Arsip Blog

Bukan “Khairil Yulian”


Jika dulu ada acara Empat Mata yang ditayangkan oleh salah satu Stasion Televisi Swasta di Indonesia, yang kemudian dicekal dan berganti nama dengan Bukan Empat Mata. Peristiwa yang serupa [tapi tak sama] ternyata juga terjadi pada namaku (Red: Khairil Yulian). 😆

Nama Blogku dulu ku ambil dari namaku sendiri, yaitu Khairilyulian.wordpress.com. Tetapi kemudian berganti dengan nama yang sama tetapi ada sedikit tambahan di awal, yaitu NEWkhairilyulian.wordpress.com. Penambahan NEW tersebut, bukan tanpa alasan… 😆 Soalnya… Blog milikku yang sebelumnya Not Longer Available… 😆 Hehehe… para Blogger pasti ngerti lah istilah itu..

Nah sekarang hal yang serupa tapi sama, terjadi pada diriku tanpa aku pernah menyadari… 😆 Aku baru saja iseng ngetik namaku [KHAIRIL YULIAN] di Mesin Pencari “Google“…. eeeh, ternyata pas masuk ke halaman ke-3 ku temukan sebuah nama yang sama dengan namaku, tetapi bukan aku…

Bukan Khairil Yulian

Hasil pencarian di Google yang menemukan nama khairil yulian juga ada di sebuah artikel berjudul Multiyears Seluma Dihentikan | Rakyat Bengkulu yang mengarahkan pada sebuah situs bernama harianrakyatbengkulu.com. Dalam artikel berjudul Multiyears Seluma Dihentikan, tepatnya pada paragraf ke-7 ada tulisan berikut:

ada di harianrakyatbengkulu.comSaya kutib sepenggal kalimat sebagai berikut:

“Usai penyampaian jawaban eksekutif, Wakil Ketua Komisi II DPRD Seluma yang juga  Ketua Fraksi PKPI, Khairil Yulian, S.Sos langsung interupsi. Adik kandung mantan Bupati Seluma Murman Effendi itu menegaskan bahwa proyek multiyears wajib dianggarkan”

Atas kesamaan nama tersebut, dalam kesempatan kali ini saya tegaskan bahwa itu Bukan Khairil Yulian, yang sedang menulis artikel ini…!! Nama yang sama pada situs tersebut, bukan Gue…!!!! alasannya:

  1. Saya bukan Wakil Ketua Komisi II DPRD Seluma
  2. Saya juga bukan Ketua Fraksi PKPI
  3. Titel saya bukan, S.Sos.
  4. Saya juga bukan Adik kandung mantan Bupati Seluma Murman Effendi
  5. Saya tidak pernah interupsi untuk menegaskan bahwa proyek multiyears wajib dianggarkan. 😆

________________

Saya menulis artikel ini, untuk menghindari adanya kesalahpahaman yang MUNGKIN akan terjadi suatu hari nanti… Daripada nanti terlanjur, lebih baik saya tegaskan sekarang… 😆 Hehehehe……….

Preventif lebih baik daripada Antisipatif

Interpretasi versi Gue:
Preventif:
Mencegah sebelum terjadi
Antisipatif: Mencegah setelah terjadi… 😆

Iklan

Kontroversi Konsep Filsafat Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd


Kontroversi Konsep Filsafat
Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd

0leh

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq


Pendahuluan

Penyelidikan filsafat[1] bukanlah monopoli Yunani dan dunia barat. Pemikiran filsafat haruslah ditempatkan sebagai suatu petunjuk kegelisahan abadi umat manusia. Jika orang mengatakan bahwa sejarah pemikiran umat manusia dimulai sejak periode Thales di Yunani kuno, adalah suatu kealfaan manusia dalam mencatat perilaku sejarah umat manusia tersebut, atau justru memang harus diakui adanya kealfaan sebagai umat manusia memunculkan sejarahnya.[2]

Pada masa Rasulullah Saw, setiap permasalahan dapat langsung ditanyakan kepada beliau, tetapi sejak beliau wafat, umat Islam telah dihadapkan pada permasalahan yang menuntut mereka berpikir sendiri karena tidak ada lagi tempat mereka bertanya. Pada masa pasca wafatnya Rasulullah Saw ini saja telah lahir polarisasi umat dalam Islam pertama, yang melahirkan kelompok-kelompok umat seperti kaum Anshar, Muhajirin dan kaum kerabat Nabi.

Pada masa akhir Khulafa’ al-Rasyidin, juga lahir berbagai aliran sikap politis yang berkembang pada perbedaan ideologi teologis, seperti Khawarij, Syi’ah dan Sunni. Periode selanjutnya, atau sering disebut sebagai periode pemikiran Islam yang sistematis, dapat disebutkan berbagai kelompok yang mewakili suatu pandangan tertentu, seperti Mu’tazilah, Murji’ah, Qadariah, Jabariah dan Ahlu al-Sunnah Wa al-Jama’ah. [3]

Dari hampir semua zaman, masalah utama justru terletak pada masalah filsafat sebagai metode berpikir, yakni tentang legalitas filsafat untuk dipergunakan sebagai perangkat kerja menemukan dan mencari kebenaran. Perbedaan tersebut memuncak pada perbedaan Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.[4] Dalam makalah ini, penulis mencoba mengupas masalah kontroversi kedua tokoh sejarah tersebut dengan pendekatan sejarah.

Imam Al-Ghazali dan Pemikirannya

Imam Al-Ghazali[5] adalah seorang ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.[6] Perjalanan spiritualnya menjadikannya mempunyai satu konsep sendiri, terutama dalam bidang filsafat. Kalangan intelektual sebelum Al-Ghazali menjadikan filsafat sebagai cara untuk mencari kebenaran.[7] Pendapat mereka kemudian ditentang keras oleh Al-Ghazali.[8] Teknik pendekatan filsafat yang dibunuh oleh Al-Ghazali adalah konsep filsafat yang diutarakan oleh filosof Islam sendiri, yaitu Ibnu Sina[9] dan Al-Farabi.[10]

Dalam sejarah filsafat Islam Al-Ghazali dikenal sebagai orang yang pada mulanya syak terhadap segala-galanya. Perasaan syak ini kelihatannya timbul dalam dirinya dari pelajaran ilmu kalam atau teologi yang diperolehnya dari al-Juwaini.[11] Sebagaimana diketahui dalam Ilmu Kalam terdapat beberapa aliran yang saling bertentangan. Timbullah pertanyaan dalam diri Al-Ghazali: Aliran manakah yang bertul-betul benar diantara semua aliran itu?[12]

Pada mulanya pengetahuan filsafat dijumpai Al-Ghazali dalam hal-hal yang ditangkap dengan pancaindra, tetapi baginya kemudian ternyata bahwa pancaindra juga berdusta. Sebagai umpama sebagai berikut:

“Bayangan rumah kelihatannya tak bergerak, tetapi akhirnya ternyata berubah tempat. 
Bintang-bintang di langit kelihatannya kecil tetapi perhitungan menyatakan bahwa bintang-bintang itu lebih besar dari bumi”.

Karena tidak percaya pada panca indra lagi, kemudian dia meletakkan kepercayaan pada akal. Tetapi akal juga ternyata tidak dapat dipercaya.

Al-Ghazali mempelajari filsafat, kelihtannya untuk menyelidiki apakah pendapat-pendapat yang dimajukan oleh filosof-filosof itulah yang merupakan kebenaran. Baginya ternyata bahwa argumen-argumen yang mereka ajukan tidak kuat dan menurut keyakinannya ada yang bertentangan dengan ajaran Islam. Akhirnya ia mengambil sikap menentang terhadap filsafat.

Sebagaimana halnya dalam Ilmu Kalam, Al-Ghazali juga menjumpai argumen-argumen yang tidak kuat dalam filasafat, akhirnya dalam tasawuflah ia memperoleh apa yang dicarinya. Tasawuflah yang dapat menghilangkan rasa syak yang lama mengganggunya. Pengetahuan yang menimbulkan keyakinan akan kebenarannya bagi Al-Ghazali adalah pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari Tuhan dengan Tasawuf.[13]

Al-Ghazali tidak percaya pada filsafat, bahkan memandang filosof-filosof sebagai ahlu Al-Bida’, yaitu tersesat dalam beberapa pendalat mereka. Al-Ghazali menyalahkan filosof-filosof sebelumnya dalam beberapa pendapat berikut:[14]

  1. Tuhan tidak mempunyai sifat
  2. Tuhan mempunyai substansi basit (sederhana/simple) dan tidak mempunyai mahiah (hakekat/quiddity).
  3. Tuhan tidak mengetahui Juz’iat (perincian/particulars)
  4. Tuhan tidak diberi sifat al-Jins (Jenis/Jenus) dan Al-Fashl (differentia)
  5. Planet-planet dan bintang-bintang bergerak dengan kemauan
  6. Jiwa planet-planet mengetahui semua juz’iat.
  7. Hukum alam tak dapat berubah
  8. Pembangkitan jasmani tidak ada
  9. Alam itu tidak bermula
  10. Alam itu akan kekal

Tiga dari kesepuluh pendalat di atas, menurut Al-Ghazali membawa kepada kekufuran, yaitu:

  1. Alam kela dalam arti tak bermula
  2. Tuhan tak mengetahui perincin dari apa-apa yang terjadi di alam.
  3. Pembangkitan jasmani tak ada. [[15]]

Ibnu Rusyd dan Pemikirannya

Ibnu Rusyd[16] adalah seorang seorang hakim Istana di Cordova (Spanyol Islam)[17] yang juga dikenal sebagai dokter istana. Di samping itu ia juga seorang filosof yang mempunyai pengaruh besar di kalangan istana, terutama di zaman Sultan Abu Yusuf Ya’qub al-Mansyur (1184-1199 M).

Ibnu Rusyd hidup dalam situasi politik yang sedang berkecamuk. Pemerintahan Almurafiah digulingkan oleh golongan Almuhadiah di Marakusy pada tahun 542/1147 M, yang menaklukan Cordova pada tahun 543 H/ 1148 M.[18] Tiga orang pewarisnya dari golongan Almuhadiah, Abd al-Mu’min, Abu Ya’kub dan Abu Yusuf yang diabdi oleh Ibnu Rusyd, terkenal karena semangat berilmu dan berfilsafat mereka. Di sinilah sebenarnya awal perkenalan Ibnu Rusyd dengan dunia filsafat.

Awal keterlibatan Ibnu Rusyd dalam dunia filsafat adalah ketika Abu Ya’kub yang saat itu menjadi Amir, memerintahkannnya menuliskan ulasan-ulasan atas buku-buku Aristoteles agar buku tersebut dapat dipahami dengan mudah olehnya.[19]

Kondisi kultural pada saat itu, sebenarnya tidak begitu mendukung terhadap aktivitas filsafat Ibnu Rusyd, hanya saja pengaruhnya di kalangan istana memberikan kesempatan yang besar dalam berfilsafat. Sebagai seorang filosof, pengaruhnya di kalangan istana kurang disenangi oleh kaum ulama dan fuqaha. Sehingga, ketika terjadi peperangan antara Sultan dengan kaum Kristen, Sultan menghajatkan bantuan dari kalangan ulama dan fuqaha yang memang dikenal lebih dekat umat. Kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan oleh kaum Ulama dan Kaum Fuqaha untuk menyingkirkan Ibnu Rusyd.

Ibnu Rusyd dituduh membawa filsafat yang menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam. Maka dengan demikian, Ibnu Rusyd ditangkap dan diasingkn ke suatu tempat bernama Lucena di daerah Cordova. Bukan hanya itu saja, buku-bukunya dibakar di depan umum. Namun penderitaan dan siksaan yang diderita oleh Ibnu Rusyd tidak lama, karena Sultan memberikan pengampunan terhadapnya.[20]

Ibnu Rusyd lebih dikenal dan dihargai di Eropa Tengah daripada di Timur, dikarenakan beberapa sebab:

  1. Tulisan-tulisannya yang banyak jumlahnya itu diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan diedarkan serta dilestarikan, sedangkan teksnya yang asli dalam bahasa Arab dibakar atau dilarang diterbitkan lantaran mengandung semangat anti filsafat dan filosof.[21]
  2. Eropa pada jaman Renaissance dengan mudah menerima filsafat dan metode ilmiah sebagaimana dianut oleh Ibnu Rusyd, sedangkan di Timur, ilmu-ilmu filsafat mulai dikurbankan demi berkembangnya gerakan-gerakan mistis dan keagamaan.[22]

Sebagai seorang filosof, Ibnu Rusyd tentu saja harus melakukan pembelaan terhadap filsafat dari serangan-serangan Al-Ghazali yang menuduh kaum filosof menjadi kafir dengan berbagai pemikiran filosofis sebagaimana disebutkan di atas.

Mungkin pada masa sekarang ini soal seperti ini tidak begiru pantas dihebohkan. Tetapi pada abad ke-6 H/12 M masalah semacam itu memang sangat penting. Para filosof dituduh berbuat bid’ah (kufr) atau tidak beragama. Al-Ghazali dalam karyanya Thahafut mengutuk para filosof sebagai orang yang tidak beragama.. kalau tuduhan ini benar, maka para filosof itu berdasarkan hukum Islam, harus dihukum mati, kecuali kalau mereka mau melepaskan diri dari berfilsafat atau membuat pernyataan di depan umum bahwa mereka tidak percaya kepada ajaran-ajaran filsafat mereka. Oleh karena itu, perlulah bagi para filosof membela diri dan pendapat-pendapat mereka.[23]

Dalam risalahnya Ibnu Rusyd menyatakan bahwa filsafat diwajibkan atau paling tidak diajurkan dalam agama Islam, sebab fungsi filsafat hanyalah membuat spekulasi atas yang maujud dan memikirkannya selama membawa pada pengetahuan akan sang pencipta. Al-Qur’an memerintahkan untuk berpikir (i’tibar) dalam banyak ayat seperti: “Berpikirlah, wahai yang bisa melihat”. I’tibar merupkan suatu ungkapan Qur’ani yang berarti sesuatu yang lebih dari sekedar spekulasi tau repleksi (nazar).[24]

Ibnu Rusyd kembali ke bidang Fiqh dan membandingkan metode logika filsafat dengan metode tradisional fiqh. Dia menyebutkan prinsip fiqh berpijak pada empat sumber, yaitu Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ (konsensus) dan Qiyas (silogisme yang absah). Telah dipahami bahwa Al-Qur’an mesti ditafsirkan secara rasional, dan ijma’ merupakan buah kesepakatan secara aklamasi dari para alim pada masa tertentu, tetapi tiada konsensus pada masalah-masalah doktrinal. Karena tidak ada konsensus pada masalah-masalah doktrinal tersebut, maka Al-Ghazali, atas dasar ijma’ tidak berhak mengutuk para filosof sebagai orang-orang tidak beragama.[25]

Menurut Al-Ghazali, mereka pantas dituduh sebagai ahli bid’ah (takfir) lantaran tiga hal, yaitu ajaran mereka tentang keabadian dunia, penolakan mereka atas pengetahuan Tuhan tentang segalanya dan penolakan meraka atas kebangkitan kembali secara jasmaniah.[26] Menurut Ibnu Rusyd, agama didasarkan pada tiga prinsip yang mesti diyakini oleh setiap Muslim, yaitu eksistensi Tuhan, kenabian dan kebangkitan. Ketiga prinsip ini merupakan pokok masalah agama. Orang yang menolak prinsip yang manapun dari yang disebut di atas, berarti ialah yang pantas disebut tak beragama (kafir).[27]

Kontroversi Konsep Filsafat

Menyimak dari pemiran kedua tokoh tersebut, Al-Ghazali (450 H/1059 M–505 H/1111 M) kecewa dengan filsafat karena pengalamannya dalam dunia filsafat, dia tidak menemukan kebenaran yang dia cari. Kemudian dia menemukan bahwa pendekatan tasawuflah yang dapat menjawab semua permasalahan yang dihadapinya dalam menemukan kebenaran sebenarnya. Selanjutnya ia menentang setiap kegiatan filsafat dan mengutuk kaum filosofis sebagai orang kafir dan tak beragama. Sementara Ibnu Rusyd (520 H/1126 M–592 H/1198 M) adalah seorang yang telah terjun ke dunia filosofis Islam. Dalam posisinya sebagai seorang filosof, ia dituntut untuk membela eksistensi filsafat dari serangan-serangan Al-Ghazali yang telah menyebabkan para filosof kehilangan kekuatannya untuk meneruskan aktivitas filsafatnya.

Abdul Munir Mulkhan menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan mendasar dalam penggunaan “filsafat” sebagai metode berpikir dari kedua tokoh pemikir tersebut. Perbedaan justru terdapat pada teknik berpikirnya itu sendiri. Dan pada legalitas filsafat sebagai metode mencari kebenaran. Jika Imam Al-Ghazali menekankan pada aspek intuitif, maka Ibnu Rusyd menitik beratkan metode berpikirnya pada aspek rasional.[28]

Lebih jauh dapat dipahami bahwa Al-Ghazali lebih menekankan penetapan kebenaran berdasarkan pada penghayatan dan ketajaman perasaan yang dalam, sedangkan Ibnu Rusyd pada unsur logis dan korespondensi metode filsafat Yunani dan ajaran Islam.

Penutup

Kesimpulannya, Kontroversi Pemikiran filsafat antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, bukan terletak pada konsep filsafat, tetapi terletak pada terdapatnya perbedaan anggapan terhadap eksistensi filsafat itu sendiri. Al-Ghazali adalah orang yang menentang filsafat dan menyerang filosof dengan tuduhan “Kafir”, sementara Ibnu Rusyd adalah seorang filosof Islam yang dituntut untuk membela keberadaan filsafat


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Zaenal Abidin, Ibnu Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia, Bulan Bintang, Jakarta, 1949.

Ahwani, Ahmad Fuad Al-, Filsafat Islam, Pustaka Firdaus, Bandung, 1984

Amin, Oemar, Filsafat Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1959.

Boer, T.J. De, The History of Philosophy in Islam, Dover Publication, Inc., New York, 1967.

Daudi, Ahmad, Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1984.

Dominique, Urvoy, Ibn Rushd (Averroes): Arabic Thought and Culture, Routedge, London, 1991.

Ghazali, M. Bahri, Konsep Ilmu Menurut Al-Ghazali: Suatu Tinjauan Psikologik Pedagogik, Pedoman Ilmu Jaya, Yogyakarta, 1991.

Mansur, Laily, Ajaran dan Teladan Para Sufi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996.

Mulkhan, Abdul Munir, Mencari Tuhan dan Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai pemikiran Al-Ghazali, Bumi Aksara, Jakarta, 1992.

Munawir, Imam, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, Bina Ilmu, Surabaya, 1985.

Nasution, Harun, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1983.

___________, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Universitas Indonesia, Jakarta, 1996.

Poerwantana, et.al., Seluk beluk Filsafat Islam, Rineka Cipta, Jakarta, 1996.

Sudarsono, Filsafat Islam, Rineka Cipta, Jakarta, t.th.

Syarif, M.M., Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1994.

___________, The Philosophies: History of Muslim Philosophy, terj.: Ilyas Hasan, Mizan, Bandung, 1996.


Keterangan:
Artikel ini merupakan makalah yang saya tulis untuk tugas mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam Program Pasca Sarja IAIN Antasari Banjarmasin.

Kembali Ke:

  1. Pendahuluan
  2. Imam Al-Ghazali dan Pemikirannya
  3. Ibnu Rusyd dan Pemikirannya
  4. Kontroversi Konsep Filsafat
  5. Penutup

[1]Perkataan “Filsafat” bukanlah bahasa Arab, sebelum Islam datang, orang Arab tidak mempunyai filsafat. Meskipun mereka mempunyai Hikmah dan Hukama, mempunyai “Kebijaksanaan” dan “para Bijaksanawan”. Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1959),      h.11; Filsafat sebgai ilmu adalah sebuah sistematika pemikiran mendalam untuk mencari dan menemukan kebenaran. Sedangkan filsafat sebagai kegiatan berpikir dapat dikatakan sebagai suatu pemikiran yang mendalam dan radikal tentang segala sesuatu, Abdul Munir Mulkhan, Mencari Tuhan dan Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai pemikiran Al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), Cet. II, h. 71

[2]Ibid., h. 77.

[3]Ibid., h. 78.

[4]Ibid., h. 79.

[5]He (Al-Ghazali) was born at Tos in Khorasan in the year 1059. T.J. De Boer, The History of Philosophy in Islam, (New York: Dover Publication, Inc., 1967), h. 155; Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali. Laily Mansur, Ajaran dan Teladan Para Sufi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), h. 25; Setelah bertahun-tahun mengembara sebagai sufi ia kembali ke Thus di tahun 1105 M dan meninggal di sana pada tahun 1111 M. Lihat: Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), Cet. III., h. 43; Di dunia barat terkenal ia dengan sebutan al-Ghazel. M. Bahri Ghazali, Konsep Ilmu Menurut Al-Ghazali: Suatu Tinjauan Psikologik Pedagogik, (Yogyakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991), Cet. I h. 21.

[6]Masa hidup Al-Ghazali adalah masa munculnya aliran-aliran pemikiran di tengah-tengah masyarakat. Ibid., h. 24.

[7]Ahli-ahli filsafat Islam Banyak mempelajari filsafat Yunani, sehingga dengan demikian telah terjadi kontak antara Filsafat Yunani dengan ajaran agama Islam. Sudarsono, Filsafat Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, t.th.), h. 122.

[8]Al-Ghazali mengecam ajaran-ajaran filosof-filosof Mulism dalam bukunya Thahafut, dan metode yang digunakan adalah tasawuf. M.M. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy, terj.: Ilyas Hasan, (bandung: Mizan, 1996), Cet. VIII, h. 199.

[9]Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada tahun 980 M di Asfshana, suatu tempat dekat Bukhara. Orang tuanya adalah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman. Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya,(Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia, 1996), h. 50; Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal unik, sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu – satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad. M.M. Syarif, Para Filosof Muslim, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 101; Di bidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya dunia Islam menyanjungnya, ia memang merupakan satu bintang gemerlapan memancarkan cahaya sendiri. Lihat: Imam Munawir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985), h. 332 – 333; Lihat: Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Firdaus, 1984), h. 63.

[10]Dengan ketajaman otaknya Ibnu Sina banyak mempelajari filsafat dan cabang-cabangnya, kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru setelah ia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho-nya Al-Farabi (870-950 M), semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa dia menjadi murid yang setia dari Al-Farabi. Zaenal Abidin Ahmad, Ibnu Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1949), h. 49; Al-Ghazali demikian sengit dan keras terhadap para filosof, khususnya Al-Farabi dan Ibnu Sina, Selanjutnya Ibnu Rusyd terhadap Al-Ghazali dan terhadap Kitabnya yang berjudul Thahafut al-Falaasifah. Ahmad Daudi, Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 10.

[11]Imam al-Haramain al-Juwaini adalah Guru Besar di Madrasah al-Nizamiah Nisyafur. Lihat: Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Op.Cit., h. 41.

[12]Ibid.

[13]Lihat: Ibid., h. 42-44; Al-Ghazali memperoleh kesan bahwa orang-orang sufi (ahli Tasawuf) itu benar-benar berada di atas jalan yang benar, berakhlak baik dan mendapat pengetahuan yang tepat. Sudarsono, Op.Cit., h. 122.

[14]Al-Ghazali menghantam pendapat-pendapat filsafat Yunani, di antaranya juga Ibnu Sina c.s., dalam dua puluh masalah. Di antaranya yang terpenting ialah (1) Al-Ghazali menyerang dalil-dalil filsafat (aristoteles) tentang azalinya alam dan dunia, (2) Al-Ghazali menyerang pendapat kaum filsafat (aristoteles) tentang pastinya keabadian alam, (3) Al-Ghazali menyerang pendapat kaum filsafat bahwa Tuhan hanya mengetahui soal-soal yang besar saja dan (4) Al-Ghazali juga menentang pendapat filsafat bahwa segala sesuatu terjadi dengan kepastian hukum sebab dan akibat. Poerwantana, et.al., Seluk beluk Filsafat Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), h. 170-171.

[15]Lihat: Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Op.Cit., h. 45.

[16]Nama penuh Ibnu Rusyd ialah Abu al-Walid Muhammad ibn Muhammad ibn Rusyd, ia lahir di Cordova pada tahun 1126 M. Ibid., h. 47; Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd lahir di Cordova pada tahun 520 H/1126 M. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h. 197; Abu-l-Walid Muhammad ibn Akhmed ibn Mohammed ibn Roshd (Averroes) was born at Cordova, of Al-Ghazali family of lawyers, in the year 1126. T.J. De Boer, Op.Cit, h. 187; The twelfth-century philosopher Ibn Rushd also known as Averroes, is one of the most important philosophers of the Arab middle age. He played Al-Ghazali crucial role in the transmission of classical fhilosophy of Islam, nd his work had propound influence on western scholsticism and on aspects of renaissance thought. Urvoy Dominique, Ibn Rushd (Averroes): Arabic Thought and Culture, (London: Routedge, 1991), h. 1.

[17]Cordova terkenal sebagai pusat studi-studi filsafat. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h. 199.

[18]Ibid.

[19]Ketika Abu Ya’kub menjadi Amir, diperintahkannya Ibnu Rusyd untuk menulis ulasan-ulasan mengenai Aristoteles. Maka mulailah Ibnu Rusyd menuliskan ulasan-ulasan atas buku-buku Aristoteles. Untuk itu ia layak disebut sebagai “Juru Ulas”. Dan gelar itulah yang dikenal oleh masyarakat Eropa abad pertengahan. Ibid., h. 200-201.

[20]Orang-orang yang ahli dalam ilmu keagamaan (fuqaha dan Ulama) lebih dekat dengan massa dan terpengaruh oleh mereka. Para penguasa muslim yang membutuhkan dukungan mereka meninggalkan para filosof dan berpihak pada kepada massa yang berang. Aib dan siksaan yang diterimanya serta diusirnya dia dari tanah kelahirannya pada tahun 593 H/1196 M merupakan akibat dari pertentangan itu. Tetapi aib yang diderita oleh Ibnu Rusyd tidak berlangsung lama. Dan Al-Mansyur sekembalinya dari Marakusy, mengampuni dan memanggilnya kembali. Ibnu Rusyd pergi ke Marakusy dan dia meninggal pada tahun 595 H/1198 M. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h.  203.

[21]Dengan timbulnya pengaruh ulama dan fuqaha, kaum filosof mulai tak disenangi lagi dan buku-buku mereka dibakar. Ibnu Rusyd sendiri kemudian dipindahkan ke Maroko dan meninggal di sana dalam usia 72 tahun di tahun 1198 M. Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Op.Cit., h. 47; Tipu daya yang dilancarkan oleh kaum agamawan itu berhasil. Hal itu mengakibatkan Ibnu Rusyd bukan saja dihukum buang, tetapi juga tulisan-tulisannya dibakan dimuka umum. MM. Syarif. The Philosophies: History of Muslim Philosophy Op.Cit., h. 203.

[22]Sebenarnya ia sendiri terpengaruh oleh adanya pertentangan ilmu dan filsafat dengan agama. Agama memenagkan di Timur dan ilmu memengakan di Barat. Ibid., h. 202

[23]Ibid., h. 204.

[24]Ibid.

[25]Ibid., h. 206.

[26]Ibid.

[27]Ibid., h. 206-207.

[28]Abdul Munir Mulkhan, Op.Cit., h. 80.

Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan


Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan

Oleh:

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq

A. Pendahuluan

Menoleh jauh ke zaman pra sejarah, masyarakat di kawasan Nusantara (Indonesia) merupakan imigran dari berbagai kawasan. Menurut Buku Sejarah yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, terjadi empat periode imigrasi besar ke kawasan Nusantara, yaitu:

  1. 3.000 tahun yang lalu (1000 SM) sejumlah besar suku Mongol berimigrasi ke Kepulauan Indonesia.[1]
  2. Imigrasi kedua terjadi pada 2.000 tahun yang lampau, sekitar abad ke-1, termasuk sejumlah suku Yun Nan yang berimigrasi ke Selatan.[2]
  3. Imigrasi besar ketiga berasal dari India, pada abad VIII[3]
  4. Imigrasi besar keempat adalah penganut agama Islam dari Arabia, di Timur Tengah. Kebanyakan di antaranya yang kini menjadi orang-orang Pakistan. Terjadi pada abad XII.[4]

Dari sini diketahui bahwa periodisasi masuknya Islam ke Indonesia, tergolong dalam empat imigrasi besar yang membentuk ekosistem sosial budaya masyarakat Indonesia, termasuk dalam periode tersebut penyebaran Islam di Kalimantan Selatan. Setelah empat periode imigrasi besar tersebut, barulah masuk bangsa kolonial Eropa yang di mulai dari bangsa Portugis,[5] Spanyol,[6] Belanda[7] dan terakhir Jepang.[8]

Dalam perjalanan sejarah Indonesia tersebut, sejarah penyebaran Islam di Indonesia mempunyai bagian penting dalam tatanan sejarah Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan sebagai bagian dalam kawasan Indonesia. Dalam konteks ini, penulis menemukan beberapa catatan sejarah mengenai pendidikan Islam. Sesuai dengan lingkup kajian mengenai sejarah pendidikan Islam, maka dalam makalah ini akan penulis sajikan pembahasan pada lingkup sejarah pendidikan Islam di Kalimantan Selatan yang akan penulis awali dengan mengupas dari sejarah awal masuknya Islam di Kalimantan Selatan.

B. Selintas Sejarah Masuknya Islam Ke Kalimantan Selatan

Menurut Helius Syamsuddin dalam bukunya Islam and Resistence in South and Centre kalimantan in The Nineteenth and Early Twentieth Centuries menerangkan bahwa Islam masuk Kalimantan Selatan dari Jawa pada abad ke XVI, ketika Sultan Demak membantu Pangeran Banjar, Pangeran Samudera, untuk menghadapi Pangeran Temenggung dalam peperangan merebut tahta kerajaan, sebagai imbalannya, Pangeran samudera bersedia untuk memeluk Islam. Dia menjadi Sultan pertama Kesultanan Banjarmasin dengan gelar Sultan Suriansyah. Konversinya itu perlahan-lahan diikuti oleh diikuti oleh para pengikutnya dan orang-orang Banjar kecuali masyarakat Dayak di daerah pedalaman.[9]

Diterangkannya pula bahwa setelah konversi Sultan Suriansyah pada Abad XVI tersebut, tidak banyak lagi diketahui mengenai proses islamisasi sesudahnya, dalam arti intensitas pengajaran Islam pada masyarakat Banjar atan secara khusus, penyebaran Islam di kalangan masyarakat Dayak padalaman pada abad-abad selanjutnya. Barulah pada abad XIX ada bukti mengenai proses ini yang berasal dari ulasan-ulasan Schwaner dan Meijer dalam bukunya Borneo. Pada awalnya islamisasi terhadap masyarakat Daway di mulai di kalangan orang Bakumpai [sub-kelompok Dayak Ngaju]. Bakumpai Marabahan yang tinggal 57 km dari Banjarmasin, sering melakukan interaksi dengan masyarakat masyarakat Banjar, terutama dalam bidang perdagangan, yang diikuti dengan perkawinan antara orang Banjar dengan orang Bakumpai, yang menyebabkan mereka masuk Islam. Setelah konversi ini, mereka menyebut diri mereka sebagai “Orang Melayu”.[10]

Encyclopedia Britannica yang diterbitkan pada tahun 1963 mencatatkan bahwa bahasa Melayu menjadi bahasa bagi penduduk asli di semenanjung Tanah Melayu, di pantai timur Sumatera, di seluruh pantai Borneo (Kalimantan), di kepulauan Riau, di Bangka, di Belitung, dan di Natuna Besar.[11] D.J. Prentice berpendapat bahawa daerah penutur asli bahasa Melayu ialah di kawasan Tanah Melayu sehingga selatan Thailand (Pattani), di sepanjang pantai timur Sumatera, di kepulauan Riau, di sepanjang pesisir Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur, di Brunei, di pantai barat Sabah, di Sarawak, di Singapura, di Jakarta, di Larantuka, di Kupang, di Makasar, di Menado, di Ternate, di Banda, dan di Ambon. Selain wilayah Melayu, ternyata bahwa bahasa Melayu pun dapat ditemukan di Sri Lanka dan di Afrika Selatan.[12]

C. Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan

Tidak banyak catatan yang memberikan deskripsi sehubungan dengan sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan ini. Dari sekian literatur yang penulis temukan mengenai sejarah pendidikan di Kalimantan Selatan, pada umumnya merujuk pada tokoh Besar Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Hal ini menurut penulis cukup beralasan, karena sebagaimana diungkapkan Gubernur Kalsel Drs HM Sjahriel Darham bahwa Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari memiliki pemikiran-pemikiran yang sangat luar biasa pada kurun waktu 1710 sampai 1821 M, sampai mendapatkan gelar “Matahari Islam dari Kalimantan” dari Menteri Agama Republik Indonesia periode 1962-1967.

Hal ini menyangkut karyanya yang sangat monumental pada kitab Sabillah Muhtadin perlu terus diteladani, mengingat pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari mampu mendorong fenomena religius yang memberikan arti terhadap pengisian khazanah perkembangan agama Islam.[13]

Dalam beberapa sumber yang penulis dapatkan, usaha pendidikan Islam yang diupayakan oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dapat diklasifikasi menjadi tiga, yaitu pengakderan ulama, pengajaran terhadap masyarakat dan pendirian madrasah.

  1. Mengkader Ulama

Saat menunggu musim haji Syekh Arsyad kembali menemukan malam penuh berkah Lailatul Qadr. Saat itu beliau memohon kepada Tuhan, agar diberikan ilmu yang akan berlanjut sampai ke anak cucu tujuh turunan, bahkan turun temurun. Permohonan itu dikabulkan Tuhan. Banyak anak cucu dan zuriat beliau sampai sekarang dikenal sebagai tokoh panutan, menjadi orang alim atau ulama besar. Ada pula yang menjabat mufti semasa kerajaan Banjar dan masa pemerintahan Belanda.

Buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya perumpamaan itu berlaku pula pada diri Syekh Arsyad. Banyak anak cucu keturunan beliau menjadi orang yang ternama, terutama di bidang agama yang namanya tetap dikenang sampai sekarang, beberapa diantaranya adalah:

  1. Mufti H. Muhammad As’ad[14]
  2. Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis[15]
  3. Mufti H. Muhammad Arsyad bin H. M. As’ad[16]
  4. H. Abdul Rahman Siddiq bin Shafura.[17]
  5. H. Sa’duddin bin Mufti H. Muhammad As’ad.[18]
  6. Kadi H. Abu Su’ud bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.[19]
  7. H. M. Syarwani Abdan bin H. M. Yusuf.[20]
  8. H. Muhammad Khatib bin Mufti H. Ahmad.[21]
  9. Mufti H. Jamaludin.[22]
  10. Guru H. Zainal Ilmi bin H. Abdus Samad.[23]
  11. H. Zaini Abd. Ghani bin Abd. Ghani.[24]

Di antara kadernya yang lain, bukan keturunannya adalah:

  1. Syekh Muhammad Saleh bin Murid Ar-Rawa, penyusun kitab Fathul Mubin, suatu sarah dan terjemahan hadits Arba’in Imam Nawawi yang kedua kali dalam bahasa Melayu. Syekh Muhammad Saleh adalah penganut Khalwatiyah-Sammaniyah dan Tarikat Sariliyah.
  2. H. Abd. Ghoni yakni seorang yang menyebarkan Islam di Pontianak di Kalimantan Barat.[25]
  3. Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidillah yang mendapat didikan khusus dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, sehingga menjadi raja yang tinggi cita-citanya, cerdas pandai, berbicara dengan petah (ramah dan lembut), mempunyai pikiran yang bersih dan ilmu pengetahuan yang dalam.[26]

Banyak lagi murid-murid yang lain, yang tersebar di berbagai daerah Kalimantan Selatan atau Kalimantan secara keseluruhan bahkan menyebar ke seluruh Nusantara.

  1. Mendidik Masyarakat

Syekh Arsyad memahami betul bahwa mendidik masyarakat akan sangat efektif jika dimulai dengan berintegrasi dengan kekuasaan, Syekh Arsyad sebagai ulama yang telah berhasil menyatukan sultan sebagai elit penguasa dengan rakyatnya atas dasar ikatan ajaran Islam, sehingga tidak adanya jarak memisah, baik antara sultan dengan rakyat maupun antara umara dengan ulama. Hal ini bisa dicapai karena sistem pendekatan yang beliau lakukan beranjak dari bawah, baru setelah itu kepada penguasa atau sultan. Di samping itu memang sejak awalnya hubungan antara sultan dengan Syekh Muhammad Arsyad terjalin dengan baik.

Sebagai contoh, hukum waris dan pernikahan yang semula tidak berdasarkan kepada hukum Islam, secara perlahan dapat dirubah ketentuan-ketentuan hukum Islam yang memakai pedoman kitab Sabilal Muhtadin. Kalau sebelumnya sebahagian sultan sangat terkenal memelihara berpuluh-puluh gundik di dalam istana, maka atas nasehat Syekh Muhammad Arsyad, sultan menikah menurut ketentuan hukum Islam.

Di dalam kerajaan Banjar, hukum Had sempat pula diperlakukan kepada orang lain yang membunuh, murtad dan berziarah sebagai realisasi dari pada penerapan hukum Islam.

Misalnya hukum Had yang telah dijatuhkan kepada Haji Abdul Hamid yang telah mengajarkan Ilmu tasawuf kearah ajaran Wihdatul Wujud yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam. Haji Abdul Hamid mengajarkan bahwa.”Tiada maujud melainkan Dia, tiada wujud yang lainnya, tiada aku melainkan Dia, Dialah aku adalah Dia.” Dia juga mengatakan bahwa pelajaran syariat yang diajarkan selama ini hanyalah kulit saja belum sampai pada hakekat.[27]

Mendengar ajaran dan keterangan yang demikian, timbullah perselisihan faham di dalam masyarakat, untuk menjernihkan suasana, maka dipanggillah Haji Abdul Hamid ke istana untuk menghadap sultan. Namun dijawab oleh Haji Abdul hamid bahwa: “Tuhan tidak ada, yang ada hanya Abdul Hamid.” Akhirnya sultan menyerahkan permasalahan itu kepada Syekh Muhammad Arsyad unutk menyelesaikannya. Setelah meneliti persoalan itu secara cermat, barulah beliau mengambil kesimpulan bahwa ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh Haji Abdul Hamid dapat menyesatkan orang awam dan membawa kepada syirik. Melenyapkan seseorang untuk menyelematkan orang banyak dibolehkan menurut hukum, bahkan terkadang diwajibkan. Dengan kesimpulan yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Arsyad ini, maka sultan mengambil keputusan untuk menghukum bunuh Haji Abdul Hamid.[28]

Untuk melaksanakan hukum Islam secara riil di kerajan Banjar tidak mungkin tanpa adanya suatu lembaga hukum yang mengatur dan melaksanakannya. Oleh sebab itu maka dibentuklah Mahkamah Syar’iyah suatu lembaga pengadilan agama yang dipimpin oleh seorang mufti sebagai ketua hakim tertinggi pengawas pengadilan umum.[29]

Lembaga Qadhi ini kemudian berkembang menjadi kerapatan Qadhi dan sekarang berubah lagi menjadi Pengadilan Agama Tingkat Pertama dan Tingkat Banding, Pengadilan Agama Tingkat Banding berkedudukan di Banjarmasin sebagai penjelmaan dari terapan Qadhi Besar Banjarmasin.[30]

Hal ini memang telah jelas terlihat di dalam undang-undang Sultan Adam pasal 7 dan 8 yang membicarakan tentang tugas mufti.[31]

Melihat pentingnya peran lembaga hukum di dalam mengatur dan menjalankan hukum di dalam wilayah kerajaan Banjar, maka betapa besar jasa yang telah diberikan oleh Syekh Muhammad Arsyad di dalam kerajaan Banjar. Hal ini membuktikan bahwa Syekh Muhammad Arsyad telah mampu memasukkan ajaran-ajaran Islam di dalam peraturan pemerintah dan juga sebagai bukti adanya kerjasama yang baik antara Syekh Muhammad Arsyad dengan Sultan pada waktu itu.bentuk lain dari integrasi Syekh Arsyad dengan masyarakat lewat pendidikan dalam rangka mensejahterakan masyarakat. hal ini dimulai Syekh Arsyad dengan upaya meningkatkan kecerdasan dengan berupaya memberantas kebodohan sekaligus mengangkatnya dari lembah kemiskinan.

Kuatnya Syekh Arsyad dalam memberantas kebodohan dan mengangkat masyarakat dari kemiskinan khususnya bagi Ilmu agama dapat diketahui dari surat balasan yang dilayangkan kepada sahabatnya saat bermukim di Mekah, yaitu Syekh Abdul Samad Palembani.

Surat yang dikirim rekan dari Sumatra tersebut, berisi ajaran Syekh Arsyad berjihad fii sabilillah melawan umat yang beragama Budha di Siam. Namun ajakan rekannya tersebut gayung tak bersambut, bahkan dirinya pun sedang berperang.

Syekh Arsyad berperang melawan kebodohan seperti buta huruf dan agama membasmi syirik, khurafat, tahyul dan memerangi kemiskinan termasuk miskin Ilmu agama. KH. Jumri bin Haji Roys dalam bukunya berjudul Sejarah Kerajaan Banjar, menyatakan Syekh Arsyad berpendapat memerangi kebodohan dan kemiskinan pahalanya lebih besar atau lebih utama dari jihad fi sabilillah, dalam arti sempit yaitu berperang secara fisik.[32]

  1. Mendirikan Madrasah

Dalam lapangan pendidikan dan sistem penyebaran agama Islam tidak ditemukan adanya lembaga khusus yang terdapat seperti sekarang ini, meskipun berbentuk pesantren. Pendidikan hanya diberikan dalam lingkungan keluarga masing-masing dan ilmu-ilmu tertentu yang diperlukan dalam kehidupan, diperoleh dengan berguru kepada seseorang yang dianggap ahli secara individual. Hal demikian juga dilakukan di keraton, sebagaimana yang terjadi pada masa Syekh Arsyad tinggal di keraton karena Syekh Arsyad mulai melakukan dengan membuka sebuah perkampungan baru tempat mendirikan sebuah lembaga pendidikan.

Kepulangan Syekh Arsyad di Martapura disambut dengan upacara penyambutan,[33] karena sangat dinanti-nantikan pada waktu itu. Di keraton kesultanan ramailah sertiap hari karena masyarakat selalu mengunjunginya, untuk meminta nasehat atau mendengar ceramahnya, terkadang juga menanyakan berbagai masalah keagamaan, sebab pada masa itu tidak banyak ulama atau guru di daerah Banjar, apalagi yang mempunyai keilmuan yang sebanding dengan Syekh Arsyad.

Dengan melihat kecenderungan masyarakat terhadap pengetahuan, yang kian hari semakin bertambah mereka yang datang. Maka Syekh Arsyad mempunyai gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan secara tersendiri agar lebih terkoordinir, sehingga baik masyarakat umum maupun kalangan zuriatnya sendiri yang mengkhususkan untuk belajar dapat dilaksanakan.

Kemudian gagasan tersebut Syekh Arsyad sampaikan kepada sultan dan sultan sendiri menyambut baik ide yang disampaikan Syekh Arsyad, sebab sultan sendiri yang berkuasa saat itu mengaku murid beliau.[34] Maka tak mengherankan secara langsung menawarkan kepada Syekh Arsyad untuk memilih tempat yang sesuai dengan kondisi lembaga yang dikehendaki Syekh Arsyad tersebut.

Dengan sebuah tanah kosong yang telah diberikan sultan didirikan sebuah lembaga pendidikan. Tanah yang dipilih Syekh Arsyad untuk mendirikan lembaga tersebut berada di sekitar 5 Kilometer. dari keraton kesultanan (Martapura), yaitu di pinggir Sungai Martapura yang membentang dari Riam Kanan dan Riam Kiri menuju Banjarmasin. Tanah tersebut merupakan hutan belukar yang bisa digunakan adalah Jukung (perahu kecil) melalui sungai untuk menuju ke lokasi tersebut. Maka setelah ditebangi pepohonan didirikan beberapa buah bangunan, sebagaimana telah dikemukakan Zafry Zamzam bahwa “Syekh Arsyad mendirikan lembaga pendidikan dengan menyediakan pondok-pondok bagi penuntut ilmu yang berdatangan dari berbagai daerah.”[35] Menurut Yusuf Khalidi bahwa bangunan tersebut terdiri dari rumah istrinya sebanyak tiga buah, kemudian langgar dan perpustakaan yang sekaligus menjadi balai pengajian dan beberapa asrama santri yang tinggal di sana.

Kemudian di muka dan di samping lingkungan bangunan dibuatkan pagar sebagai perbatasan. Dari perkembangan lembaga tersebut jadilah sekarang ini kampung yang bernama kampung Dalam Pagar. Istilah Dalam Pagar tersebut karena batas pagar yang dibuat Syekh Arsyad untuk menjaga murid-murid agar tidak keluar masuk semaunya, juga setiap orang yang ingin berkunjung ke tempat Syekh Arsyad atau datang dari Dalam Pagar. Sekarang kampung dalam pagar sudah terbagi dua kampung yaitu Dalam Pagar Hulu inilah yang semula sebagai tempat lembaga pendidikan Syekh Arsyad, dimana sekarang adanya lembaga pendidikan Sullamul Ulum dan Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Dengan adanya lembaga pendidikan yang didirikan Syekh Arsyad pada waktu itu, sebenarnya merupakan yang pertama untuk daerah Kerajaan Banjar, karena bagaimana dikatakan sebelumnya tidak ada suatu lembaga yang jelas sebagai tempat pendidikan, seperti dikatakan oleh Shagir Abdullah bahwa:

“….sebagaimana method dan dakwah Islam masih kurang diketahui data-datanya. Setelah pulangnya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari Mekah barulah ada sistem secara ampuh dan kokoh…..”[36]

Maka dengan demikian Arsyadlah pelopor dalam pendirian lembaga pendidikan model pondok pesantren di daerah Banjar. Dalam waktu kurang 20 tahun lembaga pendidikan tersebut sudah mampu mempunyai lulusan yang berkualitas. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan lulusan tersebut untuk diterjunkan sebagai pendidik dan pendakwah, sebagai pewaris generasi tua terutama dari kalangan zuriatnya sendiri yaitu Muhammad As’ad dan Fatimah dua bersaudara dari Syekh Arsyad. Namun dengan hasil tersebut bukan berarti Syekh Arsyad sudah menyerahkan begitu saja tongkat kepemimpinan dalam lembaga tersebut, akan tetapi terus mengupayakan agar bagaimana lebih tepatnya digunakan. Melihat kedatangan orang-orang yang kian hari semakin bertambah untuk belajar di tempat tersebut, maka sementara waktu kedua lulusan itu ia jadikan sebagai pendamping dalam lembaga pendidikan untuk memberikan pengajaran kepada murid-murid yang mempelajari ilmu-ilmu agama dalam tahap permulaan atau sebagian ilmu alat seperti Bahasa Arab (Nahwu, Syaraf dan sebagainya) untuk murid laki-laki Syekh Arsyad memberikan kepercayaan kepada Muhammad As’ad, sedangkan untuk pengajaran kaum wanitanya diberikan kepercayaan kepada Fatimah.[37]

Mencermati pendidikan Syekh Arsyad, kita bisa melihat pengembangan secara sistematik dari paradigma sampai praktis, dalam paradigma dia mengembangkan orientasi baru meskipun tidak radikal tetapi cukup membuat bergeser dari padigma lama yang cenderung pada pengembangan rohaniah-ukhrawi semata-mata berubah menjadi padigma baru yang tidak saja mengembangkan aspek rohaniah-ukhrawi melainkan juga memberi perhatian besar terhadap pengembangan aspek rohaniah-duniawi, di samping itu ia juga melakukan perubahan cukup mendasar dari tasawuf yang asosial dan penuh spekulasi-spekulasi Illahiyah yang membahayakan dan sangat anti syariat bahkan dianggap sebagai hijab penghalang pertemuan hamba dengan Tuhan, mengganti dengan pengharmonisan hubungan tasawuf dengan syariat yang saling menerima dan memberi satu sama yang lain, karena keduanya merupakan kesatuan utuh yang tak bisa dipisahkan satu sama lain yang ibarat sebuah koin yang mempunyai dua sisi, salah satu sisi rusak membuat sisi lain tidak berguna.

Dari aspek institusi Syekh Arsyad telah mengembangkan institusi pendidikan yang sebelumnya sangat sederhana hanya semacam pengajian di langgar, mesjid, rumah kepala desa, rumah guru dan rumah tatuha menjadi institusi pendidikan yang cukup lengkap yang bisa dikatakan semacam pesantren atau surau yang ada asrama murid tempat belajar perpustakaan rumah guru, aula pertemuan dan sebagainya, bahkan institusi ini diciptakan lingkungan kerja sehingga murid-muridnya bisa belajar sambil bekerja, dari aspek metodologi Syekh Arsyad juga melakukan perluasan yang cukup signifikan sebelumnya metodologi pendidikan sangat sederhana hanya metode halakoh, di mana guru mengajar dikelilingi oleh murid-muridnya tanpa ada diskusi yang terbuka. Setelah Syekh Arsyad datang dan berperan dalam pendidikan ia mengembangkan metodologi yang tidak halakoh semata-mata, tetapi juga ada metode ceramah yang biasanya banyak ia lakukan di langgar, pesantren dan balai perpustakaan.[38] Kemudian ia juga menerapkan metode tanya jawab dimana bisa ia bertanya murid-murid yang menjawab, atau sebaliknya murid-murid bertanya ia menjawab. Hal ini terlihat pada karyanya yaitu kitab Sabilal Muhtadin dan Tuh Faturragibin, sebagai contoh:

مَسَالَهْ: جِيْكَا تِيَدَا مَلِيْهَةْ إِيَ  أَكَنْ دَارَهْ نِيْفَسْ سَكَلِي كَلِي أَدَاكَهْ هَارُسْ بَاكِى سُوَامِيْثَ مَوَطَ دَارِ فَدَ مَنْدِي أَتَوْ تَيَمُمْ.

Masalah:  ”Jika tak melihat sedikitpun darah nifas haruskah suaminya menyuruh dia mandi atau tayamum.”[39]

Pernyataan demikian dalam tiap pengajaran Syekh Arsyad sering kali diberikan masalah kemudian dilontarkan, apabila tidak ada satupun yang dapat menjawab dengan tepat barulah ia memberikan arahan.

Contoh yang lain:

سُأَلْ         : بَرَفَ فَرْكَرَ رُكُنْ تَوْبَةْ يَغْ مَغْكُوْكُرْكَنْ دُوْسَا؟

جَاوَبْ       : أَدَافُنْ رُكُنْ تَوْبَةْ يَغْ مَغْكُوكُرْكَنْ دُوْسَا إِيْتُوْ تِيْكَا فُرْكَارَ.

Soal       :“Berapakah rukun taubat yang mennghapuskan dosa.

Jawab    :”Rukun taubat yang menghapuskan dosa ada tiga perkara”[40]

Hal ini lebih menunjukkan lagi bahwa tanya jawab bagi Syekh Arsyad merupakan satu yang sangat penting dalam pendidikan.

Di samping itu ia juga menerapkan metode memberikan contoh, di mana para muridnya mencatat penyampaian yang dia berikan disela-sela kitab yang dibaca. Selanjutnya ia juga memakai metode Takhasus di mana murid-murid yang berbakat dalam bidang tertentu terutama tasawuf, ia bimbing secara khusus dalam waktu yang tertentu pula, selain itu ia juga menerapkan metode belajar sambil bekerja di mana kebanyakan muridnya meskipun belajar secara rukun tetapi diberi juga tugas untuk bekerja di sawah sebagai petani atau diperkampungan Dalam Pagar.

Dari aspek isi atau materi Syekh Arsyad mengembangkan sedemikian jauh dari sebelumnya. Kalau dahulu materi pendidikan terbatas pada pengajaran Al-Quran, sedikit tentang fiqih (terutama pelajaran shalat, wudhu dan azan) dan cukup mendalam pelajaran tasawuf, namun sayangnya sudah tanpa kendali syariat. Setelah zaman Syekh Arsyad materi pendidikan tidak sekedar belajar Al-Quran tetapi sekaligus pelajaran tafsir, tajwid, qira’at, khat, kaligrafi, juga bahasa Arab dengan berbagai seluk-beluknya. Dalam fiqih tidak semata-mata pelajaran shalat, wudhu dan azan tetapi juga mencakup seluruh aspek ibadah dan muamallah. Dalam bidang aqidah juga diajarkan oleh Syekh Arsyad terutama aqidah yang beraliran Ahwalul Sunnah Waljama’ah yang sebelumnya tidak diabaikan. Dalam tasawuf ia membawa angin baru semacam ajaran tasawuf yang sudah diperbaharui yakni non-sufisme dalam tarikat yang mengharmoniskan antara tasawuf palsafi dan tasawuf amali (ajaran Ibnul Arabi dengan ajaran Al-Ghazali), antara zuhud dan jihad. Selain itu ia juga mengajarkan ilmu falak, keterampilan berdagang, keterampilan bertani dan keterampilan berpolitik terutama sebagai mufti dan qadhi.

Dalam tinjauan kekinian, nilai-nilai sejarah dalam pendidikan Islam di Kalimantan Selatan masih meninggalkan kesan yang cukup monumental. Martapura sebagai ibukota Kotamadya Banjar[41] diberi gelar Kota Serambi Mekkah. Marwah ini tidak lepas dari peran pesantren, seperti yang diungkapkan KH. Abdul Syukur dalam buku Kota Serambi Mekkah, bahwa secara kuantitatif Martapura mempunyai pesantren lebih banyak dibandingkan daerah lainnya di Kalimantan Selatan. Adapun pesantren tertua dan sangat terkenal adalah Pesantren Darussalam.[42]

Dalam sebuah buku bertajuk biografi Ny. Hj. Asmah Sjachruni diberikan gambaran nilai pendidikan Islam dalam aspek sosiologis pada awal masa pasca kemerdekaan Indonesia. Dalam buku tersebut dikutib perkataan Ny. Hj. Asmah Sjahruni sebagai berikut:

“Pendidikan kala itu sangat terbatas. Untuk pendidikan agama orang bisa menambahnya di surau,atau semacam pesantren. Ayah telah mengajarkan saya bagaimana membaca al-Qur`an dengan baik. Ayah juga mengajarkan saya fiqih dan tauhid secara dasar. Untuk pendidikan umum (Sekolah Rakyat) Lima Tahun yang dibuat dua jenjang. Pertama hingga kelas tiga dan mendapat ijazah. Lantas dilanjutkan jenjang kedua kelas empat dan lima.”[43]

Periode terakhir perkembangan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan, barangkali masih dapat dirasakan. Banyak perkembangan dan pengembangan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan ini. Salah satunya di sini penulis kemukakan sebuah berita pada harian Banjarmasin Post edisi tanggal 1 Juli 2002 sebagai berikut:

“Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mukarramah, Sungai Danau, Kecamatan Satui, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, bermaksud membangun sarana dan prasarana pendidikan serta sosial (Pensos) terbesar untuk wilayah Kalimantan.”[44]

Salah satu contoh lainnya,

D. Penutup

Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan dalam lintasan sejarah mempunyai kebanggan tersendiri, dengan terbitnya seorang yang mendapat gelar “Matahari Islam dari Kalimantan”. Akankah cahaya matahari pendidikan itu akan tetap menerangi jejak langkah pendidikan Islam sekarang?

Artikel ini merupakan Makalah yang saya tulis untuk mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam (Program Pasca Sarjana IAIN Antasari Banjarmasin)

RESUME:


[1]Rute perjalanan suku Mongol ini mula-mula ke Han Chong (daratan Cina Tengah), kemudian Yun Nan, Thailand, Semenanjung Malaka, Sumatra, Jawa, akhirnya tersebar ke Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Kepulauan lainnya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Pendidikan Sejarah, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), h. 74.

[2]Suku Yun Nan sebenarnya adalah suku Mongol yang mula-mula, setelah imigrasi ke Selatan berbaur dengan suku setempat. Jalur perjalanan imigran kedua ini sama dengan yang pertama. Alasan imigrasi adalah karena kekacauan akibat peperangan, perdagangan, mencari tempat tinggal yang lebih aman dan sejahtera. Ibid, h. 75.

[3]Mereka memakai jalur darat dan laut: Lautan Hindia, Thailand, Myanmar ke Sumatra, Jawa, dan kemudian pada abad ke-2 mendirikan Kerajaan Prambanan di Jawa Tengah. Sampai pada abad ke 8, penganut agama Budha dari Cina dan India datang dan mendirikan Kerajaan Sriwijaya di Palembang, Sumatra Selatan. Ibid.

[4]Pada abad ke-12, dengan amanat untuk menaklukkan dunia bagi Islam, mereka datang ke Aceh, Sumatra Utara, Kalimantan, kemudian ke Selatan, tiba di Pulau Jawa, dan mendirikan Kesultanan Banten. Sesudah itu ekspansi ke Timur Laut menaklukkan Sulawesi, dan ke Utara sampai ke Pulau Mindanao, Filipina Selatan. Pada abad ke-15, tentara Spanyol menaklukkan Pulau Luzon, kemudian ke Selatan menghambat rencana ekspansi Islam ke utara ke Pulau Luzon itu. Ibid., h. 76. Keterangan mengenai empat periode imigrasi besar tersebut juga bisa dilihat dalam buku Dr. Peter Wongso, Hamba Tuhan dan Jemaat Kristus Yang Melintas Jaman, (Jakarta: Seminar Al-Kitab Asia Tenggara [TAAT], 1997), h. 52.

[5]Kolonialisme Eropa Barat pertama yang berekspansi ke Timur adalah Portugis, yang mulai menaklukkan Goa di pantai Barat India, kemudian menyeberangi selat Malaka di Lautan Hindia, tiba di Pulau Jawa, memerintah Indonesia selama kurang lebih 100 tahun lamanya. Ibid., h. 60.

[6]Bangsa Spayol menjajah pulau Luzon. Ibid., h. 61.

[7]Pada abad ke-16, Belanda menyerang Indonesia, mengusir Portugis dan menjajah Indonesia selama 350 tahun lamanya. Ibid.

[8]Lihat: Ibid., h. 67.

[9]Helius Syamsuddin, Islam and Resistence in South and Centre kalimantan in The Nineteenth and Early Twentieth Centuries, Terj.: Najib Kaelani dan Muhammad Faqih De Ridha, Islam dan Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Tengah Pada Abad 19 dan Awal Abad 20, (Banjarmasin: Pusat Studi dan Pengembangan Borneo, 2002), h. 1.

[10]Ibid., h. 2; Pada Masa itu, Melayu begitu bersinonim dengan Islam, sehingga ada anggapan bahwa kalau seseorang itu Melayu, dia mestilah Islam. Sekarang, nampaknya tanggapan itu telah bergeser kerana tidak dapat dinafikan bahwa ada sebilangan kecil orang Melayu yang bukan Islam lagi. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa bahasa dan bangsa Melayu telah tersebar bukan sahaja di Asia Tenggara, malah di luar dunia Melayu. Menurut C.A. Mess, bahasa Melayu terdapat di Tanah Melayu, di pantai timur laut Sumatera, di kepulauan Riau, di Palembang, di Kampar, di Jambi, di Medan, serta di pantai Kalimantan. Lihat: C.A. Mess, Ranah Melayu, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 98; Menurut R.O. Winstedt, bahasa Melayu terdapat di semenanjung Tanah Melayu, termasuk di negeri Selat, di Pattani, di kepulauan Riau, di pantai timur Sumatera, dan di pantai barat Borneo. Lihat: R.O. Winstedt, Asian and Indonesian, (London: Oxport University, 1979), h. 233.

[11]Willian Benton, Encyclopedia Britannica, (USA: Encyclopaedia Britannica, Inc., 1979), h. 365.

[12]D.J. Prentice, Peradaban Malaka, (Serawak, Malaysia: Al-Maktabatul-Kaber, t.th.), h. 106.

[13]Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Tak Dimakan Sejarah, (Banjarmasin: Bpost, 2003) Edisi. 6 Oktober 2003, h. 5.

[14]Cucu pertama Syekh Arsyad yang mewarisi ilmu langsung dari kakeknya, hapal Al Quran, menguasai Tafsir, Hadist dan Fiqih, serta menjabat mufti pertama di kerajaan Banjar. Ibunya Syarifah yang kawin dengan Usman. Re Nadalsyah, Buah yang jatuh Tidak Akan Jauh Dari Pohonnya, Banjarmasin Post, (Banjarmasin), 16 Mei 1997, h. 4.

[15]Ulama perempuan dan adik seibu Muhammad As’ad yang juga mewarisi pengetahuan kakeknya, Fatimah dikenal dengan karyanya Kitab Parukuanan Besar. buku ini sampai sekarang masih digunakan sebagai dasar belajar fiqih dan tersebar sampai ke Malaysia, Vietnam dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Ibid.

[16]Anak keempat Mufti H. M. As’ad cicit Syekh Muhammad Arsyad yang dikenal dengan julukan mufti lamak, pernah belajar beberapa tahun di Mekah dengan ulama besar di zamannya. Diangkat menjadi mufti kerajaan Banjar. Di antara murid beliau, sultan Adam Al-Waiq Billah. Ibid.

[17]Zuriat kelima dari pihak ibu dan generasi keempat dari pihak nenek ulama terkenal yang banyak menulis kitab dalam bahasa melayu bukunya Syaratul Arsyadiyah dijadikan rujukan untuk mengetahui silsilah Sekh Muhammad Arsyad yang tersebar sampai di Malaysia, Brunei, Fathani dan sebagainya. Belajar di Mekah setelah pulang berangkat ke Sapat Tanbilanan diminta masyarakat disana. Diangkat sebagai mufti wilayah Indragiri. Beliau menunjuk Tuan Guru H. Anang (Zainal Ilmi sebagai pengganti mengajar di dalam pagar). Ibid.

[18]Cicit kelima yang mewarisi ilmu dari orang tua dan datuknya, menguasai ilmu syariat dan hakikat. Sejak kecil mendampingi orang tua berdakwah. Selama lebih kurang 10 tahun belajar di Mekah. Setelah pulang memberikan pelajaran dan pemurah dan berani memberantas kebathilan bahkan menolak jabatan mufti untuk menggantikan kakaknya Mufti H. Muhammad Arsyad. Ibid.

[19]Anak Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari istri Tuan Bidur mewarisi pelajaran dari orang tua, menjadi qadhi pertama dan guru sultan Sulaiman. Pernah tinggal di Kedah, Malaysia atas permintaan masyarakat kawin dan membuka pengajian. Ibid.

[20]Keturunan beliau itu menguasai ilmu tarikat Nasysyabandiyah dan Sammaiah belajar dari ulama terkenal, Syekh Muhammad Amin qutbi dan Ali bin Abdullah Al-Banjari untuk ilmu tasawuf. Membuka pengajian di Bangil yang disebut Pondok Pesantren Datuk Kalampayan. Muridnya banyak menjadi ulama yang tersebar di Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Ibid.

[21]Terkenal dengan kesederhanaannya Mansyur sebagai wali setelah meninggal karena kuatnya kemanakan beliau, H. Abd. Rahman Siddiq menyimpan rahasia ketika Mufti H. Abd. Rahman Siddiq belajar di Mekah sering melihat beliau tawaf keliling Ka’bah padahal paman beliau itu berada di Banjar (Martapura). Ibid.

[22]Terkenal sebagai ulama pemurah, ramah dan disegani masyarakat, termasuk pejabat pemerintah Belanda. Beberapa tahun belajar di Mekah bersama paman beliau ulama Besar Syekh Muhammad Athailah. Mufti yang selalu berusaha meningkatkan syiar Islam dan kemudahan beribadah. Beliau mengukir makam Syekh Muhammad Arsyad dengan kaligrafi yang indah. Dimakamkan di depan rumah beliau yang terkenal dengan nama kubah di Sungai Jingah. Ibid.

[23]Ulama yang berpengaruh dalam masyarakat dan pejabat pemerintah di Kabupaten Banjar baik sipil maupun ABRI. Di antara guru beliau yang terkenal ialah Mufti H. Abd. Rahman Siddiq, yang menunjuknya pengganti mengajar karena keberangkatan beliau Ke Sapat Tambilahan Riau. Terkenal keramat beliau sewaktu terjadi kebakaran begitu pula tanda-tanda saat beliau wafat, kuburan beliau berada di sebelah kanan bangunan makam Syekh Muhammad Arsyad A-Banjari di desa Kalampayan Martapura. Ibid.

[24]Keturunan Syekh Muhammad Arsyad yang paling dicintai masyarakat dan terkenal pula di kalangan petinggi pemerintah memiliki kemampuan berkomunikasi dengan seluruh kalangan dan menguasai berbagai disiplin Ilmu agama termasuk tasawuf dan Ilmu tarikat. Pengajian di Sekumpul Martapura selalu dihadiri ratusan muslimin dari berbagai penjuru Kalimantan Selatan. Beliau memiliki berbagai keramat seperti mendatangkan buah rambutan sebelum musimnya juga memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit. Menelorkan beberapa karya tulis antara lain Manakip Syekh Muhammad Saman Al-Madhani dan Risalah Nuraniyah. Ibid.

[25]Ia seorang ulama besar yang disegani dan disayangi oleh segenap masyarakat Pontianak. Abu Daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Dalam Pagar: Sullamul Ulum, 1996), h. 63-64.

[26]Dialah yang menguasai Negeri Banjar, yang selalu berusaha memperbaiki urusan agama dan dunia, pimpinan yang benar dan ikutan yang mulia. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Sabilal Al-Muhtadin lil Al-Tafaqquh fi Amr Al-Din, (Mesir: Darun Ahya, t.th.), Cet. III, h. 3.

[27]Abu daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Tuan Haji Besar, (Martapura: Sullamul Ulum, 1980), h. 48.

[28]Dr. Karel. A. Steenbrink menilai bahwa, peristiwa yang terjadi di atas kemungkinan besar cerita ini versi Banjar saja dari cerita Syekh Siti Jenar dan cerita Siti Jenar pun sebenarnya juga hanya merupakan versi Jawa riwayat tentang Al-Hajjaj. Steenbrink beralasan bahwa antara Banjar dan Jawa mempunyai hubungan yang sangat erat, sehingga Banjar mendapat pengaruh dari Jawa. Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, (Jakarta: Bulan bintang, 1984), h. 49.

[29]Lembaga ini mengurusi masalah-masalah keagamaan yang timbul dalam masyarakat, agar senantiasa terpimpin kepada kebenaran umum. Mufti sebagai ketua Mahkamah Syar’iyah didampingi oleh seorang Qadhi yang berfungsi sebagai pelaksana hukum dan mengatur jalannya pengadilan, seperti soal nikah, talak, rujuk, pembagian harta warisan dan lain sebagainya. Yusuf Khalidi, Ulama Besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, (Banjarmasin: Aulia, 1968), h. 40.

[30]Karel. A. Steenbrink memberikan suatu analisa bahwa undang-undang Sultan Adam yang diterapkan tahun 1835, memberikan kesan bahwa kedudukan mufti mirip dengan Mahkamah Agung yang ada sekarang dan berfungsi pula sebagai lembaga naik banding dari Mahkamah Biasa. Karel A. Steenbrink, Loc.Cit.

[31]Di dalam pasal 7 disebutkan bahwa, mufti ditugaskan memberikan fatwa kepada orang yang hendak berhukum. Sedang di dalam pasal 8 disebutkan, bila orang yang hendak meminta fatwa itu mengatakan disuruh Sultan, orang tersebut harus memperlihatkan bukti dengan cap Sultan. Amir Hasan Kyai Bondan, Suluh Sejarah Kalimantan, (Banjarmasin: MAI fajar, 1953), h. 152.

[32]Am Ramadhani, Berantas Kebodohan Lebih Utama Dari Jihad, Banjarmasin Post, (Banjarmasin), 4 April 1997.

[33]Abu Daudi, Op.Cit., h. 45.

[34]Ibid, h. 36.

[35]Zafri Zamzam, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Ulama Besar Juru Dakwah, (Banjarmasin: Karya, 1974), h. 7.

[36]Shagir Abdullah, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Pengarang Sabilal Muhtadin, (Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniah, 1990), h. 50.

[37]Abu Daudi, Op.Cit., h. 42.

[38]Shagir Abdullah, Op.Cit., h. 51.

[39]Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Sabilal Muhtadin lil tafaqquh fi Amr Al-Din, (Beirut: Darul Al-Fikr, t.th.), h. 34.

[40]Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Tuhfatur Raghibin, Juz. I, (Surabaya: Ibnu Sa’ad Al-Nabhan, t.t.h.), h. 22.

[41]Kabupaten Banjar dibentuk pada tanggal 14 Agustus 1950, dengan Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Nomor 186/PB/92/14 Jo. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Undang-undang Pokok Pemerintahan di Daerah tanggal 14 Agustus 1950 dengan sebutan Daerah Otonom Kabupaten Banjarmasin. KH. Abdul Syukur dalam buku Kota Serambi Mekkah (Kalimantan Selatan: CRDS, 2001), h. 2.

[42]Ibid., h. 3.

[43]Nahdatul Ulama Kalimtan Selatan, Asmah Sjachruni : Muslimat Pejuang Lintas Zaman, (Banjarmasin: h. 14)

[44]Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mukarramah Bangun Sarana Pensos Terbesar di Kalimantan, (Banjarmasin: Bpost, 2002), edisi 1 Juli 2002, h. 3.

Kembali ke awal

Memahami Essensi Hari Valentine Dalam Tinjauan Sejarah


Berbagai asumsi terhadap perayaan hari Valentine sebagai simbol hari kasih sayang memang banyak dimuntahkan oleh berbagai kalangan. Ada yang menerima keberadaan hari Valentine sebagai simbol perayaan hari kasih sayang tahunan, ada pula yang menolaknya. Dalam posting ini saya tidak mempermasalahkan tentang pertentangan pendapat tersebut. Di sini saya hanya memaparkan sejarah hari Valentine tersebut.

Sedikit Deskripsi tentang hari Valentine

Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day), pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-muasalnya yang tidak begitu jelas, ada yg menyebutkan Valentine sebagai sebuah hari raya Katolik Roma sebagaimana didiskusikan di artikel Santo Valentinus. Hari raya ini tidak mungkin diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir Abad Pertengahan ketika konsep-konsep seperti ini diciptakan.

Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran item dan catatan dalam bentuk “valentines”. Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan catatan pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.

Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah hubungan serius. Sebenarnya valentine itu Merupakan hari Percintaan, bukan hanya kepada Pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal Percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta.

Di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik “Happy Valentine’s”, yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka, ataupun, teman pria kepada teman prianya dan teman wanita kepada teman wanitanya.

Sejarah Hari Valentine

Perayaan Keseburan Bulan Pebruari

Asosiasi pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulu kala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus menyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.

Hari Raya Gereja

Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), nama Valentinus sekurang-kurangnya merujuk pada tiga martir atau Santo (orang suci) yang berbeda:

  • Seorang pastur di Roma
  • Seorang uskup Interamna (modern Terni)
  • Seorang martir di provinsi Romawi Africa

Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus di Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St.Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyu dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Valentinius

Guru ilmu Gnostisisme yang memiliki pengaruh Valentinius, adalah seorang calon uskup Roma pada tahun 143. Dalam ajarannya, tempat tidur pelaminan memiliki tempat yang utama dalam versi Cinta Kasih Kristianinya. Penekanannya ini jauh berbeda dengan konsep dalam agama Kristen yang umum. Stephan A. Hoeller, seorang pakar, menyatakan pendapatnya tentang Valentinius mengenai hal ini: “Selain sakramen permandian, penguatan, ekaristi, imamat dan perminyakan, aliran gnosis Valentinius juga secara prominen menekankan dua sakramen agung dan misterius yang dipanggil “penebusan dosa” (apolytrosis) dan “tempat pelaminan”.

Era abad pertengahan

Catatan pertama yang hubungkan hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa

For this was sent on Seynt Valentyne’s day
When every foul cometh there to choose his mate
Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus
Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya

Pada zaman itu, bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka suatu icon Valentine. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:

  • Sore hari sebelum Santo Valentinus gugur sebagai martir (orang suci dalam ajaran Katolik), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis, “dari Valentinusmu“.
  • Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.

Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan kegugurannya sebagai martir.

Hari Valentine pada era modern

Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary”.)

_____________________

Santo Valentine

Link: Anda bisa merefensikan data tentang Valentine disini

Related Link:

Siddhartha Gautama (Sang Budha)
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd
Rasyid Ridha
Ibnu Sina
Kisah-Kisah para Nabi

Siddhartha Gautama (Sang Budha) Dalam Pandangan Khairil Yulian Ibn Ruslan Abd Al-Ghani


PEMBERITAHUAN

Apapun anggapan anda terhadap posting saya kali ini, saya tidak bisa menampiknya. Anda boleh berpandangan apa saja tentang saya, atau tentang tulisan saya ini. Saya hanya punya satu harapan, posting ini tidak melahirkan kontroversi SARA, karena ini hanya pemikiran saya semata, yang lemah referensi, dan tidak ada konfirmasi dari sumber dan saksi, serta tidak melalui proses sterilisasi essensi.

****************

Siddhartha Gautama (Sang Budha)
Dalam Pandangan Khairil Yulian

Gautama Buddha dilahirkan dengan nama Siddhartha Gautama (Sanskerta: Siddhattha Gotama; Pali: “keturunan Gotama yang tujuannya tercapai”), dia kemudian menjadi sang Buddha (secara harfiah: orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna). Dia juga dikenal sebagai Shakyamuni (‘orang bijak dari kaum Sakya’) dan sebagai sang Tathagata. Siddhartha Gautama adalah guru spiritual dari wilayah timur laut India yang juga merupakan pendiri Agama Buddha[1] Ia secara mendasar dianggap oleh pemeluk Agama Buddha sebagai Buddha Agung (Sammāsambuddha) di masa sekarang. Waktu kelahiran dan kematiannya tidaklah pasti, sebagian besar sejarawan dari awal abad ke 20 memperkirakan kehidupannya antara tahun 563 SM sampai 483 SM; baru-baru ini, pada suatu simposium para ahli akan masalah ini,[2] sebagian besar dari ilmuwan yang menjelaskan pendapat memperkirakan tanggal berkisar antara 20 tahun antara tahun 400 SM untuk waktu meninggal dunianya, sedangkan yang lain menyokong perkiraan tanggal yang lebih awal atau waktu setelahnya.

Siddhartha Gautama merupakan figur utama dalam agama Buddha, keterangan akan kehidupannya, khotbah-khotbah, dan peraturan keagamaan yang dipercayai oleh penganut agama Buddha dirangkum setelah kematiannya dan dihafalkan oleh para pengikutnya. Berbagai kumpulan perlengkapan pengajaran akan Siddhartha Gautama diberikan secara lisan, dan bentuk tulisan pertama kali dilakukan sekitar 400 tahun kemudian. Pelajar-pelajar dari negara Barat lebih condong untuk menerima biografi Sang Buddha yang dijelaskan dalam naskah Agama Buddha sebagai catatan sejarah, tetapi belakangan ini “keseganan pelajar negara Barat meningkat dalam memberikan pernyataan yang tidak sesuai mengenai fakta historis akan kehidupan dan pengajaran Sang Buddha.”[3]

Orang tua

Ayah dari Pangeran Siddhartha Gautama adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Ratu Mahā Māyā Dewi. Ibunda Pangeran Siddharta Gautama meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran. Setelah meninggal, beliau terlahir di alam/surga Tusita, yaitu alam surga luhur. Sejak meninggalnya Ratu Mahā Māyā Dewi, Pangeran Siddharta dirawat oleh Ratu Mahā Pajāpati, bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana.

Riwayat hidup

Kelahiran

Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 563 SM di Taman Lumbini, saat Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan pohon sal. Pada saat ia lahir, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin sedangkan yang lainnya hangat. Arus tersebut membasuh tubuh Siddhartha. Siddhartha lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai.

Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala, diramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang Buddha. Hanya pertapa Kondañña yang dengan tegas meramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena apabila Sang Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan Sang Raja, para pertapa itu menjelaskan agar Sang Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa. Bila tidak, ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu adalah:

  1. Orang tua,
  2. Orang sakit,
  3. Orang mati,
  4. Seorang pertapa.

Masa kecil

Sejak kecil sudah terlihat bahwa Sang Pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah. Pada saat berusia 7 tahun, Pangeran Siddharta mempunyai 3 kolam bunga teratai, yaitu:

  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Biru (Uppala)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Merah (Paduma)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Putih (Pundarika)

Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Pangeran Siddharta menguasai semua pelajaran dengan baik. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai sayembara. Dan saat berumur 16 tahun, Pangeran memiliki tiga Istana, yaitu:

  • Istana Musim Dingin (Ramma)
  • Istana Musim Panas (Suramma)
  • Istana Musim Hujan (Subha)

Masa dewasa

Kata-kata pertapa Asita membuat Raja Suddhodana tidak tenang siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua, dan kematian, sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.

Suatu hari Pangeran Siddharta meminta ijin untuk berjalan di luar istana, dimana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya “Empat Kondisi” yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang suci. Pangeran Siddhartha bersedih dan menanyakan kepada dirinya sendiri, “Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini!”. Pangeran Siddharta berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban tersebut.

Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan duniawi. Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya, Canna. Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai pertapa.

Setelah itu Pangeran Siddhartha meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan mati. Pertapa Siddharta berguru kepada Alāra Kālāma dan kemudian kepada Uddaka Ramāputra, tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh yang diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima orang pertapa. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrim itu dan bermeditasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan Penerangan Agung.

Masa pengembaraan

Di dalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama dan pertapa Udraka Ramputra. Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya. Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magadha untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruwela, di tepi Sungai Nairanjana yang mengalir dekat Hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di Hutan Uruwela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakekat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.

Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang tua sedang menasihati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana dengan mengatakan:

Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu.

Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja, pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya, “Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna.”

Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan penggoda yang dahsyat. Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan iman yang teguh kukuh, akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur.

Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender lunar. Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Sang Siddharta memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.

Penyebaran ajaran Buddha

Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain: Buddha Gautama, Buddha Shakyamuni, Tathagata (‘Ia Yang Telah Datang’, Ia Yang Telah Pergi’), Sugata (‘Yang Maha Tahu’), Bhagava (‘Yang Agung’) dan sebagainya. Lima pertapa yang mendampingi Beliau di hutan Uruwela merupakan murid pertama Sang Buddha yang mendengarkan khotbah pertama Dhammacakka Pavattana, dimana Beliau menjelaskan mengenai Jalan Tengah yang ditemukan-Nya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya yang menjelaskan “Empat Kebenaran Mulia”.

Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, saat ia menyadari bahwa tiga bulan lagi ia akan mencapai Parinibbana.

Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).

Sifat Agung Sang Buddha

Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan Kasih Sayang (karuna). Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak terbatas oleh waktu dan selalu abadi, karena telah ada dan memancar sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda samsara yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan batinnya. Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas, yaitu

  1. Berusaha menolong semua makhluk.
  2. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.
  3. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.
  4. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.

Buddha Gautama pertama melatih diri untuk melaksanakan amal kebajikan kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari sepuluh tindakan yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan pikiran, yaitu

  • Tubuh (kaya): pembunuhan, pencurian, perbuatan jinah.
  • Ucapan (vak): penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar, percakapan tiada manfaat.
  • Pikiran (citta): kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang salah.

Cinta kasih dan kasih sayang seorang Buddha adalah cinta kasih untuk kebahagiaan semua makhluk seperti orang tua mencintai anak-anaknya, dan mengharapkan berkah tertinggi terlimpah kepada mereka. Akan tetapi terhadap mereka yang menderita sangat berat atau dalam keadaan batin gelap, Sang Buddha akan memberikan perhatian khusus. Dengan Kasih Sayang-Nya, Sang Buddha menganjurkan supaya mereka berjalan di atas jalan yang benar dan mereka akan dibimbing dalam melawan kejahatan, hingga tercapai “Pencerahan Sempurna”.

Sebagai Buddha yang abadi, Beliau telah mengenal semua orang dan dengan menggunakan berbagai cara Beliau telah berusaha untuk meringankan penderitaan semua makhluk. Buddha Gautama mengetahui sepenuhnya hakekat dunia, namun Beliau tidak pernah mau mengatakan bahwa dunia ini asli atau palsu, baik atau buruk. Ia hanya menunjukkan tentang keadaan dunia sebagaimana adanya. Buddha Gautama mengajarkan agar setiap orang memelihara akar kebijaksanaan sesuai dengan watak, perbuatan dan kepercayaan masing-masing. Ia tidak saja mengajarkan melalui ucapan, akan tetapi juga melalui perbuatan. Meskipun bentuk fisik tubuh-Nya tidak ada akhirnya, namun dalam mengajar umat manusia yang mendambakan hidup abadi, Beliau menggunakan jalan pembebasan dari kelahiran dan kematian untuk membangunkan perhatian mereka.

Pengabdian Buddha Gautama telah membuat dirinya mampu mengatasi berbagai masalah didalam berbagai kesempatan yang pada hakekatnya adalah Dharma-kaya, yang merupakan keadaan sebenarnya dari hakekat yang hakiki dari seorang Buddha. Sang Buddha adalah pelambang dari kesucian, yang tersuci dari semua yang suci. Karena itu, Sang Buddha adalah Raja Dharma yang agung. Ia dapat berkhotbah kepada semua orang, kapanpun dikehendaki-Nya. Sang Buddha mengkhotbahkan Dharma, akan tetapi sering terdapat telinga orang yang bodoh karena keserakahannya dan kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan khotbah-Nya. Bagi mereka yang mendengarkan khotbah-Nya, yang dapat mengerti dan menghayati serta mengamalkan Sifat Agung Sang Buddha akan terbebas dari penderitaan hidup. Mereka tidak akan dapat tertolong hanya karena mengandalkan kepintarannya sendiri.


[3]Lopez (1995). Buddhism in Practice. Princeton University Press. pp. 16.

**********************

Pandangan Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq tentang Sosok Siddhartha Gautama

Latar Belakang

Jika anda pernah membaca posting saya yang berjudul Pertanyaan tentang Iman yang Universal, maka anda akan melihat adanya hubungan antara posting itu dengan tulisan saya kali ini. Lahirnya konsep iman universal tersebut berasal dari sebuah pemikiran yang dikekang oleh fanatisme agama yang membutakan pemeluk suatu agama untuk membandingkan diri dengan orang lain. Efek negatif yang dilahirkan dari fanatisme agama tersebut adalah merasa benar sendiri, merasa diri paling benar dan orang lain salah, karena memang begitu konsep yang ditanamkan oleh pada umumnya agama terhadap pemeluknya, seperti perusahaan jasa yang bersaing untuk mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya dan mendokrin untuk tidak pindah ke produk lain.

Pada saat aku berpikir bahwa pemikiran bebasku dibelenggu oleh konsep fanatisme dalam beragama, keningku pun berkerut memikirkan jawaban atas  beberapa pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benakku. Pertanyaan yang sangat mendasar menurutku waktu itu, yaitu:

  1. Mengapa setiap pemeluk agama menganggap agamanya paling benar?
  2. Apakah ajaran agama yang ku peluk ini adalah ajaran agama yang benar-benar “BENAR”?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu cukup menggangguku pada saat itu, mengingat aku adalah seorang muslim yang lahir dari keluarga muslim, tumbuh dan berkembang dalam lingkungan muslim, dan bahkan dididik di lembaga pendidik Islam dari Madrasah Aliyah, hingga kuliah S1 dan S2. Sebagai muslim yang besar dalam kondisi masyarakat yang Homogen, pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti di atas telah membuatku melepaskan status “muslimku” selama aku belum menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Bagi sebagian orang di sekitarku, tindakan yang ku lakukan itu dianggap terlalu berani, karena harus melepaskan aqidah. Namun bagiku, justru dari sinilah aku akan mematri diriku dengan aqidah yang memang lahir dari pencarian dan untuk mendapatkan keyakinan. Karena aku beranggapan bahwa apa artinya beragama jika tidak memiliki dasar keyakinan yang kuat. Hidup dalam homogentitas agama yang melahirkan fanatisme itu justru membuatku beranggapan agama yang ku peluk ini bukan agama yang benar. Jika agama ini adalah sebuah kebenaran, maka ia tidak akan pernah takut untuk disandingkan dengan sesuatu yang yang juga dianggap benar oleh orang lain.

Pencarian kebenaran dengan melepaskan keyakinan memang merupakan hal yang sangat menakutkan dalam hubungannya dengan masalah aqidah, tetapi hal ini memang harus ku lakukan jika keyakinan yang kupegang justru membuat hatiku bimbang akan sebuah kebenaran. Ajaran agama yang ku peluk sebenarnya sudah ku yakini kebenarannya, tetapi hal itu masih dalam keyakinan yang wajar, yaitu karena keluarga, lingkungan dan pendidikanku hanya seputar itu. Lagi pula, dengan konsep sederhana seperti itu, semua pemeluk agama apapun akan beranggapan seperti yang ku rasa, yaitu “Agamaku adalah agama yang paling benar”.  Keyakinan yang wajar dan sederhana itu tidak cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti yang sudah ku sebutkan sebelumnya. Perlu adanya usaha pencarian keyakinan yang lebih EXTREME untuk jiwa dan pemikiranku yang EXTREME, yaitu dengan membandingkan semua ajaran kebenaran.

Siddhartha Gautama adalah Sosok Nabi

Ajaran Agama Budha adalah salah satu dari lima ajaran agama yang ku ketahui sejak aku duduk di bangku sekolah dasar, karena dalam Falsafah Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, ada lima Agama yang diakui, yaitu Islam, Kristen Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha. Dalam pencarian kebenaran yang ku lakukan, Ajaran Agama Budha adalah salah satu agama yang masuk dalam target pencarian kebenaran yang ku lakukan.

Dalam posting ini, saya tidak akan menyalahkan atau membenarkan ajaran agama Budha yang dibawa oleh Siddhartha Gautama, tetapi dalam pencarian kebenaran yang ku jalani ini, aku menemukan satu kesimpulan bahwa agama itu tidak bisa diciptakan begitu saja oleh manusia, diperlukan suatu falsafah mendasar yang menjadikan suatu ajaran pantas untuk disebut sebagai sebuah agama. Disamping itu, semua ajaran agama memang selalu mengajarkan kebenaran, karena itulah semua pemeluk agama menganggap agama yang dipeluknya itulah yang paling benar, termasuk dalam hal ini, ajaran yang dibawa oleh Siddhartha Gautama, yaitu ajaran agama Budha.

Dalam referensi yang saya kemukakan sebelumnya disebutkan bahwa Siddhartha Gautama pada awalnya juga merupakan manusia biasa yang sejak lahirnya sudah diberikan kelebihan. Ia lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai. Hal ini seperti juga kelahiran Isa al-Masih (Nabi Isa As) oleh Bunda Maria (Maryam) yang menandungnya tanpa Ayah. Seperti halnya juga kelahiran Muhammad Saw yang diwarnai dengan turunya ratusan burung Ababil yang menyerang tentara bergajah yang akan menghancurkan Ka’bah.

Pangeran Siddhartha Gautama yang sejak lahir diramalkan akan meninggalkan Istana, menyebabkan sang Ayah, Raja Suddhodana berusaha membahagiakan putra kesayangannya dalam kemewahan Istana. Pangeran Siddhartha tidak pernah diperkenalkan dengan beberapa hal, yaitu usia tua, penyakit, kematian, dan pertapa. Pangeran hanya tahu makna kebahagiaan itu dari kemewahan dalam Istana, wanita-wanita cantik, dan berbagai kenikmatan dunia lainnya. Sehingga pada saat ia berjalan ke luar Istana, sepanjang jalan yang akan dilaluinya harus lebih dulu dibersihkan dari ke-empat perkara yang dipantangkan untuk dilihat oleh Pangeran Siddhartha.

Namun waktu dan keadaan akhirnya mempertemukan Pangeran Siddhartha dengan semua perkara yang tidak pernah dikenalnya itu. Perjalanan keluar Istana yang telah dibersihkan sebelumnya tidak bisa menghalangi kenyataan bahwa Pangeran Siddhartha memang sudah waktunya mengenal adanya usia tua, penyakit, kematian dan pertapa. Keempat perkara itu secara tidak sengaja dilihatnya perjalanannya keluar Istana. Peristiwa itu sangat terkenal dalam sejarah kehidupan Siddhartha Gautama Sang Budha.

Apa yang dikhawatirkan Raja Suddhodana akhirnya menjadi nyata, Siddhartha Gautama akhirnya meninggalkan Istana untuk mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan dari dirinya. berbagai usaha telah ia lakukan untuk mencari kebenaran, bahkan disebutkan ia pernah ikut bertapa bersama para pertapa Hindu, tetapi tidak juga ia temukan kebenaran yang ia harapkan. Sampai pada akhirnya, pertapa Gautama melakukan samadhi di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya, “Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna.”

Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun. Dalam referensi yang penulis kemukakan di atas disebutkan bahwa pada saat mencapai pencerahan sempurna, dari tubuh Sang Siddhartha memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.

Melihat dari awal perjalanan kehidupan Siddhartha Gautama hingga ia menemukan pencerahan sempurna, saya berpikir Siddhartha Gautama adalah seorang Nabi, dan kejadian di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya adalah saat-saat dimana ia menerima wahyu untuk disampaikan dan diajarkan kepada umat manusia.

Seperti halnya juga saya temukan dalam kisah Isa Al-Masih (Nabi Isa As), Siddhartha Gautama juga tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan atas ajaran Budha yang dibawanya. Para pengikutnyalah yang kemudian mengklain bahwa ia adalah Tuhan. Keadaan ini –menurut analisa saya,– adalah suatu hal yang wajar. Pengaruh besar yang ditinggalkannya menjadikan ia sebagai panutan para pengikutnya, sehingga wajar kebesaran pengaruhnya itu menjadikan ia dituhankan oleh pengikutnya.

Keadaan seperti ini juga bisa saja terjadi Muhammad Saw dengan Islam yang dibawanya. Perbedaannya adalah, Muhammad menanamkan nilai-nilai ketuhanan (Tauhid) pada awal penyebaran ajarannya, kemudian dilanjutkan dengan memberikan contoh teladan dan ajaran bagaimana bertingkah laku dengan sesama manusia dan makhluk lainnya. Dalam konsep penyebaran ajaran agama oleh Nabi-Nabi sebelumnya, aspek ketuhahanan ini –menurut saya– disejajarkan dengan pengajaran akhlak dan etika pergaulan sesama manusia, sehingga para pengikutnya kurang mengerti eksistensi Tuhan pasca kematiannya. Sehingga sang tokohlah yang kemudian diklain sebagai Tuhan. Muhammad Saw pun bisa saja diklain sebagai Tuhan jika dalam penyebaran Islam, tidak menanamkan nilai-nilai ketuhanan (Tauhid) pada awal penyebarannya.

Para pembaca yang budiman.!!

Terima kasih telah membaca poting ini…!!! 😆 Pemikiran yang sehat dan positif hendaknya tetap menjadi panduan untuk memfilter pemikiran-pemikiran luar yang masuk ke Head dan Heart anda, termasuk Head (Pemikiran) dan Heart (Perasaan) yang tertuang dalam tulisan-tulisan di blog saya ini….. Pencarian kebenaran yang saya lakukan, ternyata akhirnya membawa saya kembali pada ajaran yang saya peluk sebelumnya, yaitu Islam, dengan keyakinan yang lebih sempurna dari sebelumnya. 🙂 Insya Allah…

12 Januari dalam Lintasan Sejarah


12 Januari adalah hari ke-12 dalam kalender Gregorian (Masehi).  Dengan mengambil term “12 Januari“, berikut ini adalah hal-hal yang terjadi pada tanggal 12 Januari dalam lintasan sejarah.

Peristiwa

  • 1528 – Gustav I dari Swedia menjadi Raja Swedia.
  • 1709 – Zaman Es Kecil: Masa beku selama dua bulan dimulai di Perancis – Pantai Atlantik dan Sungai Reine membeku, tanaman gagal panen dan setidaknya 24.000 warga Paris meninggal.
  • 1875 – Kwang-su menjadi Kaisar Cina.
  • 1898 – Ito Hirobumi memulai masa bakti ketiganya sebagai Perdana Menteri Jepang.
  • 1908 – Pesan radio jarak jauh dikirim dari Menara Eiffel untuk pertama kalinya.
  • 1926 – Freeman Gosden dan Charles Correll memulai program radio mereka Sam ‘n’ Henry, pendahulu Amos ‘n’ Andy; kemungkinan adalah sitkom pertama.
  • 1940 – Perang Dunia II: Rusia mengebom kota-kota di Finlandia.
  • 1945 – Perang Dunia II: Uni Soviet memulai serangan besar di Eropa Timur melawan Nazi.
  • 1964 – Para pemberontak di Zanzibar memulai suatu pemberontakan dan kemudian memproklamirkan sebuah republik.
  • 1966 – Lyndon B. Johnson menyatakan bahwa Amerika Serikat harus tetap tinggal di Vietnam Selatan hingga agresi Komunis di sana berakhir.
  • 1966 – Versi TV Batman, Batman the TV series memulai debutnya di saluran televisi ABC.
  • 1969 – Band Hard rock Led Zeppelin merilis album pertamanya.
  • 1970 – Biafra menyerah, mengakhiri perang saudara Nigeria.
  • 1976 – Dewan Keamanan PBB melakukan voting dengan hasil 11-1 untuk membolehkan Organisasi Pembebasan Palestina untuk berpartisipasi di dalam perdebatan Dewan Keamanan (tanpa hak suara).
  • 1991 – Perang Teluk Persia: Sebuah undang-undang Kongres AS memberikan persetujuan penggunaan militer untuk memaksa Irak keluar dari Kuwait.
  • 1992 – Dalam film 2001: A Space Odyssey, HAL 9000, sebuah komputer fiktif, seharusnya diaktifkan pada tanggal ini.
  • 1998 – 19 negara Eropa setuju untuk melarang kloning manusia.
  • 2010 – Gempa bumi Haiti dengan episenter dekat kota Léogâne 7,0 Skala Richter berdampak pada 3 juta penduduk, perkiraan korban meninggal 230.000 orang, luka-luka 300.000 orang dan 1.000.000 kehilangan tempat tinggal.

Kelahiran

  • 1893 – Hermann Göring, pejabat Nazi (w. 1946)
  • 1893 – Alfred Rosenberg, pejabat Nazi (w. 1946)
  • 1899 – Paul Hermann Müller, ahli kimia, peraih gelar Penghargaan Nobel untuk Kedokteran dan Fisiologi pada 1948 (w. 1965)
  • 1916 – Pieter Willem Botha, presiden Afrika Selatan
  • 1944 – Joe Frazier, juara tinju
  • 1980 – Khairil Yulianibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr al-Shiddiq, 😆 Pemikir terkenal dari Kalimantan Selatan. 😆 😆 😆 😆 😆
    Hahahaha…… 😀 :D: 😀 😀 😀 😀
  • 1992 – HAL 9000, komputer fiktif
  • 1992 – Mao Kobayashi, Japanese gravure idol
  • 1993 – Aika Mitsui, Penyanyi Jepang
  • 1993 – D.O., salah satu anggota boyband EXO-K
  • 1995 – Laurel McGoff, Kontestan Acara Reality Show Amerika
  • 1998 – Nathan Gamble, Aktor Amerika

Meninggal

  • 1519 – Maximilian I, Kaisar Suci Romawi (l. 1459)
  • 1976 – Agatha Christie, penulis (l. 1890)
  • 2003 – Maurice Gibb, penyanyi dan pemain bass dalam Bee Gees (l. 1949)
  • 2014 – Murnita, Orang tua dari KHAIRIL YULIAN… 😦 (l. 1952)

Catatan Penulis:

Saya mengucapkan terima kasih atas semua ucapan Selamat pada hari ulang tahunku, kepada:

  • Teman-temanku di Facebook. (Maaf ych! kalian nggak bisa nulis ucapan selamat di Wall saya)
  • Teman-teman YM.
  • Yahoo Indonesia Community

    Yahoo Indonesia Community

    Message from Yahoo Indonesia Community

  • Pengirim Ucapan Selamat via SMS
  • Mereka yang telah memberikan ucapan selamat secara langsung di hadapanku
  • Dia yang memberikan ucapan selamat langsung ke ku ….

😳 JANGAN ADA SURPRISE…!!! 😆

________________________________

Referensi: Wikipedia Bahasa Indonesia & DNABerita.com

Sumpah Pemuda


SOEMPAH PEMOEDA

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928.

Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :

  1. Abdul Muthalib Sangadji
  2. Purnama Wulan
  3. Abdul Rachman
  4. Raden Soeharto
  5. Abu Hanifah
  6. Raden Soekamso
  7. Adnan Kapau Gani
  8. Ramelan
  9. Amir (Dienaren van Indie)
  10. Saerun (Keng Po)
  11. Anta Permana
  12. Sahardjo
  13. Anwari
  14. Sarbini
  15. Arnold Manonutu
  16. Sarmidi Mangunsarkoro
  17. Assaat
  18. Sartono
  19. Bahder Djohan
  20. S.M. Kartosoewirjo
  21. Dali
  22. Setiawan
  23. Darsa
  24. Sigit (Indonesische Studieclub)
  25. Dien Pantouw
  26. Siti Sundari
  27. Djuanda
  28. Sjahpuddin Latif
  29. Dr.Pijper
  30. Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
  31. Emma Puradiredja
  32. Soejono Djoenoed Poeponegoro
  33. Halim
  34. R.M. Djoko Marsaid
  35. Hamami
  36. Soekamto
  37. Jo Tumbuhan
  38. Soekmono
  39. Joesoepadi
  40. Soekowati (Volksraad)
  41. Jos Masdani
  42. Soemanang
  43. Kadir
  44. Soemarto
  45. Karto Menggolo
  46. Soenario (PAPI & INPO)
  47. Kasman Singodimedjo
  48. Soerjadi
  49. Koentjoro Poerbopranoto
  50. Soewadji Prawirohardjo
  51. Martakusuma
  52. Soewirjo
  53. Masmoen Rasid
  54. Soeworo
  55. Mohammad Ali Hanafiah
  56. Suhara
  57. Mohammad Nazif
  58. Sujono (Volksraad)
  59. Mohammad Roem
  60. Sulaeman
  61. Mohammad Tabrani
  62. Suwarni
  63. Mohammad Tamzil
  64. Tjahija
  65. Muhidin (Pasundan)
  66. Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
  67. Mukarno
  68. Wilopo
  69. Muwardi
  70. Wage Rudolf Soepratman
  71. Nona Tumbel

Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu”Indonesia Raya” gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.

  1. Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong.
  2. Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang yaitu :
    a. Kwee Thiam Hong
    b. Oey Kay Siang
    c. John Lauw Tjoan Hok
    d. Tjio Djien kwie

Rasyid Ridha dan Pemikirannya


Rasyid Ridha dan Pemikirannya

Oleh

Khairil Yulian ibn Ruslan Abd al-Ghani ibn Abd al-Syukr Al-Shiddiq

A. Pendahuluan

Reformasi Islam lahir pada akhir abad ke-19 sebagai jawaban terhadap pengaruh dunia barat yang yang gencar menyerang kaum muslimin.[1] Sedangkan yang menjadi isu sentral mereka adalah upaya agar keyakinan agama sesuai dengan pemikiran modern. Termasuk pula dalam hal ini tentunya, pemahaman umat Islam terhadap Alquran.[2]

Kesadaran akan perlunya diadakan pembaharuan timbul pertama kali di Kerajaan Turki Utsmani dan Mesir. Orang-orang Turki Utsmaniyah sejak awal telah mempunyai kontak langsung dengan Eropa, karena kekuasaan Kerajaan Turki Ustmani hingga abad ke-17 Masehi telah mencapai Eropa Timur yang meluas sampai ke gerbang kota Wina. Tetapi sejak abad ke-18, Kerajaan Tukri Ustmani mulai mengalami kekalahan dari kerajaan-kerajaan Eropa. Kekalahan oleh Eropa –yang pada abad-abad sebelumnya masih dalam keadaan mundur– inilah yang menjadi pemicu adanya pembaharuan di Kerajaan Turki.[3]

Sementara pembaharuan yang terjadi di Mesir terjadi sejak terjadinya kontak dengan Eropa yang dimulai dari datangnya ekspedisi Napoleon Bonaparte yang mendarat di Aleksandria pada tahun 1798 M. Kedatangan Napoleon ini juga membawa banyak oleh-oleh dari Eropa yang berupa ilmu pengetahuan, kebudayaan dan teknologi, hingga ia mampu mendirikan lembaga ilmiah Institut d’Egypte.[4] Di samping itu Napoleon juga mempunyai hubungan baik dengan ulama-ulama Al-Azhar. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu terjadinya pembaharuan dalam Islam di Mesir.[5]

Berbicara tentang proses pembaharuan di Mesir, di kenal beberapa orang tokoh pembaharu yaitu Rifa’i al-Thahthawi (1803-1873 M)[6], Jamaluddin al-Afghani (1839-1877 M)[7], Muhammad Abduh (1849-1905 M)[8] dan Rasyid Ridha (1864-1935 M).

Dalam makalah ini, akan disajikan secara khusus pemikiran-pemikiran pembaruan dari Rasyid Ridha yang secara secara umum akan penulis mulai dengan menggambarkan sisi biografi singkat beliau.

B. Biografi Rasyid Ridha

  1. Kelahiran
    Nama lengkap Muhammad Rasyid Rida adalah al-Sayyid Muhammad Rasyid Rida ibn Ali Rida ibn Muhammad Syamsuddin ibn al-Sayyid Baharuddin ibn al-Sayyid Munla Ali Khalifah al-Baghdadi.[9]beliau dilahirkan di Qalmun, suatu kampung sekitar 4 Km dari Tripoli, Libanon, pada bulan Jumadil ‘Ula 1282 H (1864 M). Dia adalah seorang bangsawan Arab yang mempunyai garis keturunan langsung dari Sayyidina Husain, putra Ali ibn Abi Thalib dan Fatimah putri Rasulullah saw.[10]

    Pada tahun 1898 M. Muhammad Rasyid Rida hijrah ke Mesir untuk menyebarluaskan pembaharuan di Mesir. Dua tahun kemudian ia menerbitkan majalah yang diberi nama “al-Manar” untuk menyebar luaskan  ide-idenya dalam usaha pembaharuan.
  2. Pendidikan
    Setelah melalui masa pengasuhan dalam lingkungan keluarga sendiri, maka pada usianya yang ketujuh tahun, Muhammad Rasyid Rida dimasukkan orang tuanya kesebuah lembaga pendidikan dasar yang disebut Kuttab yang ada di desanya. Disinilah dia mulai membaca Alquran, menulis dan berhitung.[11] Beberapa tahun kemudian, setelah menamatkan pelajarannya di lembaga pendidikan dasar itu. Muhammad Rasyid Rida meneruskan pelajarannya di Madrasah Ibtidaiyah al-Rusdiyah di kota Tripoli. Di madrasah tersebut di ajarkan nahwu, sharaf, berhitung, geografi, akidah dan ibadah. Semua mata pelajaran tersebut disampaikan kepada para siswa dalam bahasa Turki. Hal itu tidak mengherankan karena tujuan pendidikan dan pengajaran pada madrasah itu melahirkan tenaga-tenaga kerja yang menjadi pegawai kerajaan. Dia pun keluar dari madrasah itu setelah kurang lebih satu tahun lamanya belajar disana.[12] Pada tahun 1882, ia meneruskan pelajaran di Madrasah al-Wataniyah al-Islamiyah (Sekolah Nasional Islam)  di Tripoli. Di Madrasah ini, selain dari bahasa Arab diajarkan pula bahasa Turki dan Perancis, dan disamping itu pengetahuan-pengetahuan agama juga pengetahuan-pengetahuan modern.[13] Disamping itu, Muhammad Rasyid Rida memperoleh tambahan ilmu dan semangat keagamaan melalui membaca kitab-kitab yang ditulis al-Gazali, antara lain Ihya’ Ulum al-Din sangat mempengaruhi jiwa dan kehidupannya, terutama sikap patuh pada hukum dan baktinya terhadap agama.[14]
  3. Wafat
    Muhammad Rasyid Rida sebagai ulama yang selalu menambah ilmu pengetahuan dan selalu pula berjuang selama hayatnya, telah menutup lembaran hidupnya pada tanggal 23 Jumadil ‘Ula 1354 H, bertepatan dengan 22 Agustus 1935 M. Muhammad Rasyid Rida wafat dengan wajah yang sangat cerah disertai dengan senyuman.[15]

C. Pemikiran Pembaharuan Rasyid Ridha

Muhammad Rasyid Ridha mulai mencoba menjalankan ide-ide pembaharuannya sejak ia masih berada di Suria[16]. Tetapi usaha-usahanya mendapat tantangan dari dari pihak kerajaan Utsmani.[17] Kemudian ia pindah ke Mesir dan tiba di sana pada bulan januari 1898 M.[18]

Pembaharuan Dalam Bidang Teologi

Masalah aqidah di zaman hidupnya Rasyid Ridha masih belum tercemar unsur-unsur tradisi maupun pemikiran filosof. Dalam masalah teologi, Rasyid Ridha banyak dipengaruhi oleh pemikiran para tokoh gerakan salafiyah.[19] Dalam hal ini, ada beberapa konsep pembaharuan yang dikemukakannya, yaitu masalah akal dan wahyu, sifat Tuhan, perbuatan manusia (af’al al-Ibad) dan konsep iman.

  1. Akal dan Wahyu
    Menurut Rasyid Ridha, dalam masalah ketuhanan menghendaki agar urusan keyakinan mengikuti petunjuk dari wahyu. Sungguhpun demikian, akal tetap diperlukan untuk memberikan penjelasan dan argumentasi terutama kepada mereka yang masih ragu-ragu.[20]
  2. Sifat Tuhan
    Dalam menilai sifat Tuhan, di kalangan pakar teologi Islam terjadi perbedaan pendapat yang sangat signifikan, terutama dari kalangan Mu’tazilah[21] dan Asy’ariyah.[22] Mengenai masalah ini, Rasyid Ridha berpandangan sebagaimana pandangan kaum Salaf, menerima adanya sifat-sifat Tuhan seperti yang dinyatakan oleh nash, tanpa memberikan tafsiran maupun takwil.[23]
  3. Perbuatan Manusia
    Pembahasan teologi tentang perbuatan manusia bertolak dari pertanyaan apakah manusia memiliki kebebasan atas perbuatannya (freewill) atau perbuatan manusia hanyalah diciptakan oleh Tuhan (Predistination).[24] Perbuatan manusia menurut Rasyid Ridha sudah dipolakan oleh suatu hukum yang telah ditetapkan Tuhan yang disebut Sunatullah, yang tidak mengalami perubahan.[25]
  4. Konsep Iman
    Rasyid Ridha mempunyai dasar pemikiran bahwa kemunduran umat Islam disebabkan keyakinan dan amal perbuatan mereka yang telah menyimpang dari ajaran Islam.[26] Oleh karena itu, upaya pembahasan yang dilaksanakannya dititik beratkan kepada usaha untuk mengembalikan keberagamaan ummat kepada ajaran Islam yang sebenarnya.
    Pandangan Rasyid Ridha mengenai keimanan didasarkan atas pembenaran hati (tasdiq) bukan didasarkan atas pembenaran rasional.

Dalam Bidang Pendidikan

Di antara aktivitas beliau dalam bidang pendidikan antara lain membentuk lembaga pendidikan yang bernama “al-Dakwah Wal Irsyad” pada tahun 1912 di Kairo. Mula-mula beliau mendirikan madrasah tersebut di Konstantinopel terutama meminta bantuan pemerintah setempat akan tetapi gagal, karena adanya keluhan-keluhan dari negeri-negeri Islam, di antaranya Indonesia, tentang aktivitas misi Kristen di negeri-negeri mereka. Untuk mengimbangi sekolah tersebut dipandang perlu mengadakan sekolah misi Islam.[27]

  1. Muhammad Rasyid Ridha juga merasa perlu dilaksanakannya ide pembaharuan dalam bidang pendidikan. untuk itu ia melihat perlu ditambahkan ke dalam kurikulum mata-mata pelajaran berikut: teologi, pendidikan moral, sosiologi, ilmu bumi, sejarah, ekonomi, ilmu hitung, ilmu kesehatan, bahasa-bahasa asing dan ilmu mengatur rumah tangga (kesejahteraan keluarga), yaitu disamping fiqh, tafsir, hadits dan lain-lain yang biasa diberikan di Madrasah-madrasah tradisional.[28]

  2. Pandangan Terhadap Ijtihad
    Rasyid Ridha dalam beristimbat terlebih dahulu melihat nash, bial tidak ditemukan di dalam nash di dalam nash, ia mencari pendapat sahabat, bila terdapat pertentangan ia memilih pendapat yang paling dekat dengan dengan Al-Qur’an dan Sunnah dan bila tidak ditemukan, ia berijtihad atas dasar Al-Qur’an dan Sunnah.[29]

    Dalam hal ini, Rasyid Ridha melihat perlu diadakah tafsir modern dari Al-Qur’an yaitu tafsiran yang sesuai dengan ide-ide yang dicetuskan gurunya, Muhammad Abduh. Ia menganjurkan kepada Muhammad Abduh supaya menulis tafsir modern.[30] Kuliah-kuliah tafsir itu dimulai pada tahun 1899 dan keterangan-keterangan yang diberikan oleh Muhammad Abduh dalam kuliahnya inilah yang kemudian dikenal dengan tafsir al-Manar.[31]

Dalam bidang Politik

Dalam bidang politik, Muhammad Rasyid Rida juga tidak ketinggalan, sewaktu beliau masih berada di tanah airnya, ia pernah berkecimpung dalam bidang ini, demikian pula setelah berada di Mesir, akan tetapi gurunya Muhammad ‘Abduh memberikan nasihat agar ia menjauhi lapangan politik. Namun nasihat itu diturutinya hanya ketika Muhammad ‘Abduh masih hidup,  dan setelah ia wafat, Muhammad Rasyid Rida aktif kembali, terutama melalui majalah al-Manar.[32]

D. Penutup

Rasyid Ridha merupakan pembaharu yang mempunyai konsep pemikiran tradisional. Konsep pembaharuan yang dikemukakannya meliputi aspek teologi, pendidikan, syari’at dan politik.

😆 —====***((( Makasih. Berikan Komentar, Please)))***===— 😆

Daftar Pustaka

Abdurrahman, Moeslim, Islam Transpormatif, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995)

Ali, Yunasril Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988)

Asmuni,  Muhammad Yusran, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam, (Surabaya : al-Ikhlas, 1994)

Athaillah, A., Aliran Akidah Tafsîr al-Manar, (Banjarmasin: Balai Penelitian IAIN Antasari, 1990)

Faiz, Fakhruddin, Hermeneutika Qur’ani, Antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi, ( Yogyakarta : Qalam, 2002)

Harahap, Syahrin, Islam Dinamis : Menggali Nilai-nilai Ajaran Alquran dalam Kehidupan modern di Indonesia, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1997)

Muhaimin, Pembaharuan Islam: Repleksi Pemikiran Rasyid Ridha dan Tokoh-Tokoh Muhammadiyah, (Yogyakarta: Pustaka Dinamika, 2000)

Nasution, Harun, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1998)

Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994)

Shiddieqy, Hasbi Ash-, Sejarah Pengantar Ilmu al-Quran / Tafsir, (Jakarta : Bulan Bintang, 1994)

Shihab,  Muhammad Quraish, Studi Kritis Tafsîr al-Manar, (Bandung : Pustaka Hidayah, 1994)


[1]Moeslim Abdurrahman, Islam Transpormatif, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995), Cet. I, h. 62.

[2]Syahrin Harahap, Islam Dinamis : Menggali Nilai-nilai Ajaran Alquran dalam Kehidupan modern di Indonesia, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1997), h. 248.

[3]Sultan-sultan Kerajaan ‘Utsmani pun mengirim duta-duta ke Eropa untuk mengetahui rahasia kekuatan raja-raja Eropa yang pada abad-abad sebelumnya masih berada dalam keadaan yang mundur. Atas dasar laporan dari para duta itu, mulailah diadakan pembaharuan di Kerajaan ‘Utsmani, terutama mulai dari abad ke-19. Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1998), Cet. VII, h. 147.

[4]Di Kairo ia mendirikan lembaga ilmiah institut d’Egypte yang mempunyai empat bagian: ilmu pasti, ilmu alam, ilmu ekonmi politik dan sastra seni. Perpustakaan dari lembaga ini besar sekali dan bukan hanya berisi buku-buku dalam bahasa Eropa, tetapi juga buku-buku ilmiah dalam bahasa Arab, Persia dan Turki. Lembaga ini melakukan penelitian ilmiah di Mesir dan hasilnya diterbitkan dalam majalah La Decade Egyptienne. Napoleon juga membawa percetakan yang disamping berhuruf latin, juga berhuruf Arab. Ia juga membawa serta ahli-ahli ketimuran yang mahir berbahasa Arab. Harun Nasution, Ibid., h. 148.

[5]Di sinilah bertemunya ulama-ulama abad ke-19 dengan ilmuan-ilmuan Barat modern yang menyadarkan mereka bahwa dalam bidang pemikiran dan bidang ilmiah, ulama Islam sudah jauh tertinggal. Persentuhan antara Barat dengan Islam di Mesir ini, hanya melahirkan sedikit ulama Islam pada saat itu yang berpendapat bahwa pemikiran dan ilmu yang berkembang di Barat itu perlu dipelajari dan diambil alih. Harun Nasotiun, Ibid., h. 148.

[6]Al-Thahthawi seorang ulama lulusan al-Azhar yang melalui gurunya al-Syaikh Hasan al-Aththar, menaruh perhatian pada ilmu pengetahuan yang sedang berkembang di Barat. Pendapat baru yang dikemukakannya ialah tentang konsep pendidikan universal dan mengkritik sikaf fatalisme yang ada di zamannya . Harun Nasution, Ibid., h. 149.

[7]Jamaluddin al-Afghani merupakan pencetus pertama konsep Pan-Islamisme. Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1988), h. 110; ia juga dengan tegas mengemukakan bahwa pintu ijtihat tidak pernah tertutup dan tidak ada orang yang berhk menutupnya. Harun Nasution, Loc.Cit.

[8]Muhammad Abduh merupakan pemikir pembaharu yag mempunyai pengaruh besar di Mesir. Ia lebih memperjelas metode berpikir yang secara secara implisit terkandung dalam dalam pemikiran al-Thahthawi dan al-Afghani. Ia menentang jumud, kebekuan dan kestatisan umat Islam. Harun Nasution, Ibid., h. 150.

[9]A. Athaillah, Aliran Akidah Tafsîr al-Manar, (Banjarmasin: Balai Penelitian IAIN Antasari, 1990), h. 13; Gelar “Sayyid” pada permulaan namanya adalah gelar yang biasanya diberikan kepada semua yang mempunyai garis keturunan dari Rasulullah saw. Keluarga Muhammad Rasyid Rida dikenal oleh lingkungannya sebagai keluarga yang sangat taat beragama serta mempunyai ilmu-ilmu agama, sehingga mereka juga dikenal dengan sebutan “Syaikh”. Muhammad Quraish Shihab, Studi Kritis Tafsîr al-Manar, (Bandung : Pustaka Hidayah, 1994), cet. ke-1, h. 59.

[10]Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah Pengantar Ilmu al-Quran / Tafsir, (Jakarta : Bulan Bintang, 1994), h. 280.

[11]Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani, Antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi, ( Yogyakarta : Qalam, 2002),  cet. ke-1, h. 64.

[12]Ibid., h. 14.

[13]Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 69; Sekolah ini didirikan dan dipimpin oleh ulam besar Syam ketika itu, yakni Syaikh Husain al-Jirr. Syaikh inilah yang mempunyai andil sangat besar terhadap pemikiran Muhammad Rasyid Rida, karena hubungan antara keduanya tidak terhenti walaupun kemudian sekolah di tutup oleh pemerintah Turki, Syaikh Husain al-Jarr juga memberikan kesempatan kepada Muhammad Rasyid Rida untuk menulis di beberapa surat kabar Tripoli, kesempatan ini kelak mengantarnya memimpin majalah al-Manar. M. Quraish Shihab, op. cit., h. 60-61.

[14]Muhammad Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam, (Surabaya : al-Ikhlas, 1994), h. 83.

[15]M. Quraish Shihab, op. cit., h. 63.

[16]Sewaktu Muhammad Abduh berada dalam pembungan di Beirut, Rasyid Ridha mendapat kesempatan baik untuk berjumpa dan berdialog dengan murid al-Afghani yang terdekat ini. Perjumpaan-perjumpaan dan dialog ini meninggalkan kesan yang baik dalam dirinya. Rasyid Ridha mulai menjalankan ide-ide pembaharuan itu ketika masih berada di Suria. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Op.Cit., h. 70.

[17]Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Ibid., h. 70.

[18]Karena merasa terikat dan tidak bebas dari tekanan Kerajaan, ia memutuskan untuk pindah ke Mesir, dekat dengan Muhammad Abduh. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Ibid., h. 70.

[19]Muhaimin, Pembaharuan Islam: Repleksi Pemikiran Rasyid Ridha dan Tokoh-Tokoh Muhammadiyah, (Yogyakarta: Pustaka Dinamika, 2000), h. 18.

[20]Ibid., h. 23; sungguhpun Rasyid Ridha menghargai daya akal manusia, baik dalam bentuk ilmu zahir maupun filsafat sebagai ikhtiar manusia memahami berbagai penomena disekitarnya, akan tetapi nilai-nilai yang dihasilkan dari akal tersebut tidak dapat disejajarkan dengan wahyu. Ibid., h. 25.

[21]Mu’tazilah beranggapan bahwa Maha melihat dan seterusnya, bukanlah sifat Tuhan tetapi zat Tuhan. Ibid., h. 32.

[22]Asy’ariyah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat. Ibid., h. 33.

[23]Dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah, Rasyid Ridha menghendaki pemahaman secara tekstual dengan mengikuti pendekatan yang dilakukan oleh kaum Salaf. Ia kurang sependapat dengan cara yang dilakukan mutakallimin yang memberikan takwil terhadap sifat-sifat Allah secara dealiktika. Ibid., h. 37.

[24]Dalam menawab pertanyaan tersebut, yang muncul pertama kali adalah aliran kadariyah dan jabariyah. Ibid., h. 38.

[25]Paham Sunatullah dalam pandangan Rasyid Ridha berkait dengan hukum kemasyarakatan yaitu ketentuan-ketentuan yang terpola dalam perbuatan-perbuatan manusia tertentu dengan akibat yang tertentu pula. Dalam membahas persoalan perbuatan manusia ini, Rasyid Ridha cenderung ke Kadariyah yaitu bahwa manusia mempunyai kebebasan berkehendak dan kebebasan dalam berbuat. Ibid, h. 40-43

[26]Masalah iman dan kufur merupakan kontroversi yang muncul dalam pembahasan yang bersifat teologis yang berawal dari persoalam politik yang bergeser menjadi persoalan aqidah. Ibid., h. 43-45.

[27]Muhammad Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam, (Surabaya : al-Ikhlas, 1994), h. 85.

[28]Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Op.Cit., h. 71.

[29]Muhaimin, Op.Cit., h. 58.

[30]Muhammad Abduh tidak sepaham dengannya dalam hal ini. Namun karena selalu didesak, Muhammad Abduh akhirnya setuju, untuk memberikan kuliah tafsir Al-Qur’an di al-Azhar. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Ibid., h. 70.

[31]Keterangan-keterangan yang disampaikan oleh Muhammad Abduh dalam kuliah tafsir itu ia catat dan seterusnya ia susun dalam bentuk karangan teratur. Apa yang ia tulis ia serahkan selanjutnya kepada Muhammad Abduh untuk diperiksa. Setelah mendapat persetujuan, karangan itu ia siarkan dalam al-Manar.

[32]Muhammad Yuseran Asmuni, Ibid., h. 86.

😆 Catatan Penulis:

🙂 Terima kasih telah mengunjungi khairilyulian.wordpress.com. Posting yang berjudul “Rasyid Ridha dan Pemikirannya” ini menduduki Rating Pertama di antara tulisan-tulisan saya yang lain. Terima kasih atas kunjungan anda, dan mudah-mudahan apa yang saya share di sini dapat memberikan manfaat bagi semuanya.

🙂 Tolong juga berikan komentar anda tentang Posting ini…!!! 😀 😀 😀 😀

IBNU SINA: Biografi dan Pemikiran Filsafatnya


  1. A. PENDAHULUAN

Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal unik, sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu – satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad[[1]].

Pengaruh ini terwujud bukan hanya karena ia memiliki sistem, tetapi karena sistem yang ia miliki itu menampakkan keasliannya yang menunjukkan jenis jiwa yang jenius dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam[[2]].

B.    BIOGRAFI

Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada tahun 980 M di Asfshana, suatu tempat dekat Bukhara. Orang tuanya adalah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman[[3]].Di Bukhara ia dibesarkan serta belajar falsafah kedokteran dan ilmu-ilmu agama Islam. Ketika usia sepuluh tahun ia telah banyak mempelajari ilmu agama Islam dan menghafal Al-Qur’an seluruhnya[[4]]. Dari mutafalsir Abu Abdellah Natili, Ibnu Sina mendapat bimbingan mengenai ilmu logika yang elementer untuk mempelajari buku Isagoge dan Porphyry, Eucliddan Al-Magest-Ptolemus. Dan sesudah gurunya pindah ia mendalami ilmu agama dan metafisika, terutama dari ajaran Plato dan Arsitoteles yang murni dengan bantuan komentator-komentator dari pengarang yang otoriter dari Yunani yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Arab.

Dengan ketajaman otaknya Ibnu Sina banyak mempelajari filsafat dan cabang-cabangnya, kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru setelah ia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho-nya Al-Farabi (870-950 M), semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa dia menjadi murid yang setia dari Al-Farabi [[5]]

Sesudah itu ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi. Belum lagi usianya melebihi enam belas tahun, kemahirannya dalam ilmu kedokteran sudah dikenal orang, bahkan banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Ia tidak cukup dengan teori – teori kedokteran, tetapi juga melakukan praktek dan mengobati orang-orang sakit[[6]].Ia tidak pernah bosan atau gelisah dalam membaca buku-buku filsafat dan setiap kali menghadapi kesulitan, maka ia memohon kepada Tuhan untuk diberinya petunjuk, dan ternyata permohonannya itu tidak  pernah dikecewakan. Sering-sering ia tertidur karena kepayahan membaca, maka didalam tidurnya itu dilihatnya pemecahan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapinya[[7]].

Sewaktu berumur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan Istana pernah mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Sejak itu, Ibnu Sina mendapat sambutan baik sekali, dan dapat pula mengunjungi perpustakaan yang penuh dengan buku-buku yang sukar didapat, kemudian dibacanya dengan segala keasyikan. Karena sesuatu hal, perpustakaan tersebut terbakar, maka tuduhan orang ditimpakan kepadanya, bahwa ia sengaja membakarnya, agar orang lain tidak bisa lagi mengambil manfaat dari perpustakaan itu[[8]] .Kemampuan Ibnu Sina dalam bidang filsafat dan kedokteran, kedua duanya sama beratnya. Dalam bidang kedokteran dia mempersembahkan Al-Qanun fit-Thibb-nya, dimana ilmu kedokteran modern mendapat pelajaran, sebab kitab ini selain lengkap, disusunnya secara sistematis.

Dalam bidang Materia Medeica, Ibnu Sina telah banyak menemukan bahan nabati baru Zanthoxyllum budrunga –dimana tumbuh-tumbuhan banayak membantu terhadap bebebrapa penyakit tertentu seperti radang selaput otak (miningitis).

Ibnu Sina pula sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana enam ratus tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Dia pulalah yang pertama kali mengatakan bahwa bayi selama  masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali pusarnya.

Dia jugalah yang mula-mula mempraktekkan pembedahan penyakit-penyakit bengkak yang ganas, dan menjahitnya. Dan last but not list dia juga terkenal sebagai dokter ahli jiwa dengan cara-cara modern yang kini disebut psikoterapi.

Dibidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya dunia Islam menyanjungnya ia memang merupakan satu bintang gemerlapan memancarkan cahaya sendiri, yang bukan pinjaman sehingga Roger Bacon, filosof kenamaan dari Eropa Barat pada Abad Pertengahan menyatakan dalam Regacy of Islam-nya Alfred Gullaume; “Sebagian besar filsafat Aristoteles sedikitpun tak dapat memberi pengaruh di Barat, karena kitabnya tersembunyi entah dimana, dan sekiranya ada, sangat sukar sekali didapatnya dan sangat susah dipahami dan digemari orang karena peperangan – peperangan yang meraja lela di sebeleah Timur, sampai saatnya Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd dan juga pujangga Timur lain membuktikan kembali falsafah Aristoteles disertai dengan penerangan dan keterangan yang luas.”[[9]]

Selain kepandaiannya sebagai flosof dan dokter, iapun penyair. Ilmu – ilmu pengetahuan seperti ilmu jiwa, kedokteran dan kimia ada yang ditulisnya dalam bentuk syair. Begitu pula didapati buku – buku yang dikarangnya untuk ilmu logika dengan syair.

Kebanyakan buku – bukunya telah disalin kedalam bahasa Latin. Ketika orang – orang Eropa diabad tengah, mulai mempergunakan buku – buku itu sebagai textbook, dipelbagai universitas. Oleh karena itu nama Ibnu Sina dalam abad pertengahan di Eropah sangat berpengaruh[[10]].

Dalam dunia Islam kitab – kitab Ibnu Sina terkenal, bukan saja karena kepadatan ilmunya, akan tetapi karena bahasanya yang baik dan caranya menulis sangat terang. Selain menulis dalam bahasa Arab, Ibnu Sina juga menulis dalam bahasa Persia. Buku – bukunya dalam bahasa Persia, telah diterbitkan di Teheran dalam tahun 1954.

Karya – karya Ibnu Sina yang ternama dalam lapangan Filsafat adalah As-Shifa, An-Najat dan Al Isyarat. An-Najat adalah resum dari kitab As-Shifa. Al-Isyarat, dikarangkannya kemudian, untuk ilmu tasawuf. Selain dari pada itu, ia banyak menulis karangan – karangan pendek yang dinamakan Maqallah. Kebanyakan maqallah ini ditulis ketika ia memperoleh inspirasi dalam sesuatu bentuk baru dan segera dikarangnya[[11]].

Sekalipun ia hidup dalam waktu penuh kegoncangan dan sering sibuk dengan soal negara, ia menulis sekitar dua ratus lima puluh karya. Diantaranya karya yang paling masyhur adalah “Qanun”  yang  merupakan ikhtisar pengobatan Islam dan diajarkan hingga kini di Timur. Buku ini dterjemahkan ke baasa Latin dan diajarkan berabad lamanya di Universita Barat. Karya keduanya adalah ensiklopedinya yang monumental “Kitab As-Syifa”. Karya ini merupakan titik puncak filsafat paripatetik dalam Islam. [[12]]

Diantara karangan – karangan Ibnu Sina adalah :

  1. As- Syifa’ ( The Book of Recovery or The Book of Remedy = Buku tentang Penemuan, atau Buku tentang Penyembuhan).

Buku ini dikenal didalam bahasa Latin dengan nama Sanatio, atau Sufficienta. Seluruh buku ini terdiri atas 18 jilid, naskah selengkapnya sekarang ini tersimpan di Oxford University London. Mulai ditulis pada usia 22 tahun (1022 M) dan berakhir pada tahun wafatnya (1037 M). Isinya terbagi atas 4 bagian, yaitu :

  1. Logika (termasuk didalamnya terorika dan syair) meliputi dasar karangan Aristoteles tentang logika dengan dimasukkan segala materi dari penulis – penulis Yunani kemudiannya.
  2. Fisika (termasuk psichologi, pertanian, dan hewan). Bagian – bagian Fisika meliputi kosmologi, meteorologi, udara, waktu, kekosongan dan gambaran).
  3. Matematika. Bagian matematika mengandung pandangan yang berpusat dari elemen – elemen Euclid, garis besar dari Almagest-nya Ptolemy, dan ikhtisar – ikhtisar tentang aritmetika dan ilmu musik.
  4. Metafisika. Bagian falsafah, poko pikiran Ibnu sina menggabungkan pendapat Aristoteles dengan elemen – elemennya Neo Platonic dan menyusun dasar percobaan untuk menyesuaikan ide-ide Yunani dengan kepercayaan – kepercayaan.

Dalam zaman pertengahan Eropa, buku ini menjadi standar pelajaran filsafat di pelbagai sekolah tinggi.

  1. Nafat, buku ini adalah ringkasan dari buku As-Syifa’.
  2. Qanun, buku ini adalah buku lmu kedokteran, dijadikan buku pokok pada Universitas Montpellier (Perancis) dan Universitas Lourain (Belgia).
  3. Sadidiyya. Buku ilmu kedokteran.
  4. Al-Musiqa. Buku tentang musik.
  5. Al-Mantiq, diuntukkan buat Abul Hasan Sahli.
  6. Qamus el Arabi, terdiri atas lima jilid.Danesh Namesh. Buku filsafat.
  7. Danesh Nameh. Buku filsafat.
  8. Uyun-ul Hikmah. Buku filsafat terdiri atas 10 jilid.

10. Mujiz, kabir wa Shaghir. Sebuah buku yang menerangkan tentang dasar – dasar ilmu logika secara lengkap.

11. Hikmah el Masyriqiyyin. Falsafah Timur (Britanica Encyclopedia vol II, hal. 915 menyebutkan kemungkinan besar buku ini telah hilang).

12. Al-Inshaf. Buku tentang Keadilan Sejati.

13. Al-Hudud. Berisikan istilah – istilah dan pengertian – pengertian yang dipakai didalam ilmu filsafat.

14. Al-Isyarat wat Tanbiehat. Buku ini lebih banyak membicarakan dalil – dalil dan peringatan – peringatan yang mengenai prinsip Ketuhanan dan Keagamaan.

15. An-Najah, (buku tentang kebahagiaan Jiwa)

16. dan sebagainya[[13]]

Dari autobiografi dan karangan – kaangannya dapat diketahui data tentang sifat – sifat kepribadianhya, misalnya :

  1. Mengagumi dirinya sendiri

Kekagumannya akan dirinya ini diceritakan oleh temannya sendiri yakni Abu Ubaid al-Jurjani. Antara lain dari ucapan Ibnu Sina sendiri, ketika aku berumur 10 tahun aku telah hafal Al-Qur’an dan sebagian besar kesusateraan hinga aku dikagumi.

  1. Mandiri dalam pemikiran

Sifat ini punya hubungan erat sudah nampak pada Ibnu Sina sejak masa kecil. Terbukti dengan ucapannya “Bapakku dipandang penganut madzhab Syi’ah Ismailiah. Demikian juga saudaraku. Aku dengar mereka menyebtnya tentang jiwa dan akal, mereka mendiskusikan tentang jiwa dan akal menurut pandangan mereka. Aku mendengarkan, memahami diskusi ini, tetapi jiwaku tak dapat menerima pandangan mereka”.

  1. Menghayati agama, tetapi belum ke tingkat zuhud dan wara’.

Kata Ibnu Sina, setiap argumentasi kuperhatikan muqaddimah qiyasiyahnya setepat – tepatnya, juga kuperhatikan kemungkinan kesimpulannya. Kupelihara syarat – syarat muqaddimahnya, sampai aku yakin kebenaran masalah itu. Bilamana aku bingung tidak berhasil kepada kesimpulan pada analogi itu, akupun pergi sembahyang menghadap maha Pencipta, sampai dibukakan-Nya kesulitan dan dimudahkan-Nya kesukaran.

  1. Rajin mencari ilmu, keterangan beliau “saya tenggelam dalam studi ilmu dan membaca selama satu setengah tahun. Aku tekun studi bidang logika dan filsafat, saya tidak tidur satu malam suntuk selama itu. Sedang siang hari saya tidak sibuk dengan hal – hal lainnya”
  2. Pendendam. Dia meredam dendam itu dalam dirinya terhadap orang yang menyinggung perasaannya. Dia hormat bila dihormati.
  3. Cepat melahirkan karangan

Ibnu Sina dengan cepat memusatkan pikirannya dan mendapatkan garis-garis besar dari isi pikirannya serta dia dengan mudah melahirkannya kepada orang lain. Menuangkan isi pikiran dengan memilih kalimat/ kata-kata yang tepat, amat mudah bagi dia. Semua itu berkat pembiasaan, kesungguhan dan latihan dan kedisiplinan yang dilakukannya.[[14]]

Ibnu Sina dikenal di Barat dengan nama Avicena (Spanyol aven Sina) dan kemasyhurannya di dunia Barat sebagai dokter melampaui kemasyhuran sebagai Filosof, sehingga ia mereka beri gelar “the Prince of the Physicians”. Di dunia Islam ia dikenal dengan nama Al-Syaikh- al-Rais. Pemimpin utama (dari filosof – filosof)[[15]].

Meskipun ia di akui sebagai seorang tokoh dalam keimanan, ibadah dan keilmuan, tetapi baginya minum – minuman keras itu boleh, selama tidak untuk memuaskan hawa nafsu. Minum – minuman keras dilarang karena bias menimbulkan permusuhan dan pertikaian, sedangkan apabila ia minum tidak demikian malah menajamkan pikiran.

Didalam al-Muniqdz min al-Dhalal, al-Ghazali bahwa Ibnu Sina pernah berjanji kepada Allah dalam salah satu wasiatnya, antara lain bahwa ia akan menghormati syari’at tidak melalaikan ibadah ruhani maupun jasmani dan tidak akan minum – minuman keras untuk memuaskan nafsu, melainkan demi kesehatan dan obat.

Kehidupan Ibnu Sina penuh dengan aktifitas -aktifitas kerja keras. Waktunya dihabiskan untuk urusan negara dan menulis, sehingga ia mempunyai sakit maag yang tidak dapat terobati. Di usia 58 tahun (428 H / 1037 M) Ibnu Sina meninggal dan dikuburkan di Hamazan.

  1. C. PEMIKIRAN FILSAFAT IBNU SINA
    1. Filsafat Jiwa

Ibnu Sina memberikan perhatiannya yang khusus terhadap pembahasan kejiwaan, sebagaimana yang dapat kita lihat dari buku – buku yang khusus untuk soal – soal kejiwaan ataupun buku – buku yang berisi campuran berbagai persoalan filsafat.

Memang tidak sukar untuk mencari unsur – unsur pikiran yang membentuk teorinya tentang kejiwaan, seperti pikiran – piiran Aristoteles, Galius atau Plotinus, terutama pikiran- pikiran Aristoteles yang banyak dijadikan sumber pikiran-pikirannya. Namun hal ini tidak berarti bahwa Ibnu Sina tidak mempunyai kepribadian sendiri atau pikiran – pikiran yang sebelumnya, baik dalam segi pembahasan fisika maupun segi pembahasan metafisika.

Dalam segi fisika, ia banyak  memakai metode eksperimen dan banyak terpengaruh oleh pembahasan lapangan kedokteran. Dalam segi metafisika terdapat kedalaman dan pembaharuan yang menyebabkan dia mendekati pendapat – pendapat filosof modern[[16]].

Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan, baik pada dunia pikir Arab sejak abad ke sepuluh Masehi sampai akhir abad ke 19 M, terutama pada Gundisallinus, Albert the Great, Thomas Aquinas, Roger Bacon dan Dun Scot[[17]].

Pemikiran terpenting yang dihasilkan Ibnu Sina ialah falsafatnya tentang jiwa. Sebagaimana Al-Farabi, ia juga menganut faham pancaran. Dari Tuhan memancar akal pertama, dan dari akal pertama memancar akal kedua dan langit pertama, demikian seterusnya sehingga tercapai akal ke sepuluh dan bumi. Dari akal ke sepuluh memancar segala apa yang terdapat di bumi yang berada dibawah bulan. Akal pertama adalah malaekat tertinggi dan akal kesepuluh adalah Jibril.

Pemikiran ini berbeda dengan pemikiran kaum sufi dan kaum mu’tazilah. Bagi kaum sufi kemurnian tauhid mengandung arti bahwa hanya Tuhan yang mempunyai wujud. Kalau ada yang lain yang mempunyai wujud hakiki disamping Tuhan, itu mngandung arti bahwa ada banyak wujud, dan dengan demikian merusak tauhid. Oleh karena itu mereka berpendapat : Tiada yang berwujud selain dari Allah swt. Semua yang lainnya pada hakikatnya tidak ada. Wujud yang lain itu adalah wujud bayangan. Kalau dibandingkan dengan pohon dan bayangannya, yang sebenarnya mempunyai wujud adalah pohonnya, sedang bayangannya hanyalah gambar yang seakan – akan tidak ada. Pendapat inilah kemudian yang membawa kepada paham wahdat al-wujud (kesatuan wujud), dalam arti wujud bayangan bergantung pada wujud yang punya bayangan. Karena itu ia pada hakekatnya tidak ada; bayangan tidak ada. Wujud bayangan bersatu dengan wujud yang punya bayangan.

Kalau kaum Mu’tazilah dalam usaha memurnikan tauhid pergi ke peniadaan sifat – sifat Tuhan dan kaum sufi ke peniadaan wujud selain dari wujud Allah swt, maka kaum filosof Islam yang dipelopori al-Farabi, pergi ke faham emanasi atau al-faidh. Lebih dari mu’tazilah dan kaum sufi, al-Farabi berusaha meniadakan adanya arti banyak dalam diri Tuhan. Kalau Tuhan berhubungan langsung dengan alam yang tersusun dari banyak unsur ini, maka dalam pemikiran Tuhan terdapat pemikiran yang banyak. Pemikiran yang banyak membuat faham tauhid tidak murni lagi[[18]].

Menurut al-Farabi, Allah menciptakan alam ini melalui emanasi, dalam arti bahwa wujud Tuhan melimpahkan wujud alam semesta. Emanasi ini terjadi melalui tafakkur (berfikir) Tuhan tentang dzat-Nya yang merupakan prinsip dari peraturan dan kebaikan dalam alam. Dengan kata lain, berpikirnya Allah swt tentang dzat-Nya adalah sebab dari adanya alam ini. Dalam arti bahwa ialah yang memberi wujud kekal dari segala yang ada[[19]]. Berfikirnya Allah tentang dzatnya sebagaimana kata Sayyed Zayid, adalah ilmu Tuhan tentang diri-Nya, dan ilmu itu adalah daya (al-Qudrah) yang menciptakan segalanya, agar sesuatu tercipta, cukup Tuhan mengetahuiNya[[20]]

Ibnu Sina berpendapat bahwa akal pertama mempunyai dua sifat : sifat wajib wujudnya sebagai pancaran dari Allah, dan sifat mungkin wujudnya jika ditinjau dari hakekat dirinya atau necessary by virtual of the necessary being and possible in essence. Dengan demikian ia mempunyai tiga obyek pemikiran : Tuhan, dirinya sebagai wajib wujudnya dan dirinya sebagai mungkin wujudnya[[21]]

Dari pemkiran tentang Tuhan timbul akal  – akal dari pemikiran tentang dirinya sebagai wajib wujudnya timbul jiwa – jiwa dari pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin wujudnya timbul di langit. Jiwa manusia sebagaimana jiwa – jiwa lain dan segala apa yang terdapat di bawah Bulan, memancar dari akal ke sepuluh.

Segi – segi kejiwaan pada Ibnu Sina pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua segi yaitu :

  1. Segi fisika yang membicarakan tentang macam – macamnya jiwa (jiwa tumbuhkan, jiwa hewan dan jiwa manusia). Pembahasan kebaikan – kebaikan, jiwa manusia, indera dan lain – lain dan pembahasan lain yang biasa termasuk dalam pengertian ilmu jiwa yang sebenarnya.
  2. Segi metafisika, yang membicarakan tentang wujud dan hakikat jiwa, pertalian jiwa dengan badan dan keabadian jiwa[[22]].

Ibnu Sina membagi jiwa dalam tiga bahagian:

  1. Jiwa tumbuh – tumbuhan dengan daya-daya :

1)     Makan (nutrition)

2)     Tumbuh (growth)

3)     Berkembang biak (reproduction)

  1. Jiwa binatang dengan daya-daya :

1)     Gerak (locomotion)

2)     Menangkap (perception) dengan dua bagian :

a)     Menagkap dari luar dengan panca indera

b)     Menangkap dari dalam dengan indera – indera dalam.

3)     Indera bersama yang menerima segala apa yang ditangkap oleh panca indera

4)     Representasi yang menyimpan segala apa yang diterima oleh indera bersama

5)     Imaginasi yang dapat menyusun apa yang disimpan dalam representasi

6)     Estimasi yang dapat menangkap hal – hal abstraks yang terlepas dari materi umpamanya keharusan lari bagi kambing dari anjing serigala.

7)     Rekoleksi yang menyimpan hal – hal abstrak yang diterima oleh estimasi.

  1. Jiwa manusia  dengan daya praktis yang hubungannya dengan badanTeoritis yang hubungannya adalah dengan hal – hal abstrak. Daya ini mempunyai tingkatan:

1)     Akal materiil yang semata – mata mempunyai potensi untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikitpun.

2)     Intelectual in habits, yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal – hal abstrak.

3)     Akal actuil, yang telah dapat berfikir tentang hal – hal abstrak.

4)     Akal mustafad yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal – hal abstrak dengan tak perlu pada daya upaya[[23]].

Sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam jiwa tumbuh – tumbuhan, binatang dan manusia yang berpengaruh pada dirinya, maka orang itu dapat menyerupai binatang, tetapi jika jiwa manuisa yang mempunyai pengaruh atas dirinya, maka orang itu dekat menyerupai malaekat dan dekat dengan kesempurnaan.

Menurut Ibnu Sina jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir didunia ini. Sungguh pun jiwa manusia tidak mempunyai fungsi – fungsi fisik, dan dengan demikian tak berhajat pada badan untuk menjalankan tugasnya sebagai daya yang berfikir, jiwa masih berhajat pada badan karena pada permulaan wujudnya badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berfikir[[24]].

Sedangkan menurut al-Ghazali di dalam buku – buku filsafatnya dia menyatakan bahwa manusia mempunyai identitas esensial yang tetap tidak berubah – ubah yaitu al-Nafs­ atau jiwanya[[25]]. Adapun yang dimaksud tentang al-Nafs adalah “substansi yang berdiri sendiri yang tidak bertempat”. Serta merupakan “tempat bersemayam pengetahuan – pengetahuan intelektual (al-ma’qulat) yang berasal dari alam al-malakut atau al-amr. Hal ini menunjukkan bahwa esensi manusia bukan fisiknya dan bukan fungsi fisiknya. Sebab fisik adalah sesuatu yang mempunyai tempat, sedangkan fungsi fisik adalah sesuatu yang tidak berdiri sendiri, karena keberadaannya tergantung kepada fisik. Sementara dalam penjelasannya yang lain, al-Ghazali menegaskan bahwa manusia terdiri atas dua substansi pokok, yakni substansi yang berdimensi dan substansi yang tidak berdimensi, namun mempunyai kemampuan merasa dan bergerak dengan kemauan. Substansi yang pertama dinamakan badan (al-jism) dan substansi yang kedua disebut jiwa (al-nafs).[[26]]

Jiwa (al-Nafs) memiliki daya – daya sebagai derivatnya dan atas dasar tingkatan daya – daya tersebut, pada diri manusia terdapat tiga jiwa (al-nufus al-tsalatsah) :

  1. Pertama jiwa tumbuhan (al-nafs al-nabatiyah) merupakan tingkatan jiwa yang paling rendah dan memiliki tiga daya 1) daya nutrisi (al-ghadiya), 2) daya tumbuh (al-munmiyah) dan 3) daya reproduksi (al-muwallidah), dengan daya ini manusia dapat berpotensi makan, tumbuh dan berkembang biak sebagaimana tumbuh – tumbuhan.
  2. Kedua, jiwa hewani/sensitive (al-nafs al-hayawaniyah) yang memiliki dua daya  1) daya penggerak (al-mukharikah) dan 2) daya persepsi (al-mudrikah). Pada penggerakn (al-mukharikah) terdapat dua daya lagi yaitu 10 daya pendorong (al-baitsah) dan 2) daya berbuat (al-fa’ilah). Hubungan antara daya pertama dengan daya kedua sebagaimana hubungan daya potensi dan aktus, tetapi keduanya bersifat potensial sebelum mencapai aktualisasinya. Yang pertama merupakan kemauan dan yang kedua merupakan kemampuan. Karena itu al-Ghazali menyebut yang pertama iradah dan yang kedua qudrah.
  3. Ketiga, jiwa rasional (al-nafs al-natiqah). Mempunyai dua daya !) daya praktis (al-‘amilah) dan 20 daya teoritis (al-alimah). Yang pertama berfungsi menggerakkan tubuh melalui daya – daya jiwa sensitive / hewani. Sesuai dengan tuntutan pengetahuan yang dicapai oleh akal teorities. Yang dimaksud akal teoritis adalah al-‘alimah, sebab jiwa rasional disebut juga al ‘aql. Al-‘alimah disebut juga akal praktis. Akal praktis merupakan saluran yang menyampaikan gagasan akal teoritis kepada daya penggerak[[27]].

Al-Ghazali didalam Tahafut al-Falasifah menyangkal 20 buah kesalahan para filosof muslim beserta pendahulu – pendahulu mereka yang berpaham teistik di Yunani. Para filosof yang disangkal oleh al-Ghazali ini terbagi kedalam tiga kelompok[[28]] :

  1. Filosof – filosof materialistik (dahriyyun)

Mereka adalah ateis – ateis yang menyangkal adanya Allah dan merumuskan kekekalan alam dan terciptanya alam dengan sendirinya.

  1. Filosof – filosof naturalis atau desitik (thabi’iyyun).

Mereka melaksanakan berbagai riset di dalam alam semesta dan segala sesuatu yang menakjubkan di dalam dunia binatang dan tumbuh – tumbuhan. Melalui riset-riset itu mereka cukup banyak menyaksikan keajaiban – keajaiban di dalam ciptaan  Allah dan mereka menemukan kebijaksanaan-Nya sehingga akhirnya mereka mau tak mau mengakui adanya satu pencipta yang Maha Bijaksana. Walaupun demikian mereka tetap menyangkal adanya hari pengadilan, kebangkitan kembali dan kehidupan akhirat. Mereka tidak mengenal pahala dan dosa, karenanya mereka memuaskan nafsu – nafsu mereka seperti binatang.

  1. Filosof – filosof teis (ilahiyyun).

Mereka adalah filosoh – filosof Yunani seperti Socrates, Plato dan Aristoteles. Aristoteles telah mengkritik filosof – fiosof teis sebelumnya, termasuk Socrates dan Plato. Walaupun begitu, menurut al-Ghazali, Aristoteles masih mempertahankan sisa – sisa kekafiran dan kebid’ahan mereka  yang tak berhasil dilepaskannya.

Filsafat Aristoteles seperti yang disebarluaskan oleh penerjemah – penerjemah dan komentator-komentator karyanya (pengikutnya) khususnya al-Farabi dan Ibnu Sina terbagi ke dalam 3 kelompok :

  1. Filsafat – filsafatnya yang harus dipandang kufur.
  2. Filsafat – filsafatnya yang menurut Islam adalah bid’ah.
  3. Filsafat – filsafatnya yang sama sekali tak perlu disangkal.

Tiga masalah yang menyebabkan kufur tersebut adalah :

  1. Pertama, bahwa Allah hanya mengetahui hal – hal yang besar – besar dan tidak mengetahui hal – hal yang kecil – kecil[[29]].
  2. Kedua,    bahwa alam ini azali atau kekal, tanpa permulaan[[30]].
  3. Ketiga,  bahwa di akhirat kelak yang dihimpun adalah ruh manusia bukan jasadnya[[31]]

Ada empat dalil yang dikemukakan oleh Ibnu Sina untuk membuktikan adanya jiwa yaitu :

  1. Dalil alam – kejiwaan (natural psikologi).
  2. Dalil Aku dan kesatuan gejala – gejala kejiwaan.
  3. Dalil kelangsungan (kontinuitas).
  4. Dalil orang terbang atau orang tergantung di udara[[32]]

Dalil – dalil tersebut apabila diuraikan satu persatu adalah sebagai berikut :

  1. Dalil Alam Kejiwaan

Pada diri kita ada peristiwa yang tidak mungkin di tafsirkan kecuali sesudah mengakui adanya jiwa. Peristiwa – peristiwa tersebut adalah gerak dan pengenalan (idrak, pengetahuan).

Gerak ada dua macam yaitu :

1)     Gerak paksaan (harakah qahriah) yang timbul sebagai akibat dorongan dari luar dan yang menimpa sesuatu benda kemudian menggerakkannya.

2)     Gerak bukan paksaan, dan gerak ini terbagi menjadi dua yaitu :

a)     Gerak sesuai dengan ketentuan hukum alam, seperti jatuhnya batu dari atas ke bawah.

b)     Gerak yang  terjadi dengan melawan hukum alam, seperti manusia yang berjalan di bumi, sdang berat badannya seharusnya menyebabkan ia diam, atau seperti burung yang terbang menjulang di udara, yang seharusnya jatuh (tetap) di sarangnya di atas bumi. Gerak yang berlawanan dengan ketentuan alam tersebut menghendaki adanya penggerak khusus yang melebihi unsur – unsur benda yang bergerak. Penggerak tersebut ialah jiwa.

Pengenalan (pengetahuan) tidak dimiliki oleh semua mahluk, tetapi hanya di miliki oleh sebagiannya. Yang memiliki pengenalan ini menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan lain yang tidak terdapat pada lainnya. Begitulah isi dalil natural-psikologi dari Ibnu Sina yang didasarkan atas buku De Anima (Jiwa) dan Physics, kedua – duanya dari Aristoteles.

Namun dalil Ibnu Sina tersebut banyak berisi kelemahan – kelemahan antara lain bahwa natural (physic) pada dalil tersebut dihalalkan. Dalil tersebut baru mempunyai nilai kalau sekurangnya benda – benda tersebut hanya terdiri dari unsur – unsur yang satu maca, sedang benda – benda tersebut sebenarnya berbeda susunannya (unsur – unsurnya). Oleh karena itu maka tidak ada keberatannya untuk mengatakan bahwa benda – benda yang bergerakmelawan ketentuan alam berjalan sesuai dengan tabiatnya yang khas dan berisi unsur – unsur yang memungkinkan ia bergerak. Sekarang ini banyak alat – alat (mesin ) yang bergerak dengan gerak yyang berlawanan dengan hukum alam, namun seorang pun tidak mengira bahwa alat – alat (mesin – mesin) terseut berisi jiwa atau kekuatan lain yang tidak terlihat dan yang menggerakkannya. Ulama – ulama biologi sendiri sekarang menafsirkan fenomena kehidupan dengan tafsiran mekanis dan dinamis, tanpa mengikut sertakan kekuatan psikologi (kejiwaan).

Nampaknya Ibnu Sina sendiri menyadari kelemahan dalil tersebut. Oleh karena itu dalam kitab – kitab yang dikarang pada masa kematangan ilmunya, seperti al-syifa dan al-Isyarat, dalil tersebut disebutkan sambil lalu saja, dan ia lebih mengutamakan dalil-dalil yang didasarkan atas segi – sehi pikiran dan jiwa, yang merupakan genitalianya Ibnu sina.[[33]]

  1. Dalil Aku dan Kesatuan Gejala Kejiwaan.

Menurut Ibnu Sina apabila seorang sedang membicarakan tentang dirinya atau mengajak bicara kepada orang lain, maka yang dimaksudkan ialah jiwanya, bukan badannya. Jadi ketika kita mengatakan saya keluar atau saya tidur, maka bukan gerak kaki, atau pemejaman mata yang dimaksudkan, tetapi hakikat kita dan seluruh pribadi kita.[[34]]

  1. Dalil Kelangsungan (kontinuitas).

Dalil ini mengatakan bahwa masa kita yang sekarang berisi juga masa lampau dan masa depan. Kehidupan rohani kita pada pagi ini ada hubungannya dengan kehidupan kita yang kemarin, dan hubungan ini tidak terputus oleh tidur kita, bahkan juga ada hubngannya dengan kehidupan kita yang terjadi beberapa tahun yang telah lewat. Kalau kita ini bergerak dalam mengalami perubahan, maka gerakan – gerakan dan perubahan tersebut bertalian satu sama lain dan berangkai – rangkai pula. Pertalian dan perangkaian ini bisa terjadi karena peristiwa – peristiwa jiwa merupakan limphan dari sumber yang satu dan beredar sekitar titik tarik yang tetap.

Ibnu Sina dengan dalil kelangsungan tersebut telah membuka ciri kehidupan pikiran yang paling khas dan mencerminkan penyelidikan dan pembahasannya yang mendalam, bahkan telah mendahului masanya beberapa abad, karena pendapatnya tersebut dipegangi oleh ilmu jiwa modern dan telah mendekati tokoh – tokoh pikir  masa sekarang.[[35]]

  1. Dalil Orang Terbang atau Tergantung di Udara.

Dalil ini adalah yang terindah dari Ibnu Sina dan yang paling jelas menunjukkan daya kreasinya. Meskipun dalil tersebut didasarkan atas perkiraan dan khayalan, namun tidak mengurangi kemampuannya untuk memberikan keyakinan. Dalil tersebut mengatakan sebagai berikut : “Andaikan ada seseorang yang mempunyai kekuatan yang penuh, baik akal maupun jasmani, kemudian ia menutup matanya sehingga tak dapat melihat sama sekali apa yang ada di sekelilingnya kemudian ia diletakkan di udara atau dalam kekosongan, sehingga ia tidak merasakan sesuatu persentuhan atau bentrokan atau perlawanan, dan anggota – anggota badannya diatur sedemikian rupa sehingga tidak sampai saling bersentuhan atau bertemu. Meskipun ini semua terjadi namun orang tersebut tidak akan ragu – ragu bahwa dirinya itu ada, meskipun ia sukar dapat menetapkan wujud salah satu bagian badannya. Bahkan ia boleh jadi tidak mempunyai pikiran sama sekali tentang badan, sedang wujud yang digambarkannya adalah wujud yang tidak mempunyai tempat, atau panjang, lebar dan dalam (tiga dimensi). Kalau   pada saat tersebut ia mengkhayalkan (memperkirakan) ada tangan dan kakinya. Dengan demikian maka penetapan tentang wujud dirinya, tidak timbul dari indera atau melalui badan seluruhnya, melainkan dari sumber lain yang berbeda sama sekali dengan badan yaitu jiwa.

Dalil Ibnu Sina tersebut seperti halnya dengan dalil Descartes, didasarkan atas suatu hipotesa, bahwa pengenalan yang berbeda – beda mengharuskan adanya perkara – perkara yang berbeda – beda pula. Seseorang dapat melepaskan dirinya dari segala sesuatu, kecuali dari jiwanya yang menjadi dasar kepribadian dan dzatnya sendiri. Kalau kebenaran sesuatu dalam alam ini kita ketahui dengan adanya perantara (tidak langsung), maka satu kebenaran saja yang kita ketahui dengan langsung, yaitu jiwa dan kita tidak bisa meragukan tentang wujudnya, meskipun sebentar saja, karena pekerjaan – pekerjaan jiwa selamanya menyaksikan adanya jiwa tersebut.[[36]]

  1. Filsafat Wujud

Bagi Ibnu Sina sifat wujudlah yang terpenting dan yang mempunyai kedudukan diatas segala sifat lain, walaupun essensi sendiri. Essensi, dalam faham Ibnu Sina terdapat dalam akal, sedang wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat tiap essensi yang dalam akal mempunyai kenyataan diluar akal. Tanpa wujud, essensi tidak besar artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari essensi. Tidak mengherankan kalau dikatakan bahwa Ibnu Sina telah terlebih dahulu menimbulkan falsafat wujudiah atau existentialisasi dari filosof – filosof lain.

Kalau dikombinasikan, essensi dan wujud dapat mempunyai kombinasi berikut :

  1. Essensi yang tak dapat mempunyai wujud, dan hal yang serupa ini disebut oleh Ibnu Sina mumtani’ yaitu sesuatu yang mustahil berwujud      (impossible being).
  2. Essensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud. Yang serupa ini disebut mumkin yaitu sesuatu yang mungkin berwujud tetapi mungkin pula tidak berwujud. Contohnya adalah alam ini yang pada mulanya tidak ada kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi tidak ada.
  3. Essensi yang tak boleh tidak mesti mempunyai wujud. Disini essensi tidak bisa dipisahkan dari wujud. Essensi dan wujud adalah sama dan satu. Di sini essensi tidak dimulai oleh tidak berwujud dan kemudian berwujud, sebagaimana halnya dengan essensi dalam kategori kedua, tetapi essensi mesti dan wajib mempunyai wujud selama – lamanya. Yang serupa ini disebut mesti berwujud yaitu Tuhan. Wajib al wujud inilah yang mewujudkan mumkin al wujud[[37]].

Dalam pembagian wujud kepada wajib dan mumkin, tampaknya Ibnu Sina terpengaruh oleh pembagian wujud para mutakallimun kepada : baharu (al-hadits) dan Qadim (al-Qadim). Karena dalil mereka tentang wujud Allah didasarkan pada pembedaan – pembedaan “baharu” dan “qadim” sehingga mengharuskan orang berkata, setiap orang yang ada selain Allah adalah baharu, yakni didahului oleh zaman dimana Allah tidak berbuat apa – apa. Pendirian ini mengakibatkan lumpuhnya kemurahan Allah pada zaman yang mendahului alam mahluk ini, sehingga Allah tidak pemurah pada satu waktu dan Maha Pemurah pada waktu lain. Dengan kata lain perbuatan-Nya tidak Qadim dan tidak mesti wajib[[38]]. Untuk menghindari keadaan Tuhan yang demikian itu, Ibnu Sina menyatakan sejak mula “bahwa sebab kebutuhan kepada al-wajib (Tuhan) adalah mungkin, bukan baharu”. Pernyataan ini akan membawa kepada aktifnya iradah Allah sejak Qadim, sebelum Zaman[[39]].

Dari pendapat tersebut terdapat perbedaan antara pemikiran para mutakallimin dengan pemikiran Ibnu Sina. Dimana para mutakallimin anatar qadim dan baharu lebih sesuai dengan ajaran agama tentang Tuhan yang menjadikan alam menurut kehendak-Nya, sedangkan dalil Ibnu Sina dalam dirinya terkandung pemikiran Yunani bahwa Tuhan yang tunduk dibawah “kemestian”, sehingga perbuatan-Nya telah ada sekaligus sejak qadim.

“Perbuatan Ilahi” dalam pemikiran Ibnu Sina dapat disimpulkan dalam 4 catatan sebagai berikut :

  1. Pertama, perbuatan yang tidak kontinu (ghairi mutajaddid) yaitu perbuatan yang telah selesai sebelum zaman dan tidak ada lagi yang baharu. Dalam kitab An-Najah (hal. 372) Ibnu Sina berkata : “yang wajib wujud (Tuhan) itu adalah wajib (mesti) dari segala segi, sehingga tidak terlambat wujud lain (wujud muntazhar) – dari wuwud-Nya, malah semua yang mungkin menjadi wajib dengan-Nya. Tidak ada bagi-Nya kehendak yang baru, tidak ada tabi’at yang baru, tidak ada ilmu yang baru dan tidak ada suatu sifat dzat-Nya yang baru”. Demikianlah perbuatan Allah telah selesai dan sempurna sejak qadim, tidak ada sesuatu yang baru dalam pemikiran Ibnu Sina, seolah – olah alam ini tidak perlu lagi kepada Allah sesudah diciptakan.
  2. Kedua, perbuatan Ilahi itu tidak ada tujuan apapun. Seakan – akan telah hilang dari perbuatan sifat akal yang dipandang oleh Ibnu Sina sebagai hakekat Tuhan, dan hanya sebagai perbuatan mekanis karena tidak ada tujuan sama sekali.
  3. Ketiga, manakala perbuatan Allah telah selesai dan tidak mengandung sesuatu maksud, keluar dari-Nya berdasarkan “hukum kemestian”, seperti pekerjaan mekanis, bukan dari sesuatu pilihan dan kehendak bebas.

Yang dimaksudkan dalam catatan ketiga ini yaitu Ibnu Sina menisbatkan sifat yang paling rendah kepada Allah karena sejak semula ia menggambarkan “kemestian” pada Allah dari segala sudut. Akibatnya upaya menetapkan iradah Allah sesudah itu menjadi sia – sia, akrena iradah itu tidak lagi bebas sedikitpun dan perbuatan yang keluar dari kehendak itu adalah kemestian dalam arti yang sebenarnya. Jadi tidak ada kebebasan dan kehendak selagi kemestian telah melilit Tuhan sampai pada perbuatan-Nya, lebih – lebih lagi pada dzat-Nya.

Keempat, perbuatan itu hanyalah “memberi wujud” dalam bentuk tertentu. Untuk memberi wujud ini Ibnu Sina menyebutnya dengan beberapa nama, seperti : shudur (keluar), faidh (melimpah), luzum (mesti), wujub anhu (wajib darinya). Nama – nama ini dipakai oleh Ibnu Sina untuk membebaskan diri dari pikiran “Penciptaan Agamawi”, karena ia berada di persimpangan jalan anatara mempergunakan konsep Tuhan sebagai “sebab pembuat” (Illah fa’ilah) seperti ajaran agama dengan konsep Tuhan sebagai sebab tujuan (Illah ghaiyyah) yang berperan sebagai pemberi kepada materi sehingga bergerak ke arahnya secara gradual untuk memperoleh kesempurnaan[[40]].

Dalam empat catatan tersebut para penulis sejarah dan pengkritik Ibnu Sina selalu memahami bahwa Ibnu Sina menggunakan konsep pertama yaitu konsep Tuhan sebagai “sebab pembuat”. Tidak terpikir oleh mereka kemunginan Ibnu Sina menggunakan konsep kedua, yang menyatakan bahwa Tuhan tidak mencipta, tapi hanya sebagai “tujuan” semata. Semua mahluk merindui Tuhan dan bergerak ke arahNya seperti yang terdapat dalam konsepsi Aristoteles tentang keindahan seni dalan hubungan alam dengan Tuhan.

  1. Falsafat Wahyu dan Nabi

Pentingnya gejala kenabian dan wahyu ilahi merupakan sesuatu yang oleh Ibnu Sina telah diusahakan untuk dibangun dalam empat tingkatan : intelektual, “imajinatif”, keajaiban, dan sosio politis. Totalitas keempat tingkatan ini memberi kita petunjuk yang jelas tentang motivasi, watak dan arah pemikiran keagamaan.

Akal manusia terdiri empat macam yaitu akal materil, akal  intelektual, akal aktuil, dan akal mustafad. Dari keempat akal tersebut tingkatan akal yang terendah adalah akal materiil. Ada kalanya Tuhan menganugerahkan kepada manusia akal materiil yang besar lagi kuat, yang Ibnu Sina diberi nama al hads yaitu intuisi. Daya yang ada pada akal materiil semua ini begitu besarnya, sehingga tanpa melalui latihan dengan mudah dapat berhubungan dengan akal aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal serupa ini mempunyai daya suci. Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia dan terdapat hanya pada nabi – nabi[[41]].

Jadi wahyu dalam pengertian teknis inilah yang mendorong manusia untuk beramal dan menjadi orang baik, tidak hanya murni sebagai wawasan intelektual dan ilham belaka. Maka tak ada agama yang hanya berdasarkan akal murni. Namun demikian, wahyu teknis ini, dalam rangka mencapai kualitas potensi yang diperlukan, juga tak pelak lagi menderita karena dalam kenyataannya wahyu tersebut tidak memberikan kebenaran yang sebenarnya, tetapi kebenaran dalam selubung simbol – simbol. Namun sejauh mana wahyu itu mendorong ?. Kecuali kalau nabi dapat menyatakan wawasan moralnya ke dalam tujuan – tujuan dan prinsip – prinsip moral yang memadai, dan sebenarnya ke dalam suatu struktur sosial politik, baik wawasan maupun kekuatan wahyu imajinatifnya tak akan banyak berfaedah. Maka dari itu, nabi perlu menjadi seorang pembuat hukum dan seorang negarawan tertinggi – memang hanya nabilah pembuat hukum dan negarawan yang sebenarnya.[[42]]

  1. D. PENUTUP
    1. Ibnu Sina memiliki pemikiran keagamaan yang mendalam. Pemahamannya mempengaruhi pandangan filsafatnya. Ketajaman pemikirannya dan kedalaman keyakinan keagamaannya secara simultan mewarnai alam pikirannya. Ibnu Rusyd menyebutnya sebagai seorang yang agamis dalam berfilsafat, sementara al-Ghazali menjulukinya sebagai Filsuf yang terlalu banyak berfikir.
    2. Menurut Ibnu Sina bahwa alam ini diciptakan dengan jalan emanasi (memancar dari Tuhan). Tuhan adalah wujud pertama yang immateri dan dariNyalah memancar segala yang ada.
    3. Tuhan adalah wajibul wujud (jika tidak ada menimbulkan mustahil), beda dengan mumkinul wujud (jika tidak ada atau ada menimbulkan tidak mujstahil).
    4. Pemikiran Ibnu Sina tentang kenabian menjelaskan bahwa nabilah manusia yang paling unggul, lebih unggul dari filosof karena nabi memiliki akal aktual yang sempurna tanpa latihan atau studi keras, sedangkan filosof mendapatkannya dengan usaha dan susah payah.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ahwan, Ahmad Fuad, Filsafat Islam, Jakarta, Pustaka Firdaus, 1984

Al-Ghazali Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Ahmad, al-Munqidz min al-Dlalah wa al-Muwassil ila dzi al-Izzah wa al-Jalal, Lebanon, Beirut, 1967

____________, Madarij al-Salikin, Kairo, tsaqofah Islamiyah, 1964

____________, Ma’rij al-Quds fi Madaarij Ma’rofah al-Nafs, Kairo, Maktabah al-Jund, 1968

____________, Tahafut al-Falasifah, Kairo, Mesir, Maktaba’ah al-Qahirah, 1903

Busyairi Madjidi, Konsep Kependidikan Para filosof Muslim, Yogyakarta, Al-Amin Press, 1997

Daudy Ahmad, Dr. MA., Kuliah Filsafat Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1986

_____________, Segi – Segi Falsafi dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1984

Hanafi, Ahmad, MA, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1986

Imam Munawir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, Surabaya, PT. Bina Ilmu, 1985

Nasution, harun, Prof., Dr., Islam ditinjau dari berbagai Aspeknya, Jakarta, Penerbit Universitas Indonesia, 1996

_____________, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1992

Oemar Amin Husein, Dr., Filsafat Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1975

Poerwantana, dkk., Seluk Beluk Filsafat Islam, Bandung, PT remaja Rosdakarya, 1991

Syarif, MM., MA., Para Filosof Muslim, Bandung, Mizan, 1994

Thawil Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, Semarang, Dina Utama Semarang, 1993

Zaenal Abidin Ahmad, Ibnu Sina (Avecenna) sarjana dan Filosof Dunia, Jakarta, Bulan Bintang, 1949


[1]M.M. Syarif, Para Filosof Muslim, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 101; Lihat: Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Firdaus, 1984), hal. 63

[2]Ibid

[3]Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya,(Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia, 1996), hal. 50

[4]Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1986), hal. 60

[5]Zaenal Abidin Ahmad, Ibnu Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1949), hal. 49

[6]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang), 1996, hal. 115, Lihat: Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Firdaus, t.th.), hal. 65

[7]Ibid.

[8]Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hal. 34.

[9]Imam Munawir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985), hal. 332 – 333.

[10]Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hal. 112 – 113

[11]Ibid.

[12]Nasir Masruwah, Taufik Falsafah Al-Islamiyah, hal. 119

[13]Thawil akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, (Semarang: Dina Utama Semarang, 1993), hal. 37 – 39

[14]Busyairi Madjidi, Konsep Pendidikan Para Filosof Muslim, (Yogyakarta : Al-Amin Press. 1997), hal. 47 – 51.

[15]Harun Nasution, Islam di tinjau dari berbagai aspeknya, jilid II, (jakarta : UI, 1986), hal. 51.

[16]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), hal. 125 – 126

[17]Ibid.

[18]Harun Nasution, Islam Rasional, (Jakarta:  Mizan, t.th.), hlm. 44

[19]Al-farabi, Al-Da’awi al-Qalbiyyah, (Haidarabad: Dar al-Ma’arif al-Usmaniyah, 1349 H), hlm. 3-4.

[20]Lihat bukunya, Al-Farabi, (Kairo : Dar al-Ma’arif, 1962) hlm. 41.

[21]Harun Nasution, Falsafat dan Msitisme dalam Islam, Opcit., hal 34-35.

[22]Ibid.

[23]Ibid., h. 36 – 37

[24]Harun Nasution, Falsafat dan Msitisme dalam Islam, Opcit., hal. 37 – 38

[25]Al-Ghazali, Ma’rij al-Quds fi Madarij Ma’rofah al-Nafs, (Kairo: Maktabah Al-Jund, 1968), hlm. 19.

[26]Al-Ghazali, Madarij Al-salikin, (Kairo: Tsaqofa al-Islamiyah, 1964), hlm. 16

[27]Ibid.

[28]Lihat al-Ghazali, al-Munqidz min al-Dhalal, wa al-muwasshil ila dzi al-Izzah wa al-Jalal, di tahqiq oleh Dr. Jamil Shaliba dan Dr. Kamil ‘Iyad, (Beirut: Dar al-Andalus, 1967), cet. VI, hlm. 76 – 77

[29]Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, (Kairo: Matba’ah al-Qahirah, 1903), hlm 6

[30]Ibid., hlm. 53

[31]Ibid., hlm. 81

[32]Ahmad Hanafi, Pengantar …, Opcit., hal. 126

[33]Ibid., hlm. 126 – 127

[34]Ibid., hlm 127

[35]Ibid., hlm. 128 – 129

[36]Ibid., hlm. 129

[37]Harun Nasution, falsafat …, Opcit., hal. 39-40

[38]Ahmad Daudy, Segi – Segi Pemikiran Falsafi dalam Islam, (Jakarta : Bula Bintang), 1984, hal. 42

[39]Ibid.

[40]Ibid, hal. 44 – 46

[41]Harun Nasution, Falsafat…  op. cit. , hlm. 115.

[42]MM. Syarif, op. cit, hlm. 131.

KISAH NABI YAHYA A.S.


Nabi Zakaria, ayahnya Nabi Yahya sedar dan mengetahui bahawa anggota-anggota keluarganya, saudara-saudaranya, sepupu-sepupunya dan anak-anak saudaranya adalah orang-orang jahat Bani Israil yang tidak segan-segan melanggar hukum-hukum agama dan berbuat maksiat, disebabkan iman dan rasa keagamaan mereka belum meresap betul didalam hati mereka, sehingga dengan mudah mereka tergoda dan terjerumus ke dalam lembah kemungkaran dan kemaksiatan. Ia khuatir bila ajalnya tiba dan meninggalkan mereka tanpa seorang waris yang dapat melanjutkan pimpinannya atas kaumnya, bahawa mereka akan makin rusak dan makin berani melakukan kejahatan dan kemaksiatan bahkan ada kemungkinan mereka mengadakan perubahan-perubahan di dalam kitab suci Taurat dan menyalah-gunakan hukum-hukum agama.

Kekhuatiran itu selalu mengganggu fikiran Zakaria disamping rasa sedih hatinya bahawa ia sejak kahwin hingga mencapai usia sembilan puluh tahun, Tuhan belum mengurniakannya dengan seorang anak yang ia idam-idamkan untuk menjadi penggantinya memimpin dan mengimami Bani Isra’il. Ia agak terhibur dari rasa sedih dan kekhuatirannya semasa ia bertugas memelihara dan mengawasi Maryam yang dapat dianggap sebagai anak kandungnya sendiri. Akan tetapi rasa sedihnya dan keinginanya yang kuat untuk memperolhi keturunan tergugah kembali ketika ia menyaksikan mukjizat hidangan makanan dimihrabnya Maryam. Ia berfikir didalam hatinya bahawa tiada sesuatu yang mustahil di dalam kekuasaan Allah. Allah yang telah memberi rezeki kepada Maryam dalam keadaan seorang diri tidak berdaya dan berusaha, Dia pula berkuasa memberinya keturunan bila Dia kehendaki walaupun usianya sudah lanjut dan rambutnya sudah penuh uban.

Pada suatu malam yang sudah larut duduklah Zakaria di mihramnya menghiningkan cipta memusatkan fikiran kepada kebesaran Allah seraya bermunajat dan berdoa dengan khusyuk dan keyakinan yang bulat. Dengan suara yang lemah lembut berucaplah ia dalam doanya: “Ya Tuhanku berikanlah aku seorang putera yang akan mewarisiku dan mewarisi sebahagian dari keluarga Ya’qub, yang akan meneruskan pimpinan dan tuntunanku kepada Bani Isra’il. Aku khuatir bahawa sepeninggalanku nanti anggota-anggota keluargaku akan rusak kembali aqidah dan imannya bila aku tinggalkan mati tanpa seorang pemimpin yang akan menggantikan aku. Ya Tuhanku, tulangku telah menjadi lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban sedang isteriku adalah seorang perempuan yang mandul namun kekuasaan-Mu adalah diatas segala kekuasaan dan aku tidak jemu-jemunya berdoa kepadamu memohon rahmat-Mu mengurniai kau seorang putera yang soleh yang engkau redhai.”

Allah berfirman memperkenankan permohonan Zakaria: “Hai Zakaria Kami memberi khabar gembira kepadamu, kamu akan memperoleh seorang putera bernama Yahya yang soleh yang membenarkan kitab-kitab Allah menjadi pemimpin yang diikuti bertahan diri dari hawa nafsu dan godaan syaitan serta akan menjadi seorang nabi.”
Berkata Zakaria: “Ya Tuhanku bagaimana aku akan memperolehi anak sedangkan isteri adalah seorang perempuan yang mandul dan aku sendiri sudah lanjut usianya.”

Allah menjawab dengan firman-Nya: “Demikian itu adalah suatu hal yang mudah bagi-Ku. Tidakkah aku telah ciptakan engkau padahal engkau di waktu itu belum ada sama sekali?”
Berkata Zakaria: “Ya Tuhanku, berilah aku akan suatu tanda bahawa isteri aku telah mengandung.” Allah berfirman: “Tandanya bagimu bahawa engkau tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari berturut-turut kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah nama-Ku sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah diwaktu petang dan pagi hari.”

Nabi Yahya bin Zakaria a.s. tidak banyak dikisahkan oleh Al-Quran kecuali bahawa ia diberi ilmu dan hikmah selagi ia masih kanak-kanak dan bahawa ia seorang putera yang berbakti kepada kedua ora ng tuanya dan bukanlah orang yang sombong durhaka. Ia terkenal cerdik pandai, berfikiran tajam sejak ia berusia muda, sangat tekun beribadah yang dilakukan siang dan malam sehingga berpengaruh kepada kesihatan badannya dan menjadikannya kurus kering, wajahnya pucat dan matanya cekung.

Ia dikenal oleh kaumnya sebagai orang alim menguasai soal-soal keagamaan, hafal kitab Taurat, sehingga ia menjadi tempat bertanya tentang hukum-hukum agama. Ia memiliki keberanian dalam mengambil sesuatu keputusan, tidak takut dicerca orang dan tidak pula menghiraukan ancaman pihak penguasa dalam usahanya menegakkan kebenaran dan melawan kebathilan.
Ia selalu menganjurkan orang-orang yang telah berdosa agar bertaubat dari dosanya. Dan sebagai tanda taubatnya mereka dipermandikan { dibaptiskan } di sungai Jordan, kebiasaan mana hingga kini berlaku di kalangan orang-orang Kristian dan kerana Nabi Yahya adalah orang pertama yang mengadakan upacara itu, maka ia dijuluki “Yahya Pembaptis”.

Dikisahkan bahawa Hirodus Penguasa Palestin pada waktu itu mencintai anak saudaranya sendiri bernama Hirodia, seorang gadis yang cantik, ayu, bertubuh lampai dan ramping dan berhasrat ingin mengahwininya. Sang gadis berserta ibunya dan seluruh anggota keluarga menyentujui rencan perkahwinan itu, namun Nabi Yahya menentangnya dan mengeluarkan fakwa bahawa perkahwinan itu tidak boleh dilaksanakan kerana bertentangan dengan syariat Musa yang mengharamkan seorang mengahwini anak saudaranya sendiri.

Berita rencana perkahwinan Hirodus dan Hirodia serta fatwa Nabi Yahya yang melarangnya tersiar di seluruh pelosok kota dan menjadi pembicaraan orang di segala tempat di mana orang berkumpul. Herodia si gadis cantik calon isteri itu merasa sedih bercampur marah terhadap Nabi Yahya yang telah mengeluarkan fatwa mengharamkan perkahwinannya dengan bapa saudaranya sendiri, fatwa mana telah membawa reaksi dan pendapat dikalangan masyarakat yang luas. Ia khuatir bahawa bapa saudaranya Herodus calon suami dapat terpengaruh oleh fatwa Nabi Yahya itu dan terpaksa membatalkan perkahwinan yang sudah dinanti-nanti dan diidam-idamkan, bahkan bahkan sudah menyiapkan segala sesuatu berupa pakaian mahupun peralatan yang perlu untuk pesta perkahwinan yang telah disepakati itu.

Menghadapi fatwa Nabi Yahya dan reaksi masyarakat itu, Herodia tidak tinggal diam. Ia berusaha dengan bersenjatakan kecantikkan dan parasnya yang ayu itu mempengaruhi bapa saudaranya calon suaminya agar rencana perkahwinan dilaksanakan menurut rencana. Dengan merias diri dan berpakaian yang merangsang, ia pergi mengunjungi bapa saudaranya Herodus yang sedang dilanda mabuk asmara. Bertanya Herodus kepada anak saudaranya calon isterinya yang nampak lebih cantik daripada biasa : “Hai manisku, apakah yang dapat aku berbuat untukmu. Katakanlah aku akan patuhi segala permintaanmu, kedatanganmu kemari pada saat ini tentu didorong oleh sesuatu hajat yang mendesak yang ingin engkau sampaikan kepadaku. Sampaikanlah kepadaku tanpa ragu-ragu, hai sayangku, aku sedia melayani segala keperluan dan keinginanmu.”

Herodia menjawab: “Bila Tuan Raja berkenan, maka aku hanya mempunyai satu permintaan yang mendorongku datang mengunjungi Tuanku pada saat ini. Permintaanku yang tunggal itu ialah kepala Yahya bin Zakaria orang yang telah mengacau rencana kita dan mencemarkan nama baik Tuan Raja dan namaku sekeluarga di segala tempat dan penjuru. Supaya dia dipenggal kepalanya. Alangkah puasnya hatiku dan besarnya terima kasihku, bila Tuanku berkenan meluluskan permintaanku ini”.
Herodus yang sudah tergila-gila dan tertawan hatinya oleh kecantikan dan keelokan Herodia tidak berkulik menghadapi permintaan calon isterinya itu dan tidak dapat berbuat selain tunduk kepada kehendaknya dengan mengabaikan suara hati nuraninya dan panggilan akal sihatnya. Demikianlah maka tiada berapa lama dibawalah kepala Yahya bin Zakaria berlumuran darah dan diletakkannya di depan kesayangannya Herodia yang tersenyum tanda gembira dan puas hati bahawa hasratnya membalas dendam terhadap Yahya telah terpenuhi dan rintangan utama yang akan menghalangi rencana perkahwinannta telah tersingkirkan, walaupun perbuatannya itu menurunkan laknat Tuhan atas dirinya, diri rajanya dan Bani Isra’il seluruhnya.

Cerita tentang Zakaria dan Yahya terurai di atas dikisahkan oleh Al-Quran, surah Maryam ayat 2 sehingga ayat 15, surah Ali Imran ayat 38 senhingga ayat 41 dan surah Al-Anbiya’ ayat 89 sehingga ayat 90.

%d blogger menyukai ini: