simbol hari kasih sayang memang banyak dimuntahkan oleh berbagai kalangan. Ada yang menerima keberadaan hari Valentine sebagai simbol perayaan hari kasih sayang tahunan, ada pula yang menolaknya. Dalam posting ini saya tidak mempermasalahkan tentang pertentangan pendapat tersebut. Di sini saya hanya memaparkan sejarah hari Valentine tersebut.

Sedikit Deskripsi tentang hari Valentine

Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day), pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-muasalnya yang tidak begitu jelas, ada yg menyebutkan Valentine sebagai sebuah hari raya Katolik Roma sebagaimana didiskusikan di artikel Santo Valentinus. Hari raya ini tidak mungkin diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir Abad Pertengahan ketika konsep-konsep seperti ini diciptakan.

Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran item dan catatan dalam bentuk “valentines”. Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan catatan pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.

Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah hubungan serius. Sebenarnya valentine itu Merupakan hari Percintaan, bukan hanya kepada Pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal Percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta.

Di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik “Happy Valentine’s”, yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka, ataupun, teman pria kepada teman prianya dan teman wanita kepada teman wanitanya.

Sejarah Hari Valentine

Perayaan Keseburan Bulan Pebruari

Asosiasi pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulu kala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus menyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.

Hari Raya Gereja

Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), nama Valentinus sekurang-kurangnya merujuk pada tiga martir atau Santo (orang suci) yang berbeda:

  • Seorang pastur di Roma
  • Seorang uskup Interamna (modern Terni)
  • Seorang martir di provinsi Romawi Africa

Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus di Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St.Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyu dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Valentinius

Guru ilmu Gnostisisme yang memiliki pengaruh Valentinius, adalah seorang calon uskup Roma pada tahun 143. Dalam ajarannya, tempat tidur pelaminan memiliki tempat yang utama dalam versi Cinta Kasih Kristianinya. Penekanannya ini jauh berbeda dengan konsep dalam agama Kristen yang umum. Stephan A. Hoeller, seorang pakar, menyatakan pendapatnya tentang Valentinius mengenai hal ini: “Selain sakramen permandian, penguatan, ekaristi, imamat dan perminyakan, aliran gnosis Valentinius juga secara prominen menekankan dua sakramen agung dan misterius yang dipanggil “penebusan dosa” (apolytrosis) dan “tempat pelaminan”.

Era abad pertengahan

Catatan pertama yang hubungkan hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa

For this was sent on Seynt Valentyne’s day
When every foul cometh there to choose his mate
Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus
Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya

Pada zaman itu, bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka suatu icon Valentine. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:

  • Sore hari sebelum Santo Valentinus gugur sebagai martir (orang suci dalam ajaran Katolik), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis, “dari Valentinusmu“.
  • Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.

Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan kegugurannya sebagai martir.

Hari Valentine pada era modern

Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary”.)

_____________________

Santo Valentine

Link: Anda bisa merefensikan data tentang Valentine disini

Related Link:

Siddhartha Gautama (Sang Budha)
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd
Rasyid Ridha
Ibnu Sina
Kisah-Kisah para Nabi

Siddhartha Gautama (Sang Budha) Dalam Pandangan Khairil Yulian Ibn Ruslan Abd Al-Ghani


PEMBERITAHUAN

Apapun anggapan anda terhadap posting saya kali ini, saya tidak bisa menampiknya. Anda boleh berpandangan apa saja tentang saya, atau tentang tulisan saya ini. Saya hanya punya satu harapan, posting ini tidak melahirkan kontroversi SARA, karena ini hanya pemikiran saya semata, yang lemah referensi, dan tidak ada konfirmasi dari sumber dan saksi, serta tidak melalui proses sterilisasi essensi.

****************

Siddhartha Gautama (Sang Budha)
Dalam Pandangan Khairil Yulian

Gautama Buddha dilahirkan dengan nama Siddhartha Gautama (Sanskerta: Siddhattha Gotama; Pali: “keturunan Gotama yang tujuannya tercapai”), dia kemudian menjadi sang Buddha (secara harfiah: orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna). Dia juga dikenal sebagai Shakyamuni (‘orang bijak dari kaum Sakya’) dan sebagai sang Tathagata. Siddhartha Gautama adalah guru spiritual dari wilayah timur laut India yang juga merupakan pendiri Agama Buddha[1] Ia secara mendasar dianggap oleh pemeluk Agama Buddha sebagai Buddha Agung (Sammāsambuddha) di masa sekarang. Waktu kelahiran dan kematiannya tidaklah pasti, sebagian besar sejarawan dari awal abad ke 20 memperkirakan kehidupannya antara tahun 563 SM sampai 483 SM; baru-baru ini, pada suatu simposium para ahli akan masalah ini,[2] sebagian besar dari ilmuwan yang menjelaskan pendapat memperkirakan tanggal berkisar antara 20 tahun antara tahun 400 SM untuk waktu meninggal dunianya, sedangkan yang lain menyokong perkiraan tanggal yang lebih awal atau waktu setelahnya.

Siddhartha Gautama merupakan figur utama dalam agama Buddha, keterangan akan kehidupannya, khotbah-khotbah, dan peraturan keagamaan yang dipercayai oleh penganut agama Buddha dirangkum setelah kematiannya dan dihafalkan oleh para pengikutnya. Berbagai kumpulan perlengkapan pengajaran akan Siddhartha Gautama diberikan secara lisan, dan bentuk tulisan pertama kali dilakukan sekitar 400 tahun kemudian. Pelajar-pelajar dari negara Barat lebih condong untuk menerima biografi Sang Buddha yang dijelaskan dalam naskah Agama Buddha sebagai catatan sejarah, tetapi belakangan ini “keseganan pelajar negara Barat meningkat dalam memberikan pernyataan yang tidak sesuai mengenai fakta historis akan kehidupan dan pengajaran Sang Buddha.”[3]

Orang tua

Ayah dari Pangeran Siddhartha Gautama adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Ratu Mahā Māyā Dewi. Ibunda Pangeran Siddharta Gautama meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran. Setelah meninggal, beliau terlahir di alam/surga Tusita, yaitu alam surga luhur. Sejak meninggalnya Ratu Mahā Māyā Dewi, Pangeran Siddharta dirawat oleh Ratu Mahā Pajāpati, bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana.

Riwayat hidup

Kelahiran

Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 563 SM di Taman Lumbini, saat Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan pohon sal. Pada saat ia lahir, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin sedangkan yang lainnya hangat. Arus tersebut membasuh tubuh Siddhartha. Siddhartha lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai.

Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala, diramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang Buddha. Hanya pertapa Kondañña yang dengan tegas meramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena apabila Sang Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan Sang Raja, para pertapa itu menjelaskan agar Sang Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa. Bila tidak, ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu adalah:

  1. Orang tua,
  2. Orang sakit,
  3. Orang mati,
  4. Seorang pertapa.

Masa kecil

Sejak kecil sudah terlihat bahwa Sang Pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah. Pada saat berusia 7 tahun, Pangeran Siddharta mempunyai 3 kolam bunga teratai, yaitu:

  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Biru (Uppala)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Merah (Paduma)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Putih (Pundarika)

Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Pangeran Siddharta menguasai semua pelajaran dengan baik. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai sayembara. Dan saat berumur 16 tahun, Pangeran memiliki tiga Istana, yaitu:

  • Istana Musim Dingin (Ramma)
  • Istana Musim Panas (Suramma)
  • Istana Musim Hujan (Subha)

Masa dewasa

Kata-kata pertapa Asita membuat Raja Suddhodana tidak tenang siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua, dan kematian, sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.

Suatu hari Pangeran Siddharta meminta ijin untuk berjalan di luar istana, dimana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya “Empat Kondisi” yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang suci. Pangeran Siddhartha bersedih dan menanyakan kepada dirinya sendiri, “Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini!”. Pangeran Siddharta berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban tersebut.

Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan duniawi. Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya, Canna. Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai pertapa.

Setelah itu Pangeran Siddhartha meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan mati. Pertapa Siddharta berguru kepada Alāra Kālāma dan kemudian kepada Uddaka Ramāputra, tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh yang diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima orang pertapa. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrim itu dan bermeditasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan Penerangan Agung.

Masa pengembaraan

Di dalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama dan pertapa Udraka Ramputra. Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya. Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magadha untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruwela, di tepi Sungai Nairanjana yang mengalir dekat Hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di Hutan Uruwela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakekat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.

Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang tua sedang menasihati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana dengan mengatakan:

Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu.

Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja, pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya, “Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna.”

Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan penggoda yang dahsyat. Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan iman yang teguh kukuh, akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur.

Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender lunar. Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Sang Siddharta memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.

Penyebaran ajaran Buddha

Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain: Buddha Gautama, Buddha Shakyamuni, Tathagata (‘Ia Yang Telah Datang’, Ia Yang Telah Pergi’), Sugata (‘Yang Maha Tahu’), Bhagava (‘Yang Agung’) dan sebagainya. Lima pertapa yang mendampingi Beliau di hutan Uruwela merupakan murid pertama Sang Buddha yang mendengarkan khotbah pertama Dhammacakka Pavattana, dimana Beliau menjelaskan mengenai Jalan Tengah yang ditemukan-Nya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya yang menjelaskan “Empat Kebenaran Mulia”.

Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, saat ia menyadari bahwa tiga bulan lagi ia akan mencapai Parinibbana.

Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).

Sifat Agung Sang Buddha

Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan Kasih Sayang (karuna). Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak terbatas oleh waktu dan selalu abadi, karena telah ada dan memancar sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda samsara yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan batinnya. Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas, yaitu

  1. Berusaha menolong semua makhluk.
  2. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.
  3. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.
  4. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.

Buddha Gautama pertama melatih diri untuk melaksanakan amal kebajikan kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari sepuluh tindakan yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan pikiran, yaitu

  • Tubuh (kaya): pembunuhan, pencurian, perbuatan jinah.
  • Ucapan (vak): penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar, percakapan tiada manfaat.
  • Pikiran (citta): kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang salah.

Cinta kasih dan kasih sayang seorang Buddha adalah cinta kasih untuk kebahagiaan semua makhluk seperti orang tua mencintai anak-anaknya, dan mengharapkan berkah tertinggi terlimpah kepada mereka. Akan tetapi terhadap mereka yang menderita sangat berat atau dalam keadaan batin gelap, Sang Buddha akan memberikan perhatian khusus. Dengan Kasih Sayang-Nya, Sang Buddha menganjurkan supaya mereka berjalan di atas jalan yang benar dan mereka akan dibimbing dalam melawan kejahatan, hingga tercapai “Pencerahan Sempurna”.

Sebagai Buddha yang abadi, Beliau telah mengenal semua orang dan dengan menggunakan berbagai cara Beliau telah berusaha untuk meringankan penderitaan semua makhluk. Buddha Gautama mengetahui sepenuhnya hakekat dunia, namun Beliau tidak pernah mau mengatakan bahwa dunia ini asli atau palsu, baik atau buruk. Ia hanya menunjukkan tentang keadaan dunia sebagaimana adanya. Buddha Gautama mengajarkan agar setiap orang memelihara akar kebijaksanaan sesuai dengan watak, perbuatan dan kepercayaan masing-masing. Ia tidak saja mengajarkan melalui ucapan, akan tetapi juga melalui perbuatan. Meskipun bentuk fisik tubuh-Nya tidak ada akhirnya, namun dalam mengajar umat manusia yang mendambakan hidup abadi, Beliau menggunakan jalan pembebasan dari kelahiran dan kematian untuk membangunkan perhatian mereka.

Pengabdian Buddha Gautama telah membuat dirinya mampu mengatasi berbagai masalah didalam berbagai kesempatan yang pada hakekatnya adalah Dharma-kaya, yang merupakan keadaan sebenarnya dari hakekat yang hakiki dari seorang Buddha. Sang Buddha adalah pelambang dari kesucian, yang tersuci dari semua yang suci. Karena itu, Sang Buddha adalah Raja Dharma yang agung. Ia dapat berkhotbah kepada semua orang, kapanpun dikehendaki-Nya. Sang Buddha mengkhotbahkan Dharma, akan tetapi sering terdapat telinga orang yang bodoh karena keserakahannya dan kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan khotbah-Nya. Bagi mereka yang mendengarkan khotbah-Nya, yang dapat mengerti dan menghayati serta mengamalkan Sifat Agung Sang Buddha akan terbebas dari penderitaan hidup. Mereka tidak akan dapat tertolong hanya karena mengandalkan kepintarannya sendiri.


[3]Lopez (1995). Buddhism in Practice. Princeton University Press. pp. 16.

**********************

Pandangan Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq tentang Sosok Siddhartha Gautama

Latar Belakang

Jika anda pernah membaca posting saya yang berjudul Pertanyaan tentang Iman yang Universal, maka anda akan melihat adanya hubungan antara posting itu dengan tulisan saya kali ini. Lahirnya konsep iman universal tersebut berasal dari sebuah pemikiran yang dikekang oleh fanatisme agama yang membutakan pemeluk suatu agama untuk membandingkan diri dengan orang lain. Efek negatif yang dilahirkan dari fanatisme agama tersebut adalah merasa benar sendiri, merasa diri paling benar dan orang lain salah, karena memang begitu konsep yang ditanamkan oleh pada umumnya agama terhadap pemeluknya, seperti perusahaan jasa yang bersaing untuk mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya dan mendokrin untuk tidak pindah ke produk lain.

Pada saat aku berpikir bahwa pemikiran bebasku dibelenggu oleh konsep fanatisme dalam beragama, keningku pun berkerut memikirkan jawaban atas  beberapa pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benakku. Pertanyaan yang sangat mendasar menurutku waktu itu, yaitu:

  1. Mengapa setiap pemeluk agama menganggap agamanya paling benar?
  2. Apakah ajaran agama yang ku peluk ini adalah ajaran agama yang benar-benar “BENAR”?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu cukup menggangguku pada saat itu, mengingat aku adalah seorang muslim yang lahir dari keluarga muslim, tumbuh dan berkembang dalam lingkungan muslim, dan bahkan dididik di lembaga pendidik Islam dari Madrasah Aliyah, hingga kuliah S1 dan S2. Sebagai muslim yang besar dalam kondisi masyarakat yang Homogen, pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti di atas telah membuatku melepaskan status “muslimku” selama aku belum menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Bagi sebagian orang di sekitarku, tindakan yang ku lakukan itu dianggap terlalu berani, karena harus melepaskan aqidah. Namun bagiku, justru dari sinilah aku akan mematri diriku dengan aqidah yang memang lahir dari pencarian dan untuk mendapatkan keyakinan. Karena aku beranggapan bahwa apa artinya beragama jika tidak memiliki dasar keyakinan yang kuat. Hidup dalam homogentitas agama yang melahirkan fanatisme itu justru membuatku beranggapan agama yang ku peluk ini bukan agama yang benar. Jika agama ini adalah sebuah kebenaran, maka ia tidak akan pernah takut untuk disandingkan dengan sesuatu yang yang juga dianggap benar oleh orang lain.

Pencarian kebenaran dengan melepaskan keyakinan memang merupakan hal yang sangat menakutkan dalam hubungannya dengan masalah aqidah, tetapi hal ini memang harus ku lakukan jika keyakinan yang kupegang justru membuat hatiku bimbang akan sebuah kebenaran. Ajaran agama yang ku peluk sebenarnya sudah ku yakini kebenarannya, tetapi hal itu masih dalam keyakinan yang wajar, yaitu karena keluarga, lingkungan dan pendidikanku hanya seputar itu. Lagi pula, dengan konsep sederhana seperti itu, semua pemeluk agama apapun akan beranggapan seperti yang ku rasa, yaitu “Agamaku adalah agama yang paling benar”.  Keyakinan yang wajar dan sederhana itu tidak cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti yang sudah ku sebutkan sebelumnya. Perlu adanya usaha pencarian keyakinan yang lebih EXTREME untuk jiwa dan pemikiranku yang EXTREME, yaitu dengan membandingkan semua ajaran kebenaran.

Siddhartha Gautama adalah Sosok Nabi

Ajaran Agama Budha adalah salah satu dari lima ajaran agama yang ku ketahui sejak aku duduk di bangku sekolah dasar, karena dalam Falsafah Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, ada lima Agama yang diakui, yaitu Islam, Kristen Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha. Dalam pencarian kebenaran yang ku lakukan, Ajaran Agama Budha adalah salah satu agama yang masuk dalam target pencarian kebenaran yang ku lakukan.

Dalam posting ini, saya tidak akan menyalahkan atau membenarkan ajaran agama Budha yang dibawa oleh Siddhartha Gautama, tetapi dalam pencarian kebenaran yang ku jalani ini, aku menemukan satu kesimpulan bahwa agama itu tidak bisa diciptakan begitu saja oleh manusia, diperlukan suatu falsafah mendasar yang menjadikan suatu ajaran pantas untuk disebut sebagai sebuah agama. Disamping itu, semua ajaran agama memang selalu mengajarkan kebenaran, karena itulah semua pemeluk agama menganggap agama yang dipeluknya itulah yang paling benar, termasuk dalam hal ini, ajaran yang dibawa oleh Siddhartha Gautama, yaitu ajaran agama Budha.

Dalam referensi yang saya kemukakan sebelumnya disebutkan bahwa Siddhartha Gautama pada awalnya juga merupakan manusia biasa yang sejak lahirnya sudah diberikan kelebihan. Ia lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai. Hal ini seperti juga kelahiran Isa al-Masih (Nabi Isa As) oleh Bunda Maria (Maryam) yang menandungnya tanpa Ayah. Seperti halnya juga kelahiran Muhammad Saw yang diwarnai dengan turunya ratusan burung Ababil yang menyerang tentara bergajah yang akan menghancurkan Ka’bah.

Pangeran Siddhartha Gautama yang sejak lahir diramalkan akan meninggalkan Istana, menyebabkan sang Ayah, Raja Suddhodana berusaha membahagiakan putra kesayangannya dalam kemewahan Istana. Pangeran Siddhartha tidak pernah diperkenalkan dengan beberapa hal, yaitu usia tua, penyakit, kematian, dan pertapa. Pangeran hanya tahu makna kebahagiaan itu dari kemewahan dalam Istana, wanita-wanita cantik, dan berbagai kenikmatan dunia lainnya. Sehingga pada saat ia berjalan ke luar Istana, sepanjang jalan yang akan dilaluinya harus lebih dulu dibersihkan dari ke-empat perkara yang dipantangkan untuk dilihat oleh Pangeran Siddhartha.

Namun waktu dan keadaan akhirnya mempertemukan Pangeran Siddhartha dengan semua perkara yang tidak pernah dikenalnya itu. Perjalanan keluar Istana yang telah dibersihkan sebelumnya tidak bisa menghalangi kenyataan bahwa Pangeran Siddhartha memang sudah waktunya mengenal adanya usia tua, penyakit, kematian dan pertapa. Keempat perkara itu secara tidak sengaja dilihatnya perjalanannya keluar Istana. Peristiwa itu sangat terkenal dalam sejarah kehidupan Siddhartha Gautama Sang Budha.

Apa yang dikhawatirkan Raja Suddhodana akhirnya menjadi nyata, Siddhartha Gautama akhirnya meninggalkan Istana untuk mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan dari dirinya. berbagai usaha telah ia lakukan untuk mencari kebenaran, bahkan disebutkan ia pernah ikut bertapa bersama para pertapa Hindu, tetapi tidak juga ia temukan kebenaran yang ia harapkan. Sampai pada akhirnya, pertapa Gautama melakukan samadhi di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya, “Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna.”

Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun. Dalam referensi yang penulis kemukakan di atas disebutkan bahwa pada saat mencapai pencerahan sempurna, dari tubuh Sang Siddhartha memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.

Melihat dari awal perjalanan kehidupan Siddhartha Gautama hingga ia menemukan pencerahan sempurna, saya berpikir Siddhartha Gautama adalah seorang Nabi, dan kejadian di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya adalah saat-saat dimana ia menerima wahyu untuk disampaikan dan diajarkan kepada umat manusia.

Seperti halnya juga saya temukan dalam kisah Isa Al-Masih (Nabi Isa As), Siddhartha Gautama juga tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan atas ajaran Budha yang dibawanya. Para pengikutnyalah yang kemudian mengklain bahwa ia adalah Tuhan. Keadaan ini –menurut analisa saya,– adalah suatu hal yang wajar. Pengaruh besar yang ditinggalkannya menjadikan ia sebagai panutan para pengikutnya, sehingga wajar kebesaran pengaruhnya itu menjadikan ia dituhankan oleh pengikutnya.

Keadaan seperti ini juga bisa saja terjadi Muhammad Saw dengan Islam yang dibawanya. Perbedaannya adalah, Muhammad menanamkan nilai-nilai ketuhanan (Tauhid) pada awal penyebaran ajarannya, kemudian dilanjutkan dengan memberikan contoh teladan dan ajaran bagaimana bertingkah laku dengan sesama manusia dan makhluk lainnya. Dalam konsep penyebaran ajaran agama oleh Nabi-Nabi sebelumnya, aspek ketuhahanan ini –menurut saya– disejajarkan dengan pengajaran akhlak dan etika pergaulan sesama manusia, sehingga para pengikutnya kurang mengerti eksistensi Tuhan pasca kematiannya. Sehingga sang tokohlah yang kemudian diklain sebagai Tuhan. Muhammad Saw pun bisa saja diklain sebagai Tuhan jika dalam penyebaran Islam, tidak menanamkan nilai-nilai ketuhanan (Tauhid) pada awal penyebarannya.

Para pembaca yang budiman.!!

Terima kasih telah membaca poting ini…!!! 😆 Pemikiran yang sehat dan positif hendaknya tetap menjadi panduan untuk memfilter pemikiran-pemikiran luar yang masuk ke Head dan Heart anda, termasuk Head (Pemikiran) dan Heart (Perasaan) yang tertuang dalam tulisan-tulisan di blog saya ini….. Pencarian kebenaran yang saya lakukan, ternyata akhirnya membawa saya kembali pada ajaran yang saya peluk sebelumnya, yaitu Islam, dengan keyakinan yang lebih sempurna dari sebelumnya. 🙂 Insya Allah…

%d blogger menyukai ini: